السادسة
والعشرون- قوله تعالى : {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} عطف جملة على
جملة. وقرأ يحيى بن وثاب والأعمش : "نِستعين" بكسر النون وهي لغة تميم
وأسد وقيس وربيعة ليدل على أنه من استعان ، فكسرت النون كما تكسر ألف الوصل.
Masalah kedua piluh enam:
Firman Allah:
{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}
adalah penggabungan (athaf) satu
kalimat dengan kalimat lainnya.
Dan Yahya ibn Waththab serta Al-A‘mash membaca: “نِستعين” (dengan kasrah pada huruf nun).
Itu adalah bahasa (dialek)
kabilah Tamim, Asad, Qais, dan Rabi‘ah, untuk menunjukkan bahwa kata tersebut
berasal dari استعان.
Maka huruf nun dikasrahkan
sebagaimana hamzah washal juga dikasrahkan.
وأصل
"نستعين" نستعون قلبت حركة الواو إلى العين فصارت ياء ، والمصدر استعانة والأصل استعوان ، قلبت حركة الواو إلى العين
فانقلبت ألفا ولا يلتقي ساكنان فحذفت الألف الثانية لأنها زائدة ، وقيل الأولى لأن
الثانية للمعنى ولزمت الهاء عوضا.
Dan asal kata “نستعين”
adalah ‘نستعون’.
Lalu harakat (bunyi) huruf wāw
dipindahkan ke huruf ‘ain, sehingga (wāw itu) berubah menjadi yā’.
Dan bentuk masdarnya adalah “استعانة”,
sedangkan asalnya “استعوان”.
Kemudian harakat wāw dipindahkan ke huruf ‘ain sehingga berubah menjadi
alif.
Dan tidak boleh berkumpul dua huruf sukun, maka dihapus salah satu alif
karena ia tambahan.
Dan ada yang mengatakan: yang dihapus adalah alif pertama, karena yang kedua
menunjukkan makna.
Dan huruf hā’ (ة) menjadi لازِم (tetap) sebagai pengganti.
السابعة
والعشرون- قوله تعالى : {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} اهدنا دعاء ورغبة من
المربوب إلى الرب ،
والمعنى :
دلنا على الصراط المستقيم وأرشدنا إليه وأرنا طريق هدايتك الموصلة إلى أنسك وقربك.
Masalah kedua puluh tujuh:
Firman Allah:
{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}
Kata (اهدنا) adalah doa dan permohonan dari makhluk (yang
dipelihara) kepada Tuhan (yang memelihara).
Maknanya:
Tunjukkanlah kepada kami jalan
yang lurus, bimbinglah kami kepadanya, dan perlihatkanlah kepada kami jalan
petunjuk-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada keakraban (kedekatan) dan
kedekatan dengan-Mu.
قال بعض
العلماء : فجعل الله جل وعز عظم الدعاء وجملته موضوعا في هذه السورة ، نصفها فيه
مجمع الثناء ونصفها فيه مجمع الحاجات ، وجعل هذا الدعاء الذي في هذه السورة أفضل
من الذي يدعو به [الداعي] لأن هذا الكلام قد تكلم به رب العالمين فأنت تدعو بدعاء
هو كلامه الذي تكلم به ، وفي الحديث : "ليس شيء أكرم على الله من الدعاء"
.
Sebagian ulama berkata:
Allah ﷻ
menjadikan inti dan keseluruhan doa terkumpul dalam surah ini
(Al-Fatihah).
Setengahnya berisi kumpulan
pujian, dan setengahnya lagi berisi kumpulan kebutuhan (permohonan).
Dan Allah menjadikan doa yang terdapat dalam surah ini sebagai doa
yang paling utama dibanding doa-doa lainnya yang dipanjatkan oleh
seorang yang berdoa.
Karena kalimat ini adalah firman Tuhan semesta alam, maka
engkau berdoa dengan doa yang merupakan perkataan-Nya sendiri.
Dan dalam hadis disebutkan: “Tidak
ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.”
وقيل
المعنى : أرشدنا باستعمال السنن في أداء فرائضك وقيل : الأصل فيه الإمالة ومنه
قوله تعالى : {إنا هُدنا إليك} [الأعراف : 156] أي ملنا ، وخرج عليه السلام في
مرضه يتهادى بين اثنين ، أي يتمايل.
ومنه
الهدية لأنها تمال من مِلك إلى مِلك.
ومنه
الهدي للحيوان الذي يساق إلى الحرم ، فالمعنى مل بقلوبنا إلى الحق.
Dikatakan; maknanya adalah: bimbinglah
kami untuk mengamalkan sunnah-sunnah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban-Mu.
Dan dikatakan pula: asal makna kata itu adalah condong (cenderung).
Dari makna ini firman Allah: {إنا هُدنا إليك}
(QS. Al-A‘raf: 156), yaitu: kami condong (kembali) kepada-Mu.
Dan Nabi ﷺ keluar ketika
sakitnya dengan berjalan terhuyung di antara dua orang, yakni
condong (miring) ke kanan dan kiri.
Dari sini pula kata hadiah (الهدية),
karena ia dipindahkan (dicondongkan) dari satu kepemilikan pada kepemilikan lain.
Dan kata الهدي juga untuk hewan yang digiring ke tanah haram.
Maka maknanya: condongkanlah hati kami kepada kebenaran.
وقال
الفضيل بن عياض : "الصراط المستقيم" طريق الحج ، وهذا خاص والعموم أولى.
Fudayl ibn 'Iyad berkata:
“الصراط المستقيم”
adalah jalan haji.
Ini adalah makna yang khusus, namun makna yang umum lebih utama.
قال محمد
بن الحنفية في قوله عز وجل {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} : هو دين الله
الذي لا يقبل من العبادة غيره.
Muhammad
ibn al-Hanafiyyah
berkata tentang firman Allah ﷻ ;
{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}:
“Yang dimaksud adalah agama
Allah, yang tidak diterima suatu ibadah kecuali dengannya.”
وقال عاصم
الأحول عن أبي العالية : "الصراط المستقيم" رسول الله صلى الله عليه
وسلم وصاحباه من بعده.
قال عاصم
فقلت للحسن : إن أبا العالية يقول : "الصراط المستقيم" رسول الله صلى
الله عليه وسلم وصاحباه قال : صدق ونصح.
Asim
al-Ahwal meriwayatkan
dari Abu al-'Aliyah bahwa:
الصراط المستقيم
adalah Rasulullah ﷺ
dan dua sahabatnya setelah beliau.
Berkata ‘Āṣim: lalu aku berkata
kepada Al-Hasan al-Basri:
”Sesungguhnya Abu al-‘Aliyah
mengatakan bahwa الصراط المستقيم adalah Rasulullah ﷺ dan dua sahabatnya.
Maka ia menjawab: ‘Benar dan dia telah menasihati (dengan baik).’”
Penjelasan Maksud:
- Rasulullah ﷺ = jalan lurus, karena:
- beliau pembawa kebenaran
- teladan utama dalam agama
- “dua sahabatnya”:
- maksudnya adalah:
- Abu Bakr al-Siddiq
- Umar ibn al-Khattab
- Makna tafsir ini:
👉 Jalan yang lurus adalah: - mengikuti Nabi ﷺ
- dan mengikuti para sahabat utama setelah beliau
- Persetujuan Hasan al-Basri:
- Menunjukkan tafsir ini benar secara makna
- Karena mereka adalah representasi nyata dari agama
yang lurus
الثامنة
والعشرون- أصل الصراط في كلام العرب الطريق ،
قال عامر بن الطفيل :
شحنَّا أرضهم بالخيل حتى # تركناهم أذل
من الصراط
وقال جرير
:
أمير المؤمنين على صراط # إذا أعوج
الموارد مستقيم
وقال آخر
:
فصدّ عن
نهج الصراط الواضح
Masalah kedua puluh delapan
Asal kata الصراط dalam bahasa Arab adalah jalan.
Amir
ibn al-Tufayl berkata:
شحنَّا أرضهم بالخيل
حتى #
تركناهم أذل من الصراط
Kami memenuhi negeri mereka dengan pasukan berkuda, hingga kami menjadikan
mereka lebih hina daripada jalan (yang diinjak-injak)
Dan Jarir ibn Atiyah berkata:
أمير المؤمنين على
صراط #
إذا أعوج الموارد مستقيم
Pemimpin kaum mukmin berada di atas jalan yang lurus, yang tetap lurus ketika
jalan-jalan lain menyimpang
Dan penyair lain berkata:
فصدّ
عن نهج الصراط الواضح
Lalu ia berpaling
dari jalan yang lurus dan jelas
حكى
النقّاش : الصراط الطريق بلغة الروم ، فقال ابن عطية : وهذا ضعيف جدا.
وقرئ :
السراط "بالسين" من الاستراط بمعنى الابتلاع ، كأن الطريق يسترط من
يسلكه.
وقرئ بين
الزاي والصاد. وقرئ بزاي خالصة والسين الأصل.
Al-Naqqāsh berkata: ‘الصراط’ berarti ‘jalan’ dalam bahasa Romawi.
Maka Ibn Atiyyah berkata: pendapat ini sangat
lemah.
Dan dibaca pula: ‘السراط’ (dengan huruf س), dari
kata الاستراط yang berarti menelan, seakan-akan jalan itu ‘menelan’
orang yang melaluinya.
Dan dibaca pula antara huruf ز
dan ص
(bunyi di antara keduanya).
Dan dibaca juga dengan ز
murni, sedangkan
asalnya adalah س.
وحكى سلمة
عن الفراء قال : الزراط بإخلاص الزاي لغة لعُذرة وكلب وبني القَيْن قال : وهؤلاء
يقولون [في أصدق] : أزدق.
وقد قالوا
: الأزْد والأسْد ، ولسق به ولصق به.
Dan Salamah meriwayatkan dari Al-Farra, ia berkata:
الزِّراط (dengan
zā’ murni) adalah bahasa (dialek) kabilah ‘Udzrah, Kalb, dan Bani al-Qayn.
Ia berkata: mereka juga
mengatakan dalam kata ‘أصدق’ menjadi ‘أزدق’.
Dan mereka juga mengatakan: الأزد dan الأسد (dengan variasi huruf), serta لسق به dan لصق به (keduanya dengan makna yang sama).
و"الصراط"
نصب على المفعول الثاني لأن الفعل من الهداية يتعدى إلى المفعول الثاني بحرف جر ،
قال الله تعالى : {فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ} [الصافات : 23]. وبغير
حرف كما في هذه الآية. "المستقيم" صفة لـ "الصراط" وهو الذي
لا اعوجاج فيه ولا انحراف ومنه قوله تعالى : {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً
فَاتَّبِعُوهُ} [الأنعام : 153] وأصله مستقوم ، نقلت الحركة إلى القاف وانقلبت
الواو ياء لانكسار ما قبلها.
Kata ‘الصراط’ dibaca manshūb (naṣab)
sebagai maf‘ul kedua, karena fi‘il dari kata الهداية (memberi petunjuk) bisa
membutuhkan maf‘ul kedua dengan perantara huruf jar.
Sebagaimana firman Allah:
{فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ}
(QS. Ash-Shāffāt: 23).
Dan juga bisa tanpa huruf jar seperti dalam ayat ini.
Kata ‘المستقيم’ adalah sifat
(na‘at) bagi ‘الصراط’, yaitu jalan
yang tidak ada kebengkokan dan tidak ada penyimpangan padanya.
