Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Keempat: Masa Tabi‘in Junior dan Tabi‘ut Tabi‘in Senior

الطَّوْرُ الرَّابِعُ: عَهْدُ صِغَارِ التَّابِعِينَ وَكِبَارِ تَابِعِي التَّابِعِينَ:

Tahap Keempat: Masa Tabi‘in Junior dan Tabi‘ut Tabi‘in Senior

٢٣ - يَكَادُ هَذَا الطَّوْرُ يَبْدَأُ فِي أَوَاخِرِ الْقَرْنِ الأَْوَّل مِنْ الْهِجْرَةِ وَأَوَائِل الْقَرْنِ الثَّانِي، وَيُمْكِنُ أَنْ يُقَال: إِنَّهُ يَبْدَأُ مِنْ عَهْدِ الإِْمَامِ الْعَادِل عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ.

23. Tahap ini hampir dapat dikatakan mulai berlangsung pada akhir abad pertama Hijriah dan awal abad kedua Hijriah. Bahkan, dapat dikatakan bahwa tahap ini dimulai sejak masa Imam yang adil, Umar bin Abdul Aziz.

وَكَمَا قُلْنَا: لَيْسَ هُنَاكَ حُدُودٌ زَمَنِيَّةٌ فَاصِلَةٌ بَيْنَ تِلْكَ الأَْطْوَارِ، فَهِيَ مُتَدَاخِلَةٌ يَتَلَقَّى الْخَلَفُ مِنْهَا عَنْ السَّلَفِ.

Sebagaimana telah kami katakan, tidak terdapat batasan waktu yang tegas yang memisahkan antara tahap-tahap tersebut. Tahap-tahap itu saling berkesinambungan dan bertumpang tindih, di mana generasi yang datang kemudian menerima ilmu dari generasi sebelumnya.

وَيَتَمَيَّزُ هَذَا الطَّوْرُ بِأَنَّهُ قَدْ بُدِئَ فِيهِ بِتَدْوِينِ السُّنَّةِ مُخْتَلِطَةً بِفَتَاوَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، وَذَلِكَ بِأَمْرٍ مِنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، بَعْدَ أَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِهَذَا، وَخَشِيَ أَنْ تَضِيعَ السُّنَّةُ وَأَقْوَال الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، وَأَنْ تُصْبِحَ طَيَّ النِّسْيَانِ مَعَ تَوَالِي الأَْزْمَانِ، وَذَلِكَ بَعْدَ أَنْ زَالَتِ الْعِلَّةُ الَّتِي خُشِيَ مَعَهَا أَنْ يَخْتَلِطَ الْقُرْآنُ بِغَيْرِهِ. فَقَدْ حُفِظَ الْقُرْآنُ فِي الصُّدُورِ وَالسُّطُورِ، وَأَصْبَحَ حَفَظَةُ الْقُرْآنِ بِالآْلاَفِ، وَلاَ يَكَادُ يُوجَدُ بَيْتٌ مُسْلِمٌ إِلاَّ وَفِيهِ مُصْحَفٌ، فَأَمَرَ حَمَلَةَ الْعِلْمِ فِي عَهْدِهِ بِأَنْ يُدَوِّنُوا مَا عِنْدَهُمْ مِنْ سُنَّةٍ وَفَتَاوَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، لِتَكُونَ مَرْجِعًا يُرْجَعُ إِلَيْهِ، وَنَمَاذِجَ يَهْتَدِي بِهَا الْمُجْتَهِدُونَ فِي حَل مَشَاكِل الْمُجْتَمَعِ الإِْسْلاَمِيِّ الْمُتَطَوِّرِ الَّذِي تَتَوَالَى فِيهِ الأَْحْدَاثُ الَّتِي تَتَطَلَّبُ أَحْكَامَهَا الشَّرْعِيَّةَ.

Tahap ini ditandai dengan mulai dibukukannya Sunnah, yang bercampur dengan fatwa-fatwa para sahabat dan tabi‘in. Hal itu dilakukan atas perintah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, setelah Allah melapangkan dadanya untuk melakukan hal tersebut. Ia khawatir Sunnah serta perkataan para sahabat dan tabi‘in akan hilang dan terlupakan seiring berjalannya waktu.

Hal itu dilakukan setelah sebab yang sebelumnya dikhawatirkan, yaitu bercampurnya Al-Qur’an dengan selainnya, telah hilang. Sebab, Al-Qur’an telah terjaga di dalam dada dan dalam tulisan. Para penghafal Al-Qur’an pun telah berjumlah ribuan, dan hampir tidak ada satu pun rumah kaum Muslimin kecuali di dalamnya terdapat mushaf.

Oleh karena itu, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan para ulama pada masanya untuk membukukan Sunnah serta fatwa-fatwa para sahabat dan tabi‘in yang mereka miliki, agar semuanya menjadi rujukan yang dapat dijadikan pegangan, sekaligus menjadi contoh yang dapat dijadikan petunjuk oleh para mujtahid dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat Islam yang terus berkembang, yang di dalamnya senantiasa muncul berbagai peristiwa baru yang membutuhkan ketentuan hukum syariat.

٢٤ - وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ زَيْفُ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ بَعْضُ الْمُسْتَشْرِقِينَ مِنْ أَنَّ تَدْوِينَ السُّنَّةِ كَانَ لِتَبْرِيرِ الآْرَاءِ الْفِقْهِيَّةِ، إِذْ التَّارِيخُ يَشْهَدُ بِأَنَّ الآْرَاءَ الْفِقْهِيَّةَ وَالسُّنَّةَ دُوِّنَتَا فِي عَهْدٍ وَاحِدٍ، وَبَذَل الْعُلَمَاءُ فِي جَمْعِهَا جُهْدًا لَمْ تَبْذُلْهُ أُمَّةٌ فِي تَنْقِيحِ الرِّوَايَةِ وَالتَّثَبُّتِ مِنْ صِحَّتِهَا.

24. Dari sini dapat diketahui bahwa tidak benar pendapat sebagian orientalis yang menyatakan bahwa pembukuan Sunnah dilakukan untuk membenarkan atau melegitimasi pendapat-pendapat fikih. Sebab, sejarah menunjukkan bahwa pendapat-pendapat fikih dan Sunnah dibukukan pada masa yang sama. Para ulama juga telah mengerahkan usaha yang luar biasa dalam menghimpun keduanya, suatu upaya yang belum pernah dilakukan oleh umat mana pun dalam menyeleksi riwayat dan memastikan keabsahannya.

٢٥ - وَإِذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ فِي هَذَا الْعَهْدِ قَدْ بَدَءُوا يَتَخَصَّصُونَ فِي مَنَاهِجِهِمْ وَاتِّجَاهَاتِهِمْ الْعِلْمِيَّةِ، فَمِنْهُمْ الْمُتَخَصِّصُ لِجَمْعِ اللُّغَةِ، وَمِنْهُمْ الْمُتَخَصِّصُ فِي آدَابِهَا وَتَارِيخِهَا، وَمِنْهُمْ مَنْ اتَّجَهَ إِلَى الاِشْتِغَال بِالْمَسَائِل النَّظَرِيَّةِ الْمُتَّصِلَةِ بِالْعَقِيدَةِ، كَالتَّحْسِينِ وَالتَّقْبِيحِ الْعَقْلِيَّيْنِ، وَرُؤْيَةِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ، فَإِنَّنَا نَرَى أَنَّ الْمُشْتَغِلِينَ بِالْفِقْهِ - فِي هَذَا الْعَهْدِ - كَانُوا يُعْتَبَرُونَ مِنْ حَمَلَةِ السُّنَّةِ، وَمُفَسَّرِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، مَعَ إِحَاطَتِهِمْ بِأَسْرَارِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ بِالْقَدْرِ الَّذِي يُسَاعِدُهُمْ عَلَى اسْتِنْبَاطِ الأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ مِنْ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ. وَلِهَذَا كَانَتْ مَنْزِلَةُ الْفُقَهَاءِ فِي هَذَا الْعَهْدِ مَنْزِلَةً مَرْمُوقَةً يَحْسِبُ لَهَا الْحُكَّامُ أَلْفَ حِسَابٍ، كَمَا أَنَّ الْعَامَّةَ كَانُوا يُقَدِّرُونَهُمْ حَقَّ قَدْرِهِمْ، وَيَرْجِعُونَ إِلَيْهِمْ فِي حَل مَشَاكِلِهِمْ، وَيَعْتَبِرُونَهُمْ مَصَابِيحَ هَذِهِ الأُْمَّةِ، بِصَرْفِ النَّظَرِ عَنْ مَرَاكِزِهِمْ السِّيَاسِيَّةِ فِي الدَّوْلَةِ. نَذْكُرُ مِنْ ذَلِكَ عَلَى سَبِيل الْمِثَال لاَ الْحَصْرِ: الزُّهْرِيَّ وَحَمَّادَ بْنَ سَلَمَةَ شَيْخَ أَبِي حَنِيفَةَ.

25. Jika pada masa ini para ulama mulai memiliki spesialisasi dalam metode dan bidang keilmuan mereka, maka di antara mereka ada yang mengkhususkan diri dalam pengumpulan bahasa, ada yang mendalami sastra dan sejarahnya, dan ada pula yang mengarahkan perhatian kepada persoalan-persoalan teoritis yang berkaitan dengan akidah, seperti persoalan at-taḥsīn wa at-taqbīḥ al-‘aqliyyain (penilaian baik dan buruk berdasarkan akal), persoalan melihat Allah, dan sebagainya.

Adapun para ulama yang menekuni fikih pada masa ini, mereka tetap termasuk orang-orang yang menguasai Sunnah dan tafsir Al-Qur’an, di samping memiliki penguasaan terhadap rahasia-rahasia bahasa Arab pada tingkat yang membantu mereka dalam mengistinbat hukum-hukum syariat dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Oleh karena itu, kedudukan para fuqaha pada masa ini sangatlah terhormat. Para penguasa sangat memperhitungkan kedudukan mereka, sementara masyarakat umum juga memberikan penghormatan yang semestinya kepada mereka dan menjadikan mereka rujukan dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Mereka dipandang sebagai pelita bagi umat ini, tanpa memandang kedudukan politik mereka di dalam pemerintahan.

Sebagai contoh, di antaranya adalah Az-Zuhri dan Hammad bin Salamah, guru Imam Abu Hanifah.

٢٦ - وَفِي أَوَاخِرِ هَذَا الطَّوْرِ بَدَأَتْ تَظْهَرُ الْمَذَاهِبُ الْفِقْهِيَّةُ الْمُتَمَيِّزَةُ. كَمَا أَنَّ هَذَا الطَّوْرَ شَهِدَ تَطَوُّرَ التَّدْوِينِ، فَبَعْدَ أَنْ كَانَ التَّدْوِينُ مُخْتَلِطًا بَدَأَ يَأْخُذُ طَرِيقَ التَّنْظِيمِ، وَكَانَ هَذَا الطَّوْرُ تَمْهِيدًا لِلطَّوْرِ الْخَامِسِ، وَهُوَ طَوْرُ الأَْئِمَّةِ الْعِظَامِ.

26. Pada akhir tahap ini mulai muncul mazhab-mazhab fikih yang memiliki karakteristik dan metode tersendiri. Tahap ini juga menyaksikan perkembangan dalam pembukuan ilmu. Setelah sebelumnya pembukuan dilakukan secara bercampur, mulai muncul upaya untuk menatanya secara lebih sistematis.

Tahap ini menjadi persiapan menuju tahap kelima, yaitu masa para imam besar.

Baca juga:

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Kebanyakan Orang Yang Berilmu Pada Tahapan (Ketiga) Ini Berasal Dari Kalangan Mawali (Budak yang Telah Dimerdekakan)

Tahapan-Tahapan yang DilaluiFikih Islam : Tahapan Ketiga : Masa Tabiin

Tahapan-Tahapan yang DilaluiFikih Islam : Tahap Kelima: Masa Ijtihad

الطَّوْرُ الرَّابِعُ: عَهْدُ صِغَارِ التَّابِعِينَ وَكِبَارِ تَابِعِي التَّابِعِينَ:

Tahap Keempat: Masa Tabi‘in Junior dan Tabi‘ut Tabi‘in Senior

٢٣ - يَكَادُ هَذَا الطَّوْرُ يَبْدَأُ فِي أَوَاخِرِ الْقَرْنِ الأَْوَّل مِنْ الْهِجْرَةِ وَأَوَائِل الْقَرْنِ الثَّانِي، وَيُمْكِنُ أَنْ يُقَال: إِنَّهُ يَبْدَأُ مِنْ عَهْدِ الإِْمَامِ الْعَادِل عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ.

23. Tahap ini hampir dapat dikatakan mulai berlangsung pada akhir abad pertama Hijriah dan awal abad kedua Hijriah. Bahkan, dapat dikatakan bahwa tahap ini dimulai sejak masa Imam yang adil, Umar bin Abdul Aziz.

وَكَمَا قُلْنَا: لَيْسَ هُنَاكَ حُدُودٌ زَمَنِيَّةٌ فَاصِلَةٌ بَيْنَ تِلْكَ الأَْطْوَارِ، فَهِيَ مُتَدَاخِلَةٌ يَتَلَقَّى الْخَلَفُ مِنْهَا عَنْ السَّلَفِ.

Sebagaimana telah kami katakan, tidak terdapat batasan waktu yang tegas yang memisahkan antara tahap-tahap tersebut. Tahap-tahap itu saling berkesinambungan dan bertumpang tindih, di mana generasi yang datang kemudian menerima ilmu dari generasi sebelumnya.

وَيَتَمَيَّزُ هَذَا الطَّوْرُ بِأَنَّهُ قَدْ بُدِئَ فِيهِ بِتَدْوِينِ السُّنَّةِ مُخْتَلِطَةً بِفَتَاوَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، وَذَلِكَ بِأَمْرٍ مِنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، بَعْدَ أَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِهَذَا، وَخَشِيَ أَنْ تَضِيعَ السُّنَّةُ وَأَقْوَال الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، وَأَنْ تُصْبِحَ طَيَّ النِّسْيَانِ مَعَ تَوَالِي الأَْزْمَانِ، وَذَلِكَ بَعْدَ أَنْ زَالَتِ الْعِلَّةُ الَّتِي خُشِيَ مَعَهَا أَنْ يَخْتَلِطَ الْقُرْآنُ بِغَيْرِهِ. فَقَدْ حُفِظَ الْقُرْآنُ فِي الصُّدُورِ وَالسُّطُورِ، وَأَصْبَحَ حَفَظَةُ الْقُرْآنِ بِالآْلاَفِ، وَلاَ يَكَادُ يُوجَدُ بَيْتٌ مُسْلِمٌ إِلاَّ وَفِيهِ مُصْحَفٌ، فَأَمَرَ حَمَلَةَ الْعِلْمِ فِي عَهْدِهِ بِأَنْ يُدَوِّنُوا مَا عِنْدَهُمْ مِنْ سُنَّةٍ وَفَتَاوَى الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، لِتَكُونَ مَرْجِعًا يُرْجَعُ إِلَيْهِ، وَنَمَاذِجَ يَهْتَدِي بِهَا الْمُجْتَهِدُونَ فِي حَل مَشَاكِل الْمُجْتَمَعِ الإِْسْلاَمِيِّ الْمُتَطَوِّرِ الَّذِي تَتَوَالَى فِيهِ الأَْحْدَاثُ الَّتِي تَتَطَلَّبُ أَحْكَامَهَا الشَّرْعِيَّةَ.

Tahap ini ditandai dengan mulai dibukukannya Sunnah, yang bercampur dengan fatwa-fatwa para sahabat dan tabi‘in. Hal itu dilakukan atas perintah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, setelah Allah melapangkan dadanya untuk melakukan hal tersebut. Ia khawatir Sunnah serta perkataan para sahabat dan tabi‘in akan hilang dan terlupakan seiring berjalannya waktu.

Hal itu dilakukan setelah sebab yang sebelumnya dikhawatirkan, yaitu bercampurnya Al-Qur’an dengan selainnya, telah hilang. Sebab, Al-Qur’an telah terjaga di dalam dada dan dalam tulisan. Para penghafal Al-Qur’an pun telah berjumlah ribuan, dan hampir tidak ada satu pun rumah kaum Muslimin kecuali di dalamnya terdapat mushaf.

Oleh karena itu, Umar bin Abdul Aziz memerintahkan para ulama pada masanya untuk membukukan Sunnah serta fatwa-fatwa para sahabat dan tabi‘in yang mereka miliki, agar semuanya menjadi rujukan yang dapat dijadikan pegangan, sekaligus menjadi contoh yang dapat dijadikan petunjuk oleh para mujtahid dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat Islam yang terus berkembang, yang di dalamnya senantiasa muncul berbagai peristiwa baru yang membutuhkan ketentuan hukum syariat.

٢٤ - وَمِنْ هُنَا يَتَبَيَّنُ زَيْفُ مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ بَعْضُ الْمُسْتَشْرِقِينَ مِنْ أَنَّ تَدْوِينَ السُّنَّةِ كَانَ لِتَبْرِيرِ الآْرَاءِ الْفِقْهِيَّةِ، إِذْ التَّارِيخُ يَشْهَدُ بِأَنَّ الآْرَاءَ الْفِقْهِيَّةَ وَالسُّنَّةَ دُوِّنَتَا فِي عَهْدٍ وَاحِدٍ، وَبَذَل الْعُلَمَاءُ فِي جَمْعِهَا جُهْدًا لَمْ تَبْذُلْهُ أُمَّةٌ فِي تَنْقِيحِ الرِّوَايَةِ وَالتَّثَبُّتِ مِنْ صِحَّتِهَا.

24. Dari sini dapat diketahui bahwa tidak benar pendapat sebagian orientalis yang menyatakan bahwa pembukuan Sunnah dilakukan untuk membenarkan atau melegitimasi pendapat-pendapat fikih. Sebab, sejarah menunjukkan bahwa pendapat-pendapat fikih dan Sunnah dibukukan pada masa yang sama. Para ulama juga telah mengerahkan usaha yang luar biasa dalam menghimpun keduanya, suatu upaya yang belum pernah dilakukan oleh umat mana pun dalam menyeleksi riwayat dan memastikan keabsahannya.

٢٥ - وَإِذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ فِي هَذَا الْعَهْدِ قَدْ بَدَءُوا يَتَخَصَّصُونَ فِي مَنَاهِجِهِمْ وَاتِّجَاهَاتِهِمْ الْعِلْمِيَّةِ، فَمِنْهُمْ الْمُتَخَصِّصُ لِجَمْعِ اللُّغَةِ، وَمِنْهُمْ الْمُتَخَصِّصُ فِي آدَابِهَا وَتَارِيخِهَا، وَمِنْهُمْ مَنْ اتَّجَهَ إِلَى الاِشْتِغَال بِالْمَسَائِل النَّظَرِيَّةِ الْمُتَّصِلَةِ بِالْعَقِيدَةِ، كَالتَّحْسِينِ وَالتَّقْبِيحِ الْعَقْلِيَّيْنِ، وَرُؤْيَةِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ، فَإِنَّنَا نَرَى أَنَّ الْمُشْتَغِلِينَ بِالْفِقْهِ - فِي هَذَا الْعَهْدِ - كَانُوا يُعْتَبَرُونَ مِنْ حَمَلَةِ السُّنَّةِ، وَمُفَسَّرِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، مَعَ إِحَاطَتِهِمْ بِأَسْرَارِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ بِالْقَدْرِ الَّذِي يُسَاعِدُهُمْ عَلَى اسْتِنْبَاطِ الأَْحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ مِنْ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ. وَلِهَذَا كَانَتْ مَنْزِلَةُ الْفُقَهَاءِ فِي هَذَا الْعَهْدِ مَنْزِلَةً مَرْمُوقَةً يَحْسِبُ لَهَا الْحُكَّامُ أَلْفَ حِسَابٍ، كَمَا أَنَّ الْعَامَّةَ كَانُوا يُقَدِّرُونَهُمْ حَقَّ قَدْرِهِمْ، وَيَرْجِعُونَ إِلَيْهِمْ فِي حَل مَشَاكِلِهِمْ، وَيَعْتَبِرُونَهُمْ مَصَابِيحَ هَذِهِ الأُْمَّةِ، بِصَرْفِ النَّظَرِ عَنْ مَرَاكِزِهِمْ السِّيَاسِيَّةِ فِي الدَّوْلَةِ. نَذْكُرُ مِنْ ذَلِكَ عَلَى سَبِيل الْمِثَال لاَ الْحَصْرِ: الزُّهْرِيَّ وَحَمَّادَ بْنَ سَلَمَةَ شَيْخَ أَبِي حَنِيفَةَ.

25. Jika pada masa ini para ulama mulai memiliki spesialisasi dalam metode dan bidang keilmuan mereka, maka di antara mereka ada yang mengkhususkan diri dalam pengumpulan bahasa, ada yang mendalami sastra dan sejarahnya, dan ada pula yang mengarahkan perhatian kepada persoalan-persoalan teoritis yang berkaitan dengan akidah, seperti persoalan at-taḥsīn wa at-taqbīḥ al-‘aqliyyain (penilaian baik dan buruk berdasarkan akal), persoalan melihat Allah, dan sebagainya.

Adapun para ulama yang menekuni fikih pada masa ini, mereka tetap termasuk orang-orang yang menguasai Sunnah dan tafsir Al-Qur’an, di samping memiliki penguasaan terhadap rahasia-rahasia bahasa Arab pada tingkat yang membantu mereka dalam mengistinbat hukum-hukum syariat dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Oleh karena itu, kedudukan para fuqaha pada masa ini sangatlah terhormat. Para penguasa sangat memperhitungkan kedudukan mereka, sementara masyarakat umum juga memberikan penghormatan yang semestinya kepada mereka dan menjadikan mereka rujukan dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Mereka dipandang sebagai pelita bagi umat ini, tanpa memandang kedudukan politik mereka di dalam pemerintahan.

Sebagai contoh, di antaranya adalah Az-Zuhri dan Hammad bin Salamah, guru Imam Abu Hanifah.

٢٦ - وَفِي أَوَاخِرِ هَذَا الطَّوْرِ بَدَأَتْ تَظْهَرُ الْمَذَاهِبُ الْفِقْهِيَّةُ الْمُتَمَيِّزَةُ. كَمَا أَنَّ هَذَا الطَّوْرَ شَهِدَ تَطَوُّرَ التَّدْوِينِ، فَبَعْدَ أَنْ كَانَ التَّدْوِينُ مُخْتَلِطًا بَدَأَ يَأْخُذُ طَرِيقَ التَّنْظِيمِ، وَكَانَ هَذَا الطَّوْرُ تَمْهِيدًا لِلطَّوْرِ الْخَامِسِ، وَهُوَ طَوْرُ الأَْئِمَّةِ الْعِظَامِ.

26. Pada akhir tahap ini mulai muncul mazhab-mazhab fikih yang memiliki karakteristik dan metode tersendiri. Tahap ini juga menyaksikan perkembangan dalam pembukuan ilmu. Setelah sebelumnya pembukuan dilakukan secara bercampur, mulai muncul upaya untuk menatanya secara lebih sistematis.

Tahap ini menjadi persiapan menuju tahap kelima, yaitu masa para imam besar.

Baca juga:

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Kebanyakan Orang Yang Berilmu Pada Tahapan (Ketiga) Ini Berasal Dari Kalangan Mawali (Budak yang Telah Dimerdekakan)

Tahapan-Tahapan yang DilaluiFikih Islam : Tahapan Ketiga : Masa Tabiin

Tahapan-Tahapan yang DilaluiFikih Islam : Tahap Kelima: Masa Ijtihad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Kelima: Masa Ijtihad

الطَّوْرُ الْخَامِسُ: طَوْرُ الاِجْتِهَادِ : Tahap Kelima: Masa Ijtihad ٢٧ - وَيَبْدَأُ هَذَا الطَّوْرُ مَعَ بَدْءِ النَّهْضَةِ الْعِل...