Pendahuluan
Cinta kepada Allah bukan sekadar
perasaan yang tersimpan di dalam hati. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, cinta
yang sejati akan melahirkan perubahan nyata pada sikap, cara berpikir, dan
hubungan seseorang dengan sesama.
Semakin kuat cinta seorang hamba
kepada Allah, semakin besar pula kecintaannya kepada segala sesuatu yang
dicintai Allah. Ia menghormati orang-orang yang beribadah, mencintai para
pencari ilmu, menyayangi orang-orang yang berakhlak mulia, dan berusaha
menghiasi dirinya dengan adab yang diridhai Allah.
Dalam kutipan Ihya' Ulumiddin
ini, Imam Al-Ghazali juga mengutip beberapa ungkapan para ahli ibadah mengenai
kedalaman cinta kepada Allah. Namun beliau menjelaskan lebih rinci pembahasan
tersebut akan datang dalam Kitab Mahabbah.
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Buah dan Tanda Cinta kepada Allah dalam Kehidupan Seorang
Mukmin
Teks Arab
وقد
انتهت محبة الله بقوم إلى أن قالوا : لا نفرق بين البلاء والنعمة ، فإن الكل من
الله ولا نفرح إلا بما فيه رضاه حتى قال بعضهم : لا أريد أن أنال مغفرة الله
بمعصية الله
.
وقال
سمنون
:
وليس لي في سواك حظ فكيفما شئت فاختبرني
وسيأتي
تحقيق ذلك في كتاب المحبة .
والمقصود
أن حب الله إذ قوي أثمر حب كل من يقوم بحق
عبادة الله في علم أو عمل وأثمر حب كل من فيه صفة مرضية عند الله من خلق حسن أو
تأدب بآداب الشرع
.
Terjemahan Lengkap
Cinta kepada Allah telah mencapai
tingkatan yang sangat tinggi pada sebagian orang, sehingga mereka berkata:
"Kami tidak membedakan antara
musibah dan nikmat, karena semuanya berasal dari Allah. Kami tidak bergembira
kecuali terhadap sesuatu yang di dalamnya terdapat keridaan-Nya."
Sebagian yang lain berkata:
"Aku tidak ingin memperoleh
ampunan Allah dengan cara bermaksiat kepada Allah."
Sumnun berkata:
"Aku tidak memiliki tujuan
selain Engkau. Maka ujilah aku sebagaimana Engkau kehendaki."
Penjelasan lebih rinci mengenai
keadaan seperti ini akan dijelaskan dalam Kitab Mahabbah.
Tujuan pembahasan ini adalah bahwa
apabila cinta kepada Allah telah menjadi kuat, maka cinta itu akan melahirkan
kecintaan kepada setiap orang yang menegakkan hak ibadah kepada Allah, baik
melalui ilmu maupun amal.
Demikian pula akan melahirkan
kecintaan kepada setiap orang yang memiliki sifat-sifat yang diridhai Allah,
seperti akhlak yang baik dan perilaku yang sesuai dengan adab-adab syariat.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali tidak bermaksud
mengajarkan agar seorang mukmin tidak lagi merasakan sedih ketika ditimpa
musibah atau tidak boleh bergembira saat memperoleh nikmat. Beliau sedang
menggambarkan keadaan sebagian hamba yang telah mencapai tingkat cinta kepada
Allah yang sangat tinggi, sehingga keridaan Allah menjadi tujuan utama dalam
setiap keadaan.
Bagi kebanyakan manusia, Islam tetap
mengajarkan untuk memohon keselamatan, kesehatan, dan kemudahan. Bahkan para
nabi juga berdoa agar dijauhkan dari berbagai musibah.
Namun ketika ujian datang, orang
yang mencintai Allah berusaha menerimanya dengan sabar karena meyakini bahwa semua
ketentuan Allah mengandung hikmah.
Artikel Pengembangan
1.
Ridha kepada Allah Tidak Berarti Menyukai Musibah
Ungkapan para ahli ibadah sering
kali terdengar sangat tinggi.
