الطَّوْرُ
الثَّالِثُ: طَوْرُ التَّابِعِينَ
Tahapan
Ketiga: Masa Tabiin
١٦ - وَهَذَا
الطَّوْرُ امْتِدَادٌ لِعَهْدِ صِغَارِ الصَّحَابَةِ، وَقَدْ اشْتَرَكَ
أَكْثَرُهُمْ فِي حُرُوبِ الْفِتْنَةِ. وَلَكِنَّ هَذَا الْعَهْدَ تَمَيَّزَ
بِوُجُودِ مَدْرَسَتَيْنِ: إِحْدَاهُمَا بِالْحِجَازِ، وَالأُْخْرَى بِالْعِرَاقِ.
فَأَمَّا مَدْرَسَةُ الْحِجَازِ فَكَانَ اعْتِمَادُهَا فِي الاِجْتِهَادِ عَلَى
نُصُوصٍ مِنْ كِتَابٍ وَسُنَّةٍ، وَلاَ تَلْجَأُ إِلَى الأَْخْذِ بِالرَّأْيِ
إِلاَّ نَادِرًا، وَذَلِكَ لِوَفْرَةِ الْمُحَدِّثِينَ هُنَاكَ، إِذْ هُوَ
مَوْطِنُ الرِّسَالَةِ، وَفِيهِ نَشَأَ الْمُهَاجِرُونَ وَالأَْنْصَارُ،
وَسِلْسِلَةُ الرُّوَاةِ عِنْدَهُمْ قَصِيرَةٌ، إِذْ لاَ يَتَجَاوَزُ
التَّابِعِيُّ فِي تَحْدِيثِهِ عَنْ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَكْثَرَ مِنْ رَاوٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ الصَّحَابِيُّ غَالِبًا. وَالصَّحَابَةُ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عُدُولٌ ثِقَاتٌ.
16. Fase ini merupakan kelanjutan dari masa para
sahabat yang lebih muda, dan sebagian besar dari mereka turut terlibat dalam peperangan
akibat fitnah. Namun, masa ini memiliki ciri khas dengan munculnya dua
madrasah (aliran pemikiran): satu berada di Hijaz,
dan yang lainnya di Irak.
Adapun Madrasah Hijaz, dalam berijtihad mereka berpegang
pada nash-nash dari Al-Qur’an dan Sunnah, dan hanya jarang
menggunakan pendapat (ra’yu). Hal itu disebabkan banyaknya para ahli
hadis di wilayah tersebut, karena Hijaz merupakan tempat lahirnya
risalah Islam, tempat kaum Muhajirin dan Ansar tumbuh dan berkembang.
Rantai periwayatan hadis di kalangan mereka juga relatif pendek. Sebab,
seorang tabi’in ketika meriwayatkan hadis dari Rasulullah ﷺ biasanya tidak melalui lebih dari satu perawi,
yaitu seorang sahabat.
Sedangkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang
adil dan terpercaya.
وَكَانَتْ هَذِهِ
الْمَدْرَسَةُ بِالْمَدِينَةِ يَتَزَعَّمُهَا أَوَّلاً: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَمِنْ بَعْدِهِ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ
وَغَيْرُهُ مِنْ التَّابِعِينَ، وَأُخْرَى بِمَكَّةَ، وَكَانَ يَتَزَعَّمُهَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا تُرْجُمَانُ الْقُرْآنِ.
وَحَمَل الأَْمَانَةَ بَعْدَهُ تَلاَمِيذُهُ كَعِكْرِمَةَ مَوْلاَهُ وَابْنِ
جُرَيْجٍ.
Madrasah ini terdapat di Madinah dan pada awalnya dipimpin
oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Setelah beliau,
kepemimpinan keilmuan dilanjutkan oleh Sa‘id bin al-Musayyib
dan para tabi‘in lainnya.
Selain itu, terdapat pula madrasah di Makkah, yang dipimpin
oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang dikenal
sebagai Turjuman al-Qur’an (penerjemah dan penafsir Al-Qur’an).
Setelah beliau, amanah keilmuan tersebut diteruskan oleh murid-muridnya,
seperti ‘Ikrimah, maula beliau, dan Ibnu Juraij.
أَمَّا الْمَدْرَسَةُ
الأُْخْرَى - وَهِيَ مَدْرَسَةُ الْعِرَاقِ - فَكَانَتْ تَلْجَأُ إِلَى الرَّأْيِ
كَثِيرًا. وَالرَّأْيُ عِنْدَهُمْ يَرْجِعُ إِمَّا إِلَى الْقِيَاسِ
الأُْصُولِيِّ، وَهُوَ إِلْحَاقُ مَسْأَلَةٍ لاَ نَصَّ فِيهَا بِمَسْأَلَةٍ فِيهَا
نَصٌّ شَرْعِيٌّ، لِعِلَّةٍ جَامِعَةٍ بَيْنَهُمَا، وَإِمَّا رَدُّ الْمَسَائِل
الْمُسْتَحْدَثَةِ إِلَى قَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ الْعَامَّةِ؛ لأَِنَّ أَسَاتِذَةَ
هَذِهِ الْمَدْرَسَةِ شَدَّدُوا فِي الرِّوَايَةِ، نَظَرًا لأَِنَّ الْعِرَاقَ
كَانَ يَوْمَئِذٍ مَوْطِنَ الْفِتَنِ، فَفِيهِ الشُّعُوبِيُّونَ الَّذِينَ
يُكِنُّونَ الْعَدَاءَ لِلإِْسْلاَمِ، وَلَكِنَّهُمْ يُعَبِّرُونَ عَنْ ذَلِكَ
بِكَرَاهِيَتِهِمْ لِلْعَرَبِ، وَمِنْهُمْ الْمَلاَحِدَةُ الَّذِينَ لاَ
يَفْتَئُونَ يُثِيرُونَ الشُّبُهَاتِ، وَمِنْهُمْ غُلاَةُ الرَّافِضَةِ الَّذِينَ
بَالَغُوا فِي حُبِّ عَلِيٍّ حَتَّى جَعَلُوهُ إِلَهًا أَوْ شِبْهَ إِلَهٍ،
وَمِنْهُمْ الْخَوَارِجُ الَّذِينَ يَكْرَهُونَ عَلِيًّا وَشِيعَتَهُ، بَل
وَيَسْتَبِيحُونَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِينَ الَّذِينَ عَلَى غَيْرِ نِحْلَتِهِمْ،
وَمِنْهُمْ وَمِنْهُمْ. . . فَكَانَ الْفُقَهَاءُ الَّذِينَ يُعْتَدُّ بِهِمْ
يَتَحَرَّوْنَ فِي الرِّوَايَةِ، وَيُدَقِّقُونَ فِيهَا، وَيَضَعُونَ شُرُوطًا
لَمْ يَلْتَزِمْهَا أَهْل الْحِجَازِ.
Adapun madrasah yang lain—yaitu Madrasah Irak—lebih banyak
menggunakan ra’yu (pendapat/penalaran). Ra’yu menurut mereka
kembali kepada dua hal.
Pertama, qiyas usuli, yaitu mengqiyaskan suatu persoalan
yang tidak memiliki nash kepada persoalan yang memiliki nash syar‘i karena
adanya ‘illah (alasan hukum) yang sama di antara keduanya.
Kedua, mengembalikan persoalan-persoalan baru kepada kaidah-kaidah
umum syariat.
Hal itu karena para guru dari madrasah ini sangat ketat dalam menerima
riwayat, mengingat Irak pada masa itu merupakan pusat berbagai fitnah.
Di sana terdapat kaum Syu‘ubiyyun yang menyimpan permusuhan terhadap
Islam, tetapi mereka mengungkapkannya melalui kebencian terhadap bangsa Arab.
Di antara mereka juga terdapat kaum mulhid yang tidak
henti-hentinya menimbulkan berbagai kerancuan dan syubhat. Ada pula kaum
Rafidhah yang ekstrem, yang berlebihan dalam mencintai Ali hingga
menjadikannya sebagai tuhan atau menyerupai tuhan. Ada pula kaum
Khawarij yang membenci Ali dan para pengikutnya, bahkan menganggap
halal darah kaum Muslimin yang tidak mengikuti keyakinan mereka.
Dan masih banyak lagi kelompok lainnya...
Karena keadaan tersebut, para fuqaha yang memiliki otoritas keilmuan sangat
berhati-hati dalam menerima riwayat, menelitinya secara mendalam, dan
menetapkan berbagai persyaratan dalam penerimaan riwayat yang tidak
diberlakukan oleh para ulama Hijaz.
وَذَلِكَ أَنَّهُمْ
اعْتَبَرُوا عَمَل الصَّحَابِيِّ أَوِ التَّابِعِيِّ بِغَيْرِ مَا رَوَى قَدْحًا
فِي رِوَايَتِهِ. فَيَحْمِلُونَ هَذِهِ الرِّوَايَةَ عَلَى أَنَّهَا مَنْسُوخَةٌ
أَوْ مُؤَوَّلَةٌ. وَكَذَلِكَ يَعْتَبِرُونَ أَنَّ انْفِرَادَ الثِّقَةِ بِرِوَايَةٍ
فِي مَسْأَلَةٍ تَعُمُّ بِهَا الْبَلْوَى قَدْحٌ فِي رِوَايَتِهِ، وَيَحْمِلُونَ
هَذِهِ الرِّوَايَةَ عَلَى أَنَّهَا إِمَّا مَنْسُوخَةٌ أَوْ خَطَأٌ مِنْ
الرَّاوِي عَنْ غَيْرِ قَصْدٍ؛ لأَِنَّهُمْ كَانُوا يَتَحَاشَوْنَ وَصْفَ
الثِّقَاتِ بِتَعَمُّدِ الْكَذِبِ، فَالْعَدْل قَدْ يَنْسَى أَوْ يُخْطِئُ.
Hal itu karena mereka menganggap bahwa tindakan seorang sahabat atau
tabi‘in yang tidak sesuai dengan apa yang diriwayatkannya merupakan suatu cela
terhadap riwayatnya. Oleh karena itu, mereka memahami riwayat tersebut
sebagai riwayat yang telah mansukh (dihapus hukumnya) atau ditakwilkan.
Demikian pula, mereka menganggap bahwa seorang perawi tsiqah yang
meriwayatkan sendirian suatu hadis mengenai persoalan yang sering terjadi dan
diketahui secara luas oleh masyarakat merupakan suatu cela terhadap
riwayatnya. Mereka memahami riwayat tersebut sebagai sesuatu yang telah
mansukh, atau sebagai kesalahan perawi yang terjadi tanpa
disengaja.
Hal itu karena mereka menghindari menuduh para perawi yang terpercaya telah sengaja
berdusta. Sebab, orang yang adil dan terpercaya pun dapat lupa
atau melakukan kesalahan.
وَمِنْ هُنَا كَثُرَ
اعْتِمَادُ فُقَهَاءِ هَذِهِ الْمَدْرَسَةِ عَلَى الأَْخْذِ بِالرَّأْيِ فِيمَا
يَجِدُّ لَهُمْ مِنْ أَحْدَاثٍ، اللَّهُمَّ إِلاَّ إِذَا ثَبَتَتْ عِنْدَهُمْ
سُنَّةٌ لاَ شَكَّ فِيهَا، أَوْ كَانَ احْتِمَال الْخَطَأِ فِيهَا احْتِمَالاً
ضَعِيفًا.
Dari sinilah para fuqaha Madrasah Irak lebih banyak mengandalkan
ra’yu (pendapat/penalaran) dalam menghadapi berbagai persoalan baru
yang muncul.
Hal itu berlaku kecuali apabila telah terbukti bagi mereka adanya
Sunnah yang tidak diragukan lagi keabsahannya, atau kemungkinan
terjadinya kesalahan dalam riwayat tersebut sangat kecil.
وَكَانَ زَعِيمُ هَذِهِ
الْمَدْرَسَةِ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. ثُمَّ جَاءَ
مِنْ بَعْدِهِ تَلاَمِيذُهُ، وَأَشْهَرُهُمْ عَلْقَمَةُ النَّخَعِيُّ، ثُمَّ مِنْ
بَعْدِهِ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ، وَعَلَيْهِ تَخَرَّجَ أَئِمَّةُ هَذَا
الْمَذْهَبِ.
Pemimpin madrasah (mazhab pemikiran) ini adalah ‘Abdullah bin Mas‘ud
radhiyallahu ‘anhu. Kemudian setelah beliau datang murid-muridnya,
yang paling terkenal di antara mereka adalah ‘Alqamah an-Nakha‘i.
Setelah itu dilanjutkan oleh Ibrahim an-Nakha‘i, dan dari
beliaulah para imam mazhab ini menimba ilmu dan berkembang.
١٧ - لَيْسَ مَعْنَى أَنَّ
مَدْرَسَةَ الْحِجَازِ كَانَتْ مَدْرَسَةَ الْحَدِيثِ وَالأَْثَرِ أَنَّهُ لَمْ
يَكُنْ مِنْ بَيْنِ فُقَهَائِهَا مَنْ يَعْتَمِدُ عَلَى الرَّأْيِ فِي كَثِيرٍ
مِنْ اسْتِنْبَاطَاتِهِ، فَقَدْ عُرِفَ فِي هَذَا الْعَهْدِ مِنْ الْحِجَازِيِّينَ
رَبِيعَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، الْمَشْهُورُ بِرَبِيعَةَ الرَّأْيِ، وَهُوَ
شَيْخُ الإِْمَامِ مَالِكٍ. كَمَا كَانَ فِي الْعِرَاقِ مَنْ يَكْرَهُ الأَْخْذَ
بِالرَّأْيِ كَعَامِرِ بْنِ شَرَاحِيل الْمَشْهُورِ بِالشَّعْبِيِّ.
17. Tidak berarti bahwa Madrasah
Hijaz merupakan madrasah yang berpegang pada hadis dan atsar, bahwa di
antara para fuqahanya tidak ada yang menggunakan ra’yu (pendapat atau
penalaran) dalam banyak proses istinbatnya.
Pada masa ini, di kalangan ulama Hijaz dikenal Rabi‘ah bin
‘Abdurrahman, yang masyhur dengan sebutan Rabi‘ah ar-Ra’yi.
Ia adalah guru Imam Malik.
Demikian pula di Irak terdapat ulama yang tidak menyukai penggunaan ra’yu,
seperti ‘Amir bin Syurahbil, yang lebih dikenal dengan nama asy-Sya‘bi.
١٨ - لَيْسَ
مَعْنَى الْمَدْرَسَةِ فِي كَلاَمِنَا هَذَا مَا هُوَ مَعْرُوفٌ عِنْدَنَا مِنْ
مَبْنًى خَاصٍّ، أَوْ مَكَانٍ أُعِدَّ لِلدِّرَاسَةِ، بَل الْمُرَادُ
بِالْمَدْرَسَةِ الْتِزَامُ اتِّجَاهٍ خَاصٍّ وَمَنْهَجٍ مُتَمَيِّزٍ، وَإِنْ
كَانَتِ الْمَسَاجِدُ الْجَامِعَةُ فِي الْجُمْلَةِ هِيَ مَكَانُ تَجَمُّعِ
الْعُلَمَاءِ، وَفِيهَا حَلَقَاتُ التَّدْرِيسِ. عَلَى أَنَّ الْعُلَمَاءَ فِي
هَذَا الْعَهْدِ كَانُوا يُفْتُونَ فِي بُيُوتِهِمْ وَطُرُقِهِمْ.
18. Yang dimaksud dengan madrasah (sekolah
pemikiran) dalam pembahasan kita ini bukanlah sebagaimana yang kita
kenal sekarang, yaitu sebuah bangunan khusus atau tempat yang dipersiapkan
untuk kegiatan belajar.
Akan tetapi, yang dimaksud dengan madrasah adalah berpegang
pada suatu arah pemikiran tertentu dan metode yang khas, meskipun
secara umum masjid-masjid jami‘ merupakan tempat berkumpulnya para ulama dan di
dalamnya terdapat halaqah-halaqah pengajaran.
Selain itu, para ulama pada masa ini juga memberikan fatwa di rumah-rumah
mereka dan di jalan-jalan yang mereka lalui.
١٩ - وَمِمَّا
يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ أَكْثَرَ حَمَلَةِ الْعِلْمِ فِي هَذَا الْعَهْدِ
كَانُوا مِنْ الْمَوَالِي، فَفِي الْمَدِينَةِ كَانَ نَافِعٌ مَوْلَى عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، وَفِي مَكَّةَ كَانَ عِكْرِمَةُ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَبَّاسٍ، وَفِي الْكُوفَةِ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ مَوْلَى بَنِي وَالِبَةَ، وَفِي
الْبَصْرَةِ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَابْنُ سِيرِينَ، وَفِي الشَّامِ مَكْحُول
بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ أُسْتَاذُ الأَْوْزَاعِيِّ، وَفِي مِصْرَ يَزِيدُ بْنُ
أَبِي حَبِيبٍ وَهُوَ أُسْتَاذُ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ إِمَامِ أَهْل مِصْرَ. . .
وَكَثِيرٌ غَيْرُ هَؤُلاَءِ مِنْ الْمَوَالِي.
19. Di antara hal yang perlu diketahui adalah bahwa kebanyakan
pembawa ilmu pada masa ini berasal dari kalangan mawali (orang-orang
yang berstatus sebagai maula).
Di Madinah, terdapat Nafi‘, maula Abdullah
bin Umar. Di Makkah, terdapat ‘Ikrimah, maula
Abdullah bin Abbas. Di Kufah, terdapat Sa‘id bin
Jubair, maula Bani Walibah. Di Basrah, terdapat al-Hasan
al-Bashri dan Ibnu Sirin.
Di Syam, terdapat Mak-hul bin Abdullah,
yang merupakan guru al-Auza‘i. Sedangkan di Mesir,
terdapat Yazid bin Abi Habib, yang merupakan guru al-Laits
bin Sa‘d, imam penduduk Mesir.
Dan masih banyak lagi ulama dari kalangan mawali selain
mereka.
وَكَانَ هُنَاكَ عَرَبٌ
خُلَّصٌ تَفَرَّغُوا لِلْعِلْمِ فِي هَذَا الْعَهْدِ كَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ
وَعَامِرٍ الشَّعْبِيِّ وَعَلْقَمَةَ بْنِ قَيْسٍ النَّخَعِيِّ.
Pada masa itu juga terdapat orang-orang Arab asli yang mengabdikan diri
sepenuhnya untuk menuntut dan mengembangkan ilmu, seperti Sa‘id bin
al-Musayyib, ‘Amir asy-Sya‘bi, dan ‘Alqamah
bin Qais an-Nakha‘i.
وَكَانَتِ الْغَلَبَةُ فِي
الْعِلْمِ فِي بَعْضِ الأَْمْصَارِ لِلْعَرَبِ، كَالْمَدِينَةِ وَالْكُوفَةِ،
وَفِي الْبَعْضِ الآْخَرِ لِلْمَوَالِي كَمَكَّةَ وَالْبَصْرَةِ، وَالشَّامِ
وَمِصْرَ، مَعَ اخْتِلاَطِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَأَخْذِ بَعْضِهِمْ عَنْ بَعْضٍ
مِنْ غَيْرِ غَضَاضَةٍ لأَِنَّ الإِْسْلاَمَ نَزَعَ مِنْ قُلُوبِهِمْ عَصَبِيَّةَ
الْجَاهِلِيَّةِ.
Dominasi keilmuan di beberapa wilayah berada di tangan orang-orang
Arab, seperti di Madinah dan Kufah. Sementara di
beberapa wilayah lainnya, dominasi keilmuan berada di tangan mawali,
seperti di Makkah, Basrah, Syam, dan Mesir.
Meskipun demikian, mereka saling berbaur dan sebagian dari mereka mengambil ilmu
dari sebagian yang lain tanpa merasa rendah atau hina. Hal itu karena Islam
telah mencabut fanatisme jahiliah dari hati mereka.
Baca juga:
Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Kedua : Masa Sahabat
Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Pertama: Masa Kenabian
Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Kebanyakan Orang Yang Berilmu Pada Tahapan (Tahapan Ketiga) Ini Berasal Dari Kalangan Mawali (Budak yang Telah Dimerdekakan)
الطَّوْرُ
الثَّالِثُ: طَوْرُ التَّابِعِينَ
Tahapan
Ketiga: Masa Tabiin
١٦ - وَهَذَا
الطَّوْرُ امْتِدَادٌ لِعَهْدِ صِغَارِ الصَّحَابَةِ، وَقَدْ اشْتَرَكَ
أَكْثَرُهُمْ فِي حُرُوبِ الْفِتْنَةِ. وَلَكِنَّ هَذَا الْعَهْدَ تَمَيَّزَ
بِوُجُودِ مَدْرَسَتَيْنِ: إِحْدَاهُمَا بِالْحِجَازِ، وَالأُْخْرَى بِالْعِرَاقِ.
فَأَمَّا مَدْرَسَةُ الْحِجَازِ فَكَانَ اعْتِمَادُهَا فِي الاِجْتِهَادِ عَلَى
نُصُوصٍ مِنْ كِتَابٍ وَسُنَّةٍ، وَلاَ تَلْجَأُ إِلَى الأَْخْذِ بِالرَّأْيِ
إِلاَّ نَادِرًا، وَذَلِكَ لِوَفْرَةِ الْمُحَدِّثِينَ هُنَاكَ، إِذْ هُوَ
مَوْطِنُ الرِّسَالَةِ، وَفِيهِ نَشَأَ الْمُهَاجِرُونَ وَالأَْنْصَارُ،
وَسِلْسِلَةُ الرُّوَاةِ عِنْدَهُمْ قَصِيرَةٌ، إِذْ لاَ يَتَجَاوَزُ
التَّابِعِيُّ فِي تَحْدِيثِهِ عَنْ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَكْثَرَ مِنْ رَاوٍ وَاحِدٍ، وَهُوَ الصَّحَابِيُّ غَالِبًا. وَالصَّحَابَةُ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عُدُولٌ ثِقَاتٌ.
16. Fase ini merupakan kelanjutan dari masa para
sahabat yang lebih muda, dan sebagian besar dari mereka turut terlibat dalam peperangan
akibat fitnah. Namun, masa ini memiliki ciri khas dengan munculnya dua
madrasah (aliran pemikiran): satu berada di Hijaz,
dan yang lainnya di Irak.
Adapun Madrasah Hijaz, dalam berijtihad mereka berpegang
pada nash-nash dari Al-Qur’an dan Sunnah, dan hanya jarang
menggunakan pendapat (ra’yu). Hal itu disebabkan banyaknya para ahli
hadis di wilayah tersebut, karena Hijaz merupakan tempat lahirnya
risalah Islam, tempat kaum Muhajirin dan Ansar tumbuh dan berkembang.
Rantai periwayatan hadis di kalangan mereka juga relatif pendek. Sebab,
seorang tabi’in ketika meriwayatkan hadis dari Rasulullah ﷺ biasanya tidak melalui lebih dari satu perawi,
yaitu seorang sahabat.
Sedangkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah orang-orang yang
adil dan terpercaya.
وَكَانَتْ هَذِهِ
الْمَدْرَسَةُ بِالْمَدِينَةِ يَتَزَعَّمُهَا أَوَّلاً: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَمِنْ بَعْدِهِ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ
وَغَيْرُهُ مِنْ التَّابِعِينَ، وَأُخْرَى بِمَكَّةَ، وَكَانَ يَتَزَعَّمُهَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا تُرْجُمَانُ الْقُرْآنِ.
وَحَمَل الأَْمَانَةَ بَعْدَهُ تَلاَمِيذُهُ كَعِكْرِمَةَ مَوْلاَهُ وَابْنِ
جُرَيْجٍ.
Madrasah ini terdapat di Madinah dan pada awalnya dipimpin
oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Setelah beliau,
kepemimpinan keilmuan dilanjutkan oleh Sa‘id bin al-Musayyib
dan para tabi‘in lainnya.
Selain itu, terdapat pula madrasah di Makkah, yang dipimpin
oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang dikenal
sebagai Turjuman al-Qur’an (penerjemah dan penafsir Al-Qur’an).
Setelah beliau, amanah keilmuan tersebut diteruskan oleh murid-muridnya,
seperti ‘Ikrimah, maula beliau, dan Ibnu Juraij.
أَمَّا الْمَدْرَسَةُ
الأُْخْرَى - وَهِيَ مَدْرَسَةُ الْعِرَاقِ - فَكَانَتْ تَلْجَأُ إِلَى الرَّأْيِ
كَثِيرًا. وَالرَّأْيُ عِنْدَهُمْ يَرْجِعُ إِمَّا إِلَى الْقِيَاسِ
الأُْصُولِيِّ، وَهُوَ إِلْحَاقُ مَسْأَلَةٍ لاَ نَصَّ فِيهَا بِمَسْأَلَةٍ فِيهَا
نَصٌّ شَرْعِيٌّ، لِعِلَّةٍ جَامِعَةٍ بَيْنَهُمَا، وَإِمَّا رَدُّ الْمَسَائِل
الْمُسْتَحْدَثَةِ إِلَى قَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ الْعَامَّةِ؛ لأَِنَّ أَسَاتِذَةَ
هَذِهِ الْمَدْرَسَةِ شَدَّدُوا فِي الرِّوَايَةِ، نَظَرًا لأَِنَّ الْعِرَاقَ
كَانَ يَوْمَئِذٍ مَوْطِنَ الْفِتَنِ، فَفِيهِ الشُّعُوبِيُّونَ الَّذِينَ
يُكِنُّونَ الْعَدَاءَ لِلإِْسْلاَمِ، وَلَكِنَّهُمْ يُعَبِّرُونَ عَنْ ذَلِكَ
بِكَرَاهِيَتِهِمْ لِلْعَرَبِ، وَمِنْهُمْ الْمَلاَحِدَةُ الَّذِينَ لاَ
يَفْتَئُونَ يُثِيرُونَ الشُّبُهَاتِ، وَمِنْهُمْ غُلاَةُ الرَّافِضَةِ الَّذِينَ
بَالَغُوا فِي حُبِّ عَلِيٍّ حَتَّى جَعَلُوهُ إِلَهًا أَوْ شِبْهَ إِلَهٍ،
وَمِنْهُمْ الْخَوَارِجُ الَّذِينَ يَكْرَهُونَ عَلِيًّا وَشِيعَتَهُ، بَل
وَيَسْتَبِيحُونَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِينَ الَّذِينَ عَلَى غَيْرِ نِحْلَتِهِمْ،
وَمِنْهُمْ وَمِنْهُمْ. . . فَكَانَ الْفُقَهَاءُ الَّذِينَ يُعْتَدُّ بِهِمْ
يَتَحَرَّوْنَ فِي الرِّوَايَةِ، وَيُدَقِّقُونَ فِيهَا، وَيَضَعُونَ شُرُوطًا
لَمْ يَلْتَزِمْهَا أَهْل الْحِجَازِ.
Adapun madrasah yang lain—yaitu Madrasah Irak—lebih banyak
menggunakan ra’yu (pendapat/penalaran). Ra’yu menurut mereka
kembali kepada dua hal.
Pertama, qiyas usuli, yaitu mengqiyaskan suatu persoalan
yang tidak memiliki nash kepada persoalan yang memiliki nash syar‘i karena
adanya ‘illah (alasan hukum) yang sama di antara keduanya.
Kedua, mengembalikan persoalan-persoalan baru kepada kaidah-kaidah
umum syariat.
Hal itu karena para guru dari madrasah ini sangat ketat dalam menerima
riwayat, mengingat Irak pada masa itu merupakan pusat berbagai fitnah.
Di sana terdapat kaum Syu‘ubiyyun yang menyimpan permusuhan terhadap
Islam, tetapi mereka mengungkapkannya melalui kebencian terhadap bangsa Arab.
Di antara mereka juga terdapat kaum mulhid yang tidak
henti-hentinya menimbulkan berbagai kerancuan dan syubhat. Ada pula kaum
Rafidhah yang ekstrem, yang berlebihan dalam mencintai Ali hingga
menjadikannya sebagai tuhan atau menyerupai tuhan. Ada pula kaum
Khawarij yang membenci Ali dan para pengikutnya, bahkan menganggap
halal darah kaum Muslimin yang tidak mengikuti keyakinan mereka.
Dan masih banyak lagi kelompok lainnya...
Karena keadaan tersebut, para fuqaha yang memiliki otoritas keilmuan sangat
berhati-hati dalam menerima riwayat, menelitinya secara mendalam, dan
menetapkan berbagai persyaratan dalam penerimaan riwayat yang tidak
diberlakukan oleh para ulama Hijaz.
وَذَلِكَ أَنَّهُمْ
اعْتَبَرُوا عَمَل الصَّحَابِيِّ أَوِ التَّابِعِيِّ بِغَيْرِ مَا رَوَى قَدْحًا
فِي رِوَايَتِهِ. فَيَحْمِلُونَ هَذِهِ الرِّوَايَةَ عَلَى أَنَّهَا مَنْسُوخَةٌ
أَوْ مُؤَوَّلَةٌ. وَكَذَلِكَ يَعْتَبِرُونَ أَنَّ انْفِرَادَ الثِّقَةِ بِرِوَايَةٍ
فِي مَسْأَلَةٍ تَعُمُّ بِهَا الْبَلْوَى قَدْحٌ فِي رِوَايَتِهِ، وَيَحْمِلُونَ
هَذِهِ الرِّوَايَةَ عَلَى أَنَّهَا إِمَّا مَنْسُوخَةٌ أَوْ خَطَأٌ مِنْ
الرَّاوِي عَنْ غَيْرِ قَصْدٍ؛ لأَِنَّهُمْ كَانُوا يَتَحَاشَوْنَ وَصْفَ
الثِّقَاتِ بِتَعَمُّدِ الْكَذِبِ، فَالْعَدْل قَدْ يَنْسَى أَوْ يُخْطِئُ.
Hal itu karena mereka menganggap bahwa tindakan seorang sahabat atau
tabi‘in yang tidak sesuai dengan apa yang diriwayatkannya merupakan suatu cela
terhadap riwayatnya. Oleh karena itu, mereka memahami riwayat tersebut
sebagai riwayat yang telah mansukh (dihapus hukumnya) atau ditakwilkan.
Demikian pula, mereka menganggap bahwa seorang perawi tsiqah yang
meriwayatkan sendirian suatu hadis mengenai persoalan yang sering terjadi dan
diketahui secara luas oleh masyarakat merupakan suatu cela terhadap
riwayatnya. Mereka memahami riwayat tersebut sebagai sesuatu yang telah
mansukh, atau sebagai kesalahan perawi yang terjadi tanpa
disengaja.
Hal itu karena mereka menghindari menuduh para perawi yang terpercaya telah sengaja
berdusta. Sebab, orang yang adil dan terpercaya pun dapat lupa
atau melakukan kesalahan.
وَمِنْ هُنَا كَثُرَ
اعْتِمَادُ فُقَهَاءِ هَذِهِ الْمَدْرَسَةِ عَلَى الأَْخْذِ بِالرَّأْيِ فِيمَا
يَجِدُّ لَهُمْ مِنْ أَحْدَاثٍ، اللَّهُمَّ إِلاَّ إِذَا ثَبَتَتْ عِنْدَهُمْ
سُنَّةٌ لاَ شَكَّ فِيهَا، أَوْ كَانَ احْتِمَال الْخَطَأِ فِيهَا احْتِمَالاً
ضَعِيفًا.
Dari sinilah para fuqaha Madrasah Irak lebih banyak mengandalkan
ra’yu (pendapat/penalaran) dalam menghadapi berbagai persoalan baru
yang muncul.
Hal itu berlaku kecuali apabila telah terbukti bagi mereka adanya
Sunnah yang tidak diragukan lagi keabsahannya, atau kemungkinan
terjadinya kesalahan dalam riwayat tersebut sangat kecil.
وَكَانَ زَعِيمُ هَذِهِ
الْمَدْرَسَةِ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. ثُمَّ جَاءَ
مِنْ بَعْدِهِ تَلاَمِيذُهُ، وَأَشْهَرُهُمْ عَلْقَمَةُ النَّخَعِيُّ، ثُمَّ مِنْ
بَعْدِهِ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ، وَعَلَيْهِ تَخَرَّجَ أَئِمَّةُ هَذَا
الْمَذْهَبِ.
Pemimpin madrasah (mazhab pemikiran) ini adalah ‘Abdullah bin Mas‘ud
radhiyallahu ‘anhu. Kemudian setelah beliau datang murid-muridnya,
yang paling terkenal di antara mereka adalah ‘Alqamah an-Nakha‘i.
Setelah itu dilanjutkan oleh Ibrahim an-Nakha‘i, dan dari
beliaulah para imam mazhab ini menimba ilmu dan berkembang.
١٧ - لَيْسَ مَعْنَى أَنَّ
مَدْرَسَةَ الْحِجَازِ كَانَتْ مَدْرَسَةَ الْحَدِيثِ وَالأَْثَرِ أَنَّهُ لَمْ
يَكُنْ مِنْ بَيْنِ فُقَهَائِهَا مَنْ يَعْتَمِدُ عَلَى الرَّأْيِ فِي كَثِيرٍ
مِنْ اسْتِنْبَاطَاتِهِ، فَقَدْ عُرِفَ فِي هَذَا الْعَهْدِ مِنْ الْحِجَازِيِّينَ
رَبِيعَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، الْمَشْهُورُ بِرَبِيعَةَ الرَّأْيِ، وَهُوَ
شَيْخُ الإِْمَامِ مَالِكٍ. كَمَا كَانَ فِي الْعِرَاقِ مَنْ يَكْرَهُ الأَْخْذَ
بِالرَّأْيِ كَعَامِرِ بْنِ شَرَاحِيل الْمَشْهُورِ بِالشَّعْبِيِّ.
17. Tidak berarti bahwa Madrasah
Hijaz merupakan madrasah yang berpegang pada hadis dan atsar, bahwa di
antara para fuqahanya tidak ada yang menggunakan ra’yu (pendapat atau
penalaran) dalam banyak proses istinbatnya.
Pada masa ini, di kalangan ulama Hijaz dikenal Rabi‘ah bin
‘Abdurrahman, yang masyhur dengan sebutan Rabi‘ah ar-Ra’yi.
Ia adalah guru Imam Malik.
Demikian pula di Irak terdapat ulama yang tidak menyukai penggunaan ra’yu,
seperti ‘Amir bin Syurahbil, yang lebih dikenal dengan nama asy-Sya‘bi.
١٨ - لَيْسَ
مَعْنَى الْمَدْرَسَةِ فِي كَلاَمِنَا هَذَا مَا هُوَ مَعْرُوفٌ عِنْدَنَا مِنْ
مَبْنًى خَاصٍّ، أَوْ مَكَانٍ أُعِدَّ لِلدِّرَاسَةِ، بَل الْمُرَادُ
بِالْمَدْرَسَةِ الْتِزَامُ اتِّجَاهٍ خَاصٍّ وَمَنْهَجٍ مُتَمَيِّزٍ، وَإِنْ
كَانَتِ الْمَسَاجِدُ الْجَامِعَةُ فِي الْجُمْلَةِ هِيَ مَكَانُ تَجَمُّعِ
الْعُلَمَاءِ، وَفِيهَا حَلَقَاتُ التَّدْرِيسِ. عَلَى أَنَّ الْعُلَمَاءَ فِي
هَذَا الْعَهْدِ كَانُوا يُفْتُونَ فِي بُيُوتِهِمْ وَطُرُقِهِمْ.
18. Yang dimaksud dengan madrasah (sekolah
pemikiran) dalam pembahasan kita ini bukanlah sebagaimana yang kita
kenal sekarang, yaitu sebuah bangunan khusus atau tempat yang dipersiapkan
untuk kegiatan belajar.
Akan tetapi, yang dimaksud dengan madrasah adalah berpegang
pada suatu arah pemikiran tertentu dan metode yang khas, meskipun
secara umum masjid-masjid jami‘ merupakan tempat berkumpulnya para ulama dan di
dalamnya terdapat halaqah-halaqah pengajaran.
Selain itu, para ulama pada masa ini juga memberikan fatwa di rumah-rumah
mereka dan di jalan-jalan yang mereka lalui.
١٩ - وَمِمَّا
يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ أَكْثَرَ حَمَلَةِ الْعِلْمِ فِي هَذَا الْعَهْدِ
كَانُوا مِنْ الْمَوَالِي، فَفِي الْمَدِينَةِ كَانَ نَافِعٌ مَوْلَى عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، وَفِي مَكَّةَ كَانَ عِكْرِمَةُ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَبَّاسٍ، وَفِي الْكُوفَةِ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ مَوْلَى بَنِي وَالِبَةَ، وَفِي
الْبَصْرَةِ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَابْنُ سِيرِينَ، وَفِي الشَّامِ مَكْحُول
بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَهُوَ أُسْتَاذُ الأَْوْزَاعِيِّ، وَفِي مِصْرَ يَزِيدُ بْنُ
أَبِي حَبِيبٍ وَهُوَ أُسْتَاذُ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ إِمَامِ أَهْل مِصْرَ. . .
وَكَثِيرٌ غَيْرُ هَؤُلاَءِ مِنْ الْمَوَالِي.
19. Di antara hal yang perlu diketahui adalah bahwa kebanyakan
pembawa ilmu pada masa ini berasal dari kalangan mawali (orang-orang
yang berstatus sebagai maula).
Di Madinah, terdapat Nafi‘, maula Abdullah
bin Umar. Di Makkah, terdapat ‘Ikrimah, maula
Abdullah bin Abbas. Di Kufah, terdapat Sa‘id bin
Jubair, maula Bani Walibah. Di Basrah, terdapat al-Hasan
al-Bashri dan Ibnu Sirin.
Di Syam, terdapat Mak-hul bin Abdullah,
yang merupakan guru al-Auza‘i. Sedangkan di Mesir,
terdapat Yazid bin Abi Habib, yang merupakan guru al-Laits
bin Sa‘d, imam penduduk Mesir.
Dan masih banyak lagi ulama dari kalangan mawali selain
mereka.
وَكَانَ هُنَاكَ عَرَبٌ
خُلَّصٌ تَفَرَّغُوا لِلْعِلْمِ فِي هَذَا الْعَهْدِ كَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ
وَعَامِرٍ الشَّعْبِيِّ وَعَلْقَمَةَ بْنِ قَيْسٍ النَّخَعِيِّ.
Pada masa itu juga terdapat orang-orang Arab asli yang mengabdikan diri
sepenuhnya untuk menuntut dan mengembangkan ilmu, seperti Sa‘id bin
al-Musayyib, ‘Amir asy-Sya‘bi, dan ‘Alqamah
bin Qais an-Nakha‘i.
وَكَانَتِ الْغَلَبَةُ فِي
الْعِلْمِ فِي بَعْضِ الأَْمْصَارِ لِلْعَرَبِ، كَالْمَدِينَةِ وَالْكُوفَةِ،
وَفِي الْبَعْضِ الآْخَرِ لِلْمَوَالِي كَمَكَّةَ وَالْبَصْرَةِ، وَالشَّامِ
وَمِصْرَ، مَعَ اخْتِلاَطِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، وَأَخْذِ بَعْضِهِمْ عَنْ بَعْضٍ
مِنْ غَيْرِ غَضَاضَةٍ لأَِنَّ الإِْسْلاَمَ نَزَعَ مِنْ قُلُوبِهِمْ عَصَبِيَّةَ
الْجَاهِلِيَّةِ.
Dominasi keilmuan di beberapa wilayah berada di tangan orang-orang
Arab, seperti di Madinah dan Kufah. Sementara di
beberapa wilayah lainnya, dominasi keilmuan berada di tangan mawali,
seperti di Makkah, Basrah, Syam, dan Mesir.
Meskipun demikian, mereka saling berbaur dan sebagian dari mereka mengambil ilmu
dari sebagian yang lain tanpa merasa rendah atau hina. Hal itu karena Islam
telah mencabut fanatisme jahiliah dari hati mereka.
Baca juga:
Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Kedua : Masa Sahabat
Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Pertama: Masa Kenabian
Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Kebanyakan Orang Yang Berilmu Pada Tahapan (Tahapan Ketiga) Ini Berasal Dari Kalangan Mawali (Budak yang Telah Dimerdekakan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar