واختلفوا في حكم الجلوس الأخير في الصلاة وما
الغرض من ذلك وهي :
السابعة عشرة- على خمسة أقوال :
أحدها : أن الجلوس فرض والتشهيد فرض والسلام
فرض. وممن قال ذلك الشافعي وأحمد بن حنبل في رواية ، وحكاه أبو مصعب في مختصره عن مالك
وأهل المدينة ، وبه قال داود.
Para ulama berbeda pendapat tentang
hukum duduk terakhir dalam shalat, serta tentang apa saja yang wajib di
dalamnya, yaitu:
Pembahasan
ketujuh belas:
Dalam masalah ini terdapat lima
pendapat.
Pendapat pertama:
Duduk terakhir hukumnya fardhu,
membaca tasyahud hukumnya fardhu,
dan salam hukumnya fardhu.
Pendapat ini dipegang oleh:
- Muhammad ibn Idris al-Shafi'i,
- Ahmad ibn Hanbal dalam salah satu riwayat darinya,
- dan Abu Mus'ab al-Zuhri menukil dalam ringkasannya
bahwa ini juga pendapat Malik ibn Anas dan penduduk Madinah,
- serta ini juga pendapat Dawud al-Zahiri.
قال الشافعي : من ترك التشهد الأول والصلاة على
النبي صلى الله عليه وسلم فلا إعادة عليه وعليه سجدتا السهو لتركه.
وإذا ترك التشهد الأخير ساهيا أو عامدا أعاد.
واحتجوا بأن بيان النبي صلى الله عليه وسلم في
الصلاة فرض ، لأن أصل فرضها مجمل يفتقر إلى البيان إلا ما خرج بدليل وقد قال صلى الله
عليه وسلم : "صلوا كما رأيتموني أصلي" .
Muhammad ibn Idris al-Shafi'i
berkata:
“Barang siapa meninggalkan tasyahud awal dan
shalawat kepada Nabi ﷺ pada tasyahud awal, maka ia tidak wajib mengulangi shalat, tetapi ia melakukan dua sujud sahwi karena meninggalkannya.”
“Namun jika ia meninggalkan tasyahud akhir,
baik karena lupa maupun sengaja, maka ia harus mengulangi
shalatnya.”
Mereka berdalil:
“Penjelasan Nabi ﷺ tentang tata cara
shalat itu hukumnya wajib untuk diikuti, karena asal kewajiban shalat dalam
syariat datang secara global (mujmal) dan masih memerlukan penjelasan rinci
dari Nabi ﷺ, kecuali bagian yang ada dalil lain yang
mengecualikannya.”
Dan Nabi ﷺ bersabda:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari)
القول الثاني : أن الجلوس والتشهد والسلام ليس
بواجب ، وإنما ذلك كله سنة مسنونة ، هذا قول بعض البصريين ، وإليه ذهب إبراهيم بن عُلية
، وصرح بقياس الجلسة الأخيرة على الأولى ، فخالف الجمهور وشذ ، إلا أنه يرى الإعادة
على من ترك شيئا من ذلك كله. ومن حجتهم حديث عبد الله بن عمرو بن العاص "وفي النسخة
: العاصي" عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " إذا رفع الإمام رأسه من آخر
سجدة في صلاته ثم أحدث فقد تمت صلاته" وهو حديث لا يصح على ما قاله أبو عمر ،
وقد بيناه في كتاب المقتبس. وهذا اللفظ إنما يسقط السلام لا الجلوس.
Pendapat kedua:
Duduk terakhir, tasyahud, dan salam tidak wajib, melainkan semuanya
hanyalah sunnah yang dianjurkan.
Ini adalah pendapat sebagian ulama Bashrah, dan inilah
pendapat Ibrahim ibn Ulayyah.
Beliau secara terang-terangan mengqiyaskan duduk terakhir dengan
duduk pertama (tasyahud awal), sehingga menyelisihi jumhur
ulama dan menjadi pendapat yang ganjil (syādz).
Namun demikian, beliau berpendapat bahwa orang yang meninggalkan
salah satu dari semuanya itu harus mengulangi shalatnya.
Di antara dalil mereka adalah hadis dari Abd
Allah ibn Amr ibn al-As (dalam sebagian naskah tertulis: العاصي), dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Apabila imam telah mengangkat kepalanya dari sujud terakhir dalam
shalatnya, lalu ia berhadas, maka shalatnya telah sempurna.”
Tetapi hadis ini tidak sahih, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Abd al-Barr, dan kami telah
menerangkannya dalam kitab Al-Muqtabas.
Lagi pula, lafaz hadis ini—andaikata sah—hanya menunjukkan gugurnya
salam, bukan gugurnya duduk (tasyahud akhir).
القول الثالث : إن الجلوس مقدار التشهد فرض ،
وليس التشهد ولا السلام بواجب فرضا. قاله أبو حنيفة وأصحابه وجماعة من الكوفيين. واحتجوا
بحديث ابن المبارك عن الإفريقي عبد الرحمن بن زياد وهو ضعيف ، وفيه أن النبي صلى الله
عليه وسلم قال : "إذا جلس أحدكم في آخر صلاته فأحدث قبل أن يسلم فقد تمت صلاته"
.
قال ابن العربي : وكان شيخنا فخر الإسلام ينشدنا
في الدرس :
ويرى الخروج من الصلاة بضرطة #
أين
الضراط من السلام عليكم
Pendapat ketiga:
Duduk pada akhir shalat selama kadar waktu membaca tasyahud adalah
fardhu,
sedangkan bacaan tasyahud dan salam bukanlah kewajiban fardhu.
Ini adalah pendapat Abu Hanifah,
para pengikutnya, dan sekelompok ulama Kufah.
Mereka berdalil dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abd Allah ibn al-Mubarak dari Abd al-Rahman ibn Ziyad al-Ifriqi,
padahal ia perawi yang lemah (dha‘if).
Dalam hadis itu disebutkan bahwa Nabi ﷺ
bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian telah duduk pada akhir shalatnya,
lalu ia berhadas sebelum mengucapkan salam, maka sungguh shalatnya telah
sempurna.”
Ibn al-Arabi berkata:
Guru kami, Fakhrul Islam, biasa melantunkan kepada kami di majelis
pelajaran:
ويرى
الخروج من الصلاة بضرطة # أين الضراط من السلام عليكم
Artinya:
Ada yang berpendapat keluar
dari shalat itu cukup dengan kentut;
lantas di manakah kedudukan kentut dibanding ucapan ‘Assalāmu
‘alaikum’?
قال ابن العربي : وسلك بعض علمائنا من هذه المسألة
فرعين ضعيفين ، أما أحدهما : فروى عبد الملك عن عبد الملك أن من سلم من ركعتين متلاعبا
، فخرج البيان أنه إن كان على أربع أنه يجزئه ، وهذا مذهب أهل العراق بعينه.
وأما الثاني : فوقع في الكتب المنبوذة أن الإمام
إذا أحدث بعد التشهد متعمدا وقبل السلام أنه يجزئ من خلفه ، وهذا مما لا ينبغي أن يلتفت
إليه في الفتوى ، وإن عمرت به المجالس للذكرى.
Ibn al-Arabi berkata:
“Sebagian ulama kami mengambil dari masalah ini dua cabang hukum
yang lemah.
Cabang pertama:
Abd al-Malik ibn Habib meriwayatkan dari Abdul
Malik bahwa:
Barang siapa sengaja salam setelah dua rakaat dalam keadaan bermain-main
(mengakhiri shalat sebelum sempurna), lalu kemudian jelas bahwa shalat itu
sebenarnya shalat empat rakaat, maka salamnya itu dianggap cukup (sah).
Dan ini persis seperti mazhab ulama Irak (Hanafiyyah).
Cabang kedua:
Disebutkan dalam sebagian kitab yang ditinggalkan/kurang dipakai (الكتب المنبوذة):
Jika imam berhadas dengan sengaja setelah tasyahud dan sebelum salam,
maka shalat makmum yang di belakangnya tetap sah/cukup.
Ini adalah pendapat yang tidak patut dijadikan pegangan dalam fatwa,
walaupun pembahasannya kadang masih disebut-sebut dalam majelis ilmu sebagai
bahan diskusi.
القول الرابع : إن الجلوس فرض والسلام فرض ،
وليس التشهد بواجب. وممن قال هذا مالك بن أنس وأصحابه وأحمد بن حنبل في رواية. واحتجوا
بأن قالوا : ليس شيء من الذكر يجب إلا تكبيرة الإحرام وقراءة أم القرآن.
Pendapat
keempat:
Duduk terakhir
hukumnya fardhu,
salam hukumnya fardhu,
sedangkan tasyahud bukan kewajiban.
Pendapat ini dipegang oleh:
- Malik ibn Anas dan para pengikutnya,
- serta Ahmad ibn Hanbal dalam salah satu riwayat
darinya.
Mereka berdalil dengan mengatakan:
“Tidak ada satu pun zikir/bacaan
dalam shalat yang wajib, kecuali takbiratul ihram dan membaca Ummul
Qur’an (surah Al-Fatihah).”
القول الخامس : أن التشهد والجلوس واجبان ، وليس
السلام بواجب ، قاله جماعة منهم إسحاق بن راهويه ، واحتج إسحاق بحديث ابن مسعود حين
علمه رسول الله صلى الله عليه وسلم التشهد وقال له : "إذا فرغت من هذا فقد تمت
صلاتك وقضيت ما عليك" .
Pendapat kelima:
Tasyahud dan duduk terakhir hukumnya wajib,
sedangkan salam tidak wajib.
Pendapat ini dipegang oleh sekelompok ulama, di antaranya Ishaq ibn Rahawayh.
Ishaq ibn Rahawayh
berdalil dengan hadis Abd Allah ibn
Mas'ud, ketika Rasulullah ﷺ
mengajarkan kepadanya bacaan tasyahud, lalu beliau bersabda:
“Apabila engkau telah selesai dari (membaca) ini, maka sungguh
shalatmu telah sempurna, dan engkau telah menunaikan kewajibanmu.”
قال الدارقطني : قوله "إذا فرغت من هذا
فقد تمت صلاتك" أدرجه بعضهم عن زهير في الحديث ، ووصله بكلام النبي صلى الله عليه
وسلم ، وفصله شبابة عن زهير وجعله من كلام ابن مسعود ، وقوله أشبه بالصواب من قول من
أدرجه في حديث النبي صلى الله عليه وسلم. وشبابة ثقة. وقد تابعه غسان بن الربيع على
ذلك ، جعل آخر الحديث من كلام ابن مسعود ولم يرفعه إلى النبي صلى الله عليه وسلم.
Al-Daraqutni berkata:
Ucapan: “Apabila engkau telah selesai dari ini,
maka sungguh shalatmu telah sempurna” — sebagian perawi memasukkan kalimat ini melalui
riwayat Zuhayr ibn Mu'awiyah ke dalam hadis, lalu menyambungkannya
sebagai sabda Nabi ﷺ.
Sedangkan Shababah ibn Sawwar
meriwayatkannya secara terpisah dari riwayat Zuhayr ibn Mu'awiyah, dan menjadikan
kalimat itu sebagai ucapan Abd Allah ibn Mas'ud, bukan
sabda Nabi ﷺ.
Pendapat Shababah ibn Sawwar
ini lebih mendekati kebenaran daripada pendapat orang yang memasukkan kalimat
itu ke dalam hadis Nabi ﷺ.
Dan Shababah ibn Sawwar
adalah seorang perawi yang terpercaya (tsiqah).
Bahkan Ghassan ibn al-Rabi'
juga mengikuti riwayat tersebut, yaitu menjadikan bagian akhir hadis itu
sebagai ucapan Abd
Allah ibn Mas'ud, dan tidak menisbatkannya
kepada Nabi ﷺ.
Wallau A’lam...
Baca
juga:
PerbedaanPendapat Tentang Bacaan Tasbih Dalam Rukuk Dan Sujud
Pendapat
Ulama’ Tentang Salam
واختلفوا في حكم الجلوس الأخير في الصلاة وما
الغرض من ذلك وهي :
السابعة عشرة- على خمسة أقوال :
أحدها : أن الجلوس فرض والتشهيد فرض والسلام
فرض. وممن قال ذلك الشافعي وأحمد بن حنبل في رواية ، وحكاه أبو مصعب في مختصره عن مالك
وأهل المدينة ، وبه قال داود.
Para ulama berbeda pendapat tentang
hukum duduk terakhir dalam shalat, serta tentang apa saja yang wajib di
dalamnya, yaitu:
Pembahasan
ketujuh belas:
Dalam masalah ini terdapat lima
pendapat.
Pendapat pertama:
Duduk terakhir hukumnya fardhu,
membaca tasyahud hukumnya fardhu,
dan salam hukumnya fardhu.
Pendapat ini dipegang oleh:
- Muhammad ibn Idris al-Shafi'i,
- Ahmad ibn Hanbal dalam salah satu riwayat darinya,
- dan Abu Mus'ab al-Zuhri menukil dalam ringkasannya
bahwa ini juga pendapat Malik ibn Anas dan penduduk Madinah,
- serta ini juga pendapat Dawud al-Zahiri.
قال الشافعي : من ترك التشهد الأول والصلاة على
النبي صلى الله عليه وسلم فلا إعادة عليه وعليه سجدتا السهو لتركه.
وإذا ترك التشهد الأخير ساهيا أو عامدا أعاد.
واحتجوا بأن بيان النبي صلى الله عليه وسلم في
الصلاة فرض ، لأن أصل فرضها مجمل يفتقر إلى البيان إلا ما خرج بدليل وقد قال صلى الله
عليه وسلم : "صلوا كما رأيتموني أصلي" .
Muhammad ibn Idris al-Shafi'i
berkata:
“Barang siapa meninggalkan tasyahud awal dan
shalawat kepada Nabi ﷺ pada tasyahud awal, maka ia tidak wajib mengulangi shalat, tetapi ia melakukan dua sujud sahwi karena meninggalkannya.”
“Namun jika ia meninggalkan tasyahud akhir,
baik karena lupa maupun sengaja, maka ia harus mengulangi
shalatnya.”
Mereka berdalil:
“Penjelasan Nabi ﷺ tentang tata cara
shalat itu hukumnya wajib untuk diikuti, karena asal kewajiban shalat dalam
syariat datang secara global (mujmal) dan masih memerlukan penjelasan rinci
dari Nabi ﷺ, kecuali bagian yang ada dalil lain yang
mengecualikannya.”
Dan Nabi ﷺ bersabda:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad al-Bukhari)
القول الثاني : أن الجلوس والتشهد والسلام ليس
بواجب ، وإنما ذلك كله سنة مسنونة ، هذا قول بعض البصريين ، وإليه ذهب إبراهيم بن عُلية
، وصرح بقياس الجلسة الأخيرة على الأولى ، فخالف الجمهور وشذ ، إلا أنه يرى الإعادة
على من ترك شيئا من ذلك كله. ومن حجتهم حديث عبد الله بن عمرو بن العاص "وفي النسخة
: العاصي" عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " إذا رفع الإمام رأسه من آخر
سجدة في صلاته ثم أحدث فقد تمت صلاته" وهو حديث لا يصح على ما قاله أبو عمر ،
وقد بيناه في كتاب المقتبس. وهذا اللفظ إنما يسقط السلام لا الجلوس.
Pendapat kedua:
Duduk terakhir, tasyahud, dan salam tidak wajib, melainkan semuanya
hanyalah sunnah yang dianjurkan.
Ini adalah pendapat sebagian ulama Bashrah, dan inilah
pendapat Ibrahim ibn Ulayyah.
Beliau secara terang-terangan mengqiyaskan duduk terakhir dengan
duduk pertama (tasyahud awal), sehingga menyelisihi jumhur
ulama dan menjadi pendapat yang ganjil (syādz).
Namun demikian, beliau berpendapat bahwa orang yang meninggalkan
salah satu dari semuanya itu harus mengulangi shalatnya.
Di antara dalil mereka adalah hadis dari Abd
Allah ibn Amr ibn al-As (dalam sebagian naskah tertulis: العاصي), dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Apabila imam telah mengangkat kepalanya dari sujud terakhir dalam
shalatnya, lalu ia berhadas, maka shalatnya telah sempurna.”
Tetapi hadis ini tidak sahih, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Abd al-Barr, dan kami telah
menerangkannya dalam kitab Al-Muqtabas.
Lagi pula, lafaz hadis ini—andaikata sah—hanya menunjukkan gugurnya
salam, bukan gugurnya duduk (tasyahud akhir).
القول الثالث : إن الجلوس مقدار التشهد فرض ،
وليس التشهد ولا السلام بواجب فرضا. قاله أبو حنيفة وأصحابه وجماعة من الكوفيين. واحتجوا
بحديث ابن المبارك عن الإفريقي عبد الرحمن بن زياد وهو ضعيف ، وفيه أن النبي صلى الله
عليه وسلم قال : "إذا جلس أحدكم في آخر صلاته فأحدث قبل أن يسلم فقد تمت صلاته"
.
قال ابن العربي : وكان شيخنا فخر الإسلام ينشدنا
في الدرس :
ويرى الخروج من الصلاة بضرطة #
أين
الضراط من السلام عليكم
Pendapat ketiga:
Duduk pada akhir shalat selama kadar waktu membaca tasyahud adalah
fardhu,
sedangkan bacaan tasyahud dan salam bukanlah kewajiban fardhu.
Ini adalah pendapat Abu Hanifah,
para pengikutnya, dan sekelompok ulama Kufah.
Mereka berdalil dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abd Allah ibn al-Mubarak dari Abd al-Rahman ibn Ziyad al-Ifriqi,
padahal ia perawi yang lemah (dha‘if).
Dalam hadis itu disebutkan bahwa Nabi ﷺ
bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian telah duduk pada akhir shalatnya,
lalu ia berhadas sebelum mengucapkan salam, maka sungguh shalatnya telah
sempurna.”
Ibn al-Arabi berkata:
Guru kami, Fakhrul Islam, biasa melantunkan kepada kami di majelis
pelajaran:
ويرى
الخروج من الصلاة بضرطة # أين الضراط من السلام عليكم
Artinya:
Ada yang berpendapat keluar
dari shalat itu cukup dengan kentut;
lantas di manakah kedudukan kentut dibanding ucapan ‘Assalāmu
‘alaikum’?
قال ابن العربي : وسلك بعض علمائنا من هذه المسألة
فرعين ضعيفين ، أما أحدهما : فروى عبد الملك عن عبد الملك أن من سلم من ركعتين متلاعبا
، فخرج البيان أنه إن كان على أربع أنه يجزئه ، وهذا مذهب أهل العراق بعينه.
وأما الثاني : فوقع في الكتب المنبوذة أن الإمام
إذا أحدث بعد التشهد متعمدا وقبل السلام أنه يجزئ من خلفه ، وهذا مما لا ينبغي أن يلتفت
إليه في الفتوى ، وإن عمرت به المجالس للذكرى.
Ibn al-Arabi berkata:
“Sebagian ulama kami mengambil dari masalah ini dua cabang hukum
yang lemah.
Cabang pertama:
Abd al-Malik ibn Habib meriwayatkan dari Abdul
Malik bahwa:
Barang siapa sengaja salam setelah dua rakaat dalam keadaan bermain-main
(mengakhiri shalat sebelum sempurna), lalu kemudian jelas bahwa shalat itu
sebenarnya shalat empat rakaat, maka salamnya itu dianggap cukup (sah).
Dan ini persis seperti mazhab ulama Irak (Hanafiyyah).
Cabang kedua:
Disebutkan dalam sebagian kitab yang ditinggalkan/kurang dipakai (الكتب المنبوذة):
Jika imam berhadas dengan sengaja setelah tasyahud dan sebelum salam,
maka shalat makmum yang di belakangnya tetap sah/cukup.
