Pendahuluan
Di antara amal hati yang paling
agung dalam Islam adalah mencintai sesama muslim karena Allah (al-maḥabbah
fillāh). Cinta seperti ini tidak didasari oleh kepentingan dunia, hubungan
keluarga, harta, atau kedudukan, melainkan lahir dari keimanan dan ketakwaan.
Karena itulah, Rasulullah ﷺ menjanjikan kedudukan
yang sangat mulia bagi orang-orang yang saling mencintai karena Allah.
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
menghadirkan beberapa hadis yang menggambarkan kemuliaan ukhuwah fillah pada
hari kiamat. Orang-orang yang menjalin persaudaraan semata-mata karena Allah
akan memperoleh keamanan, kemuliaan, dan kedudukan yang membuat para nabi serta
syuhada merasa kagum terhadap keistimewaan mereka.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), yang
dikenal sebagai Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang akhlak,
tasawuf, fikih, dan pendidikan Islam.
Tema : Keutamaan saling mencintai karena Allah, pahala ukhuwah
Islamiyah, cinta yang tulus, dan balasan bagi orang-orang yang menjaga
persaudaraan karena iman.
Teks Arab
وقال أبو إدريس الخولاني لمعاذ إني أحبك في الله ، فقال له
: أبشر ، ثم أبشر ، فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ينصب لطائفة من
الناس كراسي حول العرش يوم القيامة وجوههم كالقمر ليلة البدر يفزع الناس وهم لا ،
يفزعون ، ويخاف الناس وهم لا يخافون وهم ، أولياء الله الذين لا خوف عليهم ولا هم
يحزنون ، فقيل : من هؤلاء يا رسول الله فقال ؟ : هم المتحابون في الله تعالى .
ورواه أبو هريرة رضي الله عنه وقال فيه : إن حول العرش
منابر من نور عليها قوم لباسهم نور ، ووجوههم نورا ليسوا بأنبياء ولا شهداء يغبطهم
النبيون والشهداء فقالوا : يا رسول الله صفهم لنا فقال : هم المتحابون في الله
والمتجالسون في الله والمتزاورون في الله .
" وقال صلى الله عليه وسلم :
" ما تحاب اثنان في الله إلا كان أحبهما إلى الله أشدهما حبا لصاحبه .
" ويقال : إن الأخوين في الله
إذا كان أحدهما أعلى مقاما من الآخر رفع
الآخر معه إلى مقامه وإنه يلتحق به ، كما تلتحق الذرية بالأبوين ، والأهل بعضهم
ببعض ; لأن الأخوة إذا اكتسبت في الله لم تكن دون أخوة الولادة .
Terjemahan Lengkap
Diriwayatkan bahwa Abu Idris
al-Khaulani berkata kepada Mu'adz:
"Sesungguhnya aku mencintaimu
karena Allah."
Mu'adz menjawab:
"Bergembiralah, bergembiralah!
Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
'Pada hari kiamat akan didirikan
kursi-kursi di sekitar Arasy bagi sekelompok manusia. Wajah mereka bersinar
seperti bulan purnama. Ketika manusia diliputi ketakutan, mereka tidak merasa
takut. Ketika manusia dilanda kecemasan, mereka tetap merasa aman. Mereka adalah
para wali Allah yang tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka
bersedih hati.'
Para sahabat bertanya:
'Siapakah mereka itu, wahai
Rasulullah?'
Beliau menjawab:
'Mereka adalah orang-orang yang
saling mencintai karena Allah.'"
Dalam riwayat Abu Hurairah
disebutkan:
"Di sekitar Arasy terdapat
mimbar-mimbar dari cahaya. Di atasnya duduk sekelompok manusia yang pakaian
mereka bercahaya dan wajah mereka pun bercahaya. Mereka bukan para nabi dan
bukan pula para syuhada, namun para nabi dan syuhada merasa iri terhadap
kedudukan mereka."
Para sahabat bertanya:
"Wahai Rasulullah, jelaskan
kepada kami siapa mereka."
Beliau bersabda:
"Mereka adalah orang-orang yang
saling mencintai karena Allah, duduk bersama karena Allah, dan saling
berkunjung karena Allah."
Rasulullah ﷺ
juga bersabda:
"Tidaklah dua orang saling
mencintai karena Allah, kecuali yang paling dicintai Allah di antara keduanya
adalah yang paling besar cintanya kepada saudaranya."
Dikatakan pula:
Apabila dua orang bersaudara karena
Allah, lalu salah seorang memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada yang
lain di akhirat, maka Allah akan mengangkat saudaranya itu agar menyertainya.
Sebab persaudaraan yang dibangun karena Allah tidaklah lebih rendah daripada
persaudaraan karena hubungan darah. Sebagaimana anak mengikuti kedudukan kedua
orang tuanya, demikian pula saudara seiman akan dipertemukan karena ikatan
cinta yang tulus kepada Allah.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ukhuwah
fillah bukan sekadar hubungan sosial, melainkan amal hati yang memiliki
nilai sangat tinggi di sisi Allah.
Hadis-hadis di atas menggambarkan
bahwa orang-orang yang saling mencintai karena Allah memperoleh kedudukan
istimewa pada hari kiamat. Mereka berada di dekat Arasy, mendapatkan rasa aman
ketika manusia lain diliputi ketakutan, serta menikmati kemuliaan yang membuat
para nabi dan syuhada mengagumi derajat mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa ketulusan
cinta karena Allah memiliki nilai ibadah yang sangat besar.
Artikel Pengembangan
Apa yang Dimaksud Mencintai karena Allah?
Mencintai karena Allah berarti
menyayangi seseorang bukan karena harta, jabatan, suku, keluarga, atau manfaat
dunia yang dapat diperoleh darinya. Dasar kecintaan tersebut adalah keimanan,
ketakwaan, dan keinginan agar saudaranya tetap berada di jalan yang diridhai
Allah.
Orang yang mencintai karena Allah
akan bergembira ketika melihat saudaranya taat kepada Allah dan akan merasa
sedih jika saudaranya terjatuh dalam kemaksiatan. Ia menasihati dengan lembut,
mendoakan dalam diam, dan menjaga kehormatan saudaranya meskipun tidak berada
di hadapannya.
Tanda-Tanda
Ukhuwah Fillah
Persaudaraan yang dibangun karena
Allah memiliki beberapa ciri, di antaranya:
- Ikhlas tanpa mengharapkan balasan dunia.
- Senang bertemu untuk mengingat Allah dan menambah ilmu.
- Saling berkunjung bukan demi kepentingan pribadi,
tetapi untuk mempererat ukhuwah.
- Mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya.
- Tetap mencintai meskipun tidak memperoleh keuntungan
materi.
Mengapa
Orang yang Paling Mencintai Saudaranya Lebih Dicintai Allah?
Hadis Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa Allah lebih mencintai orang yang lebih besar
kasih sayangnya kepada saudaranya. Hal ini karena ia lebih banyak berkorban,
lebih tulus memaafkan, lebih sabar menghadapi kekurangan saudaranya, dan lebih
sungguh-sungguh menginginkan kebaikan baginya.
Semakin besar keikhlasan seseorang
dalam menjaga persaudaraan karena Allah, semakin besar pula kecintaan Allah
kepadanya.
Penjelasan
Persaudaraan karena Allah adalah
investasi akhirat. Hubungan yang dibangun atas dasar iman tidak akan terputus
oleh kematian. Bahkan, sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali, Allah dapat
mempertemukan kembali dua saudara seiman di surga dengan mengangkat derajat
salah satunya agar dapat bersama saudaranya. Ini menunjukkan betapa besar nilai
ukhuwah yang dilandasi keikhlasan.
Contoh
Seorang muslim berteman dengan
saudaranya karena sama-sama aktif menghadiri majelis ilmu. Mereka saling
mengingatkan waktu salat, berbagi ilmu yang bermanfaat, dan mendoakan satu sama
lain tanpa mengharapkan imbalan. Ketika salah satu mengalami kesulitan, yang
lain segera membantu dengan ikhlas. Hubungan mereka tidak berubah meskipun
salah satunya menjadi lebih kaya atau lebih terkenal.
Contoh lain, seseorang rutin
mengunjungi sahabatnya yang sedang sakit atau mengalami musibah semata-mata
untuk menghibur dan menguatkan imannya. Kunjungan tersebut bukan karena ingin
memperoleh keuntungan, melainkan sebagai wujud cinta karena Allah.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa
saling mencintai karena Allah merupakan salah satu amal yang paling agung.
Orang-orang yang menjaga ukhuwah fillah akan memperoleh kedudukan mulia di sisi
Allah, berada dalam keamanan pada hari kiamat, dan mendapatkan kemuliaan yang
membuat para nabi serta syuhada mengagumi derajat mereka.
Persaudaraan seperti ini hendaknya
menjadi tujuan setiap muslim, karena manfaatnya tidak berhenti di dunia, tetapi
terus berlanjut hingga kehidupan akhirat.
Hikmah
- Mencintai sesama muslim karena Allah termasuk ibadah
yang sangat mulia.
- Ukhuwah fillah mendatangkan keamanan dan kemuliaan pada
hari kiamat.
- Persahabatan yang dibangun atas dasar iman lebih kuat
daripada hubungan yang didasari kepentingan dunia.
- Allah lebih mencintai orang yang paling besar kasih
sayangnya kepada saudaranya.
- Berkumpul dan saling berkunjung karena Allah merupakan
amal yang berpahala besar.
- Persaudaraan karena Allah dapat menjadi sebab berkumpul
kembali di surga.
- Ketulusan dalam mencintai saudara seiman menjadi jalan
menuju derajat para wali Allah.
Penutup
Di tengah kehidupan yang sering
dipenuhi hubungan berdasarkan kepentingan, Islam mengajarkan bentuk
persaudaraan yang jauh lebih luhur, yaitu ukhuwah karena Allah. Persaudaraan
semacam ini tidak bergantung pada manfaat dunia, tetapi bertumpu pada iman,
keikhlasan, dan harapan akan ridha Allah. Sebagaimana dijelaskan Imam
Al-Ghazali, cinta karena Allah akan melahirkan persahabatan yang kokoh di dunia
dan menjadi sebab memperoleh kemuliaan di akhirat. Oleh karena itu, marilah
kita membangun hubungan yang dilandasi ketakwaan, saling menasihati dalam
kebaikan, dan terus menjaga kasih sayang agar termasuk orang-orang yang
dinaungi rahmat Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan selain
perlindungan-Nya.
Baca Juga :
Keutamaan Saling
Mengunjungi dan Mencintai karena Allah: Terjemah Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali

Tidak ada komentar:
Posting Komentar