الطَّوْرُ
الرَّابِعُ: عَهْدُ صِغَارِ التَّابِعِينَ وَكِبَارِ تَابِعِي التَّابِعِينَ:
Tahap
Keempat: Masa Tabi‘in Junior dan Tabi‘ut Tabi‘in Senior
٢٣ - يَكَادُ
هَذَا الطَّوْرُ يَبْدَأُ فِي أَوَاخِرِ الْقَرْنِ الأَْوَّل مِنْ الْهِجْرَةِ
وَأَوَائِل الْقَرْنِ الثَّانِي، وَيُمْكِنُ أَنْ يُقَال: إِنَّهُ يَبْدَأُ مِنْ
عَهْدِ الإِْمَامِ الْعَادِل عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ.
23. Tahap ini hampir dapat dikatakan mulai berlangsung
pada akhir abad pertama Hijriah dan awal abad kedua Hijriah.
Bahkan, dapat dikatakan bahwa tahap ini dimulai sejak masa Imam yang
adil, Umar bin Abdul Aziz.
وَكَمَا قُلْنَا: لَيْسَ
هُنَاكَ حُدُودٌ زَمَنِيَّةٌ فَاصِلَةٌ بَيْنَ تِلْكَ الأَْطْوَارِ، فَهِيَ
مُتَدَاخِلَةٌ يَتَلَقَّى الْخَلَفُ مِنْهَا عَنْ السَّلَفِ.
Sebagaimana telah kami katakan, tidak terdapat batasan waktu yang
tegas yang memisahkan antara tahap-tahap tersebut. Tahap-tahap itu
saling berkesinambungan dan bertumpang tindih, di mana generasi yang datang
kemudian menerima ilmu dari generasi sebelumnya.
وَيَتَمَيَّزُ هَذَا الطَّوْرُ
بِأَنَّهُ قَدْ بُدِئَ فِيهِ بِتَدْوِينِ السُّنَّةِ مُخْتَلِطَةً بِفَتَاوَى
الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، وَذَلِكَ بِأَمْرٍ مِنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ
عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، بَعْدَ أَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِهَذَا،
وَخَشِيَ أَنْ تَضِيعَ السُّنَّةُ وَأَقْوَال الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ،
وَأَنْ تُصْبِحَ طَيَّ النِّسْيَانِ مَعَ تَوَالِي الأَْزْمَانِ، وَذَلِكَ بَعْدَ
أَنْ زَالَتِ الْعِلَّةُ الَّتِي خُشِيَ مَعَهَا أَنْ يَخْتَلِطَ الْقُرْآنُ
بِغَيْرِهِ. فَقَدْ حُفِظَ الْقُرْآنُ فِي الصُّدُورِ وَالسُّطُورِ، وَأَصْبَحَ
حَفَظَةُ الْقُرْآنِ بِالآْلاَفِ، وَلاَ يَكَادُ يُوجَدُ بَيْتٌ مُسْلِمٌ إِلاَّ
وَفِيهِ مُصْحَفٌ، فَأَمَرَ حَمَلَةَ الْعِلْمِ فِي عَهْدِهِ بِأَنْ يُدَوِّنُوا
مَا عِنْدَهُمْ مِنْ سُنَّةٍ وَفَتَاوَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، لِتَكُونَ
مَرْجِعًا يُرْجَعُ إِلَيْهِ، وَنَمَاذِجَ يَهْتَدِي بِهَا الْمُجْتَهِدُونَ فِي
حَل مَشَاكِل الْمُجْتَمَعِ الإِْسْلاَمِيِّ الْمُتَطَوِّرِ الَّذِي تَتَوَالَى
فِيهِ الأَْحْدَاثُ الَّتِي تَتَطَلَّبُ أَحْكَامَهَا الشَّرْعِيَّةَ.
Tahap ini ditandai dengan mulai dibukukannya Sunnah, yang
bercampur dengan fatwa-fatwa para sahabat dan tabi‘in. Hal itu dilakukan atas
perintah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, setelah Allah
melapangkan dadanya untuk melakukan hal tersebut. Ia khawatir Sunnah serta
perkataan para sahabat dan tabi‘in akan hilang dan terlupakan seiring
berjalannya waktu.
Hal itu dilakukan setelah sebab yang sebelumnya dikhawatirkan, yaitu
bercampurnya Al-Qur’an dengan selainnya, telah hilang. Sebab, Al-Qur’an telah
terjaga di dalam dada dan dalam tulisan. Para penghafal Al-Qur’an pun telah
berjumlah ribuan, dan hampir tidak ada satu pun rumah kaum Muslimin kecuali di
dalamnya terdapat mushaf.
Oleh karena itu, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan para ulama pada masanya
untuk membukukan Sunnah serta fatwa-fatwa para sahabat dan tabi‘in
yang mereka miliki, agar semuanya menjadi rujukan yang dapat dijadikan
pegangan, sekaligus menjadi contoh yang dapat dijadikan petunjuk oleh para
mujtahid dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat Islam yang terus berkembang,
yang di dalamnya senantiasa muncul berbagai peristiwa baru yang membutuhkan
ketentuan hukum syariat.
٢٤ - وَمِنْ هُنَا
يَتَبَيَّنُ زَيْفُ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ بَعْضُ الْمُسْتَشْرِقِينَ مِنْ أَنَّ
تَدْوِينَ السُّنَّةِ كَانَ لِتَبْرِيرِ الآْرَاءِ الْفِقْهِيَّةِ، إِذْ
التَّارِيخُ يَشْهَدُ بِأَنَّ الآْرَاءَ الْفِقْهِيَّةَ وَالسُّنَّةَ دُوِّنَتَا
فِي عَهْدٍ وَاحِدٍ، وَبَذَل الْعُلَمَاءُ فِي جَمْعِهَا جُهْدًا لَمْ تَبْذُلْهُ
أُمَّةٌ فِي تَنْقِيحِ الرِّوَايَةِ وَالتَّثَبُّتِ مِنْ صِحَّتِهَا.
24. Dari sini dapat diketahui bahwa tidak benar
pendapat sebagian orientalis yang menyatakan bahwa pembukuan Sunnah dilakukan
untuk membenarkan atau melegitimasi pendapat-pendapat fikih. Sebab, sejarah
menunjukkan bahwa pendapat-pendapat fikih dan Sunnah dibukukan pada
masa yang sama. Para ulama juga telah mengerahkan usaha yang luar
biasa dalam menghimpun keduanya, suatu upaya yang belum pernah dilakukan oleh
umat mana pun dalam menyeleksi riwayat dan memastikan keabsahannya.
٢٥ - وَإِذَا
كَانَ الْعُلَمَاءُ فِي هَذَا الْعَهْدِ قَدْ بَدَءُوا يَتَخَصَّصُونَ فِي
مَنَاهِجِهِمْ وَاتِّجَاهَاتِهِمْ الْعِلْمِيَّةِ، فَمِنْهُمْ الْمُتَخَصِّصُ
لِجَمْعِ اللُّغَةِ، وَمِنْهُمْ الْمُتَخَصِّصُ فِي آدَابِهَا وَتَارِيخِهَا،
وَمِنْهُمْ مَنْ اتَّجَهَ إِلَى الاِشْتِغَال بِالْمَسَائِل النَّظَرِيَّةِ
الْمُتَّصِلَةِ بِالْعَقِيدَةِ، كَالتَّحْسِينِ وَالتَّقْبِيحِ الْعَقْلِيَّيْنِ،
وَرُؤْيَةِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ، فَإِنَّنَا نَرَى أَنَّ الْمُشْتَغِلِينَ
بِالْفِقْهِ - فِي هَذَا الْعَهْدِ - كَانُوا يُعْتَبَرُونَ مِنْ حَمَلَةِ
السُّنَّةِ، وَمُفَسَّرِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، مَعَ إِحَاطَتِهِمْ بِأَسْرَارِ
اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ بِالْقَدْرِ الَّذِي يُسَاعِدُهُمْ عَلَى اسْتِنْبَاطِ
الأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ مِنْ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ. وَلِهَذَا كَانَتْ مَنْزِلَةُ
الْفُقَهَاءِ فِي هَذَا الْعَهْدِ مَنْزِلَةً مَرْمُوقَةً يَحْسِبُ لَهَا
الْحُكَّامُ أَلْفَ حِسَابٍ، كَمَا أَنَّ الْعَامَّةَ كَانُوا يُقَدِّرُونَهُمْ
حَقَّ قَدْرِهِمْ، وَيَرْجِعُونَ إِلَيْهِمْ فِي حَل مَشَاكِلِهِمْ،
وَيَعْتَبِرُونَهُمْ مَصَابِيحَ هَذِهِ الأُْمَّةِ، بِصَرْفِ النَّظَرِ عَنْ
مَرَاكِزِهِمْ السِّيَاسِيَّةِ فِي الدَّوْلَةِ. نَذْكُرُ مِنْ ذَلِكَ عَلَى
سَبِيل الْمِثَال لاَ الْحَصْرِ: الزُّهْرِيَّ وَحَمَّادَ بْنَ سَلَمَةَ شَيْخَ
أَبِي حَنِيفَةَ.
25. Jika pada masa ini para ulama mulai memiliki
spesialisasi dalam metode dan bidang keilmuan mereka, maka di antara mereka ada
yang mengkhususkan diri dalam pengumpulan bahasa, ada yang
mendalami sastra dan sejarahnya, dan ada pula yang mengarahkan
perhatian kepada persoalan-persoalan teoritis yang berkaitan dengan
akidah, seperti persoalan at-taḥsīn wa at-taqbīḥ al-‘aqliyyain
(penilaian baik dan buruk berdasarkan akal), persoalan melihat Allah, dan
sebagainya.
Adapun para ulama yang menekuni fikih pada masa ini, mereka
tetap termasuk orang-orang yang menguasai Sunnah dan tafsir Al-Qur’an,
di samping memiliki penguasaan terhadap rahasia-rahasia bahasa Arab pada
tingkat yang membantu mereka dalam mengistinbat hukum-hukum syariat
dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Oleh karena itu, kedudukan para fuqaha pada masa ini sangatlah terhormat.
Para penguasa sangat memperhitungkan kedudukan mereka, sementara masyarakat
umum juga memberikan penghormatan yang semestinya kepada mereka dan menjadikan
mereka rujukan dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Mereka dipandang sebagai
pelita bagi umat ini, tanpa memandang kedudukan politik mereka
di dalam pemerintahan.
Sebagai contoh, di antaranya adalah Az-Zuhri dan Hammad
bin Salamah, guru Imam Abu Hanifah.
٢٦ - وَفِي
أَوَاخِرِ هَذَا الطَّوْرِ بَدَأَتْ تَظْهَرُ الْمَذَاهِبُ الْفِقْهِيَّةُ
الْمُتَمَيِّزَةُ. كَمَا أَنَّ هَذَا الطَّوْرَ شَهِدَ تَطَوُّرَ التَّدْوِينِ،
فَبَعْدَ أَنْ كَانَ التَّدْوِينُ مُخْتَلِطًا بَدَأَ يَأْخُذُ طَرِيقَ
التَّنْظِيمِ، وَكَانَ هَذَا الطَّوْرُ تَمْهِيدًا لِلطَّوْرِ الْخَامِسِ، وَهُوَ
طَوْرُ الأَْئِمَّةِ الْعِظَامِ.
26. Pada akhir tahap ini mulai muncul mazhab-mazhab
fikih yang memiliki karakteristik dan metode tersendiri. Tahap ini
juga menyaksikan perkembangan dalam pembukuan ilmu. Setelah
sebelumnya pembukuan dilakukan secara bercampur, mulai muncul upaya untuk
menatanya secara lebih sistematis.
Tahap ini menjadi persiapan menuju tahap kelima, yaitu masa
para imam besar.
Baca juga:
Tahapan-Tahapan yang DilaluiFikih Islam : Tahapan Ketiga : Masa Tabiin
Tahapan-Tahapan yang DilaluiFikih Islam : Tahap Kelima: Masa Ijtihad
الطَّوْرُ
الرَّابِعُ: عَهْدُ صِغَارِ التَّابِعِينَ وَكِبَارِ تَابِعِي التَّابِعِينَ:
Tahap
Keempat: Masa Tabi‘in Junior dan Tabi‘ut Tabi‘in Senior
٢٣ - يَكَادُ
هَذَا الطَّوْرُ يَبْدَأُ فِي أَوَاخِرِ الْقَرْنِ الأَْوَّل مِنْ الْهِجْرَةِ
وَأَوَائِل الْقَرْنِ الثَّانِي، وَيُمْكِنُ أَنْ يُقَال: إِنَّهُ يَبْدَأُ مِنْ
عَهْدِ الإِْمَامِ الْعَادِل عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ.
23. Tahap ini hampir dapat dikatakan mulai berlangsung
pada akhir abad pertama Hijriah dan awal abad kedua Hijriah.
Bahkan, dapat dikatakan bahwa tahap ini dimulai sejak masa Imam yang
adil, Umar bin Abdul Aziz.
وَكَمَا قُلْنَا: لَيْسَ
هُنَاكَ حُدُودٌ زَمَنِيَّةٌ فَاصِلَةٌ بَيْنَ تِلْكَ الأَْطْوَارِ، فَهِيَ
مُتَدَاخِلَةٌ يَتَلَقَّى الْخَلَفُ مِنْهَا عَنْ السَّلَفِ.
Sebagaimana telah kami katakan, tidak terdapat batasan waktu yang
tegas yang memisahkan antara tahap-tahap tersebut. Tahap-tahap itu
saling berkesinambungan dan bertumpang tindih, di mana generasi yang datang
kemudian menerima ilmu dari generasi sebelumnya.
وَيَتَمَيَّزُ هَذَا الطَّوْرُ
بِأَنَّهُ قَدْ بُدِئَ فِيهِ بِتَدْوِينِ السُّنَّةِ مُخْتَلِطَةً بِفَتَاوَى
الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، وَذَلِكَ بِأَمْرٍ مِنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ
عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، بَعْدَ أَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِهَذَا،
وَخَشِيَ أَنْ تَضِيعَ السُّنَّةُ وَأَقْوَال الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ،
وَأَنْ تُصْبِحَ طَيَّ النِّسْيَانِ مَعَ تَوَالِي الأَْزْمَانِ، وَذَلِكَ بَعْدَ
أَنْ زَالَتِ الْعِلَّةُ الَّتِي خُشِيَ مَعَهَا أَنْ يَخْتَلِطَ الْقُرْآنُ
بِغَيْرِهِ. فَقَدْ حُفِظَ الْقُرْآنُ فِي الصُّدُورِ وَالسُّطُورِ، وَأَصْبَحَ
حَفَظَةُ الْقُرْآنِ بِالآْلاَفِ، وَلاَ يَكَادُ يُوجَدُ بَيْتٌ مُسْلِمٌ إِلاَّ
وَفِيهِ مُصْحَفٌ، فَأَمَرَ حَمَلَةَ الْعِلْمِ فِي عَهْدِهِ بِأَنْ يُدَوِّنُوا
مَا عِنْدَهُمْ مِنْ سُنَّةٍ وَفَتَاوَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، لِتَكُونَ
مَرْجِعًا يُرْجَعُ إِلَيْهِ، وَنَمَاذِجَ يَهْتَدِي بِهَا الْمُجْتَهِدُونَ فِي
حَل مَشَاكِل الْمُجْتَمَعِ الإِْسْلاَمِيِّ الْمُتَطَوِّرِ الَّذِي تَتَوَالَى
فِيهِ الأَْحْدَاثُ الَّتِي تَتَطَلَّبُ أَحْكَامَهَا الشَّرْعِيَّةَ.
Tahap ini ditandai dengan mulai dibukukannya Sunnah, yang
bercampur dengan fatwa-fatwa para sahabat dan tabi‘in. Hal itu dilakukan atas
perintah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, setelah Allah
melapangkan dadanya untuk melakukan hal tersebut. Ia khawatir Sunnah serta
perkataan para sahabat dan tabi‘in akan hilang dan terlupakan seiring
berjalannya waktu.
Hal itu dilakukan setelah sebab yang sebelumnya dikhawatirkan, yaitu
bercampurnya Al-Qur’an dengan selainnya, telah hilang. Sebab, Al-Qur’an telah
terjaga di dalam dada dan dalam tulisan. Para penghafal Al-Qur’an pun telah
berjumlah ribuan, dan hampir tidak ada satu pun rumah kaum Muslimin kecuali di
dalamnya terdapat mushaf.
Oleh karena itu, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan para ulama pada masanya
untuk membukukan Sunnah serta fatwa-fatwa para sahabat dan tabi‘in
yang mereka miliki, agar semuanya menjadi rujukan yang dapat dijadikan
pegangan, sekaligus menjadi contoh yang dapat dijadikan petunjuk oleh para
mujtahid dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat Islam yang terus berkembang,
yang di dalamnya senantiasa muncul berbagai peristiwa baru yang membutuhkan
ketentuan hukum syariat.
٢٤ - وَمِنْ هُنَا
يَتَبَيَّنُ زَيْفُ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ بَعْضُ الْمُسْتَشْرِقِينَ مِنْ أَنَّ
تَدْوِينَ السُّنَّةِ كَانَ لِتَبْرِيرِ الآْرَاءِ الْفِقْهِيَّةِ، إِذْ
التَّارِيخُ يَشْهَدُ بِأَنَّ الآْرَاءَ الْفِقْهِيَّةَ وَالسُّنَّةَ دُوِّنَتَا
فِي عَهْدٍ وَاحِدٍ، وَبَذَل الْعُلَمَاءُ فِي جَمْعِهَا جُهْدًا لَمْ تَبْذُلْهُ
أُمَّةٌ فِي تَنْقِيحِ الرِّوَايَةِ وَالتَّثَبُّتِ مِنْ صِحَّتِهَا.
24. Dari sini dapat diketahui bahwa tidak benar
pendapat sebagian orientalis yang menyatakan bahwa pembukuan Sunnah dilakukan
untuk membenarkan atau melegitimasi pendapat-pendapat fikih. Sebab, sejarah
menunjukkan bahwa pendapat-pendapat fikih dan Sunnah dibukukan pada
masa yang sama. Para ulama juga telah mengerahkan usaha yang luar
biasa dalam menghimpun keduanya, suatu upaya yang belum pernah dilakukan oleh
umat mana pun dalam menyeleksi riwayat dan memastikan keabsahannya.
٢٥ - وَإِذَا
كَانَ الْعُلَمَاءُ فِي هَذَا الْعَهْدِ قَدْ بَدَءُوا يَتَخَصَّصُونَ فِي
مَنَاهِجِهِمْ وَاتِّجَاهَاتِهِمْ الْعِلْمِيَّةِ، فَمِنْهُمْ الْمُتَخَصِّصُ
لِجَمْعِ اللُّغَةِ، وَمِنْهُمْ الْمُتَخَصِّصُ فِي آدَابِهَا وَتَارِيخِهَا،
وَمِنْهُمْ مَنْ اتَّجَهَ إِلَى الاِشْتِغَال بِالْمَسَائِل النَّظَرِيَّةِ
الْمُتَّصِلَةِ بِالْعَقِيدَةِ، كَالتَّحْسِينِ وَالتَّقْبِيحِ الْعَقْلِيَّيْنِ،
وَرُؤْيَةِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ، فَإِنَّنَا نَرَى أَنَّ الْمُشْتَغِلِينَ
بِالْفِقْهِ - فِي هَذَا الْعَهْدِ - كَانُوا يُعْتَبَرُونَ مِنْ حَمَلَةِ
السُّنَّةِ، وَمُفَسَّرِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، مَعَ إِحَاطَتِهِمْ بِأَسْرَارِ
اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ بِالْقَدْرِ الَّذِي يُسَاعِدُهُمْ عَلَى اسْتِنْبَاطِ
الأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ مِنْ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ. وَلِهَذَا كَانَتْ مَنْزِلَةُ
الْفُقَهَاءِ فِي هَذَا الْعَهْدِ مَنْزِلَةً مَرْمُوقَةً يَحْسِبُ لَهَا
الْحُكَّامُ أَلْفَ حِسَابٍ، كَمَا أَنَّ الْعَامَّةَ كَانُوا يُقَدِّرُونَهُمْ
حَقَّ قَدْرِهِمْ، وَيَرْجِعُونَ إِلَيْهِمْ فِي حَل مَشَاكِلِهِمْ،
وَيَعْتَبِرُونَهُمْ مَصَابِيحَ هَذِهِ الأُْمَّةِ، بِصَرْفِ النَّظَرِ عَنْ
مَرَاكِزِهِمْ السِّيَاسِيَّةِ فِي الدَّوْلَةِ. نَذْكُرُ مِنْ ذَلِكَ عَلَى
سَبِيل الْمِثَال لاَ الْحَصْرِ: الزُّهْرِيَّ وَحَمَّادَ بْنَ سَلَمَةَ شَيْخَ
أَبِي حَنِيفَةَ.
25. Jika pada masa ini para ulama mulai memiliki
spesialisasi dalam metode dan bidang keilmuan mereka, maka di antara mereka ada
yang mengkhususkan diri dalam pengumpulan bahasa, ada yang
mendalami sastra dan sejarahnya, dan ada pula yang mengarahkan
perhatian kepada persoalan-persoalan teoritis yang berkaitan dengan
akidah, seperti persoalan at-taḥsīn wa at-taqbīḥ al-‘aqliyyain
(penilaian baik dan buruk berdasarkan akal), persoalan melihat Allah, dan
sebagainya.
Adapun para ulama yang menekuni fikih pada masa ini, mereka
tetap termasuk orang-orang yang menguasai Sunnah dan tafsir Al-Qur’an,
di samping memiliki penguasaan terhadap rahasia-rahasia bahasa Arab pada
tingkat yang membantu mereka dalam mengistinbat hukum-hukum syariat
dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Oleh karena itu, kedudukan para fuqaha pada masa ini sangatlah terhormat.
Para penguasa sangat memperhitungkan kedudukan mereka, sementara masyarakat
umum juga memberikan penghormatan yang semestinya kepada mereka dan menjadikan
mereka rujukan dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Mereka dipandang sebagai
pelita bagi umat ini, tanpa memandang kedudukan politik mereka
di dalam pemerintahan.
Sebagai contoh, di antaranya adalah Az-Zuhri dan Hammad
bin Salamah, guru Imam Abu Hanifah.
٢٦ - وَفِي
أَوَاخِرِ هَذَا الطَّوْرِ بَدَأَتْ تَظْهَرُ الْمَذَاهِبُ الْفِقْهِيَّةُ
الْمُتَمَيِّزَةُ. كَمَا أَنَّ هَذَا الطَّوْرَ شَهِدَ تَطَوُّرَ التَّدْوِينِ،
فَبَعْدَ أَنْ كَانَ التَّدْوِينُ مُخْتَلِطًا بَدَأَ يَأْخُذُ طَرِيقَ
التَّنْظِيمِ، وَكَانَ هَذَا الطَّوْرُ تَمْهِيدًا لِلطَّوْرِ الْخَامِسِ، وَهُوَ
طَوْرُ الأَْئِمَّةِ الْعِظَامِ.
26. Pada akhir tahap ini mulai muncul mazhab-mazhab
fikih yang memiliki karakteristik dan metode tersendiri. Tahap ini
juga menyaksikan perkembangan dalam pembukuan ilmu. Setelah
sebelumnya pembukuan dilakukan secara bercampur, mulai muncul upaya untuk
menatanya secara lebih sistematis.
Tahap ini menjadi persiapan menuju tahap kelima, yaitu masa
para imam besar.
Baca juga:
Tahapan-Tahapan yang DilaluiFikih Islam : Tahapan Ketiga : Masa Tabiin
Tahapan-Tahapan yang DilaluiFikih Islam : Tahap Kelima: Masa Ijtihad

Tidak ada komentar:
Posting Komentar