Pendahuluan
Dalam pembahasan mengenai keazalian
alam, Imam Al-Ghazali terus menunjukkan bahwa para filsuf sering menggunakan
standar pembuktian yang tidak konsisten. Setelah mengkritik konsep jumlah
putaran langit yang tidak berhingga, beliau mengajukan contoh lain yang justru
berasal dari ajaran sebagian filsuf sendiri, yaitu keberadaan jiwa-jiwa
manusia yang tetap eksis setelah kematian.
Menurut Ibnu Sina dan sebagian besar
filsuf Peripatetik, jiwa manusia tidak binasa bersama jasad. Jika manusia terus
lahir dan meninggal sejak masa lampau tanpa awal, maka jumlah jiwa yang telah
berpisah dari badan menjadi tidak terbatas. Al-Ghazali memanfaatkan
konsekuensi ini untuk mempertanyakan konsistensi teori mereka: bagaimana
mungkin terdapat banyak entitas yang benar-benar ada, jumlahnya tidak
berhingga, tetapi tidak dapat dijelaskan sifat-sifat bilangannya?
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Contoh
dari Jiwa Manusia
Kami juga mengatakan kepada mereka:
Menurut prinsip kalian sendiri,
bukankah mungkin terdapat banyak wujud yang hadir, berbeda satu sama lain, dan
jumlahnya tidak mempunyai batas?
Yaitu jiwa-jiwa manusia yang telah
berpisah dari jasadnya karena kematian.
Semuanya merupakan wujud yang ada,
tetapi menurut kalian tidak dapat disifati sebagai bilangan genap maupun
ganjil.
Lalu, bagaimana kalian dapat menolak
orang yang berkata:
"Kebatilan pendapat seperti ini
diketahui secara pasti oleh akal."
Inilah pendapat mengenai jiwa yang
dipilih oleh Ibnu Sina, dan tampaknya juga merupakan pendapat Aristoteles.
Artikel Pengembangan
Al-Ghazali
Menggunakan Doktrin Para Filsuf Sendiri
Pada bagian ini Al-Ghazali tidak
lagi menggunakan contoh putaran langit.
Beliau berpindah kepada teori yang
justru dianut oleh sebagian besar filsuf Islam.
Menurut Ibnu Sina, jiwa manusia
merupakan substansi ruhani yang tetap ada setelah kematian dan tidak binasa
bersama tubuh.
Al-Ghazali menerima pendapat itu sebagai
asumsi dalam perdebatan, bukan sebagai pengakuan terhadap seluruh teori
filsafatnya.
Kemudian beliau menunjukkan
konsekuensi logis yang muncul darinya.
Jika
Alam Azali, Maka Jiwa Pun Tak Terhingga
Menurut teori para filsuf:
- alam tidak memiliki permulaan;
- manusia telah ada sejak masa lampau tanpa awal;
- setiap manusia memiliki jiwa yang tetap eksis setelah
mati.
Akibatnya, jumlah seluruh jiwa yang
telah berpisah dari jasad menjadi tak terhingga, dan semuanya masih
tetap ada pada saat ini.
Dengan demikian, persoalan tentang
bilangan tak berhingga tidak lagi hanya berkaitan dengan peristiwa masa lalu,
tetapi juga mengenai entitas yang benar-benar eksis sekarang.
Tantangan
terhadap Konsistensi Logika
Al-Ghazali kemudian mengajukan
pertanyaan sederhana namun tajam.
Apabila benar terdapat jiwa-jiwa
yang jumlahnya tidak terbatas dan semuanya tetap eksis, apakah kumpulan itu
termasuk bilangan genap atau ganjil?
Jika para filsuf menjawab bahwa
konsep genap dan ganjil tidak berlaku bagi jumlah yang tak berhingga, maka
menurut Al-Ghazali mereka kembali menghadapi kesulitan logis yang sama seperti
sebelumnya.
Beliau menggunakan contoh ini untuk
memperlihatkan bahwa persoalan ketakberhinggaan tidak dapat diselesaikan hanya
dengan mengubah objek pembahasannya.
Metode
Ilzām Kembali Digunakan
Sebagaimana pada bagian-bagian
sebelumnya, Al-Ghazali tidak sedang membangun dalil independen mengenai hakikat
jiwa.
Beliau menggunakan metode ilzām,
yaitu menguji suatu teori berdasarkan konsekuensi yang lahir dari teori itu
sendiri.
Karena contoh ini berasal dari
doktrin para filsuf, maka mereka dituntut untuk memberikan jawaban yang
konsisten sesuai dengan prinsip yang mereka pegang.
Catatan
Historis
Pernyataan Al-Ghazali bahwa
pandangan tersebut dipilih oleh Ibnu Sina dan tampaknya juga dianut Aristoteles
menunjukkan bahwa beliau sedang mengkritik tradisi filsafat Peripatetik (Mashsha'i).
Dalam sejarah filsafat, memang terdapat perbedaan penafsiran mengenai rincian
teori jiwa Aristoteles. Karena itu, penyebutan Aristoteles di sini perlu
dipahami sebagai penyandaran yang digunakan Al-Ghazali dalam konteks polemik
intelektual pada zamannya.
Hikmah
- Konsistensi merupakan ukuran penting dalam menilai
suatu teori.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa konsekuensi logis
dari suatu pendapat harus diuji secara menyeluruh.
- Dalam berdialog, menggunakan premis lawan secara
konsisten dapat menjadi metode kritik yang efektif.
- Persoalan metafisika menuntut ketelitian dalam
membedakan antara asumsi, konsekuensi, dan pembuktian.
- Ketakberhinggaan merupakan salah satu persoalan
filosofis yang telah diperdebatkan sejak masa klasik.
- Pencarian kebenaran memerlukan keberanian untuk menguji
teori sendiri sebagaimana menguji teori pihak lain.
Penutup
Melalui contoh jiwa-jiwa manusia
yang tetap eksis setelah kematian menurut teori Ibnu Sina dan para filsuf
Peripatetik, Imam Al-Ghazali kembali menunjukkan adanya konsekuensi logis yang
harus dijawab oleh mereka sendiri. Jika jumlah jiwa yang ada benar-benar tidak
terbatas, maka persoalan mengenai sifat-sifat bilangan tak berhingga tetap
muncul sebagaimana pada pembahasan putaran langit. Dengan metode ilzām,
Al-Ghazali menegaskan bahwa sebuah teori metafisika tidak cukup dibangun atas
asumsi yang menarik, tetapi juga harus mampu mempertahankan konsistensi logis
seluruh konsekuensinya.
Teks Arab :
أمر نفس الإنسان
على أنا نقول لهم: لا يستحيل على أصلكم موجودات حاضرة هي
آحاد متغايرة بالوصف ولا
نهاية لها وهي نفوس الآدميين المفارقة للأبدان بالموت،
فهي موجودات لا توصف بالشفع والوتر، فبم تنكرون على من يقول: بطلان هذا يعرف
ضرورة، وهذا الرأي في النفوس هو الذي اختاره ابن سينا ولعله مذهب رسطاليس.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Apakah Jumlah Peristiwa Masa LaluTetap Disebut Bilangan?
Imam Al-Ghazali Membantah Teori Jiwa Tunggal Plato: Benarkah Semua Jiwa
Berasal dari Satu Hakikat?
Pendahuluan
Dalam pembahasan mengenai keazalian
alam, Imam Al-Ghazali terus menunjukkan bahwa para filsuf sering menggunakan
standar pembuktian yang tidak konsisten. Setelah mengkritik konsep jumlah
putaran langit yang tidak berhingga, beliau mengajukan contoh lain yang justru
berasal dari ajaran sebagian filsuf sendiri, yaitu keberadaan jiwa-jiwa
manusia yang tetap eksis setelah kematian.
Menurut Ibnu Sina dan sebagian besar
filsuf Peripatetik, jiwa manusia tidak binasa bersama jasad. Jika manusia terus
lahir dan meninggal sejak masa lampau tanpa awal, maka jumlah jiwa yang telah
berpisah dari badan menjadi tidak terbatas. Al-Ghazali memanfaatkan
konsekuensi ini untuk mempertanyakan konsistensi teori mereka: bagaimana
mungkin terdapat banyak entitas yang benar-benar ada, jumlahnya tidak
berhingga, tetapi tidak dapat dijelaskan sifat-sifat bilangannya?
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Contoh
dari Jiwa Manusia
Kami juga mengatakan kepada mereka:
Menurut prinsip kalian sendiri,
bukankah mungkin terdapat banyak wujud yang hadir, berbeda satu sama lain, dan
jumlahnya tidak mempunyai batas?
Yaitu jiwa-jiwa manusia yang telah
berpisah dari jasadnya karena kematian.
Semuanya merupakan wujud yang ada,
tetapi menurut kalian tidak dapat disifati sebagai bilangan genap maupun
ganjil.
Lalu, bagaimana kalian dapat menolak
orang yang berkata:
"Kebatilan pendapat seperti ini
diketahui secara pasti oleh akal."
Inilah pendapat mengenai jiwa yang
dipilih oleh Ibnu Sina, dan tampaknya juga merupakan pendapat Aristoteles.
Artikel Pengembangan
Al-Ghazali
Menggunakan Doktrin Para Filsuf Sendiri
Pada bagian ini Al-Ghazali tidak
lagi menggunakan contoh putaran langit.
Beliau berpindah kepada teori yang
justru dianut oleh sebagian besar filsuf Islam.
Menurut Ibnu Sina, jiwa manusia
merupakan substansi ruhani yang tetap ada setelah kematian dan tidak binasa
bersama tubuh.
Al-Ghazali menerima pendapat itu sebagai
asumsi dalam perdebatan, bukan sebagai pengakuan terhadap seluruh teori
filsafatnya.
Kemudian beliau menunjukkan
konsekuensi logis yang muncul darinya.
Jika
Alam Azali, Maka Jiwa Pun Tak Terhingga
Menurut teori para filsuf:
- alam tidak memiliki permulaan;
- manusia telah ada sejak masa lampau tanpa awal;
- setiap manusia memiliki jiwa yang tetap eksis setelah
mati.
Akibatnya, jumlah seluruh jiwa yang
telah berpisah dari jasad menjadi tak terhingga, dan semuanya masih
tetap ada pada saat ini.
Dengan demikian, persoalan tentang
bilangan tak berhingga tidak lagi hanya berkaitan dengan peristiwa masa lalu,
tetapi juga mengenai entitas yang benar-benar eksis sekarang.
Tantangan
terhadap Konsistensi Logika
Al-Ghazali kemudian mengajukan
pertanyaan sederhana namun tajam.
Apabila benar terdapat jiwa-jiwa
yang jumlahnya tidak terbatas dan semuanya tetap eksis, apakah kumpulan itu
termasuk bilangan genap atau ganjil?
Jika para filsuf menjawab bahwa
konsep genap dan ganjil tidak berlaku bagi jumlah yang tak berhingga, maka
menurut Al-Ghazali mereka kembali menghadapi kesulitan logis yang sama seperti
sebelumnya.
Beliau menggunakan contoh ini untuk
memperlihatkan bahwa persoalan ketakberhinggaan tidak dapat diselesaikan hanya
dengan mengubah objek pembahasannya.
Metode
Ilzām Kembali Digunakan
Sebagaimana pada bagian-bagian
sebelumnya, Al-Ghazali tidak sedang membangun dalil independen mengenai hakikat
jiwa.
Beliau menggunakan metode ilzām,
yaitu menguji suatu teori berdasarkan konsekuensi yang lahir dari teori itu
sendiri.
Karena contoh ini berasal dari
doktrin para filsuf, maka mereka dituntut untuk memberikan jawaban yang
konsisten sesuai dengan prinsip yang mereka pegang.
Catatan
Historis
Pernyataan Al-Ghazali bahwa
pandangan tersebut dipilih oleh Ibnu Sina dan tampaknya juga dianut Aristoteles
menunjukkan bahwa beliau sedang mengkritik tradisi filsafat Peripatetik (Mashsha'i).
Dalam sejarah filsafat, memang terdapat perbedaan penafsiran mengenai rincian
teori jiwa Aristoteles. Karena itu, penyebutan Aristoteles di sini perlu
dipahami sebagai penyandaran yang digunakan Al-Ghazali dalam konteks polemik
intelektual pada zamannya.
Hikmah
- Konsistensi merupakan ukuran penting dalam menilai
suatu teori.
- Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa konsekuensi logis
dari suatu pendapat harus diuji secara menyeluruh.
- Dalam berdialog, menggunakan premis lawan secara
konsisten dapat menjadi metode kritik yang efektif.
- Persoalan metafisika menuntut ketelitian dalam
membedakan antara asumsi, konsekuensi, dan pembuktian.
- Ketakberhinggaan merupakan salah satu persoalan
filosofis yang telah diperdebatkan sejak masa klasik.
- Pencarian kebenaran memerlukan keberanian untuk menguji
teori sendiri sebagaimana menguji teori pihak lain.
Penutup
Melalui contoh jiwa-jiwa manusia
yang tetap eksis setelah kematian menurut teori Ibnu Sina dan para filsuf
Peripatetik, Imam Al-Ghazali kembali menunjukkan adanya konsekuensi logis yang
harus dijawab oleh mereka sendiri. Jika jumlah jiwa yang ada benar-benar tidak
terbatas, maka persoalan mengenai sifat-sifat bilangan tak berhingga tetap
muncul sebagaimana pada pembahasan putaran langit. Dengan metode ilzām,
Al-Ghazali menegaskan bahwa sebuah teori metafisika tidak cukup dibangun atas
asumsi yang menarik, tetapi juga harus mampu mempertahankan konsistensi logis
seluruh konsekuensinya.
Teks Arab :
أمر نفس الإنسان
على أنا نقول لهم: لا يستحيل على أصلكم موجودات حاضرة هي
آحاد متغايرة بالوصف ولا
نهاية لها وهي نفوس الآدميين المفارقة للأبدان بالموت،
فهي موجودات لا توصف بالشفع والوتر، فبم تنكرون على من يقول: بطلان هذا يعرف
ضرورة، وهذا الرأي في النفوس هو الذي اختاره ابن سينا ولعله مذهب رسطاليس.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Apakah Jumlah Peristiwa Masa LaluTetap Disebut Bilangan?
Imam Al-Ghazali Membantah Teori Jiwa Tunggal Plato: Benarkah Semua Jiwa
Berasal dari Satu Hakikat?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar