Definisi Fikih Menurut Para Fuqaha

تَعْرِيفُ الْفِقْهِ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ:

Definisi Fikih Menurut Para Fuqaha:

٤ - يُطْلَقُ الْفِقْهُ عِنْدَهُمْ عَلَى أَحَدِ مَعْنَيَيْنِ:

4. Menurut para fuqaha, istilah fikih digunakan untuk salah satu dari dua makna:

أَوَّلُهُمَا: حِفْظُ طَائِفَةٍ مِنْ الأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْوَارِدَةِ فِي الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ، أَوْ وَقَعَ الإِْجْمَاعُ عَلَيْهَا، أَوِ اسْتُنْبِطَتْ بِطَرِيقِ الْقِيَاسِ الْمُعْتَبَرِ شَرْعًا، أَوْ بِأَيِّ دَلِيلٍ آخَرَ يَرْجِعُ إِلَى هَذِهِ الأَْدِلَّةِ، سَوَاءٌ أَحُفِظَتْ هَذِهِ الأَْحْكَامُ بِأَدِلَّتِهَا أَمْ بِدُونِهَا. فَالْفَقِيهُ عِنْدَهُمْ لاَ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ مُجْتَهِدًا كَمَا هُوَ رَأْيُ الأُْصُولِيِّينَ.

Pertama: Fikih berarti menguasai atau menghafal sejumlah hukum syariat yang bersifat amaliah, yang bersumber dari Al-Qur’an atau Sunnah, atau yang telah disepakati melalui ijmak, atau yang diistinbatkan melalui qiyas yang diakui secara syariat, atau melalui dalil lain yang kembali kepada dalil-dalil tersebut.

Hukum-hukum tersebut dapat dikuasai beserta dalil-dalilnya maupun tanpa mengetahui dalil-dalilnya.

Dengan demikian, menurut para fuqaha, seorang faqih tidak harus seorang mujtahid, berbeda dengan pendapat para ahli usul fikih.

وَتَكَلَّمُوا فِي الْمِقْدَارِ الأَْدْنَى الَّذِي يَجِبُ أَنْ يَحْفَظَهُ الشَّخْصُ حَتَّى يُطْلَقَ عَلَيْهِ لَقَبُ فَقِيهٍ. وَانْتَهَوْا إِلَى أَنَّ هَذَا مَتْرُوكٌ لِلْعُرْفِ. وَنَسْتَطِيعُ أَنْ نُقَرِّرَ أَنَّ عُرْفَنَا - الآْنَ - لاَ يُطْلِقُ لَقَبَ " فَقِيهٍ " إِلاَّ عَلَى مَنْ يَعْرِفُ مَوْطِنَ الْحُكْمِ مِنْ أَبْوَابِ الْفِقْهِ الْمُتَنَاثِرَةِ بِحَيْثُ يَسْهُل عَلَيْهِ الرُّجُوعُ إِلَيْهِ.

Para ulama juga membahas batas minimal pengetahuan yang harus dikuasai seseorang agar ia layak disebut dengan gelar faqih. Mereka berkesimpulan bahwa penentuan batas minimal tersebut dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan yang berlaku).

Kita dapat menetapkan bahwa berdasarkan ‘urf yang berlaku pada masa sekarang, gelar “faqih” tidak diberikan kecuali kepada orang yang mengetahui letak atau sumber pembahasan hukum dalam berbagai bab fikih yang tersebar, sehingga ia dapat dengan mudah merujuk kepada hukum tersebut ketika diperlukan.

وَقَدْ شَاعَ بَيْنَ عَوَامِّ بَعْضِ الْبِلاَدِ الإِْسْلاَمِيَّةِ إِطْلاَقُ لَفْظِ فَقِيهٍ عَلَى مَنْ حَفِظَ الْقُرْآنَ وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ لَهُ مَعْنًى.

Di kalangan masyarakat awam di sebagian negeri Islam, telah menjadi kebiasaan menggunakan istilah “faqih” untuk menyebut orang yang telah menghafal Al-Qur’an, meskipun ia tidak memahami makna Al-Qur’an yang dihafalnya.

وَاتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ " فَقِيهَ النَّفْسِ " لاَ يُطْلَقُ إِلاَّ عَلَى مَنْ كَانَ وَاسِعَ الاِطِّلاَعِ قَوِيَّ النَّفْسِ وَالإِْدْرَاكِ، ذَا ذَوْقٍ فِقْهِيٍّ سَلِيمٍ وَإِنْ كَانَ مُقَلِّدًا.

Para fuqaha sepakat bahwa istilah “faqīh an-nafs” (فقِيهُ النَّفْس) tidak diberikan kecuali kepada orang yang luas wawasannya, kuat daya pikir dan pemahamannya, serta memiliki kepekaan dan ketajaman fikih yang baik, meskipun ia seorang muqallid (orang yang bertaklid).

وَثَانِيهِمَا: أَنَّ الْفِقْهَ يُطْلَقُ عَلَى مَجْمُوعَةِ الأَْحْكَامِ وَالْمَسَائِل الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ. وَهَذَا الإِْطْلاَقُ مِنْ قَبِيل إِطْلاَقِ الْمَصْدَرِ وَإِرَادَةِ الْحَاصِل بِهِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {هَذَا خَلْقُ اللَّهِ} (١) أَيْ مَخْلُوقُهُ.

Kedua: Istilah fikih juga digunakan untuk menyebut kumpulan hukum dan persoalan syariat yang bersifat amaliah.

Penggunaan istilah tersebut termasuk dalam kategori menyebutkan masdar (kata dasar) tetapi yang dimaksud adalah hasil atau sesuatu yang dihasilkan darinya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Ini adalah ciptaan Allah.”
(QS. Luqman: 11)

Maksudnya adalah “makhluk ciptaan-Nya”.

Baca juga:

Definisi Fikih Menurut Para Ahli Usul Fikih

FIKIH ISLAM : Definisi FikihSecara Bahasa

Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz : فقه : 1-Lafadz الدِّين : "فقه الدين"

تَعْرِيفُ الْفِقْهِ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ:

Definisi Fikih Menurut Para Fuqaha:

٤ - يُطْلَقُ الْفِقْهُ عِنْدَهُمْ عَلَى أَحَدِ مَعْنَيَيْنِ:

4. Menurut para fuqaha, istilah fikih digunakan untuk salah satu dari dua makna:

أَوَّلُهُمَا: حِفْظُ طَائِفَةٍ مِنْ الأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ الْوَارِدَةِ فِي الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ، أَوْ وَقَعَ الإِْجْمَاعُ عَلَيْهَا، أَوِ اسْتُنْبِطَتْ بِطَرِيقِ الْقِيَاسِ الْمُعْتَبَرِ شَرْعًا، أَوْ بِأَيِّ دَلِيلٍ آخَرَ يَرْجِعُ إِلَى هَذِهِ الأَْدِلَّةِ، سَوَاءٌ أَحُفِظَتْ هَذِهِ الأَْحْكَامُ بِأَدِلَّتِهَا أَمْ بِدُونِهَا. فَالْفَقِيهُ عِنْدَهُمْ لاَ يَجِبُ أَنْ يَكُونَ مُجْتَهِدًا كَمَا هُوَ رَأْيُ الأُْصُولِيِّينَ.

Pertama: Fikih berarti menguasai atau menghafal sejumlah hukum syariat yang bersifat amaliah, yang bersumber dari Al-Qur’an atau Sunnah, atau yang telah disepakati melalui ijmak, atau yang diistinbatkan melalui qiyas yang diakui secara syariat, atau melalui dalil lain yang kembali kepada dalil-dalil tersebut.

Hukum-hukum tersebut dapat dikuasai beserta dalil-dalilnya maupun tanpa mengetahui dalil-dalilnya.

Dengan demikian, menurut para fuqaha, seorang faqih tidak harus seorang mujtahid, berbeda dengan pendapat para ahli usul fikih.

وَتَكَلَّمُوا فِي الْمِقْدَارِ الأَْدْنَى الَّذِي يَجِبُ أَنْ يَحْفَظَهُ الشَّخْصُ حَتَّى يُطْلَقَ عَلَيْهِ لَقَبُ فَقِيهٍ. وَانْتَهَوْا إِلَى أَنَّ هَذَا مَتْرُوكٌ لِلْعُرْفِ. وَنَسْتَطِيعُ أَنْ نُقَرِّرَ أَنَّ عُرْفَنَا - الآْنَ - لاَ يُطْلِقُ لَقَبَ " فَقِيهٍ " إِلاَّ عَلَى مَنْ يَعْرِفُ مَوْطِنَ الْحُكْمِ مِنْ أَبْوَابِ الْفِقْهِ الْمُتَنَاثِرَةِ بِحَيْثُ يَسْهُل عَلَيْهِ الرُّجُوعُ إِلَيْهِ.

Para ulama juga membahas batas minimal pengetahuan yang harus dikuasai seseorang agar ia layak disebut dengan gelar faqih. Mereka berkesimpulan bahwa penentuan batas minimal tersebut dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan yang berlaku).

Kita dapat menetapkan bahwa berdasarkan ‘urf yang berlaku pada masa sekarang, gelar “faqih” tidak diberikan kecuali kepada orang yang mengetahui letak atau sumber pembahasan hukum dalam berbagai bab fikih yang tersebar, sehingga ia dapat dengan mudah merujuk kepada hukum tersebut ketika diperlukan.

وَقَدْ شَاعَ بَيْنَ عَوَامِّ بَعْضِ الْبِلاَدِ الإِْسْلاَمِيَّةِ إِطْلاَقُ لَفْظِ فَقِيهٍ عَلَى مَنْ حَفِظَ الْقُرْآنَ وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ لَهُ مَعْنًى.

Di kalangan masyarakat awam di sebagian negeri Islam, telah menjadi kebiasaan menggunakan istilah “faqih” untuk menyebut orang yang telah menghafal Al-Qur’an, meskipun ia tidak memahami makna Al-Qur’an yang dihafalnya.

وَاتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ " فَقِيهَ النَّفْسِ " لاَ يُطْلَقُ إِلاَّ عَلَى مَنْ كَانَ وَاسِعَ الاِطِّلاَعِ قَوِيَّ النَّفْسِ وَالإِْدْرَاكِ، ذَا ذَوْقٍ فِقْهِيٍّ سَلِيمٍ وَإِنْ كَانَ مُقَلِّدًا.

Para fuqaha sepakat bahwa istilah “faqīh an-nafs” (فقِيهُ النَّفْس) tidak diberikan kecuali kepada orang yang luas wawasannya, kuat daya pikir dan pemahamannya, serta memiliki kepekaan dan ketajaman fikih yang baik, meskipun ia seorang muqallid (orang yang bertaklid).

وَثَانِيهِمَا: أَنَّ الْفِقْهَ يُطْلَقُ عَلَى مَجْمُوعَةِ الأَْحْكَامِ وَالْمَسَائِل الشَّرْعِيَّةِ الْعَمَلِيَّةِ. وَهَذَا الإِْطْلاَقُ مِنْ قَبِيل إِطْلاَقِ الْمَصْدَرِ وَإِرَادَةِ الْحَاصِل بِهِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: {هَذَا خَلْقُ اللَّهِ} (١) أَيْ مَخْلُوقُهُ.

Kedua: Istilah fikih juga digunakan untuk menyebut kumpulan hukum dan persoalan syariat yang bersifat amaliah.

Penggunaan istilah tersebut termasuk dalam kategori menyebutkan masdar (kata dasar) tetapi yang dimaksud adalah hasil atau sesuatu yang dihasilkan darinya. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

“Ini adalah ciptaan Allah.”
(QS. Luqman: 11)

Maksudnya adalah “makhluk ciptaan-Nya”.

Baca juga:

Definisi Fikih Menurut Para Ahli Usul Fikih

FIKIH ISLAM : Definisi FikihSecara Bahasa

Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz : فقه : 1-Lafadz الدِّين : "فقه الدين"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 4: Beriman kepada Wahyu Allah dan Yakin akan Akhirat

الآية : 4 {وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ} قوله تعالى : {وَا...