Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Kebanyakan Orang Yang Berilmu Pada Tahapan (Tahapan Ketiga) Ini Berasal Dari Kalangan Mawali (Budak yang Telah Dimerdekakan)

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ أَهْل الْعِلْمِ - فِي هَذَا الْعَهْدِ - كَانَ مِنْ الْمَوَالِي. وَلِهَذَا أَسْبَابٌ:

Namun, kebanyakan orang yang berilmu pada masa ini (tahapan ketiga) berasal dari kalangan mawali. Dan hal itu memiliki beberapa sebab:

أ - أَنَّ الْعَرَبَ كَانُوا - يَوْمَئِذٍ - حَمَلَةَ السَّيْفِ وَقَادَةَ الْجُيُوشِ؛ لأَِنَّهُمْ مَعْدِنُ الإِْسْلاَمِ، وَهُمْ عَلَيْهِ أَغْيَرُ، فَشَغَلَهُمْ ذَلِكَ عَنْ التَّفَرُّغِ لِلْعِلْمِ تَعْلِيمًا وَتَعَلُّمًا.

a. Pada masa itu, orang-orang Arab merupakan pembawa pedang dan pemimpin pasukan, karena mereka adalah sumber utama Islam dan paling kuat dalam menjaga serta membelanya. Kesibukan tersebut membuat mereka tidak banyak memiliki kesempatan untuk berkonsentrasi pada ilmu, baik untuk belajar maupun mengajarkannya.

ب - أَنَّ هَؤُلاَءِ الْمَوَالِيَ نَشَأُوا فِي بِيئَاتٍ لَهَا حَضَارَتُهَا وَثَقَافَتُهَا، وَأَرَادُوا أَنْ يُسْهِمُوا بِجُهُودِهِمْ فِي نُصْرَةِ هَذَا الدِّينِ الَّذِي اعْتَنَقُوهُ طَائِعِينَ مُخْتَارِينَ. وَلَمَّا لَمْ يَكُونُوا مِنْ أَهْل السَّيْفِ، فَلْيَنْصُرُوا هَذَا الدِّينَ بِالْقَلَمِ.

b. Bahwa para mawali tersebut tumbuh dalam lingkungan yang memiliki peradaban dan kebudayaan. Mereka ingin memberikan kontribusi melalui usaha dan kemampuan mereka untuk membela agama yang telah mereka peluk dengan penuh kerelaan dan pilihan sendiri.

Karena mereka bukan termasuk orang-orang yang terjun dalam medan peperangan dan mengangkat senjata, maka mereka membela agama ini dengan pena.

ج - حَرَصَ سَادَتُهُمْ مِنْ الصَّحَابَةِ عَلَى تَعْلِيمِهِمْ حَتَّى يَحْمِلُوا عَنْهُمْ أَمَانَةَ مَا حَمَلُوا مِنْ الْعِلْمِ، فَهَذَا نَافِعٌ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَلَّمَهُ وَهَذَّبَهُ وَأَخَذَ عَنْهُ وَعَنْ كَثِيرٍ مِنْ الصَّحَابَةِ كَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أُمِّ سَلَمَةَ، وَقَال فِيهِ ابْنُ عُمَرَ: لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا بِنَافِعٍ.

c. Para tuan mereka dari kalangan sahabat sangat bersemangat dalam mengajarkan ilmu kepada mereka, agar mereka dapat meneruskan amanah ilmu yang telah mereka terima dan mereka kuasai.

Sebagai contoh, Nafi‘, maula Abdullah bin Umar. Abdullah bin Umar mengajarinya, mendidiknya, dan mengambil ilmu darinya. Nafi‘ juga belajar dari banyak sahabat lainnya, seperti Abu Hurairah dan Ummul Mukminin Ummu Salamah.

Ibnu Umar pernah berkata tentang Nafi‘, “Sungguh, Allah telah menganugerahkan kepada kami Nafi‘.”

وَهَذَا عِكْرِمَةُ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ، وَقَدْ مَاتَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعِكْرِمَةُ عَلَى الرِّقِّ، فَبَاعَهُ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ لِخَالِدِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ مُعَاوِيَةَ بِأَرْبَعَةِ آلاَفِ دِينَارٍ، فَقَال عِكْرِمَةُ لِعَلِيٍّ: بِعْتَ عِلْمَ أُمَّتِكَ بِأَرْبَعَةِ آلاَفٍ، فَاسْتَقَال عَلِيٌّ خَالِدًا مِنْ بَيْعَتِهِ، فَأَقَالَهُ، فَأَعْتَقَهُ.

Ini adalah ‘Ikrimah, maula Ibnu Abbas. Ketika Ibnu Abbas wafat, ‘Ikrimah masih dalam status sebagai budak. Kemudian Ali bin Abdullah bin Abbas menjualnya kepada Khalid bin Yazid bin Mu‘awiyah dengan harga empat ribu dinar.

Lalu ‘Ikrimah berkata kepada Ali, “Engkau telah menjual ilmu umatmu dengan harga empat ribu dinar.”

Mendengar perkataan tersebut, Ali meminta kepada Khalid agar membatalkan jual beli itu. Khalid pun menyetujuinya, kemudian Ali memerdekakan ‘Ikrimah.

وَهَذَا الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ سَيِّدُ التَّابِعِينَ، نَشَأَ فِي بَيْتِ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ السَّيِّدَةِ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، وَحَسْبُكَ هَذَا فَضْلاً.

Ini adalah al-Hasan al-Bashri, pemimpin para tabi‘in. Ia tumbuh di rumah Ummul Mukminin, Sayyidah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Cukuplah hal ini sebagai keutamaan baginya.

د - إِنَّ هَؤُلاَءِ الْمَوَالِيَ لاَزَمُوا سَادَتَهُمْ مِنْ كِبَارِ الصَّحَابَةِ فِي حِلِّهِمْ وَتَرْحَالِهِمْ، فَكَانُوا أَعْرَفَ النَّاسِ بِسِرِّ هَؤُلاَءِ السَّادَةِ وَعَلاَنِيَتِهِمْ، فَنَقَلُوا ذَلِكَ لِلأُْمَّةِ.

d. Para mawali tersebut senantiasa mendampingi para tuan mereka dari kalangan sahabat senior, baik ketika mereka berada di tempat maupun dalam perjalanan. Karena itu, mereka menjadi orang-orang yang paling mengetahui keadaan para sahabat tersebut, baik yang tersembunyi maupun yang tampak, lalu mereka menyampaikan pengetahuan itu kepada umat.

٢٠ - يُعْتَبَرُ هَذَا الْعَهْدُ - فِي الْجُمْلَةِ - امْتِدَادًا لِعَهْدِ كِبَارِ الصَّحَابَةِ مِنْ حَيْثُ عَدَمُ تَدْوِينِ شَيْءٍ سِوَى الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ النَّزْرَ الْيَسِيرَ كَمَا تَقَدَّمَ، كَمَا لَمْ يُعْرَفْ عَنْ أَحَدٍ مِنْ فُقَهَاءِ هَذَا الْعَهْدِ أَنَّهُ بَنَى رَأْيًا عَلَى نَظَرِيَّةٍ قَانُونِيَّةٍ بَعِيدَةٍ عَنِ الْمَصَادِرِ الشَّرْعِيَّةِ الْمَعْرُوفَةِ، وَإِلاَّ فَلْيَدُلَّنَا هَؤُلاَءِ الْمُشَكِّكُونَ عَلَى مَسْأَلَةٍ وَاحِدَةٍ لَيْسَ لَهَا مَصْدَرٌ شَرْعِيٌّ، مِنَ الْمَسَائِل الَّتِي أُثِيرَتْ فِي هَذَا الْعَهْدِ.

20. Secara umum, masa ini dapat dianggap sebagai kelanjutan dari masa para sahabat senior, terutama dalam hal tidak adanya pembukuan selain Al-Qur’an, kecuali beberapa catatan yang jumlahnya sangat sedikit sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Demikian pula, tidak diketahui bahwa seorang pun dari para ahli fikih pada masa ini membangun suatu pendapat berdasarkan teori hukum yang jauh dari sumber-sumber syariat yang telah dikenal.

Jika memang ada, hendaklah para pihak yang meragukan hal tersebut menunjukkan kepada kita satu saja persoalan yang muncul pada masa ini yang tidak memiliki sumber syariat.

وَالْمَسَائِل الْمَبْنِيَّةُ عَلَى الأَْعْرَافِ خَاضِعَةٌ لِلْمِيزَانِ الشَّرْعِيِّ، فَإِنْ رَدَّ الإِْسْلاَمُ عُرْفًا مِنْهَا فَلاَ قِيمَةَ لَهُ، وَالأَْخْذُ بِهِ ضَلاَلَةٌ، وَإِنِ اعْتَبَرَهُ أُخِذَ بِهِ، لاَ عَلَى أَنَّهُ عُرْفٌ وَلَكِنْ عَلَى أَنَّهُ مُعْتَمِدٌ عَلَى النَّصِّ، وَإِنْ سَكَتَ عَنْهُ كَانَ الأَْخْذُ بِهِ أَوْ رَدُّهُ مَبْنِيًّا عَلَى الْمَصْلَحَةِ.

Adapun masalah-masalah yang dibangun berdasarkan adat kebiasaan, semuanya tunduk kepada tolok ukur syariat. Jika Islam menolak suatu adat kebiasaan, maka adat tersebut tidak memiliki nilai, dan mengikutinya merupakan kesesatan. Jika Islam mengakuinya, maka adat tersebut boleh dijadikan pegangan, bukan semata-mata karena ia merupakan adat, melainkan karena adat tersebut memiliki landasan pada dalil syariat.

Adapun jika syariat tidak memberikan ketetapan secara khusus terhadap adat tersebut, maka menerima atau menolaknya didasarkan pada kemaslahatan.

٢١ - وَبِالرَّغْمِ مِنْ أَنَّ هَذَا الْعَهْدَ كَانَتْ فِيهِ فِتَنٌ كُبْرَى إِلاَّ أَنَّ هَذِهِ الْفِتَنَ كَانَ تَأْثِيرُهَا يَكَادُ يَنْحَصِرُ فِي أَمْرِ الْخِلاَفَةِ وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ أَحْكَامٍ.

21. Meskipun pada masa ini terjadi berbagai fitnah besar, pengaruh fitnah-fitnah tersebut hampir terbatas pada persoalan khilafah (kepemimpinan) dan berbagai hukum yang berkaitan dengannya.

٢٢ - وَبِالرَّغْمِ مِنْ أَنَّ هَذَا الْعَهْدَ كَانَ مُعَاصِرًا لِعَهْدِ الأُْمَوِيِّينَ، وَالْخُلَفَاءُ فِي هَذِهِ الدَّوْلَةِ يَتَفَاوَتُونَ فِي سِيَاسَتِهِمْ بَيْنَ اللِّينِ وَالشِّدَّةِ وَالتَّوَسُّطِ بَيْنَهُمَا، إِلاَّ أَنَّ الْكُل كَانَ حَرِيصًا عَلَى أَلاَّ يَرْتَكِبَ كُفْرًا بَوَاحًا، وَمَنْ فَعَل مِنْهُمْ شَيْئًا قَرِيبًا مِنْ ذَلِكَ فَقَدْ جُوبِهَ بِالإِْنْكَارِ. وَكَانَ أَهْل الْفِقْهِ فِي هَذَا الْعَهْدِ يُرَاسِل بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَيُنَاظِرُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَيَنْزِل بَعْضُهُمْ عَلَى رَأْيِ بَعْضٍ، اتِّبَاعًا لِلْحَقِّ، فَإِنَّ هَذَا الْقَرْنَ قَدْ شَهِدَ لَهُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخَيْرِ، فَقَدْ صَحَّ عَنْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال: خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (١) . وَلاَ يَضُرُّ الأُْمَّةَ أَنْ يَشِذَّ مِنْهَا شَاذٌّ أَوْ يَخْرُجَ عَلَى صُفُوفِهَا خَارِجٌ، إِذَا كَانَتْ - فِي جُمْلَتِهَا - تَسِيرُ عَلَى الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ.

22. Meskipun masa ini berlangsung bersamaan dengan masa pemerintahan Bani Umayyah, dan para khalifah dalam pemerintahan tersebut berbeda-beda dalam kebijakan mereka, antara sikap lunak, keras, dan pertengahan di antara keduanya, namun semuanya berusaha untuk tidak melakukan kekufuran yang nyata (kufran bawāḥ). Siapa pun di antara mereka yang melakukan sesuatu yang mendekati hal tersebut, maka ia akan mendapat penolakan dan pengingkaran.

Pada masa ini, para ahli fikih saling berkirim surat, saling berdiskusi dan berdebat, serta sebagian dari mereka menerima pendapat sebagian yang lain karena mengikuti kebenaran. Sebab, abad ini telah mendapatkan kesaksian kebaikan dari Rasulullah . Telah sahih dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka.”

Tidaklah membahayakan umat apabila ada seseorang yang menyimpang dari mereka atau seseorang yang keluar dari barisan mereka, selama secara keseluruhan umat tersebut tetap berjalan di jalan yang lurus.

Baca juga:

Tahapan-Tahapan yang DilaluiFikih Islam : Tahapan Ketiga : Masa Tabiin

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Kedua : Masa Sahabat

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Keempat: Masa Tabi‘in Junior dan Tabi‘ut Tabi‘in Senior

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ أَهْل الْعِلْمِ - فِي هَذَا الْعَهْدِ - كَانَ مِنْ الْمَوَالِي. وَلِهَذَا أَسْبَابٌ:

Namun, kebanyakan orang yang berilmu pada masa ini (tahapan ketiga) berasal dari kalangan mawali. Dan hal itu memiliki beberapa sebab:

أ - أَنَّ الْعَرَبَ كَانُوا - يَوْمَئِذٍ - حَمَلَةَ السَّيْفِ وَقَادَةَ الْجُيُوشِ؛ لأَِنَّهُمْ مَعْدِنُ الإِْسْلاَمِ، وَهُمْ عَلَيْهِ أَغْيَرُ، فَشَغَلَهُمْ ذَلِكَ عَنْ التَّفَرُّغِ لِلْعِلْمِ تَعْلِيمًا وَتَعَلُّمًا.

a. Pada masa itu, orang-orang Arab merupakan pembawa pedang dan pemimpin pasukan, karena mereka adalah sumber utama Islam dan paling kuat dalam menjaga serta membelanya. Kesibukan tersebut membuat mereka tidak banyak memiliki kesempatan untuk berkonsentrasi pada ilmu, baik untuk belajar maupun mengajarkannya.

ب - أَنَّ هَؤُلاَءِ الْمَوَالِيَ نَشَأُوا فِي بِيئَاتٍ لَهَا حَضَارَتُهَا وَثَقَافَتُهَا، وَأَرَادُوا أَنْ يُسْهِمُوا بِجُهُودِهِمْ فِي نُصْرَةِ هَذَا الدِّينِ الَّذِي اعْتَنَقُوهُ طَائِعِينَ مُخْتَارِينَ. وَلَمَّا لَمْ يَكُونُوا مِنْ أَهْل السَّيْفِ، فَلْيَنْصُرُوا هَذَا الدِّينَ بِالْقَلَمِ.

b. Bahwa para mawali tersebut tumbuh dalam lingkungan yang memiliki peradaban dan kebudayaan. Mereka ingin memberikan kontribusi melalui usaha dan kemampuan mereka untuk membela agama yang telah mereka peluk dengan penuh kerelaan dan pilihan sendiri.

Karena mereka bukan termasuk orang-orang yang terjun dalam medan peperangan dan mengangkat senjata, maka mereka membela agama ini dengan pena.

ج - حَرَصَ سَادَتُهُمْ مِنْ الصَّحَابَةِ عَلَى تَعْلِيمِهِمْ حَتَّى يَحْمِلُوا عَنْهُمْ أَمَانَةَ مَا حَمَلُوا مِنْ الْعِلْمِ، فَهَذَا نَافِعٌ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَلَّمَهُ وَهَذَّبَهُ وَأَخَذَ عَنْهُ وَعَنْ كَثِيرٍ مِنْ الصَّحَابَةِ كَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أُمِّ سَلَمَةَ، وَقَال فِيهِ ابْنُ عُمَرَ: لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا بِنَافِعٍ.

c. Para tuan mereka dari kalangan sahabat sangat bersemangat dalam mengajarkan ilmu kepada mereka, agar mereka dapat meneruskan amanah ilmu yang telah mereka terima dan mereka kuasai.

Sebagai contoh, Nafi‘, maula Abdullah bin Umar. Abdullah bin Umar mengajarinya, mendidiknya, dan mengambil ilmu darinya. Nafi‘ juga belajar dari banyak sahabat lainnya, seperti Abu Hurairah dan Ummul Mukminin Ummu Salamah.

Ibnu Umar pernah berkata tentang Nafi‘, “Sungguh, Allah telah menganugerahkan kepada kami Nafi‘.”

وَهَذَا عِكْرِمَةُ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ، وَقَدْ مَاتَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَعِكْرِمَةُ عَلَى الرِّقِّ، فَبَاعَهُ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ لِخَالِدِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ مُعَاوِيَةَ بِأَرْبَعَةِ آلاَفِ دِينَارٍ، فَقَال عِكْرِمَةُ لِعَلِيٍّ: بِعْتَ عِلْمَ أُمَّتِكَ بِأَرْبَعَةِ آلاَفٍ، فَاسْتَقَال عَلِيٌّ خَالِدًا مِنْ بَيْعَتِهِ، فَأَقَالَهُ، فَأَعْتَقَهُ.

Ini adalah ‘Ikrimah, maula Ibnu Abbas. Ketika Ibnu Abbas wafat, ‘Ikrimah masih dalam status sebagai budak. Kemudian Ali bin Abdullah bin Abbas menjualnya kepada Khalid bin Yazid bin Mu‘awiyah dengan harga empat ribu dinar.

Lalu ‘Ikrimah berkata kepada Ali, “Engkau telah menjual ilmu umatmu dengan harga empat ribu dinar.”

Mendengar perkataan tersebut, Ali meminta kepada Khalid agar membatalkan jual beli itu. Khalid pun menyetujuinya, kemudian Ali memerdekakan ‘Ikrimah.

وَهَذَا الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ سَيِّدُ التَّابِعِينَ، نَشَأَ فِي بَيْتِ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ السَّيِّدَةِ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، وَحَسْبُكَ هَذَا فَضْلاً.

Ini adalah al-Hasan al-Bashri, pemimpin para tabi‘in. Ia tumbuh di rumah Ummul Mukminin, Sayyidah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Cukuplah hal ini sebagai keutamaan baginya.

د - إِنَّ هَؤُلاَءِ الْمَوَالِيَ لاَزَمُوا سَادَتَهُمْ مِنْ كِبَارِ الصَّحَابَةِ فِي حِلِّهِمْ وَتَرْحَالِهِمْ، فَكَانُوا أَعْرَفَ النَّاسِ بِسِرِّ هَؤُلاَءِ السَّادَةِ وَعَلاَنِيَتِهِمْ، فَنَقَلُوا ذَلِكَ لِلأُْمَّةِ.

d. Para mawali tersebut senantiasa mendampingi para tuan mereka dari kalangan sahabat senior, baik ketika mereka berada di tempat maupun dalam perjalanan. Karena itu, mereka menjadi orang-orang yang paling mengetahui keadaan para sahabat tersebut, baik yang tersembunyi maupun yang tampak, lalu mereka menyampaikan pengetahuan itu kepada umat.

٢٠ - يُعْتَبَرُ هَذَا الْعَهْدُ - فِي الْجُمْلَةِ - امْتِدَادًا لِعَهْدِ كِبَارِ الصَّحَابَةِ مِنْ حَيْثُ عَدَمُ تَدْوِينِ شَيْءٍ سِوَى الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، اللَّهُمَّ إِلاَّ النَّزْرَ الْيَسِيرَ كَمَا تَقَدَّمَ، كَمَا لَمْ يُعْرَفْ عَنْ أَحَدٍ مِنْ فُقَهَاءِ هَذَا الْعَهْدِ أَنَّهُ بَنَى رَأْيًا عَلَى نَظَرِيَّةٍ قَانُونِيَّةٍ بَعِيدَةٍ عَنِ الْمَصَادِرِ الشَّرْعِيَّةِ الْمَعْرُوفَةِ، وَإِلاَّ فَلْيَدُلَّنَا هَؤُلاَءِ الْمُشَكِّكُونَ عَلَى مَسْأَلَةٍ وَاحِدَةٍ لَيْسَ لَهَا مَصْدَرٌ شَرْعِيٌّ، مِنَ الْمَسَائِل الَّتِي أُثِيرَتْ فِي هَذَا الْعَهْدِ.

20. Secara umum, masa ini dapat dianggap sebagai kelanjutan dari masa para sahabat senior, terutama dalam hal tidak adanya pembukuan selain Al-Qur’an, kecuali beberapa catatan yang jumlahnya sangat sedikit sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Demikian pula, tidak diketahui bahwa seorang pun dari para ahli fikih pada masa ini membangun suatu pendapat berdasarkan teori hukum yang jauh dari sumber-sumber syariat yang telah dikenal.

Jika memang ada, hendaklah para pihak yang meragukan hal tersebut menunjukkan kepada kita satu saja persoalan yang muncul pada masa ini yang tidak memiliki sumber syariat.

وَالْمَسَائِل الْمَبْنِيَّةُ عَلَى الأَْعْرَافِ خَاضِعَةٌ لِلْمِيزَانِ الشَّرْعِيِّ، فَإِنْ رَدَّ الإِْسْلاَمُ عُرْفًا مِنْهَا فَلاَ قِيمَةَ لَهُ، وَالأَْخْذُ بِهِ ضَلاَلَةٌ، وَإِنِ اعْتَبَرَهُ أُخِذَ بِهِ، لاَ عَلَى أَنَّهُ عُرْفٌ وَلَكِنْ عَلَى أَنَّهُ مُعْتَمِدٌ عَلَى النَّصِّ، وَإِنْ سَكَتَ عَنْهُ كَانَ الأَْخْذُ بِهِ أَوْ رَدُّهُ مَبْنِيًّا عَلَى الْمَصْلَحَةِ.

Adapun masalah-masalah yang dibangun berdasarkan adat kebiasaan, semuanya tunduk kepada tolok ukur syariat. Jika Islam menolak suatu adat kebiasaan, maka adat tersebut tidak memiliki nilai, dan mengikutinya merupakan kesesatan. Jika Islam mengakuinya, maka adat tersebut boleh dijadikan pegangan, bukan semata-mata karena ia merupakan adat, melainkan karena adat tersebut memiliki landasan pada dalil syariat.

Adapun jika syariat tidak memberikan ketetapan secara khusus terhadap adat tersebut, maka menerima atau menolaknya didasarkan pada kemaslahatan.

٢١ - وَبِالرَّغْمِ مِنْ أَنَّ هَذَا الْعَهْدَ كَانَتْ فِيهِ فِتَنٌ كُبْرَى إِلاَّ أَنَّ هَذِهِ الْفِتَنَ كَانَ تَأْثِيرُهَا يَكَادُ يَنْحَصِرُ فِي أَمْرِ الْخِلاَفَةِ وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ أَحْكَامٍ.

21. Meskipun pada masa ini terjadi berbagai fitnah besar, pengaruh fitnah-fitnah tersebut hampir terbatas pada persoalan khilafah (kepemimpinan) dan berbagai hukum yang berkaitan dengannya.

٢٢ - وَبِالرَّغْمِ مِنْ أَنَّ هَذَا الْعَهْدَ كَانَ مُعَاصِرًا لِعَهْدِ الأُْمَوِيِّينَ، وَالْخُلَفَاءُ فِي هَذِهِ الدَّوْلَةِ يَتَفَاوَتُونَ فِي سِيَاسَتِهِمْ بَيْنَ اللِّينِ وَالشِّدَّةِ وَالتَّوَسُّطِ بَيْنَهُمَا، إِلاَّ أَنَّ الْكُل كَانَ حَرِيصًا عَلَى أَلاَّ يَرْتَكِبَ كُفْرًا بَوَاحًا، وَمَنْ فَعَل مِنْهُمْ شَيْئًا قَرِيبًا مِنْ ذَلِكَ فَقَدْ جُوبِهَ بِالإِْنْكَارِ. وَكَانَ أَهْل الْفِقْهِ فِي هَذَا الْعَهْدِ يُرَاسِل بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَيُنَاظِرُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، وَيَنْزِل بَعْضُهُمْ عَلَى رَأْيِ بَعْضٍ، اتِّبَاعًا لِلْحَقِّ، فَإِنَّ هَذَا الْقَرْنَ قَدْ شَهِدَ لَهُ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخَيْرِ، فَقَدْ صَحَّ عَنْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال: خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (١) . وَلاَ يَضُرُّ الأُْمَّةَ أَنْ يَشِذَّ مِنْهَا شَاذٌّ أَوْ يَخْرُجَ عَلَى صُفُوفِهَا خَارِجٌ، إِذَا كَانَتْ - فِي جُمْلَتِهَا - تَسِيرُ عَلَى الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ.

22. Meskipun masa ini berlangsung bersamaan dengan masa pemerintahan Bani Umayyah, dan para khalifah dalam pemerintahan tersebut berbeda-beda dalam kebijakan mereka, antara sikap lunak, keras, dan pertengahan di antara keduanya, namun semuanya berusaha untuk tidak melakukan kekufuran yang nyata (kufran bawāḥ). Siapa pun di antara mereka yang melakukan sesuatu yang mendekati hal tersebut, maka ia akan mendapat penolakan dan pengingkaran.

Pada masa ini, para ahli fikih saling berkirim surat, saling berdiskusi dan berdebat, serta sebagian dari mereka menerima pendapat sebagian yang lain karena mengikuti kebenaran. Sebab, abad ini telah mendapatkan kesaksian kebaikan dari Rasulullah . Telah sahih dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka.”

Tidaklah membahayakan umat apabila ada seseorang yang menyimpang dari mereka atau seseorang yang keluar dari barisan mereka, selama secara keseluruhan umat tersebut tetap berjalan di jalan yang lurus.

Baca juga:

Tahapan-Tahapan yang DilaluiFikih Islam : Tahapan Ketiga : Masa Tabiin

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Kedua : Masa Sahabat

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Tahap Keempat: Masa Tabi‘in Junior dan Tabi‘ut Tabi‘in Senior

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Tahapan-Tahapan yang Dilalui Fikih Islam : Kebanyakan Orang Yang Berilmu Pada Tahapan (Tahapan Ketiga) Ini Berasal Dari Kalangan Mawali (Budak yang Telah Dimerdekakan)

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ أَهْل الْعِلْمِ - فِي هَذَا الْعَهْدِ - كَانَ مِنْ الْمَوَالِي. وَلِهَذَا أَسْبَابٌ : Namun, kebanyakan orang yang be...