Mereka mengatakan tidak membedakan
antara nikmat dan musibah karena keduanya berasal dari Allah.
Maksudnya bukanlah bahwa sakit
terasa sama dengan sehat atau kehilangan sama dengan memperoleh nikmat.
Yang dimaksud adalah mereka tetap
menempatkan keridaan Allah di atas keadaan yang sedang dialami. Dalam nikmat
mereka bersyukur, sedangkan dalam musibah mereka bersabar.
2.
Tidak Menghalalkan Cara demi Tujuan
Perkataan:
"Aku tidak ingin memperoleh
ampunan Allah dengan bermaksiat kepada Allah."
mengandung pelajaran yang sangat
penting.
Tujuan yang baik tidak pernah
membenarkan cara yang buruk.
Seseorang tidak boleh melakukan dosa
dengan alasan ingin mendapatkan kebaikan setelahnya.
Islam mengajarkan bahwa jalan menuju
keridaan Allah harus ditempuh dengan cara yang diridhai Allah pula.
3.
Mencintai Orang yang Dicintai Allah
Imam Al-Ghazali kemudian menjelaskan
buah nyata dari cinta kepada Allah.
Orang yang benar-benar mencintai
Allah akan mencintai:
- para ulama yang mengajarkan ilmu,
- orang-orang yang tekun beribadah,
- mereka yang berakhlak mulia,
- orang yang jujur,
- mereka yang menjaga amanah,
- serta siapa pun yang berusaha menaati Allah.
Kecintaan ini tidak didasarkan pada
kekayaan atau kedudukan, tetapi pada nilai ketakwaan yang ada pada diri mereka.
4.
Akhlak Mulia Menjadi Alasan untuk Mencintai
Imam Al-Ghazali tidak hanya menyebut
ilmu dan ibadah.
Beliau juga memasukkan akhlak yang
baik serta adab yang sesuai syariat sebagai alasan untuk mencintai seseorang.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam
memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada akhlak.
Orang yang santun, jujur, rendah
hati, penyabar, dan amanah layak dicintai karena sifat-sifat tersebut dicintai
oleh Allah.
5.
Mahabbah Melahirkan Persaudaraan yang Kokoh
Hubungan yang dibangun atas dasar
cinta kepada Allah tidak mudah runtuh karena perubahan keadaan dunia.
Harta bisa habis.
Jabatan bisa hilang.
Kedudukan dapat berubah.
Namun selama iman, ilmu, dan akhlak
tetap terjaga, rasa cinta karena Allah akan tetap hidup.
Inilah sebabnya persaudaraan yang
dibangun atas dasar iman memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding hubungan
yang hanya didasarkan pada kepentingan dunia.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
ukuran cinta kepada Allah tidak hanya tampak dalam banyaknya ibadah, tetapi
juga pada siapa yang kita cintai dan mengapa kita mencintainya.
Apabila hati semakin senang berada
di dekat orang-orang saleh, semakin menghormati para pencari ilmu, semakin
menyukai akhlak yang baik, dan semakin terdorong untuk meneladaninya, maka itu
merupakan salah satu tanda bahwa cinta kepada Allah sedang tumbuh.
Sebaliknya, apabila hati lebih
tertarik kepada kemaksiatan daripada ketaatan, hal tersebut menjadi bahan
muhasabah agar hubungan dengan Allah terus diperbaiki.
Contoh
Seorang pemuda memilih berteman
dengan orang-orang yang rajin salat berjamaah dan gemar menghadiri majelis
ilmu. Ia merasa nyaman berada di tengah mereka karena persahabatan itu
membantunya menjaga iman dan akhlak. Kecintaannya kepada mereka bukan karena
status sosial, melainkan karena mereka mengingatkannya kepada Allah.
Contoh lainnya, seorang muslim
menghormati seorang guru bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga
karena kerendahan hati, kejujuran, dan kesabarannya. Ia berusaha meneladani
akhlak tersebut karena meyakini bahwa sifat-sifat itu dicintai oleh Allah.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
buah dari cinta kepada Allah adalah lahirnya kecintaan kepada segala sesuatu
yang diridhai-Nya. Semakin kuat cinta kepada Allah, semakin besar pula
kecintaan kepada ilmu, ibadah, akhlak mulia, dan orang-orang yang menegakkan
syariat-Nya.
Cinta seperti ini akan membentuk
hubungan sosial yang dilandasi iman, bukan sekadar kepentingan dunia, sehingga
lebih kokoh dan lebih bernilai di sisi Allah.
Hikmah
- Cinta kepada Allah melahirkan kecintaan kepada
orang-orang yang taat kepada-Nya.
- Ridha kepada takdir tidak berarti menikmati musibah,
tetapi menerima ketentuan Allah dengan sabar dan penuh kepercayaan.
- Tujuan yang baik harus ditempuh dengan cara yang halal
dan diridhai Allah.
- Akhlak mulia merupakan salah satu alasan yang benar
untuk mencintai seseorang.
- Persaudaraan yang dibangun atas dasar iman lebih kuat
daripada hubungan yang didasarkan pada kepentingan dunia.
- Semakin mengenal Allah, semakin mudah mencintai segala
sesuatu yang dicintai-Nya.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa
cinta kepada Allah bukan sekadar ucapan atau perasaan yang tersembunyi di dalam
hati. Cinta itu akan tampak dalam pilihan hidup, lingkungan pergaulan, serta
sikap terhadap orang lain. Hati yang dipenuhi mahabbah kepada Allah akan
terdorong mencintai ilmu, ibadah, akhlak mulia, dan orang-orang saleh, karena
semuanya merupakan jalan menuju keridaan-Nya. Semoga Allah menumbuhkan dalam
hati kita cinta yang benar kepada-Nya, sehingga seluruh hubungan, amal, dan
perjalanan hidup kita senantiasa berada dalam naungan rahmat dan kasih
sayang-Nya.
Baca Juga :
Tiga TingkatanCinta kepada Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yang Paling Mulia? (02/05/30)
Mengapa Kita
Mencintai Ulama dan Orang Saleh? Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Cinta
karena Allah (02/05/32)
Pendahuluan
Cinta kepada Allah bukan sekadar
perasaan yang tersimpan di dalam hati. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, cinta
yang sejati akan melahirkan perubahan nyata pada sikap, cara berpikir, dan
hubungan seseorang dengan sesama.
Semakin kuat cinta seorang hamba
kepada Allah, semakin besar pula kecintaannya kepada segala sesuatu yang
dicintai Allah. Ia menghormati orang-orang yang beribadah, mencintai para
pencari ilmu, menyayangi orang-orang yang berakhlak mulia, dan berusaha
menghiasi dirinya dengan adab yang diridhai Allah.
Dalam kutipan Ihya' Ulumiddin
ini, Imam Al-Ghazali juga mengutip beberapa ungkapan para ahli ibadah mengenai
kedalaman cinta kepada Allah. Namun beliau menjelaskan lebih rinci pembahasan
tersebut akan datang dalam Kitab Mahabbah.
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Buah dan Tanda Cinta kepada Allah dalam Kehidupan Seorang
Mukmin
Teks Arab
وقد
انتهت محبة الله بقوم إلى أن قالوا : لا نفرق بين البلاء والنعمة ، فإن الكل من
الله ولا نفرح إلا بما فيه رضاه حتى قال بعضهم : لا أريد أن أنال مغفرة الله
بمعصية الله
.
وقال
سمنون
:
وليس لي في سواك حظ فكيفما شئت فاختبرني
وسيأتي
تحقيق ذلك في كتاب المحبة .
والمقصود
أن حب الله إذ قوي أثمر حب كل من يقوم بحق
عبادة الله في علم أو عمل وأثمر حب كل من فيه صفة مرضية عند الله من خلق حسن أو
تأدب بآداب الشرع
.
Terjemahan Lengkap
Cinta kepada Allah telah mencapai
tingkatan yang sangat tinggi pada sebagian orang, sehingga mereka berkata:
"Kami tidak membedakan antara
musibah dan nikmat, karena semuanya berasal dari Allah. Kami tidak bergembira
kecuali terhadap sesuatu yang di dalamnya terdapat keridaan-Nya."
Sebagian yang lain berkata:
"Aku tidak ingin memperoleh
ampunan Allah dengan cara bermaksiat kepada Allah."
Sumnun berkata:
"Aku tidak memiliki tujuan
selain Engkau. Maka ujilah aku sebagaimana Engkau kehendaki."
Penjelasan lebih rinci mengenai
keadaan seperti ini akan dijelaskan dalam Kitab Mahabbah.
Tujuan pembahasan ini adalah bahwa
apabila cinta kepada Allah telah menjadi kuat, maka cinta itu akan melahirkan
kecintaan kepada setiap orang yang menegakkan hak ibadah kepada Allah, baik
melalui ilmu maupun amal.
Demikian pula akan melahirkan
kecintaan kepada setiap orang yang memiliki sifat-sifat yang diridhai Allah,
seperti akhlak yang baik dan perilaku yang sesuai dengan adab-adab syariat.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali tidak bermaksud
mengajarkan agar seorang mukmin tidak lagi merasakan sedih ketika ditimpa
musibah atau tidak boleh bergembira saat memperoleh nikmat. Beliau sedang
menggambarkan keadaan sebagian hamba yang telah mencapai tingkat cinta kepada
Allah yang sangat tinggi, sehingga keridaan Allah menjadi tujuan utama dalam
setiap keadaan.
Bagi kebanyakan manusia, Islam tetap
mengajarkan untuk memohon keselamatan, kesehatan, dan kemudahan. Bahkan para
nabi juga berdoa agar dijauhkan dari berbagai musibah.
Namun ketika ujian datang, orang
yang mencintai Allah berusaha menerimanya dengan sabar karena meyakini bahwa semua
ketentuan Allah mengandung hikmah.
Artikel Pengembangan
1.
Ridha kepada Allah Tidak Berarti Menyukai Musibah
Ungkapan para ahli ibadah sering
kali terdengar sangat tinggi.
Mereka mengatakan tidak membedakan
antara nikmat dan musibah karena keduanya berasal dari Allah.
Maksudnya bukanlah bahwa sakit
terasa sama dengan sehat atau kehilangan sama dengan memperoleh nikmat.
Yang dimaksud adalah mereka tetap
menempatkan keridaan Allah di atas keadaan yang sedang dialami. Dalam nikmat
mereka bersyukur, sedangkan dalam musibah mereka bersabar.
2.
Tidak Menghalalkan Cara demi Tujuan
Perkataan:
"Aku tidak ingin memperoleh
ampunan Allah dengan bermaksiat kepada Allah."
mengandung pelajaran yang sangat
penting.
Tujuan yang baik tidak pernah
membenarkan cara yang buruk.
Seseorang tidak boleh melakukan dosa
dengan alasan ingin mendapatkan kebaikan setelahnya.
Islam mengajarkan bahwa jalan menuju
keridaan Allah harus ditempuh dengan cara yang diridhai Allah pula.
3.
Mencintai Orang yang Dicintai Allah
Imam Al-Ghazali kemudian menjelaskan
buah nyata dari cinta kepada Allah.
Orang yang benar-benar mencintai
Allah akan mencintai:
- para ulama yang mengajarkan ilmu,
- orang-orang yang tekun beribadah,
- mereka yang berakhlak mulia,
- orang yang jujur,
- mereka yang menjaga amanah,
- serta siapa pun yang berusaha menaati Allah.
Kecintaan ini tidak didasarkan pada
kekayaan atau kedudukan, tetapi pada nilai ketakwaan yang ada pada diri mereka.
4.
Akhlak Mulia Menjadi Alasan untuk Mencintai
Imam Al-Ghazali tidak hanya menyebut
ilmu dan ibadah.
Beliau juga memasukkan akhlak yang
baik serta adab yang sesuai syariat sebagai alasan untuk mencintai seseorang.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam
memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada akhlak.
Orang yang santun, jujur, rendah
hati, penyabar, dan amanah layak dicintai karena sifat-sifat tersebut dicintai
oleh Allah.
5.
Mahabbah Melahirkan Persaudaraan yang Kokoh
Hubungan yang dibangun atas dasar
cinta kepada Allah tidak mudah runtuh karena perubahan keadaan dunia.
Harta bisa habis.
Jabatan bisa hilang.
Kedudukan dapat berubah.
Namun selama iman, ilmu, dan akhlak
tetap terjaga, rasa cinta karena Allah akan tetap hidup.
Inilah sebabnya persaudaraan yang
dibangun atas dasar iman memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding hubungan
yang hanya didasarkan pada kepentingan dunia.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
ukuran cinta kepada Allah tidak hanya tampak dalam banyaknya ibadah, tetapi
juga pada siapa yang kita cintai dan mengapa kita mencintainya.
Apabila hati semakin senang berada
di dekat orang-orang saleh, semakin menghormati para pencari ilmu, semakin
menyukai akhlak yang baik, dan semakin terdorong untuk meneladaninya, maka itu
merupakan salah satu tanda bahwa cinta kepada Allah sedang tumbuh.
Sebaliknya, apabila hati lebih
tertarik kepada kemaksiatan daripada ketaatan, hal tersebut menjadi bahan
muhasabah agar hubungan dengan Allah terus diperbaiki.
Contoh
Seorang pemuda memilih berteman
dengan orang-orang yang rajin salat berjamaah dan gemar menghadiri majelis
ilmu. Ia merasa nyaman berada di tengah mereka karena persahabatan itu
membantunya menjaga iman dan akhlak. Kecintaannya kepada mereka bukan karena
status sosial, melainkan karena mereka mengingatkannya kepada Allah.
Contoh lainnya, seorang muslim
menghormati seorang guru bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga
karena kerendahan hati, kejujuran, dan kesabarannya. Ia berusaha meneladani
akhlak tersebut karena meyakini bahwa sifat-sifat itu dicintai oleh Allah.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
buah dari cinta kepada Allah adalah lahirnya kecintaan kepada segala sesuatu
yang diridhai-Nya. Semakin kuat cinta kepada Allah, semakin besar pula
kecintaan kepada ilmu, ibadah, akhlak mulia, dan orang-orang yang menegakkan
syariat-Nya.
Cinta seperti ini akan membentuk
hubungan sosial yang dilandasi iman, bukan sekadar kepentingan dunia, sehingga
lebih kokoh dan lebih bernilai di sisi Allah.
Hikmah
- Cinta kepada Allah melahirkan kecintaan kepada
orang-orang yang taat kepada-Nya.
- Ridha kepada takdir tidak berarti menikmati musibah,
tetapi menerima ketentuan Allah dengan sabar dan penuh kepercayaan.
- Tujuan yang baik harus ditempuh dengan cara yang halal
dan diridhai Allah.
- Akhlak mulia merupakan salah satu alasan yang benar
untuk mencintai seseorang.
- Persaudaraan yang dibangun atas dasar iman lebih kuat
daripada hubungan yang didasarkan pada kepentingan dunia.
- Semakin mengenal Allah, semakin mudah mencintai segala
sesuatu yang dicintai-Nya.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa
cinta kepada Allah bukan sekadar ucapan atau perasaan yang tersembunyi di dalam
hati. Cinta itu akan tampak dalam pilihan hidup, lingkungan pergaulan, serta
sikap terhadap orang lain. Hati yang dipenuhi mahabbah kepada Allah akan
terdorong mencintai ilmu, ibadah, akhlak mulia, dan orang-orang saleh, karena
semuanya merupakan jalan menuju keridaan-Nya. Semoga Allah menumbuhkan dalam
hati kita cinta yang benar kepada-Nya, sehingga seluruh hubungan, amal, dan
perjalanan hidup kita senantiasa berada dalam naungan rahmat dan kasih
sayang-Nya.
Baca Juga :
Tiga TingkatanCinta kepada Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yang Paling Mulia? (02/05/30)
Mengapa Kita
Mencintai Ulama dan Orang Saleh? Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Cinta
karena Allah (02/05/32)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar