Pendahuluan
Dalam pembahasan mengenai keazalian
alam, Imam Al-Ghazali terus menelusuri konsekuensi logis dari pendapat para
filsuf. Setelah mereka menjawab bahwa bilangan tak berhingga tidak dapat
disebut genap atau ganjil, kini mereka mengajukan keberatan baru. Menurut
mereka, jumlah putaran langit pada masa lampau sebenarnya bukanlah suatu
kumpulan yang nyata, sebab seluruh putaran itu telah berlalu dan tidak lagi
ada.
Imam Al-Ghazali menolak alasan
tersebut. Beliau menjelaskan bahwa sifat-sifat bilangan tidak bergantung pada
masih adanya benda atau peristiwa yang dihitung. Walaupun objek yang dihitung
telah lenyap, jumlahnya tetap dapat dipahami sebagai bilangan yang memiliki
sifat-sifat tertentu. Melalui jawaban ini, Al-Ghazali kembali menunjukkan
pentingnya membedakan antara keberadaan objek dan konsep bilangan
dalam sebuah argumentasi.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Jawaban
Mereka: Tidak Ada Kumpulan Bilangan di Sana
Apabila mereka berkata:
"Letak kekeliruan kalian adalah
ketika mengatakan bahwa terdapat suatu kumpulan yang tersusun dari
satuan-satuan.
Padahal putaran-putaran langit itu
sudah tidak ada lagi.
Yang telah berlalu telah lenyap.
Sedangkan yang akan datang belum
ada.
Adapun istilah 'kumpulan' hanya
menunjuk kepada sesuatu yang benar-benar ada pada saat ini.
Sementara di sini tidak ada sesuatu
yang sedang ada."
Jawaban kami:
Tidak mengapa.
Bilangan tetap terbagi menjadi genap
dan ganjil.
Mustahil sebuah bilangan keluar dari
dua kategori tersebut, baik objek yang dihitung masih ada maupun sudah tidak
ada.
Misalnya, apabila kita membayangkan
sejumlah ekor kuda, maka kita pasti meyakini bahwa jumlahnya tidak mungkin
lepas dari sifat genap atau ganjil.
Hal itu tetap berlaku, baik kita
membayangkan kuda-kuda tersebut masih ada maupun sudah musnah.
Apabila kuda-kuda itu telah lenyap
setelah sebelumnya ada, maka kenyataan bahwa jumlahnya termasuk genap atau
ganjil sama sekali tidak berubah.
Artikel Pengembangan
Keberatan
Baru dari Para Filsuf
Untuk menjawab kritik Al-Ghazali,
para filsuf mengubah arah pembahasan.
Mereka mengatakan bahwa
putaran-putaran langit yang telah berlalu sebenarnya sudah tidak ada lagi.
Karena itu, menurut mereka, tidak masuk
akal berbicara tentang "jumlah seluruh putaran" seolah-olah semuanya
hadir sebagai satu kumpulan.
Dengan kata lain, mereka membedakan
antara sesuatu yang masih ada dengan sesuatu yang telah berlalu.
Jawaban
Al-Ghazali: Bilangan Tidak Bergantung pada Keberadaan Objek
Imam Al-Ghazali menjawab bahwa yang
sedang dibahas bukanlah keberadaan fisik benda, melainkan jumlahnya.
Bilangan tetap merupakan bilangan
meskipun objek yang dihitung sudah tidak ada.
Sebagai contoh, seseorang dapat
mengatakan:
- "Di kandang itu dahulu ada sepuluh ekor
kuda."
Walaupun semua kuda tersebut telah
mati atau dijual, jumlahnya tetap sepuluh.
Bilangan itu tidak berubah hanya
karena objeknya sudah lenyap.
Membedakan
Objek dengan Bilangan
Di sinilah Al-Ghazali membuat
pembedaan penting.
Yang lenyap adalah bendanya.
Namun konsep bilangan yang
menunjukkan banyaknya benda tidak ikut lenyap.
Oleh sebab itu, menurut beliau,
alasan para filsuf bahwa putaran-putaran masa lalu sudah tidak ada tidak cukup
untuk menghilangkan persoalan mengenai jumlah putaran tersebut.
Metode
Ilzām Tetap Dipertahankan
Sebagaimana bagian-bagian
sebelumnya, Al-Ghazali tidak sedang membuktikan bahwa alam pasti diciptakan
pada suatu waktu melalui argumen ini saja.
Beliau sedang menunjukkan bahwa
jawaban-jawaban para filsuf belum berhasil menghilangkan keberatan logis yang
muncul dari teori mereka sendiri.
Metode seperti ini dikenal dalam
ilmu kalam sebagai ilzām, yaitu menguji konsistensi suatu pendapat
berdasarkan konsekuensinya sendiri.
Nilai
Filosofis Pembahasan
Perdebatan ini memperlihatkan bahwa
filsafat Islam klasik tidak hanya membahas persoalan akidah, tetapi juga
menyentuh konsep-konsep dasar dalam logika dan filsafat matematika.
Pertanyaan tentang hubungan antara
objek, jumlah, waktu, dan ketakberhinggaan menjadi bagian penting dalam diskusi
mengenai asal-usul alam semesta.
Melalui pembahasan ini, Al-Ghazali
menunjukkan bahwa persoalan metafisika tidak dapat dipisahkan dari ketelitian
dalam menggunakan konsep-konsep logis.
Hikmah
- Bilangan merupakan konsep yang berbeda dari keberadaan fisik
objek yang dihitung.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya membedakan
antara fakta dan konsep dalam berpikir logis.
- Menghilangnya suatu objek tidak otomatis menghilangkan
sifat-sifat matematis yang berkaitan dengannya.
- Argumentasi yang baik harus menjawab inti persoalan,
bukan hanya mengalihkan pembahasan kepada aspek lain.
- Metode ilzām membantu menguji apakah suatu teori
benar-benar konsisten dengan seluruh konsekuensinya.
- Ketelitian dalam menggunakan istilah merupakan salah
satu kunci utama dalam dialog ilmiah.
Penutup
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
membantah keberatan para filsuf yang menyatakan bahwa jumlah putaran langit
pada masa lalu tidak dapat disebut sebagai suatu bilangan karena seluruh
peristiwa tersebut telah berlalu. Menurut beliau, hilangnya objek yang dihitung
tidak menghilangkan konsep bilangannya. Sebagaimana jumlah kuda tetap dapat
disebut genap atau ganjil meskipun kuda-kuda itu telah tiada, demikian pula
jumlah peristiwa masa lalu tetap dapat dipahami sebagai bilangan. Melalui
argumentasi ini, Al-Ghazali kembali menegaskan bahwa suatu jawaban baru
dianggap memadai apabila benar-benar menyelesaikan persoalan logis yang
diperdebatkan, bukan sekadar memindahkan fokus pembahasannya.
Teks Arab :
قولهم ليست هنالك جملة آحاد
فإن قيل: محل الغلط في قولكم أنه جملة مركبة من آحاد،
فإن هذه الدورات معدومة. أما الماضي فقد انقرض وأما المستقبل فلم يوجد، والجملة
إشارة إلى موجودات حاضرة، ولا موجود هاهنا!.
قولنا لا بأس
قلنا: العدد ينقسم إلى الشفع والوتر ويستحيل أن يخرج عنه
سواء كان المعدود موجودًا باقيًا أو فانيًا. فإذا فرضنا عددًا من الأفراس لزمنا أن
نعتقد أنه لا يخلو من كونه شفعًا أو وترًا، سواء قدرناها موجودة أو معدمة. فإن
انعدمت بعد الوجود لم تتغير هذه القضية.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Membantah Keazalian Alam: Paradoks Jumlah Putaran Langityang Tak Berhingga
Pendahuluan
Dalam pembahasan mengenai keazalian
alam, Imam Al-Ghazali terus menelusuri konsekuensi logis dari pendapat para
filsuf. Setelah mereka menjawab bahwa bilangan tak berhingga tidak dapat
disebut genap atau ganjil, kini mereka mengajukan keberatan baru. Menurut
mereka, jumlah putaran langit pada masa lampau sebenarnya bukanlah suatu
kumpulan yang nyata, sebab seluruh putaran itu telah berlalu dan tidak lagi
ada.
Imam Al-Ghazali menolak alasan
tersebut. Beliau menjelaskan bahwa sifat-sifat bilangan tidak bergantung pada
masih adanya benda atau peristiwa yang dihitung. Walaupun objek yang dihitung
telah lenyap, jumlahnya tetap dapat dipahami sebagai bilangan yang memiliki
sifat-sifat tertentu. Melalui jawaban ini, Al-Ghazali kembali menunjukkan
pentingnya membedakan antara keberadaan objek dan konsep bilangan
dalam sebuah argumentasi.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Jawaban
Mereka: Tidak Ada Kumpulan Bilangan di Sana
Apabila mereka berkata:
"Letak kekeliruan kalian adalah
ketika mengatakan bahwa terdapat suatu kumpulan yang tersusun dari
satuan-satuan.
Padahal putaran-putaran langit itu
sudah tidak ada lagi.
Yang telah berlalu telah lenyap.
Sedangkan yang akan datang belum
ada.
Adapun istilah 'kumpulan' hanya
menunjuk kepada sesuatu yang benar-benar ada pada saat ini.
Sementara di sini tidak ada sesuatu
yang sedang ada."
Jawaban kami:
Tidak mengapa.
Bilangan tetap terbagi menjadi genap
dan ganjil.
Mustahil sebuah bilangan keluar dari
dua kategori tersebut, baik objek yang dihitung masih ada maupun sudah tidak
ada.
Misalnya, apabila kita membayangkan
sejumlah ekor kuda, maka kita pasti meyakini bahwa jumlahnya tidak mungkin
lepas dari sifat genap atau ganjil.
Hal itu tetap berlaku, baik kita
membayangkan kuda-kuda tersebut masih ada maupun sudah musnah.
Apabila kuda-kuda itu telah lenyap
setelah sebelumnya ada, maka kenyataan bahwa jumlahnya termasuk genap atau
ganjil sama sekali tidak berubah.
Artikel Pengembangan
Keberatan
Baru dari Para Filsuf
Untuk menjawab kritik Al-Ghazali,
para filsuf mengubah arah pembahasan.
Mereka mengatakan bahwa
putaran-putaran langit yang telah berlalu sebenarnya sudah tidak ada lagi.
Karena itu, menurut mereka, tidak masuk
akal berbicara tentang "jumlah seluruh putaran" seolah-olah semuanya
hadir sebagai satu kumpulan.
Dengan kata lain, mereka membedakan
antara sesuatu yang masih ada dengan sesuatu yang telah berlalu.
Jawaban
Al-Ghazali: Bilangan Tidak Bergantung pada Keberadaan Objek
Imam Al-Ghazali menjawab bahwa yang
sedang dibahas bukanlah keberadaan fisik benda, melainkan jumlahnya.
Bilangan tetap merupakan bilangan
meskipun objek yang dihitung sudah tidak ada.
Sebagai contoh, seseorang dapat
mengatakan:
- "Di kandang itu dahulu ada sepuluh ekor
kuda."
Walaupun semua kuda tersebut telah
mati atau dijual, jumlahnya tetap sepuluh.
Bilangan itu tidak berubah hanya
karena objeknya sudah lenyap.
Membedakan
Objek dengan Bilangan
Di sinilah Al-Ghazali membuat
pembedaan penting.
Yang lenyap adalah bendanya.
Namun konsep bilangan yang
menunjukkan banyaknya benda tidak ikut lenyap.
Oleh sebab itu, menurut beliau,
alasan para filsuf bahwa putaran-putaran masa lalu sudah tidak ada tidak cukup
untuk menghilangkan persoalan mengenai jumlah putaran tersebut.
Metode
Ilzām Tetap Dipertahankan
Sebagaimana bagian-bagian
sebelumnya, Al-Ghazali tidak sedang membuktikan bahwa alam pasti diciptakan
pada suatu waktu melalui argumen ini saja.
Beliau sedang menunjukkan bahwa
jawaban-jawaban para filsuf belum berhasil menghilangkan keberatan logis yang
muncul dari teori mereka sendiri.
Metode seperti ini dikenal dalam
ilmu kalam sebagai ilzām, yaitu menguji konsistensi suatu pendapat
berdasarkan konsekuensinya sendiri.
Nilai
Filosofis Pembahasan
Perdebatan ini memperlihatkan bahwa
filsafat Islam klasik tidak hanya membahas persoalan akidah, tetapi juga
menyentuh konsep-konsep dasar dalam logika dan filsafat matematika.
Pertanyaan tentang hubungan antara
objek, jumlah, waktu, dan ketakberhinggaan menjadi bagian penting dalam diskusi
mengenai asal-usul alam semesta.
Melalui pembahasan ini, Al-Ghazali
menunjukkan bahwa persoalan metafisika tidak dapat dipisahkan dari ketelitian
dalam menggunakan konsep-konsep logis.
Hikmah
- Bilangan merupakan konsep yang berbeda dari keberadaan fisik
objek yang dihitung.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan pentingnya membedakan
antara fakta dan konsep dalam berpikir logis.
- Menghilangnya suatu objek tidak otomatis menghilangkan
sifat-sifat matematis yang berkaitan dengannya.
- Argumentasi yang baik harus menjawab inti persoalan,
bukan hanya mengalihkan pembahasan kepada aspek lain.
- Metode ilzām membantu menguji apakah suatu teori
benar-benar konsisten dengan seluruh konsekuensinya.
- Ketelitian dalam menggunakan istilah merupakan salah
satu kunci utama dalam dialog ilmiah.
Penutup
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
membantah keberatan para filsuf yang menyatakan bahwa jumlah putaran langit
pada masa lalu tidak dapat disebut sebagai suatu bilangan karena seluruh
peristiwa tersebut telah berlalu. Menurut beliau, hilangnya objek yang dihitung
tidak menghilangkan konsep bilangannya. Sebagaimana jumlah kuda tetap dapat
disebut genap atau ganjil meskipun kuda-kuda itu telah tiada, demikian pula
jumlah peristiwa masa lalu tetap dapat dipahami sebagai bilangan. Melalui
argumentasi ini, Al-Ghazali kembali menegaskan bahwa suatu jawaban baru
dianggap memadai apabila benar-benar menyelesaikan persoalan logis yang
diperdebatkan, bukan sekadar memindahkan fokus pembahasannya.
Teks Arab :
قولهم ليست هنالك جملة آحاد
فإن قيل: محل الغلط في قولكم أنه جملة مركبة من آحاد،
فإن هذه الدورات معدومة. أما الماضي فقد انقرض وأما المستقبل فلم يوجد، والجملة
إشارة إلى موجودات حاضرة، ولا موجود هاهنا!.
قولنا لا بأس
قلنا: العدد ينقسم إلى الشفع والوتر ويستحيل أن يخرج عنه
سواء كان المعدود موجودًا باقيًا أو فانيًا. فإذا فرضنا عددًا من الأفراس لزمنا أن
نعتقد أنه لا يخلو من كونه شفعًا أو وترًا، سواء قدرناها موجودة أو معدمة. فإن
انعدمت بعد الوجود لم تتغير هذه القضية.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Membantah Keazalian Alam: Paradoks Jumlah Putaran Langityang Tak Berhingga

Tidak ada komentar:
Posting Komentar