Pendahuluan
Salah satu pembahasan yang paling
dikenal dalam literatur ilmu firqah adalah hadis tentang umat Islam yang akan
terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Hadis tersebut menjadi dasar bagi
banyak ulama klasik ketika mengklasifikasikan berbagai kelompok yang muncul
dalam sejarah Islam. Di antara karya yang membahasnya secara sistematis adalah At-Tabṣīr
fī ad-Dīn karya Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini.
Pada bab kedua kitabnya, Imam
Al-Isfarayini mulai menjelaskan pembagian golongan-golongan tersebut secara
global sebelum menguraikan masing-masing kelompok secara terperinci pada
bab-bab berikutnya. Uraian ini merupakan klasifikasi menurut perspektif Ahlus
Sunnah wal Jamaah yang berkembang pada masa penulis dan perlu dipahami dalam
konteks sejarah ilmu kalam klasik.
Sumber
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Tema
Pembagian Tujuh Puluh Tiga Golongan
dalam Islam Menurut Imam Al-Isfarayini
Terjemahan
Bab
Kedua
Tentang Penjelasan Pembagian
Golongan-Golongan Umat Islam Secara Umum
Ketahuilah bahwa Allah telah
mewujudkan pada umat ini apa yang telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ mengenai perpecahan umat Islam menjadi
tujuh puluh tiga golongan.
Satu golongan di antaranya adalah
golongan yang selamat, sedangkan yang lainnya berjumlah tujuh puluh dua
golongan.
Adapun tujuh puluh dua golongan
tersebut, maka dua puluh golongan di antaranya adalah kelompok Rafidhah.
Di antara mereka terdapat kelompok
Zaidiyah, yang terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
- Jarudiyah,
- Sulaimaniyah,
- Abtriyah.
Dan di antara mereka juga terdapat
kelompok Kaisaniyah, yang terbagi menjadi dua golongan, sebagaimana akan kami
jelaskan pada pembahasan berikutnya.
Artikel Pengembangan
Pada awal bab kedua ini, Imam
Al-Isfarayini mulai menyusun klasifikasi berbagai kelompok yang menurut beliau
termasuk dalam pembahasan hadis tentang tujuh puluh tiga golongan.
Berbeda dengan bab pertama yang berisi sejarah munculnya berbagai perselisihan,
bab ini langsung membahas pembagian kelompok-kelompok tersebut secara
sistematis.
Imam Al-Isfarayini membuka
pembahasan dengan menyatakan bahwa perpecahan umat Islam merupakan sesuatu yang
telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ.
Berdasarkan hadis tersebut, beliau menyebut adanya satu golongan yang selamat
dan tujuh puluh dua golongan lainnya. Selanjutnya beliau mulai menghitung
kelompok-kelompok tersebut satu demi satu hingga mencapai jumlah yang
disebutkan dalam hadis menurut metode klasifikasi yang beliau gunakan.
Bagian pertama yang beliau jelaskan
adalah Rafidhah, yang menurut perhitungan beliau terdiri atas dua puluh
kelompok. Sebagai pengantar, beliau menyebut beberapa cabang utama, yaitu Zaidiyah
dan Kaisaniyah. Dalam kitab ini, pembahasan mengenai masing-masing
cabang belum dijelaskan secara rinci karena akan diuraikan pada bab-bab
berikutnya.
Penting dipahami bahwa klasifikasi
seperti ini merupakan ciri khas literatur ilmu al-firaq pada abad
pertengahan Islam. Para ulama memiliki metode yang berbeda dalam menghitung
jumlah kelompok maupun dalam menggolongkan cabang-cabang suatu aliran. Oleh
karena itu, karya-karya seperti milik Imam Al-Isfarayini, Al-Baghdadi,
Asy-Syahrastani, maupun ulama lainnya terkadang memiliki rincian yang tidak
sepenuhnya sama. Hal ini menunjukkan adanya variasi metodologi dalam penulisan
sejarah aliran-aliran Islam.
Selain itu, istilah-istilah seperti Jarudiyah,
Sulaimaniyah, Abtriyah, dan Kaisaniyah merupakan nama-nama
kelompok yang muncul dalam literatur sejarah dan ilmu kalam klasik. Pembahasan
terhadap keyakinan masing-masing kelompok memerlukan penjelasan yang lebih
rinci agar tidak terjadi penyederhanaan terhadap sejarah yang kompleks. Karena
itu, Imam Al-Isfarayini memilih menyebutnya secara global terlebih dahulu
sebelum menguraikan ajaran masing-masing pada bagian berikutnya.
Hikmah
- Hadis tentang perpecahan umat menjadi landasan penting
dalam pembahasan ilmu firqah di kalangan ulama klasik.
- Mempelajari sejarah berbagai kelompok membantu memahami
perkembangan pemikiran dalam Islam dari masa ke masa.
- Klasifikasi firqah dalam kitab-kitab klasik merupakan
hasil ijtihad ilmiah para ulama sesuai metode yang mereka gunakan.
- Membaca literatur klasik perlu disertai pemahaman
terhadap konteks sejarah dan tujuan penulisnya.
- Pengetahuan tentang sejarah aliran-aliran Islam dapat
memperluas wawasan sekaligus mendorong sikap lebih bijak dalam menyikapi
perbedaan.
- Kajian terhadap karya ulama terdahulu hendaknya
dilakukan dengan adab, ketelitian, dan semangat mencari ilmu.
Penutup
Melalui awal bab kedua ini, Imam
Al-Isfarayini mulai menguraikan pembagian golongan-golongan umat Islam
berdasarkan klasifikasi yang beliau susun dari perspektif Ahlus Sunnah wal
Jamaah. Pembahasan ini menjadi fondasi bagi uraian yang lebih rinci mengenai
masing-masing kelompok pada bab-bab selanjutnya. Dengan memahami struktur
pembagian tersebut, pembaca akan lebih mudah mengikuti penjelasan Imam
Al-Isfarayini mengenai sejarah, keyakinan, dan karakteristik setiap kelompok
yang dibahas dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn.
Teks Arab :
الْبَاب الثَّانِي فِي بَيَان فرق الْأمة على الْجُمْلَة
اعْلَم أَن الله حقق فِي افْتِرَاق هَذِه الْأمة مَا
أخبر بِهِ الرَّسُول ﷺ من افْتِرَاق هَذِه الْأمة إِلَى ثَلَاث وَسبعين فرقة
وَاحِدَة مِنْهَا نَاجِية وَالْبَاقُونَ فِي النَّار فَأَما الاثنتان
وَالسَّبْعُونَ فعشرون مِنْهُم الروافض من جُمْلَتهمْ الزيديون وهم ثَلَاث فرق
الجارودية والسليمانية والأبترية وَمن جُمْلَتهمْ الكيسانية وهم فرقتان كَمَا
نبينه فِيمَا بعد
Baca juga:
15 Kelompok Imamiyah Menurut Imam Al-Isfarayini:
Klasifikasi Rafidhah dalam Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn
Pendahuluan
Salah satu pembahasan yang paling
dikenal dalam literatur ilmu firqah adalah hadis tentang umat Islam yang akan
terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Hadis tersebut menjadi dasar bagi
banyak ulama klasik ketika mengklasifikasikan berbagai kelompok yang muncul
dalam sejarah Islam. Di antara karya yang membahasnya secara sistematis adalah At-Tabṣīr
fī ad-Dīn karya Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini.
Pada bab kedua kitabnya, Imam
Al-Isfarayini mulai menjelaskan pembagian golongan-golongan tersebut secara
global sebelum menguraikan masing-masing kelompok secara terperinci pada
bab-bab berikutnya. Uraian ini merupakan klasifikasi menurut perspektif Ahlus
Sunnah wal Jamaah yang berkembang pada masa penulis dan perlu dipahami dalam
konteks sejarah ilmu kalam klasik.
Sumber
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Tema
Pembagian Tujuh Puluh Tiga Golongan
dalam Islam Menurut Imam Al-Isfarayini
Terjemahan
Bab
Kedua
Tentang Penjelasan Pembagian
Golongan-Golongan Umat Islam Secara Umum
Ketahuilah bahwa Allah telah
mewujudkan pada umat ini apa yang telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ mengenai perpecahan umat Islam menjadi
tujuh puluh tiga golongan.
Satu golongan di antaranya adalah
golongan yang selamat, sedangkan yang lainnya berjumlah tujuh puluh dua
golongan.
Adapun tujuh puluh dua golongan
tersebut, maka dua puluh golongan di antaranya adalah kelompok Rafidhah.
Di antara mereka terdapat kelompok
Zaidiyah, yang terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
- Jarudiyah,
- Sulaimaniyah,
- Abtriyah.
Dan di antara mereka juga terdapat
kelompok Kaisaniyah, yang terbagi menjadi dua golongan, sebagaimana akan kami
jelaskan pada pembahasan berikutnya.
Artikel Pengembangan
Pada awal bab kedua ini, Imam
Al-Isfarayini mulai menyusun klasifikasi berbagai kelompok yang menurut beliau
termasuk dalam pembahasan hadis tentang tujuh puluh tiga golongan.
Berbeda dengan bab pertama yang berisi sejarah munculnya berbagai perselisihan,
bab ini langsung membahas pembagian kelompok-kelompok tersebut secara
sistematis.
Imam Al-Isfarayini membuka
pembahasan dengan menyatakan bahwa perpecahan umat Islam merupakan sesuatu yang
telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ.
Berdasarkan hadis tersebut, beliau menyebut adanya satu golongan yang selamat
dan tujuh puluh dua golongan lainnya. Selanjutnya beliau mulai menghitung
kelompok-kelompok tersebut satu demi satu hingga mencapai jumlah yang
disebutkan dalam hadis menurut metode klasifikasi yang beliau gunakan.
Bagian pertama yang beliau jelaskan
adalah Rafidhah, yang menurut perhitungan beliau terdiri atas dua puluh
kelompok. Sebagai pengantar, beliau menyebut beberapa cabang utama, yaitu Zaidiyah
dan Kaisaniyah. Dalam kitab ini, pembahasan mengenai masing-masing
cabang belum dijelaskan secara rinci karena akan diuraikan pada bab-bab
berikutnya.
Penting dipahami bahwa klasifikasi
seperti ini merupakan ciri khas literatur ilmu al-firaq pada abad
pertengahan Islam. Para ulama memiliki metode yang berbeda dalam menghitung
jumlah kelompok maupun dalam menggolongkan cabang-cabang suatu aliran. Oleh
karena itu, karya-karya seperti milik Imam Al-Isfarayini, Al-Baghdadi,
Asy-Syahrastani, maupun ulama lainnya terkadang memiliki rincian yang tidak
sepenuhnya sama. Hal ini menunjukkan adanya variasi metodologi dalam penulisan
sejarah aliran-aliran Islam.
Selain itu, istilah-istilah seperti Jarudiyah,
Sulaimaniyah, Abtriyah, dan Kaisaniyah merupakan nama-nama
kelompok yang muncul dalam literatur sejarah dan ilmu kalam klasik. Pembahasan
terhadap keyakinan masing-masing kelompok memerlukan penjelasan yang lebih
rinci agar tidak terjadi penyederhanaan terhadap sejarah yang kompleks. Karena
itu, Imam Al-Isfarayini memilih menyebutnya secara global terlebih dahulu
sebelum menguraikan ajaran masing-masing pada bagian berikutnya.
Hikmah
- Hadis tentang perpecahan umat menjadi landasan penting
dalam pembahasan ilmu firqah di kalangan ulama klasik.
- Mempelajari sejarah berbagai kelompok membantu memahami
perkembangan pemikiran dalam Islam dari masa ke masa.
- Klasifikasi firqah dalam kitab-kitab klasik merupakan
hasil ijtihad ilmiah para ulama sesuai metode yang mereka gunakan.
- Membaca literatur klasik perlu disertai pemahaman
terhadap konteks sejarah dan tujuan penulisnya.
- Pengetahuan tentang sejarah aliran-aliran Islam dapat
memperluas wawasan sekaligus mendorong sikap lebih bijak dalam menyikapi
perbedaan.
- Kajian terhadap karya ulama terdahulu hendaknya
dilakukan dengan adab, ketelitian, dan semangat mencari ilmu.
Penutup
Melalui awal bab kedua ini, Imam
Al-Isfarayini mulai menguraikan pembagian golongan-golongan umat Islam
berdasarkan klasifikasi yang beliau susun dari perspektif Ahlus Sunnah wal
Jamaah. Pembahasan ini menjadi fondasi bagi uraian yang lebih rinci mengenai
masing-masing kelompok pada bab-bab selanjutnya. Dengan memahami struktur
pembagian tersebut, pembaca akan lebih mudah mengikuti penjelasan Imam
Al-Isfarayini mengenai sejarah, keyakinan, dan karakteristik setiap kelompok
yang dibahas dalam At-Tabṣīr fī ad-Dīn.
Teks Arab :
الْبَاب الثَّانِي فِي بَيَان فرق الْأمة على الْجُمْلَة
اعْلَم أَن الله حقق فِي افْتِرَاق هَذِه الْأمة مَا
أخبر بِهِ الرَّسُول ﷺ من افْتِرَاق هَذِه الْأمة إِلَى ثَلَاث وَسبعين فرقة
وَاحِدَة مِنْهَا نَاجِية وَالْبَاقُونَ فِي النَّار فَأَما الاثنتان
وَالسَّبْعُونَ فعشرون مِنْهُم الروافض من جُمْلَتهمْ الزيديون وهم ثَلَاث فرق
الجارودية والسليمانية والأبترية وَمن جُمْلَتهمْ الكيسانية وهم فرقتان كَمَا
نبينه فِيمَا بعد
Baca juga:
15 Kelompok Imamiyah Menurut Imam Al-Isfarayini:
Klasifikasi Rafidhah dalam Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Tidak ada komentar:
Posting Komentar