Ini adalah pendapat yang tidak patut dijadikan pegangan dalam fatwa,
walaupun pembahasannya kadang masih disebut-sebut dalam majelis ilmu sebagai
bahan diskusi.
القول الرابع : إن الجلوس فرض والسلام فرض ،
وليس التشهد بواجب. وممن قال هذا مالك بن أنس وأصحابه وأحمد بن حنبل في رواية. واحتجوا
بأن قالوا : ليس شيء من الذكر يجب إلا تكبيرة الإحرام وقراءة أم القرآن.
Pendapat
keempat:
Duduk terakhir
hukumnya fardhu,
salam hukumnya fardhu,
sedangkan tasyahud bukan kewajiban.
Pendapat ini dipegang oleh:
- Malik ibn Anas dan para pengikutnya,
- serta Ahmad ibn Hanbal dalam salah satu riwayat
darinya.
Mereka berdalil dengan mengatakan:
“Tidak ada satu pun zikir/bacaan
dalam shalat yang wajib, kecuali takbiratul ihram dan membaca Ummul
Qur’an (surah Al-Fatihah).”
القول الخامس : أن التشهد والجلوس واجبان ، وليس
السلام بواجب ، قاله جماعة منهم إسحاق بن راهويه ، واحتج إسحاق بحديث ابن مسعود حين
علمه رسول الله صلى الله عليه وسلم التشهد وقال له : "إذا فرغت من هذا فقد تمت
صلاتك وقضيت ما عليك" .
Pendapat kelima:
Tasyahud dan duduk terakhir hukumnya wajib,
sedangkan salam tidak wajib.
Pendapat ini dipegang oleh sekelompok ulama, di antaranya Ishaq ibn Rahawayh.
Ishaq ibn Rahawayh
berdalil dengan hadis Abd Allah ibn
Mas'ud, ketika Rasulullah ﷺ
mengajarkan kepadanya bacaan tasyahud, lalu beliau bersabda:
“Apabila engkau telah selesai dari (membaca) ini, maka sungguh
shalatmu telah sempurna, dan engkau telah menunaikan kewajibanmu.”
قال الدارقطني : قوله "إذا فرغت من هذا
فقد تمت صلاتك" أدرجه بعضهم عن زهير في الحديث ، ووصله بكلام النبي صلى الله عليه
وسلم ، وفصله شبابة عن زهير وجعله من كلام ابن مسعود ، وقوله أشبه بالصواب من قول من
أدرجه في حديث النبي صلى الله عليه وسلم. وشبابة ثقة. وقد تابعه غسان بن الربيع على
ذلك ، جعل آخر الحديث من كلام ابن مسعود ولم يرفعه إلى النبي صلى الله عليه وسلم.
Al-Daraqutni berkata:
Ucapan: “Apabila engkau telah selesai dari ini,
maka sungguh shalatmu telah sempurna” — sebagian perawi memasukkan kalimat ini melalui
riwayat Zuhayr ibn Mu'awiyah ke dalam hadis, lalu menyambungkannya
sebagai sabda Nabi ﷺ.
Sedangkan Shababah ibn Sawwar
meriwayatkannya secara terpisah dari riwayat Zuhayr ibn Mu'awiyah, dan menjadikan
kalimat itu sebagai ucapan Abd Allah ibn Mas'ud, bukan
sabda Nabi ﷺ.
Pendapat Shababah ibn Sawwar
ini lebih mendekati kebenaran daripada pendapat orang yang memasukkan kalimat
itu ke dalam hadis Nabi ﷺ.
Dan Shababah ibn Sawwar
adalah seorang perawi yang terpercaya (tsiqah).
Bahkan Ghassan ibn al-Rabi'
juga mengikuti riwayat tersebut, yaitu menjadikan bagian akhir hadis itu
sebagai ucapan Abd
Allah ibn Mas'ud, dan tidak menisbatkannya
kepada Nabi ﷺ.
Wallau A’lam...
Baca
juga:
PerbedaanPendapat Tentang Bacaan Tasbih Dalam Rukuk Dan Sujud
Pendapat
Ulama’ Tentang Salam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar