Akal Dan Hawa Nafsu

 

فصل

العقل والْهَوَى

Akal Dan Hawa Nafsu


وَأَمَّا الْهَوَى فَهُوَ عَنْ الْخَيْرِ صَادٌّ ، وَلِلْعَقْلِ مُضَادٌّ ؛ لِأَنَّهُ يُنْتِجُ مِنْ الْأَخْلَاقِ قَبَائِحَهَا ، وَيُظْهِرُ مِنْ الْأَفْعَالِ فَضَائِحَهَا ، وَيَجْعَلُ سِتْرَ الْمُرُوءَةِ مَهْتُوكًا ، وَمَدْخَلَ الشَّرِّ مَسْلُوكًا .

Adapun hawa nafsu, maka ia menghalangi dari kebaikan dan bertentangan dengan akal; karena ia melahirkan dari akhlak segala keburukannya, menampakkan dari perbuatan segala aibnya, menjadikan penutup kehormatan (muru’ah) tersingkap, dan membuka jalan bagi kejahatan.


قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : الْهَوَى إلَهٌ يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ .

ثُمَّ تَلَا : { أَفَرَأَيْتَ مَنْ اتَّخَذَ إلَهَهُ هَوَاهُ }

Berkata Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما: “Hawa nafsu adalah sesembahan yang disembah selain Allah.”

Kemudian beliau membaca ayat: { أفرأيت من اتخذ إلهه هواه }

“Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jāthiyah: 23)


وَقَالَ عِكْرِمَةُ فِي قَوْله تَعَالَى : { وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ } يَعْنِي بِالشَّهَوَاتِ { وَتَرَبَّصْتُمْ } يَعْنِي بِالتَّوْبَةِ { وَارْتَبْتُمْ } يَعْنِي فِي أَمْرِ اللَّهِ { وَغَرَّتْكُمْ الْأَمَانِيُّ } يَعْنِي بِالتَّسْوِيفِ { حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ } يَعْنِي الْمَوْتَ { وَغَرَّكُمْ بِاَللَّهِ الْغَرُورُ } يَعْنِي الشَّيْطَانَ .

Berkata Ikrimah tentang firman Allah:

{ ولكنكم فتنتم أنفسكم } “Tetapi kalian telah mencelakakan diri kalian sendiri” → maksudnya: dengan syahwat.

{ وتربصتم } “Kalian menunggu-nunggu” → maksudnya: menunda taubat.

{ وارتبتم } “Kalian ragu-ragu” → maksudnya: ragu dalam urusan Allah.

{ وغرتكم الأماني } “Angan-angan telah memperdayakan kalian” → maksudnya: dengan menunda-nunda (taswif).

{ حتى جاء أمر الله } “Sampai datang ketetapan Allah” → maksudnya: kematian.

{ وغركم بالله الغرور } “Dan penipu telah menipu kalian tentang Allah” → maksudnya: setan.


وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { طَاعَةُ الشَّهْوَةِ دَاءٌ ، وَعِصْيَانُهَا دَوَاءٌ } .

Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Menuruti syahwat adalah penyakit, dan menyelisihinya adalah obat.”


وَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : اقْدَعُوا هَذِهِ النُّفُوسَ عَنْ شَهَوَاتِهَا فَإِنَّهَا طَلَّاعَةٌ تَنْزِعُ إلَى شَرِّ غَايَةٍ .

Berkata Umar ibn al-Khattab رضي الله عنه: “Kendalikanlah jiwa-jiwa ini dari syahwatnya, karena sesungguhnya ia sangat condong dan selalu menarik menuju tujuan yang paling buruk.”


إنَّ هَذَا الْحَقَّ ثَقِيلٌ مَرِيٌّ ، وَإِنَّ الْبَاطِلَ خَفِيفٌ وَبِيٌّ ، وَتَرْكُ الْخَطِيئَةِ خَيْرٌ مِنْ مُعَالَجَةِ التَّوْبَةِ وَرُبَّ نَظْرَةٍ زَرَعَتْ شَهْوَةً ، وَشَهْوَة سَاعَةٍ أَوْرَثَتْ حُزْنًا طَوِيلًا .

Sesungguhnya kebenaran itu berat tetapi menyehatkan (baik akibatnya), sedangkan kebatilan itu ringan namun mematikan (membinasakan).

Meninggalkan dosa lebih baik daripada harus bersusah payah mengobatinya dengan taubat.

Betapa banyak satu pandangan (sekilas) menanamkan syahwat, dan syahwat sesaat mewariskan kesedihan yang panjang.


وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَخَافُ عَلَيْكُمْ اثْنَيْنِ : اتِّبَاعَ الْهَوَى وَطُولَ الْأَمَلِ .

فَإِنَّ اتِّبَاعَ الْهَوَى يَصُدُّ عَنْ الْحَقِّ وَطُولَ الْأَمَلِ يُنْسِي الْآخِرَةَ .

Berkata Ali ibn Abi Talib رضي الله عنه: “Aku khawatir atas kalian terhadap dua perkara: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan.”

Karena sesungguhnya mengikuti hawa nafsu itu menghalangi dari kebenaran, dan panjang angan-angan itu membuat lupa kepada akhirat.


وَقَالَ الشَّعْبِيُّ : إنَّمَا سُمِّيَ الْهَوَى هَوًى ؛ لِأَنَّهُ يَهْوِي بِصَاحِبِهِ .

Berkata Al-Sha'bi رحمه الله: “Sesungguhnya hawa (nafsu) dinamakan ‘hawa’ karena ia menjatuhkan (menghempaskan) pemiliknya.”


وَقَالَ أَعْرَابِيٌّ : الْهَوَى هَوَانٌ وَلَكِنْ غَلِطَ بِاسْمِهِ ، فَأَخَذَهُ الشَّاعِرُ وَقَالَ :

إنَّ الْهَوَانَ هُوَ الْهَوَى قُلِبَ اسْمُهُ # فَإِذَا هَوِيتَ فَقَدْ لَقِيت هَوَانَا

Seorang Arab Badui berkata: “Hawa (nafsu) itu sebenarnya adalah kehinaan, hanya saja terjadi kekeliruan pada namanya.”

Lalu seorang penyair mengambil makna itu dan berkata:

Sesungguhnya kehinaan itu adalah ‘hawa’ yang dibalik namanya; maka jika engkau mengikuti hawa, sungguh engkau telah menemui kehinaan


وَقِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ : مَنْ أَطَاعَ هَوَاهُ ، أَعْطَى عَدُوَّهُ مُنَاهُ .

Dan dikatakan dalam untaian hikmah: “Barang siapa menaati hawa nafsunya, berarti ia telah memberi musuhnya apa yang diinginkannya.”


وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : الْعَقْلُ صَدِيقٌ مَقْطُوعٌ ، وَالْهَوَى عَدُوٌّ مَتْبُوعٌ .

Sebagian ahli hikmah berkata: “Akal adalah sahabat yang terputus (tidak diikuti), sedangkan hawa nafsu adalah musuh yang justru diikuti.”


وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ أَفْضَلُ النَّاسِ مَنْ عَصَى هَوَاهُ ، وَأَفْضَلُ مِنْهُ مَنْ رَفَضَ دُنْيَاهُ .

Sebagian ahli balaghah (orang yang fasih dan bijak) berkata: “Manusia yang paling utama adalah orang yang mampu menentang hawa nafsunya, dan yang lebih utama darinya adalah orang yang meninggalkan (tidak terikat pada) dunianya.”


وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ مَرْوَانَ :

إذَا أَنْتَ لَمْ تَعْصِ الْهَوَى قَادَك الْهَوَى # إلَى كُلِّ مَا فِيهِ عَلَيْك مَقَالُ

Berkata Hisham ibn Abd al-Malik:

Jika engkau tidak menentang hawa nafsu, maka hawa itu akan menuntunmu kepada segala sesuatu yang membuat orang mencelamu


قَالَ ابْنُ الْمُعْتَزِّ رَحِمَهُ اللَّهُ : لَمْ يَقُلْ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ سِوَى هَذَا الْبَيْتِ .

Berkata Ibn al-Mu'tazz رحمه الله: “Hisyam bin ‘Abd al-Malik tidak mengatakan (syair) selain bait ini saja.”


وَقَالَ الشَّاعِرُ :

إذَا مَا رَأَيْت الْمَرْءَ يَعْتَادُهُ الْهَوَى # فَقَدْ ثَكِلَتْهُ عِنْدَ ذَاكَ ثَوَاكِلُهْ

وَقَدْ أَشْمَتَ الْأَعْدَاءَ جَهْلًا بِنَفْسِهِ # وَقَدْ وَجَدَتْ فِيهِ مَقَالًا عَوَاذِلُهْ

وَمَا يَرْدَعُ النَّفْسَ اللَّجُوجَ عَنْ الْهَوَى # مِنْ النَّاسِ إلَّا حَازِمُ الرَّأْيِ كَامِلُهْ

Seorang penyair berkata:

Apabila engkau melihat seseorang telah terbiasa dikuasai oleh hawa nafsu, maka seakan-akan para wanita yang meratap telah kehilangan dirinya (ia seperti orang yang telah binasa)

Ia telah membuat musuh-musuhnya bersorak gembira karena kebodohannya terhadap dirinya sendiri, dan para pencelanya pun mendapatkan bahan untuk mencelanya

Tidak ada yang dapat menahan jiwa yang keras dan membangkang dari hawa nafsu, kecuali orang yang teguh pendapatnya dan sempurna kebijaksanaannya.”


