Pendahuluan
Setelah menjelaskan tiga cabang
utama Zaidiyah—yaitu Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Abtariyah—Imam Abu
al-Muzaffar al-Isfarayini mengakhiri pembahasan mengenai kelompok ini dengan
menjelaskan hubungan di antara ketiganya, beberapa kesamaan akidah yang mereka
anut, serta latar belakang sejarah mengapa mereka disebut Zaidiyah.
Pada bagian ini juga disampaikan
kisah perjuangan Zaid bin Ali bin al-Husain melawan pemerintahan Bani
Umayyah, serta peristiwa yang menurut riwayat klasik menjadi sebab munculnya
istilah Rafidhah. Uraian ini merupakan bagian penting dalam sejarah
perkembangan berbagai kelompok dalam Islam sebagaimana dipaparkan oleh para
ulama ilmu firqah.
Sumber
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
merupakan ulama besar mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal
sebagai ahli ilmu kalam dan ilmu firqah. Karyanya At-Tabṣīr fī ad-Dīn
menjadi salah satu referensi klasik yang menjelaskan sejarah serta keyakinan
berbagai kelompok dalam Islam dari sudut pandang Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Tema
Hubungan Tiga Cabang Zaidiyah dan
Sejarah Munculnya Sebutan Rafidhah
Terjemahan Lengkap
Ketahuilah bahwa Sulaimaniyah
dan Abtariyah menganggap Jarudiyah sebagai kelompok yang kafir,
karena Jarudiyah mengafirkan Abu Bakar, Umar, serta para sahabat yang mengikuti
keduanya.
Seluruh kelompok Zaidiyah
memiliki kesamaan dalam keyakinan bahwa pelaku dosa besar akan kekal di dalam
neraka. Dalam hal ini mereka sejalan dengan Qadariyah, dan juga sejalan
dengan Khawarij yang berpendapat bahwa orang-orang fasik dari kalangan
umat Islam adalah orang-orang kafir yang akan kekal di neraka bersama
orang-orang kafir.
Mereka berputus asa dari rahmat
Allah, padahal Allah berfirman bahwa tidak ada yang berputus asa dari rahmat
Allah kecuali orang-orang kafir.
Ketiga kelompok tersebut dinamakan Zaidiyah
karena mereka mengakui kepemimpinan Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali
pada masanya, serta kepemimpinan putranya Yahya bin Zaid setelahnya.
Adapun kisah Zaid adalah sebagai
berikut.
Sebanyak lima ribu penduduk Kufah
pernah membaiatnya. Bersama mereka, Zaid memerangi Yusuf bin Umar
ats-Tsaqafi, gubernur yang diangkat oleh Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.
Ketika peperangan semakin sengit,
orang-orang yang telah membaiat Zaid bertanya,
"Bagaimana pendapatmu tentang
Abu Bakar dan Umar?"
Zaid menjawab,
"Kakekku Ali memuji keduanya
dan berbicara baik tentang mereka. Aku keluar melawan Bani Umayyah karena
mereka telah memerangi kakekku Ali dan membunuh kakekku Husain."
Mendengar jawaban itu, mereka
meninggalkan Zaid dan menolak mendukungnya. Karena peristiwa itulah mereka
kemudian disebut Rafidhah (orang-orang yang meninggalkan atau menolak).
Semua orang yang sebelumnya membaiat
Zaid meninggalkannya, kecuali Nadhr bin Khuzaimah al-'Absi, Mu'awiyah
bin Ishaq bin Zaid bin Haritsah, serta sekitar dua ratus orang lainnya.
Seluruh pasukan kecil itu akhirnya
gugur dalam peperangan. Zaid juga terbunuh dan dimakamkan. Setelah itu
jenazahnya dikeluarkan dari kuburnya lalu dibakar.
Adapun putranya, Yahya bin Zaid,
berhasil melarikan diri ke Khurasan hingga sampai di daerah Jauzjan. Di
sana ia melakukan perlawanan terhadap Nashr bin Sayyar, gubernur
Khurasan.
Nashr kemudian mengirim Salm bin
Ahwaz al-Mazini bersama tiga ribu pasukan untuk menghadapinya.
Dalam peperangan tersebut Yahya bin
Zaid gugur sebagai syahid, dan makamnya berada di wilayah Jauzjan.
Artikel Pengembangan
Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini
merangkum karakteristik umum seluruh cabang Zaidiyah sebelum beralih kepada
kelompok-kelompok Rafidhah lainnya. Beliau menjelaskan bahwa meskipun
Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Abtariyah berbeda dalam beberapa persoalan, mereka
tetap memiliki sejumlah keyakinan yang sama.
Menurut penulis, Sulaimaniyah dan
Abtariyah bahkan saling berseberangan dengan Jarudiyah dalam persoalan sikap
terhadap Abu Bakar dan Umar. Jarudiyah dinilai terlalu jauh karena mengafirkan
kedua khalifah tersebut beserta para sahabat yang mengikuti mereka. Sebaliknya,
dua cabang lainnya tidak menerima pandangan itu.
Imam Al-Isfarayini juga menyebut
bahwa seluruh Zaidiyah memiliki pandangan mengenai pelaku dosa besar yang,
menurut beliau, serupa dengan sebagian ajaran Qadariyah dan Khawarij, yaitu
bahwa pelaku dosa besar akan kekal di dalam neraka. Penjelasan ini disampaikan
sebagai bagian dari analisis teologis beliau terhadap berbagai kelompok dalam
ilmu firqah.
Bagian yang paling terkenal dalam
kutipan ini adalah kisah Zaid bin Ali. Dalam riwayat yang dibawakan Imam
Al-Isfarayini, Zaid memperoleh dukungan besar dari masyarakat Kufah untuk
melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Bani Umayyah. Namun, ketika para
pendukungnya menanyakan sikapnya terhadap Abu Bakar dan Umar, Zaid justru
memuji kedua khalifah tersebut serta menjelaskan bahwa perjuangannya bukan
karena memusuhi mereka, melainkan karena menentang kebijakan Bani Umayyah yang
menurutnya telah menzalimi keluarga Nabi ﷺ.
Jawaban tersebut membuat sebagian
besar pengikutnya meninggalkannya. Menurut riwayat yang dikutip Imam
Al-Isfarayini, sejak peristiwa itulah muncul sebutan Rafidhah, yang
secara bahasa berarti "orang-orang yang meninggalkan" atau
"menolak".
Kisah ini banyak ditemukan dalam
literatur klasik ilmu firqah Ahlus Sunnah. Namun dalam kajian sejarah Islam
modern, asal-usul istilah Rafidhah dan rincian peristiwa tersebut juga
menjadi bahan pembahasan serta analisis berbagai sejarawan. Karena itu, pembaca
perlu memahami bahwa uraian di atas merupakan penyampaian menurut perspektif
kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn.
Di akhir pembahasan, Imam
Al-Isfarayini menceritakan gugurnya Zaid bin Ali dan kemudian putranya, Yahya
bin Zaid. Kedua tokoh ini dikenang dalam sejarah sebagai pemimpin keturunan
Ahlul Bait yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Bani Umayyah pada
masanya.
Hikmah
- Sejarah Islam menunjukkan bahwa perbedaan politik dapat
berkembang menjadi perbedaan teologi dan mazhab.
- Memahami sejarah berbagai kelompok membantu membaca
literatur klasik secara lebih objektif dan kontekstual.
- Sikap Zaid bin Ali yang tetap menghormati Abu Bakar dan
Umar menjadi bagian penting dari riwayat yang dikutip dalam banyak kitab
klasik Ahlus Sunnah.
- Kajian ilmu firqah bertujuan mengenalkan sejarah
perkembangan pemikiran Islam, sehingga perlu dipelajari dengan sikap
ilmiah dan adab.
- Perbedaan pandangan hendaknya menjadi sarana memperluas
wawasan, bukan alasan untuk menumbuhkan permusuhan antarsesama Muslim.
Penutup
Melalui penjelasan ini, Imam
Al-Isfarayini menutup pembahasan mengenai Zaidiyah dengan menguraikan kesamaan
akidah di antara cabang-cabangnya serta asal-usul historis penamaan kelompok
tersebut. Kisah perjuangan Zaid bin Ali dan Yahya bin Zaid menjadi bagian
penting dalam sejarah politik Islam awal sekaligus menjelaskan latar belakang
munculnya istilah Rafidhah menurut riwayat yang dibawakan dalam kitab At-Tabṣīr
fī ad-Dīn. Setelah menyelesaikan pembahasan Zaidiyah, kitab ini kemudian
beralih kepada kelompok-kelompok Imamiyah beserta rincian keyakinan
masing-masing cabangnya.
Teks Arab :
وَأعلم أَن السليمانية والأبترية يكفرون الجارودية
مِنْهُم لتكفيرهم أَبَا بكر وَعمر وَمن تابعهما من الصَّحَابَة وَجَمِيع فرق
الزيدية يجمعهُمْ القَوْل بتخليد أهل الْكَبَائِر فِي النَّار ووافقوا
الْقَدَرِيَّة فِي هَذَا الْمَعْنى ووافقوا الْخَوَارِج أَيْضا فِي أَن فساق
الْملَّة كفار يخلدُونَ فِي النَّار مَعَ الْكفَّار ويقنطون من رَحْمَة الله وَلَا
ييأس من روح الله إِلَّا الْقَوْم الْكَافِرُونَ وَهَؤُلَاء الْفرق الثَّلَاثَة
إِنَّمَا يسمون زيدية لقَولهم بإمامة زيد بن عَليّ ابْن الْحُسَيْن بن عَليّ فِي
وقته وإمامه ابْنه يحيى بن زيد فِي وقته وَكَانَ أَمر زيد هَذَا أَنه بَايعه
خَمْسَة آلَاف من أهل الْكُوفَة فَأخذ يُقَاتل بهم يُوسُف بن عمر الثَّقَفِيّ
عَامل هِشَام بن عبد الْملك فَلَمَّا اشْتَدَّ بهم الْقِتَال قَالَ الَّذين
بَايعُوهُ آه مَا تَقول فِي أبي بكر وَعمر فَقَالَ زيد أثنى عَلَيْهِمَا جدي عَليّ
وَقَالَ فيهمَا حسنا وَإِنَّمَا خروجي على بني أُميَّة فَإِنَّهُم قَاتلُوا جدي
عليا وَقتلُوا جدي حُسَيْنًا فَخَرجُوا عَلَيْهِ ورفضوه فسموا رافضة بذلك السَّبَب
وهجروه كلهم وَلم يبْق مِنْهُم إِلَّا نضر بن خُزَيْمَة الْعَبْسِي وَمُعَاوِيَة
بن إِسْحَاق بن زيد بن حَارِثَة مَعَ مِقْدَار مِائَتي رجل فَأتى الْقَتْل على
جَمِيعهم وَقتل زيد وَدفن فَأخْرج بعده من الْقَبْر وأحرق وهرب ابْنه يحيى ابْن
زيد إِلَى خُرَاسَان وَصَارَ إِلَى نَاحيَة جوزجان وَخرج على نصر بن سيار وَالِي
خُرَاسَان فَبعث نصر بن سيار إِلَيْهِ سلم بن أحوز الْمَازِني فِي ثَلَاثَة آلَاف
من الْمُقَاتلَة فاستشهد يحيى بن زيد فِي ذَلِك الْقِتَال ومشهده بجوزجان
Baca juga:
Kelompok Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Sejarah,
Keyakinan, dan Imamah Muhammad bin al-Hanafiyah
Pendahuluan
Setelah menjelaskan tiga cabang
utama Zaidiyah—yaitu Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Abtariyah—Imam Abu
al-Muzaffar al-Isfarayini mengakhiri pembahasan mengenai kelompok ini dengan
menjelaskan hubungan di antara ketiganya, beberapa kesamaan akidah yang mereka
anut, serta latar belakang sejarah mengapa mereka disebut Zaidiyah.
Pada bagian ini juga disampaikan
kisah perjuangan Zaid bin Ali bin al-Husain melawan pemerintahan Bani
Umayyah, serta peristiwa yang menurut riwayat klasik menjadi sebab munculnya
istilah Rafidhah. Uraian ini merupakan bagian penting dalam sejarah
perkembangan berbagai kelompok dalam Islam sebagaimana dipaparkan oleh para
ulama ilmu firqah.
Sumber
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
merupakan ulama besar mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal
sebagai ahli ilmu kalam dan ilmu firqah. Karyanya At-Tabṣīr fī ad-Dīn
menjadi salah satu referensi klasik yang menjelaskan sejarah serta keyakinan
berbagai kelompok dalam Islam dari sudut pandang Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Tema
Hubungan Tiga Cabang Zaidiyah dan
Sejarah Munculnya Sebutan Rafidhah
Terjemahan Lengkap
Ketahuilah bahwa Sulaimaniyah
dan Abtariyah menganggap Jarudiyah sebagai kelompok yang kafir,
karena Jarudiyah mengafirkan Abu Bakar, Umar, serta para sahabat yang mengikuti
keduanya.
Seluruh kelompok Zaidiyah
memiliki kesamaan dalam keyakinan bahwa pelaku dosa besar akan kekal di dalam
neraka. Dalam hal ini mereka sejalan dengan Qadariyah, dan juga sejalan
dengan Khawarij yang berpendapat bahwa orang-orang fasik dari kalangan
umat Islam adalah orang-orang kafir yang akan kekal di neraka bersama
orang-orang kafir.
Mereka berputus asa dari rahmat
Allah, padahal Allah berfirman bahwa tidak ada yang berputus asa dari rahmat
Allah kecuali orang-orang kafir.
Ketiga kelompok tersebut dinamakan Zaidiyah
karena mereka mengakui kepemimpinan Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali
pada masanya, serta kepemimpinan putranya Yahya bin Zaid setelahnya.
Adapun kisah Zaid adalah sebagai
berikut.
Sebanyak lima ribu penduduk Kufah
pernah membaiatnya. Bersama mereka, Zaid memerangi Yusuf bin Umar
ats-Tsaqafi, gubernur yang diangkat oleh Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.
Ketika peperangan semakin sengit,
orang-orang yang telah membaiat Zaid bertanya,
"Bagaimana pendapatmu tentang
Abu Bakar dan Umar?"
Zaid menjawab,
"Kakekku Ali memuji keduanya
dan berbicara baik tentang mereka. Aku keluar melawan Bani Umayyah karena
mereka telah memerangi kakekku Ali dan membunuh kakekku Husain."
Mendengar jawaban itu, mereka
meninggalkan Zaid dan menolak mendukungnya. Karena peristiwa itulah mereka
kemudian disebut Rafidhah (orang-orang yang meninggalkan atau menolak).
Semua orang yang sebelumnya membaiat
Zaid meninggalkannya, kecuali Nadhr bin Khuzaimah al-'Absi, Mu'awiyah
bin Ishaq bin Zaid bin Haritsah, serta sekitar dua ratus orang lainnya.
Seluruh pasukan kecil itu akhirnya
gugur dalam peperangan. Zaid juga terbunuh dan dimakamkan. Setelah itu
jenazahnya dikeluarkan dari kuburnya lalu dibakar.
Adapun putranya, Yahya bin Zaid,
berhasil melarikan diri ke Khurasan hingga sampai di daerah Jauzjan. Di
sana ia melakukan perlawanan terhadap Nashr bin Sayyar, gubernur
Khurasan.
Nashr kemudian mengirim Salm bin
Ahwaz al-Mazini bersama tiga ribu pasukan untuk menghadapinya.
Dalam peperangan tersebut Yahya bin
Zaid gugur sebagai syahid, dan makamnya berada di wilayah Jauzjan.
Artikel Pengembangan
Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini
merangkum karakteristik umum seluruh cabang Zaidiyah sebelum beralih kepada
kelompok-kelompok Rafidhah lainnya. Beliau menjelaskan bahwa meskipun
Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Abtariyah berbeda dalam beberapa persoalan, mereka
tetap memiliki sejumlah keyakinan yang sama.
Menurut penulis, Sulaimaniyah dan
Abtariyah bahkan saling berseberangan dengan Jarudiyah dalam persoalan sikap
terhadap Abu Bakar dan Umar. Jarudiyah dinilai terlalu jauh karena mengafirkan
kedua khalifah tersebut beserta para sahabat yang mengikuti mereka. Sebaliknya,
dua cabang lainnya tidak menerima pandangan itu.
Imam Al-Isfarayini juga menyebut
bahwa seluruh Zaidiyah memiliki pandangan mengenai pelaku dosa besar yang,
menurut beliau, serupa dengan sebagian ajaran Qadariyah dan Khawarij, yaitu
bahwa pelaku dosa besar akan kekal di dalam neraka. Penjelasan ini disampaikan
sebagai bagian dari analisis teologis beliau terhadap berbagai kelompok dalam
ilmu firqah.
Bagian yang paling terkenal dalam
kutipan ini adalah kisah Zaid bin Ali. Dalam riwayat yang dibawakan Imam
Al-Isfarayini, Zaid memperoleh dukungan besar dari masyarakat Kufah untuk
melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Bani Umayyah. Namun, ketika para
pendukungnya menanyakan sikapnya terhadap Abu Bakar dan Umar, Zaid justru
memuji kedua khalifah tersebut serta menjelaskan bahwa perjuangannya bukan
karena memusuhi mereka, melainkan karena menentang kebijakan Bani Umayyah yang
menurutnya telah menzalimi keluarga Nabi ﷺ.
Jawaban tersebut membuat sebagian
besar pengikutnya meninggalkannya. Menurut riwayat yang dikutip Imam
Al-Isfarayini, sejak peristiwa itulah muncul sebutan Rafidhah, yang
secara bahasa berarti "orang-orang yang meninggalkan" atau
"menolak".
Kisah ini banyak ditemukan dalam
literatur klasik ilmu firqah Ahlus Sunnah. Namun dalam kajian sejarah Islam
modern, asal-usul istilah Rafidhah dan rincian peristiwa tersebut juga
menjadi bahan pembahasan serta analisis berbagai sejarawan. Karena itu, pembaca
perlu memahami bahwa uraian di atas merupakan penyampaian menurut perspektif
kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn.
Di akhir pembahasan, Imam
Al-Isfarayini menceritakan gugurnya Zaid bin Ali dan kemudian putranya, Yahya
bin Zaid. Kedua tokoh ini dikenang dalam sejarah sebagai pemimpin keturunan
Ahlul Bait yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Bani Umayyah pada
masanya.
Hikmah
- Sejarah Islam menunjukkan bahwa perbedaan politik dapat
berkembang menjadi perbedaan teologi dan mazhab.
- Memahami sejarah berbagai kelompok membantu membaca
literatur klasik secara lebih objektif dan kontekstual.
- Sikap Zaid bin Ali yang tetap menghormati Abu Bakar dan
Umar menjadi bagian penting dari riwayat yang dikutip dalam banyak kitab
klasik Ahlus Sunnah.
- Kajian ilmu firqah bertujuan mengenalkan sejarah
perkembangan pemikiran Islam, sehingga perlu dipelajari dengan sikap
ilmiah dan adab.
- Perbedaan pandangan hendaknya menjadi sarana memperluas
wawasan, bukan alasan untuk menumbuhkan permusuhan antarsesama Muslim.
Penutup
Melalui penjelasan ini, Imam
Al-Isfarayini menutup pembahasan mengenai Zaidiyah dengan menguraikan kesamaan
akidah di antara cabang-cabangnya serta asal-usul historis penamaan kelompok
tersebut. Kisah perjuangan Zaid bin Ali dan Yahya bin Zaid menjadi bagian
penting dalam sejarah politik Islam awal sekaligus menjelaskan latar belakang
munculnya istilah Rafidhah menurut riwayat yang dibawakan dalam kitab At-Tabṣīr
fī ad-Dīn. Setelah menyelesaikan pembahasan Zaidiyah, kitab ini kemudian
beralih kepada kelompok-kelompok Imamiyah beserta rincian keyakinan
masing-masing cabangnya.
Teks Arab :
وَأعلم أَن السليمانية والأبترية يكفرون الجارودية
مِنْهُم لتكفيرهم أَبَا بكر وَعمر وَمن تابعهما من الصَّحَابَة وَجَمِيع فرق
الزيدية يجمعهُمْ القَوْل بتخليد أهل الْكَبَائِر فِي النَّار ووافقوا
الْقَدَرِيَّة فِي هَذَا الْمَعْنى ووافقوا الْخَوَارِج أَيْضا فِي أَن فساق
الْملَّة كفار يخلدُونَ فِي النَّار مَعَ الْكفَّار ويقنطون من رَحْمَة الله وَلَا
ييأس من روح الله إِلَّا الْقَوْم الْكَافِرُونَ وَهَؤُلَاء الْفرق الثَّلَاثَة
إِنَّمَا يسمون زيدية لقَولهم بإمامة زيد بن عَليّ ابْن الْحُسَيْن بن عَليّ فِي
وقته وإمامه ابْنه يحيى بن زيد فِي وقته وَكَانَ أَمر زيد هَذَا أَنه بَايعه
خَمْسَة آلَاف من أهل الْكُوفَة فَأخذ يُقَاتل بهم يُوسُف بن عمر الثَّقَفِيّ
عَامل هِشَام بن عبد الْملك فَلَمَّا اشْتَدَّ بهم الْقِتَال قَالَ الَّذين
بَايعُوهُ آه مَا تَقول فِي أبي بكر وَعمر فَقَالَ زيد أثنى عَلَيْهِمَا جدي عَليّ
وَقَالَ فيهمَا حسنا وَإِنَّمَا خروجي على بني أُميَّة فَإِنَّهُم قَاتلُوا جدي
عليا وَقتلُوا جدي حُسَيْنًا فَخَرجُوا عَلَيْهِ ورفضوه فسموا رافضة بذلك السَّبَب
وهجروه كلهم وَلم يبْق مِنْهُم إِلَّا نضر بن خُزَيْمَة الْعَبْسِي وَمُعَاوِيَة
بن إِسْحَاق بن زيد بن حَارِثَة مَعَ مِقْدَار مِائَتي رجل فَأتى الْقَتْل على
جَمِيعهم وَقتل زيد وَدفن فَأخْرج بعده من الْقَبْر وأحرق وهرب ابْنه يحيى ابْن
زيد إِلَى خُرَاسَان وَصَارَ إِلَى نَاحيَة جوزجان وَخرج على نصر بن سيار وَالِي
خُرَاسَان فَبعث نصر بن سيار إِلَيْهِ سلم بن أحوز الْمَازِني فِي ثَلَاثَة آلَاف
من الْمُقَاتلَة فاستشهد يحيى بن زيد فِي ذَلِك الْقِتَال ومشهده بجوزجان
Baca juga:
Kelompok Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Sejarah,
Keyakinan, dan Imamah Muhammad bin al-Hanafiyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar