Kelompok Abtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Cabang Zaidiyah yang Bersikap Tawaqquf terhadap Utsman bin Affan

Imam Al-Isfarayini menjelaskan kelompok Abtariyah dalam Zaidiyah, pandangan mereka tentang imamah, Utsman bin Affan, dan Hasan bin Shalih


Kelompok Abtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Cabang Zaidiyah yang Bersikap Tawaqquf terhadap Utsman bin Affan

Meta Deskripsi (±150 Karakter)

Imam Al-Isfarayini menjelaskan kelompok Abtariyah dalam Zaidiyah, pandangan mereka tentang imamah, Utsman bin Affan, dan Hasan bin Shalih.

Pendahuluan

Setelah membahas kelompok Jarudiyah dan Sulaimaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengakhiri pembahasan mengenai cabang-cabang Zaidiyah dengan menjelaskan kelompok Abtariyah. Menurut beliau, kelompok ini memiliki pandangan yang hampir sama dengan Sulaimaniyah dalam persoalan imamah, tetapi berbeda dalam sikap terhadap Khalifah Utsman bin Affan.

Selain itu, Imam Al-Isfarayini juga menyinggung kedudukan salah seorang tokoh yang dikaitkan dengan kelompok ini, yaitu Hasan bin Shalih bin Hayy, yang hadis-hadisnya diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim. Penjelasan ini menunjukkan kehati-hatian para ulama hadis dalam menilai seorang perawi berdasarkan integritas periwayatannya.

Sumber Rujukan

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah ulama besar mazhab Syafi'i abad ke-5 Hijriah yang dikenal sebagai pakar ilmu kalam dan sejarah aliran-aliran Islam. Karyanya At-Tabṣīr fī ad-Dīn menjadi salah satu referensi klasik dalam kajian ilmu firqah menurut perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Tema

Abtariyah: Cabang Ketiga Zaidiyah dan Sikap Mereka terhadap Khalifah Utsman bin Affan

Terjemahan Lengkap

Abtariyah

Adapun Abtariyah adalah para pengikut Hasan bin Shalih bin Hayy dan Katsir an-Nawwa', yang dijuluki al-Abtar.

Pendapat kelompok ini sama dengan pendapat Sulaimaniyah, hanya saja mereka bersikap tawaqquf (tidak mengambil keputusan) mengenai Utsman bin Affan. Mereka tidak memujinya dan tidak pula mencelanya.

Imam Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkan hadis-hadis Hasan bin Shalih bin Hayy dalam kitab Shahih Muslim, karena beliau tidak mengetahui adanya keyakinan-keyakinan tersebut pada dirinya, sehingga beliau memperlakukannya sesuai dengan keadaan lahiriahnya.

Artikel Pengembangan

Menurut Imam Al-Isfarayini, Abtariyah merupakan cabang ketiga dari kelompok Zaidiyah. Kelompok ini dinisbatkan kepada Hasan bin Shalih bin Hayy dan Katsir an-Nawwa', yang dikenal dengan julukan al-Abtar, sehingga para pengikutnya disebut Abtariyah.

Dalam persoalan imamah, Abtariyah memiliki pandangan yang hampir sama dengan Sulaimaniyah. Mereka mengakui keabsahan mekanisme syura dalam penetapan imam dan tidak menganggap para sahabat menjadi kafir hanya karena mendahulukan Abu Bakar daripada Ali. Dengan demikian, mereka berbeda dari Jarudiyah yang memiliki penilaian lebih keras terhadap para sahabat.

Perbedaan utama antara Abtariyah dan Sulaimaniyah terletak pada sikap terhadap Khalifah Utsman bin Affan. Jika Sulaimaniyah, menurut Imam Al-Isfarayini, menganggap Utsman telah kafir, maka Abtariyah memilih bersikap tawaqquf, yaitu tidak menetapkan penilaian tertentu. Mereka tidak menyatakan pujian maupun celaan terhadap beliau.

Bagian terakhir dari kutipan ini memuat informasi yang penting dalam ilmu hadis. Imam Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Imam Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkan hadis dari Hasan bin Shalih bin Hayy dalam Shahih Muslim. Alasannya, Imam Muslim tidak mengetahui adanya keyakinan-keyakinan yang dinisbatkan kepada Hasan bin Shalih, sehingga beliau menilainya berdasarkan keadaan lahiriah sebagai seorang perawi yang dapat dipercaya.

Keterangan ini menunjukkan salah satu prinsip penting dalam metodologi ulama hadis, yaitu bahwa penilaian terhadap seorang perawi didasarkan pada penelitian terhadap kejujuran, ketelitian, dan keadaan yang terbukti pada dirinya. Apabila tidak ditemukan bukti yang menunjukkan penyimpangan yang memengaruhi kredibilitas periwayatannya, maka hadisnya dapat diterima sesuai dengan kaidah ilmu hadis.

Sebagaimana pembahasan sebelumnya, penjelasan Imam Al-Isfarayini merupakan bagian dari tradisi ilmu firqah Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah. Oleh karena itu, uraian ini perlu dipahami dalam konteks sejarah perkembangan pemikiran Islam dan pendekatan teologis yang digunakan oleh penulis.

Hikmah

  • Perbedaan pandangan dalam sejarah Islam melahirkan berbagai cabang pemikiran yang memiliki karakteristik masing-masing.
  • Sikap tawaqquf menunjukkan bahwa sebagian kelompok memilih tidak memberikan penilaian tegas terhadap suatu persoalan yang diperselisihkan.
  • Ulama hadis memiliki metodologi yang ketat dalam menilai kredibilitas seorang perawi berdasarkan penelitian ilmiah.
  • Membaca kitab-kitab klasik hendaknya dilakukan dengan memahami konteks sejarah dan tujuan penulisnya.
  • Kajian sejarah aliran Islam dapat memperluas wawasan sekaligus memperkuat sikap ilmiah dalam memahami perbedaan.

Penutup

Dengan pembahasan mengenai Abtariyah, Imam Al-Isfarayini menutup uraian tentang tiga cabang utama Zaidiyah, yaitu Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Abtariyah. Meskipun ketiganya memiliki sejumlah kesamaan dalam persoalan imamah, masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri, terutama dalam sikap terhadap para sahabat Nabi . Pembahasan selanjutnya dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn akan beralih kepada kelompok-kelompok besar Rafidhah lainnya, yaitu Imamiyah dan Kaisaniyah, beserta rincian keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing cabangnya.

Teks Arab :

الأبترية

فَأَما الأبترية مِنْهُم فهم أَتبَاع الْحسن بن صَالح بن حَيّ وَكثير النواء الملقب بالأبتر وَقَول هَؤُلَاءِ كَقَوْل السليمانية غير أَنهم يتوقفون فِي عُثْمَان وَلَا يَقُولُونَ فِيهِ خيرا وَلَا شرا وَقد أخرج مُسلم بن الْحجَّاج حَدِيث الْحسن بن صَالح بن حَيّ فِي الْمسند الصَّحِيح لما أَنه لم يعرف مِنْهُ هَذِه الْخِصَال فأجراه على ظَاهر الْحَال

Baca juga:

Kelompok Sulaimaniyah dalam Zaidiyah Menurut ImamAl-Isfarayini: Pandangan tentang Imamah dan Sikap terhadap Para Sahabat

Kelompok Jarudiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Sejarah,Keyakinan, dan Konsep Imam Mahdi dalam Zaidiyah

Sejarah Lahirnya Zaidiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Kisah Zaid bin Ali dan Awal Munculnya Rafidhah



Imam Al-Isfarayini menjelaskan kelompok Abtariyah dalam Zaidiyah, pandangan mereka tentang imamah, Utsman bin Affan, dan Hasan bin Shalih


Kelompok Abtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Cabang Zaidiyah yang Bersikap Tawaqquf terhadap Utsman bin Affan

Meta Deskripsi (±150 Karakter)

Imam Al-Isfarayini menjelaskan kelompok Abtariyah dalam Zaidiyah, pandangan mereka tentang imamah, Utsman bin Affan, dan Hasan bin Shalih.

Pendahuluan

Setelah membahas kelompok Jarudiyah dan Sulaimaniyah, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengakhiri pembahasan mengenai cabang-cabang Zaidiyah dengan menjelaskan kelompok Abtariyah. Menurut beliau, kelompok ini memiliki pandangan yang hampir sama dengan Sulaimaniyah dalam persoalan imamah, tetapi berbeda dalam sikap terhadap Khalifah Utsman bin Affan.

Selain itu, Imam Al-Isfarayini juga menyinggung kedudukan salah seorang tokoh yang dikaitkan dengan kelompok ini, yaitu Hasan bin Shalih bin Hayy, yang hadis-hadisnya diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim. Penjelasan ini menunjukkan kehati-hatian para ulama hadis dalam menilai seorang perawi berdasarkan integritas periwayatannya.

Sumber Rujukan

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah ulama besar mazhab Syafi'i abad ke-5 Hijriah yang dikenal sebagai pakar ilmu kalam dan sejarah aliran-aliran Islam. Karyanya At-Tabṣīr fī ad-Dīn menjadi salah satu referensi klasik dalam kajian ilmu firqah menurut perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Tema

Abtariyah: Cabang Ketiga Zaidiyah dan Sikap Mereka terhadap Khalifah Utsman bin Affan

Terjemahan Lengkap

Abtariyah

Adapun Abtariyah adalah para pengikut Hasan bin Shalih bin Hayy dan Katsir an-Nawwa', yang dijuluki al-Abtar.

Pendapat kelompok ini sama dengan pendapat Sulaimaniyah, hanya saja mereka bersikap tawaqquf (tidak mengambil keputusan) mengenai Utsman bin Affan. Mereka tidak memujinya dan tidak pula mencelanya.

Imam Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkan hadis-hadis Hasan bin Shalih bin Hayy dalam kitab Shahih Muslim, karena beliau tidak mengetahui adanya keyakinan-keyakinan tersebut pada dirinya, sehingga beliau memperlakukannya sesuai dengan keadaan lahiriahnya.

Artikel Pengembangan

Menurut Imam Al-Isfarayini, Abtariyah merupakan cabang ketiga dari kelompok Zaidiyah. Kelompok ini dinisbatkan kepada Hasan bin Shalih bin Hayy dan Katsir an-Nawwa', yang dikenal dengan julukan al-Abtar, sehingga para pengikutnya disebut Abtariyah.

Dalam persoalan imamah, Abtariyah memiliki pandangan yang hampir sama dengan Sulaimaniyah. Mereka mengakui keabsahan mekanisme syura dalam penetapan imam dan tidak menganggap para sahabat menjadi kafir hanya karena mendahulukan Abu Bakar daripada Ali. Dengan demikian, mereka berbeda dari Jarudiyah yang memiliki penilaian lebih keras terhadap para sahabat.

Perbedaan utama antara Abtariyah dan Sulaimaniyah terletak pada sikap terhadap Khalifah Utsman bin Affan. Jika Sulaimaniyah, menurut Imam Al-Isfarayini, menganggap Utsman telah kafir, maka Abtariyah memilih bersikap tawaqquf, yaitu tidak menetapkan penilaian tertentu. Mereka tidak menyatakan pujian maupun celaan terhadap beliau.

Bagian terakhir dari kutipan ini memuat informasi yang penting dalam ilmu hadis. Imam Al-Isfarayini menjelaskan bahwa Imam Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkan hadis dari Hasan bin Shalih bin Hayy dalam Shahih Muslim. Alasannya, Imam Muslim tidak mengetahui adanya keyakinan-keyakinan yang dinisbatkan kepada Hasan bin Shalih, sehingga beliau menilainya berdasarkan keadaan lahiriah sebagai seorang perawi yang dapat dipercaya.

Keterangan ini menunjukkan salah satu prinsip penting dalam metodologi ulama hadis, yaitu bahwa penilaian terhadap seorang perawi didasarkan pada penelitian terhadap kejujuran, ketelitian, dan keadaan yang terbukti pada dirinya. Apabila tidak ditemukan bukti yang menunjukkan penyimpangan yang memengaruhi kredibilitas periwayatannya, maka hadisnya dapat diterima sesuai dengan kaidah ilmu hadis.

Sebagaimana pembahasan sebelumnya, penjelasan Imam Al-Isfarayini merupakan bagian dari tradisi ilmu firqah Ahlus Sunnah abad ke-5 Hijriah. Oleh karena itu, uraian ini perlu dipahami dalam konteks sejarah perkembangan pemikiran Islam dan pendekatan teologis yang digunakan oleh penulis.

Hikmah

  • Perbedaan pandangan dalam sejarah Islam melahirkan berbagai cabang pemikiran yang memiliki karakteristik masing-masing.
  • Sikap tawaqquf menunjukkan bahwa sebagian kelompok memilih tidak memberikan penilaian tegas terhadap suatu persoalan yang diperselisihkan.
  • Ulama hadis memiliki metodologi yang ketat dalam menilai kredibilitas seorang perawi berdasarkan penelitian ilmiah.
  • Membaca kitab-kitab klasik hendaknya dilakukan dengan memahami konteks sejarah dan tujuan penulisnya.
  • Kajian sejarah aliran Islam dapat memperluas wawasan sekaligus memperkuat sikap ilmiah dalam memahami perbedaan.

Penutup

Dengan pembahasan mengenai Abtariyah, Imam Al-Isfarayini menutup uraian tentang tiga cabang utama Zaidiyah, yaitu Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Abtariyah. Meskipun ketiganya memiliki sejumlah kesamaan dalam persoalan imamah, masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri, terutama dalam sikap terhadap para sahabat Nabi . Pembahasan selanjutnya dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn akan beralih kepada kelompok-kelompok besar Rafidhah lainnya, yaitu Imamiyah dan Kaisaniyah, beserta rincian keyakinan yang dinisbatkan kepada masing-masing cabangnya.

Teks Arab :

الأبترية

فَأَما الأبترية مِنْهُم فهم أَتبَاع الْحسن بن صَالح بن حَيّ وَكثير النواء الملقب بالأبتر وَقَول هَؤُلَاءِ كَقَوْل السليمانية غير أَنهم يتوقفون فِي عُثْمَان وَلَا يَقُولُونَ فِيهِ خيرا وَلَا شرا وَقد أخرج مُسلم بن الْحجَّاج حَدِيث الْحسن بن صَالح بن حَيّ فِي الْمسند الصَّحِيح لما أَنه لم يعرف مِنْهُ هَذِه الْخِصَال فأجراه على ظَاهر الْحَال

Baca juga:

Kelompok Sulaimaniyah dalam Zaidiyah Menurut ImamAl-Isfarayini: Pandangan tentang Imamah dan Sikap terhadap Para Sahabat

Kelompok Jarudiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Sejarah,Keyakinan, dan Konsep Imam Mahdi dalam Zaidiyah

Sejarah Lahirnya Zaidiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Kisah Zaid bin Ali dan Awal Munculnya Rafidhah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

نور الظلام- شرح منظومة عقيدة العوام- للعلالمة محمد بن عمر بن عليي نووي الجاوي البتني- دار الحاوي

Download Kitab PDF نور الظلام- شرح منظومة عقيدة العوام- للعلالمة محمد بن عمر بن عليي نووي الجاوي البتني- دار الحاوي | Google Drive ...