Pendalaman
Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan
Penting. Bagian: 01
الباب الرابع - فيما تضمنته الفاتحة من المعاني والقراءات والإعراب وفضل الحامدين
:
وفيه ست وثلاثون مسألة
Bab keempat:
Tentang kandungan makna-makna dalam Surah Al-Fatihah,
qirā’āt (variasi bacaan), i‘rāb (analisis tata bahasa), dan keutamaan
orang-orang yang memuji (Allah); dan di dalamnya terdapat 36 pembahasan (masalah)
الأولى- قوله سبحانه وتعالى : {الْحَمْدُ لِلَّهِ} روى أبو محمد عبد الغني بن
سعيد الحافظ من حديث أبي هريرة وأبي سعيد الخدري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال
: "إذا قال العبد الحمد لله قال صدق عبد ي الحمد لي" .
Masalah pertama:
Firman
Allah Ta‘ala: ‘Alhamdu lillāh’ (Segala puji bagi Allah).
Telah
diriwayatkan oleh Abu Muhammad ‘Abdul Ghani bin Sa‘id Al-Hafizh dari hadis Abu Hurairah dan Abu
Sa'id Al-Khudri, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
“Apabila seorang hamba mengucapkan: Alhamdulillah,
maka Allah berfirman: Hamba-Ku telah berkata benar, bagi-Ku lah
segala pujian.”
وروى مسلم عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "إن
الله ليرضى عن العبد أن يأكل الأكلة فيحمده عليها أو يشرب الشربة فيحمده عليها"
.
Dan Anas bin Malik
meriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad
bersabda:
“Sesungguhnya Allah benar-benar ridha kepada seorang
hamba yang makan suatu makanan lalu ia memuji-Nya (mengucapkan alhamdulillah)
atas makanan itu, atau ia minum suatu minuman lalu ia memuji-Nya atas minuman
tersebut.”
وقال الحسن : ما من نعمة إلا والحمد لله أفضل منها.
وروى ابن ماجة عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
" ما أنعم الله على عبد نعمة فقال الحمد لله إلا كان الذي أعطاه أفضل مما أخذ"
.
Al-Hasan al-Basri berkata:
“Tidaklah suatu nikmat (yang diberikan Allah) kecuali
ucapan ‘Alhamdulillah’ itu lebih baik daripada nikmat tersebut.”
Dan Anas bin Malik
meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad bersabda:
“Tidaklah Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang
hamba, lalu ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’, kecuali apa yang diberikan (berupa
kemampuan memuji itu) lebih baik daripada nikmat yang ia terima.”
وفي "نوادر الأصول" عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه
وسلم : "لو أن الدنيا كلها بحذافيرها بيد رجل من أمتي ثم قال الحمد لله لكانت
الحمد لله أفضل من ذلك" .
Dalam
kitab Nawādir al-Uṣūl, dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Seandainya
seluruh dunia dengan segala isinya berada di tangan seseorang dari umatku,
kemudian ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’, niscaya ucapan ‘Alhamdulillah’ itu
lebih utama daripada semua itu.”
قال أبو عبد الله : معناه عندنا أنه قد أعطي الدنيا ثم أعطي على أثرها هذه الكلمة
حتى نطق بها ، فكانت هذه الكلمة أفضل من الدنيا كلها لأن الدنيا فانية والكلمة باقية
، هي من الباقيات الصالحات قال الله تعالى : {وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ
عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً} [مريم : 76].
Abu Abdullah berkata:
Makna hadis itu menurut kami adalah:
“Seseorang diberi dunia seluruhnya, kemudian setelah itu
ia diberi (taufik untuk mengucapkan) kalimat tersebut hingga ia mengucapkannya.
Maka kalimat itu (Alhamdulillah) lebih utama daripada seluruh dunia, karena
dunia itu fana (akan binasa), sedangkan kalimat itu kekal. Ia
termasuk bagian dari amal-amal yang kekal (al-bāqiyāt aṣ-ṣāliḥāt).”
Allah
Ta‘ala berfirman dalam Surah Maryam ayat
76:
“Dan amal-amal yang kekal lagi saleh itu lebih baik
pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”
وقيل في بعض الروايات : لكان ما أعطى أكثر مما أخذ.
فصير الكلمة إعطاء من العبد ، والدنيا أخذا من الله فهذا في التدبير. كذاك يجري
في الكلام أن هذه الكلمة من العبد والدنيا من الله وكلاهما من الله في الأصل الدنيا
منه والكلمة منه أعطاه الدنيا فأغناه وأعطاه الكلمة فشرفه بها في الآخرة.
Dan
dalam sebagian riwayat dikatakan:
“Sungguh
apa yang diberikan (oleh Allah) lebih banyak daripada apa yang diambil.”
Maka
dijadikanlah kalimat (Alhamdulillah) itu seakan-akan pemberian dari hamba,
sedangkan dunia adalah sesuatu yang diambil dari Allah. Ini dari sisi
penjelasan (cara ungkapan).
Demikianlah
berlaku dalam ungkapan:
“Kalimat itu dari hamba dan dunia dari Allah.
Padahal pada hakikatnya, keduanya berasal dari Allah; dunia berasal dari-Nya,
dan kalimat itu juga dari-Nya. Dia memberikan dunia kepada hamba lalu
mencukupkannya, dan Dia memberikan kalimat (Alhamdulillah) itu lalu
memuliakannya dengannya di akhirat.”
وروى ابن ماجة عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثهم : "أن
عبد ا من عباد الله قال يا رب لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك فعَضَلت
بالملكين فلم يدريا كيف يكتبانها فصعدا إلى السماء وقالا يا ربنا إن عبد ك قد قال مقالة
لا ندري كيف نكتبها ، قال الله عز وجل وهو أعلم بما قال عبد ه ، ماذا قال عبد ي ؟
قالا يا رب إنه قد قال يا رب لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك ،
فقال الله لهما اكتباها كما قال عبد ي حتى يلقاني فأجزيه بها" .
Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi Muhammad saw.
menceritakan:
“Sesungguhnya
seorang hamba dari hamba-hamba Allah berkata:
(يا رب لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك)
“Wahai Tuhanku, bagi-Mu segala puji sebagaimana layak
bagi keagungan wajah-Mu dan kebesaran kekuasaan-Mu.”
Maka dua malaikat (pencatat amal) merasa kesulitan (tidak
tahu) bagaimana menuliskannya.
Lalu keduanya naik ke langit dan berkata: “Wahai Tuhan
kami, sesungguhnya hamba-Mu telah mengucapkan suatu ucapan yang kami tidak tahu
bagaimana menuliskannya.”
Allah Azza wa Jalla berfirman—dan Dia lebih mengetahui apa yang
diucapkan hamba-Nya—:
“Apa yang dikatakan hamba-Ku?”
Keduanya
menjawab:
Wahai
Tuhan, ia berkata:
(يا رب لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك)
“Wahai Tuhanku, bagi-Mu segala puji sebagaimana layak
bagi keagungan wajah-Mu dan kebesaran kekuasaan-Mu.”
Maka Allah berfirman kepada keduanya:
“Tulislah sebagaimana yang diucapkan hamba-Ku, sampai ia
berjumpa dengan-Ku, lalu Aku sendiri yang akan membalasnya.”
قال أهل اللغة : أعضل الأمر : اشتد واستغلق ، والمعضّلات [بتشديد الضاد"
: الشدائد.
وعضّلت المرأة والشاة : إذا نشِب ولدها فلم يسهل مخرجه ، بتشديد الضاد أيضا
فعلى هذا يكون : أعضلت الملكين أو عضلت الملكين بغير باء. والله أعلم.
Para ahli bahasa berkata:
Kata “a‘ḍala al-amr” (أعضل
الأمر) berarti suatu urusan menjadi sulit dan rumit.
Sedangkan “al-mu‘aḍḍilāt” (المعضّلات)—dengan tasydid
(penekanan) pada huruf ḍād—berarti kesulitan-kesulitan atau perkara-perkara
yang berat.
Dan dikatakan:
“‘aḍḍalat al-mar’ah wa asy-syāh” (عضّلت
المرأة والشاة) berarti
seorang wanita atau kambing mengalami kesulitan saat melahirkan, sehingga
anaknya tersangkut dan tidak mudah keluar—juga dengan tasydid pada huruf ḍād.”
Berdasarkan penjelasan ini, maka maksudnya adalah:
“telah menyulitkan kedua malaikat” (أعضلت
الملكين) atau
“menyulitkan kedua malaikat” (عضلت
الملكين) tanpa
menggunakan huruf “bā’.”
وروي عن مسلم عن أبي مالك الأشعري قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
"الطهور شطر الإيمان والحمد لله تملأ الميزان وسبحان الله والحمد لله تملآن أو
تملأ ما بين السماء والأرض" وذكر الحديث.
Diriwayatkan
oleh Imam Muslim dari Abu Malik al-Asy'ari, ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw.
bersabda:
“Bersuci
(thaharah) adalah setengah dari iman. Dan ‘Alhamdulillah’ memenuhi timbangan
(amal). Dan ‘Subhanallah’ serta ‘Alhamdulillah’ memenuhi—atau memenuhi—apa yang
ada antara langit dan bumi.”
(dan beliau menyebutkan kelanjutan hadis tersebut)
الثانية- اختلف العلماء أيما أفضل قول العبد : الحمد لله رب العالمين ، أو قول
لا إله إلا الله ؟
فقالت طائفة : قوله الحمد لله رب العالمين أفضل لأن في ضمنه التوحيد الذي هو
لا إله إلا الله ، ففي قوله توحيد وحمد ، وفي قوله لا إله إلا الله توحيد فقط.
وقالت طائفة : لا إله إلا الله أفضل لأنها تدفع الكفر والإشراك وعليها يقاتل
الخلق ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا
لا إله إلا الله" .
Masalah
kedua:
Para ulama berbeda pendapat, mana yang lebih utama—ucapan
seorang hamba: “Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn” atau ucapan “Lā ilāha illallāh”?
Maka sebagian kelompok berkata:
“Ucapan ‘Alhamdulillāhi Rabbil ‘ālamīn’ lebih
utama, karena di dalamnya sudah terkandung tauhid yang merupakan makna ‘Lā
ilāha illallāh’.
Jadi dalam ucapan itu terdapat tauhid sekaligus pujian (ḥamd),
sedangkan dalam ucapan ‘Lā ilāha illallāh’ hanya terdapat tauhid saja.”
Dan
sebagian kelompok lain berkata:
“Ucapan ‘Lā ilāha illallāh’ lebih utama, karena ia menolak kekufuran dan
kesyirikan, dan atas dasar kalimat inilah manusia diperangi.”
Sebagaimana
Nabi Muhammad bersabda:
“Aku
diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan ‘Lā ilāha
illallāh’.”
واختار هذا القول ابن عطية قال : والحاكم بذلك قول النبي صلى الله عليه وسلم
: " أفضل ما قلت أنا والنبيون من قبلي لا إله إلا الله وحده لا شريك له"
.
Dan pendapat
ini dipilih oleh Ibnu Atiyah. Ia berkata:
“Yang menjadi penentu dalam hal ini adalah sabda
Nabi Muhammad saw:
“Sebaik-baik
apa yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: ‘Lā ilāha
illallāh, وحده لا
شريك له (tidak ada
sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu
bagi-Nya).”
الثالثة- أجمع المسلمون على أن الله محمود على سائر نعمه وأن مما أنعم الله
به الإيمان فدل على أن الإيمان فعله وخلقه والدليل على ذلك قوله : "رب العالمين".
والعالمون جملة المخلوقات ومن جملتها الإيمان لا كما قال القدرية : إنه خلق لهم على
ما يأتي بيانه.
Masalah ketiga:
Kaum
muslimin telah bersepakat bahwa Allah itu Maha Terpuji atas seluruh nikmat-Nya.
Dan
termasuk di antara nikmat yang Allah berikan adalah iman.
Maka hal
ini menunjukkan bahwa iman itu adalah perbuatan dan ciptaan Allah.
Dalilnya
adalah firman-Nya:
“Rabb al-‘ālamīn
(Tuhan seluruh alam)”.
Sedangkan
“al-‘ālamīn” mencakup seluruh makhluk, dan iman termasuk bagian darinya.
Tidak
seperti yang dikatakan oleh kaum Qadariyah, bahwa iman itu diciptakan oleh manusia
sendiri—sebagaimana akan dijelaskan nanti.
الرابعة - الحمد في كلام العرب معناه الثناء الكامل ، والألف واللام لاستغراق
الجنس من المحامد فهو سبحانه يستحق الحمد بأجمعه إذ له الأسماء الحسنى والصفات العلا
وقد جمع لفظ الحمد جمع القلة
في قول الشاعر :
وأبلج محمود الثناء خصصته # بأفضل أقوالي وأفضل أحمدي
Masalah keempat:
Kata
“al-ḥamd” dalam bahasa Arab bermakna pujian yang sempurna.
Huruf
alif-lām (ال) pada kata tersebut menunjukkan mencakup
seluruh jenis pujian.
Maka Allah سبحانه berhak atas seluruh pujian itu, karena Dia memiliki nama-nama
yang indah (al-asmā’ al-ḥusnā) dan sifat-sifat yang tinggi.
Dan
lafaz “ḥamd” telah dijamakkan dengan bentuk jamak sedikit (jam‘ al-qillah)
dalam perkataan seorang penyair:
Dan seorang yang cemerlang lagi terpuji, aku khususkan
dia
dengan
sebaik-baik ucapanku dan sebaik-baik pujianku
فالحمد نقيض الذم ، تقول : حمدت الرجل أحمده حمدا فهو حميد ومحمود والتحميد
أبلغ من الحمد.
والحمد أعم من الشكر والحمد : الذي كثرت خصال المحمودة.
قال الشاعر :
إلى الماجد القرم الجواد المحمد
“Al-ḥamd”
(pujian) adalah lawan dari celaan (dzamm).
Dikatakan: “Aku memuji seseorang” (ḥamidtu ar-rajula
aḥmaduhu ḥamdan), maka ia disebut ḥamīd (yang terpuji) dan maḥmūd (yang dipuji). Adapun “at-taḥmīd” (التحميد)
lebih kuat (lebih dalam) daripada sekadar “ḥamd”.
Dan
“ḥamd” itu lebih umum daripada “syukur”.
Sementara
“al-ḥamd” (yang dimaksud) adalah (pujian kepada) sesuatu yang memiliki banyak
sifat-sifat terpuji.
Seorang
penyair berkata:
“Kepada orang yang mulia, terpandang, dermawan,
lagi sangat terpuji”
وبذلك سمي رسول الله صلى الله عليه وسلم.
وقال الشاعر :
فشقّ له من اسمه ليجله # فذو العرش محمود وهذا محمد
Karena
itulah Nabi Muhammad
dinamakan demikian (Muhammad).
Seorang
penyair berkata:
Maka Allah membelah
(mengambil) dari nama-Nya untuk memuliakannya,
maka
Pemilik ‘Arsy itu adalah Mahmūd (Yang
Maha Terpuji), dan ini adalah Muhammad
والمحمدة : خلاف المذمة.
وأحمد الرجلُ : صار أمره إلى الحمد. وأحمدته : وجدته محمودا ، تقول : أتيت موضع
كذا فأحمدته ، أي صادفته محمودا موافقا ، وذلك إذا رضيت سكناه أو مرعاه.
ورجل حُمَدَة - مثل هُمَزة - يكثر حمد الأشياء ويقول فيها أكثر مما فيها. وحَمَدة
النار - بالتحريك - : صوت التهابها.
“Al-maḥmadah” (المحمدة) adalah lawan dari “al-madhammah” (celaan).
Dan “aḥmada ar-rajul” (أحمد
الرجل) berarti
keadaannya menjadi menuju pujian (menjadi terpuji).
Sedangkan “aḥmadtuhu” (أحمدته) berarti aku mendapatinya dalam keadaan terpuji. Seperti
ucapanmu: “Aku mendatangi suatu tempat lalu aku ‘aḥmadtuhu’,” yaitu aku
mendapati tempat itu baik dan sesuai—yakni ketika engkau merasa ridha dengan tempat
tinggalnya atau padang rumputnya.
Seorang lelaki ḥumadah (حُمَدَة)—seperti wazan “humazah”—adalah orang yang banyak memuji
sesuatu dan sering melebih-lebihkan dalam pujiannya (lebih dari kenyataannya).
Dan
“ḥamadat an-nār” (حَمَدة النار)—dengan harakat
(dibaca hidup)—adalah suara nyala api ketika berkobar.
Baca Juga:
Pendalaman Al-Fatihah Bab 4:
Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan
Penting. Bagian: 02

Tidak ada komentar:
Posting Komentar