Sejarah Lahirnya Zaidiyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Kisah Zaid bin Ali dan Awal Munculnya Rafidhah

Pendahuluan

Setelah menjelaskan tiga cabang utama Zaidiyah—yaitu Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Abtariyah—Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengakhiri pembahasan mengenai kelompok ini dengan menjelaskan hubungan di antara ketiganya, beberapa kesamaan akidah yang mereka anut, serta latar belakang sejarah mengapa mereka disebut Zaidiyah.

Pada bagian ini juga disampaikan kisah perjuangan Zaid bin Ali bin al-Husain melawan pemerintahan Bani Umayyah, serta peristiwa yang menurut riwayat klasik menjadi sebab munculnya istilah Rafidhah. Uraian ini merupakan bagian penting dalam sejarah perkembangan berbagai kelompok dalam Islam sebagaimana dipaparkan oleh para ulama ilmu firqah.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan ulama besar mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal sebagai ahli ilmu kalam dan ilmu firqah. Karyanya At-Tabṣīr fī ad-Dīn menjadi salah satu referensi klasik yang menjelaskan sejarah serta keyakinan berbagai kelompok dalam Islam dari sudut pandang Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Tema

Hubungan Tiga Cabang Zaidiyah dan Sejarah Munculnya Sebutan Rafidhah

Terjemahan Lengkap

Ketahuilah bahwa Sulaimaniyah dan Abtariyah menganggap Jarudiyah sebagai kelompok yang kafir, karena Jarudiyah mengafirkan Abu Bakar, Umar, serta para sahabat yang mengikuti keduanya.

Seluruh kelompok Zaidiyah memiliki kesamaan dalam keyakinan bahwa pelaku dosa besar akan kekal di dalam neraka. Dalam hal ini mereka sejalan dengan Qadariyah, dan juga sejalan dengan Khawarij yang berpendapat bahwa orang-orang fasik dari kalangan umat Islam adalah orang-orang kafir yang akan kekal di neraka bersama orang-orang kafir.

Mereka berputus asa dari rahmat Allah, padahal Allah berfirman bahwa tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.

Ketiga kelompok tersebut dinamakan Zaidiyah karena mereka mengakui kepemimpinan Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali pada masanya, serta kepemimpinan putranya Yahya bin Zaid setelahnya.

Adapun kisah Zaid adalah sebagai berikut.

Sebanyak lima ribu penduduk Kufah pernah membaiatnya. Bersama mereka, Zaid memerangi Yusuf bin Umar ats-Tsaqafi, gubernur yang diangkat oleh Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.

Ketika peperangan semakin sengit, orang-orang yang telah membaiat Zaid bertanya,

"Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar dan Umar?"

Zaid menjawab,

"Kakekku Ali memuji keduanya dan berbicara baik tentang mereka. Aku keluar melawan Bani Umayyah karena mereka telah memerangi kakekku Ali dan membunuh kakekku Husain."

Mendengar jawaban itu, mereka meninggalkan Zaid dan menolak mendukungnya. Karena peristiwa itulah mereka kemudian disebut Rafidhah (orang-orang yang meninggalkan atau menolak).

Semua orang yang sebelumnya membaiat Zaid meninggalkannya, kecuali Nadhr bin Khuzaimah al-'Absi, Mu'awiyah bin Ishaq bin Zaid bin Haritsah, serta sekitar dua ratus orang lainnya.

Seluruh pasukan kecil itu akhirnya gugur dalam peperangan. Zaid juga terbunuh dan dimakamkan. Setelah itu jenazahnya dikeluarkan dari kuburnya lalu dibakar.

Adapun putranya, Yahya bin Zaid, berhasil melarikan diri ke Khurasan hingga sampai di daerah Jauzjan. Di sana ia melakukan perlawanan terhadap Nashr bin Sayyar, gubernur Khurasan.

Nashr kemudian mengirim Salm bin Ahwaz al-Mazini bersama tiga ribu pasukan untuk menghadapinya.

Dalam peperangan tersebut Yahya bin Zaid gugur sebagai syahid, dan makamnya berada di wilayah Jauzjan.

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini merangkum karakteristik umum seluruh cabang Zaidiyah sebelum beralih kepada kelompok-kelompok Rafidhah lainnya. Beliau menjelaskan bahwa meskipun Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Abtariyah berbeda dalam beberapa persoalan, mereka tetap memiliki sejumlah keyakinan yang sama.

Menurut penulis, Sulaimaniyah dan Abtariyah bahkan saling berseberangan dengan Jarudiyah dalam persoalan sikap terhadap Abu Bakar dan Umar. Jarudiyah dinilai terlalu jauh karena mengafirkan kedua khalifah tersebut beserta para sahabat yang mengikuti mereka. Sebaliknya, dua cabang lainnya tidak menerima pandangan itu.

Imam Al-Isfarayini juga menyebut bahwa seluruh Zaidiyah memiliki pandangan mengenai pelaku dosa besar yang, menurut beliau, serupa dengan sebagian ajaran Qadariyah dan Khawarij, yaitu bahwa pelaku dosa besar akan kekal di dalam neraka. Penjelasan ini disampaikan sebagai bagian dari analisis teologis beliau terhadap berbagai kelompok dalam ilmu firqah.

Bagian yang paling terkenal dalam kutipan ini adalah kisah Zaid bin Ali. Dalam riwayat yang dibawakan Imam Al-Isfarayini, Zaid memperoleh dukungan besar dari masyarakat Kufah untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Bani Umayyah. Namun, ketika para pendukungnya menanyakan sikapnya terhadap Abu Bakar dan Umar, Zaid justru memuji kedua khalifah tersebut serta menjelaskan bahwa perjuangannya bukan karena memusuhi mereka, melainkan karena menentang kebijakan Bani Umayyah yang menurutnya telah menzalimi keluarga Nabi .

Jawaban tersebut membuat sebagian besar pengikutnya meninggalkannya. Menurut riwayat yang dikutip Imam Al-Isfarayini, sejak peristiwa itulah muncul sebutan Rafidhah, yang secara bahasa berarti "orang-orang yang meninggalkan" atau "menolak".

Kisah ini banyak ditemukan dalam literatur klasik ilmu firqah Ahlus Sunnah. Namun dalam kajian sejarah Islam modern, asal-usul istilah Rafidhah dan rincian peristiwa tersebut juga menjadi bahan pembahasan serta analisis berbagai sejarawan. Karena itu, pembaca perlu memahami bahwa uraian di atas merupakan penyampaian menurut perspektif kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn.

Di akhir pembahasan, Imam Al-Isfarayini menceritakan gugurnya Zaid bin Ali dan kemudian putranya, Yahya bin Zaid. Kedua tokoh ini dikenang dalam sejarah sebagai pemimpin keturunan Ahlul Bait yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Bani Umayyah pada masanya.

Hikmah

  • Sejarah Islam menunjukkan bahwa perbedaan politik dapat berkembang menjadi perbedaan teologi dan mazhab.
  • Memahami sejarah berbagai kelompok membantu membaca literatur klasik secara lebih objektif dan kontekstual.
  • Sikap Zaid bin Ali yang tetap menghormati Abu Bakar dan Umar menjadi bagian penting dari riwayat yang dikutip dalam banyak kitab klasik Ahlus Sunnah.
  • Kajian ilmu firqah bertujuan mengenalkan sejarah perkembangan pemikiran Islam, sehingga perlu dipelajari dengan sikap ilmiah dan adab.
  • Perbedaan pandangan hendaknya menjadi sarana memperluas wawasan, bukan alasan untuk menumbuhkan permusuhan antarsesama Muslim.

Penutup

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Isfarayini menutup pembahasan mengenai Zaidiyah dengan menguraikan kesamaan akidah di antara cabang-cabangnya serta asal-usul historis penamaan kelompok tersebut. Kisah perjuangan Zaid bin Ali dan Yahya bin Zaid menjadi bagian penting dalam sejarah politik Islam awal sekaligus menjelaskan latar belakang munculnya istilah Rafidhah menurut riwayat yang dibawakan dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Setelah menyelesaikan pembahasan Zaidiyah, kitab ini kemudian beralih kepada kelompok-kelompok Imamiyah beserta rincian keyakinan masing-masing cabangnya.

Teks Arab :

وَأعلم أَن السليمانية والأبترية يكفرون الجارودية مِنْهُم لتكفيرهم أَبَا بكر وَعمر وَمن تابعهما من الصَّحَابَة وَجَمِيع فرق الزيدية يجمعهُمْ القَوْل بتخليد أهل الْكَبَائِر فِي النَّار ووافقوا الْقَدَرِيَّة فِي هَذَا الْمَعْنى ووافقوا الْخَوَارِج أَيْضا فِي أَن فساق الْملَّة كفار يخلدُونَ فِي النَّار مَعَ الْكفَّار ويقنطون من رَحْمَة الله وَلَا ييأس من روح الله إِلَّا الْقَوْم الْكَافِرُونَ وَهَؤُلَاء الْفرق الثَّلَاثَة إِنَّمَا يسمون زيدية لقَولهم بإمامة زيد بن عَليّ ابْن الْحُسَيْن بن عَليّ فِي وقته وإمامه ابْنه يحيى بن زيد فِي وقته وَكَانَ أَمر زيد هَذَا أَنه بَايعه خَمْسَة آلَاف من أهل الْكُوفَة فَأخذ يُقَاتل بهم يُوسُف بن عمر الثَّقَفِيّ عَامل هِشَام بن عبد الْملك فَلَمَّا اشْتَدَّ بهم الْقِتَال قَالَ الَّذين بَايعُوهُ آه مَا تَقول فِي أبي بكر وَعمر فَقَالَ زيد أثنى عَلَيْهِمَا جدي عَليّ وَقَالَ فيهمَا حسنا وَإِنَّمَا خروجي على بني أُميَّة فَإِنَّهُم قَاتلُوا جدي عليا وَقتلُوا جدي حُسَيْنًا فَخَرجُوا عَلَيْهِ ورفضوه فسموا رافضة بذلك السَّبَب وهجروه كلهم وَلم يبْق مِنْهُم إِلَّا نضر بن خُزَيْمَة الْعَبْسِي وَمُعَاوِيَة بن إِسْحَاق بن زيد بن حَارِثَة مَعَ مِقْدَار مِائَتي رجل فَأتى الْقَتْل على جَمِيعهم وَقتل زيد وَدفن فَأخْرج بعده من الْقَبْر وأحرق وهرب ابْنه يحيى ابْن زيد إِلَى خُرَاسَان وَصَارَ إِلَى نَاحيَة جوزجان وَخرج على نصر بن سيار وَالِي خُرَاسَان فَبعث نصر بن سيار إِلَيْهِ سلم بن أحوز الْمَازِني فِي ثَلَاثَة آلَاف من الْمُقَاتلَة فاستشهد يحيى بن زيد فِي ذَلِك الْقِتَال ومشهده بجوزجان

Baca juga:

Kelompok Abtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: CabangZaidiyah yang Bersikap Tawaqquf terhadap Utsman bin Affan

Kelompok Sulaimaniyah dalam Zaidiyah Menurut ImamAl-Isfarayini: Pandangan tentang Imamah dan Sikap terhadap Para Sahabat

Kelompok Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Sejarah, Keyakinan, dan Imamah Muhammad bin al-Hanafiyah



Pendahuluan

Setelah menjelaskan tiga cabang utama Zaidiyah—yaitu Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Abtariyah—Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini mengakhiri pembahasan mengenai kelompok ini dengan menjelaskan hubungan di antara ketiganya, beberapa kesamaan akidah yang mereka anut, serta latar belakang sejarah mengapa mereka disebut Zaidiyah.

Pada bagian ini juga disampaikan kisah perjuangan Zaid bin Ali bin al-Husain melawan pemerintahan Bani Umayyah, serta peristiwa yang menurut riwayat klasik menjadi sebab munculnya istilah Rafidhah. Uraian ini merupakan bagian penting dalam sejarah perkembangan berbagai kelompok dalam Islam sebagaimana dipaparkan oleh para ulama ilmu firqah.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan ulama besar mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal sebagai ahli ilmu kalam dan ilmu firqah. Karyanya At-Tabṣīr fī ad-Dīn menjadi salah satu referensi klasik yang menjelaskan sejarah serta keyakinan berbagai kelompok dalam Islam dari sudut pandang Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Tema

Hubungan Tiga Cabang Zaidiyah dan Sejarah Munculnya Sebutan Rafidhah

Terjemahan Lengkap

Ketahuilah bahwa Sulaimaniyah dan Abtariyah menganggap Jarudiyah sebagai kelompok yang kafir, karena Jarudiyah mengafirkan Abu Bakar, Umar, serta para sahabat yang mengikuti keduanya.

Seluruh kelompok Zaidiyah memiliki kesamaan dalam keyakinan bahwa pelaku dosa besar akan kekal di dalam neraka. Dalam hal ini mereka sejalan dengan Qadariyah, dan juga sejalan dengan Khawarij yang berpendapat bahwa orang-orang fasik dari kalangan umat Islam adalah orang-orang kafir yang akan kekal di neraka bersama orang-orang kafir.

Mereka berputus asa dari rahmat Allah, padahal Allah berfirman bahwa tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.

Ketiga kelompok tersebut dinamakan Zaidiyah karena mereka mengakui kepemimpinan Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali pada masanya, serta kepemimpinan putranya Yahya bin Zaid setelahnya.

Adapun kisah Zaid adalah sebagai berikut.

Sebanyak lima ribu penduduk Kufah pernah membaiatnya. Bersama mereka, Zaid memerangi Yusuf bin Umar ats-Tsaqafi, gubernur yang diangkat oleh Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.

Ketika peperangan semakin sengit, orang-orang yang telah membaiat Zaid bertanya,

"Bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar dan Umar?"

Zaid menjawab,

"Kakekku Ali memuji keduanya dan berbicara baik tentang mereka. Aku keluar melawan Bani Umayyah karena mereka telah memerangi kakekku Ali dan membunuh kakekku Husain."

Mendengar jawaban itu, mereka meninggalkan Zaid dan menolak mendukungnya. Karena peristiwa itulah mereka kemudian disebut Rafidhah (orang-orang yang meninggalkan atau menolak).

Semua orang yang sebelumnya membaiat Zaid meninggalkannya, kecuali Nadhr bin Khuzaimah al-'Absi, Mu'awiyah bin Ishaq bin Zaid bin Haritsah, serta sekitar dua ratus orang lainnya.

Seluruh pasukan kecil itu akhirnya gugur dalam peperangan. Zaid juga terbunuh dan dimakamkan. Setelah itu jenazahnya dikeluarkan dari kuburnya lalu dibakar.

Adapun putranya, Yahya bin Zaid, berhasil melarikan diri ke Khurasan hingga sampai di daerah Jauzjan. Di sana ia melakukan perlawanan terhadap Nashr bin Sayyar, gubernur Khurasan.

Nashr kemudian mengirim Salm bin Ahwaz al-Mazini bersama tiga ribu pasukan untuk menghadapinya.

Dalam peperangan tersebut Yahya bin Zaid gugur sebagai syahid, dan makamnya berada di wilayah Jauzjan.

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini merangkum karakteristik umum seluruh cabang Zaidiyah sebelum beralih kepada kelompok-kelompok Rafidhah lainnya. Beliau menjelaskan bahwa meskipun Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Abtariyah berbeda dalam beberapa persoalan, mereka tetap memiliki sejumlah keyakinan yang sama.

Menurut penulis, Sulaimaniyah dan Abtariyah bahkan saling berseberangan dengan Jarudiyah dalam persoalan sikap terhadap Abu Bakar dan Umar. Jarudiyah dinilai terlalu jauh karena mengafirkan kedua khalifah tersebut beserta para sahabat yang mengikuti mereka. Sebaliknya, dua cabang lainnya tidak menerima pandangan itu.

Imam Al-Isfarayini juga menyebut bahwa seluruh Zaidiyah memiliki pandangan mengenai pelaku dosa besar yang, menurut beliau, serupa dengan sebagian ajaran Qadariyah dan Khawarij, yaitu bahwa pelaku dosa besar akan kekal di dalam neraka. Penjelasan ini disampaikan sebagai bagian dari analisis teologis beliau terhadap berbagai kelompok dalam ilmu firqah.

Bagian yang paling terkenal dalam kutipan ini adalah kisah Zaid bin Ali. Dalam riwayat yang dibawakan Imam Al-Isfarayini, Zaid memperoleh dukungan besar dari masyarakat Kufah untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Bani Umayyah. Namun, ketika para pendukungnya menanyakan sikapnya terhadap Abu Bakar dan Umar, Zaid justru memuji kedua khalifah tersebut serta menjelaskan bahwa perjuangannya bukan karena memusuhi mereka, melainkan karena menentang kebijakan Bani Umayyah yang menurutnya telah menzalimi keluarga Nabi .

Jawaban tersebut membuat sebagian besar pengikutnya meninggalkannya. Menurut riwayat yang dikutip Imam Al-Isfarayini, sejak peristiwa itulah muncul sebutan Rafidhah, yang secara bahasa berarti "orang-orang yang meninggalkan" atau "menolak".

Kisah ini banyak ditemukan dalam literatur klasik ilmu firqah Ahlus Sunnah. Namun dalam kajian sejarah Islam modern, asal-usul istilah Rafidhah dan rincian peristiwa tersebut juga menjadi bahan pembahasan serta analisis berbagai sejarawan. Karena itu, pembaca perlu memahami bahwa uraian di atas merupakan penyampaian menurut perspektif kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn.

Di akhir pembahasan, Imam Al-Isfarayini menceritakan gugurnya Zaid bin Ali dan kemudian putranya, Yahya bin Zaid. Kedua tokoh ini dikenang dalam sejarah sebagai pemimpin keturunan Ahlul Bait yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Bani Umayyah pada masanya.

Hikmah

  • Sejarah Islam menunjukkan bahwa perbedaan politik dapat berkembang menjadi perbedaan teologi dan mazhab.
  • Memahami sejarah berbagai kelompok membantu membaca literatur klasik secara lebih objektif dan kontekstual.
  • Sikap Zaid bin Ali yang tetap menghormati Abu Bakar dan Umar menjadi bagian penting dari riwayat yang dikutip dalam banyak kitab klasik Ahlus Sunnah.
  • Kajian ilmu firqah bertujuan mengenalkan sejarah perkembangan pemikiran Islam, sehingga perlu dipelajari dengan sikap ilmiah dan adab.
  • Perbedaan pandangan hendaknya menjadi sarana memperluas wawasan, bukan alasan untuk menumbuhkan permusuhan antarsesama Muslim.

Penutup

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Isfarayini menutup pembahasan mengenai Zaidiyah dengan menguraikan kesamaan akidah di antara cabang-cabangnya serta asal-usul historis penamaan kelompok tersebut. Kisah perjuangan Zaid bin Ali dan Yahya bin Zaid menjadi bagian penting dalam sejarah politik Islam awal sekaligus menjelaskan latar belakang munculnya istilah Rafidhah menurut riwayat yang dibawakan dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Setelah menyelesaikan pembahasan Zaidiyah, kitab ini kemudian beralih kepada kelompok-kelompok Imamiyah beserta rincian keyakinan masing-masing cabangnya.

Teks Arab :

وَأعلم أَن السليمانية والأبترية يكفرون الجارودية مِنْهُم لتكفيرهم أَبَا بكر وَعمر وَمن تابعهما من الصَّحَابَة وَجَمِيع فرق الزيدية يجمعهُمْ القَوْل بتخليد أهل الْكَبَائِر فِي النَّار ووافقوا الْقَدَرِيَّة فِي هَذَا الْمَعْنى ووافقوا الْخَوَارِج أَيْضا فِي أَن فساق الْملَّة كفار يخلدُونَ فِي النَّار مَعَ الْكفَّار ويقنطون من رَحْمَة الله وَلَا ييأس من روح الله إِلَّا الْقَوْم الْكَافِرُونَ وَهَؤُلَاء الْفرق الثَّلَاثَة إِنَّمَا يسمون زيدية لقَولهم بإمامة زيد بن عَليّ ابْن الْحُسَيْن بن عَليّ فِي وقته وإمامه ابْنه يحيى بن زيد فِي وقته وَكَانَ أَمر زيد هَذَا أَنه بَايعه خَمْسَة آلَاف من أهل الْكُوفَة فَأخذ يُقَاتل بهم يُوسُف بن عمر الثَّقَفِيّ عَامل هِشَام بن عبد الْملك فَلَمَّا اشْتَدَّ بهم الْقِتَال قَالَ الَّذين بَايعُوهُ آه مَا تَقول فِي أبي بكر وَعمر فَقَالَ زيد أثنى عَلَيْهِمَا جدي عَليّ وَقَالَ فيهمَا حسنا وَإِنَّمَا خروجي على بني أُميَّة فَإِنَّهُم قَاتلُوا جدي عليا وَقتلُوا جدي حُسَيْنًا فَخَرجُوا عَلَيْهِ ورفضوه فسموا رافضة بذلك السَّبَب وهجروه كلهم وَلم يبْق مِنْهُم إِلَّا نضر بن خُزَيْمَة الْعَبْسِي وَمُعَاوِيَة بن إِسْحَاق بن زيد بن حَارِثَة مَعَ مِقْدَار مِائَتي رجل فَأتى الْقَتْل على جَمِيعهم وَقتل زيد وَدفن فَأخْرج بعده من الْقَبْر وأحرق وهرب ابْنه يحيى ابْن زيد إِلَى خُرَاسَان وَصَارَ إِلَى نَاحيَة جوزجان وَخرج على نصر بن سيار وَالِي خُرَاسَان فَبعث نصر بن سيار إِلَيْهِ سلم بن أحوز الْمَازِني فِي ثَلَاثَة آلَاف من الْمُقَاتلَة فاستشهد يحيى بن زيد فِي ذَلِك الْقِتَال ومشهده بجوزجان

Baca juga:

Kelompok Abtariyah Menurut Imam Al-Isfarayini: CabangZaidiyah yang Bersikap Tawaqquf terhadap Utsman bin Affan

Kelompok Sulaimaniyah dalam Zaidiyah Menurut ImamAl-Isfarayini: Pandangan tentang Imamah dan Sikap terhadap Para Sahabat

Kelompok Kaisaniyah Menurut Imam Al-Isfarayini: Sejarah, Keyakinan, dan Imamah Muhammad bin al-Hanafiyah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf dengan Teori Jiwa: Jika Jiwa Kekal Tak Terhingga, Mengapa Tidak Timbul Paradoks?

Pendahuluan Dalam pembahasan mengenai keazalian alam, Imam Al-Ghazali terus menunjukkan bahwa para filsuf sering menggunakan standar pem...