Sikap terhadap Ahli Bid'ah yang Menyebarkan Bid'ah Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin (02/05/42)

Terjemahan Ihya' Ulumuddin tentang sikap terhadap ahli bid'ah yang mengajak kepada bid'ah serta pentingnya menjaga akidah umat

Pendahuluan

Salah satu pembahasan penting dalam Kitab Adab Persaudaraan karya Imam Al-Ghazali adalah bagaimana menyikapi orang yang mengajak kepada bid'ah. Beliau membedakan antara orang yang melakukan kesalahan untuk dirinya sendiri dengan orang yang aktif menyebarkan pemikiran yang menurut pandangan ulama dianggap dapat menyesatkan orang lain.

Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, istilah bid'ah memiliki cakupan yang luas dan sering digunakan dalam konteks perdebatan akidah antarkelompok pada zamannya. Karena itu, pembahasan berikut perlu dipahami sebagai penjelasan fikih dan akhlak klasik yang lahir dalam konteks sejarah tertentu, bukan sebagai pembenaran untuk melakukan tindakan sewenang-wenang, kekerasan, atau kebencian terhadap orang lain. Tujuan utamanya adalah menjaga kemurnian ajaran agama melalui cara-cara yang dibenarkan syariat.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), bergelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang fikih, usul fikih, tasawuf, dan akhlak.

Tema : Sikap terhadap ahli bid'ah yang mengajak kepada bid'ah menurut Imam Al-Ghazali dan pentingnya menjaga umat dari penyimpangan akidah.

Teks Arab

الثاني المبتدع الذي يدعو إلى بدعته   .

فإن كانت البدعة بحيث يكفر بها فأمره أشد من الذمي لأنه لا يقر بجزية ولا يسامح بعقد ذمة وإن كان ممن لا يكفر به فأمره بينه وبين الله أخف من أمر الكافر لا محالة ولكن الأمر في الإنكار عليه أشد منه على الكافر ؛ لأن شر الكافر غير متعد فإن المسلمين اعتقدوا كفره فلا يلتفتون إلى قوله ؛ إذ لا يدعي لنفسه الإسلام واعتقاد الحق .

أما المبتدع الذي يدعو إلى البدعة ويزعم أن ما يدعو إليه حق فهو سبب لغواية الخلق فشره متعد ، فالاستحباب في إظهار بغضه ومعاداته والانقطاع عنه وتحقيره والتشنيع عليه ببدعته وتنفير الناس عنه أشد وإن سلم في خلوة فلا بأس برد جوابه وإن علمت أن الإعراض عنه والسكوت عن جوابه يقبح في نفسه بدعته ويؤثر في زجره فترك الجواب أولى لأن جواب الإسلام وإن كان واجبا فيسقط بأدنى غرض فيه مصلحة حتى يسقط بكون الإنسان في الحمام أو في قضاء حاجته وغرض الزجر أهم من هذه الأغراض وإن كان في ملأ فترك الجواب أولى تنفيرا للناس عنه وتقبيحا لبدعته في أعينهم وكذلك الأولى كف الإحسان إليه والإعانة له لا سيما فيما يظهر للخلق ، قال عليه السلام : " من انتهر صاحب بدعة ملأ الله قلبه أمنا وإيمانا ، ومن أهان صاحب بدعة أمنه الله يوم الفزع الأكبر من ، ألان له وأكرمه أو لقيه ببشر فقد استخف بما أنزل الله على محمد صلى الله عليه وسلم .

Terjemahan Lengkap

Kedua: Ahli bid'ah yang mengajak kepada bid'ahnya.

Apabila bid'ah tersebut termasuk jenis yang menyebabkan kekafiran menurut penilaian ulama, maka keadaannya lebih berat daripada orang kafir dzimmi, karena ia tidak termasuk orang yang memperoleh perlindungan melalui perjanjian sebagaimana dalam pembahasan fikih klasik.

Adapun apabila bid'ahnya tidak sampai menyebabkan kekafiran, maka urusannya di sisi Allah tentu lebih ringan daripada orang kafir.

Akan tetapi, dalam hal mengingkari dan memperingatkan manusia darinya, kedudukannya lebih berat daripada orang kafir.

Sebab, keburukan orang kafir pada umumnya tidak menular kepada kaum muslimin, karena mereka telah mengetahui bahwa ia berada di luar Islam sehingga tidak mudah menerima ajakannya.

Sedangkan ahli bid'ah yang mengajak manusia kepada bid'ahnya dan mengklaim bahwa ajarannya adalah kebenaran dapat menjadi sebab tersesatnya banyak orang.

Karena itu, sangat dianjurkan untuk menunjukkan ketidaksenangan kepadanya, menjauhinya, merendahkan pengaruh bid'ahnya, menjelaskan kesalahannya, serta memperingatkan masyarakat agar tidak mengikuti ajarannya.

Apabila ia mengucapkan salam ketika sedang sendirian, maka tidak mengapa menjawab salamnya.

Namun, apabila diyakini bahwa berpaling dan tidak menjawab salam akan membuatnya merasa malu terhadap bid'ahnya sehingga dapat menjadi sebab ia berhenti darinya, maka meninggalkan jawaban lebih utama.

Hal itu karena kewajiban menjawab salam dapat gugur apabila terdapat maslahat yang lebih besar.

Sebagaimana seseorang tidak menjawab salam ketika sedang berada di kamar mandi atau sedang buang hajat, maka maslahat mencegah penyebaran penyimpangan agama lebih besar daripada alasan-alasan tersebut.

Apabila ia berada di hadapan banyak orang, maka tidak menjawab salam dipandang lebih utama apabila hal itu dapat menjadi peringatan kepada masyarakat agar tidak terpengaruh oleh bid'ahnya.

Demikian pula, lebih baik tidak memberikan bantuan atau dukungan kepadanya, terutama bantuan yang tampak di hadapan masyarakat sehingga dapat dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap ajarannya.

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah bersabda:

"Barang siapa menghardik pelaku bid'ah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rasa aman dan iman. Barang siapa merendahkan pelaku bid'ah, Allah akan memberinya keamanan pada hari kiamat. Dan barang siapa memuliakan atau menampakkan keramahan kepada pelaku bid'ah, maka ia telah meremehkan apa yang diturunkan kepada Muhammad ."

Para ulama hadis berbeda pendapat mengenai kekuatan sanad sebagian riwayat yang disebutkan dalam bab ini. Karena itu, maknanya dipahami dalam kerangka menjaga agama dan tidak dijadikan dasar untuk bertindak melampaui batas.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali membedakan antara orang yang memiliki kesalahan pribadi dengan orang yang secara aktif menyebarkan pemikiran yang dianggap menyesatkan masyarakat. Fokus utama beliau bukan pada kebencian terhadap individu, melainkan pada upaya mencegah tersebarnya penyimpangan akidah.

Beliau juga menekankan bahwa bentuk-bentuk sikap seperti menjauh, tidak memberi dukungan, atau tidak menampakkan penghormatan dilakukan apabila benar-benar membawa maslahat dalam menghentikan penyebaran kesesatan. Jika tidak memberikan manfaat, maka penerapannya memerlukan pertimbangan yang bijaksana.

Artikel Pengembangan

Mengapa Penyebar Penyimpangan Dipandang Lebih Berbahaya?

Menurut Imam Al-Ghazali, kesalahan pribadi hanya berdampak pada pelakunya sendiri.

Sebaliknya, seseorang yang mengajak orang lain kepada penyimpangan dapat menyebabkan banyak orang ikut tersesat.

Karena itu, perhatian syariat terhadap penyebaran kesalahan menjadi lebih besar dibandingkan kesalahan yang bersifat individual.

Menjaga Masyarakat dari Kebingungan

Salah satu tujuan utama dari sikap tegas terhadap penyebar penyimpangan adalah agar masyarakat tidak mengira bahwa ajaran tersebut benar.

Dalam konteks dakwah, para ulama sering menjelaskan kesalahan suatu pemikiran secara ilmiah agar umat memiliki kemampuan membedakan antara ajaran yang sesuai dengan dalil dan yang menyimpang.

Hikmah dalam Berdakwah

Meskipun Imam Al-Ghazali menyebutkan bentuk-bentuk ketegasan, beliau tetap mengaitkannya dengan maslahat.

Artinya, tindakan yang dipilih harus benar-benar membawa manfaat bagi agama, bukan sekadar melampiaskan emosi atau permusuhan.

Pendekatan yang tepat dapat berbeda sesuai tempat, waktu, dan kondisi masyarakat.

Menjaga Akhlak dalam Perbedaan

Walaupun seorang muslim diperintahkan menjaga akidahnya, Islam tetap melarang kezaliman, fitnah, penghinaan tanpa hak, dan tindakan yang melampaui batas.

Membantah kesalahan dilakukan dengan ilmu, adab, dan argumentasi yang benar, bukan dengan kekerasan atau permusuhan yang tidak dibenarkan syariat.

Penjelasan

Inti ajaran Imam Al-Ghazali pada bagian ini adalah menjaga kemurnian agama sekaligus menjaga kemuliaan akhlak. Penolakan terhadap suatu ajaran tidak boleh berubah menjadi tindakan zalim terhadap orangnya. Oleh sebab itu, prinsip maslahat, hikmah, dan keadilan tetap menjadi landasan dalam setiap bentuk amar makruf nahi mungkar.

Contoh

Apabila seorang tokoh menyebarkan ajaran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam, para ulama dapat menjelaskan kekeliruannya melalui kajian ilmiah, penulisan buku, atau ceramah yang berbasis dalil sehingga masyarakat memperoleh penjelasan yang benar tanpa menimbulkan kebencian yang tidak perlu.

Sebaliknya, seorang muslim tidak dibenarkan menghina, memfitnah, atau melakukan tindakan melawan hukum terhadap orang yang berbeda pendapat. Menjaga adab tetap merupakan bagian dari ajaran Islam.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa penyebaran penyimpangan akidah dipandang lebih berbahaya daripada kesalahan pribadi karena dampaknya dapat menyesatkan banyak orang. Oleh sebab itu, beliau menganjurkan sikap yang dapat menjaga masyarakat dari pengaruh penyimpangan tersebut. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan ilmu, hikmah, keadilan, dan tetap berada dalam batas-batas syariat.

Hikmah

  • Menjaga akidah umat merupakan tanggung jawab besar dalam Islam.
  • Kesalahan yang memengaruhi masyarakat memiliki dampak lebih luas daripada kesalahan pribadi.
  • Amar makruf nahi mungkar harus dilakukan berdasarkan maslahat.
  • Ketegasan terhadap penyimpangan tidak boleh melahirkan kezaliman.
  • Dakwah yang benar dibangun di atas ilmu, dalil, dan akhlak yang mulia.
  • Menolak suatu ajaran tidak sama dengan membenci manusia secara mutlak.
  • Seorang muslim wajib menjaga keseimbangan antara keteguhan prinsip dan kebijaksanaan dalam bersikap.

Penutup

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa menjaga kemurnian ajaran Islam memerlukan ilmu, keberanian, dan kebijaksanaan sekaligus. Ketegasan terhadap penyebaran penyimpangan bertujuan melindungi umat dari kesesatan, bukan membuka pintu permusuhan. Dengan memahami konteks karya-karya klasik serta menerapkannya sesuai prinsip syariat dan keadilan, seorang muslim dapat mempertahankan akidahnya tanpa meninggalkan akhlak yang menjadi ciri utama risalah Islam.

Baca Juga :

Tingkatan Orang yang Dibenci karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Cara Bersikap terhadap Kafir, Ahli Bid'ah, dan Pelaku Maksiat (02/05/41)

Apakah Wajib Memboikot Pelaku Maksiat? Penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin (02/05/40)

Cara Menyikapi Ahli Bid'ah Awam dan Pelaku Maksiat Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin (02/05/43)



Terjemahan Ihya' Ulumuddin tentang sikap terhadap ahli bid'ah yang mengajak kepada bid'ah serta pentingnya menjaga akidah umat

Pendahuluan

Salah satu pembahasan penting dalam Kitab Adab Persaudaraan karya Imam Al-Ghazali adalah bagaimana menyikapi orang yang mengajak kepada bid'ah. Beliau membedakan antara orang yang melakukan kesalahan untuk dirinya sendiri dengan orang yang aktif menyebarkan pemikiran yang menurut pandangan ulama dianggap dapat menyesatkan orang lain.

Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, istilah bid'ah memiliki cakupan yang luas dan sering digunakan dalam konteks perdebatan akidah antarkelompok pada zamannya. Karena itu, pembahasan berikut perlu dipahami sebagai penjelasan fikih dan akhlak klasik yang lahir dalam konteks sejarah tertentu, bukan sebagai pembenaran untuk melakukan tindakan sewenang-wenang, kekerasan, atau kebencian terhadap orang lain. Tujuan utamanya adalah menjaga kemurnian ajaran agama melalui cara-cara yang dibenarkan syariat.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), bergelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang fikih, usul fikih, tasawuf, dan akhlak.

Tema : Sikap terhadap ahli bid'ah yang mengajak kepada bid'ah menurut Imam Al-Ghazali dan pentingnya menjaga umat dari penyimpangan akidah.

Teks Arab

الثاني المبتدع الذي يدعو إلى بدعته   .

فإن كانت البدعة بحيث يكفر بها فأمره أشد من الذمي لأنه لا يقر بجزية ولا يسامح بعقد ذمة وإن كان ممن لا يكفر به فأمره بينه وبين الله أخف من أمر الكافر لا محالة ولكن الأمر في الإنكار عليه أشد منه على الكافر ؛ لأن شر الكافر غير متعد فإن المسلمين اعتقدوا كفره فلا يلتفتون إلى قوله ؛ إذ لا يدعي لنفسه الإسلام واعتقاد الحق .

أما المبتدع الذي يدعو إلى البدعة ويزعم أن ما يدعو إليه حق فهو سبب لغواية الخلق فشره متعد ، فالاستحباب في إظهار بغضه ومعاداته والانقطاع عنه وتحقيره والتشنيع عليه ببدعته وتنفير الناس عنه أشد وإن سلم في خلوة فلا بأس برد جوابه وإن علمت أن الإعراض عنه والسكوت عن جوابه يقبح في نفسه بدعته ويؤثر في زجره فترك الجواب أولى لأن جواب الإسلام وإن كان واجبا فيسقط بأدنى غرض فيه مصلحة حتى يسقط بكون الإنسان في الحمام أو في قضاء حاجته وغرض الزجر أهم من هذه الأغراض وإن كان في ملأ فترك الجواب أولى تنفيرا للناس عنه وتقبيحا لبدعته في أعينهم وكذلك الأولى كف الإحسان إليه والإعانة له لا سيما فيما يظهر للخلق ، قال عليه السلام : " من انتهر صاحب بدعة ملأ الله قلبه أمنا وإيمانا ، ومن أهان صاحب بدعة أمنه الله يوم الفزع الأكبر من ، ألان له وأكرمه أو لقيه ببشر فقد استخف بما أنزل الله على محمد صلى الله عليه وسلم .

Terjemahan Lengkap

Kedua: Ahli bid'ah yang mengajak kepada bid'ahnya.

Apabila bid'ah tersebut termasuk jenis yang menyebabkan kekafiran menurut penilaian ulama, maka keadaannya lebih berat daripada orang kafir dzimmi, karena ia tidak termasuk orang yang memperoleh perlindungan melalui perjanjian sebagaimana dalam pembahasan fikih klasik.

Adapun apabila bid'ahnya tidak sampai menyebabkan kekafiran, maka urusannya di sisi Allah tentu lebih ringan daripada orang kafir.

Akan tetapi, dalam hal mengingkari dan memperingatkan manusia darinya, kedudukannya lebih berat daripada orang kafir.

Sebab, keburukan orang kafir pada umumnya tidak menular kepada kaum muslimin, karena mereka telah mengetahui bahwa ia berada di luar Islam sehingga tidak mudah menerima ajakannya.

Sedangkan ahli bid'ah yang mengajak manusia kepada bid'ahnya dan mengklaim bahwa ajarannya adalah kebenaran dapat menjadi sebab tersesatnya banyak orang.

Karena itu, sangat dianjurkan untuk menunjukkan ketidaksenangan kepadanya, menjauhinya, merendahkan pengaruh bid'ahnya, menjelaskan kesalahannya, serta memperingatkan masyarakat agar tidak mengikuti ajarannya.

Apabila ia mengucapkan salam ketika sedang sendirian, maka tidak mengapa menjawab salamnya.

Namun, apabila diyakini bahwa berpaling dan tidak menjawab salam akan membuatnya merasa malu terhadap bid'ahnya sehingga dapat menjadi sebab ia berhenti darinya, maka meninggalkan jawaban lebih utama.

Hal itu karena kewajiban menjawab salam dapat gugur apabila terdapat maslahat yang lebih besar.

Sebagaimana seseorang tidak menjawab salam ketika sedang berada di kamar mandi atau sedang buang hajat, maka maslahat mencegah penyebaran penyimpangan agama lebih besar daripada alasan-alasan tersebut.

Apabila ia berada di hadapan banyak orang, maka tidak menjawab salam dipandang lebih utama apabila hal itu dapat menjadi peringatan kepada masyarakat agar tidak terpengaruh oleh bid'ahnya.

Demikian pula, lebih baik tidak memberikan bantuan atau dukungan kepadanya, terutama bantuan yang tampak di hadapan masyarakat sehingga dapat dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap ajarannya.

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Rasulullah bersabda:

"Barang siapa menghardik pelaku bid'ah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rasa aman dan iman. Barang siapa merendahkan pelaku bid'ah, Allah akan memberinya keamanan pada hari kiamat. Dan barang siapa memuliakan atau menampakkan keramahan kepada pelaku bid'ah, maka ia telah meremehkan apa yang diturunkan kepada Muhammad ."

Para ulama hadis berbeda pendapat mengenai kekuatan sanad sebagian riwayat yang disebutkan dalam bab ini. Karena itu, maknanya dipahami dalam kerangka menjaga agama dan tidak dijadikan dasar untuk bertindak melampaui batas.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali membedakan antara orang yang memiliki kesalahan pribadi dengan orang yang secara aktif menyebarkan pemikiran yang dianggap menyesatkan masyarakat. Fokus utama beliau bukan pada kebencian terhadap individu, melainkan pada upaya mencegah tersebarnya penyimpangan akidah.

Beliau juga menekankan bahwa bentuk-bentuk sikap seperti menjauh, tidak memberi dukungan, atau tidak menampakkan penghormatan dilakukan apabila benar-benar membawa maslahat dalam menghentikan penyebaran kesesatan. Jika tidak memberikan manfaat, maka penerapannya memerlukan pertimbangan yang bijaksana.

Artikel Pengembangan

Mengapa Penyebar Penyimpangan Dipandang Lebih Berbahaya?

Menurut Imam Al-Ghazali, kesalahan pribadi hanya berdampak pada pelakunya sendiri.

Sebaliknya, seseorang yang mengajak orang lain kepada penyimpangan dapat menyebabkan banyak orang ikut tersesat.

Karena itu, perhatian syariat terhadap penyebaran kesalahan menjadi lebih besar dibandingkan kesalahan yang bersifat individual.

Menjaga Masyarakat dari Kebingungan

Salah satu tujuan utama dari sikap tegas terhadap penyebar penyimpangan adalah agar masyarakat tidak mengira bahwa ajaran tersebut benar.

Dalam konteks dakwah, para ulama sering menjelaskan kesalahan suatu pemikiran secara ilmiah agar umat memiliki kemampuan membedakan antara ajaran yang sesuai dengan dalil dan yang menyimpang.

Hikmah dalam Berdakwah

Meskipun Imam Al-Ghazali menyebutkan bentuk-bentuk ketegasan, beliau tetap mengaitkannya dengan maslahat.

Artinya, tindakan yang dipilih harus benar-benar membawa manfaat bagi agama, bukan sekadar melampiaskan emosi atau permusuhan.

Pendekatan yang tepat dapat berbeda sesuai tempat, waktu, dan kondisi masyarakat.

Menjaga Akhlak dalam Perbedaan

Walaupun seorang muslim diperintahkan menjaga akidahnya, Islam tetap melarang kezaliman, fitnah, penghinaan tanpa hak, dan tindakan yang melampaui batas.

Membantah kesalahan dilakukan dengan ilmu, adab, dan argumentasi yang benar, bukan dengan kekerasan atau permusuhan yang tidak dibenarkan syariat.

Penjelasan

Inti ajaran Imam Al-Ghazali pada bagian ini adalah menjaga kemurnian agama sekaligus menjaga kemuliaan akhlak. Penolakan terhadap suatu ajaran tidak boleh berubah menjadi tindakan zalim terhadap orangnya. Oleh sebab itu, prinsip maslahat, hikmah, dan keadilan tetap menjadi landasan dalam setiap bentuk amar makruf nahi mungkar.

Contoh

Apabila seorang tokoh menyebarkan ajaran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam, para ulama dapat menjelaskan kekeliruannya melalui kajian ilmiah, penulisan buku, atau ceramah yang berbasis dalil sehingga masyarakat memperoleh penjelasan yang benar tanpa menimbulkan kebencian yang tidak perlu.

Sebaliknya, seorang muslim tidak dibenarkan menghina, memfitnah, atau melakukan tindakan melawan hukum terhadap orang yang berbeda pendapat. Menjaga adab tetap merupakan bagian dari ajaran Islam.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa penyebaran penyimpangan akidah dipandang lebih berbahaya daripada kesalahan pribadi karena dampaknya dapat menyesatkan banyak orang. Oleh sebab itu, beliau menganjurkan sikap yang dapat menjaga masyarakat dari pengaruh penyimpangan tersebut. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan ilmu, hikmah, keadilan, dan tetap berada dalam batas-batas syariat.

Hikmah

  • Menjaga akidah umat merupakan tanggung jawab besar dalam Islam.
  • Kesalahan yang memengaruhi masyarakat memiliki dampak lebih luas daripada kesalahan pribadi.
  • Amar makruf nahi mungkar harus dilakukan berdasarkan maslahat.
  • Ketegasan terhadap penyimpangan tidak boleh melahirkan kezaliman.
  • Dakwah yang benar dibangun di atas ilmu, dalil, dan akhlak yang mulia.
  • Menolak suatu ajaran tidak sama dengan membenci manusia secara mutlak.
  • Seorang muslim wajib menjaga keseimbangan antara keteguhan prinsip dan kebijaksanaan dalam bersikap.

Penutup

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa menjaga kemurnian ajaran Islam memerlukan ilmu, keberanian, dan kebijaksanaan sekaligus. Ketegasan terhadap penyebaran penyimpangan bertujuan melindungi umat dari kesesatan, bukan membuka pintu permusuhan. Dengan memahami konteks karya-karya klasik serta menerapkannya sesuai prinsip syariat dan keadilan, seorang muslim dapat mempertahankan akidahnya tanpa meninggalkan akhlak yang menjadi ciri utama risalah Islam.

Baca Juga :

Tingkatan Orang yang Dibenci karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Cara Bersikap terhadap Kafir, Ahli Bid'ah, dan Pelaku Maksiat (02/05/41)

Apakah Wajib Memboikot Pelaku Maksiat? Penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin (02/05/40)

Cara Menyikapi Ahli Bid'ah Awam dan Pelaku Maksiat Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin (02/05/43)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

I'rab Surah Al-Fatihah Ayat 4–7 Menurut Imam Zakariya Al-Anshari: Analisis ﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴾ hingga ﴿وَلَا الضَّالِّينَ﴾

Pendahuluan Surah Al-Fatihah ditutup dengan ayat-ayat yang mengandung pengakuan terhadap kekuasaan Allah, pernyataan tauhid dalam ibadah...