Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz “فقه”
لَفْظُ
" الدِّينِ ":
Lafadz “الدِّين” (Agama):
٥ - يُطْلَقُ لَفْظُ الدِّينِ
لُغَةً عَلَى مَعَانٍ شَتَّى، فَهُوَ مِنْ قَبِيل الأَْلْفَاظِ الْمُشْتَرَكَةِ.
وَالَّذِي يُهِمُّنَا فِي هَذَا الْمَقَامِ هُوَ بَعْضُ هَذِهِ الْمَعَانِي
الَّتِي تَتَّصِل بِمَوْضُوعِنَا، وَهِيَ الْجَزَاءُ، كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى
{مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} (٢) وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُهُ - جَل شَأْنُهُ -: {قَال
قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ يَقُول أَإِنَّكَ لَمِنْ
الْمُصَدِّقِينَ أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا
لَمَدِينُونَ} (٣) أَيْ لَمَجْزِيُّونَ. وَمِنْهَا الطَّرِيقَةُ، وَمِنْ ذَلِكَ
قَوْله تَعَالَى: {لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينٌ} (٤) وَمِنْهَا الْحَاكِمِيَّةُ
كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ
الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ} (٥) أَيْ حَاكِمِيَّتُهُ وَانْفِرَادُهُ
بِالتَّشْرِيعِ. وَمِنْهَا الْقَوَاعِدُ وَالتَّقْنِينُ وَمِنْ ذَلِكَ قَوْله
تَعَالَى: {قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ
الآْخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ
دِينَ الْحَقِّ مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ
عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ} (١) وقَوْله تَعَالَى: {شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ
مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ} (٢) فَهَاتَانِ الآْيَتَانِ
تَدُلاَّنِ عَلَى أَنَّ الدِّينَ هُوَ الْقَانُونُ الَّذِي ارْتَضَاهُ اللَّهُ
لِعِبَادِهِ.
5. Lafaz ad-dīn (الدِّين)
secara bahasa digunakan untuk berbagai macam makna. Oleh karena itu, ia
termasuk lafaz musytarak, yaitu satu lafaz yang memiliki
beberapa makna. Yang penting bagi kita dalam pembahasan ini adalah beberapa
makna yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas, yaitu:
Pertama, balasan (الجزاء).
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Yang menguasai hari pembalasan.”
Demikian pula firman-Nya:
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي
قَرِينٌ يَقُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا
تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ
“Berkatalah salah seorang di antara mereka, ‘Sesungguhnya dahulu aku mempunyai
seorang teman yang berkata, ‘Apakah kamu benar-benar termasuk orang-orang yang
membenarkan? Apabila kita telah mati dan menjadi tanah serta tulang-belulang,
apakah kita benar-benar akan diberi balasan?’”
Maksud لَمَدِينُونَ adalah لَمَجْزِيُّونَ,
yaitu “benar-benar akan diberi balasan.”
Kedua, jalan atau tata cara (الطريقة).**
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”
Ketiga, kekuasaan atau kewenangan menetapkan hukum (الحاكمية). Sebagaimana firman Allah
Ta‘ala:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ
وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
“Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama itu seluruhnya
menjadi milik Allah.”
Maksudnya adalah kekuasaan dan kewenangan Allah dalam menetapkan hukum,
serta keesaan-Nya dalam menetapkan syariat.
Keempat, kaidah-kaidah dan peraturan perundang-undangan (القواعد والتقنين). Sebagaimana firman Allah
Ta‘ala:
قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ
وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak
mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak
mengikuti agama yang benar, yaitu dari kalangan orang-orang yang telah diberi
Kitab, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh dalam keadaan tunduk.”
Demikian pula firman Allah Ta‘ala:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ
نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ
“Dia telah mensyariatkan bagi kalian agama yang telah Dia wasiatkan kepada Nuh
dan yang telah Kami wahyukan kepadamu.”
Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa agama adalah hukum atau aturan
yang diridai dan ditetapkan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya.
أَمَّا الدِّينُ اصْطِلاَحًا
فَإِنَّهُ - عِنْدَ الإِْطْلاَقِ - يُرَادُ بِهِ مَا شَرَعَهُ اللَّهُ لِعِبَادِهِ
مِنْ أَحْكَامٍ، سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل مِنْهَا بِالْعَقِيدَةِ أَوِ الأَْخْلاَقِ
أَوِ الأَْحْكَامِ الْعَمَلِيَّةِ. وَهَذَا الْمَعْنَى يَتَّفِقُ مَعَ مَدْلُول
لَفْظِ الْفِقْهِ فِي أَوَّل الأَْمْرِ كَمَا تَقَدَّمَ، فَيَكُونَانِ - بِهَذَا
الاِعْتِبَارِ - لَفْظَيْنِ مُتَرَادِفَيْنِ.
Adapun agama (الدِّين) secara istilah,
apabila digunakan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah segala
sesuatu yang Allah syariatkan bagi hamba-hamba-Nya berupa hukum-hukum,
baik yang berkaitan dengan akidah, akhlak, maupun hukum-hukum amaliah.
Makna ini sesuai dengan kandungan lafaz fikih pada masa
awal penggunaannya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dengan demikian,
dari sisi ini, keduanya merupakan dua lafaz yang bersinonim (mutaradif).
Baca juga”
Definisi Fikih Menurut ParaFuqaha
Lafadz-Lafadz
yang Berkaitan dengan Lafadz : فقه : 2-Lafadz الشَّرْع : "فقه الشَّرْع"
Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz “فقه”
لَفْظُ
" الدِّينِ ":
Lafadz “الدِّين” (Agama):
٥ - يُطْلَقُ لَفْظُ الدِّينِ
لُغَةً عَلَى مَعَانٍ شَتَّى، فَهُوَ مِنْ قَبِيل الأَْلْفَاظِ الْمُشْتَرَكَةِ.
وَالَّذِي يُهِمُّنَا فِي هَذَا الْمَقَامِ هُوَ بَعْضُ هَذِهِ الْمَعَانِي
الَّتِي تَتَّصِل بِمَوْضُوعِنَا، وَهِيَ الْجَزَاءُ، كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى
{مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} (٢) وَمِنْ ذَلِكَ قَوْلُهُ - جَل شَأْنُهُ -: {قَال
قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ يَقُول أَإِنَّكَ لَمِنْ
الْمُصَدِّقِينَ أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا
لَمَدِينُونَ} (٣) أَيْ لَمَجْزِيُّونَ. وَمِنْهَا الطَّرِيقَةُ، وَمِنْ ذَلِكَ
قَوْله تَعَالَى: {لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينٌ} (٤) وَمِنْهَا الْحَاكِمِيَّةُ
كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ
الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ} (٥) أَيْ حَاكِمِيَّتُهُ وَانْفِرَادُهُ
بِالتَّشْرِيعِ. وَمِنْهَا الْقَوَاعِدُ وَالتَّقْنِينُ وَمِنْ ذَلِكَ قَوْله
تَعَالَى: {قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ
الآْخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ
دِينَ الْحَقِّ مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ
عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ} (١) وقَوْله تَعَالَى: {شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ
مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ} (٢) فَهَاتَانِ الآْيَتَانِ
تَدُلاَّنِ عَلَى أَنَّ الدِّينَ هُوَ الْقَانُونُ الَّذِي ارْتَضَاهُ اللَّهُ
لِعِبَادِهِ.
5. Lafaz ad-dīn (الدِّين)
secara bahasa digunakan untuk berbagai macam makna. Oleh karena itu, ia
termasuk lafaz musytarak, yaitu satu lafaz yang memiliki
beberapa makna. Yang penting bagi kita dalam pembahasan ini adalah beberapa
makna yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas, yaitu:
Pertama, balasan (الجزاء).
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Yang menguasai hari pembalasan.”
Demikian pula firman-Nya:
قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي
قَرِينٌ يَقُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا
تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ
“Berkatalah salah seorang di antara mereka, ‘Sesungguhnya dahulu aku mempunyai
seorang teman yang berkata, ‘Apakah kamu benar-benar termasuk orang-orang yang
membenarkan? Apabila kita telah mati dan menjadi tanah serta tulang-belulang,
apakah kita benar-benar akan diberi balasan?’”
Maksud لَمَدِينُونَ adalah لَمَجْزِيُّونَ,
yaitu “benar-benar akan diberi balasan.”
Kedua, jalan atau tata cara (الطريقة).**
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”
Ketiga, kekuasaan atau kewenangan menetapkan hukum (الحاكمية). Sebagaimana firman Allah
Ta‘ala:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ
وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
“Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama itu seluruhnya
menjadi milik Allah.”
Maksudnya adalah kekuasaan dan kewenangan Allah dalam menetapkan hukum,
serta keesaan-Nya dalam menetapkan syariat.
Keempat, kaidah-kaidah dan peraturan perundang-undangan (القواعد والتقنين). Sebagaimana firman Allah
Ta‘ala:
قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ
وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak
mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak
mengikuti agama yang benar, yaitu dari kalangan orang-orang yang telah diberi
Kitab, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh dalam keadaan tunduk.”
Demikian pula firman Allah Ta‘ala:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ
نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ
“Dia telah mensyariatkan bagi kalian agama yang telah Dia wasiatkan kepada Nuh
dan yang telah Kami wahyukan kepadamu.”
Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa agama adalah hukum atau aturan
yang diridai dan ditetapkan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya.
أَمَّا الدِّينُ اصْطِلاَحًا
فَإِنَّهُ - عِنْدَ الإِْطْلاَقِ - يُرَادُ بِهِ مَا شَرَعَهُ اللَّهُ لِعِبَادِهِ
مِنْ أَحْكَامٍ، سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل مِنْهَا بِالْعَقِيدَةِ أَوِ الأَْخْلاَقِ
أَوِ الأَْحْكَامِ الْعَمَلِيَّةِ. وَهَذَا الْمَعْنَى يَتَّفِقُ مَعَ مَدْلُول
لَفْظِ الْفِقْهِ فِي أَوَّل الأَْمْرِ كَمَا تَقَدَّمَ، فَيَكُونَانِ - بِهَذَا
الاِعْتِبَارِ - لَفْظَيْنِ مُتَرَادِفَيْنِ.
Adapun agama (الدِّين) secara istilah,
apabila digunakan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah segala
sesuatu yang Allah syariatkan bagi hamba-hamba-Nya berupa hukum-hukum,
baik yang berkaitan dengan akidah, akhlak, maupun hukum-hukum amaliah.
Makna ini sesuai dengan kandungan lafaz fikih pada masa
awal penggunaannya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dengan demikian,
dari sisi ini, keduanya merupakan dua lafaz yang bersinonim (mutaradif).
Baca juga”
Definisi Fikih Menurut ParaFuqaha
Lafadz-Lafadz
yang Berkaitan dengan Lafadz : فقه : 2-Lafadz الشَّرْع : "فقه الشَّرْع"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar