Pembicaraan Tentang Hakikat Cinta
الكلام في ماهية الحب
: الحب -
أعزك الله - أوله هزل وآخره جد ، دقت معانيه لجلالتها عن أن توصف ، فلا تدرك
حقيقتها إلا بالمعاناة . وليس بمنكر في الديانة ولا بمحظور في الشريعة ، إذ القلوب
بيد الله عز وجل .
وقد أحب من
الخلفاء المهديين والأئمة الراشدين كثير ، منهم بأندلسنا ( 1 ) عبد الرحمن بن
معاوية ( 2 ) لدعجاء ، والحكم بن هشام ( 3 ) ، وعبد الرحمن بن الحكم وشغفه بطروب (
4 ) أم عبد الله ابنه أشهر من الشمس ، ومحمد بن عبد الرحمن ( 5 ) وأمره مع غزلان
أن بنيه عثمان والقاسم والمطرف معلوم ( 6 ) ، والحكم المستنصر وافتتانه بصبح أم
هشام المؤيد بالله ( 7 ) رضي الله عنه وعن جميعهم وامتناعه عن التعرض للولد من
غيرها .
ومثل هذا
كثير ، ولولا ان حقوقهم على المسلمين واجبة - وإنما يجب أن نذكر من أخبارهم ما فيه
الحزم وإحياء الدين ، وغنما هو شيء كانوا ينفردون به في قصورهم مع عيالهم فلا
ينبغي الإخبار به عنهم - لأوردت من أخبارهم في هذا الشأن غير قليل .
وأما كبار
رجالهم ودعائهم دولتهم فأكثر من أن يحصوا ، واحدث ذلك ما شاهدناه بالأمس من كلف
المظفر عبد الملك بن أبي عامر ( 1 ) بواجد ، بنت رجل من الجنانين ( 2 ) حتى حمله
حبها أن يتزوجها ، وهي التي خلف عليها بعد فناء العامريين الوزير عبد الله بن
مسلمة ( 3 ) ، ثم تزوجها بعد قتله رجل من رؤساء البربر .
ومما يشبه
هذا أن أبا العيش بن ميمون القرشي الحسني ( 4 ) أخبرني أن نزار بن معد صاحب مصر لم
ير ابنه منصور بن نزار ( 5 ) الذي ولي الملك بعد وادعى الإلهية إلا بعد مدة من
مولده ، مساعدة لجارية كان يحبها حباً شديداً ، هذا ولم يكن له ذكر ولا يرث ملكه
ويحيي ذكره سواه . ومن الصالحين والفقهاء في الدهور الماضية والأزمان القديمة من
قد استغني بأشعارهم عن ذكرهم ؛ وقد ورد من خبر عبيد الله بن عبد الله بن عتبة بن
مسعود ( 1 ) وشعره ما فيه الكفاية ، وهو أحد فقهاء المدينة السبعة ( 2 ) ، وقد جاء
من فتيا ابن عباس رضي الله عنه ما لا يحتاج إلى غيره حين يقول ( 3 ) : هذا قتيل
الهوى لا عقل ولا قود .
Pembicaraan Tentang
Hakikat Cinta
Cinta — semoga
Allah memuliakanmu — awalnya hanyalah senda gurau, namun akhirnya menjadi
perkara yang sungguh-sungguh. Makna-maknanya
begitu halus dan agung sehingga sulit digambarkan; hakikatnya tidak akan
dipahami kecuali oleh orang yang pernah mengalaminya sendiri. Cinta bukanlah
sesuatu yang diingkari dalam agama dan bukan pula sesuatu yang dilarang dalam
syariat, karena hati manusia berada di tangan Allah ﷻ.
Banyak khalifah yang mendapat
petunjuk dan para imam yang lurus pernah merasakan cinta. Di Andalusia kami, di
antaranya ialah Abdurrahman bin Mu‘awiyah kepada Da‘jā’, al-Hakam bin Hisyam,
Abdurrahman bin al-Hakam yang sangat tergila-gila kepada Ṭarūb — ibu dari
putranya Abdullah — dan kisah itu begitu terkenal bagaikan matahari. Juga
Muhammad bin Abdurrahman dengan kisahnya bersama Ghazlān, yang diketahui oleh
putra-putranya: Utsman, al-Qasim, dan al-Mutharrif. Begitu pula al-Hakam
al-Mustanṣir yang sangat mencintai Ṣubḥ, ibu Hisyam al-Mu’ayyad Billah,
sampai-sampai ia enggan mencari keturunan dari wanita selain dirinya. Semoga
Allah meridhai mereka semuanya.
Contoh seperti ini sangat banyak.
Kalau bukan karena hak mereka atas kaum muslimin wajib dijaga — dan yang pantas
disebut dari kisah mereka hanyalah yang mengandung keteguhan dan menghidupkan
agama — sedangkan perkara-perkara ini terjadi di dalam istana mereka bersama
keluarga mereka sendiri, maka tentu aku akan menyebutkan banyak kisah tentang
mereka dalam persoalan cinta ini.
Adapun para pembesar negara dan
tokoh-tokoh pemerintahan mereka, maka kisah cinta mereka lebih banyak lagi
daripada yang dapat dihitung. Yang paling dekat dengan masa kami ialah apa yang
kami saksikan tentang kegandrungan al-Muẓaffar Abdul Malik bin Abi ‘Amir kepada
Wājid, putri seorang tukang kebun, sampai cintanya mendorongnya menikahinya.
Setelah runtuhnya keluarga Amiriyin, wanita itu kemudian dinikahi oleh menteri
Abdullah bin Maslamah, lalu setelah ia terbunuh wanita itu menikah lagi dengan
salah seorang pemimpin Barbar.
Yang serupa dengan ini adalah cerita
yang disampaikan kepadaku oleh Abu al-‘Aisy bin Maimun al-Qurasyi al-Hasani,
bahwa Nizar bin Ma‘ad, penguasa Mesir, tidak melihat putranya al-Manshur bin
Nizar — yang kemudian menjadi raja dan mengaku sebagai tuhan — hingga beberapa
lama setelah kelahirannya, demi menyenangkan seorang budak perempuan yang
sangat dicintainya. Padahal anak itu adalah satu-satunya pewaris kerajaannya
dan penerus namanya.
Di antara orang-orang saleh dan para
fuqaha pada masa lalu pun terdapat orang-orang yang terkenal karena syair-syair
cinta mereka. Bahkan syair-syair mereka sudah cukup untuk memperkenalkan mereka
tanpa perlu disebut namanya lagi. Di antaranya ialah kisah Ubaidullah bin
Abdullah bin ‘Utbah bin Mas‘ud dan syair-syairnya, padahal ia termasuk salah
satu dari tujuh fuqaha Madinah.
Dan telah datang pula fatwa dari
Ibnu Abbas رضي الله عنهما yang tidak memerlukan
penjelasan lain lagi, ketika beliau berkata:
‘Ini adalah orang yang terbunuh karena cinta; tidak ada diyat dan tidak ada
qishash atasnya.’
Penjelasan
1.
Cinta adalah fitrah manusia
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa cinta
bukan sesuatu yang tercela secara mutlak. Hati manusia berada di bawah
kekuasaan Allah. Karena itu, munculnya rasa cinta sendiri tidak berdosa selama
tidak membawa kepada perkara haram.
Beliau membedakan antara:
- Perasaan cinta
→ fitrah dan di luar kuasa manusia sepenuhnya.
- Perbuatan karena cinta → inilah yang dinilai halal atau haram dalam syariat.
2.
“Awalnya gurauan, akhirnya serius”
Banyak hubungan cinta bermula dari
hal ringan:
- pandangan,
- percakapan,
- kekaguman kecil,
namun lama-kelamaan berubah menjadi
ikatan emosional yang sangat kuat. Karena itu, Ibnu Hazm mengingatkan bahwa
cinta memiliki pengaruh besar terhadap jiwa manusia.
3.
Hakikat cinta sulit dijelaskan
Beliau mengatakan:
“Hakikat cinta tidak dipahami
kecuali dengan pengalaman.”
Maksudnya, cinta bukan sekadar
teori. Orang yang belum pernah merasakan cinta mendalam sulit memahami:
- kerinduan,
- kegelisahan,
- kesetiaan,
- pengorbanan,
- atau penderitaan karena cinta.
4.
Orang saleh dan ulama juga pernah jatuh cinta
Ibnu Hazm menyebut:
- khalifah,
- ulama,
- fuqaha,
- dan orang saleh,
untuk menunjukkan bahwa cinta bukan
aib. Bahkan sebagian ulama besar memiliki syair-syair cinta yang terkenal.
Ini sekaligus membantah anggapan
bahwa orang alim pasti tidak memiliki rasa cinta manusiawi.
5.
Adab dalam membicarakan aib penguasa dan tokoh
Ibnu Hazm menahan diri untuk tidak
membuka banyak kisah pribadi para khalifah. Ini menunjukkan adab penting:
- tidak menyebarkan aib pribadi,
- menjaga kehormatan kaum muslimin,
- terutama jika tidak ada manfaat agama di dalamnya.
6.
Fatwa Ibnu Abbas tentang “قتيل الهوى”
Ucapan Ibnu Abbas:
“Ini adalah korban cinta; tidak ada
qishash dan diyat.”
