Keutamaan Ukhuwah dalam Islam: Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin tentang Persaudaraan dan Akhlak Mulia (02/05/03)

Pendahuluan

Persaudaraan adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada orang-orang beriman. Banyak orang dapat berkumpul dalam satu tempat, namun tidak semua memiliki hati yang saling mencintai. Islam mengajarkan bahwa persatuan hati bukan hasil kekuatan manusia, melainkan karunia Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Dalam bab ini, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akhlak yang baik melahirkan keakraban dan persaudaraan. Beliau kemudian memperkuat penjelasan tersebut dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi yang menunjukkan betapa besar kedudukan ukhuwah karena Allah dalam kehidupan seorang muslim.

Sumber :

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), yang dikenal sebagai Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang fikih, tasawuf, akhlak, dan pendidikan Islam.

Tema : Keutamaan ukhuwah Islamiyah, persaudaraan karena Allah, akhlak mulia, dan pentingnya menjaga persatuan umat.

Teks Arab

ولا يخفى أن ثمرة الخلق الحسن  الألفة وانقطاع الوحشة ومهما طاب المثمر طابت الثمرة وكيف ، وقد ورد في الثناء على نفس الألفة سيما إذا كانت الرابطة هي التقوى والدين ، وحب الله من الآيات والأخبار والآثار ما فيه كفاية ومقنع ، قال الله تعالى مظهرا عظيم منته على الخلق بنعمة الألفة لو أنفقت ما في الأرض جميعا ما ألفت بين قلوبهم ولكن الله ألف بينهم ، وقال : فأصبحتم بنعمته إخوانا أي : بالألفة ثم ذم التفرقة وزجر عنها فقال عز من قائل : واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا إلى : لعلكم تهتدون وقال صلى الله عليه وسلم : إن أقربكم مني مجلسا أحاسنكم أخلاقا ، الموطئون أكنافا ، الذين يألفون ويؤلفون .

وقال صلى الله عليه وسلم : المؤمن آلف مألوف ، ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف .

Terjemahan Lengkap

Dan tidak diragukan lagi bahwa buah dari akhlak yang baik adalah tumbuhnya keakraban dan hilangnya rasa asing di antara manusia.

Apabila sesuatu yang menjadi sebab itu baik, maka hasil yang lahir darinya pun akan menjadi baik.

Bagaimana mungkin tidak demikian, padahal telah banyak ayat Al-Qur'an, hadis Nabi , dan atsar para salaf yang memuji keakraban dan persaudaraan, terutama apabila ikatan yang menyatukannya adalah ketakwaan, agama, dan kecintaan kepada Allah. Semua itu sudah lebih dari cukup sebagai penjelasan dan bukti.

Allah Ta'ala berfirman seraya menampakkan besarnya nikmat-Nya kepada manusia melalui karunia persatuan hati:

"Sekiranya engkau membelanjakan seluruh kekayaan yang ada di bumi, niscaya engkau tidak akan dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah-lah yang telah mempersatukan hati mereka."

Allah juga berfirman:

"Maka dengan nikmat-Nya kalian menjadi orang-orang yang bersaudara."

Maksudnya, dengan nikmat persatuan dan keakraban yang Allah anugerahkan.

Kemudian Allah mencela perpecahan dan melarangnya dengan firman-Nya:

"Berpegangteguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai..."

hingga firman-Nya:

"...agar kalian memperoleh petunjuk."

Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya orang yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling baik akhlaknya; yaitu orang-orang yang bersikap lembut, mudah bergaul, mencintai orang lain, dan dicintai oleh orang lain."

Beliau juga bersabda:

"Seorang mukmin adalah pribadi yang akrab dengan orang lain dan disenangi oleh orang lain. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak dapat bergaul dan tidak disenangi untuk diajak bergaul."

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ukhuwah merupakan buah alami dari akhlak yang baik. Orang yang lembut tutur katanya, lapang dadanya, mudah memaafkan, dan rendah hati akan lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Sebaliknya, orang yang keras hati, kasar ucapannya, mudah marah, dan suka merendahkan orang lain akan sulit memiliki hubungan yang harmonis.

Karena itu, Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk berkumpul, tetapi juga memperbaiki akhlak agar persatuan benar-benar terwujud.

Artikel Pengembangan

Persatuan Hati Adalah Nikmat yang Tidak Bisa Dibeli

Ayat yang dikutip Imam Al-Ghazali mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Allah menegaskan bahwa seandainya seluruh kekayaan bumi digunakan untuk menyatukan hati manusia, usaha itu tidak akan berhasil tanpa pertolongan-Nya.

Hal ini menunjukkan bahwa persaudaraan sejati bukan dibangun dengan materi, jabatan, ataupun kepentingan bersama. Banyak organisasi, keluarga, bahkan masyarakat yang memiliki kekayaan melimpah, tetapi tetap dilanda pertengkaran karena tidak memiliki keikhlasan dan ketakwaan.

Sebaliknya, kaum Muhajirin dan Anshar pada masa Rasulullah mampu hidup sebagai saudara meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda. Mereka dipersatukan oleh iman, bukan oleh kepentingan dunia.

Mengapa Islam Melarang Perpecahan?

Perpecahan membuka pintu berbagai kerusakan, di antaranya:

  • Hilangnya rasa saling percaya.
  • Munculnya iri hati dan permusuhan.
  • Lemahnya kekuatan umat.
  • Sulit berkembangnya dakwah.
  • Mudah dimasuki godaan setan.

Karena itulah Allah memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk berpegang teguh kepada agama-Nya dan tidak membiarkan perbedaan berkembang menjadi permusuhan.

Ciri Seorang Mukmin yang Baik

Dalam hadis yang disebutkan Imam Al-Ghazali, Rasulullah menjelaskan bahwa seorang mukmin memiliki dua sifat utama:

  • Ya'laf (يألف), yaitu mudah bergaul dan mampu menjalin hubungan baik dengan orang lain.
  • Yu'laf (يؤلف), yaitu menjadi pribadi yang disenangi, dipercaya, dan dicintai oleh masyarakat karena akhlaknya.

Artinya, seorang muslim ideal bukan hanya pandai beribadah secara pribadi, tetapi juga mampu menghadirkan ketenangan dan kenyamanan bagi lingkungan sekitarnya.

Penjelasan

Keakraban yang dipuji dalam Islam bukanlah keakraban yang dibangun atas dasar maksiat atau kepentingan sesaat. Persaudaraan yang bernilai ibadah adalah persaudaraan yang didasari oleh iman, ketakwaan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Akhlak yang baik menjadi jembatan menuju persatuan, sedangkan akhlak yang buruk menjadi penyebab renggangnya hubungan antarmanusia.

Contoh

Seorang muslim memiliki tetangga yang berbeda pendapat dengannya dalam urusan dunia. Meskipun demikian, ia tetap menyapa dengan ramah, membantu ketika tetangganya mengalami musibah, dan tidak pernah menyimpan dendam. Sikap seperti ini membuat hubungan mereka tetap harmonis.

Contoh lain adalah seseorang yang aktif di masjid. Ia tidak memilih-milih teman berdasarkan status sosial, usia, atau pekerjaan. Ia menyambut semua jamaah dengan senyum, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, dan menjaga lisannya dari ucapan yang menyakitkan. Karena akhlaknya, ia disukai banyak orang dan menjadi perekat persaudaraan di lingkungannya.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ukhuwah merupakan buah dari akhlak yang mulia. Persatuan hati adalah nikmat Allah yang tidak dapat dibeli dengan harta, tetapi diraih melalui keimanan, ketakwaan, dan akhlak yang baik.

Semakin baik akhlak seseorang, semakin besar kemampuannya membangun persaudaraan yang kokoh, menghadirkan kedamaian, dan memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah.

Hikmah

  • Akhlak yang baik melahirkan persaudaraan yang kokoh.
  • Persatuan hati merupakan anugerah Allah yang sangat besar.
  • Kekayaan tidak mampu menyatukan hati tanpa pertolongan Allah.
  • Islam melarang segala bentuk perpecahan dan permusuhan.
  • Mukmin sejati adalah pribadi yang mudah bergaul dan disenangi orang lain.
  • Akhlak mulia menjadi sebab dekat dengan Rasulullah pada hari kiamat.
  • Ukhuwah yang dibangun atas dasar iman akan membawa keberkahan di dunia dan akhirat.

Penutup

Di tengah kehidupan modern yang sering diwarnai perbedaan pendapat, persaingan, dan konflik, ajaran Imam Al-Ghazali tetap relevan sepanjang zaman. Persatuan tidak akan lahir hanya melalui aturan atau kesepakatan, tetapi melalui hati yang dibersihkan dengan iman dan akhlak yang mulia. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya berusaha menjadi pribadi yang mudah mencintai, mudah dicintai, dan mampu menyebarkan kedamaian di mana pun ia berada. Dengan demikian, ukhuwah Islamiyah tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi cahaya yang menerangi kehidupan masyarakat.

Baca Juga :

Keutamaan Persaudaraan dan Akhlak Mulia dalam Islam Menurut Imam Al-Ghazali

Keutamaan Ukhuwah dalam Islam: Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin tentang Persaudaraan dan Akhlak Mulia

Keutamaan Sahabat Saleh Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Persaudaraan karena Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Keutamaan Saling Mencintai karena Allah: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Kemuliaan Ukhuwah Fillah (02/05/05)

Pendahuluan Di antara amal hati yang paling agung dalam Islam adalah mencintai sesama muslim karena Allah (al-maḥabbah fillāh) . Cinta s...