القياس
(Qiyās / Silogisme / Penalaran Logis)
Qiyās adalah suatu susunan perkataan—baik yang diucapkan maupun
yang dipahami dalam akal—yang tersusun dari beberapa premis; apabila
premis-premis itu diterima, maka darinya secara niscaya lahir suatu
kesimpulan lain.
Qiyās terbagi dua:
- Iqtirānī (silogisme kategoris)
- Istitsnā’ī (silogisme hipotetis/eksepsional).”
1)
Qiyās Iqtirānī
Contoh:
Setiap jisim tersusun
Setiap yang tersusun itu baru (hadits)
Maka: setiap jisim itu baru
Arabnya:
كل
جسم مؤلف
وكل مؤلف حادث
فكل جسم حادث
Di sini:
- Jisim
= موضوع المطلوب (subjek
kesimpulan) → ḥadd aṣghar (term kecil)
- Ḥādits (baru)
= predikat kesimpulan → ḥadd أكبر
(term besar)
- Mu’allaf (tersusun)
= term yang berulang → ḥadd awsath (term tengah)
Tiga
unsur قياس
1.
حد أصغر (term kecil)
Subjek kesimpulan.
Contoh:
Jisim
2.
حد أكبر (term besar)
Predikat kesimpulan.
Contoh:
Hadits / baru
3.
حد أوسط (term tengah)
Penghubung dua premis.
Contoh:
Mu’allaf / tersusun
Dua premis:
a) صغرى (premis minor)
Premis yang memuat term kecil.
Setiap jisim tersusun.
b) لكبرى (premis mayor)
Premis yang memuat term besar.
Setiap yang tersusun itu baru.
Hasil:
Maka setiap jisim itu baru.
Bentuk قياس (الشكل)
Ada 4 bentuk, berdasarkan
posisi ḥadd awsath (term tengah).
Tetapi menurut Al-Abharī, bentuk
pertama adalah yang paling jelas dan paling lurus bagi akal,
sehingga dijadikan mi‘yār al-‘ulūm (standar berpikir ilmiah).
Syarat
الشكل الأول
Agar menghasilkan kesimpulan:
- Premis kecil harus afirmatif (إيجاب
الصغرى)
- Premis besar harus universal (كلية
الكبرى)
Empat
contoh bentuk pertama
1)
Semua jisim tersusun
Semua yang tersusun baru
→ Semua jisim baru
2)
Semua jisim tersusun
Tidak ada yang tersusun itu qadim
→ Tidak ada jisim yang qadim
3)
Sebagian jisim tersusun
Semua yang tersusun baru
→ Sebagian jisim baru
4)
Sebagian jisim tersusun
Tidak ada yang tersusun itu qadim
→ Sebagian jisim tidak qadim
2) Qiyās Istitsnā’ī
Contoh:
Jika matahari terbit → siang ada
Tetapi siang tidak ada
Maka matahari tidak terbit
Ini pola:
Jika A → B
Tidak B
Maka tidak A
Dalam logika modern disebut Modus
Tollens.
Munfaṣilah
(disjungtif)
Contoh:
Bilangan itu genap atau ganjil
Tetapi ia genap
Maka ia bukan ganjil
atau:
Ia ganjil
Maka ia bukan genap
Dan jika menolak salah satu:
Ia bukan genap
→ Maka ganjil
Kesimpulan inti
Imam Atsīr ad-Dīn al-Abharī
menjelaskan bahwa qiyās adalah alat utama berpikir dalam manṭiq,
yaitu menyusun dua atau lebih premis sehingga menghasilkan kesimpulan yang
pasti. Dari sinilah akal berpindah dari yang diketahui menuju yang belum
diketahui.
Ringkasnya:
Premis + Premis = Kesimpulan
Contoh:
Semua manusia fana
Zaid manusia
Maka Zaid fana
Inilah inti istidlāl (penalaran)
dalam ilmu manṭiq.
Sumber: إيساغوجي
لأثير الدين المفضل بن عمر الأبهري ( 630 هـ )
Baca juga:
Kaidah Penting Dalam Proses Istidlāl (Menarik Kesimpulan) Dalam Ilmu Manṭiq - Isagoge (إيساغوجي)
Dasar Terpenting Dalam Penalaran Manṭiq (Logika) - Isagoge (إيساغوجي)
Burhān Adalah Tingkatan Tertinggi
Penalaran Logis; Dan Burhān Adalah Qiyās (Silogisme) Yang Dibangun Di Atas
Premis-premis Yang Pasti - Isagoge (إيساغوجي)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar