Pendahuluan
Dalam rangkaian wasiat para raja
keturunan Qahtan bin Hud, terdapat nasihat berharga dari Al-Harits Ar-Ra'isy,
salah satu penguasa besar yang dikenal karena keberhasilannya membangun
kemakmuran dan memperkuat kerajaan Himyar.
Wasiat ini
tidak hanya berbicara tentang kekuasaan, tetapi juga menjelaskan bagaimana
sebuah kerajaan dapat bertahan lama melalui keadilan, perhatian kepada rakyat,
dan kuatnya hubungan dengan keluarga serta masyarakat.
Al-Harits Ar-Ra'isy termasuk tokoh
penting dalam sejarah raja-raja Yaman kuno. Ia dikenal sebagai nenek moyang
para Tubba' yang kemudian menjadi penguasa besar di kawasan Arab Selatan.
Kebijakan-kebijakannya dalam mengatur wilayah, membangun perekonomian
masyarakat, dan memperkuat struktur kerajaan menjadikannya salah satu raja yang
paling dikenang dalam tradisi Arab kuno.
Ketika menyerahkan kekuasaan kepada
putranya, Dzu Al-Manar, ia menyampaikan sejumlah nasihat yang sarat hikmah dan
tetap relevan hingga saat ini.
Siapakah Al-Harits Ar-Ra'isy?
Menurut riwayat, setelah wafatnya Syaddad
bin Zar'ah, kekuasaan berpindah kepada sepupunya, Al-Harits Ar-Ra'isy bin Qais
bin Mu'awiyah bin Jasym bin Abd Syams.
Al-Harits mendapat gelar
"Ar-Ra'isy" karena jasanya dalam meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Ia membagi wilayah-wilayah Yaman, baik dataran rendah, pegunungan,
maupun lembah-lembah subur, kepada berbagai kabilah dan keluarganya.
Tidak hanya membagikan wilayah, ia
juga membantu mereka mengelolanya sehingga menghasilkan sumber penghidupan yang
berkelanjutan. Kebijakan tersebut membuat banyak keluarga menjadi lebih mandiri
dan tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada kerajaan.
Karena keberhasilannya memperkaya
dan memberdayakan rakyat, ia dikenal dengan gelar Ar-Ra'isy, yang berkaitan
dengan makna memberikan kemakmuran dan penghidupan.
Raja yang Memperkuat Pertahanan Kerajaan
Riwayat juga menyebutkan bahwa
Al-Harits Ar-Ra'isy merupakan salah satu raja pertama yang memperkenalkan
penggunaan baju zirah secara luas bagi pasukannya.
Langkah ini menunjukkan bahwa ia
tidak hanya memperhatikan kesejahteraan rakyat, tetapi juga keamanan negara.
Dengan memperkuat perlengkapan
militer, ia berusaha menjaga stabilitas kerajaan dan melindungi wilayah
kekuasaannya dari ancaman luar.
Hal ini menunjukkan bahwa seorang
pemimpin yang baik harus mampu menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan
keamanan negara.
Wasiat Al-Harits kepada Dzu Al-Manar
Ketika usia semakin lanjut dan masa
kepemimpinannya mendekati akhir, Al-Harits Ar-Ra'isy memanggil putranya yang
bernama Dzu Al-Manar.
Ia mengingatkan bahwa kerajaan yang
akan diwariskan bukanlah sesuatu yang diperoleh dengan mudah.
Kerajaan tersebut merupakan hasil
perjuangan panjang para leluhur yang telah membangun fondasi kekuasaan selama
beberapa generasi.
Karena itu, Dzu Al-Manar harus
menjaga dan mengembangkan warisan tersebut, bukan sekadar menikmatinya.
Menurut Al-Harits, seorang pemimpin
tidak cukup hanya mempertahankan apa yang diwarisi. Ia harus berusaha
menjadikan warisan itu lebih baik daripada sebelumnya.
Keadilan Adalah Penjaga Kerajaan
Nasihat paling penting dalam wasiat
Al-Harits adalah tentang keadilan.
Ia menegaskan bahwa kerajaan akan
tetap kuat apabila keadilan ditegakkan.
