Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz “Fikih”: 5-Lafadz “Ijtihad” (الاجتهاد)

لَفْظُ "الاِجْتِهَادِ"

Lafadz “Ijtihad” (الاجتهاد):

٩ - الاِجْتِهَادُ لُغَةً مَأْخُوذٌ مِنْ الْجَهْدِ، وَهُوَ الْمَشَقَّةُ أَوِ الْوُسْعُ أَوِ الطَّاقَةُ. قَال فِي الْقَامُوسِ: الْجَهْدُ: الطَّاقَةُ وَالْمَشَقَّةُ. . . إِلَى أَنْ قَال: وَالتَّجَاهُدُ بَذْل الْجَهْدِ كَالاِجْتِهَادِ.

9 - Ijtihad secara bahasa berasal dari kata al-jahd (الجهد), yang berarti kesulitan, kemampuan, atau daya upaya.

Dalam al-Qamus disebutkan: al-jahd (الجهد) berarti kemampuan dan kesulitan ... kemudian beliau berkata: at-tajahud (التجاهُد) adalah mengerahkan segenap daya upaya, sebagaimana halnya ijtihad (الاجتهاد).

وَسَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ فِي مَعْرِفَةِ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ اعْتِقَادِيٍّ أَوْ عَمَلِيٍّ، أَوْ مَعْرِفَةِ حُكْمٍ لُغَوِيٍّ أَوْ مَسْأَلَةٍ عَقْلِيَّةٍ، أَوْ كَانَ فِي أَمْرٍ مَحْسُوسٍ كَحَمْل شَيْءٍ، وَلاَ يُقَال: اجْتَهَدَ فِي حَمْل وَرْدَةٍ.

Baik untuk mengetahui suatu hukum syariat yang berkaitan dengan akidah maupun amaliah, atau untuk mengetahui suatu hukum kebahasaan maupun suatu persoalan rasional, atau untuk melakukan suatu perkara yang bersifat indrawi, seperti mengangkat sesuatu.

Namun, tidak dikatakan: “Ia bersungguh-sungguh (berijtihad) dalam mengangkat sekuntum bunga.”

وَأَمَّا الاِجْتِهَادُ عِنْدَ عُلَمَاءِ الْفِقْهِ أَوِ الأُْصُول فَقَدْ عَرَّفُوهُ بِتَعَارِيفَ مُتَقَارِبَةٍ فِي أَلْفَاظِهَا وَمَعَانِيهَا. وَإِذَا كَانَ قَدْ أُورِدَ عَلَى بَعْضِ هَذِهِ التَّعَارِيفِ اعْتِرَاضَاتٌ تَرْجِعُ إِلَى الصِّنَاعَةِ اللَّفْظِيَّةِ، فَكُلُّهَا تَدُورُ حَوْل بَذْل الْجَهْدِ وَالطَّاقَةِ لِمَعْرِفَةِ الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ مِنْ دَلِيلِهِ. وَأَدَقُّ مَا قِيل فِي تَعْرِيفِهِ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ صَاحِبُ مُسَلَّمِ الثُّبُوتِ: (١) " إِنَّ الاِجْتِهَادَ هُوَ بَذْل الطَّاقَةِ مِنْ الْفَقِيهِ فِي تَحْصِيل حُكْمٍ شَرْعِيٍّ ظَنِّيٍّ ".

Adapun ijtihad menurut para ulama fikih dan usul fikih, mereka telah memberikan beberapa definisi yang redaksinya dan maknanya saling berdekatan. Meskipun terhadap sebagian definisi tersebut terdapat beberapa keberatan, yang pada dasarnya berkaitan dengan persoalan susunan lafaz, semuanya bermuara pada pengertian mengerahkan segenap usaha dan kemampuan untuk mengetahui hukum syariat berdasarkan dalilnya.

Definisi yang paling tepat tentang ijtihad adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh penulis Musallam ats-Tsubut:

“Sesungguhnya ijtihad adalah pengerahan segenap kemampuan oleh seorang fakih untuk memperoleh suatu hukum syariat yang bersifat zanni (dugaan kuat).”

وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ لَنَا أَنَّ الاِجْتِهَادَ لاَ يَكُونُ إِلاَّ فِي الْمَسَائِل الظَّنِّيَّةِ. وَهُوَ بِهَذَا الْمَعْنَى يَتَّفِقُ مَعَ الْفِقْهِ فِي أَكْثَرِ مَسَائِلِهِ، وَإِنْ كَانَ الْفِقْهُ يَتَنَاوَل بِالْمَعْنَى الَّذِي ذَهَبَ إِلَيْهِ الْفُقَهَاءُ الأَْحْكَامَ الْقَطْعِيَّةَ الَّتِي تَتَنَاوَل الأَْفْعَال، كَقَوْلِهِمْ: الصَّلاَةُ وَاجِبَةٌ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ. وَبَيَانُ مَسَائِل الاِجْتِهَادِ بِالتَّفْصِيل سَتَكُونُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ لِهَذِهِ الْمَوْسُوعَةِ.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa ijtihad hanya dilakukan dalam persoalan-persoalan yang bersifat zanni (tidak pasti). Dalam pengertian ini, ijtihad memiliki kesesuaian dengan fikih dalam sebagian besar persoalannya.

Meskipun demikian, fikih, menurut pengertian yang digunakan oleh para fuqaha, juga mencakup hukum-hukum yang bersifat qat‘i (pasti) yang berkaitan dengan perbuatan, seperti perkataan mereka: “Salat itu wajib,” dan lain sebagainya.

Adapun penjelasan mengenai persoalan-persoalan ijtihad secara terperinci, insyaallah akan dibahas dalam lampiran usul fikih dari ensiklopedia ini.

١٠ - يَثُورُ بِمُنَاسَبَةِ الْحَدِيثِ عَنْ الأَْحْكَامِ الظَّنِّيَّةِ الاِجْتِهَادِيَّةِ الَّتِي هِيَ مَثَارُ اخْتِلاَفِ الْفُقَهَاءِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا تَسَاؤُلٌ حَاصِلُهُ: أَمَا كَانَ الأَْجْدَرُ أَنْ تَأْتِيَ النُّصُوصُ وَالأَْدِلَّةُ قَطْعِيَّةً حَتَّى لاَ يُفْتَحَ بَابُ الاِخْتِلاَفِ الَّذِي هُوَ مَثَارُ الْخِلاَفِ وَالشِّقَاقِ بَيْنَ أَهْل الْمِلَّةِ الْوَاحِدَةِ، حَتَّى اسْتَبَاحَ بَعْضُهُمْ دَمَ بَعْضٍ؟ ! ! فَنَقُول، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ:

10 - Sehubungan dengan pembahasan mengenai hukum-hukum zanni yang bersifat ijtihadi, yang sejak dahulu hingga sekarang menjadi sebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha, muncul sebuah pertanyaan:

“Bukankah lebih baik jika nash-nash dan dalil-dalil datang dalam bentuk yang qat‘i (pasti), sehingga pintu perbedaan pendapat tidak terbuka, yang kemudian menjadi sumber perselisihan dan perpecahan di antara para pemeluk agama yang sama, bahkan sampai sebagian mereka menganggap halal darah sebagian yang lain?!”

Maka kami menjawab, dan hanya dengan pertolongan Allah-lah keberhasilan itu diperoleh:

إِنَّ الأَْحْكَامَ الَّتِي هِيَ أَسَاسُ الدِّينِ سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل مِنْهَا بِالْعَقِيدَةِ أَوِ الأُْمُورِ الْعَمَلِيَّةِ قَدْ وَرَدَتْ فِي آيَاتٍ مُحْكَمَةٍ لاَ تَحْتَمِل التَّأْوِيل وَلاَ تُثِيرُ الاِخْتِلاَفَ؛ لأَِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَرَادَ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الأُْمُورُ ثَابِتَةً عَلَى مَرِّ الْعُصُورِ، كَأَكْثَرِ أَحْكَامِ الْمَوَارِيثِ وَأُصُول أَحْكَامِ الأَْحْوَال الشَّخْصِيَّةِ، وَآيَاتِ الْحُدُودِ وَالْقِصَاصِ.

Sesungguhnya hukum-hukum yang menjadi dasar agama, baik yang berkaitan dengan akidah maupun perkara-perkara amaliah, telah disebutkan dalam ayat-ayat yang muhkam (jelas dan tegas), yang tidak mengandung kemungkinan untuk ditakwil dan tidak menimbulkan perselisihan.

Hal itu karena Allah Swt. menghendaki agar perkara-perkara tersebut tetap berlaku dan tidak berubah sepanjang zaman, seperti sebagian besar hukum waris, pokok-pokok hukum ahwal asy-syakhsiyyah (hukum keluarga), serta ayat-ayat yang berkaitan dengan hudud dan qisas.

أَمَّا الْمَسَائِل الْقَابِلَةُ لِلتَّطَوُّرِ فَقَدْ جَاءَ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ فِي شَأْنِهَا مُوَضِّحًا الْخُطُوطَ الرَّئِيسَةَ، وَكَانَتْ مَحَلًّا لاِخْتِلاَفِ الأَْنْظَارِ. وَاخْتِلاَفُ النَّظَرِ - إِذَا لَمْ يَكُنْ مَبْنِيًّا عَلَى الْهَوَى وَالتَّشَهِّي - فَهُوَ رَحْمَةٌ لِلأُْمَّةِ، فَقَدِيمًا اخْتَلَفَ الصَّحَابَةُ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْمَسَائِل، وَلَمْ يَكُنْ هَذَا الاِخْتِلاَفُ سَبَبًا لِلْمُنَازَعَةِ، وَكَانَ يُصَلِّي بَعْضُهُمْ خَلْفَ بَعْضٍ مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ؛ لأَِنَّ كُلًّا مِنْهُمْ كَانَ يَرَى أَنَّ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ هُوَ الصَّوَابُ مَعَ احْتِمَال الْخَطَأِ، وَمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ غَيْرُهُ خَطَأٌ مَعَ احْتِمَال الصَّوَابِ. فَلَمَّا نَجَمَتِ الْفِتْنَةُ تَحَكَّمَتِ الأَْهْوَاءُ، فَكَانَ الاِخْتِلاَفُ فِي الرَّأْيِ سَبَبًا لِلشِّقَاقِ.

Adapun persoalan-persoalan yang dapat mengalami perkembangan, maka Al-Qur’an yang mulia datang dengan menjelaskan garis-garis besarnya, dan persoalan-persoalan tersebut menjadi ruang bagi perbedaan pandangan.

Perbedaan pandangan—apabila tidak didasarkan pada hawa nafsu dan keinginan semata—merupakan rahmat bagi umat. Dahulu, para sahabat juga berbeda pendapat dalam banyak persoalan, tetapi perbedaan tersebut tidak menjadi sebab terjadinya pertikaian. Sebagian mereka tetap menjadi makmum di belakang sebagian yang lain tanpa saling mengingkari.

Hal itu karena masing-masing dari mereka memandang bahwa pendapat yang diambilnya adalah pendapat yang benar, meskipun masih mungkin salah, sedangkan pendapat orang lain adalah salah, meskipun masih mungkin benar.

Namun, ketika fitnah mulai muncul, hawa nafsu mulai menguasai, sehingga perbedaan pendapat akhirnya menjadi sebab terjadinya perpecahan dan perselisihan.

وَالْمُتَتَبِّعُ لِسُنَّةِ اللَّهِ فِي خَلْقِهِ سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل بِالتَّشْرِيعِ أَوِ الإِْبْدَاعِ يَجِدُ أَنَّهُ مَا مِنْ خَيْرٍ إِلاَّ وَيَشُوبُهُ بَعْضُ الشَّرِّ. وَالَّذِي يُقَارِنُ بَيْنَ الْخَيْرِ فِي وُجُودِ الظَّنِّيِّ مِنْ النُّصُوصِ الَّذِي هُوَ مَثَارُ اخْتِلاَفِ الأَْنْظَارِ، وَمَا قَدْ يَشُوبُهُ مِنْ شَرٍّ، يُدْرِكُ أَنَّ الْخَيْرَ كُل الْخَيْرِ فِيمَا وَقَعَ، فَإِنَّ جُمُودَ الأَْفْكَارِ - لَوْ جَاءَتِ النُّصُوصُ كُلُّهَا قَطْعِيَّةً - يَكُونُ بَلاَءً دُونَهُ كُل بَلاَءٍ.

Orang yang meneliti sunatullah dalam penciptaan makhluk-Nya, baik yang berkaitan dengan pensyariatan maupun penciptaan, akan mendapati bahwa tidak ada suatu kebaikan pun kecuali disertai oleh sebagian keburukan.

Barang siapa membandingkan kebaikan yang terdapat dalam keberadaan nash-nash yang bersifat zanni, yang menjadi sebab munculnya perbedaan pandangan, dengan keburukan yang mungkin menyertainya, niscaya ia akan memahami bahwa seluruh kebaikan justru terletak pada keadaan yang telah ditetapkan tersebut.

Sebab, kebekuan pemikiran—seandainya seluruh nash datang dalam bentuk yang qat‘i (pasti)—akan menjadi bencana yang tidak ada bencana lain yang lebih besar daripadanya.

وَالتَّارِيخُ شَهِدَ بِصِدْقِ هَذَا، فَإِنَّ الآْرَاءَ الْمَبْنِيَّةَ عَلَى الْهَوَى، وَالَّتِي نَجَمَ عَنْهَا مَا نَجَمَ مِنْ فِتَنٍ، قَدْ انْدَثَرَتْ آثَارُهَا، وَلَمْ يَبْقَ لَهَا إِلاَّ آثَارٌ فِي بُطُونِ الْكُتُبِ، نَقَلَهَا النَّاقِلُونَ لِتَشْهَدَ لِهَذِهِ الأُْمَّةِ عَلَى سَعَةِ صَدْرِهَا، وَحُرِّيَّةِ الرَّأْيِ فِيهَا، وَلَكِنَّهَا ذَهَبَتْ كَغُثَاءِ السَّيْل، وَانْطَفَأَتْ كَوَمِيضِ الْبَرْقِ: {فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَْرْضِ} (١) . عَلَى أَنَّهُ لَوْ جَاءَتِ النُّصُوصُ الشَّرْعِيَّةُ كُلُّهَا قَطْعِيَّةً لَقَال قَائِلُهُمْ: هَلاَّ كَانَ لَنَا مَجَالٌ لِلاِجْتِهَادِ حَتَّى لاَ تَجْمُدَ عُقُولُنَا، وَنُصْبِحَ أَمَامَ نُصُوصٍ جَامِدَةٍ؟ .

Sejarah telah membuktikan kebenaran hal tersebut. Sesungguhnya pendapat-pendapat yang dibangun di atas hawa nafsu, yang kemudian menimbulkan berbagai macam fitnah, telah lenyap bekas-bekasnya. Tidak ada yang tersisa darinya kecuali jejak-jejak yang tercatat dalam kitab-kitab, yang dinukil oleh para penukil agar menjadi bukti bagi umat ini tentang kelapangan dada dan kebebasan berpendapat yang pernah ada di dalamnya.

Namun, semua itu lenyap seperti buih yang terbawa arus banjir dan padam seperti kilatan cahaya petir:

“Adapun buih, maka ia akan hilang sebagai sesuatu yang tidak berguna; sedangkan apa yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal di bumi.”
(QS. ar-Ra‘d: 17)

Meskipun demikian, seandainya seluruh nash syariat datang dalam bentuk qat‘i (pasti), niscaya akan ada orang yang berkata:

“Mengapa kita tidak diberi ruang untuk berijtihad, agar akal kita tidak menjadi beku dan kita tidak hanya berhadapan dengan nash-nash yang kaku?”

Baca juga:

Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz “فقه”: Lafadz “Tasyri‘” (التَّشْرِيع)

 Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz : فقه : Lafadz الشَّرِيعَة dan الشِّرْعَة

Perbedaan antara Fikih Islam dan Fikih Positif (Hukum Buatan Manusia)

لَفْظُ "الاِجْتِهَادِ"

Lafadz “Ijtihad” (الاجتهاد):

٩ - الاِجْتِهَادُ لُغَةً مَأْخُوذٌ مِنْ الْجَهْدِ، وَهُوَ الْمَشَقَّةُ أَوِ الْوُسْعُ أَوِ الطَّاقَةُ. قَال فِي الْقَامُوسِ: الْجَهْدُ: الطَّاقَةُ وَالْمَشَقَّةُ. . . إِلَى أَنْ قَال: وَالتَّجَاهُدُ بَذْل الْجَهْدِ كَالاِجْتِهَادِ.

9 - Ijtihad secara bahasa berasal dari kata al-jahd (الجهد), yang berarti kesulitan, kemampuan, atau daya upaya.

Dalam al-Qamus disebutkan: al-jahd (الجهد) berarti kemampuan dan kesulitan ... kemudian beliau berkata: at-tajahud (التجاهُد) adalah mengerahkan segenap daya upaya, sebagaimana halnya ijtihad (الاجتهاد).

وَسَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ فِي مَعْرِفَةِ حُكْمٍ شَرْعِيٍّ اعْتِقَادِيٍّ أَوْ عَمَلِيٍّ، أَوْ مَعْرِفَةِ حُكْمٍ لُغَوِيٍّ أَوْ مَسْأَلَةٍ عَقْلِيَّةٍ، أَوْ كَانَ فِي أَمْرٍ مَحْسُوسٍ كَحَمْل شَيْءٍ، وَلاَ يُقَال: اجْتَهَدَ فِي حَمْل وَرْدَةٍ.

Baik untuk mengetahui suatu hukum syariat yang berkaitan dengan akidah maupun amaliah, atau untuk mengetahui suatu hukum kebahasaan maupun suatu persoalan rasional, atau untuk melakukan suatu perkara yang bersifat indrawi, seperti mengangkat sesuatu.

Namun, tidak dikatakan: “Ia bersungguh-sungguh (berijtihad) dalam mengangkat sekuntum bunga.”

وَأَمَّا الاِجْتِهَادُ عِنْدَ عُلَمَاءِ الْفِقْهِ أَوِ الأُْصُول فَقَدْ عَرَّفُوهُ بِتَعَارِيفَ مُتَقَارِبَةٍ فِي أَلْفَاظِهَا وَمَعَانِيهَا. وَإِذَا كَانَ قَدْ أُورِدَ عَلَى بَعْضِ هَذِهِ التَّعَارِيفِ اعْتِرَاضَاتٌ تَرْجِعُ إِلَى الصِّنَاعَةِ اللَّفْظِيَّةِ، فَكُلُّهَا تَدُورُ حَوْل بَذْل الْجَهْدِ وَالطَّاقَةِ لِمَعْرِفَةِ الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ مِنْ دَلِيلِهِ. وَأَدَقُّ مَا قِيل فِي تَعْرِيفِهِ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ صَاحِبُ مُسَلَّمِ الثُّبُوتِ: (١) " إِنَّ الاِجْتِهَادَ هُوَ بَذْل الطَّاقَةِ مِنْ الْفَقِيهِ فِي تَحْصِيل حُكْمٍ شَرْعِيٍّ ظَنِّيٍّ ".

Adapun ijtihad menurut para ulama fikih dan usul fikih, mereka telah memberikan beberapa definisi yang redaksinya dan maknanya saling berdekatan. Meskipun terhadap sebagian definisi tersebut terdapat beberapa keberatan, yang pada dasarnya berkaitan dengan persoalan susunan lafaz, semuanya bermuara pada pengertian mengerahkan segenap usaha dan kemampuan untuk mengetahui hukum syariat berdasarkan dalilnya.

Definisi yang paling tepat tentang ijtihad adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh penulis Musallam ats-Tsubut:

“Sesungguhnya ijtihad adalah pengerahan segenap kemampuan oleh seorang fakih untuk memperoleh suatu hukum syariat yang bersifat zanni (dugaan kuat).”

وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ لَنَا أَنَّ الاِجْتِهَادَ لاَ يَكُونُ إِلاَّ فِي الْمَسَائِل الظَّنِّيَّةِ. وَهُوَ بِهَذَا الْمَعْنَى يَتَّفِقُ مَعَ الْفِقْهِ فِي أَكْثَرِ مَسَائِلِهِ، وَإِنْ كَانَ الْفِقْهُ يَتَنَاوَل بِالْمَعْنَى الَّذِي ذَهَبَ إِلَيْهِ الْفُقَهَاءُ الأَْحْكَامَ الْقَطْعِيَّةَ الَّتِي تَتَنَاوَل الأَْفْعَال، كَقَوْلِهِمْ: الصَّلاَةُ وَاجِبَةٌ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ. وَبَيَانُ مَسَائِل الاِجْتِهَادِ بِالتَّفْصِيل سَتَكُونُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ لِهَذِهِ الْمَوْسُوعَةِ.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa ijtihad hanya dilakukan dalam persoalan-persoalan yang bersifat zanni (tidak pasti). Dalam pengertian ini, ijtihad memiliki kesesuaian dengan fikih dalam sebagian besar persoalannya.

Meskipun demikian, fikih, menurut pengertian yang digunakan oleh para fuqaha, juga mencakup hukum-hukum yang bersifat qat‘i (pasti) yang berkaitan dengan perbuatan, seperti perkataan mereka: “Salat itu wajib,” dan lain sebagainya.

Adapun penjelasan mengenai persoalan-persoalan ijtihad secara terperinci, insyaallah akan dibahas dalam lampiran usul fikih dari ensiklopedia ini.

١٠ - يَثُورُ بِمُنَاسَبَةِ الْحَدِيثِ عَنْ الأَْحْكَامِ الظَّنِّيَّةِ الاِجْتِهَادِيَّةِ الَّتِي هِيَ مَثَارُ اخْتِلاَفِ الْفُقَهَاءِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا تَسَاؤُلٌ حَاصِلُهُ: أَمَا كَانَ الأَْجْدَرُ أَنْ تَأْتِيَ النُّصُوصُ وَالأَْدِلَّةُ قَطْعِيَّةً حَتَّى لاَ يُفْتَحَ بَابُ الاِخْتِلاَفِ الَّذِي هُوَ مَثَارُ الْخِلاَفِ وَالشِّقَاقِ بَيْنَ أَهْل الْمِلَّةِ الْوَاحِدَةِ، حَتَّى اسْتَبَاحَ بَعْضُهُمْ دَمَ بَعْضٍ؟ ! ! فَنَقُول، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ:

10 - Sehubungan dengan pembahasan mengenai hukum-hukum zanni yang bersifat ijtihadi, yang sejak dahulu hingga sekarang menjadi sebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha, muncul sebuah pertanyaan:

“Bukankah lebih baik jika nash-nash dan dalil-dalil datang dalam bentuk yang qat‘i (pasti), sehingga pintu perbedaan pendapat tidak terbuka, yang kemudian menjadi sumber perselisihan dan perpecahan di antara para pemeluk agama yang sama, bahkan sampai sebagian mereka menganggap halal darah sebagian yang lain?!”

Maka kami menjawab, dan hanya dengan pertolongan Allah-lah keberhasilan itu diperoleh:

إِنَّ الأَْحْكَامَ الَّتِي هِيَ أَسَاسُ الدِّينِ سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل مِنْهَا بِالْعَقِيدَةِ أَوِ الأُْمُورِ الْعَمَلِيَّةِ قَدْ وَرَدَتْ فِي آيَاتٍ مُحْكَمَةٍ لاَ تَحْتَمِل التَّأْوِيل وَلاَ تُثِيرُ الاِخْتِلاَفَ؛ لأَِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَرَادَ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الأُْمُورُ ثَابِتَةً عَلَى مَرِّ الْعُصُورِ، كَأَكْثَرِ أَحْكَامِ الْمَوَارِيثِ وَأُصُول أَحْكَامِ الأَْحْوَال الشَّخْصِيَّةِ، وَآيَاتِ الْحُدُودِ وَالْقِصَاصِ.

Sesungguhnya hukum-hukum yang menjadi dasar agama, baik yang berkaitan dengan akidah maupun perkara-perkara amaliah, telah disebutkan dalam ayat-ayat yang muhkam (jelas dan tegas), yang tidak mengandung kemungkinan untuk ditakwil dan tidak menimbulkan perselisihan.

Hal itu karena Allah Swt. menghendaki agar perkara-perkara tersebut tetap berlaku dan tidak berubah sepanjang zaman, seperti sebagian besar hukum waris, pokok-pokok hukum ahwal asy-syakhsiyyah (hukum keluarga), serta ayat-ayat yang berkaitan dengan hudud dan qisas.

أَمَّا الْمَسَائِل الْقَابِلَةُ لِلتَّطَوُّرِ فَقَدْ جَاءَ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ فِي شَأْنِهَا مُوَضِّحًا الْخُطُوطَ الرَّئِيسَةَ، وَكَانَتْ مَحَلًّا لاِخْتِلاَفِ الأَْنْظَارِ. وَاخْتِلاَفُ النَّظَرِ - إِذَا لَمْ يَكُنْ مَبْنِيًّا عَلَى الْهَوَى وَالتَّشَهِّي - فَهُوَ رَحْمَةٌ لِلأُْمَّةِ، فَقَدِيمًا اخْتَلَفَ الصَّحَابَةُ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْمَسَائِل، وَلَمْ يَكُنْ هَذَا الاِخْتِلاَفُ سَبَبًا لِلْمُنَازَعَةِ، وَكَانَ يُصَلِّي بَعْضُهُمْ خَلْفَ بَعْضٍ مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ؛ لأَِنَّ كُلًّا مِنْهُمْ كَانَ يَرَى أَنَّ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ هُوَ الصَّوَابُ مَعَ احْتِمَال الْخَطَأِ، وَمَا ذَهَبَ إِلَيْهِ غَيْرُهُ خَطَأٌ مَعَ احْتِمَال الصَّوَابِ. فَلَمَّا نَجَمَتِ الْفِتْنَةُ تَحَكَّمَتِ الأَْهْوَاءُ، فَكَانَ الاِخْتِلاَفُ فِي الرَّأْيِ سَبَبًا لِلشِّقَاقِ.

Adapun persoalan-persoalan yang dapat mengalami perkembangan, maka Al-Qur’an yang mulia datang dengan menjelaskan garis-garis besarnya, dan persoalan-persoalan tersebut menjadi ruang bagi perbedaan pandangan.

Perbedaan pandangan—apabila tidak didasarkan pada hawa nafsu dan keinginan semata—merupakan rahmat bagi umat. Dahulu, para sahabat juga berbeda pendapat dalam banyak persoalan, tetapi perbedaan tersebut tidak menjadi sebab terjadinya pertikaian. Sebagian mereka tetap menjadi makmum di belakang sebagian yang lain tanpa saling mengingkari.

Hal itu karena masing-masing dari mereka memandang bahwa pendapat yang diambilnya adalah pendapat yang benar, meskipun masih mungkin salah, sedangkan pendapat orang lain adalah salah, meskipun masih mungkin benar.

Namun, ketika fitnah mulai muncul, hawa nafsu mulai menguasai, sehingga perbedaan pendapat akhirnya menjadi sebab terjadinya perpecahan dan perselisihan.

وَالْمُتَتَبِّعُ لِسُنَّةِ اللَّهِ فِي خَلْقِهِ سَوَاءٌ مَا يَتَّصِل بِالتَّشْرِيعِ أَوِ الإِْبْدَاعِ يَجِدُ أَنَّهُ مَا مِنْ خَيْرٍ إِلاَّ وَيَشُوبُهُ بَعْضُ الشَّرِّ. وَالَّذِي يُقَارِنُ بَيْنَ الْخَيْرِ فِي وُجُودِ الظَّنِّيِّ مِنْ النُّصُوصِ الَّذِي هُوَ مَثَارُ اخْتِلاَفِ الأَْنْظَارِ، وَمَا قَدْ يَشُوبُهُ مِنْ شَرٍّ، يُدْرِكُ أَنَّ الْخَيْرَ كُل الْخَيْرِ فِيمَا وَقَعَ، فَإِنَّ جُمُودَ الأَْفْكَارِ - لَوْ جَاءَتِ النُّصُوصُ كُلُّهَا قَطْعِيَّةً - يَكُونُ بَلاَءً دُونَهُ كُل بَلاَءٍ.

Orang yang meneliti sunatullah dalam penciptaan makhluk-Nya, baik yang berkaitan dengan pensyariatan maupun penciptaan, akan mendapati bahwa tidak ada suatu kebaikan pun kecuali disertai oleh sebagian keburukan.

Barang siapa membandingkan kebaikan yang terdapat dalam keberadaan nash-nash yang bersifat zanni, yang menjadi sebab munculnya perbedaan pandangan, dengan keburukan yang mungkin menyertainya, niscaya ia akan memahami bahwa seluruh kebaikan justru terletak pada keadaan yang telah ditetapkan tersebut.

Sebab, kebekuan pemikiran—seandainya seluruh nash datang dalam bentuk yang qat‘i (pasti)—akan menjadi bencana yang tidak ada bencana lain yang lebih besar daripadanya.

وَالتَّارِيخُ شَهِدَ بِصِدْقِ هَذَا، فَإِنَّ الآْرَاءَ الْمَبْنِيَّةَ عَلَى الْهَوَى، وَالَّتِي نَجَمَ عَنْهَا مَا نَجَمَ مِنْ فِتَنٍ، قَدْ انْدَثَرَتْ آثَارُهَا، وَلَمْ يَبْقَ لَهَا إِلاَّ آثَارٌ فِي بُطُونِ الْكُتُبِ، نَقَلَهَا النَّاقِلُونَ لِتَشْهَدَ لِهَذِهِ الأُْمَّةِ عَلَى سَعَةِ صَدْرِهَا، وَحُرِّيَّةِ الرَّأْيِ فِيهَا، وَلَكِنَّهَا ذَهَبَتْ كَغُثَاءِ السَّيْل، وَانْطَفَأَتْ كَوَمِيضِ الْبَرْقِ: {فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَْرْضِ} (١) . عَلَى أَنَّهُ لَوْ جَاءَتِ النُّصُوصُ الشَّرْعِيَّةُ كُلُّهَا قَطْعِيَّةً لَقَال قَائِلُهُمْ: هَلاَّ كَانَ لَنَا مَجَالٌ لِلاِجْتِهَادِ حَتَّى لاَ تَجْمُدَ عُقُولُنَا، وَنُصْبِحَ أَمَامَ نُصُوصٍ جَامِدَةٍ؟ .

Sejarah telah membuktikan kebenaran hal tersebut. Sesungguhnya pendapat-pendapat yang dibangun di atas hawa nafsu, yang kemudian menimbulkan berbagai macam fitnah, telah lenyap bekas-bekasnya. Tidak ada yang tersisa darinya kecuali jejak-jejak yang tercatat dalam kitab-kitab, yang dinukil oleh para penukil agar menjadi bukti bagi umat ini tentang kelapangan dada dan kebebasan berpendapat yang pernah ada di dalamnya.

Namun, semua itu lenyap seperti buih yang terbawa arus banjir dan padam seperti kilatan cahaya petir:

“Adapun buih, maka ia akan hilang sebagai sesuatu yang tidak berguna; sedangkan apa yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal di bumi.”
(QS. ar-Ra‘d: 17)

Meskipun demikian, seandainya seluruh nash syariat datang dalam bentuk qat‘i (pasti), niscaya akan ada orang yang berkata:

“Mengapa kita tidak diberi ruang untuk berijtihad, agar akal kita tidak menjadi beku dan kita tidak hanya berhadapan dengan nash-nash yang kaku?”

Baca juga:

Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz “فقه”: Lafadz “Tasyri‘” (التَّشْرِيع)

 Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz : فقه : Lafadz الشَّرِيعَة dan الشِّرْعَة

Perbedaan antara Fikih Islam dan Fikih Positif (Hukum Buatan Manusia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Lafadz-Lafadz yang Berkaitan dengan Lafadz “Fikih”: 5-Lafadz “Ijtihad” (الاجتهاد)

لَفْظُ "الاِجْتِهَادِ " Lafa d z “Ijtihad” ( الاجتهاد ): ٩ - الاِجْتِهَادُ لُغَةً مَأْخُوذٌ مِنْ الْجَهْدِ، وَهُوَ الْمَشَق...