Maknanya:
- orang yang meninggal karena penderitaan cinta tidak
dianggap dibunuh orang lain,
- sehingga tidak ada hukuman pidana atas siapa pun.
Ungkapan ini juga menunjukkan bahwa
para sahabat memahami betapa dahsyatnya pengaruh cinta terhadap jiwa manusia.
Kesimpulan
Menurut Ibnu Hazm:
- cinta adalah bagian dari tabiat manusia,
- tidak haram secara zatnya,
- tetapi harus dijaga agar tidak menyeret kepada maksiat,
- dan pengaruh cinta terhadap hati manusia sangat besar
hingga mampu mengubah hidup seseorang.
Beliau juga ingin menunjukkan bahwa:
- agama Islam tidak memusuhi fitrah manusia,
- namun mengarahkannya dengan adab dan syariat.
وقد اختلف
الناس في ماهيته وقالوا وأطالوا والذي أذهب إليه ( 4 ) أنه اتصال بين أجزاء النفوس
المقسومة في هذه الخليقة في أصل عنصرها الرفيع ( 5 ) ، لا على ما حكاه محمد بن
داود ( 6 ) رحمه الله عن بعض أهل الفلسفة : الأرواح أكر مقسومة ، لكن على سبيل
مناسبة قواها في مقر عالمها العلوي ، ومجاورتها في هيئة تركيبها ( 1 ) .
وقد علمنا أن
سر التمازج والتباين في المخلوقات إنما هو الاتصال والانفصال ، والشكل دأب ( 2 )
يستدعي شكله ، والمثل إلى مثله ساكن ، وللمجانسة عمل محسوس وتأثير مشاهد ،
والتنافر في الأضداد والموافقة في الأنداد والنزاع فيما تشابه موجود فيما بيننا ،
فكيف بالنفس وعالمها العالم الصافي الخفيف ، وجوهرها الجوهر الصعاد المعتدل ،
وسنخها المهيأ لقبول الاتفاق والميل والتوق والانحراف والشهوة والنفار - كل ذلك
معلوم بالفطرة في أحوال تصرف الإنسان فيسكن إليها ( 3 ) ، والله عز وجل يقول ) هو
الذي خلقكم من نفس واحدة وجعل منها زوجها ليسكن إليها ( ( الأعراف : 189 ) فجعل
علة السكون أنها منه .
ولو كان علة
الحب حسن الصورة الجسدية لوجب ألا يستحسن الأنقص في الصورة ( 4 ) ، ونحن نجد
كثيراً ممن يؤثر الأدنى ويعلم فضل غيره ولا يجد محيداً لقلبه عنه ( 1 ) . ولو كان
للموافقة في الأخلاق لما أحب المرء من لا يساعده ولا يوافقه ، فعلمنا انه شيء في
ذات النفس . وربما كانت المحبة لسبب من الأسباب ، وتلك تفنى بفناء سببها ، فمن ودك
لأمر ولي مع انقضائه ،
وفي ذلك أقول
: [ من الطويل ] ودادي لك الباقي على حسب كونه . . . تناهى فلم ينقص بشيء ولم يزد
وليست له غير الإرادة ( 2 ) علة . . . ولا سبب حاشاه يعلمه أحد إذا ما وجدنا الشيء
علة نفسه . . . فذاك وجود ليس يفنى على الأبد وإما وجدناه لشيء خلافه . . . شطر
ثانيفإعدامه في عدمنا ما له وجد ومما يؤكد هذا القول أننا علمنا أن المحبة ضروب (
3 ) ، فأفضلها : محبة المتحابين في الله عز وجل ، إما لاجتهاد في العمل ، وإما
لاتفاق في أصل النحلة والمذهب ( 4 ) ، وإما لفضل علم بمنحه الإنسان ؛ ومحبة
القرابة ، ومحبة الألفة في الاشتراك في المطالب ، ومحبة التصاحب والمعرفة ، ومحبة
البر ( 5 ) يضعه المرء عند أخيه ، ومحبة الطمع ( 6 ) في جاه المحبوب ، ومحبة
المتحابين لسر يجتمعان _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Manusia telah berbeda pendapat
tentang hakikat cinta. Mereka berbicara panjang lebar mengenainya. Pendapat
yang aku pilih ialah bahwa cinta merupakan pertemuan dan keterhubungan antara
bagian-bagian jiwa yang pada asal penciptaannya memang terbagi dalam unsur yang
luhur. Bukan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Dawud رحمه الله dari sebagian ahli filsafat bahwa ruh-ruh
itu dahulu berupa satu bulatan yang kemudian terbelah, tetapi cinta terjadi
karena adanya kesesuaian kekuatan jiwa di alamnya yang tinggi, serta kedekatan
susunan tabiatnya.
Kita mengetahui bahwa rahasia
keserasian dan perbedaan di antara makhluk hanyalah karena adanya hubungan dan
keterpisahan. Bentuk akan cenderung kepada bentuk yang serupa dengannya,
sesuatu yang sejenis akan tenang kepada yang sejenis pula. Keserasian memiliki
pengaruh yang nyata dan dapat disaksikan. Sebaliknya, pertentangan terjadi pada
hal-hal yang saling berlawanan, sedangkan kecocokan terjadi pada hal-hal yang
sepadan. Persaingan pun muncul di antara hal-hal yang mirip. Jika demikian
keadaan di dunia kita, maka bagaimana lagi dengan jiwa manusia, padahal ia
berasal dari alam yang jernih dan lembut, dengan hakikat yang tinggi dan
seimbang, serta memiliki tabiat yang siap menerima kesesuaian, kecenderungan,
kerinduan, ketertarikan, syahwat, bahkan penolakan? Semua itu diketahui secara
fitrah dalam keadaan manusia.
Karena itulah Allah عز وجل berfirman:
﴿هُوَ
الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ
إِلَيْهَا﴾
‘Dialah yang menciptakan kalian dari satu jiwa, lalu Dia menjadikan darinya
pasangannya agar ia merasa tenteram kepadanya.’ (QS. al-A‘raf: 189)
Maka Allah menjadikan sebab
ketenteraman itu karena berasal darinya sendiri.
Kalau sebab cinta hanyalah keindahan
rupa jasmani, tentu orang tidak akan menyukai orang yang lebih rendah
kecantikannya. Namun kenyataannya kita mendapati banyak orang justru lebih
mencintai yang kurang cantik, meskipun ia tahu ada yang lebih indah darinya,
tetapi hatinya tidak dapat berpaling.
Kalau cinta hanya karena kesamaan
akhlak, tentu seseorang tidak akan mencintai orang yang tidak sejalan dan tidak
cocok dengannya. Maka kita mengetahui bahwa cinta itu adalah sesuatu yang
berada dalam hakikat jiwa itu sendiri.
Terkadang cinta muncul karena suatu
sebab tertentu, dan cinta seperti itu akan hilang ketika sebabnya hilang.
Barang siapa mencintaimu karena suatu kepentingan, maka cintanya akan pergi
bersama hilangnya kepentingan itu.
Tentang hal ini aku berkata:
Cintaku kepadamu tetap sesuai
hakikat keberadaannya,
Telah sempurna, tak berkurang dan tak bertambah.
Ia tidak memiliki sebab selain kehendak semata,
Tidak pula alasan lain yang diketahui siapa pun.
Bila sesuatu menjadi sebab bagi dirinya sendiri,
Maka itulah keberadaan yang tak akan fana selamanya.
Namun bila ia ada karena sebab lain di luar dirinya,
Maka hilangnya sebab itu berarti hilang pula keberadaannya.
Dan yang semakin menguatkan pendapat
ini ialah bahwa cinta itu bermacam-macam jenisnya. Yang paling utama adalah
cinta antara dua orang yang saling mencintai karena Allah عز وجل:
- karena sama-sama bersungguh-sungguh dalam amal,
- atau karena kesamaan agama dan mazhab,
- atau karena keutamaan ilmu yang diberikan seseorang.
Ada pula cinta karena hubungan
keluarga, cinta karena kebiasaan bersama dalam satu tujuan, cinta karena persahabatan
dan pergaulan, cinta karena kebaikan yang diberikan seseorang kepada
saudaranya, cinta karena mengharap kedudukan orang yang dicintai, dan cinta
antara dua orang karena suatu rahasia yang mempertemukan keduanya.
Penjelasan
1.
Hakikat cinta menurut Ibnu Hazm
Ibnu Hazm memandang cinta sebagai:
“Kesesuaian dan keterhubungan jiwa.”
Artinya:
- ada jiwa yang secara tabiat merasa dekat dengan jiwa
lain,
- seakan-akan ada kecocokan batin,
- sehingga timbul rasa tenteram, nyaman, dan tertarik.
Ini bukan sekadar ketertarikan
fisik.
2.
Penolakan terhadap teori filsafat Yunani
Beliau menolak pendapat sebagian
filsuf yang mengatakan:
ruh manusia dahulu satu lalu
terbelah.
Sebaliknya, beliau mengatakan:
- cinta muncul karena kesesuaian tabiat,
- kecocokan sifat,
- dan kedekatan unsur jiwa.
Jadi bukan karena “belahan jiwa”
secara harfiah, tetapi karena adanya keserupaan dan harmoni batin.
3.
Dalil Al-Qur’an tentang ketenteraman cinta
Beliau menggunakan ayat:
“Agar ia merasa tenteram kepadanya.”
Cinta sejati melahirkan:
- ketenangan,
- rasa nyaman,
- sakinah,
- dan kecenderungan hati.
Karena itu, cinta bukan hanya
gejolak syahwat, tetapi juga kebutuhan ruhani.
4.
Cinta tidak selalu berdasarkan kecantikan
Ini salah satu pembahasan terpenting
dalam teks ini.
Ibnu Hazm mengatakan:
- banyak orang meninggalkan yang lebih cantik,
- namun justru mencintai seseorang yang biasa saja secara
rupa.
Ini menunjukkan bahwa:
daya tarik cinta bukan hanya fisik.
Ada unsur:
- kecocokan jiwa,
- kenyamanan hati,
- dan hubungan batin yang sulit dijelaskan.
5.
Tidak semua cinta kekal
Beliau membagi cinta menjadi dua:
a.
Cinta karena sebab tertentu
Misalnya:
- karena harta,
- jabatan,
- manfaat,
- kecantikan,
- atau kepentingan.
Maka cinta seperti ini akan hilang
ketika sebabnya hilang.
b.
Cinta yang lahir dari kesesuaian jiwa
Ini cinta yang lebih kuat dan lebih
abadi.
Karena:
- bukan bergantung pada manfaat dunia,
- tetapi pada kedekatan batin.
6.
Jenis-jenis cinta menurut Ibnu Hazm
Beliau memperluas makna “mahabbah”
(cinta), bukan hanya antara lelaki dan perempuan.
Di antaranya:
•
Cinta karena Allah
Ini yang paling tinggi.
Misalnya:
- karena sama-sama taat,
- sama aqidah,
- sama perjuangan,
- atau karena ilmu dan kesalehan.
•
Cinta keluarga
Seperti:
- orang tua,
- anak,
- saudara,
- kerabat.
•
Cinta persahabatan
Karena:
- sering bersama,
- cocok,
- saling memahami.
•
Cinta karena kebaikan
Karena seseorang pernah berbuat baik
kepada kita.
•
Cinta karena kepentingan
Karena ingin:
- kedudukan,
- manfaat,
- kekuasaan,
- atau keuntungan tertentu.
Jenis ini paling mudah hilang.
Kesimpulan
Dalam pandangan Ibnu Hazm:
- cinta adalah hubungan batin antarjiwa,
- bukan semata-mata karena rupa,
- bukan pula hanya karena kesamaan sifat lahiriah,
- tetapi karena adanya kecocokan mendalam dalam jiwa
manusia.
Beliau juga menjelaskan bahwa:
- sebagian cinta bersifat sementara karena ada sebab
duniawi,
- sedangkan cinta yang lahir dari kesesuaian ruh dan
karena Allah lebih kuat dan lebih kekal.
( 1 ) قارن
بقول ابن الجوزي : وإذا كان سبب العشق اتفاقاً في الطباع بطل قول من قال ان العشق
لا يكون إلا للأشياء المستحسنة وإنما يكون العشق لنوع مناسبة وملاءمة ثم قد يكون
الشيء حسناً عند شخص ، غير حسن عند آخر ( ذم الهوى : 300 ) . ( 2 ) تعبير "
الارادة " هنا لا أضنه يعني " الارادة الإنسانية " وإنما التقدير
الإلهي ، أي ان ذلك شيء مرتب في طبيعة النفس ، حسب التوفيق الإلهي ، ولهذا عبر عن
هذا الموقف بقوله : " الشيء علة نفسه " . ( 3 ) هنا يوسع ابن حزم في
مفهوم " الحب " ، حتى يصبح معنى الاتصال بين أجزاء النفوس ليس اتصالاً
بين ذكر وانثى ، وإنما هو اتصال بين الأجزاء المتشابهة في كل صعيد ، وعلى هذا
الفهم ، سيمضي في كل رسالته ؛ فجهة العشق التي علتها اتصال النفوس ليست إلا وجهاً
واحداً من وجوه المحبة ، وقارن بما ورد في رسالة في مداواة النفوس ( رسائل : 138 )
. ( 4 ) روضة المحبين : في أصل المذهب . ( 5 ) روضة المحبين : ومحبة البر . ( 6 )
روضة المحبين : ومحبة لطمع . عليه يلزمهما ستره ، ومحبة بلوغ ( 1 ) اللذة وقضاء الوطر ، ومحبة العشق
التي لا علة لها إلا ما ذكرنا من اتصال النفوس .
فكل هذه
الأجناس منقضية ( 2 ) مع انقضاء عللها ، وزائدة بزيادتها ، وناقصة بنقصانها ،
متأكدة بدنوها فاترة ببعدها ، حاشا محبة العشق الصحيح المتمكن من النفس فهي التي
لا فناء لها إلا بالموت .
(Catatan Penjelas Teks)
- Bandingkan dengan ucapan Ibnu al-Jauzi:
“Jika sebab cinta adalah kesesuaian
tabiat, maka gugurlah pendapat orang yang mengatakan bahwa cinta hanya terjadi
kepada sesuatu yang indah. Sesungguhnya cinta terjadi karena adanya kecocokan
dan keserasian tertentu. Bisa jadi sesuatu dianggap indah oleh seseorang namun
tidak indah menurut orang lain.”
(ذم الهوى hlm. 300)
- Ungkapan “kehendak” (الإرادة)
di sini tampaknya bukan berarti “kehendak manusia”, tetapi lebih dekat
kepada takdir dan ketentuan Ilahi. Maksudnya, cinta itu adalah sesuatu
yang telah tersusun dalam tabiat jiwa sesuai taufik Allah. Karena itu Ibnu
Hazm mengatakan:
“sesuatu itu menjadi sebab bagi
dirinya sendiri.”
- Di sini
Ibnu Hazm memperluas makna cinta, sehingga “hubungan antarbagian jiwa”
tidak hanya berarti hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi
hubungan antara jiwa-jiwa yang serupa dalam segala bidang. Dengan pemahaman ini seluruh kitabnya berjalan; maka
cinta romantis hanyalah salah satu cabang dari berbagai bentuk cinta.
Bandingkan dengan risalah beliau tentang pengobatan jiwa.
- Dalam sebagian naskah lain tertulis:
“karena kesamaan mazhab.”
- Dalam sebagian naskah lain tertulis:
“cinta karena kebaikan.”
- Dalam sebagian naskah lain tertulis:
“cinta karena ketamakan.”
Lanjutan
Teks
“...dan cinta karena adanya rahasia
yang harus mereka sembunyikan bersama; cinta demi memperoleh kenikmatan dan
memenuhi syahwat; serta cinta asmara sejati yang tidak memiliki sebab selain
apa yang telah kami sebutkan, yaitu hubungan jiwa-jiwa.
Semua jenis cinta ini akan hilang
dengan hilangnya sebab-sebabnya; bertambah kuat dengan bertambah kuat sebabnya;
melemah ketika sebabnya melemah; semakin kuat karena kedekatan dan mereda
karena kejauhan. Kecuali cinta asmara sejati yang telah mengakar kuat dalam
jiwa, maka cinta seperti itu tidak akan lenyap kecuali dengan kematian.
Penjelasan
1.
Cinta bukan hanya karena kecantikan
Ibnu Hazm dan juga Ibnu al-Jauzi
sama-sama menolak anggapan:
“Orang hanya mencintai karena rupa.”
Karena kenyataannya:
- standar keindahan berbeda,
- hati manusia berbeda,
- dan terkadang seseorang mencintai orang yang menurut
orang lain biasa saja.
Ini menunjukkan adanya:
- kecocokan batin,
- keserasian jiwa,
- dan kedekatan tabiat.
2.
Makna “kehendak” dalam cinta
Penjelas teks menerangkan bahwa:
- cinta bukan sekadar keputusan rasional manusia,
- tetapi ada unsur takdir dan ketentuan Allah.
Karena itu banyak orang:
- tidak mampu menjelaskan mengapa ia mencintai seseorang,
- bahkan terkadang cintanya bertentangan dengan logika
dan kepentingannya sendiri.
3.
Makna cinta diperluas
Ini bagian penting dalam pemikiran
Ibnu Hazm.
Beliau tidak membatasi cinta pada:
- lelaki dan perempuan saja.
Tetapi mencakup:
- cinta persahabatan,
- cinta keluarga,
- cinta karena agama,
- cinta karena ilmu,
- cinta karena kesamaan perjuangan,
- bahkan ketertarikan jiwa secara umum.
Karena itu kitab طوق الحمامة sebenarnya bukan sekadar kitab romantis, tetapi
kajian mendalam tentang psikologi dan hakikat hubungan manusia.
4.
Jenis cinta yang bergantung pada sebab
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa
kebanyakan cinta:
- muncul karena sebab tertentu,
- sehingga akan hilang ketika sebab itu hilang.
Misalnya:
- cinta karena manfaat,
- cinta karena syahwat,
- cinta karena kedudukan,
- cinta karena kebiasaan,
- atau karena rahasia tertentu.
Maka:
- kedekatan memperkuatnya,
- kejauhan melemahkannya,
- perubahan keadaan bisa menghilangkannya.
5.
Cinta sejati menurut Ibnu Hazm
Beliau mengecualikan satu jenis
cinta:
“العشق
الصحيح المتمكن من النفس”
yakni:
- cinta mendalam,
- yang telah mengakar dalam jiwa,
- yang tidak bergantung pada manfaat lahiriah.
Menurut beliau, cinta seperti ini:
- sulit hilang,
- bahkan tetap ada walaupun terpisah,
- dan terkadang tidak berakhir kecuali dengan kematian.
Kesimpulan
Dalam bagian ini, Ibnu Hazm
menegaskan bahwa:
- cinta sejati berasal dari hubungan batin antarjiwa,
- bukan semata-mata dari kecantikan atau manfaat,
- dan kebanyakan bentuk cinta akan hilang ketika sebabnya
hilang.
Namun ada cinta yang sangat dalam
dan murni,
yang menurut beliau:
tetap hidup dalam jiwa hingga akhir
hayat.
وإنك لتجد
الإنسان السالي بزعمه ، وذا السن المتناهية ، إذا ذكرته تذكر وارتاح وصبا واعتاده
الطرب واهتاج له الحنين .
ولا يعرض في
شيء من هذه الأجناس المذكورة ، من شغل البال والخبل والوسواس وتبدل الغرائزالمركبة
، واستحالة السجايا المطبوعة ، والنحول والزفير وسائر دلائل الشجا ، ما يعرض في
العشق ، فصح بذلك أنه استحسان روحاني وامتزاج نفساني .
فإن قال قائل
: لو كان هذا كذلك لكانت المحبة بينهما مستوية ، إذ الجزءان مشتركان في الاتصال
وحظهما واحد ، فالجواب عن ذلك أن نقول : هذه لعمري معارضة صحيحة ، ولكن نفس ( 3 )
الذي لا يحب من يحبه مكتنفة الجهات ببعض الأعراض الساترة والحجب المحيطة بها من
الطبائع الأرضية فلم تحس بالجزء الذي كان متصلاً بها قبل حلولها حيث هي ، ولو تخلصت
لاستويا في الاتصال والمحبة .
ونفس المحب
متخلصة عالمة بمكان ما كان يشركها في المجاورة ، طالبة له ، قاصدة إليه ، باحثة
عنه ، مشتهية لملاقاته ، جاذبة له لو أمكنها كالمغنيطس والحديد .
فقوة جوهر
المغنيطس المتصلة بقوة جوهر الحديد لم تبلغ من تحكمها ولا من تصفيتها أن تقصد إلى
الحديد على انه من شكلها وعنصرها ، كما أن قوة الحديد لشدتها قصدت إلى شكلها
وانجذبت نحوه ، إذ الحركة أبداً إنما تكون من الأقوى ، وقوة الحديد متروكة الذات
غير ممنوعة بحابس ، تطلب ما يشبهها وتنقطع إليه وتنهض نحوه بالطبع والضرورة وليس
بالاختيار والتعمد .
وأنت متى
أمسكت الحديد بيدك لم ينجذب ، إذ لم يبلغ من قوته أيضاً مغالبة الممسك له مما هو
أقوى منه . ومتى كثرت أجزاء الحديد اشتغل بعضها ببعض واكتفت بأشكالها عن طلب
اليسير من قواها النازحة عنها ، فمتى عظم جرم المغنيطس ووازت قواه جميع قوى جرم الحديد
عادت إلى طبعها المعهود .
وكالنار في
الحجر ( 1 ) لا تبرز على قوة النار في الاتصال والاستدعاء لأجزائها حيث كانت إلا
بعد القدح ومجاورة الجرمين بضغطهما واصطكاكهما ، وإلا فهي كامنة في حجرها لا تبدو
ولا تظهر . ومن الدليل على هذا أيضاً أنك لا تجد اثنين يتحابان إلا وبينهما مشاكلة
واتفاق [ في ] الصفات الطبيعية ، لابد في هذا وإن قل ، وكلما كثرت الأشباه زادت
المجانسة وتأكدت المودة ، فانظر هذا تره عياناً ، وقول رسول الله ( صلى الله عليه
وسلم ) يؤكده : " الأرواح جنود مجندة ما تعارف منها ائتلف وما تناكر منها
اختلف " ( 2 ) ، وقول مروي عن أحد الصالحين : " أرواح المؤمنين تتعارف
" .
ولذلك ما
اغتم بقراط حين وصف له رجل من أهل النقصان يحبه ، فقيل له في ذلك فقال : ما أحبني
إلا وقد وافقته في بعض أخلاقه ( 1 ) .
Sesungguhnya engkau
akan mendapati seseorang yang mengaku telah melupakan cintanya, bahkan sudah
lanjut usia, namun ketika diingatkan tentang orang yang dicintainya, ia kembali
teringat, hatinya bergerak, jiwanya muda kembali, kegembiraan lama datang lagi,
dan kerinduan pun bangkit dalam dirinya.
Tidak terdapat pada jenis-jenis
cinta lain berbagai keadaan seperti:
- kegelisahan pikiran,
- gangguan jiwa,
- waswas,
- berubahnya tabiat bawaan,
- berubahnya akhlak asli,
- tubuh yang kurus,
- sering menghela napas,
- dan tanda-tanda kesedihan lainnya,
sebagaimana yang terjadi pada cinta
asmara (‘isyq). Maka jelaslah bahwa cinta itu merupakan ketertarikan ruhani dan
percampuran jiwa.
Jika ada yang berkata:
‘Kalau memang demikian, seharusnya cinta antara dua orang selalu sama besar,
sebab kedua bagian jiwa sama-sama memiliki hubungan dan kedudukannya setara.’
Maka jawabannya:
Sanggahan ini benar. Akan tetapi jiwa orang yang tidak mencintai orang yang
mencintainya terkadang tertutup oleh berbagai penghalang dan tabiat duniawi,
sehingga ia tidak merasakan lagi bagian jiwa yang dahulu pernah terhubung
dengannya. Seandainya penghalang itu tersingkap, niscaya keduanya akan sama
dalam hubungan dan cinta.
Sedangkan jiwa sang pecinta telah
bersih dan mengetahui tempat bagian jiwa yang dahulu pernah berdekatan
dengannya. Maka ia mencarinya, menuju kepadanya, merindukan pertemuan
dengannya, dan ingin menariknya bila mampu, sebagaimana magnet menarik besi.
Kekuatan magnet yang berhubungan
dengan kekuatan besi belum sampai pada tingkat kesempurnaan sehingga ia dapat
mendatangi besi dengan kesadaran bahwa besi berasal dari jenis dan unsurnya
sendiri. Tetapi kekuatan besi, karena begitu kuatnya, justru tertarik kepada
jenisnya dan bergerak ke arahnya. Sebab gerakan selalu berasal dari yang lebih
kuat.
Kekuatan besi dibiarkan bebas tanpa
penghalang, maka ia mencari sesuatu yang serupa dengannya dan tertarik
kepadanya secara tabiat dan keharusan, bukan karena pilihan sadar.
Engkau lihat, ketika besi dipegang
dengan tangan, ia tidak tertarik kepada magnet, sebab kekuatan magnet belum
mampu mengalahkan tangan yang memegangnya karena tangan lebih kuat darinya.
Dan ketika potongan-potongan besi
banyak berkumpul, sebagian mereka menyibukkan sebagian lainnya sehingga mereka
merasa cukup dengan keserupaan yang ada di dekat mereka dan tidak lagi mencari
bagian kecil dari unsur mereka yang jauh. Tetapi bila magnet menjadi sangat
besar dan kekuatannya seimbang dengan seluruh kekuatan besi, maka besi kembali
kepada tabiat asalnya dan tertarik kepadanya.
Begitu pula api yang tersembunyi
dalam batu. Api itu tidak tampak dan tidak muncul kecuali setelah batu dipukul
dan digesek sehingga dua benda itu saling bersentuhan dan bergesekan. Sebelum
itu api tetap tersembunyi di dalam batu.
Dalil lain bagi hal ini ialah bahwa
engkau tidak akan mendapati dua orang saling mencintai kecuali pasti ada
keserupaan dan kesesuaian di antara keduanya dalam sifat-sifat alami, meskipun
sedikit. Semakin banyak kesamaan, semakin kuat pula kecocokan dan kasih sayang
mereka. Perhatikanlah hal ini, niscaya engkau melihatnya dengan nyata.
Sabda Rasulullah ﷺ menguatkan hal tersebut:
‘Ruh-ruh itu seperti pasukan yang
dihimpun; yang saling mengenal akan bersatu, dan yang saling tidak cocok akan
berselisih.’
Dan diriwayatkan dari salah seorang
orang saleh:
‘Ruh orang-orang beriman saling
mengenal.’
Karena itulah Hippocrates merasa
sedih ketika diberitahu bahwa ada seorang yang buruk akhlaknya sangat
mencintainya. Ketika ditanya tentang sebab kesedihannya, ia menjawab:
‘Tidaklah ia mencintaiku kecuali
karena aku memiliki sebagian akhlaknya.’
Penjelasan
1.
Cinta sejati sulit hilang
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa cinta
yang mendalam:
- bisa tertidur,
- tetapi tidak benar-benar mati.
Karena itu:
- orang tua yang merasa sudah melupakan masa cintanya,
- ketika diingatkan,
- tiba-tiba kembali bergetar hatinya.
Ini menunjukkan bahwa cinta telah
menetap dalam jiwa.
2.
Tanda-tanda cinta menurut Ibnu Hazm
Beliau menyebut pengaruh cinta
terhadap manusia:
- gelisah,
- berubah tabiat,
- kurus,
- banyak menghela napas,
- pikiran kacau,
- dan selalu terkenang.
Menurut beliau, keadaan seperti ini
tidak muncul dalam hubungan biasa, tetapi terutama pada cinta asmara yang
sangat dalam.
3.
Mengapa cinta kadang tidak berbalas?
Ini salah satu pembahasan filsafat
cinta yang menarik dalam طوق الحمامة.
Pertanyaannya:
Jika cinta adalah hubungan dua jiwa,
mengapa kadang hanya satu pihak yang mencintai?
Jawaban Ibnu Hazm:
- jiwa pihak lain tertutup oleh “hijab”,
- yakni:
- kesibukan dunia,
- hawa nafsu,
- tabiat kasar,
- atau penghalang batin lainnya.
Akibatnya ia tidak merasakan
hubungan itu.
4.
Perumpamaan magnet dan besi
Beliau menggunakan contoh ilmiah
sederhana:
- magnet menarik besi,
- besi bergerak menuju magnet secara alami.
Demikian pula jiwa:
- jiwa tertarik kepada sesuatu yang serupa dengannya,
- ada daya tarik batin yang bekerja secara fitrah.
Namun:
- jika ada penghalang,
- daya tarik itu bisa tertahan.
5.
Perumpamaan api dalam batu
Api tersembunyi di dalam batu:
- tidak tampak,
- tetapi ada.
Ketika batu digesek:
- api muncul.
Begitu pula cinta:
- terkadang tersembunyi,
- lalu muncul karena:
- pertemuan,
- percakapan,
- kedekatan,
- atau kesamaan tertentu.
6.
Dasar hadis tentang kesesuaian ruh
Ibnu Hazm menguatkan teorinya dengan
hadis Nabi ﷺ:
“Ruh-ruh itu seperti pasukan yang
dihimpun.”
Maknanya:
- ada orang yang baru bertemu tetapi langsung akrab,
- ada pula yang tanpa sebab jelas langsung merasa tidak
cocok.
Menurut beliau:
- itu karena kesesuaian atau ketidaksesuaian ruh.
7.
Pelajaran dari kisah Hippocrates
Hippocrates sedih ketika dicintai
orang buruk karena beliau khawatir:
“Mungkin ada sifat buruk dalam
diriku yang membuatnya merasa cocok denganku.”
Ini mengandung pelajaran penting:
- manusia sering tertarik kepada yang mirip dengannya,
- maka kualitas pergaulan bisa menjadi cermin keadaan
jiwa seseorang.
Kesimpulan
Dalam bagian ini, Ibnu Hazm
menegaskan bahwa:
- cinta adalah hubungan ruhani yang sangat dalam,
- ia memengaruhi fisik dan jiwa manusia,
- kesesuaian tabiat dan ruh menjadi sebab utama kedekatan
hati,
- dan tidak semua cinta harus berbalas karena kadang jiwa
seseorang tertutup oleh penghalang duniawi.
Beliau juga menunjukkan bahwa:
- manusia secara fitrah cenderung kepada yang serupa
dengannya,
- sebagaimana magnet tertarik kepada besi dan ruh
tertarik kepada ruh yang cocok dengannya.
وذكر أفلاطون
أن بعض الملوك سجنه ظلماً ، فلم يزل يحتج عن نفسه حتى أظهر براءته ، وعلم الملك
أنه له ظالم ، فقال له وزيره الذي كان يتولى إيصال كلامه إليه : أيها الملك ، قد
استبان لك أنه بريء فما لك وله فقال الملك : لعمري ما لي إليه سبيل غير أني أجد
لنفسي استثقالاً لا أدري ما هو . فأدي ذلك إلى افلاطون .
قال : فاحتجت
أن أفتش في نفسي وأخلاقي شيئاً أقابل به نفسه وأخلاقه مما يشبهها ، فنظرت في
أخلاقه فإذا هو محب للعدل كاره للظلم ، فميزت هذا الطبع في ، فما هو إلا أن حركت
هذه الموافقة وقابلت نفسه بهذا الطبع الذي بنفسي فأمر بإطلاقي وقال لوزيره : قد
انحل كل ما أجد في نفسي له .
وأما العلة
التي توقع الحب أبداً في أكثر الأمر على الصورة الحسنة ، فالظاهر أن النفس تولع
بكل شيء حسن وتميل إلى التصاوير المتقنة ، فهي إذا رأت بعضها تثبتت فيه ( 2 ) ،
فإن ميزت وراءها شيئاً من أشكالها اتصلت وصحت المحبة الحقيقية ، وإن لم تميز
وراءها شيئاً من أشكالها لم يتجاوز حبها الصورة ، وذلك هو الشهوة ؛ وإن للصور
لتوصيلاً عجيباً بين أجزاء النفوس النائية . وقرأت في السفر الأول من التوراة ( 1
) أن النبي يعقوب عليه السلام أيام رعيه غنماً للابان خاله مهراً لابنته شارطه على
المشاركة في إنسالها ، فكل بهيم ليعقوب وكل أغر للابان ، فكان يعقوب عليه السلام
يعمد إلى قضبان الشجر يسلخ نصفاً ويترك نصفاً بحاله ، ثم يلقي الجميع في الماء
الذي ترده الغنم ، ويتعمد إرسال الطروقة في ذلك الوقت فلا تلد إلا نصفين ، نصفا
بهما ونصفاً غراً .
وذكر عن بعض
القافة أنه أتي بابن أسود لأبيضين ، فنظر إلى أعلامه فرآه لهما عير شك ، فرغب ان
يوقف على الموضع الذي اجتمعا عليه ، فأدخل البيت الذي كان فيه مضجعهما ، فرأى فيما
يوازي نظر المرأة صورة أسود في الحائط ، فقال لأبيه : من قبل هذه الصورة أتيت في
ابنك .
Disebutkan bahwa Plato pernah
dipenjara secara zalim oleh seorang raja. Ia terus membela dirinya sampai
akhirnya tampak jelas bahwa ia tidak bersalah dan sang raja menyadari bahwa
dirinya telah menzaliminya.
Lalu seorang menteri yang biasa menyampaikan
perkataan Plato kepada raja berkata:
‘Wahai Raja, kini telah jelas bagimu bahwa dia tidak bersalah. Lalu mengapa
engkau masih menahannya?’
Raja menjawab:
‘Demi umurku, sebenarnya aku tidak memiliki alasan lagi untuk menahannya, hanya
saja aku masih merasakan dalam diriku suatu kebencian terhadapnya yang aku
sendiri tidak mengetahui sebabnya.’
Ucapan itu disampaikan kepada Plato.
Plato berkata:
‘Maka aku merasa harus memeriksa diriku dan akhlakku untuk mencari sesuatu yang
serupa dengan jiwa dan akhlaknya. Aku memperhatikan sifat-sifatnya, ternyata ia
mencintai keadilan dan membenci kezaliman. Maka aku menemukan sifat ini juga
ada dalam diriku. Aku pun menggerakkan kesamaan sifat itu dan menghadapkan
jiwaku kepadanya melalui tabiat yang sama yang ada padaku. Maka seketika itu
juga raja memerintahkan pembebasanku dan berkata kepada menterinya:
“Segala perasaan berat yang ada dalam diriku terhadapnya kini telah hilang.”’
Adapun sebab yang membuat cinta pada
kebanyakan keadaan jatuh kepada rupa yang indah ialah karena jiwa manusia
memang cenderung kepada segala sesuatu yang indah dan menyukai bentuk-bentuk
yang sempurna. Maka apabila jiwa melihat sebagian dari keindahan itu, ia akan
terpikat kepadanya.
Jika kemudian jiwa menemukan di
balik rupa itu sesuatu yang sesuai dengan bentuk jiwanya sendiri, maka
terjadilah hubungan dan lahirlah cinta sejati. Namun jika ia tidak menemukan
kesesuaian jiwa di balik rupa tersebut, maka kecintaannya tidak melewati batas
rupa lahiriah saja, dan itulah syahwat.
Sesungguhnya rupa memiliki pengaruh
yang menakjubkan dalam menghubungkan bagian-bagian jiwa yang berjauhan.
Aku membaca dalam kitab pertama
Taurat bahwa Nabi Ya‘qub عليه السلام
ketika menggembala kambing milik pamannya, Laban, sebagai mahar bagi putrinya,
membuat perjanjian tentang hasil keturunan ternak itu. Setiap anak kambing yang
berbintik menjadi milik Ya‘qub, sedangkan yang polos menjadi milik Laban.
Maka Ya‘qub عليه السلام mengambil ranting-ranting pohon, mengupas
sebagian kulitnya dan membiarkan sebagian lain tetap utuh, lalu meletakkannya
di air tempat kambing-kambing itu minum. Beliau sengaja melepaskan pejantan
pada waktu itu, sehingga kambing-kambing melahirkan anak-anak yang sebagian
berbintik dan sebagian polos.
Dan disebutkan pula tentang seorang
ahli firasat yang didatangkan kepada seorang anak berkulit hitam yang lahir
dari dua orang tua berkulit putih. Ia memperhatikan tanda-tandanya dan yakin
tanpa ragu bahwa anak itu benar-benar anak mereka. Ia lalu meminta ditunjukkan
tempat kedua orang tuanya biasa bersama.
Ketika masuk ke kamar mereka, ia
melihat di hadapan tempat pandang si wanita terdapat gambar seorang laki-laki
hitam di dinding. Maka ia berkata kepada ayah anak itu:
‘Karena gambar inilah keadaan anakmu terjadi.’
Penjelasan
1.
Kisah Plato dan kesesuaian jiwa
Ibnu Hazm kembali menegaskan
teorinya:
manusia cenderung kepada orang yang
memiliki kesamaan tabiat batin.
Dalam kisah Plato:
- sang raja awalnya merasa berat kepada Plato,
- tetapi ketika menemukan kesamaan sifat antara mereka,
- rasa berat itu hilang.
Ini menunjukkan:
- hubungan manusia sering dipengaruhi kecocokan batin
yang tersembunyi,
- bukan sekadar logika atau kepentingan.
2.
Mengapa manusia tertarik kepada wajah yang indah?
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa:
- jiwa secara fitrah mencintai keindahan,
- karena jiwa cenderung kepada kesempurnaan.
Namun beliau membedakan dua keadaan:
a.
Hanya tertarik pada rupa
Jika ketertarikan hanya berhenti
pada fisik:
itu syahwat.
b.
Rupa + kesesuaian jiwa
Jika di balik keindahan ada:
- kecocokan hati,
- kesamaan ruh,
- dan hubungan batin,
maka:
lahirlah cinta sejati.
Ini salah satu pembahasan paling
terkenal dalam طوق الحمامة.
3.
Perbedaan cinta dan syahwat
Menurut Ibnu Hazm:
|
Cinta
sejati |
Syahwat |
|
Berkaitan dengan ruh |
Berkaitan dengan tubuh |
|
Ada kecocokan jiwa |
Hanya tertarik rupa |
|
Bertahan lama |
Cepat hilang |
|
Menenangkan hati |
Hanya memuaskan keinginan |
4.
Pengaruh gambaran dan penglihatan terhadap jiwa
Kisah Nabi Nabi Ya'qub yang dinukil
dari Taurat dipakai Ibnu Hazm untuk menunjukkan:
- penglihatan dan gambaran dapat memengaruhi kondisi
batin dan fisik,
- jiwa manusia memiliki keterhubungan dengan apa yang
sering dipandang.
Walaupun kisah tersebut berasal dari
riwayat terdahulu dan bukan dalil syariat Islam, beliau menggunakannya sebagai
ilustrasi psikologis.
5.
Kisah gambar di dinding
Cerita tentang anak hitam dari orang
tua putih menggambarkan keyakinan lama bahwa:
- apa yang sering dipandang dan terbayang dalam jiwa
dapat memengaruhi keturunan.
Secara ilmiah modern, penjelasan
tersebut tentu tidak dijadikan dasar genetika. Namun dalam konteks kitab ini,
Ibnu Hazm sedang membahas:
- kuatnya pengaruh gambaran,
- imajinasi,
- dan hubungan jiwa dengan bentuk visual.
Kesimpulan
Dalam bagian ini, Ibnu Hazm
menjelaskan bahwa:
- manusia secara fitrah mencintai keindahan,
- tetapi cinta sejati tidak cukup hanya dengan rupa,
- harus ada kesesuaian ruh dan tabiat batin.
Beliau juga membedakan:
- syahwat yang hanya berhenti pada tubuh,
- dengan cinta hakiki yang melibatkan jiwa dan hati.
Selain itu, beliau ingin menunjukkan
bahwa:
- penglihatan,
- gambaran,
- dan kesan batin
memiliki pengaruh besar terhadap
jiwa manusia dan hubungan antarmanusia.
وكثيراً ما
يصرف شعراء أهل الكلام هذا المعنى في اشعارهم ، فيخاطبون المرئي في الظاهر خطاب
المعقول الباطن ، وهو المستفيض في شعر النظام إبراهيم بن سيار ( 2 ) وغيره من
المتكلمين ، وفي ذلك أقول شعراً منه : [ من البسيط ] :
ما علة النصر
في الأعداء نعرفها . . . وعلة الفر منهم إذ يفرونا إلا نزاع نفوس الناس قاطبة . .
. إليك يا لؤلؤاً في الناس مكنونا ومن كنت قدامه لا ينثني أبداً . . . فهم إلى
نورك الصعاد يعشونا ومن تكن خلفه فالنفس تصرفه . . . إليك طوعاً فهم دأباً يكرونا
ومن ذلك أقول : [ من الطويل ]
أمن عالم
الأملاك ( 1 ) أنت أم آنسي . . . أبن لي فقد أزرى بتمييزي العي أرى هيئة إنسية غير
أنه . . . إذا أعمل التفكير فالجرم علوي تبارك من سوى مذاهب خلقه . . . على انك
النور الأنيق الطبيعي ولا شك عندي أنك الروح ساقه . . . إلينا مثال في النفوس
اتصالي عدمنا دليلاً في حدوثك شاهداً . . . نقيس عليه أنك مرئي ولولا وقوع العين
في الكون لم نقل . . . سوى أنك العقل الرفيع الحقيقي وكان بعض أصحابنا يسمي قصيدة
لي " الإدراك المتوهم " منها : [ من المتقارب ] . ترى كل ضد به قائماً .
. . فكيف تحد اختلاف المعاني فيا أيها الجسم لا ذا جهات . . . ويا عرضاً ثابتاً
غير فان نقضت علينا وجوه الكلام . . . فما هو مذ لحت بالمستبان وهذا بعينه موجود
في البغضة ، ترى الشخصين يتباغضان لا لمعنى ولا علة ، ويستثقل بعضهما بعضاً بلا
سبب .
Para penyair dari kalangan ahli ilmu
kalam sering menggunakan makna ini dalam syair-syair mereka. Mereka berbicara
kepada sesuatu yang tampak secara lahir, namun sebenarnya yang dimaksud adalah
makna batin yang bersifat ruhani. Hal ini banyak terdapat dalam syair Ibrahim
an-Nazzam dan para ahli kalam lainnya.
Tentang hal itu aku berkata dalam
syairku:
Apa sebab kemenangan atas
musuh-musuh kita, kita mengetahuinya,
Dan sebab mereka lari ketika menghadapi kita?
Tidak lain hanyalah karena jiwa seluruh manusia
Tertarik kepadamu, wahai mutiara tersembunyi di tengah manusia.
Siapa yang berada di hadapanmu tak akan mampu berpaling,
Karena mereka silau oleh cahaya tinggimu yang menjulang.
Dan siapa yang berada di belakangmu, jiwanya akan mengarah kepadamu dengan
rela,
Maka mereka terus kembali kepadamu tanpa henti.
Dan aku juga berkata:
Apakah engkau berasal dari alam
malaikat ataukah manusia biasa?
Jelaskanlah, sebab lisanku telah lemah untuk membedakanmu.
Aku melihat bentuk manusiawi, namun
Bila kupikirkan lebih dalam, hakikatmu terasa luhur.
Maha Suci Allah yang menjadikan makhluk-Nya berbeda-beda,
Hingga engkau tampak sebagai cahaya alami yang indah.
Aku tidak ragu bahwa ruh telah menggambarkanmu
Sebagai contoh hubungan yang tersimpan dalam jiwa-jiwa kami.
Kami tidak menemukan bukti tentang hakikat keberadaanmu
Yang bisa dijadikan ukuran bahwa engkau sekadar sesuatu yang terlihat.
Kalaulah mata tidak melihatmu di alam ini,
Niscaya kami mengira engkau adalah akal luhur yang hakiki.
Dan salah seorang sahabat kami
menamai salah satu qasidahku dengan judul:
‘Persepsi yang Membingungkan’.
Di antara baitnya:
Engkau memperlihatkan seluruh
pertentangan dalam dirimu,
Maka bagaimana mungkin makna-makna yang berbeda itu dibatasi?
Wahai jasad yang seakan tanpa arah,
Wahai sifat yang tetap namun tidak fana.
Engkau telah meruntuhkan berbagai teori dan pembahasan kami,
Sejak engkau tampak jelas di hadapan kami.
Dan hal yang sama juga terdapat
dalam kebencian. Engkau melihat dua orang saling membenci tanpa sebab dan tanpa
alasan yang jelas; sebagian merasa berat terhadap sebagian lainnya tanpa
mengetahui mengapa.
Penjelasan
1.
Bahasa cinta yang bersifat ruhani
Ibnu Hazm menjelaskan bahwa:
- banyak syair cinta sebenarnya tidak hanya berbicara
tentang fisik,
- tetapi tentang pengalaman ruhani dan batin.
Karena itu para penyair:
- berbicara kepada sosok yang terlihat,
- tetapi yang mereka maksud adalah hubungan jiwa yang
mendalam.
2.
Pengaruh ilmu kalam dan filsafat
Beliau menyebut Ibrahim an-Nazzam
karena para ahli kalam sering memakai:
- bahasa metafisik,
- istilah ruh,
- cahaya,
- akal,
- dan alam tinggi
untuk menjelaskan pengalaman cinta
dan ketertarikan jiwa.
Dalam bagian ini, cinta digambarkan
hampir seperti:
- daya kosmis,
- pancaran ruh,
- atau cahaya batin.
3.
Cinta membuat seseorang tampak “lebih dari manusia biasa”
Dalam syairnya, Ibnu Hazm
menggambarkan kekasih seolah:
- bukan manusia biasa,
- melainkan makhluk bercahaya,
- atau berasal dari alam malaikat.
Ini bukan keyakinan literal, tetapi:
- ungkapan hiperbolik sastra Arab,
- untuk menggambarkan kekaguman yang sangat besar.
Artinya:
cinta membuat seseorang tampak
sempurna di mata pecintanya.
4.
“Kalau mata tidak melihatmu…”
Bait ini sangat filosofis:
“Kalau mata tidak melihatmu, kami
akan mengira engkau akal luhur.”
Maksudnya:
- sosok yang dicintai tampak begitu sempurna,
- sehingga seakan bukan sekadar tubuh fisik,
- tetapi makhluk ruhani yang tinggi.
Ini menunjukkan bagaimana cinta:
- mengangkat pandangan jiwa,
- dan membuat pecinta melihat makna batin di balik rupa
lahir.
5.
“Persepsi yang membingungkan”
Qasidah ini menggambarkan keadaan
cinta yang:
- sulit dijelaskan dengan logika biasa,
- penuh paradoks,
- dan menghancurkan batas-batas teori rasional.
Karena itu beliau berkata:
“Engkau meruntuhkan teori-teori
kami.”
Artinya:
- pengalaman cinta terkadang tidak bisa dijelaskan
sepenuhnya oleh filsafat atau ilmu.
6.
Kebencian juga memiliki sifat serupa
Di akhir teks, Ibnu Hazm memberi
keseimbangan penting:
Sebagaimana ada:
- cinta tanpa sebab yang jelas,
maka ada juga:
- kebencian tanpa sebab yang jelas.
Kadang:
- seseorang langsung merasa nyaman kepada orang lain,
- sementara kepada orang lain merasa berat tanpa tahu
sebabnya.
Menurut beliau, ini juga bagian
dari:
- kesesuaian atau pertentangan jiwa.
Kesimpulan
Dalam bagian ini, Ibnu Hazm
menggambarkan cinta sebagai:
- pengalaman ruhani yang dalam,
- melampaui sekadar ketertarikan fisik,
- dan sering kali sulit dijelaskan dengan logika biasa.
Beliau juga menunjukkan bahwa:
- manusia memiliki kecenderungan batin tersembunyi,
- baik berupa cinta maupun kebencian,
- yang muncul karena kesesuaian atau pertentangan jiwa.
والحب - أعزك الله - داء عياء وفيه الدواء منه على قدر
المعاناة ( 1 ) ، وسقام مستلذ وعلة مشتهاة لا يود سليهما البرء ولا يتمنى عليلها
الإفاقة ؛ يزين للمرء ما كان يأنف منه ، ويسهل عليه ما كان يصعب عنده حتى يحيل
الطبائع المركبة والجبلة المخلوقة ، وسيأتي كل ذلك مخلصاً في بابه إن شاء الله .
خبر : ولقد علمت فتى من بعض معارفي قد وحل في الحب وتورط في حبائله ، وأضر به
الوجد ، وأنصبه ( 2 ) الدنف ، وما كانت نفسه تطيب دعاؤه إلا بالوصل والتمكن ممن
يحب ، على عظيم بلائه وطويل همه ، فما الظن بسقيم لا يريد فقد سقمه ولقد جالسته
يوماً فرأيت من إكبابه وسوء حاله وإطراقه ما ساءني ، فقلت له في بعض قولي : "
فرج الله عنك " فلقد رأيت أثر الكراهية في وجهه ؛ وفي مثله أقول من كلمة
طويلة : [ من البسيط ] وأستلذ بلائي فيك يا أملي . . . ولست عنك مدى الأيام انصرف
إن قيل لي تتسلى عن مودته . . . فما جوابي إلا اللام والألف خبر : وهذه الصفات
مخالفة لما أخبرني به عن نفسه أبو بكر محمد بن قاسم بن محمد القرشي المعروف
بالشبانسي ( 3 ) ، من ولد الإمام هشام _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Cinta — semoga Allah memuliakanmu —
adalah penyakit yang sulit disembuhkan, namun di dalamnya juga terdapat obatnya
sendiri sesuai kadar penderitaan yang dialami. Ia adalah sakit yang terasa
nikmat dan penyakit yang justru diinginkan penderitanya. Orang yang telah
sembuh darinya tidak menginginkan kesembuhan itu, dan orang yang sedang
mengalaminya tidak berharap untuk pulih.
Cinta menjadikan seseorang menyukai
apa yang sebelumnya ia benci, dan memudahkan baginya apa yang dahulu terasa
berat, sampai-sampai ia mengubah tabiat bawaan dan watak asli manusia. Semua
itu akan kami jelaskan lebih rinci pada babnya masing-masing insya Allah.
Kisah:
Aku pernah mengetahui seorang pemuda dari kalangan kenalanku yang tenggelam
dalam cinta dan terjerat dalam perangkapnya. Kerinduan telah menyiksanya dan
cinta membuat tubuhnya lemah. Jiwanya tidak menemukan ketenangan kecuali dengan
bertemu dan dekat dengan orang yang dicintainya, meskipun penderitaannya sangat
besar dan kesedihannya panjang.
Maka bagaimana keadaan orang sakit
yang tidak ingin kehilangan penyakitnya?
Suatu hari aku duduk bersamanya. Aku
melihat keadaannya yang sangat murung, tunduk, dan diam sehingga membuatku
sedih. Maka aku berkata kepadanya di sela percakapan:
‘Semoga Allah memberi kelapangan kepadamu.’
Aku melihat tanda-tanda
ketidaksukaan tampak di wajahnya.
Tentang keadaan seperti ini aku
berkata dalam sebuah qasidah panjang:
Aku menikmati penderitaanku karena
dirimu, wahai harapanku,
Dan sepanjang hari-hariku aku tak akan berpaling darimu.
Jika dikatakan kepadaku: ‘Lupakanlah cintanya,’
Maka jawabanku hanyalah: “Tidak.”
Dan sifat-sifat ini berbeda dengan
apa yang pernah diceritakan kepadaku oleh Abu Bakar Muhammad bin Qasim bin
Muhammad al-Qurasyi, yang dikenal dengan asy-Syabansi, keturunan Imam Hisyam…
Penjelasan
1.
Cinta sebagai “penyakit yang nikmat”
Ibnu Hazm menggambarkan cinta dengan
ungkapan paradoks:
“penyakit yang dicintai.”
Maksudnya:
- cinta membawa penderitaan,
- tetapi pecinta justru menikmati penderitaan itu.
Karena:
- rasa sakitnya bercampur dengan kenikmatan batin,
- kerinduan sendiri terasa manis bagi pecinta.
2.
“Di dalam cinta ada obatnya”
Beliau mengatakan:
“di dalamnya juga ada obatnya.”
Maksudnya:
- obat cinta sering kali adalah:
- pertemuan,
- kedekatan,
- perhatian,
- atau tercapainya hubungan dengan yang dicintai.
Namun selama itu belum terjadi:
- cinta menjadi penderitaan panjang.
3.
Pecinta tidak ingin sembuh
Ini salah satu ciri cinta mendalam
menurut Ibnu Hazm:
- orang sakit biasa ingin sembuh,
- tetapi pecinta terkadang tidak ingin lepas dari
cintanya.
Karena:
- identitas dirinya telah menyatu dengan rasa cinta itu,
- kehilangan cinta terasa seperti kehilangan sebagian
jiwanya.
Itulah sebabnya pemuda dalam kisah
ini:
- tidak senang ketika didoakan “semoga Allah
melapangkanmu,”
- sebab ia memahami doa itu sebagai:
“semoga
engkau terbebas dari cintamu.”
Padahal ia tidak ingin kehilangan
rasa itu.
4.
Cinta mengubah tabiat manusia
Ibnu Hazm menegaskan bahwa cinta:
- mampu mengubah kebiasaan,
- mengubah karakter,
- bahkan membuat orang melakukan sesuatu yang dahulu
mustahil baginya.
Misalnya:
- orang pemalu menjadi berani,
- orang keras menjadi lembut,
- orang sombong menjadi rendah hati,
- atau orang kuat menjadi lemah.
Menurut beliau:
cinta memiliki kekuatan besar
terhadap jiwa manusia.
5.
“Aku menikmati penderitaanku”
Syair beliau menggambarkan hakikat
cinta mendalam:
- penderitaan bukan lagi sesuatu yang ditolak,
- tetapi menjadi bagian dari kenikmatan cinta itu
sendiri.
Karena bagi pecinta:
- rasa sakit itu tetap menghubungkannya dengan orang yang
dicintai.
6.
Jawaban “lam dan alif”
Dalam bait:
“Jawabanku hanyalah lam dan alif.”
Huruf:
- ل (lam)
- ا (alif)
membentuk kata:
“لا”
yang berarti:
“tidak.”
Yakni:
“Aku tidak akan melupakan cintanya.”
Ini gaya sastra Arab yang sangat
halus dan indah.
Kesimpulan
Dalam bagian ini, Ibnu Hazm
menggambarkan cinta sebagai:
- penderitaan yang dinikmati,
- penyakit yang tidak ingin disembuhkan,
- dan kekuatan besar yang mampu mengubah watak manusia.
Beliau juga menunjukkan bahwa:
- cinta sejati tidak selalu dicari untuk dihilangkan,
- bahkan sebagian pecinta lebih rela hidup dalam
penderitaan cinta daripada kehilangan hubungan batin dengan orang yang
dicintainya.
( 1 ) في
طبعة بتروف وغيرها : المعاملة ؛ وما أثبته هو قراءة برشيه . ( 2 ) هذه هي قراءة
برشيه ؛ وفي مختلف الطبعات : " وأنضحه الدنف " وليس في معاني لفظ "
أنضح " ما يمكن توجيهه نحو هذا المعنى . ( 3 ) محمد بن قاسم بن محمد بن
اسماعيل بن هشام بن محمد بن هشام بن الوليد بن هشام الرضى بن عبد الرحمن بن معاوية
القرشي المرواني المعروف بالشبانسي ، كان عالماً بالآداب متقدماً في البلاغة
والكتابة ، استقر بعد الفتنة بطليطلة كاتباً للرسائل بها ، وتوفي سنة 447 (
التكملة 1 : 389 ) ولأبيه القاسم بن محمد الشبانسي ترجمة في الجذوة : 310 )
والبغية رقم : 1296 وكان الأب أيضاً أديباً شاعراً ، سجن في أيام المنصور فكتب
إليه بقصيدة يستعطفه فيها فرق له وأطلقه ؛ ولأخيه عبد الرحمن ترجمة في التكملة رقم
: 1549 ؛ وقد تصحفت كلمة " الشبانسي " في طبعات الطوق وتنبه لها غرسيه
غومس ( انظر ترجمته للطوق : 103 الحاشية رقم : 2 ) .
ابن عبد
الرحمن بن معاوية أنه لم يحب أحداً قط ، ولا أسف على إلف بان منه ، ولا تجاوز حد
الصحبة والألفة إلى حد الحب والعشق منذ خلق .
Catatan
Penjelas
1.
Dalam
cetakan Betrof dan beberapa cetakan lainnya tertulis:
“المعاملة” (perlakuan/interaksi)
Sedangkan
bacaan yang dipilih penyunting Bréchier adalah:
“المعاناة” (penderitaan/pengalaman langsung)
Dan
bacaan inilah yang dianggap lebih tepat.
2.
Ini
adalah bacaan versi Bréchier. Dalam cetakan lain tertulis:
“وأنضحه الدنف”
Namun
kata:
“أنضح”
secara
bahasa sulit diarahkan kepada makna yang dimaksud dalam konteks tersebut.
3.
Muhammad bin Qasim asy-Syabansi adalah:
Muhammad bin Qasim bin Muhammad bin Ismail bin Hisyam bin Muhammad bin Hisyam
ar-Ridha bin Abdurrahman bin Mu‘awiyah al-Qurasyi al-Marwani, dikenal dengan
julukan asy-Syabansi.
Ia
seorang:
- ahli sastra,
- unggul dalam balaghah,
- dan penulis ulung.
Setelah
masa fitnah di Andalusia, ia menetap di Toledo sebagai penulis surat resmi
pemerintahan. Ia wafat tahun 447 H.
Ayahnya,
al-Qasim bin Muhammad asy-Syabansi, juga seorang sastrawan dan penyair. Ia
pernah dipenjara pada masa al-Manshur, lalu menulis qasidah memohon belas
kasihan sehingga akhirnya dibebaskan.
Saudaranya,
Abdurrahman, juga memiliki biografi tersendiri.
Nama:
“asy-Syabansi”
sempat
salah tulis dalam beberapa cetakan kitab طوق الحمامة,
dan kesalahan itu telah diperhatikan oleh sarjana García Gómez dalam
terjemahannya.
Lanjutan
Teks
“...keturunan Hisyam bin Abdurrahman
bin Mu‘awiyah, bahwa ia sama sekali tidak pernah mencintai siapa pun, tidak
pernah bersedih karena berpisah dengan seorang teman dekat, dan sejak
diciptakan tidak pernah melampaui batas persahabatan dan keakraban menuju cinta
dan asmara.
Penjelasan
1.
Pentingnya perbedaan manuskrip
Catatan pertama dan kedua
menunjukkan bagaimana para ulama dan peneliti:
- membandingkan berbagai naskah kuno,
- lalu memilih lafaz yang paling tepat secara bahasa dan
makna.
Ini biasa dalam tahqiq (kritik teks
manuskrip).
Misalnya:
- “المعاناة” berarti
pengalaman penderitaan cinta,
- dan lebih cocok dengan konteks pembahasan Ibnu Hazm.
2.
Siapa asy-Syabansi?
Muhammad bin Qasim asy-Syabansi
adalah:
- seorang bangsawan keturunan Umayyah,
- ahli sastra,
- penulis resmi,
- dan tokoh budaya Andalusia.
Ibnu Hazm sering menyebut
tokoh-tokoh nyata:
- sahabat,
- ulama,
- pejabat,
- dan penyair,
untuk menunjukkan bahwa
pembahasannya tentang cinta berasal dari pengalaman sosial nyata, bukan sekadar
teori.
3.
Ada manusia yang hampir tidak mengenal cinta romantis
Di akhir teks, Ibnu Hazm menyebut
seseorang yang:
- tidak pernah jatuh cinta,
- tidak terlalu sedih karena perpisahan,
- dan hubungannya dengan orang lain hanya sebatas
persahabatan biasa.
Ini penting karena menunjukkan:
Ibnu Hazm menyadari bahwa tabiat
manusia berbeda-beda.
Tidak semua orang:
- memiliki emosi romantis mendalam,
- atau mengalami cinta dengan intensitas yang sama.
4.
Pandangan psikologis Ibnu Hazm
Dalam keseluruhan pembahasan ini,
Ibnu Hazm sebenarnya sedang menyusun:
- pengamatan psikologis manusia,
- jenis-jenis karakter,
- dan perbedaan tabiat jiwa.
Beliau tidak mengatakan:
semua manusia pasti عاشق (pecinta berat),
tetapi:
- ada yang sangat mudah tenggelam dalam cinta,
- ada yang sedang,
- dan ada yang hampir tidak memilikinya sama sekali.
Kesimpulan
Bagian ini menunjukkan bahwa:
- teks klasik memiliki banyak perbedaan manuskrip yang
perlu diteliti,
- Ibnu Hazm memakai pengalaman nyata tokoh-tokoh
Andalusia sebagai contoh,
- dan manusia berbeda dalam kemampuan dan kecenderungan
mencintai.
Sebagian:
- sangat mudah larut dalam cinta,
sementara sebagian lain:
- hidup hanya dengan hubungan persahabatan biasa tanpa
mengalami cinta mendalam sama sekali.
Penutup:
Hakikat Cinta Menurut Ibnu Hazm
Dari seluruh pembahasan طوق الحمامة tentang hakikat cinta, tampak bahwa Ibnu
Hazm memandang cinta sebagai salah satu rahasia terbesar dalam kehidupan
manusia. Cinta bukan sekadar ketertarikan jasmani, bukan pula semata-mata
dorongan syahwat, tetapi hubungan halus antara jiwa-jiwa yang memiliki
kesesuaian dan kedekatan batin.
Beliau menjelaskan bahwa cinta:
- dapat mengubah tabiat manusia,
- menguasai pikiran dan perasaan,
- menghadirkan kebahagiaan sekaligus penderitaan,
- bahkan terkadang tetap hidup di dalam jiwa hingga akhir
hayat.
Namun Ibnu Hazm juga menegaskan
bahwa tidak semua cinta bernilai sama. Ada cinta yang lahir karena manfaat,
kebiasaan, rupa, atau kepentingan duniawi; dan ada pula cinta yang lebih
tinggi, yaitu cinta yang lahir dari kesesuaian ruh, kemuliaan akhlak, serta
cinta karena Allah ﷻ.
Melalui pembahasan ini, beliau
menunjukkan bahwa Islam tidak memusuhi fitrah manusia. Perasaan cinta bukan
dosa selama dijaga dalam batas syariat dan tidak menyeret kepada maksiat.
Karena hati berada di tangan Allah ﷻ,
maka manusia tidak selalu mampu mengatur kepada siapa ia cenderung. Akan tetapi
manusia tetap bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan yang lahir dari rasa
cinta tersebut.
Pada akhirnya, hakikat cinta menurut
Ibnu Hazm adalah:
pertemuan jiwa dengan jiwa,
ketenteraman hati kepada yang serupa dengannya, dan rahasia halus yang sering
kali tidak mampu dijelaskan sepenuhnya oleh akal manusia.
Karena itu cinta dapat menjadi:
- jalan menuju kemuliaan,
- sumber kelembutan hati,
- penguat persaudaraan,
- dan sebab kedekatan kepada Allah,
namun juga dapat menjadi:
- sumber penderitaan,
- kegelisahan,
- dan fitnah,
apabila tidak diarahkan dengan ilmu,
adab, dan ketakwaan.
Sumber:
الكتاب: طوق
الحمامة في الألفة والألاف
المؤلف: أبو
محمد علي بن أحمد بن سعيد بن حزم الأندلسي القرطبي الظاهري (ت ٤٥٦هـ)
Baca juga:
Menimbang Informasi yang Bertentangan: Ketelitian Hati dan Tarjih dalam Perkara Syubhat
Ṭawq al-Ḥamāmah: Adab, Persahabatan, dan Hakikat Cinta dalam Pandangan
Ibnu Hazm al-Andalusi
Bab Tanda-tanda Cinta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar