Pendahuluan
Pada bagian sebelumnya, Imam
Al-Muhasibi menjelaskan bagaimana akal yang sempurna membuat seorang mukmin
merindukan surga, meremehkan dunia, dan menjadikan kehidupan dunia hanya sebagai
bekal menuju akhirat.
Dalam pembahasan kali ini, beliau
menguraikan salah satu fungsi tertinggi akal: membaca ayat-ayat Allah yang
tersebar di seluruh alam semesta. Menurut beliau, akal yang sehat tidak
berhenti pada pengamatan terhadap makhluk, tetapi menjadikan seluruh makhluk
sebagai jalan untuk mengenal Sang Pencipta.
Dari pengamatan terhadap ciptaan,
seorang mukmin akan sampai kepada ma'rifatullah, yaitu pengenalan yang semakin
mendalam kepada Allah Ta'ala.
Akal
yang Merenungkan Tanda-Tanda Kekuasaan Allah
Imam Al-Muhasibi menjelaskan bahwa
orang yang benar-benar berakal akan memperhatikan berbagai tanda kekuasaan
Allah dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta.
Ia melihat:
- Keteraturan alam.
- Kesempurnaan penciptaan makhluk.
- Ketelitian hukum-hukum kehidupan.
- Keseimbangan yang luar biasa dalam seluruh ciptaan.
Semua itu menunjukkan bahwa alam ini
tidak mungkin tercipta secara kebetulan.
Dari pengamatan tersebut, ia
menyimpulkan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan Yang Mahakuasa,
Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui.
Alam Semesta Menunjukkan Kesempurnaan Sifat Allah
Menurut Al-Muhasibi, orang yang
berakal akan memahami bahwa kesempurnaan ciptaan menunjukkan kesempurnaan sifat
Sang Pencipta.
Ia menyadari bahwa seluruh makhluk
diciptakan:
Dengan
kekuasaan yang sempurna
Tidak ada sesuatu pun yang mampu
keluar dari kehendak dan kekuasaan Allah.
Dengan
hikmah yang sempurna
Setiap ciptaan memiliki tujuan,
manfaat, dan keteraturan yang menunjukkan kebijaksanaan Allah.
Dengan
ilmu yang meliputi segala sesuatu
Tidak ada satu pun makhluk yang
tercipta tanpa pengetahuan Allah.
Dengan
pendengaran dan penglihatan yang sempurna
Allah mengetahui seluruh gerakan
makhluk-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Bahkan perkara-perkara yang paling
halus dan paling tersembunyi sekalipun berada dalam pengawasan-Nya.
Seluruh Makhluk Menjadi Bukti Keagungan Allah
Ketika akal telah memahami hal
tersebut, maka seluruh alam berubah menjadi sarana untuk mengenal Allah.
Imam Al-Muhasibi menggambarkan
seolah-olah seluruh makhluk menjadi "mata pelajaran" yang mengajarkan
kebesaran Tuhan.
Langit mengingatkannya kepada
keagungan Allah.
Bumi mengingatkannya kepada
kekuasaan Allah.
Pergantian siang dan malam
mengingatkannya kepada hikmah Allah.
Kehidupan dan kematian mengingatkannya
kepada kekuasaan Allah atas seluruh makhluk.
Karena itu, orang yang berakal tidak
memandang alam hanya sebagai benda mati, tetapi sebagai ayat-ayat yang
menunjukkan kebesaran Rabb semesta alam.
Buahnya: Hati Selalu Berdzikir kepada Allah
Menurut Imam Al-Muhasibi, ketika
seseorang terus melihat tanda-tanda Allah dalam ciptaan-Nya, maka hatinya akan
selalu terhubung dengan Allah.
Akibatnya:
- Dzikir menjadi mudah.
- Kelalaian berkurang.
- Kehadiran Allah semakin terasa dalam hati.
- Rasa pengawasan Allah semakin kuat.
Ia tidak lagi hidup dalam keadaan
lalai, karena setiap hal yang dilihatnya mengingatkannya kepada Allah.
Inilah salah satu makna penting dari
akal yang hidup.
Semakin Mengenal Allah, Semakin Merasa Belum Mengenal-Nya
Menariknya, Al-Muhasibi menjelaskan
bahwa semakin tinggi ma'rifat seseorang kepada Allah, semakin ia menyadari
keterbatasan dirinya.
Ia memahami bahwa:
- Ilmu manusia sangat terbatas.
- Hakikat kebesaran Allah tidak akan pernah dapat
dijangkau sepenuhnya.
- Tidak ada batas akhir dalam mengenal Allah.
Karena itu, orang yang benar-benar
berakal tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimilikinya.
Sebaliknya, ia selalu ingin menambah
pengetahuan tentang Allah, sifat-sifat-Nya, serta jalan-jalan yang
mendekatkannya kepada-Nya.
Mengapa Menuntut Ilmu Lebih Utama daripada Banyak Amal
Sunnah?
Salah satu poin menarik dalam
pembahasan ini adalah penjelasan Al-Muhasibi mengenai keutamaan ilmu.
Beliau menjelaskan bahwa seorang
hamba yang telah mengenal Allah akan lebih bersemangat menambah ilmu dan pemahaman
agama daripada sekadar memperbanyak amal sunnah tanpa ilmu.
Mengapa demikian?
Karena ilmu yang benar akan
melahirkan:
- Pengagungan kepada Allah.
- Rasa takut kepada-Nya.
- Kecintaan kepada-Nya.
- Semangat beribadah.
- Ketekunan dalam ketaatan.
Sedangkan amal tanpa ilmu sering
kali kehilangan arah dan tidak menghasilkan perubahan yang mendalam pada hati.
Karena itu, Al-Muhasibi menegaskan
bahwa sedikit ma'rifat yang benar dapat menghasilkan pengaruh yang sangat besar
dalam kehidupan seorang mukmin.
Sedikit Ma'rifat Bisa Melahirkan Banyak Ketaatan
Menurut Imam Al-Muhasibi, satu
pemahaman yang benar tentang Allah terkadang lebih berharga daripada banyak
amal yang dilakukan tanpa penghayatan.
Ketika seseorang memahami kebesaran
Allah:
- Ia menjadi lebih takut berbuat dosa.
- Ia lebih ikhlas dalam beramal.
- Ia lebih sabar menghadapi ujian.
- Ia lebih kuat dalam menjalankan perintah Allah.
Dengan kata lain, ma'rifat yang
benar menjadi sumber dari berbagai amal saleh.
Karena itu para ulama salaf sangat
menekankan pentingnya ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah, bukan
sekadar pengetahuan yang memenuhi pikiran.
Ciri Orang yang Akalnya Semakin Sempurna
Dari penjelasan Al-Muhasibi,
terdapat beberapa tanda bahwa akal seseorang semakin matang dan sempurna:
1.
Gemar merenungkan ciptaan Allah
Ia melihat alam sebagai bukti
kebesaran Allah.
2.
Mudah mengingat Allah
Setiap peristiwa mengingatkannya
kepada Rabb-nya.
3.
Tidak merasa cukup dengan ilmunya
Semakin belajar, semakin rendah
hati.
4.
Semangat menuntut ilmu agama
Ia menyadari bahwa ilmu adalah jalan
menuju ma'rifatullah.
5.
Ketaatannya semakin meningkat
Ilmu yang benar melahirkan amal yang
benar.
Penutup
Menurut Imam Al-Muhasibi, salah satu
tanda kesempurnaan akal adalah kemampuan membaca ayat-ayat Allah yang tersebar
di seluruh alam semesta. Orang yang berakal tidak berhenti pada keindahan
ciptaan, tetapi menjadikan seluruh ciptaan sebagai jembatan menuju pengenalan
yang lebih dalam kepada Allah.
Semakin ia mengenal Rabb-nya,
semakin besar rasa takut, cinta, dan pengagungannya kepada Allah. Karena itu,
ia tidak pernah berhenti menuntut ilmu dan memperdalam ma'rifatullah, sebab ia
menyadari bahwa mengenal Allah adalah perjalanan yang tidak memiliki batas
akhir selama manusia masih hidup di dunia.
Referensi:
وعقل عَن الله تَعَالَى آيَاته فِي تَدْبيره وحكمته
فِي آثَار صَنعته وَدَلَائِل حسن وَتَقْدِيره فَعلم أَنه بقدرة نَافِذَة قدرهَا
وبحكمة كَامِلَة أتقنها وبعلم مُحِيط اخترعها وبسمع نَافِذ سمع حركاتها وببصر مدرك
لَهَا دبر لطائف خلقهَا وغوامض كوامنها وَمَا وارته حجبها وسواترها
فاستدل بذلك أَنه الْإِلَه الْعَظِيم الَّذِي لَا
إِلَه غَيره وَلَا رب سواهُ فَكَأَن جَمِيع الْأَشْيَاء عين يعْتَبر بهَا ويجل
ويعظم لما يرى وَيسمع من مَوْلَاهُ وسيده فدام ذكره وزالت عَن الله عز وجل غفلته
وعقل عَن الله تَعَالَى أَنه مَا يبلغهُ غَايَة الْعلم بِهِ وَلَا بلطائف
محابه والقرب إِلَيْهِ والفهم لما كَلمه بِهِ فَكَانَ
مَعَ سَيّده اجْتِهَاده ودوام اشْتِغَاله بربه غير تَارِك وَلَا مُنْقَطع عَن طلب
الازدياد من الْعلم بربه والتزيد فِي الْفِقْه عَنهُ أَعلَى فِي قلبه وَأعظم
عِنْده قدرا من الازدياد من كثير أَعمال النَّوَافِل إِذْ عقل عَن ربه أَن أقل
قَلِيل الْمعرفَة يُورث التَّعْظِيم والهيبة وَيبْعَث على الِاجْتِهَاد وَيُورث
الطَّاعَات والشغل عَن جَمِيع الْعباد
Sumber;
الكتاب: ماهية
العقل ومعناه واختلاف الناس فيه
المؤلف: الحارث
بن أسد المحاسبي، أبو عبد الله (ت ٢٤٣هـ)
Baca juga:
Hakikat AkalMenurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 8): Ketika Akal Memandang Surga dan MeremehkanDunia
Hakikat Akal
Menurut Imam Al-Muhasibi (Bagian 10): Akal yang Melahirkan Rahmat kepada Sesama
%20Akal%20yang%20Membaca%20Tanda-Tanda%20Kebesaran%20Allah%20di%20Alam%20Semesta.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar