Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Kedua : Masa Sahabat

الطَّوْرُ الثَّانِي: عَهْدُ الصَّحَابَةِ:

Tahap Kedua : Masa Sahabat

١٥ - وَهَذَا الْعَهْدُ يَتَمَيَّزُ بِكَثْرَةِ الأَْحْدَاثِ الَّتِي جَدَّتْ بَعْدَ عَهْدِ النُّبُوَّةِ، لِكَثْرَةِ الْفُتُوحَاتِ وَاخْتِلاَطِ الْمُسْلِمِينَ بِغَيْرِهِمْ مِنْ الأُْمَمِ الَّتِي لَهَا أَعْرَافٌ لَمْ تَكُنْ مَعْرُوفَةً عِنْدَ الْعَرَبِ. وَلاَ بُدَّ مِنْ مَعْرِفَةِ حُكْمِ اللَّهِ فِي هَذِهِ الْحَوَادِثِ الْجَدِيدَةِ؛ لأَِنَّهُ - كَمَا كَرَّرْنَا مِرَارًا - لَيْسَ هُنَاكَ حَادِثَةٌ إِلاَّ وَلَهَا حُكْمٌ شَرْعِيٌّ. وَكَانَ هَذَا الْعَهْدُ يَتَمَيَّزُ بِوُجُودِ صَحَابَةٍ عُرِفُوا بِالْفِقْهِ، فَكَانَ يُرْجَعُ إِلَيْهِمْ إِذَا نَزَلَتِ الْحَوَادِثُ. وَكَانَ مِنْهُمْ الْمُكْثِرُونَ لِلْفُتْيَا وَهُمْ لاَ يَتَجَاوَزُونَ ثَلاَثَةَ عَشَرَ شَخْصًا. نَذْكُرُ مِنْهُمْ: عُمَرَ وَعَلِيًّا وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ وَعَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ وَمُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ إِلَخْ. رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ جَمِيعًا.

15 - Masa ini ditandai dengan banyaknya peristiwa baru yang muncul setelah masa kenabian, karena banyaknya penaklukan dan bercampurnya kaum Muslimin dengan bangsa-bangsa lain yang memiliki adat kebiasaan yang sebelumnya tidak dikenal oleh bangsa Arab.

Oleh karena itu, perlu diketahui hukum Allah mengenai berbagai peristiwa baru tersebut, karena sebagaimana telah berulang kali kami tegaskan, tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi kecuali memiliki hukum syariat.

Masa ini juga ditandai dengan adanya sejumlah sahabat yang dikenal memiliki pemahaman mendalam dalam fikih, sehingga mereka dijadikan rujukan ketika muncul berbagai persoalan. Di antara mereka terdapat para sahabat yang banyak memberikan fatwa, dan jumlah mereka tidak lebih dari tiga belas orang.

Di antara mereka adalah: ‘Umar, ‘Ali, Zaid bin Tsabit, ‘Aisyah, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas, Mu‘adz bin Jabal, ‘Abdullah bin Mas‘ud, dan lain-lain. Semoga Allah meridai mereka semua.

وَلَوْ جُمِعَتْ فَتَاوَى كُل وَاحِدٍ مِنْهُمْ لَكَانَتْ سِفْرًا عَظِيمًا. وَمِنْهُمْ الْمُتَوَسِّطُونَ كَأَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. وَإِنَّمَا قَل مَا نُقِل عَنْهُ عَمَّنْ جَاءَ بَعْدَهُ لأَِنَّهُ لَمْ تَطُل حَيَاتُهُ بَعْدَ وَفَاةِ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ مَاتَ فِي السَّنَةِ الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ لِلْهِجْرَةِ، وَكَانَ هَمُّهُ إِطْفَاءَ فِتْنَةِ الْمُرْتَدِّينَ وَمَانِعِي الزَّكَاةِ ثُمَّ تَوْجِيهَ الْجُيُوشِ الإِْسْلاَمِيَّةِ إِلَى الرُّومِ وَالْفُرْسِ، وَمِنْهُمْ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَبُو مُوسَى الأَْشْعَرِيُّ وَغَيْرُهُمْ، بِحَيْثُ لَوْ جُمِعَتْ فَتَاوِيهِمْ لَبَلَغَتْ كُرَّاسَةً أَوْ كُرَّاسَتَيْنِ.

Jika fatwa-fatwa masing-masing dari mereka dikumpulkan, niscaya akan menjadi sebuah karya yang sangat besar. Di antara mereka ada pula yang tergolong pertengahan dalam banyaknya fatwa, seperti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sedikitnya riwayat fatwa yang dinukil darinya dibandingkan dengan orang-orang yang datang sesudahnya hanyalah karena kehidupannya setelah wafatnya Rasulullah tidak berlangsung lama. Beliau wafat pada tahun ketiga belas Hijriah.

Perhatian utama beliau adalah memadamkan fitnah orang-orang murtad dan orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat, kemudian mengarahkan pasukan-pasukan Islam menuju wilayah Romawi dan Persia.

Di antara mereka juga terdapat Utsman radhiyallahu ‘anhu, Abu Musa al-Asy‘ari, dan yang lainnya. Sekiranya fatwa-fatwa mereka dikumpulkan, niscaya jumlahnya hanya mencapai satu atau dua buku tipis (kurrāsah).

وَهُنَاكَ مَنْ أُثِرَ عَنْهُ الْفَتْوَى فِي مَسْأَلَةٍ أَوْ مَسْأَلَتَيْنِ أَوْ ثَلاَثٍ. وَكَانَ مِنْهُمْ مَنْ يَعْتَمِدُ فِي اجْتِهَادِهِ عَلَى رُوحِ التَّشْرِيعِ مَتَى سَاعَدَتْهُ النُّصُوصُ. وَيُعْتَبَرُ إِمَامُ هَذَا الْمَذْهَبِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ثُمَّ تِلْمِيذُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ. وَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ يَلْتَزِمُ الْحَرْفِيَّةَ، كَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.

Ada pula di antara mereka yang dinukil darinya fatwa hanya dalam satu, dua, atau tiga persoalan.

Di antara mereka terdapat orang yang dalam berijtihad berpegang pada semangat dan tujuan pensyariatan, selama dalil-dalil yang ada mendukungnya. Tokoh utama dalam mazhab pemikiran ini adalah Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, kemudian muridnya, Abdullah bin Mas‘ud.

Di antara mereka ada pula yang berpegang secara tekstual dan harfiah terhadap nash, seperti Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.

وَفِي صَدْرِ هَذَا الْعَهْدِ، وَبِالتَّحْدِيدِ فِي عَهْدِ الشَّيْخَيْنِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا جَدَّ مَصْدَرٌ ثَالِثٌ سِوَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ كَانَ مَرْجِعًا لِمَنْ جَاءَ بَعْدَهُمَا، أَلاَ وَهُوَ الإِْجْمَاعُ، فَقَدْ كَانَ إِذَا نَزَلَتِ الْحَادِثَةُ يَسْتَدْعِي الْخَلِيفَةُ مَنْ عُرِفُوا بِالتَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ، وَكَانُوا مَعْرُوفِينَ مَشْهُورِينَ مَحْصُورِينَ فِيمَا بَيْنَهُمْ، فَيَعْرِضُ عَلَيْهِمْ الأَْمْرَ، فَإِنْ اتَّفَقُوا عَلَى رَأْيٍ كَانَ ذَلِكَ إِجْمَاعًا لاَ يَسُوغُ لِمَنْ جَاءَ بَعْدَهُمْ أَنْ يُخَالِفُوهُ.

Pada awal periode ini, tepatnya pada masa dua khalifah, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, muncul sumber hukum ketiga selain Al-Qur’an dan Sunnah yang kemudian menjadi rujukan bagi orang-orang yang datang setelah keduanya, yaitu ijmak.

Apabila terjadi suatu peristiwa atau persoalan baru, khalifah akan memanggil orang-orang yang dikenal memiliki pemahaman mendalam dalam agama. Mereka adalah orang-orang yang telah dikenal, masyhur, dan jumlahnya terbatas di kalangan mereka. Kemudian khalifah menyampaikan persoalan tersebut kepada mereka.

Apabila mereka sepakat atas satu pendapat, maka kesepakatan tersebut menjadi ijmak, yang menurut pandangan penulis tidak dibenarkan bagi orang yang datang setelah mereka untuk menyelisihinya.

وَمَهْمَا شَكَّكَ الْمُشَكِّكُونَ فِي حُجِّيَّةِ الإِْجْمَاعِ أَوْ إِمْكَانِهِ فَقَدْ وَقَعَ، وَلاَ سَبِيل إِلَى إِنْكَارِهِ، كَإِجْمَاعِهِمْ عَلَى تَوْرِيثِ الْجَدَّةِ الصَّحِيحَةِ السُّدُسَ إِذَا انْفَرَدَتْ، وَاشْتِرَاكِ الْجَدَّاتِ فِيهِ إِذَا تَعَدَّدْنَ، وَكَإِجْمَاعِهِمْ عَلَى حُرْمَةِ تَزْوِيجِ الْمُسْلِمَةِ لِلْكِتَابِيِّ مَعَ حِل تَزَوُّجِ الْمُسْلِمِ لِلْكِتَابِيَّةِ. وَكَإِجْمَاعِهِمْ عَلَى جَمْعِ الْقُرْآنِ فِي الْمَصَاحِفِ، وَلَمْ يَكُنْ الأَْمْرُ كَذَلِكَ فِي عَهْدِ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَسَائِل الْمُجْمَعِ عَلَيْهَا.

Bagaimanapun para pihak yang meragukan kehujahan ijmak atau kemungkinan terjadinya ijmak berusaha menimbulkan keraguan, pada kenyataannya ijmak telah terjadi dan tidak ada jalan untuk mengingkarinya. Di antaranya adalah kesepakatan mereka untuk memberikan bagian warisan seperenam kepada nenek yang sahih apabila ia seorang diri, dan apabila nenek lebih dari satu, mereka bersama-sama mendapatkan bagian seperenam tersebut.

Demikian pula kesepakatan mereka mengenai keharaman menikahkan perempuan Muslimah dengan laki-laki Ahli Kitab, sementara laki-laki Muslim diperbolehkan menikahi perempuan Ahli Kitab.

Di antaranya juga kesepakatan mereka untuk menghimpun Al-Qur’an dalam mushaf-mushaf, padahal hal tersebut belum dilakukan dengan cara demikian pada masa Rasulullah , serta berbagai persoalan lain yang telah disepakati.

وَدَعْوَى الإِْجْمَاعِ بَعْدَ عَهْدِ الشَّيْخَيْنِ دَعْوَى تَفْتَقِرُ إِلَى دَلِيلٍ؛ لأَِنَّ الْمُجْتَهِدِينَ مِنْ الصَّحَابَةِ قَدْ انْتَشَرُوا فِي الآْفَاقِ وَتَفَرَّقُوا فِي الأَْمْصَارِ، وَغَايَةُ مَا يَسْتَطِيعُ الْفَقِيهُ أَنْ يَقُول: لاَ أَعْلَمُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ خِلاَفًا.

Adapun klaim adanya ijmak setelah masa dua khalifah, Abu Bakar dan Umar, merupakan klaim yang membutuhkan bukti. Sebab, para sahabat yang memiliki kemampuan berijtihad telah tersebar ke berbagai penjuru dan berpencar di berbagai negeri.

Maksimal yang dapat dikatakan oleh seorang faqih adalah: “Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam persoalan ini.”

وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ أَنَّ الْقَوْل بِأَنَّ الإِْمَامَ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ أَنْكَرَ الإِْجْمَاعَ قَوْلٌ عَارٍ عَنْ الصِّحَّةِ، فَغَايَةُ مَا نُقِل عَنْهُ أَنَّهُ قَال: مَنْ ادَّعَى الإِْجْمَاعَ فَهُوَ كَاذِبٌ، فَإِنَّهُ يُرِيدُ الإِْجْمَاعَ بَعْدَ عَهْدِ الشَّيْخَيْنِ.

Dari sini menjadi jelas bahwa pernyataan yang mengatakan Imam Ahmad bin Hanbal mengingkari ijmak adalah pendapat yang tidak benar. Yang paling jauh dapat dinukil dari beliau adalah perkataannya:

“Barang siapa mengklaim adanya ijmak, maka ia adalah seorang pendusta.”

Yang beliau maksud adalah klaim ijmak yang terjadi setelah masa dua khalifah, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.

وَفِي هَذَا الْعَهْدِ لَمْ يُدَوَّنْ إِلاَّ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ أَيْضًا، وَكَانَتِ السُّنَّةُ وَفَتَاوَى الصَّحَابَةِ فِي الْمَسَائِل الْمُسْتَحْدَثَةِ تُنْقَل حِفْظًا فِي الصُّدُورِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ أَنَّ الْبَعْضَ كَانَ يُدَوِّنُ بَعْضَ هَذِهِ الأُْمُورِ لِنَفْسِهِ لِتَكُونَ تَذْكِرَةً لَهُ.

Pada periode ini juga tidak dibukukan selain Al-Qur’an al-Karim. Adapun Sunnah dan fatwa-fatwa para sahabat mengenai persoalan-persoalan baru, semuanya diriwayatkan melalui hafalan dalam dada (ingatan).

Hanya saja, sebagian sahabat mencatat beberapa hal tersebut untuk dirinya sendiri, agar menjadi pengingat bagi mereka.

وَفِي آخِرِ عَهْدِ الصَّحَابَةِ أَطَلَّتِ الْفِتْنَةُ بِقَرْنَيْهَا بِقَتْل الْخَلِيفَةِ ذِي النُّورَيْنِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، ثُمَّ تِلْكَ الأَْحْدَاثُ الْعِظَامُ الَّتِي وَقَعَتْ فِي عَهْدِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَكَانَ مَا كَانَ مِنْ وُجُودِ الْفُرْقَةِ الَّتِي لاَ زِلْنَا نَكْتَوِي بِنَارِهَا إِلَى الْيَوْمِ. وَبَدَأَ بَعْضُ الْمُتَعَصِّبِينَ يُسَوِّغُونَ آرَاءَهُمْ بِوَضْعِ أَحَادِيثَ يَرْفَعُونَهَا إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ إِلَى كِبَارِ الصَّحَابَةِ، وَلَمْ يَكُنْ هَؤُلاَءِ الْمُتَعَصِّبُونَ مِنْ الصَّحَابَةِ بَل كَانُوا مِنْ الطَّبَقَةِ التَّالِيَةِ الَّذِينَ كَانُوا حَدِيثِي عَهْدٍ بِالإِْسْلاَمِ.

Pada akhir masa sahabat, fitnah mulai menampakkan kedua tanduknya dengan terbunuhnya khalifah Dzu an-Nurain, Utsman radhiyallahu ‘anhu, kemudian disusul berbagai peristiwa besar yang terjadi pada masa Ali radhiyallahu ‘anhu. Setelah itu terjadilah perpecahan yang hingga hari ini kita masih merasakan dampak buruknya.

Sebagian orang yang fanatik mulai berusaha membenarkan pendapat-pendapat mereka dengan membuat hadis-hadis palsu yang mereka nisbatkan kepada Rasulullah atau kepada para sahabat senior.

Orang-orang fanatik tersebut bukanlah dari kalangan sahabat, melainkan berasal dari generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang baru masuk Islam dan belum lama mengenal Islam.

وَفِي هَذَا الْعَهْدِ لَمْ يَتَأَثَّرْ الْفِقْهُ بِالْقَوَانِينِ الرُّومَانِيَّةِ أَوِ الْفَارِسِيَّةِ. وَإِذَا كَانَ الصَّحَابَةُ قَدْ اقْتَبَسُوا بَعْضَ التَّنْظِيمَاتِ الإِْدَارِيَّةِ مِنْ هَؤُلاَءِ أَوْ أُولَئِكَ، فَلَيْسَ مَعْنَى هَذَا أَنَّهُمْ خَرَجُوا عَنْ الْخَطِّ الْمَرْسُومِ، وَهُوَ رَدُّ الأَْحْكَامِ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِمَّا بِطَرِيقٍ مُبَاشِرٍ، وَإِمَّا بِطَرِيقِ الإِْجْمَاعِ أَوِ الْقِيَاسِ أَوِ الاِسْتِصْلاَحِ، فَقَدْ أَبْطَل الْمُسْلِمُونَ أَعْرَافًا كَانَتْ شَائِعَةً فِي الْبِلاَدِ الْمَفْتُوحَةِ لأَِنَّهَا تُخَالِفُ التَّشْرِيعَ الإِْسْلاَمِيَّ نَصًّا وَرُوحًا.

Pada masa ini, fikih tidak terpengaruh oleh hukum-hukum Romawi maupun Persia. Jika para sahabat mengambil atau mengadopsi sebagian sistem administrasi dari bangsa-bangsa tersebut, hal itu tidak berarti bahwa mereka keluar dari garis yang telah ditetapkan, yaitu mengembalikan hukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya , baik secara langsung maupun melalui ijmak, qiyas, atau istishlah.

Para sahabat juga membatalkan berbagai adat kebiasaan yang telah berlaku di negeri-negeri yang ditaklukkan, karena adat-adat tersebut bertentangan dengan syariat Islam, baik secara tekstual maupun dari segi semangat dan tujuannya.

Baca juga:

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Pertama: Masa Kenabian

Perbedaan antara Fikih Islam danFikih Positif (Hukum Buatan Manusia)

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahapan Ketiga: Masa Tabiin

الطَّوْرُ الثَّانِي: عَهْدُ الصَّحَابَةِ:

Tahap Kedua : Masa Sahabat

١٥ - وَهَذَا الْعَهْدُ يَتَمَيَّزُ بِكَثْرَةِ الأَْحْدَاثِ الَّتِي جَدَّتْ بَعْدَ عَهْدِ النُّبُوَّةِ، لِكَثْرَةِ الْفُتُوحَاتِ وَاخْتِلاَطِ الْمُسْلِمِينَ بِغَيْرِهِمْ مِنْ الأُْمَمِ الَّتِي لَهَا أَعْرَافٌ لَمْ تَكُنْ مَعْرُوفَةً عِنْدَ الْعَرَبِ. وَلاَ بُدَّ مِنْ مَعْرِفَةِ حُكْمِ اللَّهِ فِي هَذِهِ الْحَوَادِثِ الْجَدِيدَةِ؛ لأَِنَّهُ - كَمَا كَرَّرْنَا مِرَارًا - لَيْسَ هُنَاكَ حَادِثَةٌ إِلاَّ وَلَهَا حُكْمٌ شَرْعِيٌّ. وَكَانَ هَذَا الْعَهْدُ يَتَمَيَّزُ بِوُجُودِ صَحَابَةٍ عُرِفُوا بِالْفِقْهِ، فَكَانَ يُرْجَعُ إِلَيْهِمْ إِذَا نَزَلَتِ الْحَوَادِثُ. وَكَانَ مِنْهُمْ الْمُكْثِرُونَ لِلْفُتْيَا وَهُمْ لاَ يَتَجَاوَزُونَ ثَلاَثَةَ عَشَرَ شَخْصًا. نَذْكُرُ مِنْهُمْ: عُمَرَ وَعَلِيًّا وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ وَعَائِشَةَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ وَمُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ إِلَخْ. رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ جَمِيعًا.

15 - Masa ini ditandai dengan banyaknya peristiwa baru yang muncul setelah masa kenabian, karena banyaknya penaklukan dan bercampurnya kaum Muslimin dengan bangsa-bangsa lain yang memiliki adat kebiasaan yang sebelumnya tidak dikenal oleh bangsa Arab.

Oleh karena itu, perlu diketahui hukum Allah mengenai berbagai peristiwa baru tersebut, karena sebagaimana telah berulang kali kami tegaskan, tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi kecuali memiliki hukum syariat.

Masa ini juga ditandai dengan adanya sejumlah sahabat yang dikenal memiliki pemahaman mendalam dalam fikih, sehingga mereka dijadikan rujukan ketika muncul berbagai persoalan. Di antara mereka terdapat para sahabat yang banyak memberikan fatwa, dan jumlah mereka tidak lebih dari tiga belas orang.

Di antara mereka adalah: ‘Umar, ‘Ali, Zaid bin Tsabit, ‘Aisyah, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Abbas, Mu‘adz bin Jabal, ‘Abdullah bin Mas‘ud, dan lain-lain. Semoga Allah meridai mereka semua.

وَلَوْ جُمِعَتْ فَتَاوَى كُل وَاحِدٍ مِنْهُمْ لَكَانَتْ سِفْرًا عَظِيمًا. وَمِنْهُمْ الْمُتَوَسِّطُونَ كَأَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. وَإِنَّمَا قَل مَا نُقِل عَنْهُ عَمَّنْ جَاءَ بَعْدَهُ لأَِنَّهُ لَمْ تَطُل حَيَاتُهُ بَعْدَ وَفَاةِ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ مَاتَ فِي السَّنَةِ الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ لِلْهِجْرَةِ، وَكَانَ هَمُّهُ إِطْفَاءَ فِتْنَةِ الْمُرْتَدِّينَ وَمَانِعِي الزَّكَاةِ ثُمَّ تَوْجِيهَ الْجُيُوشِ الإِْسْلاَمِيَّةِ إِلَى الرُّومِ وَالْفُرْسِ، وَمِنْهُمْ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَبُو مُوسَى الأَْشْعَرِيُّ وَغَيْرُهُمْ، بِحَيْثُ لَوْ جُمِعَتْ فَتَاوِيهِمْ لَبَلَغَتْ كُرَّاسَةً أَوْ كُرَّاسَتَيْنِ.

Jika fatwa-fatwa masing-masing dari mereka dikumpulkan, niscaya akan menjadi sebuah karya yang sangat besar. Di antara mereka ada pula yang tergolong pertengahan dalam banyaknya fatwa, seperti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Sedikitnya riwayat fatwa yang dinukil darinya dibandingkan dengan orang-orang yang datang sesudahnya hanyalah karena kehidupannya setelah wafatnya Rasulullah tidak berlangsung lama. Beliau wafat pada tahun ketiga belas Hijriah.

Perhatian utama beliau adalah memadamkan fitnah orang-orang murtad dan orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat, kemudian mengarahkan pasukan-pasukan Islam menuju wilayah Romawi dan Persia.

Di antara mereka juga terdapat Utsman radhiyallahu ‘anhu, Abu Musa al-Asy‘ari, dan yang lainnya. Sekiranya fatwa-fatwa mereka dikumpulkan, niscaya jumlahnya hanya mencapai satu atau dua buku tipis (kurrāsah).

وَهُنَاكَ مَنْ أُثِرَ عَنْهُ الْفَتْوَى فِي مَسْأَلَةٍ أَوْ مَسْأَلَتَيْنِ أَوْ ثَلاَثٍ. وَكَانَ مِنْهُمْ مَنْ يَعْتَمِدُ فِي اجْتِهَادِهِ عَلَى رُوحِ التَّشْرِيعِ مَتَى سَاعَدَتْهُ النُّصُوصُ. وَيُعْتَبَرُ إِمَامُ هَذَا الْمَذْهَبِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ثُمَّ تِلْمِيذُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ. وَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ يَلْتَزِمُ الْحَرْفِيَّةَ، كَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا.

Ada pula di antara mereka yang dinukil darinya fatwa hanya dalam satu, dua, atau tiga persoalan.

Di antara mereka terdapat orang yang dalam berijtihad berpegang pada semangat dan tujuan pensyariatan, selama dalil-dalil yang ada mendukungnya. Tokoh utama dalam mazhab pemikiran ini adalah Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, kemudian muridnya, Abdullah bin Mas‘ud.

Di antara mereka ada pula yang berpegang secara tekstual dan harfiah terhadap nash, seperti Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.

وَفِي صَدْرِ هَذَا الْعَهْدِ، وَبِالتَّحْدِيدِ فِي عَهْدِ الشَّيْخَيْنِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا جَدَّ مَصْدَرٌ ثَالِثٌ سِوَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ كَانَ مَرْجِعًا لِمَنْ جَاءَ بَعْدَهُمَا، أَلاَ وَهُوَ الإِْجْمَاعُ، فَقَدْ كَانَ إِذَا نَزَلَتِ الْحَادِثَةُ يَسْتَدْعِي الْخَلِيفَةُ مَنْ عُرِفُوا بِالتَّفَقُّهِ فِي الدِّينِ، وَكَانُوا مَعْرُوفِينَ مَشْهُورِينَ مَحْصُورِينَ فِيمَا بَيْنَهُمْ، فَيَعْرِضُ عَلَيْهِمْ الأَْمْرَ، فَإِنْ اتَّفَقُوا عَلَى رَأْيٍ كَانَ ذَلِكَ إِجْمَاعًا لاَ يَسُوغُ لِمَنْ جَاءَ بَعْدَهُمْ أَنْ يُخَالِفُوهُ.

Pada awal periode ini, tepatnya pada masa dua khalifah, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, muncul sumber hukum ketiga selain Al-Qur’an dan Sunnah yang kemudian menjadi rujukan bagi orang-orang yang datang setelah keduanya, yaitu ijmak.

Apabila terjadi suatu peristiwa atau persoalan baru, khalifah akan memanggil orang-orang yang dikenal memiliki pemahaman mendalam dalam agama. Mereka adalah orang-orang yang telah dikenal, masyhur, dan jumlahnya terbatas di kalangan mereka. Kemudian khalifah menyampaikan persoalan tersebut kepada mereka.

Apabila mereka sepakat atas satu pendapat, maka kesepakatan tersebut menjadi ijmak, yang menurut pandangan penulis tidak dibenarkan bagi orang yang datang setelah mereka untuk menyelisihinya.

وَمَهْمَا شَكَّكَ الْمُشَكِّكُونَ فِي حُجِّيَّةِ الإِْجْمَاعِ أَوْ إِمْكَانِهِ فَقَدْ وَقَعَ، وَلاَ سَبِيل إِلَى إِنْكَارِهِ، كَإِجْمَاعِهِمْ عَلَى تَوْرِيثِ الْجَدَّةِ الصَّحِيحَةِ السُّدُسَ إِذَا انْفَرَدَتْ، وَاشْتِرَاكِ الْجَدَّاتِ فِيهِ إِذَا تَعَدَّدْنَ، وَكَإِجْمَاعِهِمْ عَلَى حُرْمَةِ تَزْوِيجِ الْمُسْلِمَةِ لِلْكِتَابِيِّ مَعَ حِل تَزَوُّجِ الْمُسْلِمِ لِلْكِتَابِيَّةِ. وَكَإِجْمَاعِهِمْ عَلَى جَمْعِ الْقُرْآنِ فِي الْمَصَاحِفِ، وَلَمْ يَكُنْ الأَْمْرُ كَذَلِكَ فِي عَهْدِ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْمَسَائِل الْمُجْمَعِ عَلَيْهَا.

Bagaimanapun para pihak yang meragukan kehujahan ijmak atau kemungkinan terjadinya ijmak berusaha menimbulkan keraguan, pada kenyataannya ijmak telah terjadi dan tidak ada jalan untuk mengingkarinya. Di antaranya adalah kesepakatan mereka untuk memberikan bagian warisan seperenam kepada nenek yang sahih apabila ia seorang diri, dan apabila nenek lebih dari satu, mereka bersama-sama mendapatkan bagian seperenam tersebut.

Demikian pula kesepakatan mereka mengenai keharaman menikahkan perempuan Muslimah dengan laki-laki Ahli Kitab, sementara laki-laki Muslim diperbolehkan menikahi perempuan Ahli Kitab.

Di antaranya juga kesepakatan mereka untuk menghimpun Al-Qur’an dalam mushaf-mushaf, padahal hal tersebut belum dilakukan dengan cara demikian pada masa Rasulullah , serta berbagai persoalan lain yang telah disepakati.

وَدَعْوَى الإِْجْمَاعِ بَعْدَ عَهْدِ الشَّيْخَيْنِ دَعْوَى تَفْتَقِرُ إِلَى دَلِيلٍ؛ لأَِنَّ الْمُجْتَهِدِينَ مِنْ الصَّحَابَةِ قَدْ انْتَشَرُوا فِي الآْفَاقِ وَتَفَرَّقُوا فِي الأَْمْصَارِ، وَغَايَةُ مَا يَسْتَطِيعُ الْفَقِيهُ أَنْ يَقُول: لاَ أَعْلَمُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ خِلاَفًا.

Adapun klaim adanya ijmak setelah masa dua khalifah, Abu Bakar dan Umar, merupakan klaim yang membutuhkan bukti. Sebab, para sahabat yang memiliki kemampuan berijtihad telah tersebar ke berbagai penjuru dan berpencar di berbagai negeri.

Maksimal yang dapat dikatakan oleh seorang faqih adalah: “Aku tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dalam persoalan ini.”

وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ أَنَّ الْقَوْل بِأَنَّ الإِْمَامَ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ أَنْكَرَ الإِْجْمَاعَ قَوْلٌ عَارٍ عَنْ الصِّحَّةِ، فَغَايَةُ مَا نُقِل عَنْهُ أَنَّهُ قَال: مَنْ ادَّعَى الإِْجْمَاعَ فَهُوَ كَاذِبٌ، فَإِنَّهُ يُرِيدُ الإِْجْمَاعَ بَعْدَ عَهْدِ الشَّيْخَيْنِ.

Dari sini menjadi jelas bahwa pernyataan yang mengatakan Imam Ahmad bin Hanbal mengingkari ijmak adalah pendapat yang tidak benar. Yang paling jauh dapat dinukil dari beliau adalah perkataannya:

“Barang siapa mengklaim adanya ijmak, maka ia adalah seorang pendusta.”

Yang beliau maksud adalah klaim ijmak yang terjadi setelah masa dua khalifah, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.

وَفِي هَذَا الْعَهْدِ لَمْ يُدَوَّنْ إِلاَّ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ أَيْضًا، وَكَانَتِ السُّنَّةُ وَفَتَاوَى الصَّحَابَةِ فِي الْمَسَائِل الْمُسْتَحْدَثَةِ تُنْقَل حِفْظًا فِي الصُّدُورِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ أَنَّ الْبَعْضَ كَانَ يُدَوِّنُ بَعْضَ هَذِهِ الأُْمُورِ لِنَفْسِهِ لِتَكُونَ تَذْكِرَةً لَهُ.

Pada periode ini juga tidak dibukukan selain Al-Qur’an al-Karim. Adapun Sunnah dan fatwa-fatwa para sahabat mengenai persoalan-persoalan baru, semuanya diriwayatkan melalui hafalan dalam dada (ingatan).

Hanya saja, sebagian sahabat mencatat beberapa hal tersebut untuk dirinya sendiri, agar menjadi pengingat bagi mereka.

وَفِي آخِرِ عَهْدِ الصَّحَابَةِ أَطَلَّتِ الْفِتْنَةُ بِقَرْنَيْهَا بِقَتْل الْخَلِيفَةِ ذِي النُّورَيْنِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، ثُمَّ تِلْكَ الأَْحْدَاثُ الْعِظَامُ الَّتِي وَقَعَتْ فِي عَهْدِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَكَانَ مَا كَانَ مِنْ وُجُودِ الْفُرْقَةِ الَّتِي لاَ زِلْنَا نَكْتَوِي بِنَارِهَا إِلَى الْيَوْمِ. وَبَدَأَ بَعْضُ الْمُتَعَصِّبِينَ يُسَوِّغُونَ آرَاءَهُمْ بِوَضْعِ أَحَادِيثَ يَرْفَعُونَهَا إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ إِلَى كِبَارِ الصَّحَابَةِ، وَلَمْ يَكُنْ هَؤُلاَءِ الْمُتَعَصِّبُونَ مِنْ الصَّحَابَةِ بَل كَانُوا مِنْ الطَّبَقَةِ التَّالِيَةِ الَّذِينَ كَانُوا حَدِيثِي عَهْدٍ بِالإِْسْلاَمِ.

Pada akhir masa sahabat, fitnah mulai menampakkan kedua tanduknya dengan terbunuhnya khalifah Dzu an-Nurain, Utsman radhiyallahu ‘anhu, kemudian disusul berbagai peristiwa besar yang terjadi pada masa Ali radhiyallahu ‘anhu. Setelah itu terjadilah perpecahan yang hingga hari ini kita masih merasakan dampak buruknya.

Sebagian orang yang fanatik mulai berusaha membenarkan pendapat-pendapat mereka dengan membuat hadis-hadis palsu yang mereka nisbatkan kepada Rasulullah atau kepada para sahabat senior.

Orang-orang fanatik tersebut bukanlah dari kalangan sahabat, melainkan berasal dari generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang baru masuk Islam dan belum lama mengenal Islam.

وَفِي هَذَا الْعَهْدِ لَمْ يَتَأَثَّرْ الْفِقْهُ بِالْقَوَانِينِ الرُّومَانِيَّةِ أَوِ الْفَارِسِيَّةِ. وَإِذَا كَانَ الصَّحَابَةُ قَدْ اقْتَبَسُوا بَعْضَ التَّنْظِيمَاتِ الإِْدَارِيَّةِ مِنْ هَؤُلاَءِ أَوْ أُولَئِكَ، فَلَيْسَ مَعْنَى هَذَا أَنَّهُمْ خَرَجُوا عَنْ الْخَطِّ الْمَرْسُومِ، وَهُوَ رَدُّ الأَْحْكَامِ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِمَّا بِطَرِيقٍ مُبَاشِرٍ، وَإِمَّا بِطَرِيقِ الإِْجْمَاعِ أَوِ الْقِيَاسِ أَوِ الاِسْتِصْلاَحِ، فَقَدْ أَبْطَل الْمُسْلِمُونَ أَعْرَافًا كَانَتْ شَائِعَةً فِي الْبِلاَدِ الْمَفْتُوحَةِ لأَِنَّهَا تُخَالِفُ التَّشْرِيعَ الإِْسْلاَمِيَّ نَصًّا وَرُوحًا.

Pada masa ini, fikih tidak terpengaruh oleh hukum-hukum Romawi maupun Persia. Jika para sahabat mengambil atau mengadopsi sebagian sistem administrasi dari bangsa-bangsa tersebut, hal itu tidak berarti bahwa mereka keluar dari garis yang telah ditetapkan, yaitu mengembalikan hukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya , baik secara langsung maupun melalui ijmak, qiyas, atau istishlah.

Para sahabat juga membatalkan berbagai adat kebiasaan yang telah berlaku di negeri-negeri yang ditaklukkan, karena adat-adat tersebut bertentangan dengan syariat Islam, baik secara tekstual maupun dari segi semangat dan tujuannya.

Baca juga:

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Pertama: Masa Kenabian

Perbedaan antara Fikih Islam danFikih Positif (Hukum Buatan Manusia)

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahapan Ketiga: Masa Tabiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Kedua : Masa Sahabat

الطَّوْرُ الثَّانِي: عَهْدُ الصَّحَابَةِ : Tahap Kedua : Masa Sahabat ١٥ - وَهَذَا الْعَهْدُ يَتَمَيَّزُ بِكَثْرَةِ الأَْحْدَاثِ الَ...