الآية : 4 {وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ
إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ}
قوله تعالى : {وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا
أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ} قيل : المراد مؤمنو أهل الكتاب ،
كعبدالله بن سلام وفيه نزلت ، ونزلت الأولى في مؤمني العرب. وقيل : الآيتان جميعا في
المؤمنين ، وعليه فإعراب "الذين" خفض على العطف ، ويصح أن يكون رفعا على
الاستئناف أي وهم الذين. ومن جعلها في صنفين فإعراب "الذين" رفع بالابتداء
، وخبره "أولئك على هدى" ويحتمل الخفض عطفا.
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 4:
{وَالَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ
يُوقِنُونَ}
"Dan
orang-orang yang beriman kepada apa (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu
(Muhammad), dan kepada apa yang diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan
adanya akhirat." (QS. Al-Baqarah: 4)
Penjelasan tafsir:
Pada
firman-Nya: {وَالَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ}
"Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
apa yang diturunkan sebelummu",
ada dua pendapat:
- Pendapat pertama:
Yang dimaksud adalah orang-orang mukmin dari kalangan Ahli Kitab, seperti Abdullah bin Salam, dan ayat ini turun berkenaan dengannya.
Sedangkan ayat sebelumnya (الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ...) ditujukan kepada orang-orang Arab yang beriman. - Pendapat kedua:
Kedua ayat tersebut (ayat 3 dan 4) semuanya berbicara tentang seluruh orang-orang mukmin, tanpa membedakan Arab maupun Ahli Kitab.
Penjelasan
i‘rab (susunan nahwu):
- Menurut pendapat kedua, kata "الَّذِينَ" dibaca majrur (khafadh)
karena di-‘athaf-kan (disambungkan) kepada sifat sebelumnya.
- Bisa juga dibaca marfū‘ (rafa‘) sebagai kalimat
baru (isti’naf), maknanya: "Dan mereka itu adalah orang-orang
yang..."
Sedangkan menurut pendapat yang
membaginya menjadi dua golongan, maka:
- "الَّذِينَ" menjadi mubtada’ (subjek) dalam keadaan marfū‘,
- dan khabarnya adalah firman Allah: {أُولَئِكَ عَلَى هُدًى} (Mereka
itulah yang berada di atas petunjuk).
- Namun masih mungkin juga dibaca majrur, sebagai
athaf.
قوله تعالى : {بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ} يعني
القرآن "وما أنزل من قبلك" يعني الكتب السالفة ، بخلاف ما فعله اليهود والنصارى
حسب ما أخبر الله عنهم في قوله : { وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ
قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا} [البقرة : 91] الآية.
ويقال : لما نزلت هذه الآية : "الذين يؤمنون
بالغيب" قالت اليهود والنصارى : نحن آمنا بالغيب ، فلما قال : {وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ}
[البقرة : 3] قالوا : نحن نقيم الصلاة ، فلما قال {وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}
قالوا : نحن ننفق ونتصدق ، فلما قال : {وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ
وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ} نفروا من ذلك.
Firman Allah Ta'ala:
{بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ}
"Kepada apa yang diturunkan kepadamu"
maksudnya adalah Al-Qur'an.
{وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ}
"Dan apa yang diturunkan sebelummu"
maksudnya adalah kitab-kitab
terdahulu, seperti Taurat, Zabur, dan Injil.
Makna ayat ini adalah bahwa
orang-orang beriman membenarkan seluruh wahyu Allah, baik yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad
maupun kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya. Ini
berbeda dengan sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani,
sebagaimana Allah kabarkan tentang mereka dalam firman-Nya:
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا
أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا}
"Dan apabila dikatakan kepada mereka: Berimanlah kepada apa yang Allah
turunkan, mereka menjawab: Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada
kami." (QS. Al-Baqarah: 91)
Yakni, mereka hanya beriman kepada kitab yang diturunkan kepada mereka,
tetapi mengingkari wahyu yang datang sesudahnya, termasuk
Al-Qur'an.
Diriwayatkan pula:
Ketika turun ayat:
{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ}
"Orang-orang yang beriman kepada yang gaib,"
orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata:
"Kami juga beriman kepada yang gaib."
Ketika turun:
{وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ}
"Dan mereka mendirikan salat,"
mereka berkata:
"Kami juga mendirikan salat."
Ketika turun:
{وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}
"Dan dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka, mereka
infakkan,"
mereka berkata:
"Kami juga berinfak dan bersedekah."
Namun ketika turun firman Allah:
{وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ
إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ}
"Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
apa yang diturunkan sebelummu,"
mereka berpaling (menolak) dari hal itu, karena mereka tidak
mau beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, meskipun mereka mengaku beriman kepada kitab-kitab
sebelumnya.
وفي حديث أبي ذر قال قلت : يا رسول الله كم كتابا
أنزل الله ؟ قال : "مائة كتاب وأربعة كتب أنزل الله على شيث خمسين صحيفة وعلى
أخنوخ ثلاثين صحيفة وعلى إبراهيم عشر صحائف وأنزل على موسى قبل التوراة عشر صحائف وأنزل
التوراة والإنجيل والزبور والفرقان" . الحديث أخرجه الحسين الآجرّي وأبو حاتم
البستي.
Dalam hadis Abu Dharr
al-Ghifari disebutkan:
Aku (Abu Dzar) berkata:
"Wahai Rasulullah, berapa banyak kitab yang Allah turunkan?"
Beliau ﷺ menjawab:
"Seratus kitab dan empat kitab. Allah menurunkan kepada Seth lima puluh suhuf
(lembaran-lembaran wahyu), kepada Enoch
tiga puluh suhuf, kepada Abraham
sepuluh suhuf, dan kepada Moses
sebelum Taurat sepuluh suhuf. Kemudian Allah menurunkan Taurat, Injil, Zabur,
dan Al-Furqan (Al-Qur'an)."
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Husayn
al-Ajurri dan Abu Hatim al-Busti.
وهنا مسألة : إن قال قائل : كيف يمكن الإيمان
بجميعها مع تنافي أحكامها ؟ قيل له فيه جوابان : أحدهما - أن الإيمان بأن جميعها نزل
من عند الله ، وهو قول من أسقط التعبد بما تقدم من الشرائع. الثاني - أن الإيمان بما
لم ينسخ منها ، وهذا قول من أوجب التزام الشرائع المتقدمة ، على ما يأتي بيانه إن شاء
الله تعالى.
Di sini ada sebuah persoalan:
Jika ada yang bertanya:
"Bagaimana mungkin kita diperintahkan beriman kepada seluruh kitab
Allah, padahal hukum-hukum di dalam kitab-kitab itu ada yang berbeda bahkan
tampak bertentangan?"
Maka jawabannya ada dua:
Jawaban
pertama:
Kita beriman bahwa semua kitab itu
benar-benar turun dari sisi Allah.
Maksudnya, keimanan yang dituntut
adalah meyakini asal-usul seluruh kitab tersebut dari Allah, walaupun
syariat yang dibawanya berbeda-beda sesuai zaman dan umatnya masing-masing.
Ini adalah pendapat ulama yang
mengatakan bahwa syariat-syariat terdahulu tidak lagi menjadi beban hukum
(taklif) bagi umat ini, sehingga yang wajib hanyalah mengimani bahwa
kitab-kitab itu memang wahyu dari Allah, bukan mengamalkan hukum-hukumnya.
Jawaban
kedua:
Kita beriman kepada bagian-bagian
dari kitab-kitab terdahulu yang tidak dihapus (tidak dinasakh).
Maksudnya, jika ada ajaran dalam
syariat terdahulu yang tidak dibatalkan oleh syariat Nabi Muhammad,
maka ajaran itu tetap diimani dan bisa tetap diamalkan.
Ini adalah pendapat ulama yang
mewajibkan tetap berpegang pada syariat terdahulu, selama tidak ada
dalil yang menghapus atau menggantinya. Penjelasan rinci tentang hal ini akan
diterangkan kemudian, insya Allah.
قوله تعالى : {وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ}
أي وبالبعث والنشر هم عالمون. واليقين : العلم دون الشك ، يقال منه : يَقِنْتُ الأمر
"بالكسر" يقنا ، وأيقنت واستيقنت وتيقنت كله بمعنى ، وأنا على يقين منه.
وإنما صارت الياء واوا في قولك : موقن ، للضمة قبلها ، وإذا صغرته رددته إلى الأصل
فقلت مييقن والتصغير يرد الأشياء إلى أصولها وكذلك الجمع. وربما عبروا باليقين عن الظن
، ومنه قول علمائنا في اليمين اللغو : هو أن يحلف بالله على أمر يوقنه ثم يتبين له
أنه خلاف ذلك فلا شيء عليه ، قال الشاعر :
تحسّبَ هوّاسٌ وأيقن أنني ... بها مفتد من واحد لا أغامره
يقول : تشمم الأسد ناقتي ، يظن أنني مفتد بها
منه ، وأستحمي نفسي فأتركها له ولا أقتحم المهالك بمقاتلته فأما الظن بمعنى اليقين
فورد في التنزيل وهو في الشعر كثير ، وسيأتي.
والآخرة مشتقة من التأخر لتأخرها عنا وتأخرنا
عنها ، كما أن الدنيا مشتقة من الدنوّ ، على ما يأتي.
Firman Allah: {وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ}
"Dan terhadap akhirat mereka benar-benar yakin."
Maksudnya: mereka meyakini adanya
kebangkitan setelah mati, dikumpulkannya seluruh manusia (hari mahsyar), hisab,
surga, neraka, dan seluruh perkara akhirat dengan keyakinan yang pasti.
Penjelasan kata اليقين (yaqin):
Yaqin berarti ilmu/pengetahuan yang pasti tanpa keraguan sedikit pun.
Dalam bahasa Arab dikatakan:
- يَقِنْتُ الأمر =
aku mengetahui sesuatu dengan pasti.
- أيقنت =
aku meyakini.
- استيقنت =
aku benar-benar yakin.
- تيقنت =
aku memastikan dengan keyakinan.
Semuanya memiliki makna yang sama,
yaitu kepastian ilmu tanpa syak (ragu).
Adapun kata موقن (orang yang yakin), huruf ya’
berubah menjadi wau karena menyesuaikan harakat dhammah sebelumnya.
Tetapi ketika diperkecil (tashghir),
ia dikembalikan ke asal katanya.
Ini menunjukkan kaidah bahasa Arab
bahwa tashghir dan jamak sering mengembalikan kata kepada bentuk asalnya.
Terkadang kata yaqin dalam
bahasa Arab juga dipakai dengan makna dugaan kuat (zhann).
Contohnya dalam pembahasan ulama tentang sumpah laghw (sumpah yang tidak
disengaja): seseorang bersumpah atas sesuatu yang ia yakini benar,
lalu ternyata keliru, maka tidak ada kafarah atasnya.
Penyair juga berkata:
"Howwās
mengendus-endus dan mengira dengan yakin bahwa aku akan menebus diriku
darinya..."
Maksudnya: seekor singa mencium unta
miliknya, lalu menyangka kuat bahwa ia akan meninggalkan untanya untuk
menyelamatkan diri, bukan melawan singa tersebut.
Tentang kata الآخرة (akhirat):
Kata al-Ākhirah berasal dari akar kata yang berarti datang belakangan
/ akhir, karena akhirat datang sesudah kehidupan dunia, dan saat ini
kita masih berada sebelum mencapainya.
Sebagaimana kata الدنيا (dunia) berasal dari makna دنوّ dekat/rendah, karena dunia adalah kehidupan yang dekat dengan
manusia sekarang.
Maksud Tafsir Ayat 4
Dalam ayat ini Allah menjelaskan
salah satu sifat utama orang bertakwa, yaitu mereka memiliki keyakinan penuh
terhadap kehidupan akhirat. Bukan sekadar percaya secara lisan, tetapi iman
yang mantap, kokoh, dan bebas dari keraguan terhadap:
- kebangkitan setelah mati,
- dikumpulkannya manusia di padang mahsyar,
- perhitungan amal (hisab),
- balasan surga bagi yang taat,
- azab neraka bagi yang durhaka.
Keyakinan seperti inilah yang
membuat seorang mukmin serius beramal saleh dan menjauhi maksiat, karena
ia sadar bahwa semua amal akan dipertanggungjawabkan.
Kesimpulan Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 4
Ayat ke-4 surat Al-Qur'an
Al-Baqarah menjelaskan ciri orang bertakwa:
- Beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.
- Beriman kepada kitab-kitab Allah sebelumnya.
- Memiliki keyakinan yang teguh terhadap akhirat, tanpa keraguan sedikit pun.
Inti pesannya:
Keimanan yang sempurna mencakup iman kepada wahyu Allah dan keyakinan penuh
terhadap kehidupan akhirat, karena keyakinan itulah yang melahirkan
istiqamah dalam ibadah, kesungguhan dalam amal, dan kehati-hatian dalam hidup.
Sumber:
الكتاب : الجامع لأحكام القرآن
المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح
الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)
Baca juga:
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 5: Petunjuk Allah dan Keberuntungan
Sejati
الآية : 4 {وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ
إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ}
قوله تعالى : {وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا
أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ} قيل : المراد مؤمنو أهل الكتاب ،
كعبدالله بن سلام وفيه نزلت ، ونزلت الأولى في مؤمني العرب. وقيل : الآيتان جميعا في
المؤمنين ، وعليه فإعراب "الذين" خفض على العطف ، ويصح أن يكون رفعا على
الاستئناف أي وهم الذين. ومن جعلها في صنفين فإعراب "الذين" رفع بالابتداء
، وخبره "أولئك على هدى" ويحتمل الخفض عطفا.
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 4:
{وَالَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ
يُوقِنُونَ}
"Dan
orang-orang yang beriman kepada apa (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu
(Muhammad), dan kepada apa yang diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan
adanya akhirat." (QS. Al-Baqarah: 4)
Penjelasan tafsir:
Pada
firman-Nya: {وَالَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ}
"Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
apa yang diturunkan sebelummu",
ada dua pendapat:
- Pendapat pertama:
Yang dimaksud adalah orang-orang mukmin dari kalangan Ahli Kitab, seperti Abdullah bin Salam, dan ayat ini turun berkenaan dengannya.
Sedangkan ayat sebelumnya (الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ...) ditujukan kepada orang-orang Arab yang beriman. - Pendapat kedua:
Kedua ayat tersebut (ayat 3 dan 4) semuanya berbicara tentang seluruh orang-orang mukmin, tanpa membedakan Arab maupun Ahli Kitab.
Penjelasan
i‘rab (susunan nahwu):
- Menurut pendapat kedua, kata "الَّذِينَ" dibaca majrur (khafadh)
karena di-‘athaf-kan (disambungkan) kepada sifat sebelumnya.
- Bisa juga dibaca marfū‘ (rafa‘) sebagai kalimat
baru (isti’naf), maknanya: "Dan mereka itu adalah orang-orang
yang..."
Sedangkan menurut pendapat yang
membaginya menjadi dua golongan, maka:
- "الَّذِينَ" menjadi mubtada’ (subjek) dalam keadaan marfū‘,
- dan khabarnya adalah firman Allah: {أُولَئِكَ عَلَى هُدًى} (Mereka
itulah yang berada di atas petunjuk).
- Namun masih mungkin juga dibaca majrur, sebagai
athaf.
قوله تعالى : {بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ} يعني
القرآن "وما أنزل من قبلك" يعني الكتب السالفة ، بخلاف ما فعله اليهود والنصارى
حسب ما أخبر الله عنهم في قوله : { وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ
قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا} [البقرة : 91] الآية.
ويقال : لما نزلت هذه الآية : "الذين يؤمنون
بالغيب" قالت اليهود والنصارى : نحن آمنا بالغيب ، فلما قال : {وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ}
[البقرة : 3] قالوا : نحن نقيم الصلاة ، فلما قال {وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}
قالوا : نحن ننفق ونتصدق ، فلما قال : {وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ
وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ} نفروا من ذلك.
Firman Allah Ta'ala:
{بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ}
"Kepada apa yang diturunkan kepadamu"
maksudnya adalah Al-Qur'an.
{وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ}
"Dan apa yang diturunkan sebelummu"
maksudnya adalah kitab-kitab
terdahulu, seperti Taurat, Zabur, dan Injil.
Makna ayat ini adalah bahwa
orang-orang beriman membenarkan seluruh wahyu Allah, baik yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad
maupun kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya. Ini
berbeda dengan sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani,
sebagaimana Allah kabarkan tentang mereka dalam firman-Nya:
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا
أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا}
"Dan apabila dikatakan kepada mereka: Berimanlah kepada apa yang Allah
turunkan, mereka menjawab: Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada
kami." (QS. Al-Baqarah: 91)
Yakni, mereka hanya beriman kepada kitab yang diturunkan kepada mereka,
tetapi mengingkari wahyu yang datang sesudahnya, termasuk
Al-Qur'an.
Diriwayatkan pula:
Ketika turun ayat:
{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ}
"Orang-orang yang beriman kepada yang gaib,"
orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata:
"Kami juga beriman kepada yang gaib."
Ketika turun:
{وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ}
"Dan mereka mendirikan salat,"
mereka berkata:
"Kami juga mendirikan salat."
Ketika turun:
{وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}
"Dan dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka, mereka
infakkan,"
mereka berkata:
"Kami juga berinfak dan bersedekah."
Namun ketika turun firman Allah:
{وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ
إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ}
"Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan
apa yang diturunkan sebelummu,"
mereka berpaling (menolak) dari hal itu, karena mereka tidak
mau beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, meskipun mereka mengaku beriman kepada kitab-kitab
sebelumnya.
وفي حديث أبي ذر قال قلت : يا رسول الله كم كتابا
أنزل الله ؟ قال : "مائة كتاب وأربعة كتب أنزل الله على شيث خمسين صحيفة وعلى
أخنوخ ثلاثين صحيفة وعلى إبراهيم عشر صحائف وأنزل على موسى قبل التوراة عشر صحائف وأنزل
التوراة والإنجيل والزبور والفرقان" . الحديث أخرجه الحسين الآجرّي وأبو حاتم
البستي.
Dalam hadis Abu Dharr
al-Ghifari disebutkan:
Aku (Abu Dzar) berkata:
"Wahai Rasulullah, berapa banyak kitab yang Allah turunkan?"
Beliau ﷺ menjawab:
"Seratus kitab dan empat kitab. Allah menurunkan kepada Seth lima puluh suhuf
(lembaran-lembaran wahyu), kepada Enoch
tiga puluh suhuf, kepada Abraham
sepuluh suhuf, dan kepada Moses
sebelum Taurat sepuluh suhuf. Kemudian Allah menurunkan Taurat, Injil, Zabur,
dan Al-Furqan (Al-Qur'an)."
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Husayn
al-Ajurri dan Abu Hatim al-Busti.
وهنا مسألة : إن قال قائل : كيف يمكن الإيمان
بجميعها مع تنافي أحكامها ؟ قيل له فيه جوابان : أحدهما - أن الإيمان بأن جميعها نزل
من عند الله ، وهو قول من أسقط التعبد بما تقدم من الشرائع. الثاني - أن الإيمان بما
لم ينسخ منها ، وهذا قول من أوجب التزام الشرائع المتقدمة ، على ما يأتي بيانه إن شاء
الله تعالى.
Di sini ada sebuah persoalan:
Jika ada yang bertanya:
"Bagaimana mungkin kita diperintahkan beriman kepada seluruh kitab
Allah, padahal hukum-hukum di dalam kitab-kitab itu ada yang berbeda bahkan
tampak bertentangan?"
Maka jawabannya ada dua:
Jawaban
pertama:
Kita beriman bahwa semua kitab itu
benar-benar turun dari sisi Allah.
Maksudnya, keimanan yang dituntut
adalah meyakini asal-usul seluruh kitab tersebut dari Allah, walaupun
syariat yang dibawanya berbeda-beda sesuai zaman dan umatnya masing-masing.
Ini adalah pendapat ulama yang
mengatakan bahwa syariat-syariat terdahulu tidak lagi menjadi beban hukum
(taklif) bagi umat ini, sehingga yang wajib hanyalah mengimani bahwa
kitab-kitab itu memang wahyu dari Allah, bukan mengamalkan hukum-hukumnya.
Jawaban
kedua:
Kita beriman kepada bagian-bagian
dari kitab-kitab terdahulu yang tidak dihapus (tidak dinasakh).
Maksudnya, jika ada ajaran dalam
syariat terdahulu yang tidak dibatalkan oleh syariat Nabi Muhammad,
maka ajaran itu tetap diimani dan bisa tetap diamalkan.
Ini adalah pendapat ulama yang
mewajibkan tetap berpegang pada syariat terdahulu, selama tidak ada
dalil yang menghapus atau menggantinya. Penjelasan rinci tentang hal ini akan
diterangkan kemudian, insya Allah.
قوله تعالى : {وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ}
أي وبالبعث والنشر هم عالمون. واليقين : العلم دون الشك ، يقال منه : يَقِنْتُ الأمر
"بالكسر" يقنا ، وأيقنت واستيقنت وتيقنت كله بمعنى ، وأنا على يقين منه.
وإنما صارت الياء واوا في قولك : موقن ، للضمة قبلها ، وإذا صغرته رددته إلى الأصل
فقلت مييقن والتصغير يرد الأشياء إلى أصولها وكذلك الجمع. وربما عبروا باليقين عن الظن
، ومنه قول علمائنا في اليمين اللغو : هو أن يحلف بالله على أمر يوقنه ثم يتبين له
أنه خلاف ذلك فلا شيء عليه ، قال الشاعر :
تحسّبَ هوّاسٌ وأيقن أنني ... بها مفتد من واحد لا أغامره
يقول : تشمم الأسد ناقتي ، يظن أنني مفتد بها
منه ، وأستحمي نفسي فأتركها له ولا أقتحم المهالك بمقاتلته فأما الظن بمعنى اليقين
فورد في التنزيل وهو في الشعر كثير ، وسيأتي.
والآخرة مشتقة من التأخر لتأخرها عنا وتأخرنا
عنها ، كما أن الدنيا مشتقة من الدنوّ ، على ما يأتي.
Firman Allah: {وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ}
"Dan terhadap akhirat mereka benar-benar yakin."
Maksudnya: mereka meyakini adanya
kebangkitan setelah mati, dikumpulkannya seluruh manusia (hari mahsyar), hisab,
surga, neraka, dan seluruh perkara akhirat dengan keyakinan yang pasti.
Penjelasan kata اليقين (yaqin):
Yaqin berarti ilmu/pengetahuan yang pasti tanpa keraguan sedikit pun.
Dalam bahasa Arab dikatakan:
- يَقِنْتُ الأمر =
aku mengetahui sesuatu dengan pasti.
- أيقنت =
aku meyakini.
- استيقنت =
aku benar-benar yakin.
- تيقنت =
aku memastikan dengan keyakinan.
Semuanya memiliki makna yang sama,
yaitu kepastian ilmu tanpa syak (ragu).
Adapun kata موقن (orang yang yakin), huruf ya’
berubah menjadi wau karena menyesuaikan harakat dhammah sebelumnya.
Tetapi ketika diperkecil (tashghir),
ia dikembalikan ke asal katanya.
Ini menunjukkan kaidah bahasa Arab
bahwa tashghir dan jamak sering mengembalikan kata kepada bentuk asalnya.
Terkadang kata yaqin dalam
bahasa Arab juga dipakai dengan makna dugaan kuat (zhann).
Contohnya dalam pembahasan ulama tentang sumpah laghw (sumpah yang tidak
disengaja): seseorang bersumpah atas sesuatu yang ia yakini benar,
lalu ternyata keliru, maka tidak ada kafarah atasnya.
Penyair juga berkata:
"Howwās
mengendus-endus dan mengira dengan yakin bahwa aku akan menebus diriku
darinya..."
Maksudnya: seekor singa mencium unta
miliknya, lalu menyangka kuat bahwa ia akan meninggalkan untanya untuk
menyelamatkan diri, bukan melawan singa tersebut.
Tentang kata الآخرة (akhirat):
Kata al-Ākhirah berasal dari akar kata yang berarti datang belakangan
/ akhir, karena akhirat datang sesudah kehidupan dunia, dan saat ini
kita masih berada sebelum mencapainya.
Sebagaimana kata الدنيا (dunia) berasal dari makna دنوّ dekat/rendah, karena dunia adalah kehidupan yang dekat dengan
manusia sekarang.
Maksud Tafsir Ayat 4
Dalam ayat ini Allah menjelaskan
salah satu sifat utama orang bertakwa, yaitu mereka memiliki keyakinan penuh
terhadap kehidupan akhirat. Bukan sekadar percaya secara lisan, tetapi iman
yang mantap, kokoh, dan bebas dari keraguan terhadap:
- kebangkitan setelah mati,
- dikumpulkannya manusia di padang mahsyar,
- perhitungan amal (hisab),
- balasan surga bagi yang taat,
- azab neraka bagi yang durhaka.
Keyakinan seperti inilah yang
membuat seorang mukmin serius beramal saleh dan menjauhi maksiat, karena
ia sadar bahwa semua amal akan dipertanggungjawabkan.
Kesimpulan Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 4
Ayat ke-4 surat Al-Qur'an
Al-Baqarah menjelaskan ciri orang bertakwa:
- Beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.
- Beriman kepada kitab-kitab Allah sebelumnya.
- Memiliki keyakinan yang teguh terhadap akhirat, tanpa keraguan sedikit pun.
Inti pesannya:
Keimanan yang sempurna mencakup iman kepada wahyu Allah dan keyakinan penuh
terhadap kehidupan akhirat, karena keyakinan itulah yang melahirkan
istiqamah dalam ibadah, kesungguhan dalam amal, dan kehati-hatian dalam hidup.
Sumber:
الكتاب : الجامع لأحكام القرآن
المؤلف : أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أبي بكر بن فرح
الأنصاري الخزرجي شمس الدين القرطبي (المتوفى : 671 هـ)
Baca juga:
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 5: Petunjuk Allah dan Keberuntungan
Sejati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar