تَقْسِيمَاتُ
الْفِقْهِ:
Pembagian-pembagian
fikih
لِلْفِقْهِ تَقْسِيمَاتٌ
شَتَّى لاِعْتِبَارَاتٍ شَتَّى، نَكْتَفِي مِنْهَا بِذِكْرِ التَّقْسِيمَاتِ
الآْتِيَةِ:
Fikih memiliki berbagai macam pembagian berdasarkan berbagai pertimbangan.
Dalam pembahasan ini, kami cukup menyebutkan pembagian-pembagian berikut:
أ - تَقْسِيمُ مَسَائِلِهِ
بِاعْتِبَارِ أَدِلَّتِهِ:
A – Pembagian masalah-masalah fikih
berdasarkan dalil-dalilnya
٤٢ - وَهُوَ
بِهَذَا الاِعْتِبَارِ يَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ:
42 – Berdasarkan pertimbangan ini, fikih terbagi menjadi dua
bagian:
أَوَّلُهُمَا: فِقْهٌ
مُعْتَمِدٌ عَلَى أَدِلَّةٍ قَطْعِيَّةٍ فِي ثُبُوتِهَا وَدَلاَلَتِهَا، كَوُجُوبِ
الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّوْمِ وَالْحَجِّ عَلَى الْمُسْتَطِيعِ،
وَكَحُرْمَةِ الزِّنَى وَالرِّبَا وَشُرْبِ الْخَمْرِ وَإِبَاحَةِ الطَّيِّبَاتِ
مِنْ الرِّزْقِ.
Pertama: fikih yang bersandar pada dalil-dalil yang pasti
(qat‘i), baik dari segi ketetapan sumbernya maupun dari segi
penunjukan maknanya. Contohnya adalah kewajiban salat, zakat, puasa,
dan haji bagi orang yang mampu; demikian pula keharaman zina,
riba, dan minum khamr, serta kebolehan menikmati berbagai
rezeki yang baik.
وَثَانِيهِمَا: فِقْهٌ
يَعْتَمِدُ عَلَى أَدِلَّةٍ ظَنِّيَّةٍ كَتَحْدِيدِ الْقَدْرِ الْمَمْسُوحِ مِنْ
الرَّأْسِ، وَالْقِرَاءَةِ الْمُتَعَيَّنَةِ فِي الصَّلاَةِ، وَتَعْيِينِ عِدَّةِ
الْمُطَلَّقَةِ ذَاتِ الْحَيْضِ أَبِالطُّهْرِ أَمْ بِالْحَيْضِ؟ وَهَل
الْخَلْوَةُ الصَّحِيحَةُ مُوجِبَةٌ لِتَمَامِ الْمَهْرِ وَوُجُوبِ الْعِدَّةِ؟ .
. إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ.
Kedua: fikih yang bersandar pada dalil-dalil yang bersifat
dugaan (ẓannī), seperti menentukan kadar bagian kepala yang wajib
diusap, bacaan tertentu yang ditetapkan dalam salat, dan menentukan masa idah
wanita yang ditalak serta masih mengalami haid: apakah iddahnya dihitung berdasarkan masa
suci atau berdasarkan masa haid? Demikian pula, apakah khalwah
yang sahih menyebabkan sempurnanya mahar dan mewajibkan idah? Dan
masih banyak masalah lainnya.
وَكَمَا تَقَدَّمَ فَإِنَّ
الأَْحْكَامَ الثَّابِتَةَ بِأَدِلَّةٍ قَطْعِيَّةٍ مَعْلُومَةٌ مِنْ الدِّينِ
بِالضَّرُورَةِ لاَ تُعْتَبَرُ فِي نَظَرِ الأُْصُولِيِّينَ فِقْهًا، وَإِنْ
اعْتُبِرَتْ فِي نَظَرِ الْفُقَهَاءِ.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hukum-hukum yang ditetapkan
berdasarkan dalil-dalil yang qat‘ī (pasti) dan telah diketahui secara pasti
sebagai bagian dari agama (ma‘lūm min ad-dīn biḍ-ḍarūrah) tidak
dianggap sebagai fikih menurut istilah para ahli usul fikih, meskipun menurut
istilah para fukaha hukum-hukum tersebut tetap dianggap sebagai fikih.
ب - تَقْسِيمُ الْفِقْهِ
بِاعْتِبَارِ مَوْضُوعَاتِهِ:
B – Pembagian fikih berdasarkan
tema-tema pembahasannya
٤٣ - لَمَّا
كَانَ عِلْمُ الْفِقْهِ هُوَ الْعِلْمَ الَّذِي تُعْرَفُ مِنْهُ أَحْكَامُ اللَّهِ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي أَفْعَال الْعِبَادِ، اقْتِضَاءً أَوْ تَخْيِيرًا أَوْ
وَضْعًا، فَإِنَّهُ بِهَذَا الاِعْتِبَارِ يَتَنَاوَل كُل مَا يَصْدُرُ عَنْ
الْعِبَادِ. وَبِهَذَا تَعَدَّدَتْ مَوْضُوعَاتُهُ، فَالأَْحْكَامُ الَّتِي
تُنَظِّمُ عَلاَقَةَ الْعَبْدِ بِاللَّهِ تَعَالَى سُمِّيَتْ بِالْعِبَادَاتِ،
سَوَاءٌ كَانَتْ هَذِهِ الْعِبَادَاتُ بَدَنِيَّةً مَحْضَةً وَهِيَ الصَّوْمُ
وَالصَّلاَةُ، أَوْ مَالِيَّةً مَحْضَةً وَهِيَ الزَّكَاةُ، أَوْ مِنْهُمَا وَهِيَ
فَرِيضَةُ الْحَجِّ. وَالأَْحْكَامُ الَّتِي تُنَظِّمُ الأُْسْرَةَ مِنْ زَوَاجٍ
وَطَلاَقٍ وَنَفَقَةٍ وَحَضَانَةٍ وَوِلاَيَةٍ وَنَسَبٍ وَمَا يَتَّصِل بِذَلِكَ
أُطْلِقَ عَلَيْهَا الآْنَ فِقْهُ الأَْحْوَال الشَّخْصِيَّةِ، وَأَلْحَقُوا بِهَا
الْوَصَايَا وَالإِْرْثَ لاِتِّصَالِهِمَا الْوَثِيقِ بِأَحْكَامِ الأُْسْرَةِ.
43 – Karena ilmu fikih adalah ilmu yang dengannya diketahui
hukum-hukum Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengenai perbuatan-perbuatan manusia,
baik berupa tuntutan, pilihan, maupun ketentuan hukum, maka
berdasarkan pertimbangan ini fikih mencakup segala sesuatu yang bersumber dari
perbuatan manusia.
Dengan demikian, pembahasan dalam fikih menjadi beragam. Hukum-hukum yang
mengatur hubungan seorang hamba dengan Allah Ta‘ālā disebut ibadah,
baik ibadah tersebut bersifat murni badaniyah, yaitu puasa dan salat,
maupun bersifat murni maliyah, yaitu zakat, atau yang mencakup
keduanya, yaitu kewajiban haji.
Adapun hukum-hukum yang mengatur keluarga, seperti
pernikahan, perceraian, nafkah, pengasuhan anak, perwalian, nasab, dan hal-hal
yang berkaitan dengannya, pada masa sekarang disebut fikih al-aḥwāl
asy-syakhṣiyyah (fikih hukum keluarga). Para ulama juga memasukkan wasiat
dan warisan ke dalam pembahasan ini karena keduanya memiliki hubungan
yang erat dengan hukum-hukum keluarga.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
تُنَظِّمُ مُعَامَلاَتِ النَّاسِ مِنْ بَيْعٍ وَشِرَاءٍ وَشَرِكَةٍ - بِكُل
صُوَرِهَا - وَرَهْنٍ وَكَفَالَةٍ وَوَكَالَةٍ وَهِبَةٍ وَإِعَارَةٍ وَإِجَارَةٍ،
قَدْ أَطْلَقُوا عَلَيْهَا الآْنَ اسْمَ الْقَانُونِ الْمَدَنِيِّ أَوِ
التِّجَارِيِّ.
Adapun hukum-hukum yang mengatur muamalah antarmanusia,
seperti jual beli, pembelian, kerja sama dalam berbagai bentuknya, gadai,
penjaminan, perwakilan, hibah, peminjaman, dan sewa-menyewa, pada masa sekarang
disebut dengan istilah hukum perdata atau hukum dagang.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
تُنَظِّمُ الْقَضَاءَ وَمَا يَتَّصِل بِهِ مِنْ طُرُقِ الإِْثْبَاتِ أَطْلَقُوا
عَلَيْهَا اسْمَ قَانُونِ الْمُرَافَعَاتِ.
Adapun hukum-hukum yang mengatur peradilan dan segala
sesuatu yang berkaitan dengannya, seperti metode-metode pembuktian,
pada masa sekarang disebut hukum acara perdata.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
تُنَظِّمُ عَلاَقَةَ الْحَاكِمِ بِالْمَحْكُومِينَ، وَالْمَحْكُومِينَ
بِالْحَاكِمِ أَطْلَقُوا عَلَيْهَا الآْنَ اسْمَ الْقَانُونِ الدُّسْتُورِيِّ.
Adapun hukum-hukum yang mengatur hubungan antara penguasa dan rakyat
yang diperintah, serta hubungan rakyat yang diperintah dengan
penguasa, pada masa sekarang disebut hukum tata negara.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
نَظَّمَتْ عَلاَقَةَ الْمُسْلِمِينَ بِغَيْرِهِمْ سِلْمًا وَحَرْبًا قَدْ أَطْلَقَ
عَلَيْهَا الْفُقَهَاءُ الْقُدَامَى اسْمَ السِّيَرِ، وَسَمَّاهَا الْمُحْدَثُونَ
بِاسْمِ الْقَانُونِ الدُّوَلِيِّ.
Adapun hukum-hukum yang mengatur hubungan
kaum Muslimin dengan pihak lain, baik dalam keadaan damai maupun
perang, dahulu para fuqaha menyebutnya dengan istilah as-Siyar,
sedangkan para ulama kontemporer menyebutnya hukum internasional.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
تَتَنَاوَل تَصَرُّفَاتِ الْعِبَادِ فِي مَأْكَلِهِمْ وَمَلْبَسِهِمْ
وَسُلُوكِهِمْ أَطْلَقَ عَلَيْهَا الْفُقَهَاءُ مَسَائِل الْحَظْرِ وَالإِْبَاحَةِ.
Adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan perilaku manusia dalam hal
makanan, pakaian, dan tingkah laku mereka, para fuqaha menyebutnya
sebagai masā’il al-ḥaẓr wa al-ibāḥah, yaitu masalah-masalah
yang berkaitan dengan perkara yang dilarang dan perkara yang dibolehkan.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
حَدَّدَتِ الْجَرَائِمَ وَالْعُقُوبَاتِ قَدْ أَطْلَقَ عَلَيْهَا فُقَهَاؤُنَا
اسْمَ الْحُدُودِ وَالْجِنَايَاتِ وَالتَّعْزِيرَاتِ، وَسَمَّاهَا الْمُحْدَثُونَ
بِاسْمِ الْقَانُونِ الْجَزَائِيِّ أَوِ الْجِنَائِيِّ.
Adapun hukum-hukum yang menetapkan jenis-jenis kejahatan dan sanksi
hukumannya, para fuqaha kita menyebutnya dengan istilah ḥudūd,
jināyāt, dan ta‘zīrāt, sedangkan para ulama kontemporer menyebutnya hukum
pidana atau hukum kriminal.
وَمِنْ هَذَا الْبَيَانِ
الْمُخْتَصَرِ يَتَبَيَّنُ لَنَا أَنَّ الْفِقْهَ تَنَاوَل كُل مَا يَتَّصِل
بِالإِْنْسَانِ، فَلَيْسَ قَاصِرًا - كَمَا يَزْعُمُ الْبَعْضُ - عَلَى تَنْظِيمِ
عَلاَقَةِ الإِْنْسَانِ بِرَبِّهِ، فَمَنْ ذَهَبَ هَذَا الْمَذْهَبَ إِمَّا
جَاهِلٌ أَوْ مُتَجَاهِلٌ بِالْفِقْهِ الإِْسْلاَمِيِّ وَمَوْضُوعَاتِهِ.
Dari penjelasan singkat ini, dapat kita ketahui bahwa fikih mencakup
segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Fikih tidak
hanya terbatas—sebagaimana yang diklaim oleh sebagian orang—pada pengaturan
hubungan manusia dengan Tuhannya.
Oleh karena itu, orang yang berpendapat demikian tidak lain adalah orang
yang tidak mengetahui atau sengaja berpura-pura tidak mengetahui fikih Islam
beserta berbagai bidang pembahasannya.
ج - تَقْسِيمُ الْفِقْهِ
بِاعْتِبَارِ حِكْمَتِهِ:
C – Pembagian fikih berdasarkan
pertimbangan hikmah yang terkandung di dalamnya
٤٤ - تَنْقَسِمُ
مَسَائِل الْفِقْهِ مِنْ حَيْثُ إِدْرَاكُ حِكْمَةِ التَّشْرِيعِ فِيهِ أَوْ
عَدَمُ إِدْرَاكِهَا إِلَى قِسْمَيْنِ:
44 – Ditinjau dari dapat atau tidaknya hikmah pensyariatan
dipahami, masalah-masalah fikih terbagi menjadi dua bagian:
أَوَّلُهُمَا: أَحْكَامٌ
مَعْقُولَةُ الْمَعْنَى، وَقَدْ تُسَمَّى أَحْكَامًا مُعَلَّلَةً، وَهِيَ تِلْكَ
الأَْحْكَامُ الَّتِي تُدْرَكُ حِكْمَةُ تَشْرِيعِهَا، إِمَّا لِلتَّنْصِيصِ عَلَى
هَذِهِ الْحِكْمَةِ، أَوْ يُسْرِ اسْتِنْبَاطِهَا. وَهَذِهِ الْمَسَائِل هِيَ
الأَْكْثَرُ فِيمَا شَرَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، حَيْثُ: لَمْ
يَمْتَحِنَّا بِمَا تَعْيَا الْعُقُول بِهِ حِرْصًا عَلَيْنَا فَلَمْ نَرْتَبْ
وَلَمْ نَهِمْ وَذَلِكَ كَتَشْرِيعِ الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّيَامِ
وَالْحَجِّ فِي الْجُمْلَةِ، وَكَتَشْرِيعِ إِيجَابِ الْمَهْرِ فِي النِّكَاحِ،
وَالْعِدَّةِ فِي الطَّلاَقِ وَالْوَفَاةِ، وَوُجُوبِ النَّفَقَةِ لِلزَّوْجَةِ
وَالأَْوْلاَدِ وَالأَْقَارِبِ، وَكَتَشْرِيعِ الطَّلاَقِ عِنْدَمَا تَتَعَقَّدُ
الْحَيَاةُ الزَّوْجِيَّةُ. . . إِلَى آلاَفِ الْمَسَائِل الْفِقْهِيَّةِ.
Pertama: hukum-hukum yang dapat dipahami maknanya, yang
terkadang disebut juga hukum-hukum yang memiliki ‘illat. Yaitu
hukum-hukum yang dapat diketahui hikmah pensyariatannya, baik karena hikmah
tersebut disebutkan secara tegas dalam nash maupun karena mudah untuk
disimpulkan.
Masalah-masalah seperti ini merupakan bagian terbesar dari apa yang telah
disyariatkan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Allah tidak menguji kita dengan
sesuatu yang tidak mampu dipahami oleh akal, sebagai bentuk kasih sayang-Nya
kepada kita, sehingga kita tidak ragu dan tidak tersesat. Contohnya adalah
pensyariatan salat, zakat, puasa, dan haji secara umum;
pensyariatan kewajiban mahar dalam pernikahan; masa
idah bagi wanita karena perceraian dan kematian suami; kewajiban
memberikan nafkah kepada istri, anak-anak, dan kerabat; serta
pensyariatan talak ketika kehidupan rumah tangga telah mengalami
kerumitan dan kesulitan; dan masih ada ribuan masalah fikih lainnya.
وَثَانِيهِمَا: أَحْكَامٌ
تَعَبُّدِيَّةٌ، وَهِيَ تِلْكَ الأَْحْكَامُ الَّتِي لاَ تُدْرَكُ فِيهَا
الْمُنَاسَبَةُ بَيْنَ الْفِعْل وَالْحُكْمِ الْمُرَتَّبِ عَلَيْهِ، وَذَلِكَ
كَعَدَدِ الصَّلَوَاتِ وَعَدَدِ الرَّكَعَاتِ وَكَأَكْثَرِ أَعْمَال الْحَجِّ.
وَمِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّ هَذِهِ الأَْحْكَامَ
قَلِيلَةٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الأَْحْكَامِ الْمَعْقُولَةِ الْمَعْنَى.
Kedua: hukum-hukum yang bersifat ta‘abbudī,
yaitu hukum-hukum yang di dalamnya tidak dapat diketahui hubungan atau
kesesuaian antara suatu perbuatan dengan hukum yang ditetapkan atasnya.
Contohnya adalah jumlah salat, jumlah rakaat, dan sebagian besar amalan
haji.
Di antara bentuk rahmat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā adalah bahwa hukum-hukum
semacam ini jumlahnya sedikit dibandingkan dengan hukum-hukum yang
dapat dipahami makna dan hikmah pensyariatannya.
وَتَشْرِيعُ هَذِهِ
الأَْحْكَامِ التَّعَبُّدِيَّةِ إِنَّمَا يُرَادُ بِهِ اخْتِبَارُ الْعَبْدِ هَل
هُوَ مُؤْمِنٌ حَقًّا؟ .
Pensyariatan hukum-hukum ta‘abbudī ini pada hakikatnya
dimaksudkan untuk menguji seorang hamba, apakah ia benar-benar beriman
atau tidak?.
وَمِمَّا يَنْبَغِي أَنْ
يُعْلَمَ فِي هَذَا الْمَقَامِ أَنَّ الشَّرِيعَةَ فِي أُصُولِهَا وَفُرُوعِهَا
لَمْ تَأْتِ بِمَا تَرْفُضُهُ الْعُقُول، وَلَكِنَّهَا قَدْ تَأْتِي بِمَا لاَ
تُدْرِكُهُ الْعُقُول، وَشَتَّانَ بَيْنَ الأَْمْرَيْنِ، فَالإِْنْسَانُ إِذَا
اقْتَنَعَ - عَقْلِيًّا - بِأَنَّ اللَّهَ مَوْجُودٌ وَأَنَّهُ حَكِيمٌ وَأَنَّهُ
الْمُسْتَحِقُّ وَحْدَهُ لِلرُّبُوبِيَّةِ دُونَ غَيْرِهِ، وَاقْتَنَعَ -
عَقْلِيًّا - بِمَا شَاهَدَ مِنْ الْمُعْجِزَاتِ وَالأَْدِلَّةِ، بِصِدْقِ
الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُبَلِّغِ عَنْهُ، فَإِنَّهُ
بِذَلِكَ قَدْ أَقَرَّ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْحَاكِمِيَّةِ
وَالرُّبُوبِيَّةِ، وَأَقَرَّ عَلَى نَفْسِهِ بِالْعُبُودِيَّةِ، فَإِذَا مَا أُمِرَ
بِأَمْرٍ، أَوْ نُهِيَ عَنْ شَيْءٍ، فَقَال: لاَ أَمْتَثِل حَتَّى أَعْرِفَ
الْحِكْمَةَ فِيمَا أُمِرْتُ بِهِ أَوْ نُهِيتُ عَنْهُ، يَكُونُ قَدْ كَذَّبَ
نَفْسَهُ فِي دَعْوَى أَنَّهُ مُؤْمِنٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَإِنَّ لِلْعُقُول
حَدًّا يَنْتَهِي إِلَيْهِ إِدْرَاكُهَا، كَمَا أَنَّ لِلْحَوَاسِّ حَدًّا تَقِفُ
عِنْدَهُ لاَ تَتَجَاوَزُهُ.
Yang perlu diketahui dalam pembahasan ini adalah bahwa syariat, baik
dalam pokok-pokok maupun cabang-cabangnya, tidak datang membawa sesuatu yang
ditolak oleh akal. Akan tetapi, syariat terkadang datang membawa
sesuatu yang tidak mampu dipahami oleh akal. Dan sungguh,
kedua hal ini sangat berbeda.
Seseorang, apabila secara rasional telah meyakini bahwa Allah itu
ada, Mahabijaksana, dan hanya Dialah yang berhak atas rububiyah tanpa ada
selain-Nya, serta secara rasional telah meyakini—berdasarkan mukjizat
dan berbagai bukti yang disaksikannya—akan kebenaran Rasulullah ﷺ yang menyampaikan ajaran dari-Nya,
maka dengan demikian ia telah mengakui bahwa Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā
memiliki hak menetapkan hukum dan memiliki sifat rububiyah, serta
mengakui dirinya sebagai hamba.
Apabila kemudian ia diperintahkan melakukan sesuatu atau dilarang dari
sesuatu, lalu ia berkata, “Aku tidak akan melaksanakan perintah itu
sampai aku mengetahui hikmah dari apa yang diperintahkan atau dilarang
kepadaku,” maka ia telah mendustakan dirinya sendiri dalam
pengakuannya bahwa ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sebab, akal memiliki batas yang menjadi tempat berakhirnya kemampuan
pemahamannya, sebagaimana pancaindra juga memiliki batas tempat ia
berhenti dan tidak mampu melampauinya.
وَمَا مَثَل الْمُتَمَرِّدِ
عَلَى أَحْكَامِ اللَّهِ تَعَالَى التَّعَبُّدِيَّةِ إِلاَّ كَمَثَل مَرِيضٍ
ذَهَبَ إِلَى طَبِيبٍ مَوْثُوقٍ بِعِلْمِهِ وَأَمَانَتِهِ، فَوَصَفَ لَهُ
أَنْوَاعًا مِنْ الأَْدْوِيَةِ، بَعْضَهَا قَبْل الأَْكْل وَبَعْضَهَا أَثْنَاءَهُ
وَبَعْضَهَا بَعْدَهُ، مُخْتَلِفَةَ الْمَقَادِيرِ، فَقَال لِلطَّبِيبِ: لاَ
أَتَعَاطَى دَوَاءَكَ حَتَّى تُبَيِّنَ لِي الْحِكْمَةَ فِي كَوْنِ هَذَا قَبْل
الطَّعَامِ وَهَذَا بَعْدَهُ، وَهَذَا أَثْنَاءَهُ، وَلِمَاذَا تَفَاوَتَتِ
الْجَرْعَاتُ قِلَّةً وَكَثْرَةً؟
Tidaklah perumpamaan orang yang membangkang terhadap hukum-hukum Allah
Ta‘ālā yang bersifat ta‘abbudī kecuali seperti seorang pasien
yang pergi kepada seorang dokter yang terpercaya dalam ilmu dan amanahnya.
Dokter tersebut kemudian meresepkan kepadanya berbagai macam obat; sebagian
diminum sebelum makan, sebagian saat makan,
dan sebagian setelah makan, dengan dosis yang berbeda-beda.
Lalu pasien itu berkata kepada dokter, “Aku tidak akan meminum
obatmu sampai engkau menjelaskan kepadaku hikmah mengapa obat ini harus diminum
sebelum makan, yang ini setelah makan, dan yang ini saat makan, serta mengapa
dosisnya berbeda-beda, ada yang sedikit dan ada yang banyak?”
فَهَل هَذَا الْمَرِيضُ
وَاثِقٌ حَقًّا بِطَبِيبِهِ؟ فَكَذَلِكَ مَنْ يَدَّعِي الإِْيمَانَ بِاللَّهِ
وَرَسُولِهِ ثُمَّ يَتَمَرَّدُ عَلَى الأَْحْكَامِ الَّتِي لاَ يُدْرِكُ
حِكْمَتَهَا، إِذْ الْمُؤْمِنُ الْحَقُّ إِذَا أُمِرَ بِأَمْرٍ أَوْ نُهِيَ عَنْهُ
يَقُول: سَمِعْتُ وَأَطَعْتُ، وَلاَ سِيَّمَا بَعْدَ أَنْ بَيَّنَّا أَنَّهُ
لَيْسَ هُنَاكَ أَحْكَامٌ تَرْفُضُهَا الْعُقُول السَّلِيمَةُ، فَعَدَمُ الْعِلْمِ
بِالشَّيْءِ لَيْسَ دَلِيلاً عَلَى نَفْيِهِ، فَكَمْ مِنْ أَحْكَامٍ خَفِيَتْ
عَلَيْنَا حِكْمَتُهَا فِيمَا مَضَى ثُمَّ انْكَشَفَ لَنَا مَا فِيهَا مِنْ
حِكْمَةٍ بَالِغَةٍ، فَقَدْ كَانَ خَافِيًا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ النَّاسِ حِكْمَةُ
تَحْرِيمِ لَحْمِ الْخِنْزِيرِ، ثُمَّ تَبَيَّنَ لَنَا مَا يَحْمِلُهُ هَذَا
الْحَيَوَانُ الْخَبِيثُ مِنْ أَمْرَاضٍ وَصِفَاتٍ خَبِيثَةٍ، أَرَادَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَنْ يَحْمِيَ مِنْهَا الْمُجْتَمَعَ الإِْسْلاَمِيَّ. وَمِثْل ذَلِكَ
يُقَال فِي الأَْمْرِ بِغَسْل الإِْنَاءِ الَّذِي وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ سَبْعَ
مَرَّاتٍ إِحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ. . إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الأَْحْكَامِ
الَّتِي تَكْشِفُ الأَْيَّامُ عَنْ سِرِّ تَشْرِيعِهَا وَإِنْ كَانَتْ خَافِيَةً
عَلَيْنَا الآْنَ.
Apakah pasien seperti ini benar-benar percaya kepada dokternya? Demikian
pula orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi kemudian
membangkang terhadap hukum-hukum yang tidak dapat ia pahami hikmahnya. Sebab, orang
mukmin yang benar, apabila diperintahkan melakukan sesuatu atau
dilarang darinya, ia berkata, “Aku mendengar dan aku taat.”
Terlebih lagi setelah kami menjelaskan bahwa tidak ada hukum syariat
yang ditolak oleh akal sehat. Ketidaktahuan terhadap sesuatu bukanlah
bukti bahwa sesuatu itu tidak ada. Betapa banyak hukum yang dahulu tersembunyi
hikmahnya bagi kita, kemudian tersingkap bahwa di dalamnya terdapat hikmah yang
sangat besar.
Dahulu, hikmah diharamkannya daging babi tidak diketahui
oleh banyak orang. Kemudian menjadi jelas bagi kita berbagai penyakit dan
sifat-sifat buruk yang dibawa oleh hewan yang buruk ini, yang Allah Subḥānahu
wa Ta‘ālā kehendaki agar masyarakat Islam terlindungi darinya.
Demikian pula dapat dikatakan mengenai perintah mencuci bejana yang
telah dijilat anjing sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan tanah,
dan berbagai hukum lainnya yang seiring berjalannya waktu dapat menyingkap
rahasia di balik pensyariatannya, meskipun hikmah tersebut saat ini
masih tersembunyi bagi kita.
Baca juga:
Sumber-Sumber Ijtihad : Dua Persoalan yang Belakangan Ini BanyakDiperbincangkan
Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih : Cara Penyajian Fikih danPenyusunan Secara Kolektif
تَقْسِيمَاتُ
الْفِقْهِ:
Pembagian-pembagian
fikih
لِلْفِقْهِ تَقْسِيمَاتٌ
شَتَّى لاِعْتِبَارَاتٍ شَتَّى، نَكْتَفِي مِنْهَا بِذِكْرِ التَّقْسِيمَاتِ
الآْتِيَةِ:
Fikih memiliki berbagai macam pembagian berdasarkan berbagai pertimbangan.
Dalam pembahasan ini, kami cukup menyebutkan pembagian-pembagian berikut:
أ - تَقْسِيمُ مَسَائِلِهِ
بِاعْتِبَارِ أَدِلَّتِهِ:
A – Pembagian masalah-masalah fikih
berdasarkan dalil-dalilnya
٤٢ - وَهُوَ
بِهَذَا الاِعْتِبَارِ يَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ:
42 – Berdasarkan pertimbangan ini, fikih terbagi menjadi dua
bagian:
أَوَّلُهُمَا: فِقْهٌ
مُعْتَمِدٌ عَلَى أَدِلَّةٍ قَطْعِيَّةٍ فِي ثُبُوتِهَا وَدَلاَلَتِهَا، كَوُجُوبِ
الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّوْمِ وَالْحَجِّ عَلَى الْمُسْتَطِيعِ،
وَكَحُرْمَةِ الزِّنَى وَالرِّبَا وَشُرْبِ الْخَمْرِ وَإِبَاحَةِ الطَّيِّبَاتِ
مِنْ الرِّزْقِ.
Pertama: fikih yang bersandar pada dalil-dalil yang pasti
(qat‘i), baik dari segi ketetapan sumbernya maupun dari segi
penunjukan maknanya. Contohnya adalah kewajiban salat, zakat, puasa,
dan haji bagi orang yang mampu; demikian pula keharaman zina,
riba, dan minum khamr, serta kebolehan menikmati berbagai
rezeki yang baik.
وَثَانِيهِمَا: فِقْهٌ
يَعْتَمِدُ عَلَى أَدِلَّةٍ ظَنِّيَّةٍ كَتَحْدِيدِ الْقَدْرِ الْمَمْسُوحِ مِنْ
الرَّأْسِ، وَالْقِرَاءَةِ الْمُتَعَيَّنَةِ فِي الصَّلاَةِ، وَتَعْيِينِ عِدَّةِ
الْمُطَلَّقَةِ ذَاتِ الْحَيْضِ أَبِالطُّهْرِ أَمْ بِالْحَيْضِ؟ وَهَل
الْخَلْوَةُ الصَّحِيحَةُ مُوجِبَةٌ لِتَمَامِ الْمَهْرِ وَوُجُوبِ الْعِدَّةِ؟ .
. إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ.
Kedua: fikih yang bersandar pada dalil-dalil yang bersifat
dugaan (ẓannī), seperti menentukan kadar bagian kepala yang wajib
diusap, bacaan tertentu yang ditetapkan dalam salat, dan menentukan masa idah
wanita yang ditalak serta masih mengalami haid: apakah iddahnya dihitung berdasarkan masa
suci atau berdasarkan masa haid? Demikian pula, apakah khalwah
yang sahih menyebabkan sempurnanya mahar dan mewajibkan idah? Dan
masih banyak masalah lainnya.
وَكَمَا تَقَدَّمَ فَإِنَّ
الأَْحْكَامَ الثَّابِتَةَ بِأَدِلَّةٍ قَطْعِيَّةٍ مَعْلُومَةٌ مِنْ الدِّينِ
بِالضَّرُورَةِ لاَ تُعْتَبَرُ فِي نَظَرِ الأُْصُولِيِّينَ فِقْهًا، وَإِنْ
اعْتُبِرَتْ فِي نَظَرِ الْفُقَهَاءِ.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hukum-hukum yang ditetapkan
berdasarkan dalil-dalil yang qat‘ī (pasti) dan telah diketahui secara pasti
sebagai bagian dari agama (ma‘lūm min ad-dīn biḍ-ḍarūrah) tidak
dianggap sebagai fikih menurut istilah para ahli usul fikih, meskipun menurut
istilah para fukaha hukum-hukum tersebut tetap dianggap sebagai fikih.
ب - تَقْسِيمُ الْفِقْهِ
بِاعْتِبَارِ مَوْضُوعَاتِهِ:
B – Pembagian fikih berdasarkan
tema-tema pembahasannya
٤٣ - لَمَّا
كَانَ عِلْمُ الْفِقْهِ هُوَ الْعِلْمَ الَّذِي تُعْرَفُ مِنْهُ أَحْكَامُ اللَّهِ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي أَفْعَال الْعِبَادِ، اقْتِضَاءً أَوْ تَخْيِيرًا أَوْ
وَضْعًا، فَإِنَّهُ بِهَذَا الاِعْتِبَارِ يَتَنَاوَل كُل مَا يَصْدُرُ عَنْ
الْعِبَادِ. وَبِهَذَا تَعَدَّدَتْ مَوْضُوعَاتُهُ، فَالأَْحْكَامُ الَّتِي
تُنَظِّمُ عَلاَقَةَ الْعَبْدِ بِاللَّهِ تَعَالَى سُمِّيَتْ بِالْعِبَادَاتِ،
سَوَاءٌ كَانَتْ هَذِهِ الْعِبَادَاتُ بَدَنِيَّةً مَحْضَةً وَهِيَ الصَّوْمُ
وَالصَّلاَةُ، أَوْ مَالِيَّةً مَحْضَةً وَهِيَ الزَّكَاةُ، أَوْ مِنْهُمَا وَهِيَ
فَرِيضَةُ الْحَجِّ. وَالأَْحْكَامُ الَّتِي تُنَظِّمُ الأُْسْرَةَ مِنْ زَوَاجٍ
وَطَلاَقٍ وَنَفَقَةٍ وَحَضَانَةٍ وَوِلاَيَةٍ وَنَسَبٍ وَمَا يَتَّصِل بِذَلِكَ
أُطْلِقَ عَلَيْهَا الآْنَ فِقْهُ الأَْحْوَال الشَّخْصِيَّةِ، وَأَلْحَقُوا بِهَا
الْوَصَايَا وَالإِْرْثَ لاِتِّصَالِهِمَا الْوَثِيقِ بِأَحْكَامِ الأُْسْرَةِ.
43 – Karena ilmu fikih adalah ilmu yang dengannya diketahui
hukum-hukum Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengenai perbuatan-perbuatan manusia,
baik berupa tuntutan, pilihan, maupun ketentuan hukum, maka
berdasarkan pertimbangan ini fikih mencakup segala sesuatu yang bersumber dari
perbuatan manusia.
Dengan demikian, pembahasan dalam fikih menjadi beragam. Hukum-hukum yang
mengatur hubungan seorang hamba dengan Allah Ta‘ālā disebut ibadah,
baik ibadah tersebut bersifat murni badaniyah, yaitu puasa dan salat,
maupun bersifat murni maliyah, yaitu zakat, atau yang mencakup
keduanya, yaitu kewajiban haji.
Adapun hukum-hukum yang mengatur keluarga, seperti
pernikahan, perceraian, nafkah, pengasuhan anak, perwalian, nasab, dan hal-hal
yang berkaitan dengannya, pada masa sekarang disebut fikih al-aḥwāl
asy-syakhṣiyyah (fikih hukum keluarga). Para ulama juga memasukkan wasiat
dan warisan ke dalam pembahasan ini karena keduanya memiliki hubungan
yang erat dengan hukum-hukum keluarga.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
تُنَظِّمُ مُعَامَلاَتِ النَّاسِ مِنْ بَيْعٍ وَشِرَاءٍ وَشَرِكَةٍ - بِكُل
صُوَرِهَا - وَرَهْنٍ وَكَفَالَةٍ وَوَكَالَةٍ وَهِبَةٍ وَإِعَارَةٍ وَإِجَارَةٍ،
قَدْ أَطْلَقُوا عَلَيْهَا الآْنَ اسْمَ الْقَانُونِ الْمَدَنِيِّ أَوِ
التِّجَارِيِّ.
Adapun hukum-hukum yang mengatur muamalah antarmanusia,
seperti jual beli, pembelian, kerja sama dalam berbagai bentuknya, gadai,
penjaminan, perwakilan, hibah, peminjaman, dan sewa-menyewa, pada masa sekarang
disebut dengan istilah hukum perdata atau hukum dagang.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
تُنَظِّمُ الْقَضَاءَ وَمَا يَتَّصِل بِهِ مِنْ طُرُقِ الإِْثْبَاتِ أَطْلَقُوا
عَلَيْهَا اسْمَ قَانُونِ الْمُرَافَعَاتِ.
Adapun hukum-hukum yang mengatur peradilan dan segala
sesuatu yang berkaitan dengannya, seperti metode-metode pembuktian,
pada masa sekarang disebut hukum acara perdata.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
تُنَظِّمُ عَلاَقَةَ الْحَاكِمِ بِالْمَحْكُومِينَ، وَالْمَحْكُومِينَ
بِالْحَاكِمِ أَطْلَقُوا عَلَيْهَا الآْنَ اسْمَ الْقَانُونِ الدُّسْتُورِيِّ.
Adapun hukum-hukum yang mengatur hubungan antara penguasa dan rakyat
yang diperintah, serta hubungan rakyat yang diperintah dengan
penguasa, pada masa sekarang disebut hukum tata negara.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
نَظَّمَتْ عَلاَقَةَ الْمُسْلِمِينَ بِغَيْرِهِمْ سِلْمًا وَحَرْبًا قَدْ أَطْلَقَ
عَلَيْهَا الْفُقَهَاءُ الْقُدَامَى اسْمَ السِّيَرِ، وَسَمَّاهَا الْمُحْدَثُونَ
بِاسْمِ الْقَانُونِ الدُّوَلِيِّ.
Adapun hukum-hukum yang mengatur hubungan
kaum Muslimin dengan pihak lain, baik dalam keadaan damai maupun
perang, dahulu para fuqaha menyebutnya dengan istilah as-Siyar,
sedangkan para ulama kontemporer menyebutnya hukum internasional.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
تَتَنَاوَل تَصَرُّفَاتِ الْعِبَادِ فِي مَأْكَلِهِمْ وَمَلْبَسِهِمْ
وَسُلُوكِهِمْ أَطْلَقَ عَلَيْهَا الْفُقَهَاءُ مَسَائِل الْحَظْرِ وَالإِْبَاحَةِ.
Adapun hukum-hukum yang berkaitan dengan perilaku manusia dalam hal
makanan, pakaian, dan tingkah laku mereka, para fuqaha menyebutnya
sebagai masā’il al-ḥaẓr wa al-ibāḥah, yaitu masalah-masalah
yang berkaitan dengan perkara yang dilarang dan perkara yang dibolehkan.
وَالأَْحْكَامُ الَّتِي
حَدَّدَتِ الْجَرَائِمَ وَالْعُقُوبَاتِ قَدْ أَطْلَقَ عَلَيْهَا فُقَهَاؤُنَا
اسْمَ الْحُدُودِ وَالْجِنَايَاتِ وَالتَّعْزِيرَاتِ، وَسَمَّاهَا الْمُحْدَثُونَ
بِاسْمِ الْقَانُونِ الْجَزَائِيِّ أَوِ الْجِنَائِيِّ.
Adapun hukum-hukum yang menetapkan jenis-jenis kejahatan dan sanksi
hukumannya, para fuqaha kita menyebutnya dengan istilah ḥudūd,
jināyāt, dan ta‘zīrāt, sedangkan para ulama kontemporer menyebutnya hukum
pidana atau hukum kriminal.
وَمِنْ هَذَا الْبَيَانِ
الْمُخْتَصَرِ يَتَبَيَّنُ لَنَا أَنَّ الْفِقْهَ تَنَاوَل كُل مَا يَتَّصِل
بِالإِْنْسَانِ، فَلَيْسَ قَاصِرًا - كَمَا يَزْعُمُ الْبَعْضُ - عَلَى تَنْظِيمِ
عَلاَقَةِ الإِْنْسَانِ بِرَبِّهِ، فَمَنْ ذَهَبَ هَذَا الْمَذْهَبَ إِمَّا
جَاهِلٌ أَوْ مُتَجَاهِلٌ بِالْفِقْهِ الإِْسْلاَمِيِّ وَمَوْضُوعَاتِهِ.
Dari penjelasan singkat ini, dapat kita ketahui bahwa fikih mencakup
segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Fikih tidak
hanya terbatas—sebagaimana yang diklaim oleh sebagian orang—pada pengaturan
hubungan manusia dengan Tuhannya.
Oleh karena itu, orang yang berpendapat demikian tidak lain adalah orang
yang tidak mengetahui atau sengaja berpura-pura tidak mengetahui fikih Islam
beserta berbagai bidang pembahasannya.
ج - تَقْسِيمُ الْفِقْهِ
بِاعْتِبَارِ حِكْمَتِهِ:
C – Pembagian fikih berdasarkan
pertimbangan hikmah yang terkandung di dalamnya
٤٤ - تَنْقَسِمُ
مَسَائِل الْفِقْهِ مِنْ حَيْثُ إِدْرَاكُ حِكْمَةِ التَّشْرِيعِ فِيهِ أَوْ
عَدَمُ إِدْرَاكِهَا إِلَى قِسْمَيْنِ:
44 – Ditinjau dari dapat atau tidaknya hikmah pensyariatan
dipahami, masalah-masalah fikih terbagi menjadi dua bagian:
أَوَّلُهُمَا: أَحْكَامٌ
مَعْقُولَةُ الْمَعْنَى، وَقَدْ تُسَمَّى أَحْكَامًا مُعَلَّلَةً، وَهِيَ تِلْكَ
الأَْحْكَامُ الَّتِي تُدْرَكُ حِكْمَةُ تَشْرِيعِهَا، إِمَّا لِلتَّنْصِيصِ عَلَى
هَذِهِ الْحِكْمَةِ، أَوْ يُسْرِ اسْتِنْبَاطِهَا. وَهَذِهِ الْمَسَائِل هِيَ
الأَْكْثَرُ فِيمَا شَرَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، حَيْثُ: لَمْ
يَمْتَحِنَّا بِمَا تَعْيَا الْعُقُول بِهِ حِرْصًا عَلَيْنَا فَلَمْ نَرْتَبْ
وَلَمْ نَهِمْ وَذَلِكَ كَتَشْرِيعِ الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّيَامِ
وَالْحَجِّ فِي الْجُمْلَةِ، وَكَتَشْرِيعِ إِيجَابِ الْمَهْرِ فِي النِّكَاحِ،
وَالْعِدَّةِ فِي الطَّلاَقِ وَالْوَفَاةِ، وَوُجُوبِ النَّفَقَةِ لِلزَّوْجَةِ
وَالأَْوْلاَدِ وَالأَْقَارِبِ، وَكَتَشْرِيعِ الطَّلاَقِ عِنْدَمَا تَتَعَقَّدُ
الْحَيَاةُ الزَّوْجِيَّةُ. . . إِلَى آلاَفِ الْمَسَائِل الْفِقْهِيَّةِ.
Pertama: hukum-hukum yang dapat dipahami maknanya, yang
terkadang disebut juga hukum-hukum yang memiliki ‘illat. Yaitu
hukum-hukum yang dapat diketahui hikmah pensyariatannya, baik karena hikmah
tersebut disebutkan secara tegas dalam nash maupun karena mudah untuk
disimpulkan.
Masalah-masalah seperti ini merupakan bagian terbesar dari apa yang telah
disyariatkan oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Allah tidak menguji kita dengan
sesuatu yang tidak mampu dipahami oleh akal, sebagai bentuk kasih sayang-Nya
kepada kita, sehingga kita tidak ragu dan tidak tersesat. Contohnya adalah
pensyariatan salat, zakat, puasa, dan haji secara umum;
pensyariatan kewajiban mahar dalam pernikahan; masa
idah bagi wanita karena perceraian dan kematian suami; kewajiban
memberikan nafkah kepada istri, anak-anak, dan kerabat; serta
pensyariatan talak ketika kehidupan rumah tangga telah mengalami
kerumitan dan kesulitan; dan masih ada ribuan masalah fikih lainnya.
وَثَانِيهِمَا: أَحْكَامٌ
تَعَبُّدِيَّةٌ، وَهِيَ تِلْكَ الأَْحْكَامُ الَّتِي لاَ تُدْرَكُ فِيهَا
الْمُنَاسَبَةُ بَيْنَ الْفِعْل وَالْحُكْمِ الْمُرَتَّبِ عَلَيْهِ، وَذَلِكَ
كَعَدَدِ الصَّلَوَاتِ وَعَدَدِ الرَّكَعَاتِ وَكَأَكْثَرِ أَعْمَال الْحَجِّ.
وَمِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنَّ هَذِهِ الأَْحْكَامَ
قَلِيلَةٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الأَْحْكَامِ الْمَعْقُولَةِ الْمَعْنَى.
Kedua: hukum-hukum yang bersifat ta‘abbudī,
yaitu hukum-hukum yang di dalamnya tidak dapat diketahui hubungan atau
kesesuaian antara suatu perbuatan dengan hukum yang ditetapkan atasnya.
Contohnya adalah jumlah salat, jumlah rakaat, dan sebagian besar amalan
haji.
Di antara bentuk rahmat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā adalah bahwa hukum-hukum
semacam ini jumlahnya sedikit dibandingkan dengan hukum-hukum yang
dapat dipahami makna dan hikmah pensyariatannya.
وَتَشْرِيعُ هَذِهِ
الأَْحْكَامِ التَّعَبُّدِيَّةِ إِنَّمَا يُرَادُ بِهِ اخْتِبَارُ الْعَبْدِ هَل
هُوَ مُؤْمِنٌ حَقًّا؟ .
Pensyariatan hukum-hukum ta‘abbudī ini pada hakikatnya
dimaksudkan untuk menguji seorang hamba, apakah ia benar-benar beriman
atau tidak?.
وَمِمَّا يَنْبَغِي أَنْ
يُعْلَمَ فِي هَذَا الْمَقَامِ أَنَّ الشَّرِيعَةَ فِي أُصُولِهَا وَفُرُوعِهَا
لَمْ تَأْتِ بِمَا تَرْفُضُهُ الْعُقُول، وَلَكِنَّهَا قَدْ تَأْتِي بِمَا لاَ
تُدْرِكُهُ الْعُقُول، وَشَتَّانَ بَيْنَ الأَْمْرَيْنِ، فَالإِْنْسَانُ إِذَا
اقْتَنَعَ - عَقْلِيًّا - بِأَنَّ اللَّهَ مَوْجُودٌ وَأَنَّهُ حَكِيمٌ وَأَنَّهُ
الْمُسْتَحِقُّ وَحْدَهُ لِلرُّبُوبِيَّةِ دُونَ غَيْرِهِ، وَاقْتَنَعَ -
عَقْلِيًّا - بِمَا شَاهَدَ مِنْ الْمُعْجِزَاتِ وَالأَْدِلَّةِ، بِصِدْقِ
الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُبَلِّغِ عَنْهُ، فَإِنَّهُ
بِذَلِكَ قَدْ أَقَرَّ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِالْحَاكِمِيَّةِ
وَالرُّبُوبِيَّةِ، وَأَقَرَّ عَلَى نَفْسِهِ بِالْعُبُودِيَّةِ، فَإِذَا مَا أُمِرَ
بِأَمْرٍ، أَوْ نُهِيَ عَنْ شَيْءٍ، فَقَال: لاَ أَمْتَثِل حَتَّى أَعْرِفَ
الْحِكْمَةَ فِيمَا أُمِرْتُ بِهِ أَوْ نُهِيتُ عَنْهُ، يَكُونُ قَدْ كَذَّبَ
نَفْسَهُ فِي دَعْوَى أَنَّهُ مُؤْمِنٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَإِنَّ لِلْعُقُول
حَدًّا يَنْتَهِي إِلَيْهِ إِدْرَاكُهَا، كَمَا أَنَّ لِلْحَوَاسِّ حَدًّا تَقِفُ
عِنْدَهُ لاَ تَتَجَاوَزُهُ.
Yang perlu diketahui dalam pembahasan ini adalah bahwa syariat, baik
dalam pokok-pokok maupun cabang-cabangnya, tidak datang membawa sesuatu yang
ditolak oleh akal. Akan tetapi, syariat terkadang datang membawa
sesuatu yang tidak mampu dipahami oleh akal. Dan sungguh,
kedua hal ini sangat berbeda.
Seseorang, apabila secara rasional telah meyakini bahwa Allah itu
ada, Mahabijaksana, dan hanya Dialah yang berhak atas rububiyah tanpa ada
selain-Nya, serta secara rasional telah meyakini—berdasarkan mukjizat
dan berbagai bukti yang disaksikannya—akan kebenaran Rasulullah ﷺ yang menyampaikan ajaran dari-Nya,
maka dengan demikian ia telah mengakui bahwa Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā
memiliki hak menetapkan hukum dan memiliki sifat rububiyah, serta
mengakui dirinya sebagai hamba.
Apabila kemudian ia diperintahkan melakukan sesuatu atau dilarang dari
sesuatu, lalu ia berkata, “Aku tidak akan melaksanakan perintah itu
sampai aku mengetahui hikmah dari apa yang diperintahkan atau dilarang
kepadaku,” maka ia telah mendustakan dirinya sendiri dalam
pengakuannya bahwa ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sebab, akal memiliki batas yang menjadi tempat berakhirnya kemampuan
pemahamannya, sebagaimana pancaindra juga memiliki batas tempat ia
berhenti dan tidak mampu melampauinya.
وَمَا مَثَل الْمُتَمَرِّدِ
عَلَى أَحْكَامِ اللَّهِ تَعَالَى التَّعَبُّدِيَّةِ إِلاَّ كَمَثَل مَرِيضٍ
ذَهَبَ إِلَى طَبِيبٍ مَوْثُوقٍ بِعِلْمِهِ وَأَمَانَتِهِ، فَوَصَفَ لَهُ
أَنْوَاعًا مِنْ الأَْدْوِيَةِ، بَعْضَهَا قَبْل الأَْكْل وَبَعْضَهَا أَثْنَاءَهُ
وَبَعْضَهَا بَعْدَهُ، مُخْتَلِفَةَ الْمَقَادِيرِ، فَقَال لِلطَّبِيبِ: لاَ
أَتَعَاطَى دَوَاءَكَ حَتَّى تُبَيِّنَ لِي الْحِكْمَةَ فِي كَوْنِ هَذَا قَبْل
الطَّعَامِ وَهَذَا بَعْدَهُ، وَهَذَا أَثْنَاءَهُ، وَلِمَاذَا تَفَاوَتَتِ
الْجَرْعَاتُ قِلَّةً وَكَثْرَةً؟
Tidaklah perumpamaan orang yang membangkang terhadap hukum-hukum Allah
Ta‘ālā yang bersifat ta‘abbudī kecuali seperti seorang pasien
yang pergi kepada seorang dokter yang terpercaya dalam ilmu dan amanahnya.
Dokter tersebut kemudian meresepkan kepadanya berbagai macam obat; sebagian
diminum sebelum makan, sebagian saat makan,
dan sebagian setelah makan, dengan dosis yang berbeda-beda.
Lalu pasien itu berkata kepada dokter, “Aku tidak akan meminum
obatmu sampai engkau menjelaskan kepadaku hikmah mengapa obat ini harus diminum
sebelum makan, yang ini setelah makan, dan yang ini saat makan, serta mengapa
dosisnya berbeda-beda, ada yang sedikit dan ada yang banyak?”
فَهَل هَذَا الْمَرِيضُ
وَاثِقٌ حَقًّا بِطَبِيبِهِ؟ فَكَذَلِكَ مَنْ يَدَّعِي الإِْيمَانَ بِاللَّهِ
وَرَسُولِهِ ثُمَّ يَتَمَرَّدُ عَلَى الأَْحْكَامِ الَّتِي لاَ يُدْرِكُ
حِكْمَتَهَا، إِذْ الْمُؤْمِنُ الْحَقُّ إِذَا أُمِرَ بِأَمْرٍ أَوْ نُهِيَ عَنْهُ
يَقُول: سَمِعْتُ وَأَطَعْتُ، وَلاَ سِيَّمَا بَعْدَ أَنْ بَيَّنَّا أَنَّهُ
لَيْسَ هُنَاكَ أَحْكَامٌ تَرْفُضُهَا الْعُقُول السَّلِيمَةُ، فَعَدَمُ الْعِلْمِ
بِالشَّيْءِ لَيْسَ دَلِيلاً عَلَى نَفْيِهِ، فَكَمْ مِنْ أَحْكَامٍ خَفِيَتْ
عَلَيْنَا حِكْمَتُهَا فِيمَا مَضَى ثُمَّ انْكَشَفَ لَنَا مَا فِيهَا مِنْ
حِكْمَةٍ بَالِغَةٍ، فَقَدْ كَانَ خَافِيًا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ النَّاسِ حِكْمَةُ
تَحْرِيمِ لَحْمِ الْخِنْزِيرِ، ثُمَّ تَبَيَّنَ لَنَا مَا يَحْمِلُهُ هَذَا
الْحَيَوَانُ الْخَبِيثُ مِنْ أَمْرَاضٍ وَصِفَاتٍ خَبِيثَةٍ، أَرَادَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَنْ يَحْمِيَ مِنْهَا الْمُجْتَمَعَ الإِْسْلاَمِيَّ. وَمِثْل ذَلِكَ
يُقَال فِي الأَْمْرِ بِغَسْل الإِْنَاءِ الَّذِي وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ سَبْعَ
مَرَّاتٍ إِحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ. . إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الأَْحْكَامِ
الَّتِي تَكْشِفُ الأَْيَّامُ عَنْ سِرِّ تَشْرِيعِهَا وَإِنْ كَانَتْ خَافِيَةً
عَلَيْنَا الآْنَ.
Apakah pasien seperti ini benar-benar percaya kepada dokternya? Demikian
pula orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi kemudian
membangkang terhadap hukum-hukum yang tidak dapat ia pahami hikmahnya. Sebab, orang
mukmin yang benar, apabila diperintahkan melakukan sesuatu atau
dilarang darinya, ia berkata, “Aku mendengar dan aku taat.”
Terlebih lagi setelah kami menjelaskan bahwa tidak ada hukum syariat
yang ditolak oleh akal sehat. Ketidaktahuan terhadap sesuatu bukanlah
bukti bahwa sesuatu itu tidak ada. Betapa banyak hukum yang dahulu tersembunyi
hikmahnya bagi kita, kemudian tersingkap bahwa di dalamnya terdapat hikmah yang
sangat besar.
Dahulu, hikmah diharamkannya daging babi tidak diketahui
oleh banyak orang. Kemudian menjadi jelas bagi kita berbagai penyakit dan
sifat-sifat buruk yang dibawa oleh hewan yang buruk ini, yang Allah Subḥānahu
wa Ta‘ālā kehendaki agar masyarakat Islam terlindungi darinya.
Demikian pula dapat dikatakan mengenai perintah mencuci bejana yang
telah dijilat anjing sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan tanah,
dan berbagai hukum lainnya yang seiring berjalannya waktu dapat menyingkap
rahasia di balik pensyariatannya, meskipun hikmah tersebut saat ini
masih tersembunyi bagi kita.
Baca juga:
Sumber-Sumber Ijtihad : Dua Persoalan yang Belakangan Ini BanyakDiperbincangkan
Pengenalan terhadap Ensiklopedia Fikih : Cara Penyajian Fikih danPenyusunan Secara Kolektif

Tidak ada komentar:
Posting Komentar