Sebagaimana firman Allah:
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً
فَاتَّبِعُوهُ} (QS. Al-An‘ām: 153).
Dan asal kata ‘مستقيم’ adalah ‘مستقوم’, lalu harakat dipindahkan ke huruf
qāf, dan huruf wāw berubah menjadi yā’ karena huruf sebelumnya berharakat
kasrah.
التاسعة
والعشرون- قوله تعالى : {صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} صراط بدل من
الأول بدل الشيء من الشيء ، كقولك : جاءني زيد أبوك. ومعناه : أدم هدايتنا ، فإن
الإنسان قد يهدى إلى الطريق ثم يقطع به.
Masalah kedua puluh sembilan:
Firman Allah {صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ} — kata ‘صراط’ di sini adalah badal
(pengganti/penjelas) dari kata sebelumnya, yaitu ‘الصراط’, termasuk badal الشيء من الشيء
(mengganti sesuatu dengan sesuatu yang sama), seperti ucapanmu:
جاءني زيد أبوك
‘Telah datang kepadaku Zaid,
yaitu ayahmu.’
Maknanya: tetapkanlah
(teruskanlah) hidayah kami, karena sesungguhnya seseorang bisa saja
telah diberi petunjuk kepada jalan, lalu terputus (tidak melanjutkannya).
وقيل : هو
صراط آخر ، ومعناه العلم بالله جل وعز والفهم عنه ، قاله جعفر بن محمد. ولغة
القرآن {الَّذِينَ} في الرفع والنصب والجر وهذيل تقول : اللذون في الرفع ، ومن
العرب من يقول : اللذو ، ومنهم من يقول الذي ، وسيأتي.
Dan dikatakan: itu adalah jalan
yang lain, maknanya adalah ma‘rifat kepada Allah ﷻ
dan pemahaman tentang-Nya, ini dikatakan oleh Ja'far al-Sadiq.
Dan bahasa Al-Qur’an menggunakan
kata {الَّذِينَ} untuk rafa‘, naṣab, dan jar
(tetap satu bentuk).
Sedangkan kabilah Hudzail
mengatakan: اللذون pada keadaan rafa‘.
Dan sebagian orang Arab
mengatakan: اللذو.
Dan di antara mereka ada yang
mengatakan: الذي. Dan pembahasannya akan datang nanti.
وفي
"عليهم" عشر لغات ، قرئ بعامتها : "عليهُم" بضم الهاء وإسكان
الميم. "وعليهِم" بكسر الهاء وإسكان الميم. و"عليهمي" بكسر
الهاء والميم وإلحاق ياء بعد الكسرة. و"عليهمو" بكسر الهاء وضم الميم
وزيادة واو بعد الضمة. و"عليهمو" بضم الهاء والميم كلتيهما وإدخال واو
بعد الميم. و"عليهم" بضم الهاء والميم من غير زيادة واو.
وهذه
الأوجه الستة مأثورة عن الأئمة من القراء.
Dan pada kata ‘عليهم’ terdapat sepuluh macam bahasa (dialek/bacaan).
Yang paling umum dibaca:
- عليهُم → dengan dhammah pada hā’ dan sukun pada mīm
- عليهِم → dengan kasrah pada hā’ dan sukun pada mīm
- عليهمي → dengan kasrah pada hā’ dan mīm serta tambahan yā’ setelah
kasrah
- عليهمو → dengan kasrah pada hā’ dan dhammah pada mīm serta
tambahan wāw setelah dhammah
- عليهمو → dengan dhammah pada hā’ dan mīm keduanya serta tambahan
wāw setelah mīm
- عليهم → dengan dhammah pada hā’ dan mīm tanpa tambahan wāw
Dan enam bentuk ini diriwayatkan
dari para imam qirā’ah (ahli bacaan Al-Qur’an).”
وأوجه
أربعة منقولة عن العرب غير محكية عن القراء :
"عليهمي"
بضم الهاء وكسر الميم وإدخال ياء بعد الميم ، حكاها الحسن البصري عن العرب.
و"عليهُمِ" بضم الهاء وكسر الميم من غير زيادة ياء.
و"عليهِمُ" بكسر الهاء وضم الميم من غير إلحاق واو. و"عليهم"
بكسر الهاء والميم ولا ياء بعد الميم. وكلها صواب ، قاله ابن الأنباري.
Dan ada empat bentuk
(bacaan/dialek) lagi yang diriwayatkan dari orang Arab, namun tidak
dinukil dari para qāri’ (imam qirā’ah):
1)
عليهمي →
dengan dhammah pada hā’, kasrah pada mīm, dan tambahan yā’ setelah mīm; ini
diriwayatkan oleh Al-Hasan al-Basri dari orang Arab.
2)
عليهُمِ →
dengan dhammah pada hā’ dan kasrah pada mīm tanpa tambahan yā’.
3)
عليهِمُ →
dengan kasrah pada hā’ dan dhammah pada mīm tanpa tambahan wāw.
4)
عليهم →
dengan kasrah pada hā’ dan mīm tanpa tambahan yā’.
Dan semuanya benar (secara
bahasa), demikian dikatakan oleh Ibn al-Anbari.”
Penjelasan Maksud:
- Perbedaan dengan sebelumnya:
- Sebelumnya: bacaan yang diakui dalam qirā’ah
- Di sini: hanya bahasa/dialek Arab, bukan bacaan
Al-Qur’an yang dipakai
- Makna “كلها صواب”:
- Maksudnya:
👉 benar dari sisi bahasa Arab (lughah) - Tapi:
❗ tidak semua boleh dibaca dalam Al-Qur’an - Pelajaran penting:
- Bahasa Arab sangat luas variasinya
- Namun Al-Qur’an:
- hanya memakai bacaan yang mutawatir
dan sah
الموفية
الثلاثين- قرأ عمر بن الخطاب وابن الزبير رضي الله عنهما "صراط من أنعمت
عليهم".
Masalah ketiga puluh
Umar ibn al-Khattab dan Abdullah ibn al-Zubayr membaca:
‘صراط من أنعمت عليهم’
(‘jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka’).
واختلف
الناس في المنعم عليهم ، فقال الجمهور من المفسرين : إنه أراد صراط النبيين
والصديقين والشهداء والصالحين.
وانتزعوا
ذلك من قوله تعالى : {وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ
الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ
وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقاً} [النساء : 69].
فالآية
تقتضي أن هؤلاء على صراط مستقيم ، وهو المطلوب في آية الحمد وجميع ما قيل إلى هذا
يرجع ، فلا معنى لتعديد الأقوال والله المستعان.
Dan ulama’ berbeda
pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang diberi
nikmat’.
Maka mayoritas ahli tafsir mengatakan: yang dimaksud adalah jalan
para nabi, orang-orang yang sangat jujur (shiddiqin), para syuhada, dan
orang-orang saleh.
Mereka mengambil (dalil) dari firman Allah:
{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ...} (QS.
An-Nisā’: 69), yang artinya:
“Barang siapa menaati Allah dan
Rasul”, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang Allah beri nikmat, yaitu
para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah
sebaik-baik teman.
Maka ayat ini menunjukkan bahwa mereka itulah yang berada di atas jalan
yang lurus, dan itulah yang dimaksud dalam ayat Al-Fatihah.
Dan semua pendapat (tafsir) yang ada kembali kepada makna ini, sehingga
tidak perlu memperbanyak perbedaan pendapat. والله المستعان.
Baca juga:
Pendalaman Al-Fatihah Bab 4:
Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan
Penting. Bagian: 09

Tidak ada komentar:
Posting Komentar