Dalam syairnya, ia menjelaskan bahwa
kemakmuran kerajaan bergantung pada tersebarnya keadilan di tengah masyarakat.
Melalui keadilan, seorang pemimpin
dapat memerintah dengan wibawa.
Melalui keadilan pula berbagai
bentuk kezaliman dapat dicegah.
Keadilan menciptakan rasa aman.
Keadilan menumbuhkan kepercayaan.
Keadilan memperkuat persatuan.
Karena itu, banyak kerajaan besar
dalam sejarah mampu bertahan selama berabad-abad karena para penguasanya
menjadikan keadilan sebagai fondasi utama pemerintahan.
Berbuat Baik kepada Orang yang Taat
Al-Harits juga berpesan agar
putranya memperbanyak kebaikan kepada orang-orang yang mendukung dan menaati
pemerintahan.
Menurutnya, kebaikan yang diberikan
kepada rakyat akan menghasilkan kesetiaan yang lebih kuat daripada paksaan.
Seorang pemimpin yang murah hati dan
peduli terhadap masyarakat akan memperoleh dukungan yang tulus.
Sebaliknya, kekuasaan yang hanya
bertumpu pada rasa takut biasanya tidak bertahan lama.
Prinsip ini menunjukkan bahwa
hubungan antara pemimpin dan rakyat harus dibangun di atas kepercayaan dan
saling menghargai.
Pentingnya Menjaga Nama Baik dan Kehormatan
Dalam wasiatnya, Al-Harits
mengingatkan putranya agar selalu menjaga kehormatan keluarga dan nama baik
leluhur.
Ia menyatakan bahwa orang yang
memiliki reputasi baik akan lebih mudah mendapatkan pertolongan dan dukungan
dari masyarakat.
Sebaliknya, orang yang merusak
kehormatannya sendiri akan kehilangan banyak peluang dan kepercayaan.
Nama baik merupakan modal sosial
yang sangat berharga dalam kepemimpinan.
Oleh karena itu, seorang pemimpin
harus menjaga perilaku, ucapan, dan kebijakannya agar tetap mendapat
penghormatan dari masyarakat.
Keluarga dan Kerabat Adalah Kekuatan Utama
Salah satu nasihat yang sangat
ditekankan oleh Al-Harits adalah pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga
dan kerabat.
Ia meminta Dzu Al-Manar untuk terus
menyambung hubungan baik dengan kaumnya serta melindungi mereka.
Menurutnya, kekuatan seorang
pemimpin tidak berdiri sendiri.
Di belakang setiap pemimpin terdapat
keluarga, sahabat, pendukung, dan masyarakat yang menjadi sumber kekuatannya.
Ketika hubungan tersebut terjaga
dengan baik, seorang pemimpin akan lebih mudah menghadapi berbagai tantangan.
Sebaliknya, pemimpin yang
mengabaikan keluarganya sendiri sering kali kehilangan dukungan pada saat yang
paling dibutuhkan.
Kemakmuran Harus Dinikmati Bersama
Keberhasilan Al-Harits Ar-Ra'isy
dalam membangun kerajaan menunjukkan satu prinsip penting.
Ia tidak memusatkan seluruh kekayaan
dan sumber daya di tangan kerajaan.
Sebaliknya, ia membantu masyarakat
mengembangkan wilayah yang mereka tempati sehingga kesejahteraan dapat
dirasakan secara lebih luas.
Pendekatan ini menciptakan
masyarakat yang lebih mandiri dan produktif.
Dalam konteks modern, prinsip ini
mirip dengan pemberdayaan masyarakat, pembangunan ekonomi daerah, dan
pemerataan kesejahteraan.
Dzu Al-Manar dan Kelanjutan Warisan Kepemimpinan
Riwayat menyebutkan bahwa Dzu
Al-Manar berhasil menjalankan wasiat ayahnya dengan baik.
Ia mempertahankan tradisi
kepemimpinan yang diwariskan oleh para leluhurnya serta memperluas pengaruh
kerajaan ke berbagai wilayah.
Dzu Al-Manar dikenal sebagai raja
yang gemar melakukan ekspedisi ke berbagai penjuru negeri.
Ia memasang tanda-tanda jalan,
membangun penunjuk arah, dan membuat penanda di jalur-jalur penting yang
dilalui masyarakat maupun pasukan.
Karena jasa tersebut, ia memperoleh
gelar Dzu Al-Manar, yang berarti "Pemilik Panji dan Penanda Jalan."
Gelar itu menjadi simbol
kepemimpinannya yang visioner dan berorientasi pada pembangunan.
Dzu Al-Manar dalam Syair Para Penyair Arab
Nama Dzu Al-Manar dan ayahnya,
Al-Harits Ar-Ra'isy, dikenang dalam berbagai syair Arab kuno.
Para penyair menggambarkan mereka
sebagai raja-raja besar yang mampu membuat banyak negeri tunduk dan membayar
upeti kepada kerajaan mereka.
Syair-syair tersebut juga
menunjukkan betapa besarnya pengaruh para raja Himyar dalam tradisi sejarah
Arab Selatan.
Meski sebagian kisahnya bercampur
antara sejarah dan legenda, warisan nilai-nilai kepemimpinan mereka tetap
menjadi pelajaran yang berharga.
Pelajaran Berharga dari Wasiat Al-Harits Ar-Ra'isy
Wasiat Al-Harits mengandung banyak
hikmah yang relevan sepanjang zaman.
1.
Warisan Harus Dijaga dan Dikembangkan
Penerus yang baik tidak hanya
menjaga warisan leluhur, tetapi juga berusaha memperbaikinya.
2.
Keadilan Adalah Fondasi Kekuasaan
Tidak ada kerajaan yang dapat
bertahan lama tanpa keadilan.
3.
Kebaikan Membangun Loyalitas
Masyarakat lebih mudah mendukung
pemimpin yang peduli terhadap mereka.
4.
Nama Baik Adalah Modal Kepemimpinan
Kehormatan dan reputasi yang baik
akan mendatangkan dukungan dan kepercayaan.
5.
Keluarga dan Kerabat Merupakan Sumber Kekuatan
Hubungan yang baik dengan keluarga
dan masyarakat memperkuat posisi seorang pemimpin.
6.
Kemakmuran Harus Dibagikan
Kesejahteraan yang dinikmati bersama
akan menciptakan stabilitas yang lebih kuat daripada kekayaan yang hanya
terpusat pada satu kelompok.
Penutup
Wasiat Al-Harits Ar-Ra'isy kepada
putranya, Dzu Al-Manar, merupakan salah satu warisan kepemimpinan yang paling
berharga dalam tradisi raja-raja keturunan Qahtan bin Hud. Melalui nasihat
tersebut, ia mengajarkan bahwa kejayaan sebuah kerajaan tidak hanya bergantung
pada kekuatan militer atau luas wilayah, tetapi juga pada keadilan, kebaikan,
pemberdayaan masyarakat, serta kuatnya hubungan dengan keluarga dan rakyat.
Pesan-pesan ini tetap relevan hingga
sekarang. Dalam keluarga, organisasi, bisnis, maupun pemerintahan, keberhasilan
jangka panjang selalu dibangun di atas keadilan, kepedulian, dan kemampuan
menjaga kepercayaan orang-orang yang berada di sekitar kita.
Referensi:
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن شداد
بن زرعة بن كعب بن زيد ولي الملك دهرًا طويلًا لم يعصه أحد من حمير ولا كهلان في
ملكه الذي أحاط به بأكثر الأرض ومن فيها. ويقال إنه سار في الناس بسيرة آبائه،
وأجراهم على سنن أجداده، وحفظ وصايا الأوائل من أسلافه، وعمل بها، وثبت عليها إلى
أن توفي.
وانتقل الملك إلى ابن عمه الحارث الرائش بن قيس بن
معاوية بن جشم بن عبد شمس. فالرائش أبو التبابعة السبعة. ويقال: إنه أول ملك
استعمل الدروع لأصحابه وألبسهم إياها. ويقال: إنه قسم بلدان اليمن سهلها وجبالها
وأوديتها بين عشائره، وأعانهم على عمارتها، وأخرج لهم فيها المستغلات، فارتاشت
العشيرة واستغنى بعضها من بعض عن كثير مما كانوا محتاجين إلى الملك مما في يده،
ولارتياشهم معه سموه الرائس، وإلا فاسمه الحارث بن قيس بن صيفي بن سبأ الأصغر.
وحدّثني علي بن محمد، عن جده الدعبل بن علي، أن الرائش
وصى ابنه ذا المنار بن الرائش فقال له: إن أباك حوى لك الملك، وأقره في محتد أنت
أوسط الناس فيه، وأولاهم به. وإنه ليوصيك بزيادة ما نالت يدك من الخير أن تفعله
إلى من سمع لك وأطاع. واجعل العدل ناصرًا، واتخذ الأحساب لك تجده، واصطنع العشيرة
ليوم.
وأنشأ يقول:
حويتُ لكَ المُلكَ الذي كانَ حازَهُ ... لأولادِهِ في
سلفِ الدَّهر حِميرُ
فكُنْ حافظًا للمُلكِ بعدي عامرًا ... فقدْ يُحفظُ
المُلكُ الأثيلُ ويعمرُ
وعِمرانُهُ أن يُبسطَ العدلُ دُونهُ ... وبالعدلِ تنهى
ما نهيتَ وتأمرُ
وثابِرْ على الأحسابِ إنك لن ترى ... فتىً محسنًا إلا
يُعانُ ويُنصرُ
وقومكَ واصِلهُم وحِطُهُمْ وإنَّما ... بقومِكَ تعلُو
منْ أردتَ فتقهرُ
قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: فيقال أن أبرهة
ذا المنار بن الرائش ولي الملك بعد أبيه الحارث الرائش، وثبت على ما وصاه به أبوه
الرائش وعمل به وحفظه، وهو أول ملك نصب الأعلام وبنى الأميال والعلامات على الطرق
والمناهل، ولذلك سمي ذا المنار، وذلك أنه ضرب في الأرض يطلب بلاد في شرقها وغربها
ليفتحها، وليأخذ إتاوتها واسمه أبرهة ذو المنار بن الرائش، وهو الذي ذكره صلاءة بن
عمرو الأودي في شعره الذي ذكر التبابعة والمثامنة حيث يقول: «من الوافر»
فلَو دامَ البقاءُ إذًا جُدودي ... وأسلافي بنو قحطانَ
دامُوا
ودامَ لهم تبابُعُهمْ ملوكًا ... ولم تَمُتِ المثامنةُ
الكرامُ
وعاشَ الملكُ ذو الأذغارِ عمروٌ ... وعمروٌ حَولَه
النُّجُبُ اللُهامُ
وخُلِّد ذو المنارِ وما تردَّى ... أبُوهُ الرَّائِشُ
المَلِكُ الهُمامُ
مُلُوكٌ أدَّتِ الدُّنيا إليهمْ ... إتاوتها ودانَ لها
الأنامُ
ولمَّا يَعصِهِم حَامٌ وسَامٌ ... ويافثُ حيثُ ما
حَلَّتْ ولامُ
قال علي بن محمد: قال الدعبل بن علي: أما سام فأبو
العرب، وأما حام فأبو النوبة والحبش والزنج والبجاة والبازة. قال: وقرأت في بعض
الكتب أن خراسان أخو فارس، وأخوهما كرمان والكرد الأكبر، أبوهم يافث بن نوح النبي ﷺ،
وقال: إن الروم منه من ولد لام بن نوح النبي ﷺ، وفيه من ولد عيصو بن إسحاق بن
إبراهيم ﷺ. قال: فأما الروم الأولى فمن ولد لام بن نوح النبي ﷺ، إخوتهم الصقالبة
والخزر والغورط والكابل والصين والسند والهند.
Sumber :
ـ[وصايا الملوك وأبناء الملوك من ولد قحطان بن هود]ـ
المؤلف: دعبل بن علي الخزاعي الشاعر المشهور (المتوفى:
٢٤٦هـ)
رواية: علي محمد بن دعبل الخزاعي
Baca juga:
Wasiat Abrahah Dzu
Al-Manar kepada Amr Dzu Al-Adz'ar: Kepemimpinan Ibarat Petani yang Merawat
Tanamannya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar