Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih : Cara Penyajian Fikih dan Penyusunan Secara Kolektif

التَّعْرِيفُ بِالْمَوْسُوعَةِ الْفِقْهِيَّةِ

Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih

تَطْوِيرُ عَرْضِ الْفِقْهِ وَ (التَّدْوِينُ الْجَمَاعِيُّ) :

Cara Penyajian Fikih dan (Penyusunan Secara Kolektif)

٤٥ - لَقَدْ مَرَّ الْفِقْهُ الإِْسْلاَمِيُّ فِي رِحْلَةِ تَدْوِينِهِ بِأَطْوَارٍ مُخْتَلِفَةٍ تُشْبِهُ أَطْوَارَ تَكْوِينِهِ، وَلاَ يَتَّسِعُ الْمَجَال لأَِكْثَرَ مِنْ الإِْشَارَةِ إِلَى أَنَّهُ بَدَأَ مُمْتَزِجًا بِالسُّنَّةِ وَالآْثَارِ، ثُمَّ ظَهَرَ فِي صُورَةِ الأَْمَالِي وَالْمَسَائِل وَالْجَوَامِعِ الْمُهْتَمَّةِ بِالصُّوَرِ وَالْفُرُوعِ أَكْثَرَ مِنْ الْمَبَادِئِ، ثُمَّ تَلاَ ذَلِكَ تَأْلِيفُ الْمُدَوَّنَاتِ وَأُمَّهَاتِ الْكُتُبِ الْمَبْسُوطَةِ الَّتِي حُفِظَتْ بِهَا الْمَذَاهِبُ مِنْ الاِنْدِثَارِ، وَقَدْ آل التَّصْنِيفُ فِي الْفِقْهِ بَعْدَئِذٍ إِلَى عَرْضِهِ بِأُسْلُوبٍ عِلْمِيٍّ شَدِيدِ التَّرْكِيزِ، مُتَفَاوِتِ التَّرْتِيبِ، مُسْتَغْلِقِ الْعِبَارَةِ لِغَيْرِ الْمُتَمَرِّسِ، وَظَهَرَتْ (الْمُتُونُ) الَّتِي اسْتَلْزَمَ إِيضَاحُهَا وَضْعَ (الشُّرُوحِ) وَتَعْلِيقَ (الْحَوَاشِي) عَلَى نَمَطٍ صَعْبٍ لاَ تَكْمُل الْفَائِدَةُ مِنْهُ إِلاَّ لِلْمُتَخَصِّصِ، بَل رُبَّمَا تَنْحَصِرُ خِبْرَةُ الْفَرْدِ بِمَذْهَبٍ دُونَ آخَرَ لِمَا تَعَارَفَ عَلَيْهِ أَهْل كُل مَذْهَبٍ فِي دِرَاسَتِهِ وَالإِْفْتَاءِ بِهِ وَالتَّأْلِيفِ فِيهِ، مِنْ أُصُولٍ وَرُمُوزٍ وَاصْطِلاَحَاتٍ، بَعْضُهَا مُدَوَّنٌ فِي مَوَاطِنَ مُتَفَرِّقَةٍ، وَبَعْضُهَا لاَ يُدْرَكُ إِلاَّ بِالتَّلْقِينِ وَالتَّوْقِيفِ عَلَيْهِ.

45 - Fikih Islam dalam perjalanan pembukuannya telah melalui berbagai tahapan yang berbeda, yang menyerupai tahapan-tahapan pembentukannya. Ruang pembahasan tidak memungkinkan untuk menguraikan lebih panjang, selain sekadar menunjukkan bahwa pada awalnya fikih ditulis menyatu dengan sunnah dan atsar. Kemudian fikih muncul dalam bentuk amālī, masā’il, dan jawāmi‘, yang lebih banyak memperhatikan berbagai bentuk persoalan dan cabang-cabang hukum daripada prinsip-prinsip dasarnya.

Setelah itu, muncul penulisan mudawwanāt dan kitab-kitab induk yang luas, yang dengannya mazhab-mazhab terpelihara dari kepunahan. Selanjutnya, penulisan fikih berkembang menjadi penyajiannya dengan gaya ilmiah yang sangat padat, dengan susunan yang beragam dan ungkapan yang sulit dipahami oleh orang yang belum berpengalaman.

Kemudian muncul al-mutūn (matan-matan fikih) yang untuk menjelaskan dan memperjelasnya diperlukan penyusunan syarah-syarah dan penulisan catatan-catatan pinggir (hawāsyī) dengan metode yang sulit, sehingga manfaatnya tidak sempurna kecuali bagi kalangan ahli.

Bahkan, terkadang pengetahuan seseorang hanya terbatas pada satu mazhab dan tidak pada mazhab lainnya, karena setiap mazhab memiliki tradisi tersendiri dalam mempelajari, memberikan fatwa, dan menulis tentang mazhabnya, berupa prinsip-prinsip, simbol-simbol, dan istilah-istilah khusus. Sebagiannya telah dibukukan di berbagai tempat yang terpisah-pisah, sedangkan sebagian lainnya hanya dapat dipahami melalui pengajaran langsung dan penjelasan dari guru.

وَالْغَرَضُ هُنَا الإِْشَارَةُ إِلَى ظُهُورِ بَعْضِ الْمُؤَلَّفَاتِ الْمُطَوَّرَةِ فِي عَرْضِ الْفِقْهِ تُشْبِهُ الْمَوْسُوعَةَ - إِذَا غُضَّ النَّظَرُ عَنْ قَضِيَّةِ التَّرْتِيبِ، عَلَى أَهَمِّيَّتِهَا - لاِشْتِمَالِهَا عَلَى بَعْضِ خَصَائِصِ الْكِتَابَةِ الْمَوْسُوعِيَّةِ كَالشُّمُول وَإِطْلاَقِ الْبَحْثِ عَنْ التَّقَيُّدِ بِإِيضَاحِ كِتَابٍ، أَوْ مَنْهَجِ تَدْرِيسٍ، أَوْ طَاقَةِ الْفَرْدِ الْعَادِيِّ. . . وَالأَْمْثِلَةُ عَلَى ذَلِكَ كَثِيرَةٌ فِي الْكُتُبِ الَّتِي تَجْمَعُ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ مَا تَفَرَّقَ فِي غَيْرِهَا مِنْ الْمُؤَلَّفَاتِ، وَتُعْنَى بِمَا كَانَ يُسَمَّى: عِلْمَ الْخِلاَفِ (مُقَارَنَةُ الْمَذَاهِبِ) وَتُجْرَى عَلَى أُسْلُوبِ الْبَسْطِ وَالاِسْتِيفَاءِ لِكُل مَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ بِحَسَبِ تَقْدِيرِ الْمُؤَلِّفِ. . لَكِنَّ تِلْكَ الأَْشْبَاهَ الْمَوْسُوعِيَّةَ كَانَتْ جُهُودًا فَرْدِيَّةً (أَوْ شِبْهَ فَرْدِيَّةٍ حِينَ تَخْتَرِمُ الْمَنِيَّةُ الْمُؤَلِّفَ فَيَأْتِيَ مَنْ يَضَعُ تَكْمِلَةً لِكِتَابِهِ) وَالنَّزْرُ الْيَسِيرُ مِنْهَا كَانَ جَهْدًا جَمَاعِيًّا وَغَالِبُهُ ثَمَرَةُ اهْتِمَامِ أُولِي الأَْمْرِ، اقْتِرَاحًا أَوْ تَشْجِيعًا أَوْ تَبَنِّيًا وَاحْتِضَانًا.

Jika persoalan sistematika penyusunan—meskipun penting—dikesampingkan, karena karya tersebut memiliki beberapa karakteristik penulisan ensiklopedis, seperti cakupan pembahasan yang luas dan kebebasan dalam melakukan kajian, tanpa terikat pada keharusan menjelaskan suatu kitab tertentu, mengikuti metode pengajaran tertentu, ataupun menyesuaikan dengan kemampuan orang awam.

Tujuan pembahasan di sini adalah untuk menunjukkan munculnya beberapa karya yang dikembangkan dalam penyajian fikih yang menyerupai ensiklopedia, jika persoalan penyusunannya tidak diperhatikan–meskipun persoalan tersebut penting-. Hal itu karena karya-karya tersebut memuat sebagian karakteristik penulisan ensiklopedis, seperti cakupan pembahasan yang luas dan kebebasan dalam melakukan kajian, tanpa terikat pada keharusan menjelaskan suatu kitab tertentu, mengikuti metode pengajaran tertentu, ataupun menyesuaikan dengan kemampuan orang awam.

Contohnya banyak terdapat dalam kitab-kitab yang menghimpun dalam satu karya berbagai pembahasan yang sebelumnya tersebar dalam karya-karya lain. Karya-karya tersebut juga memberikan perhatian terhadap apa yang dahulu disebut ‘ilm al-khilāf (perbandingan mazhab), serta disusun dengan metode yang luas dan lengkap, mencakup segala sesuatu yang dipandang perlu menurut pertimbangan penulisnya.

Namun, karya-karya yang menyerupai ensiklopedia tersebut pada umumnya merupakan upaya perseorangan (atau semi-perseorangan, ketika penulisnya meninggal dunia lalu ada orang lain yang datang untuk menyelesaikan kitabnya). Hanya sebagian kecil yang merupakan usaha kolektif, dan sebagian besar di antaranya lahir berkat perhatian pihak-pihak yang berwenang, baik melalui usulan, dukungan, maupun pengadopsian dan pemberian perlindungan terhadap proyek tersebut.

٤٦ - وَمِنْ الأَْمْثِلَةِ لِلْجَهْدِ الْجَمَاعِيِّ فِي الْمُؤَلَّفَاتِ الْفِقْهِيَّةِ الْجَارِيَةِ مَجْرَى الْمَوْسُوعَاتِ: الْكِتَابُ الْمَعْرُوفُ فِي الْفِقْهِ الْحَنَفِيِّ بِالْفَتَاوَى الْهِنْدِيَّةِ، وَالَّذِي اشْتَرَكَ فِي إِنْجَازِهِ (٢٣) فَقِيهًا مِنْ كِبَارِ عُلَمَاءِ الْهِنْدِ بِطَلَبِ وَتَمْوِيل مَلِكِهَا (مُحَمَّدٍ أورنكزيب) الْمُلَقَّبِ: " عَالَم كير " أَيْ فَاتِحِ الْعَالَمِ، وَلِذَا سُمِّيَتْ " الْفَتَاوَى الْعَالَمْكِيرِيَّةِ ". (١)

46 - Salah satu contoh usaha kolektif dalam karya-karya fikih yang disusun dengan corak ensiklopedis adalah kitab yang dikenal dalam fikih Hanafi dengan nama Fatāwā al-Hindiyyah. Dalam penyusunannya, turut serta 23 orang ahli fikih dari kalangan ulama besar India, atas permintaan dan dengan pendanaan rajanya, Muhammad Aurangzeb, yang bergelar “‘Ālamgīr”, yang berarti Penakluk Dunia. Oleh karena itu, kitab tersebut juga dinamakan “al-Fatāwā al-‘Ālamgīriyyah.”

وَيَجْرِي عَلَى هَذَا الْمِنْوَال مِنْ حَيْثُ تَحَقُّقُ بَعْضِ أَهْدَافِ الْمَوْسُوعَةِ بِالرُّجُوعِ إِلَيْهَا وَالاِعْتِمَادِ عَلَى مَا فِيهَا: الْمُخْتَارَاتُ التَّشْرِيعِيَّةُ الْفِقْهِيَّةُ الَّتِي كَانَتْ مَثَابَةً لِلْقُضَاةِ وَالْمُفْتِينَ بِالاِلْتِزَامِ فَضْلاً عَنْ الإِْلْزَامِ، كَمَجَلَّةِ الأَْحْكَامِ الْعَدْلِيَّةِ الْمَعْرُوفَةِ وَالَّتِي وَضَعَتْهَا لَجْنَةٌ مِنْ الْفُقَهَاءِ بِتَكْلِيفٍ مِنْ الْخِلاَفَةِ الْعُثْمَانِيَّةِ، وَكَانَ بَيْنَ أَعْضَائِهَا الشَّيْخُ عَلاَءُ الدِّينِ بْنُ عَابِدِينَ (نَجْل صَاحِبِ الْحَاشِيَةِ الْمَشْهُورَةِ فِي الْفِقْهِ الْحَنَفِيِّ) . وَيُقَارِبُهَا فِي الذُّيُوعِ ثَلاَثَةُ كُتُبٍ لِلْعَلاَّمَةِ مُحَمَّد قَدْرِي بَاشَا مَصُوغَةً كَقَوَانِينَ مُقْتَرَحَةً (وَهِيَ مُرْشِدُ الْحَيْرَانِ فِي مَعْرِفَةِ أَحْوَال الإِْنْسَانِ، وَالأَْحْكَامُ الشَّرْعِيَّةُ فِي الأَْحْوَال الشَّخْصِيَّةِ، وَالْعَدْل وَالإِْنْصَافُ فِي أَحْكَامِ الأَْوْقَافِ) تِلْكَ الْكُتُبُ الَّتِي يُورِدُ بَعْضُ الْكُتَّابِ احْتِمَال أَنْ يَكُونَ مُؤَلِّفُهَا قَدْ أَعَانَهُ عَلَيْهَا قَوْمٌ آخَرُونَ، بِالرَّغْمِ مِنْ أَهْلِيَّتِهِ الْعِلْمِيَّةِ الَّتِي لاَ يُسْتَغْرَبُ مَعَهَا نُهُوضُهُ بِهَذَا الْعَمَل وَحْدَهُ، وَهُوَ مِمَّا يَنُوءُ بِهِ الأَْفْرَادُ.

Dengan pola yang sama, dilihat dari tercapainya sebagian tujuan ensiklopedia melalui rujukan kepadanya dan menjadikan isinya sebagai landasan, dapat pula disebut al-Mukhtārāt al-Tasyrī‘iyyah al-Fiqhiyyah, yang menjadi pedoman bagi para hakim dan mufti untuk diikuti, bahkan untuk dijadikan dasar yang mengikat.

Di antaranya adalah Majallat al-Aḥkām al-‘Adliyyah yang terkenal, yang disusun oleh sebuah komite yang terdiri dari para ahli fikih atas penugasan dari Khilafah Utsmaniyah. Di antara anggotanya adalah Syekh ‘Alā’uddīn ibn ‘Ābidīn, putra pengarang Hāsyiyah yang terkenal dalam fikih Hanafi.

Yang hampir menyamainya dalam hal popularitas adalah tiga kitab karya ulama besar Muḥammad Qadrī Bāsyā, yang disusun dalam bentuk rancangan undang-undang, yaitu:

  1. Murshid al-Ḥayrān fī Ma‘rifat Aḥwāl al-Insān.
  2. Al-Aḥkām al-Syar‘iyyah fī al-Aḥwāl al-Syakhṣiyyah.
  3. Al-‘Adl wa al-Inṣāf fī Aḥkām al-Awqāf.

Mengenai kitab-kitab tersebut, sebagian penulis menyebutkan kemungkinan bahwa pengarangnya mendapat bantuan dari orang lain dalam penyusunannya, meskipun ia sendiri memiliki kemampuan ilmiah yang membuatnya tidak mengherankan apabila mampu menyelesaikan pekerjaan tersebut seorang diri. Sebab, pekerjaan semacam ini merupakan pekerjaan yang terlalu berat untuk dipikul oleh seorang individu.

وَلاَ يَتَّسِعُ الْمَقَامُ لِلإِْفَاضَةِ فِي هَذَا الْمَوْضُوعِ وَضَرْبِ الأَْمْثِلَةِ الْكَثِيرَةِ عَلَيْهِ، فَهُوَ مِمَّا يُعْنَى بِهِ عِلْمُ وَصْفِ الْكُتُبِ (الببليوغرافيا) وَمَا كُتِبَ فِي تَارِيخِ الْفِقْهِ وَالتَّشْرِيعِ، وَالْمَدَاخِل إِلَى الْفِقْهِ وَمَذَاهِبِهِ وَسِيَرِ الأَْئِمَّةِ وَطَبَقَاتِ الْفُقَهَاءِ.

Tempat ini tidak memungkinkan untuk membahas persoalan ini secara panjang lebar dan memberikan banyak contoh tentangnya. Sebab, hal tersebut termasuk perkara yang menjadi perhatian ilmu bibliografi (ilmu tentang deskripsi dan pendataan kitab), serta berbagai karya yang membahas sejarah fikih dan perundang-undangan Islam, pengantar-pengantar tentang fikih dan mazhab-mazhabnya, biografi para imam, dan tingkatan-tingkatan para ahli fikih.

Baca juga:

Pembagian Fikih Berdasarkan Dalil-Dalilnya, Tema-Tema Pembahasannya, danPertimbangan Hikmah yang Terkandung Di Dalamnya

Sumber-Sumber Ijtihad : Dua Persoalan yang Belakangan Ini BanyakDiperbincangkan

Definisi “Ensiklopedia” (Dā’irat al-Ma‘ārif atau al-Mu‘allamah) : Perbedaan Antara Ensiklopedia Fikih dengan Mudawwanāt, Muṭawwalāt, Mabsūṭāt, atau Ummahāt (kitab-kitab induk)

التَّعْرِيفُ بِالْمَوْسُوعَةِ الْفِقْهِيَّةِ

Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih

تَطْوِيرُ عَرْضِ الْفِقْهِ وَ (التَّدْوِينُ الْجَمَاعِيُّ) :

Cara Penyajian Fikih dan (Penyusunan Secara Kolektif)

٤٥ - لَقَدْ مَرَّ الْفِقْهُ الإِْسْلاَمِيُّ فِي رِحْلَةِ تَدْوِينِهِ بِأَطْوَارٍ مُخْتَلِفَةٍ تُشْبِهُ أَطْوَارَ تَكْوِينِهِ، وَلاَ يَتَّسِعُ الْمَجَال لأَِكْثَرَ مِنْ الإِْشَارَةِ إِلَى أَنَّهُ بَدَأَ مُمْتَزِجًا بِالسُّنَّةِ وَالآْثَارِ، ثُمَّ ظَهَرَ فِي صُورَةِ الأَْمَالِي وَالْمَسَائِل وَالْجَوَامِعِ الْمُهْتَمَّةِ بِالصُّوَرِ وَالْفُرُوعِ أَكْثَرَ مِنْ الْمَبَادِئِ، ثُمَّ تَلاَ ذَلِكَ تَأْلِيفُ الْمُدَوَّنَاتِ وَأُمَّهَاتِ الْكُتُبِ الْمَبْسُوطَةِ الَّتِي حُفِظَتْ بِهَا الْمَذَاهِبُ مِنْ الاِنْدِثَارِ، وَقَدْ آل التَّصْنِيفُ فِي الْفِقْهِ بَعْدَئِذٍ إِلَى عَرْضِهِ بِأُسْلُوبٍ عِلْمِيٍّ شَدِيدِ التَّرْكِيزِ، مُتَفَاوِتِ التَّرْتِيبِ، مُسْتَغْلِقِ الْعِبَارَةِ لِغَيْرِ الْمُتَمَرِّسِ، وَظَهَرَتْ (الْمُتُونُ) الَّتِي اسْتَلْزَمَ إِيضَاحُهَا وَضْعَ (الشُّرُوحِ) وَتَعْلِيقَ (الْحَوَاشِي) عَلَى نَمَطٍ صَعْبٍ لاَ تَكْمُل الْفَائِدَةُ مِنْهُ إِلاَّ لِلْمُتَخَصِّصِ، بَل رُبَّمَا تَنْحَصِرُ خِبْرَةُ الْفَرْدِ بِمَذْهَبٍ دُونَ آخَرَ لِمَا تَعَارَفَ عَلَيْهِ أَهْل كُل مَذْهَبٍ فِي دِرَاسَتِهِ وَالإِْفْتَاءِ بِهِ وَالتَّأْلِيفِ فِيهِ، مِنْ أُصُولٍ وَرُمُوزٍ وَاصْطِلاَحَاتٍ، بَعْضُهَا مُدَوَّنٌ فِي مَوَاطِنَ مُتَفَرِّقَةٍ، وَبَعْضُهَا لاَ يُدْرَكُ إِلاَّ بِالتَّلْقِينِ وَالتَّوْقِيفِ عَلَيْهِ.

45 - Fikih Islam dalam perjalanan pembukuannya telah melalui berbagai tahapan yang berbeda, yang menyerupai tahapan-tahapan pembentukannya. Ruang pembahasan tidak memungkinkan untuk menguraikan lebih panjang, selain sekadar menunjukkan bahwa pada awalnya fikih ditulis menyatu dengan sunnah dan atsar. Kemudian fikih muncul dalam bentuk amālī, masā’il, dan jawāmi‘, yang lebih banyak memperhatikan berbagai bentuk persoalan dan cabang-cabang hukum daripada prinsip-prinsip dasarnya.

Setelah itu, muncul penulisan mudawwanāt dan kitab-kitab induk yang luas, yang dengannya mazhab-mazhab terpelihara dari kepunahan. Selanjutnya, penulisan fikih berkembang menjadi penyajiannya dengan gaya ilmiah yang sangat padat, dengan susunan yang beragam dan ungkapan yang sulit dipahami oleh orang yang belum berpengalaman.

Kemudian muncul al-mutūn (matan-matan fikih) yang untuk menjelaskan dan memperjelasnya diperlukan penyusunan syarah-syarah dan penulisan catatan-catatan pinggir (hawāsyī) dengan metode yang sulit, sehingga manfaatnya tidak sempurna kecuali bagi kalangan ahli.

Bahkan, terkadang pengetahuan seseorang hanya terbatas pada satu mazhab dan tidak pada mazhab lainnya, karena setiap mazhab memiliki tradisi tersendiri dalam mempelajari, memberikan fatwa, dan menulis tentang mazhabnya, berupa prinsip-prinsip, simbol-simbol, dan istilah-istilah khusus. Sebagiannya telah dibukukan di berbagai tempat yang terpisah-pisah, sedangkan sebagian lainnya hanya dapat dipahami melalui pengajaran langsung dan penjelasan dari guru.

وَالْغَرَضُ هُنَا الإِْشَارَةُ إِلَى ظُهُورِ بَعْضِ الْمُؤَلَّفَاتِ الْمُطَوَّرَةِ فِي عَرْضِ الْفِقْهِ تُشْبِهُ الْمَوْسُوعَةَ - إِذَا غُضَّ النَّظَرُ عَنْ قَضِيَّةِ التَّرْتِيبِ، عَلَى أَهَمِّيَّتِهَا - لاِشْتِمَالِهَا عَلَى بَعْضِ خَصَائِصِ الْكِتَابَةِ الْمَوْسُوعِيَّةِ كَالشُّمُول وَإِطْلاَقِ الْبَحْثِ عَنْ التَّقَيُّدِ بِإِيضَاحِ كِتَابٍ، أَوْ مَنْهَجِ تَدْرِيسٍ، أَوْ طَاقَةِ الْفَرْدِ الْعَادِيِّ. . . وَالأَْمْثِلَةُ عَلَى ذَلِكَ كَثِيرَةٌ فِي الْكُتُبِ الَّتِي تَجْمَعُ فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ مَا تَفَرَّقَ فِي غَيْرِهَا مِنْ الْمُؤَلَّفَاتِ، وَتُعْنَى بِمَا كَانَ يُسَمَّى: عِلْمَ الْخِلاَفِ (مُقَارَنَةُ الْمَذَاهِبِ) وَتُجْرَى عَلَى أُسْلُوبِ الْبَسْطِ وَالاِسْتِيفَاءِ لِكُل مَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ بِحَسَبِ تَقْدِيرِ الْمُؤَلِّفِ. . لَكِنَّ تِلْكَ الأَْشْبَاهَ الْمَوْسُوعِيَّةَ كَانَتْ جُهُودًا فَرْدِيَّةً (أَوْ شِبْهَ فَرْدِيَّةٍ حِينَ تَخْتَرِمُ الْمَنِيَّةُ الْمُؤَلِّفَ فَيَأْتِيَ مَنْ يَضَعُ تَكْمِلَةً لِكِتَابِهِ) وَالنَّزْرُ الْيَسِيرُ مِنْهَا كَانَ جَهْدًا جَمَاعِيًّا وَغَالِبُهُ ثَمَرَةُ اهْتِمَامِ أُولِي الأَْمْرِ، اقْتِرَاحًا أَوْ تَشْجِيعًا أَوْ تَبَنِّيًا وَاحْتِضَانًا.

Jika persoalan sistematika penyusunan—meskipun penting—dikesampingkan, karena karya tersebut memiliki beberapa karakteristik penulisan ensiklopedis, seperti cakupan pembahasan yang luas dan kebebasan dalam melakukan kajian, tanpa terikat pada keharusan menjelaskan suatu kitab tertentu, mengikuti metode pengajaran tertentu, ataupun menyesuaikan dengan kemampuan orang awam.

Tujuan pembahasan di sini adalah untuk menunjukkan munculnya beberapa karya yang dikembangkan dalam penyajian fikih yang menyerupai ensiklopedia, jika persoalan penyusunannya tidak diperhatikan–meskipun persoalan tersebut penting-. Hal itu karena karya-karya tersebut memuat sebagian karakteristik penulisan ensiklopedis, seperti cakupan pembahasan yang luas dan kebebasan dalam melakukan kajian, tanpa terikat pada keharusan menjelaskan suatu kitab tertentu, mengikuti metode pengajaran tertentu, ataupun menyesuaikan dengan kemampuan orang awam.

Contohnya banyak terdapat dalam kitab-kitab yang menghimpun dalam satu karya berbagai pembahasan yang sebelumnya tersebar dalam karya-karya lain. Karya-karya tersebut juga memberikan perhatian terhadap apa yang dahulu disebut ‘ilm al-khilāf (perbandingan mazhab), serta disusun dengan metode yang luas dan lengkap, mencakup segala sesuatu yang dipandang perlu menurut pertimbangan penulisnya.

Namun, karya-karya yang menyerupai ensiklopedia tersebut pada umumnya merupakan upaya perseorangan (atau semi-perseorangan, ketika penulisnya meninggal dunia lalu ada orang lain yang datang untuk menyelesaikan kitabnya). Hanya sebagian kecil yang merupakan usaha kolektif, dan sebagian besar di antaranya lahir berkat perhatian pihak-pihak yang berwenang, baik melalui usulan, dukungan, maupun pengadopsian dan pemberian perlindungan terhadap proyek tersebut.

٤٦ - وَمِنْ الأَْمْثِلَةِ لِلْجَهْدِ الْجَمَاعِيِّ فِي الْمُؤَلَّفَاتِ الْفِقْهِيَّةِ الْجَارِيَةِ مَجْرَى الْمَوْسُوعَاتِ: الْكِتَابُ الْمَعْرُوفُ فِي الْفِقْهِ الْحَنَفِيِّ بِالْفَتَاوَى الْهِنْدِيَّةِ، وَالَّذِي اشْتَرَكَ فِي إِنْجَازِهِ (٢٣) فَقِيهًا مِنْ كِبَارِ عُلَمَاءِ الْهِنْدِ بِطَلَبِ وَتَمْوِيل مَلِكِهَا (مُحَمَّدٍ أورنكزيب) الْمُلَقَّبِ: " عَالَم كير " أَيْ فَاتِحِ الْعَالَمِ، وَلِذَا سُمِّيَتْ " الْفَتَاوَى الْعَالَمْكِيرِيَّةِ ". (١)

46 - Salah satu contoh usaha kolektif dalam karya-karya fikih yang disusun dengan corak ensiklopedis adalah kitab yang dikenal dalam fikih Hanafi dengan nama Fatāwā al-Hindiyyah. Dalam penyusunannya, turut serta 23 orang ahli fikih dari kalangan ulama besar India, atas permintaan dan dengan pendanaan rajanya, Muhammad Aurangzeb, yang bergelar “‘Ālamgīr”, yang berarti Penakluk Dunia. Oleh karena itu, kitab tersebut juga dinamakan “al-Fatāwā al-‘Ālamgīriyyah.”

وَيَجْرِي عَلَى هَذَا الْمِنْوَال مِنْ حَيْثُ تَحَقُّقُ بَعْضِ أَهْدَافِ الْمَوْسُوعَةِ بِالرُّجُوعِ إِلَيْهَا وَالاِعْتِمَادِ عَلَى مَا فِيهَا: الْمُخْتَارَاتُ التَّشْرِيعِيَّةُ الْفِقْهِيَّةُ الَّتِي كَانَتْ مَثَابَةً لِلْقُضَاةِ وَالْمُفْتِينَ بِالاِلْتِزَامِ فَضْلاً عَنْ الإِْلْزَامِ، كَمَجَلَّةِ الأَْحْكَامِ الْعَدْلِيَّةِ الْمَعْرُوفَةِ وَالَّتِي وَضَعَتْهَا لَجْنَةٌ مِنْ الْفُقَهَاءِ بِتَكْلِيفٍ مِنْ الْخِلاَفَةِ الْعُثْمَانِيَّةِ، وَكَانَ بَيْنَ أَعْضَائِهَا الشَّيْخُ عَلاَءُ الدِّينِ بْنُ عَابِدِينَ (نَجْل صَاحِبِ الْحَاشِيَةِ الْمَشْهُورَةِ فِي الْفِقْهِ الْحَنَفِيِّ) . وَيُقَارِبُهَا فِي الذُّيُوعِ ثَلاَثَةُ كُتُبٍ لِلْعَلاَّمَةِ مُحَمَّد قَدْرِي بَاشَا مَصُوغَةً كَقَوَانِينَ مُقْتَرَحَةً (وَهِيَ مُرْشِدُ الْحَيْرَانِ فِي مَعْرِفَةِ أَحْوَال الإِْنْسَانِ، وَالأَْحْكَامُ الشَّرْعِيَّةُ فِي الأَْحْوَال الشَّخْصِيَّةِ، وَالْعَدْل وَالإِْنْصَافُ فِي أَحْكَامِ الأَْوْقَافِ) تِلْكَ الْكُتُبُ الَّتِي يُورِدُ بَعْضُ الْكُتَّابِ احْتِمَال أَنْ يَكُونَ مُؤَلِّفُهَا قَدْ أَعَانَهُ عَلَيْهَا قَوْمٌ آخَرُونَ، بِالرَّغْمِ مِنْ أَهْلِيَّتِهِ الْعِلْمِيَّةِ الَّتِي لاَ يُسْتَغْرَبُ مَعَهَا نُهُوضُهُ بِهَذَا الْعَمَل وَحْدَهُ، وَهُوَ مِمَّا يَنُوءُ بِهِ الأَْفْرَادُ.

Dengan pola yang sama, dilihat dari tercapainya sebagian tujuan ensiklopedia melalui rujukan kepadanya dan menjadikan isinya sebagai landasan, dapat pula disebut al-Mukhtārāt al-Tasyrī‘iyyah al-Fiqhiyyah, yang menjadi pedoman bagi para hakim dan mufti untuk diikuti, bahkan untuk dijadikan dasar yang mengikat.

Di antaranya adalah Majallat al-Aḥkām al-‘Adliyyah yang terkenal, yang disusun oleh sebuah komite yang terdiri dari para ahli fikih atas penugasan dari Khilafah Utsmaniyah. Di antara anggotanya adalah Syekh ‘Alā’uddīn ibn ‘Ābidīn, putra pengarang Hāsyiyah yang terkenal dalam fikih Hanafi.

Yang hampir menyamainya dalam hal popularitas adalah tiga kitab karya ulama besar Muḥammad Qadrī Bāsyā, yang disusun dalam bentuk rancangan undang-undang, yaitu:

  1. Murshid al-Ḥayrān fī Ma‘rifat Aḥwāl al-Insān.
  2. Al-Aḥkām al-Syar‘iyyah fī al-Aḥwāl al-Syakhṣiyyah.
  3. Al-‘Adl wa al-Inṣāf fī Aḥkām al-Awqāf.

Mengenai kitab-kitab tersebut, sebagian penulis menyebutkan kemungkinan bahwa pengarangnya mendapat bantuan dari orang lain dalam penyusunannya, meskipun ia sendiri memiliki kemampuan ilmiah yang membuatnya tidak mengherankan apabila mampu menyelesaikan pekerjaan tersebut seorang diri. Sebab, pekerjaan semacam ini merupakan pekerjaan yang terlalu berat untuk dipikul oleh seorang individu.

وَلاَ يَتَّسِعُ الْمَقَامُ لِلإِْفَاضَةِ فِي هَذَا الْمَوْضُوعِ وَضَرْبِ الأَْمْثِلَةِ الْكَثِيرَةِ عَلَيْهِ، فَهُوَ مِمَّا يُعْنَى بِهِ عِلْمُ وَصْفِ الْكُتُبِ (الببليوغرافيا) وَمَا كُتِبَ فِي تَارِيخِ الْفِقْهِ وَالتَّشْرِيعِ، وَالْمَدَاخِل إِلَى الْفِقْهِ وَمَذَاهِبِهِ وَسِيَرِ الأَْئِمَّةِ وَطَبَقَاتِ الْفُقَهَاءِ.

Tempat ini tidak memungkinkan untuk membahas persoalan ini secara panjang lebar dan memberikan banyak contoh tentangnya. Sebab, hal tersebut termasuk perkara yang menjadi perhatian ilmu bibliografi (ilmu tentang deskripsi dan pendataan kitab), serta berbagai karya yang membahas sejarah fikih dan perundang-undangan Islam, pengantar-pengantar tentang fikih dan mazhab-mazhabnya, biografi para imam, dan tingkatan-tingkatan para ahli fikih.

Baca juga:

Pembagian Fikih Berdasarkan Dalil-Dalilnya, Tema-Tema Pembahasannya, danPertimbangan Hikmah yang Terkandung Di Dalamnya

Sumber-Sumber Ijtihad : Dua Persoalan yang Belakangan Ini BanyakDiperbincangkan

Definisi “Ensiklopedia” (Dā’irat al-Ma‘ārif atau al-Mu‘allamah) : Perbedaan Antara Ensiklopedia Fikih dengan Mudawwanāt, Muṭawwalāt, Mabsūṭāt, atau Ummahāt (kitab-kitab induk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih : Cara Penyajian Fikih dan Penyusunan Secara Kolektif

التَّعْرِيفُ بِالْمَوْسُوعَةِ الْفِقْهِيَّةِ Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih تَطْوِيرُ عَرْضِ الْفِقْهِ وَ (التَّدْوِينُ الْجَم...