Lafadz
“Tasyri‘” (التَّشْرِيع)
٨ - التَّشْرِيعُ
لُغَةً مَصْدَرُ شَرَعَ، أَيْ وَضَعَ قَانُونًا وَقَوَاعِدَ. وَفِي الاِصْطِلاَحِ
هُوَ خِطَابُ اللَّهِ تَعَالَى الْمُتَعَلِّقُ بِالْعِبَادِ طَلَبًا أَوْ
تَخْيِيرًا أَوْ وَضْعًا.
8. Tasyri‘ (التَّشْرِيع)
secara bahasa merupakan masdar dari kata شَرَعَ,
yang berarti menetapkan suatu undang-undang dan kaidah-kaidah.
Adapun tasyri‘ secara istilah adalah:
“Khitab (ketetapan atau firman) Allah Ta‘ala yang berkaitan dengan
perbuatan para hamba, baik berupa tuntutan, pemberian pilihan, maupun penetapan
hukum.”
وَمِنْ هُنَا يَنْبَغِي أَنْ
يُعْلَمَ أَنَّهُ لاَ حَقَّ فِي التَّشْرِيعِ إِلاَّ لِلَّهِ وَحْدَهُ، كَقَوْلِهِ
تَعَالَى: {إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ
الْفَاصِلِينَ} (٤) فَلَيْسَ لأَِحَدٍ - كَائِنًا مَنْ كَانَ - أَنْ يَشْرَعَ
حُكْمًا، سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل بِحُقُوقِ اللَّهِ أَوْ حُقُوقِ الْعِبَادِ؛
لأَِنَّ هَذَا افْتِرَاءٌ عَلَى اللَّهِ، وَسَلْبٌ لِمَا اخْتَصَّ بِهِ نَفْسَهُ:
{وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا
حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى
اللَّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} (٥)
Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa hak menetapkan syariat
hanyalah milik Allah semata, sebagaimana firman-Nya:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ يَقُصُّ
الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran, dan Dia
adalah sebaik-baik pemberi keputusan.”
Maka, tidak seorang pun—siapa pun dia—berhak menetapkan suatu hukum
syariat, baik hukum yang berkaitan dengan hak-hak Allah maupun
hak-hak manusia. Sebab, tindakan tersebut merupakan pendustaan
terhadap Allah dan berarti merampas sesuatu yang secara khusus menjadi
hak-Nya. Allah Ta‘ala berfirman:
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ
الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ
إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ
قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu
secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah tidak akan beruntung. (Bagi mereka) kesenangan yang sedikit, dan
bagi mereka azab yang pedih.”
وَرَسُول اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مَعَ عُلُوِّ مَكَانَتِهِ - لَيْسَ لَهُ حَقُّ
التَّشْرِيعِ وَإِنَّمَا لَهُ حَقُّ الْبَيَانِ، وَعَلَيْهِ وَاجِبُ التَّبْلِيغِ:
{يَا أَيُّهَا الرَّسُول بَلِّغْ مَا أُنْزِل إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَل
فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ} (١) وَيَقُول تَعَالَى: {وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ
الْكِتَابَ إِلاَّ لِتُبَيِّنَ لَهُمْ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى
وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ} (٢) وَكَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَنْزَلْنَا
إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّل إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ
يَتَفَكَّرُونَ} (٣)
Rasulullah ﷺ, meskipun memiliki
kedudukan yang sangat tinggi, tidak memiliki hak untuk menetapkan
syariat. Beliau hanya memiliki hak untuk menjelaskan syariat,
dan beliau berkewajiban menyampaikannya. Allah Ta‘ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا
أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika
engkau tidak melakukannya, berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.”
Allah Ta‘ala juga berfirman:
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ
إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ
يُؤْمِنُونَ
“Kami tidak menurunkan Kitab kepadamu melainkan agar engkau menjelaskan kepada
mereka apa yang mereka perselisihkan, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang beriman.”
Demikian pula firman-Nya:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ
لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu az-Zikr (Al-Qur’an), agar engkau menjelaskan kepada
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar mereka berpikir.”
وَهَذَا مَا أَجْمَعَ
عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ قَاطِبَةً، بَل أَجْمَعَتْ عَلَيْهِ الشَّرَائِعُ
السَّمَاوِيَّةُ كُلُّهَا، وَلَمْ يَشِذَّ عَنْ ذَلِكَ إِلاَّ الَّذِينَ رَفَضُوا
الاِنْصِيَاعَ إِلَى شَرَائِعِ اللَّهِ جُمْلَةً وَتَفْصِيلاً.
Inilah yang telah disepakati oleh seluruh kaum Muslimin.
Bahkan, hal tersebut juga telah disepakati oleh seluruh syariat samawi.
Tidak ada yang menyimpang dari ketentuan tersebut kecuali orang-orang yang menolak
untuk tunduk kepada syariat-syariat Allah secara keseluruhan maupun secara
terperinci.
وَسَنُبَيِّنُ - إِنْ شَاءَ
اللَّهُ - ذَلِكَ بِالتَّفْصِيل فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ، مُبَيِّنِينَ
الْمَذَاهِبَ وَالأَْدِلَّةَ الَّتِي لاَ تَدَعُ مَجَالاً لِلشَّكِّ فِي أَنَّ
الْحُكْمَ لِلَّهِ وَحْدَهُ.
Dan kami akan menjelaskan hal tersebut secara terperinci,
insyaallah, dalam lampiran usul fikih, dengan memaparkan berbagai
pendapat dan dalil-dalil yang tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi keraguan
bahwa penetapan hukum hanyalah milik Allah semata.
Baca juga:
Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz : فقه : Lafadz الشَّرِيعَة dan الشِّرْعَة
Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz : فقه - Lafadz : الشَّرْع
Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz “Fikih”: Lafadz “Ijtihad” (الاجتهاد)
Lafadz
“Tasyri‘” (التَّشْرِيع)
٨ - التَّشْرِيعُ
لُغَةً مَصْدَرُ شَرَعَ، أَيْ وَضَعَ قَانُونًا وَقَوَاعِدَ. وَفِي الاِصْطِلاَحِ
هُوَ خِطَابُ اللَّهِ تَعَالَى الْمُتَعَلِّقُ بِالْعِبَادِ طَلَبًا أَوْ
تَخْيِيرًا أَوْ وَضْعًا.
8. Tasyri‘ (التَّشْرِيع)
secara bahasa merupakan masdar dari kata شَرَعَ,
yang berarti menetapkan suatu undang-undang dan kaidah-kaidah.
Adapun tasyri‘ secara istilah adalah:
“Khitab (ketetapan atau firman) Allah Ta‘ala yang berkaitan dengan
perbuatan para hamba, baik berupa tuntutan, pemberian pilihan, maupun penetapan
hukum.”
وَمِنْ هُنَا يَنْبَغِي أَنْ
يُعْلَمَ أَنَّهُ لاَ حَقَّ فِي التَّشْرِيعِ إِلاَّ لِلَّهِ وَحْدَهُ، كَقَوْلِهِ
تَعَالَى: {إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ
الْفَاصِلِينَ} (٤) فَلَيْسَ لأَِحَدٍ - كَائِنًا مَنْ كَانَ - أَنْ يَشْرَعَ
حُكْمًا، سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل بِحُقُوقِ اللَّهِ أَوْ حُقُوقِ الْعِبَادِ؛
لأَِنَّ هَذَا افْتِرَاءٌ عَلَى اللَّهِ، وَسَلْبٌ لِمَا اخْتَصَّ بِهِ نَفْسَهُ:
{وَلاَ تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا
حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى
اللَّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} (٥)
Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa hak menetapkan syariat
hanyalah milik Allah semata, sebagaimana firman-Nya:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ يَقُصُّ
الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran, dan Dia
adalah sebaik-baik pemberi keputusan.”
Maka, tidak seorang pun—siapa pun dia—berhak menetapkan suatu hukum
syariat, baik hukum yang berkaitan dengan hak-hak Allah maupun
hak-hak manusia. Sebab, tindakan tersebut merupakan pendustaan
terhadap Allah dan berarti merampas sesuatu yang secara khusus menjadi
hak-Nya. Allah Ta‘ala berfirman:
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ
الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ
إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ
قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu
secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan
terhadap Allah tidak akan beruntung. (Bagi mereka) kesenangan yang sedikit, dan
bagi mereka azab yang pedih.”
وَرَسُول اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مَعَ عُلُوِّ مَكَانَتِهِ - لَيْسَ لَهُ حَقُّ
التَّشْرِيعِ وَإِنَّمَا لَهُ حَقُّ الْبَيَانِ، وَعَلَيْهِ وَاجِبُ التَّبْلِيغِ:
{يَا أَيُّهَا الرَّسُول بَلِّغْ مَا أُنْزِل إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَل
فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ} (١) وَيَقُول تَعَالَى: {وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ
الْكِتَابَ إِلاَّ لِتُبَيِّنَ لَهُمْ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى
وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ} (٢) وَكَقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَنْزَلْنَا
إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّل إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ
يَتَفَكَّرُونَ} (٣)
Rasulullah ﷺ, meskipun memiliki
kedudukan yang sangat tinggi, tidak memiliki hak untuk menetapkan
syariat. Beliau hanya memiliki hak untuk menjelaskan syariat,
dan beliau berkewajiban menyampaikannya. Allah Ta‘ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا
أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika
engkau tidak melakukannya, berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.”
Allah Ta‘ala juga berfirman:
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ
إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ
يُؤْمِنُونَ
“Kami tidak menurunkan Kitab kepadamu melainkan agar engkau menjelaskan kepada
mereka apa yang mereka perselisihkan, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang beriman.”
Demikian pula firman-Nya:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ
لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu az-Zikr (Al-Qur’an), agar engkau menjelaskan kepada
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar mereka berpikir.”
وَهَذَا مَا أَجْمَعَ
عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ قَاطِبَةً، بَل أَجْمَعَتْ عَلَيْهِ الشَّرَائِعُ
السَّمَاوِيَّةُ كُلُّهَا، وَلَمْ يَشِذَّ عَنْ ذَلِكَ إِلاَّ الَّذِينَ رَفَضُوا
الاِنْصِيَاعَ إِلَى شَرَائِعِ اللَّهِ جُمْلَةً وَتَفْصِيلاً.
Inilah yang telah disepakati oleh seluruh kaum Muslimin.
Bahkan, hal tersebut juga telah disepakati oleh seluruh syariat samawi.
Tidak ada yang menyimpang dari ketentuan tersebut kecuali orang-orang yang menolak
untuk tunduk kepada syariat-syariat Allah secara keseluruhan maupun secara
terperinci.
وَسَنُبَيِّنُ - إِنْ شَاءَ
اللَّهُ - ذَلِكَ بِالتَّفْصِيل فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ، مُبَيِّنِينَ
الْمَذَاهِبَ وَالأَْدِلَّةَ الَّتِي لاَ تَدَعُ مَجَالاً لِلشَّكِّ فِي أَنَّ
الْحُكْمَ لِلَّهِ وَحْدَهُ.
Dan kami akan menjelaskan hal tersebut secara terperinci,
insyaallah, dalam lampiran usul fikih, dengan memaparkan berbagai
pendapat dan dalil-dalil yang tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi keraguan
bahwa penetapan hukum hanyalah milik Allah semata.
Baca juga:
Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz : فقه : Lafadz الشَّرِيعَة dan الشِّرْعَة
Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz : فقه - Lafadz : الشَّرْع
Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz “Fikih”: Lafadz “Ijtihad” (الاجتهاد)
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar