Wasiat Al-Harits Ar-Ra'isy: Rahasia Membangun Kerajaan dengan Keadilan, Kebaikan, dan Persatuan

BuraQ12: Wasiat Al-Harits Ar-Ra'isy: Rahasia Membangun Kera...: Pendahuluan Dalam rangkaian wasiat para raja keturunan Qahtan bin Hud, terdapat nasihat berharga dari Al-Harits Ar-Ra'isy, salah sat...

Pendahuluan

Dalam rangkaian wasiat para raja keturunan Qahtan bin Hud, terdapat nasihat berharga dari Al-Harits Ar-Ra'isy, salah satu penguasa besar yang dikenal karena keberhasilannya membangun kemakmuran dan memperkuat kerajaan Himyar.

Wasiat ini tidak hanya berbicara tentang kekuasaan, tetapi juga menjelaskan bagaimana sebuah kerajaan dapat bertahan lama melalui keadilan, perhatian kepada rakyat, dan kuatnya hubungan dengan keluarga serta masyarakat.

Al-Harits Ar-Ra'isy termasuk tokoh penting dalam sejarah raja-raja Yaman kuno. Ia dikenal sebagai nenek moyang para Tubba' yang kemudian menjadi penguasa besar di kawasan Arab Selatan. Kebijakan-kebijakannya dalam mengatur wilayah, membangun perekonomian masyarakat, dan memperkuat struktur kerajaan menjadikannya salah satu raja yang paling dikenang dalam tradisi Arab kuno.

Ketika menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Dzu Al-Manar, ia menyampaikan sejumlah nasihat yang sarat hikmah dan tetap relevan hingga saat ini.

Siapakah Al-Harits Ar-Ra'isy?

Menurut riwayat, setelah wafatnya Syaddad bin Zar'ah, kekuasaan berpindah kepada sepupunya, Al-Harits Ar-Ra'isy bin Qais bin Mu'awiyah bin Jasym bin Abd Syams.

Al-Harits mendapat gelar "Ar-Ra'isy" karena jasanya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia membagi wilayah-wilayah Yaman, baik dataran rendah, pegunungan, maupun lembah-lembah subur, kepada berbagai kabilah dan keluarganya.

Tidak hanya membagikan wilayah, ia juga membantu mereka mengelolanya sehingga menghasilkan sumber penghidupan yang berkelanjutan. Kebijakan tersebut membuat banyak keluarga menjadi lebih mandiri dan tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada kerajaan.

Karena keberhasilannya memperkaya dan memberdayakan rakyat, ia dikenal dengan gelar Ar-Ra'isy, yang berkaitan dengan makna memberikan kemakmuran dan penghidupan.

Raja yang Memperkuat Pertahanan Kerajaan

Riwayat juga menyebutkan bahwa Al-Harits Ar-Ra'isy merupakan salah satu raja pertama yang memperkenalkan penggunaan baju zirah secara luas bagi pasukannya.

Langkah ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya memperhatikan kesejahteraan rakyat, tetapi juga keamanan negara.

Dengan memperkuat perlengkapan militer, ia berusaha menjaga stabilitas kerajaan dan melindungi wilayah kekuasaannya dari ancaman luar.

Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin yang baik harus mampu menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan keamanan negara.

Wasiat Al-Harits kepada Dzu Al-Manar

Ketika usia semakin lanjut dan masa kepemimpinannya mendekati akhir, Al-Harits Ar-Ra'isy memanggil putranya yang bernama Dzu Al-Manar.

Ia mengingatkan bahwa kerajaan yang akan diwariskan bukanlah sesuatu yang diperoleh dengan mudah.

Kerajaan tersebut merupakan hasil perjuangan panjang para leluhur yang telah membangun fondasi kekuasaan selama beberapa generasi.

Karena itu, Dzu Al-Manar harus menjaga dan mengembangkan warisan tersebut, bukan sekadar menikmatinya.

Menurut Al-Harits, seorang pemimpin tidak cukup hanya mempertahankan apa yang diwarisi. Ia harus berusaha menjadikan warisan itu lebih baik daripada sebelumnya.

Keadilan Adalah Penjaga Kerajaan

Nasihat paling penting dalam wasiat Al-Harits adalah tentang keadilan.

Ia menegaskan bahwa kerajaan akan tetap kuat apabila keadilan ditegakkan.

Dalam syairnya, ia menjelaskan bahwa kemakmuran kerajaan bergantung pada tersebarnya keadilan di tengah masyarakat.

Melalui keadilan, seorang pemimpin dapat memerintah dengan wibawa.

Melalui keadilan pula berbagai bentuk kezaliman dapat dicegah.

Keadilan menciptakan rasa aman.

Keadilan menumbuhkan kepercayaan.

Keadilan memperkuat persatuan.

Karena itu, banyak kerajaan besar dalam sejarah mampu bertahan selama berabad-abad karena para penguasanya menjadikan keadilan sebagai fondasi utama pemerintahan.

Berbuat Baik kepada Orang yang Taat

Al-Harits juga berpesan agar putranya memperbanyak kebaikan kepada orang-orang yang mendukung dan menaati pemerintahan.

Menurutnya, kebaikan yang diberikan kepada rakyat akan menghasilkan kesetiaan yang lebih kuat daripada paksaan.

Seorang pemimpin yang murah hati dan peduli terhadap masyarakat akan memperoleh dukungan yang tulus.

Sebaliknya, kekuasaan yang hanya bertumpu pada rasa takut biasanya tidak bertahan lama.

Prinsip ini menunjukkan bahwa hubungan antara pemimpin dan rakyat harus dibangun di atas kepercayaan dan saling menghargai.

Pentingnya Menjaga Nama Baik dan Kehormatan

Dalam wasiatnya, Al-Harits mengingatkan putranya agar selalu menjaga kehormatan keluarga dan nama baik leluhur.

Ia menyatakan bahwa orang yang memiliki reputasi baik akan lebih mudah mendapatkan pertolongan dan dukungan dari masyarakat.

Sebaliknya, orang yang merusak kehormatannya sendiri akan kehilangan banyak peluang dan kepercayaan.

Nama baik merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam kepemimpinan.

Oleh karena itu, seorang pemimpin harus menjaga perilaku, ucapan, dan kebijakannya agar tetap mendapat penghormatan dari masyarakat.

Keluarga dan Kerabat Adalah Kekuatan Utama

Salah satu nasihat yang sangat ditekankan oleh Al-Harits adalah pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga dan kerabat.

Ia meminta Dzu Al-Manar untuk terus menyambung hubungan baik dengan kaumnya serta melindungi mereka.

Menurutnya, kekuatan seorang pemimpin tidak berdiri sendiri.

Di belakang setiap pemimpin terdapat keluarga, sahabat, pendukung, dan masyarakat yang menjadi sumber kekuatannya.

Ketika hubungan tersebut terjaga dengan baik, seorang pemimpin akan lebih mudah menghadapi berbagai tantangan.

Sebaliknya, pemimpin yang mengabaikan keluarganya sendiri sering kali kehilangan dukungan pada saat yang paling dibutuhkan.

Kemakmuran Harus Dinikmati Bersama

Keberhasilan Al-Harits Ar-Ra'isy dalam membangun kerajaan menunjukkan satu prinsip penting.

Ia tidak memusatkan seluruh kekayaan dan sumber daya di tangan kerajaan.

Sebaliknya, ia membantu masyarakat mengembangkan wilayah yang mereka tempati sehingga kesejahteraan dapat dirasakan secara lebih luas.

Pendekatan ini menciptakan masyarakat yang lebih mandiri dan produktif.

Dalam konteks modern, prinsip ini mirip dengan pemberdayaan masyarakat, pembangunan ekonomi daerah, dan pemerataan kesejahteraan.

Dzu Al-Manar dan Kelanjutan Warisan Kepemimpinan

Riwayat menyebutkan bahwa Dzu Al-Manar berhasil menjalankan wasiat ayahnya dengan baik.

Ia mempertahankan tradisi kepemimpinan yang diwariskan oleh para leluhurnya serta memperluas pengaruh kerajaan ke berbagai wilayah.

Dzu Al-Manar dikenal sebagai raja yang gemar melakukan ekspedisi ke berbagai penjuru negeri.

Ia memasang tanda-tanda jalan, membangun penunjuk arah, dan membuat penanda di jalur-jalur penting yang dilalui masyarakat maupun pasukan.

Karena jasa tersebut, ia memperoleh gelar Dzu Al-Manar, yang berarti "Pemilik Panji dan Penanda Jalan."

Gelar itu menjadi simbol kepemimpinannya yang visioner dan berorientasi pada pembangunan.

Dzu Al-Manar dalam Syair Para Penyair Arab

Nama Dzu Al-Manar dan ayahnya, Al-Harits Ar-Ra'isy, dikenang dalam berbagai syair Arab kuno.

Para penyair menggambarkan mereka sebagai raja-raja besar yang mampu membuat banyak negeri tunduk dan membayar upeti kepada kerajaan mereka.

Syair-syair tersebut juga menunjukkan betapa besarnya pengaruh para raja Himyar dalam tradisi sejarah Arab Selatan.

Meski sebagian kisahnya bercampur antara sejarah dan legenda, warisan nilai-nilai kepemimpinan mereka tetap menjadi pelajaran yang berharga.

Pelajaran Berharga dari Wasiat Al-Harits Ar-Ra'isy

Wasiat Al-Harits mengandung banyak hikmah yang relevan sepanjang zaman.

1. Warisan Harus Dijaga dan Dikembangkan

Penerus yang baik tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga berusaha memperbaikinya.

2. Keadilan Adalah Fondasi Kekuasaan

Tidak ada kerajaan yang dapat bertahan lama tanpa keadilan.

3. Kebaikan Membangun Loyalitas

Masyarakat lebih mudah mendukung pemimpin yang peduli terhadap mereka.

4. Nama Baik Adalah Modal Kepemimpinan

Kehormatan dan reputasi yang baik akan mendatangkan dukungan dan kepercayaan.

5. Keluarga dan Kerabat Merupakan Sumber Kekuatan

Hubungan yang baik dengan keluarga dan masyarakat memperkuat posisi seorang pemimpin.

6. Kemakmuran Harus Dibagikan

Kesejahteraan yang dinikmati bersama akan menciptakan stabilitas yang lebih kuat daripada kekayaan yang hanya terpusat pada satu kelompok.

Penutup

Wasiat Al-Harits Ar-Ra'isy kepada putranya, Dzu Al-Manar, merupakan salah satu warisan kepemimpinan yang paling berharga dalam tradisi raja-raja keturunan Qahtan bin Hud. Melalui nasihat tersebut, ia mengajarkan bahwa kejayaan sebuah kerajaan tidak hanya bergantung pada kekuatan militer atau luas wilayah, tetapi juga pada keadilan, kebaikan, pemberdayaan masyarakat, serta kuatnya hubungan dengan keluarga dan rakyat.

Pesan-pesan ini tetap relevan hingga sekarang. Dalam keluarga, organisasi, bisnis, maupun pemerintahan, keberhasilan jangka panjang selalu dibangun di atas keadilan, kepedulian, dan kemampuan menjaga kepercayaan orang-orang yang berada di sekitar kita.

Referensi:

وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن شداد بن زرعة بن كعب بن زيد ولي الملك دهرًا طويلًا لم يعصه أحد من حمير ولا كهلان في ملكه الذي أحاط به بأكثر الأرض ومن فيها. ويقال إنه سار في الناس بسيرة آبائه، وأجراهم على سنن أجداده، وحفظ وصايا الأوائل من أسلافه، وعمل بها، وثبت عليها إلى أن توفي.

وانتقل الملك إلى ابن عمه الحارث الرائش بن قيس بن معاوية بن جشم بن عبد شمس. فالرائش أبو التبابعة السبعة. ويقال: إنه أول ملك استعمل الدروع لأصحابه وألبسهم إياها. ويقال: إنه قسم بلدان اليمن سهلها وجبالها وأوديتها بين عشائره، وأعانهم على عمارتها، وأخرج لهم فيها المستغلات، فارتاشت العشيرة واستغنى بعضها من بعض عن كثير مما كانوا محتاجين إلى الملك مما في يده، ولارتياشهم معه سموه الرائس، وإلا فاسمه الحارث بن قيس بن صيفي بن سبأ الأصغر.

وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن الرائش وصى ابنه ذا المنار بن الرائش فقال له: إن أباك حوى لك الملك، وأقره في محتد أنت أوسط الناس فيه، وأولاهم به. وإنه ليوصيك بزيادة ما نالت يدك من الخير أن تفعله إلى من سمع لك وأطاع. واجعل العدل ناصرًا، واتخذ الأحساب لك تجده، واصطنع العشيرة ليوم.

وأنشأ يقول:

حويتُ لكَ المُلكَ الذي كانَ حازَهُ ... لأولادِهِ في سلفِ الدَّهر حِميرُ

فكُنْ حافظًا للمُلكِ بعدي عامرًا ... فقدْ يُحفظُ المُلكُ الأثيلُ ويعمرُ

وعِمرانُهُ أن يُبسطَ العدلُ دُونهُ ... وبالعدلِ تنهى ما نهيتَ وتأمرُ

وثابِرْ على الأحسابِ إنك لن ترى ... فتىً محسنًا إلا يُعانُ ويُنصرُ

وقومكَ واصِلهُم وحِطُهُمْ وإنَّما ... بقومِكَ تعلُو منْ أردتَ فتقهرُ

قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال أن أبرهة ذا المنار بن الرائش ولي الملك بعد أبيه الحارث الرائش، وثبت على ما وصاه به أبوه الرائش وعمل به وحفظه، وهو أول ملك نصب الأعلام وبنى الأميال والعلامات على الطرق والمناهل، ولذلك سمي ذا المنار، وذلك أنه ضرب في الأرض يطلب بلاد في شرقها وغربها ليفتحها، وليأخذ إتاوتها واسمه أبرهة ذو المنار بن الرائش، وهو الذي ذكره صلاءة بن عمرو الأودي في شعره الذي ذكر التبابعة والمثامنة حيث يقول: «من الوافر»

فلَو دامَ البقاءُ إذًا جُدودي ... وأسلافي بنو قحطانَ دامُوا

ودامَ لهم تبابُعُهمْ ملوكًا ... ولم تَمُتِ المثامنةُ الكرامُ

وعاشَ الملكُ ذو الأذغارِ عمروٌ ... وعمروٌ حَولَه النُّجُبُ اللُهامُ

وخُلِّد ذو المنارِ وما تردَّى ... أبُوهُ الرَّائِشُ المَلِكُ الهُمامُ

مُلُوكٌ أدَّتِ الدُّنيا إليهمْ ... إتاوتها ودانَ لها الأنامُ

ولمَّا يَعصِهِم حَامٌ وسَامٌ ... ويافثُ حيثُ ما حَلَّتْ ولامُ

قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: أما سام فأبو العرب، وأما حام فأبو النوبة والحبش والزنج والبجاة والبازة. قال: وقرأت في بعض الكتب أن خراسان أخو فارس، وأخوهما كرمان والكرد الأكبر، أبوهم يافث بن نوح النبي ﷺ، وقال: إن الروم منه من ولد لام بن نوح النبي ﷺ، وفيه من ولد عيصو بن إسحاق بن إبراهيم ﷺ. قال: فأما الروم الأولى فمن ولد لام بن نوح النبي ﷺ، إخوتهم الصقالبة والخزر والغورط والكابل والصين والسند والهند.

Sumber :

ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ

المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى: ٢٤٦هـ)

رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي

Baca juga:

Wasiat Abrahah Dzu Al-Manar kepada Amr Dzu Al-Adz'ar: Kepemimpinan Ibarat Petani yang Merawat Tanamannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Kupas tuntas makna ism, musamma, dan tasmiyah menurut Imam Al-Ghazali beserta terjemahan, penjelasan, dan hikmahnya.

BuraQ12: Makna Ism, Musamma, dan Tasmiyah Menurut Imam Al-G... : Pendahuluan Pembahasan mengenai nama (ism) , yang dinamai (musamma) , d...