فَلَمَّا كَانَ الْهَوَى غَالِبًا وَإِلَى سَبِيلِ الْمَهَالِكِ مَوْرِدًا جَعَلَ الْعَقْلَ عَلَيْهِ رَقِيبًا مُجَاهِدًا يُلَاحِظُ عَثْرَةَ غَفْلَتِهِ ، وَيَدْفَعُ بَادِرَةَ سَطْوَتِهِ ، وَيَدْفَعُ خِدَاعَ حِيلَتِهِ ؛ لِأَنَّ سُلْطَانَ الْهَوَى قَوِيٌّ ، وَمَدْخَلٌ مَكْرِهِ خَفِيٌّ .

Maka ketika hawa nafsu itu bersifat dominan dan menjadi jalan menuju kebinasaan, Allah menjadikan akal sebagai pengawas dan pejuang terhadapnya; yang memperhatikan terpelesetnya kelalaian, menolak serangan mendadak kekuatannya, dan menangkis tipu daya siasatnya.

Karena sesungguhnya kekuasaan hawa itu kuat, dan jalan masuk tipu dayanya sangat tersembunyi.


وَمِنْ هَذَيْنِ الْوَجْهَيْنِ يُؤْتَى الْعَاقِلُ حَتَّى تَنْفُذَ أَحْكَامُ الْهَوَى عَلَيْهِ أَعْنِي بِأَحَدِ الْوَجْهَيْنِ : قُوَّةَ سُلْطَانِهِ وَبِالْآخَرِ خَفَاءَ مَكْرِهِ .

Dan dari dua sisi inilah orang yang berakal bisa diserang, hingga hukum-hukum (kekuasaan) hawa nafsu berlaku atas dirinya. Yang aku maksud dengan dua sisi itu adalah: kuatnya kekuasaannya, dan tersembunyinya tipu dayanya.


فَأَمَّا الْوَجْهُ الْأَوَّلُ فَهُوَ أَنْ يَقْوَى سُلْطَانُ الْهَوَى بِكَثْرَةِ دَوَاعِيهِ حَتَّى يَسْتَوْلِيَ عَلَيْهِ مُغَالَبَةُ الشَّهَوَاتِ فَيَكِلُّ الْعَقْلُ عَنْ دَفْعِهَا ، وَيَضْعُفُ عَنْ مَنْعِهَا ، مَعَ وُضُوحِ قُبْحِهَا فِي الْعَقْلِ الْمَقْهُورِ بِهَا ، وَهَذَا يَكُونُ فِي الْأَحْدَاثِ أَكْثَرَ وَعَلَى الشَّبَابِ أَغْلَبَ ؛ لِقُوَّةِ شَهَوَاتِهِمْ ؛ وَكَثْرَةِ دَوَاعِي الْهَوَى الْمُتَسَلِّطِ عَلَيْهِمْ وَإِنَّهُمْ رُبَّمَا جَعَلُوا الشَّبَابَ عُذْرًا لَهُمْ ، كَمَا قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ بَشِيرٍ :

كُلٌّ يَرَى أَنَّ الشَّبَابَ لَهُ # فِي كُلِّ مَبْلَغِ لَذَّةٍ عُذْر

Adapun sisi yang pertama ialah ketika kekuasaan hawa nafsu menjadi kuat karena banyaknya dorongan-dorongannya, hingga dominasi syahwat menguasai seseorang. Maka akal pun menjadi lemah untuk menolaknya dan tidak mampu mencegahnya, padahal keburukannya jelas dalam akal yang sedang dikuasai itu.

Hal ini lebih banyak terjadi pada anak-anak muda, dan lebih dominan pada masa remaja; karena kuatnya syahwat mereka dan banyaknya dorongan hawa yang berkuasa atas diri mereka. Bahkan terkadang mereka menjadikan masa muda sebagai alasan bagi diri mereka, sebagaimana dikatakan oleh Muhammad ibn Bashir:

Setiap orang memandang bahwa masa mudanya adalah alas an untuk mencapai setiap puncak kenikmatan


وَلِذَلِكَ قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : الْهَوَى مَلِكٌ غَشُومٌ ، وَمُتَسَلِّطٌ ظَلُومٌ .

Oleh karena itu sebagian ahli hikmah berkata: “Hawa nafsu adalah raja yang zalim lagi sewenang-wenang, dan penguasa yang aniaya.”


وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ : الْهَوَى عَسُوفٌ ، وَالْعَدْلُ مَأْلُوفٌ .

Sebagian ahli adab berkata: “Hawa itu liar dan sewenang-wenang, sedangkan keadilan itu akrab dan menenteramkan.”


وَقَالَ بَعْضُ الشُّعَرَاءِ :

يَا عَاقِلًا أَرْدَى الْهَوَى عَقْلَهُ # مَالَك قَدْ سُدَّتْ عَلَيْك الْأُمُورُ

أَتَجْعَلُ الْعَقْلَ أَسِيرَ الْهَوَى # إنَّمَا الْعَقْلُ عَلَيْهِ أَمِيرُ

Sebagian penyair berkata:

Wahai orang berakal yang akalnya telah dijatuhkan oleh hawa nafsu, mengapa segala urusan terasa tertutup bagimu?

Apakah engkau menjadikan akal sebagai tawanan hawa? Padahal sesungguhnya akal itulah yang seharusnya menjadi pemimpin atasnya


وَحَسْمُ ذَلِكَ أَنْ يَسْتَعِينَ بِالْعَقْلِ عَلَى النَّفْسِ النُّفُورَةِ فَيُشْعِرُهَا مَا فِي عَوَاقِبِ الْهَوَى مِنْ شِدَّةِ الضَّرَرِ ، وَقُبْحِ الْأَثَرِ ، وَكَثْرَةِ الْإِجْرَامِ ، وَتَرَاكُمِ الْآثَامِ .

Dan cara memutus (mengatasi) hal itu ialah dengan meminta pertolongan kepada akal untuk menghadapi jiwa yang liar, dengan menyadarkannya tentang akibat-akibat hawa nafsu berupa kerasnya bahaya, buruknya dampak, banyaknya kejahatan, dan bertumpuknya dosa.


فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ } .

أَخْبَرَ أَنَّ الطَّرِيقَ إلَى الْجَنَّةِ احْتِمَالُ الْمَكَارِهِ ، وَالطَّرِيقَ إلَى النَّارِ اتِّبَاعُ الشَّهَوَاتِ .

Rasulullah ﷺ bersabda: “Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai (oleh jiwa), dan neraka itu dikelilingi oleh syahwat.”

Beliau mengabarkan bahwa jalan menuju surga adalah dengan menanggung hal-hal yang berat (tidak disukai), dan jalan menuju neraka adalah dengan mengikuti syahwat.


قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : إيَّاكُمْ وَتَحْكِيمَ الشَّهَوَاتِ عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّ عَاجِلَهَا ذَمِيمٌ ، وَآجِلَهَا وَخِيمٌ ، فَإِنْ لَمْ تَرَهَا تَنْقَادُ بِالتَّحْذِيرِ وَالْإِرْهَابِ ، فَسَوِّفْهَا بِالتَّأْمِيلِ وَالْإِرْغَابِ ، فَإِنَّ الرَّغْبَةَ وَالرَّهْبَةَ إذَا اجْتَمَعَا عَلَى النَّفْسِ ذَلَّتْ لَهُمَا وَانْقَادَتْ .

Berkata Ali ibn Abi Talib رضي الله عنه: “Jauhilah oleh kalian menjadikan syahwat sebagai hakim atas diri kalian; karena akibat yang segera darinya itu tercela, dan akibat akhirnya itu buruk.

Jika kalian tidak melihat jiwa itu tunduk dengan peringatan dan ancaman, maka jinakkanlah ia dengan harapan dan dorongan.

Sesungguhnya apabila harapan dan rasa takut berkumpul dalam jiwa, maka ia akan tunduk dan patuh.”


وَقَدْ قَالَ ابْنُ السَّمَّاكِ : كُنْ لِهَوَاك مُسَوِّفًا ، وَلِعَقْلِك مُسْعِفًا ، وَانْظُرْ إلَى مَا تَسُوءُ عَاقِبَتُهُ فَوَطِّنْ نَفْسَك عَلَى مُجَانَبَتِهِ فَإِنَّ تَرْكَ النَّفْسِ وَمَا تَهْوَى دَاؤُهَا ، وَتَرْكَ مَا تَهْوَى دَوَاؤُهَا ، فَاصْبِرْ عَلَى الدَّوَاءِ ، كَمَا تَخَافُ مِنْ الدَّاءِ .

Berkata Ibn al-Sammak رحمه الله: “Jadilah engkau penunda bagi hawa nafsumu, dan penolong bagi akalmu. Perhatikanlah apa yang akibatnya buruk, lalu biasakanlah dirimu untuk menjauhinya. Karena membiarkan jiwa mengikuti apa yang ia sukai adalah penyakitnya, dan meninggalkan apa yang ia sukai adalah obatnya. Maka bersabarlah atas obat itu, sebagaimana engkau takut terhadap penyakit.”


وَقَالَ الشَّاعِرُ :

صَبَرْتُ عَلَى الْأَيَّامِ حَتَّى تَوَلَّتْ # وَأَلْزَمْتُ نَفْسِي صَبْرَهَا فَاسْتَمَرَّتْ

وَمَا النَّفْسُ إلَّا حَيْثُ يَجْعَلُهَا الْفَتَى # فَإِنْ طَمِعَتْ تَاقَتْ وَإِلَّا تَسَلَّتْ

Seorang penyair berkata:

Aku bersabar terhadap hari-hari (ujian) hingga ia berlalu, dan aku memaksa diriku untuk bersabar, maka ia pun menjadi terbiasa.

Dan jiwa itu hanyalah sebagaimana pemuda (seseorang) menempatkannya; jika ia dibiasakan tamak, ia akan terus menginginkan, dan jika tidak, ia akan merasa cukup dan terhibur


فَإِذَا انْقَادَتْ النَّفْسُ لِلْعَقْلِ بِمَا قَدْ أُشْعِرَتْ مِنْ عَوَاقِبِ الْهَوَى لَمْ يَلْبَثْ الْهَوَى أَنْ يَصِيرَ بِالْعَقْلِ مَدْحُورًا ، وَبِالنَّفْسِ مَقْهُورًا ، ثُمَّ لَهُ الْحَظُّ الْأَوْفَى فِي ثَوَابِ الْخَالِقِ وَثَنَاءِ الْمَخْلُوقِينَ .

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : { وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنْ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى }

Apabila jiwa telah tunduk kepada akal karena telah diberi kesadaran tentang akibat-akibat hawa nafsu, maka hawa pun segera dikalahkan oleh akal dan dijinakkan oleh jiwa. Kemudian orang itu memperoleh bagian terbaik dalam pahala dari Pencipta dan pujian dari makhluk.

Allah Ta’ala berfirman:

‘Adapun orang yang takut kepada kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka surga itulah tempat kembali.’” (QS. An-Nazi’at: 40–41)


وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ : أَفْضَلُ الْجِهَادِ جِهَادُ الْهَوَى .

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Jihad yang terbaik adalah jihad melawan hawa nafsu.”


وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : أَعَزُّ الْعِزِّ الِامْتِنَاعُ مِنْ مِلْكِ الْهَوَى .

Sebagian orang bijak berkata: “Kehormatan tertinggi adalah menahan diri dari tunduk pada hawa nafsu.”


وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : خَيْرُ النَّاسِ مَنْ أَخْرَجَ الشَّهْوَةَ مِنْ قَلْبِهِ ، وَعَصَى

هَوَاهُ فِي طَاعَةِ رَبِّهِ .

Sebagian ahli retorika dan kebijaksanaan berkata: “Sebaik-baik manusia adalah yang mengeluarkan syahwat dari hatinya dan menundukkan hawa nafsunya untuk ketaatan kepada Tuhannya.”


وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ : مَنْ أَمَاتَ شَهْوَتَهُ ، فَقَدْ أَحْيَا مُرُوءَتَهُ .

Sebagian orang ahli adab berkata: “Barang siapa yang mematikan syahwatnya, ia telah menghidupkan kehormatan dirinya.”


وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ : رَكَّبَ اللَّهُ الْمَلَائِكَةَ مِنْ عَقْلٍ بِلَا شَهْوَةٍ ، وَرَكَّبَ الْبَهَائِمَ مِنْ شَهْوَةٍ بِلَا عَقْلٍ ، وَرَكَّبَ ابْنَ آدَمَ مِنْ كِلَيْهِمَا ؛ فَمَنْ غَلَّبَ عَقْلَهُ عَلَى شَهْوَتِهِ فَهُوَ خَيْرٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ ، وَمَنْ غَلَبَتْ شَهْوَتُهُ عَلَى عَقْلِهِ فَهُوَ شَرٌّ مِنْ الْبَهَائِمِ .

Sebagian ulama berkata: Allah menciptakan malaikat dengan akal tanpa hawa nafsu, dan menciptakan hewan dengan hawa nafsu tanpa akal, dan menciptakan anak Adam (manusia) daengan keduanya. Barang siapa menundukkan hawa nafsunya kepada akalnya, dia lebih baik dari malaikat; dan barang siapa membiarkan hawa nafsunya menguasai akalnya, dia lebih buruk dari binatang.”


وَقِيلَ لِبَعْضِ الْحُكَمَاءِ : مَنْ أَشْجَعُ النَّاسِ ، وَأَحْرَاهُمْ بِالظَّفَرِ فِي مُجَاهَدَتِهِ؟

قَالَ : مَنْ جَاهَدَ الْهَوَى طَاعَةً لِرَبِّهِ ، وَاحْتَرَسَ فِي مُجَاهَدَتِهِ مِنْ وُرُودِ خَوَاطِرِ الْهَوَى عَلَى قَلْبِهِ .

Dikatakan kepada sebagian orang bijak: Siapakah orang yang paling berani dan paling dekat meraih kemenangan dalam perjuangannya?

Dia menjawab: Orang yang berjihad melawan hawa nafsunya untuk taat kepada Tuhannya, dan waspada dalam perjuangannya terhadap munculnya godaan hawa nafsu di hatinya.”


وَقَالَ بَعْضُ الشُّعَرَاءِ :

قَدْ يُدْرِكُ الْحَازِمُ ذُو الرَّأْيِ الْمُنَى # بِطَاعَةِ الْحَزْمِ وَعِصْيَانِ الْهَوَى

Sebagian ahli syiir berkata:

Kadang-kadang orang yang tegas dan bijaksana dapat meraih keinginan yang diidamkan dengan ketaatan yang penuh keteguhan dan menundukkan hawa nafsunya


وَأَمَّا الْوَجْهُ الثَّانِي : فَهُوَ أَنْ يُخْفِيَ الْهَوَى بِكُرْهٍ حَتَّى تَتَمَوَّهَ أَفْعَالُهُ عَلَى الْعَقْلِ فَيَتَصَوَّرُ الْقَبِيحَ حَسَنًا وَالضَّرَرَ نَفْعًا .

Adapun sisi kedua, yaitu hawa nafsu disembunyikan di balik rasa benci atau ketidaksukaan, sehingga perbuatannya tampak seperti yang diperintahkan akal; akibatnya, yang buruk terlihat baik dan yang merugikan tampak menguntungkan.


وَهَذَا يَدْعُو إلَيْهِ أَحَدُ شَيْئَيْنِ : إمَّا أَنْ يَكُونَ لِلنَّفْسِ مَيْلٌ إلَى ذَلِكَ الشَّيْءِ فَيَخْفَى عَنْهَا الْقَبِيحُ لِحُسْنِ ظَنِّهَا وَتَتَصَوَّرُهُ حَسَنًا لِشِدَّةِ مَيْلِهَا .

وَلِذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ { حُبُّك الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ } .

أَيْ يُعْمِي عَنْ الرُّشْدِ وَيُصِمُّ عَنْ الْمَوْعِظَةِ .

Hal ini disebabkan salah satu dari dua hal:

Sebab pertama, yaitu nafsu seseorang condong kepada sesuatu, sehingga yang jelek tersembunyi dari penilaiannya karena prasangka baiknya, dan ia menanggapnya baik karena kecenderungan hatinya yang kuat.

Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda: ‘Cintamu terhadap sesuatu dapat membuatmu buta dan tuli’, maksudnya: membuat buta dari petunjuk kebenaran dan tuli terhadap nasihat atau peringatan.”


وَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : الْهَوَى عَمًى .

Aly radhiyallahu anh berkata: “Hawa nafsu itu kebutaan.”


قَالَ الشَّاعِرُ : حَسَنٌ فِي كُلِّ عَيْنٍ مَنْ تَوَدُّ

Seorang penyair berkata: “Segala sesuatu tampak indah di mata orang yang menyukainya.”


وَقَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :

وَلَسْت بِرَاءٍ عَيْبَ ذِي الْوُدِّ كُلِّهِ # وَلَا بَعْضَ مَا فِيهِ إذَا كُنْت رَاضِيَا

فَعَيْنُ الرِّضَى عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيلَةٌ # وَلَكِنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَا

Dan berkata Ubaidullah bin Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib, radhiyallahu ‘anh:

Seseorang tidak terbebas dari melihat kekurangan orang yang dicintainya, baik seluruh kekurangannya maupun sebagian, jika ia ridha kepadanya.

Mata yang dipenuhi keridhaan menutupi dan mengecilkan semua kekurangan, tetapi mata kemarahan menampakkan segala keburukan dan kesalahan


وَأَمَّا السَّبَبُ الثَّانِي : فَهُوَ اشْتِغَالُ الْفِكْرِ فِي تَمْيِيزِ مَا اشْتَبَهَ فَيَطْلُبُ الرَّاحَةَ فِي اتِّبَاعِ مَا اسْتَسْهَلَ حَتَّى يَظُنَّ أَنَّ ذَلِكَ أَوْفَقُ أَمْرَيْهِ ، وَأَحْمَدُ حَالَيْهِ ، اغْتِرَارًا بِأَنَّ الْأَسْهَلَ مَحْمُودٌ وَالْأَعْسَرَ مَذْمُومٌ فَلَنْ يَعْدَمَ أَنْ يَتَوَرَّطَ بِخِدَعِ الْهَوَى وَرِيبَةِ الْمَكْرِ فِي كُلِّ مَخُوفٍ حَذِرٍ ، وَمَكْرُوهٍ عَسِرٍ .

Sebab kedua, yaitu kesibukan pikiran dalam membedakan hal-hal yang samar, sehingga manusia mencari kemudahan dengan mengikuti yang paling ringan, sampai ia mengira bahwa itulah yang terbaik bagi dirinya dan menganggapnya sebagai keadaan yang paling terpuji.

Padahal ia tertipu oleh anggapan bahwa yang mudah itu baik dan yang sulit itu buruk, sehingga tidaklah mustahil ia terjerumus dalam tipu daya hawa nafsu dan keraguan tipu muslihat pada setiap hal yang ditakuti maupun yang sulit dilakukan.


وَلِذَلِكَ قَالَ عَامِرُ بْنُ الظَّرِبِ : الْهَوَى يَقْظَانُ وَالْعَقْلُ رَاقِدٌ فَمِنْ ثَمَّ غَلَبَ .

وَقَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ وَهْبٍ : الْهَوَى أَمْنَعُ ، وَالرَّأْيُ أَنْفَعُ .

Karena itu Amir bin Dzarib berkata: “Hawa nafsu selalu terjaga, sedangkan akal sering tertidur, maka dari situlah hawa nafsu menguasai.”


وَقِيلَ فِي الْمَثَلِ : الْعَقْلُ وَزِيرٌ نَاصِحٌ ، وَالْهَوَى وَكِيلٌ فَاضِحٌ .

Dikatakan dalam pepatah: “Akal adalah seorang penasihat yang bijak, sedangkan hawa nafsu adalah seorang pelaksana yang mempermalukan."


وَقَالَ الشَّاعِرُ :

إذَا الْمَرْءُ أَعْطَى نَفْسَهُ كُلَّمَا اشْتَهَتْ # وَلَمْ يَنْهَهَا تَاقَتْ إلَى كُلِّ بَاطِلِ

وَسَاقَتْ إلَيْهِ الْإِثْمَ وَالْعَارَ بِاَلَّذِي # دَعَتْهُ إلَيْهِ مِنْ حَلَاوَةِ عَاجِلِ

Seorang penyair berkata:

Jika seseorang membiarkan dirinya menuruti segala yang diinginkannya, dan tidak menahan diri, maka nafsunya akan mendambakan segala kebatilan

Dan ia (nafsu) membawanya kepada dosa dan aib karena apa yang ditawarkannya berupa kenikmatan sesaat yang menipu


وَحَسْمُ السَّبَبِ الْأَوَّلِ أَنْ يَجْعَلَ فِكْرَ قَلْبِهِ حَكَمًا عَلَى نَظَرِ عَيْنِهِ .

فَإِنَّ الْعَيْنَ رَائِدُ الشَّهْوَةِ ، وَالشَّهْوَةَ مِنْ دَوَاعِي الْهَوَى ، وَالْقَلْبَ رَائِدُ الْحَقِّ وَالْحَقَّ مِنْ دَوَاعِي الْعَقْلِ .

Cara yang utama adalah menjadikan pemikiran hati sebagai hakim terhadap penglihatan mata. Sebab mata adalah pemimpin dari nafsu, dan nafsu termasuk dorongan hawa, sedangkan hati adalah pemimpin kebenaran, dan kebenaran termasuk dorongan akal


وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : نَظَرُ الْجَاهِلِ بِعَيْنِهِ وَنَاظِرِهِ ، وَنَظَرُ الْعَاقِلِ بِقَلْبِهِ وَخَاطِرِهِ .

Dan sebagian orang bijak berkata: “Penglihatan orang yang bodoh hanya dengan mata dan pandangannya, sedangkan penglihatan orang yang cerdas dengan hatinya dan pikirannya."


ثُمَّ يَتَّهِمُ نَفْسَهُ فِي صَوَابِ مَا أَحَبَّتْ وَتَحْسِينِ مَا اشْتَهَتْ ؛ لِيَصِحَّ لَهُ الصَّوَابُ وَيَتَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ ، فَإِنَّ الْحَقَّ أَثْقَلُ مَحْمَلًا ، وَأَصْعُبُ مَرْكَبًا فَإِنْ أَشْكَلَ عَلَيْهِ أَمْرَانِ اجْتَنِبْ أَحَبَّهُمَا إلَيْهِ ، وَتَرَكَ أَسْهَلَهُمَا عَلَيْهِ .

فَإِنَّ النَّفْسَ عَنْ الْحَقِّ أَنْفَرُ ، وَلِلْهَوَى آثَرُ .

Kemudian seseorang menahan dirinya dalam menilai kebenaran dari apa yang dicintainya dan memperindah apa yang diinginkannya, agar kebenaran menjadi jelas baginya dan yang hak dapat terbuka. Sesungguhnya kebenaran lebih berat dibawa dan lebih sulit ditempuh. Jika ia menghadapi dua perkara yang membingungkan, hendaklah ia menjauhi yang lebih ia sukai dan meninggalkan yang lebih mudah baginya.

Sebab nafsu cenderung menjauh dari kebenaran, dan hawa nafsu selalu meninggalkan jejaknya.


وَقَدْ قَالَ الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ : إذَا اشْتَبَهَ عَلَيْك أَمْرَانِ فَدَعْ أَحَبَّهُمَا إلَيْك ، وَخُذْ أَثْقَلَهُمَا عَلَيْك .

Dan telah berkata Al-Abbas bin Abdul Muttalib: “Jika kamu menghadapi dua perkara yang membingungkan, tinggalkanlah yang paling kamu sukai, dan ambillah yang lebih berat atau lebih sulit bagimu."


وَعِلَّةُ هَذَا الْقَوْلِ هُوَ أَنَّ الثَّقِيلَ يُبْطِئُ النَّفْسَ عَنْ التَّسَرُّعِ إلَيْهِ فَيَتَّضِحُ مَعَ الْإِبْطَاءِ وَتَطَاوُلِ الزَّمَانِ صَوَابُ مَا اسْتَعْجَمَ ، وَظُهُورُ مَا اسْتَبْهَمَ .

Alasan dari perkataan ini adalah bahwa yang berat akan memperlambat jiwa dari terburu-buru kepadanya, sehingga dengan melambat dan berlalunya waktu, menjadi jelas yang benar dari yang terburu-buru, dan muncul kebenaran dari yang membingungkan.


وَقَدْ قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ : مَنْ تَفَكَّرَ أَبْصَرَ وَالْمَحْبُوبُ أَسْهَلُ شَيْءٍ تُسْرِعُ النَّفْسُ إلَيْهِ ، وَتُعَجِّلُ بِالْإِقْدَامِ عَلَيْهِ ، فَيَقْصُرُ الزَّمَانُ عَنْ تَصَفُّحِهِ وَيَفُوتُ اسْتِدْرَاكُهُ لِتَقْصِيرِ فِعْلِهِ فَلَا يَنْفَعُ التَّصَفُّحُ بَعْدَ الْعَمَلِ وَلَا الِاسْتِبَانَةُ بَعْدَ الْفَوْتِ .

Dan telah berkata Ali bin Abi Thalib: “Barang siapa merenung, ia akan melihat dengan jelas. Hal-hal yang disukai adalah yang paling mudah, sehingga jiwa tergesa-gesa untuk mencapainya dan segera bertindak. Akibatnya, waktu menjadi terlalu singkat untuk meneliti atau mempertimbangkannya, dan kesempatan untuk memperbaikinya terlewat karena kelalaian. Maka menilai setelah bertindak tidak berguna, dan kejelasan setelah kesempatan hilang tidak memberi manfaat."


وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : مَا كَانَ عَنْك مُعْرِضًا ، فَلَا تَكُنْ بِهِ مُتَعَرِّضًا .

Dan sebagian orang bijak berkata: “Apa yang berpaling darimu, janganlah kamu macari-carinya”


وَقَالَ الشَّاعِرُ :

أَلَيْسَ طِلَابُ مَا قَدْ فَاتَ جَهْلًا # وَذِكْرُ الْمَرْءِ مَا لَا يَسْتَطِيعُ

Dan sang penyair berkata:

Bukankah mengejar apa yang telah berlalu adalah kebodohan?, dan menyebut atau mengingat hal-hal yang tidak mampu dilakukan seseorang adalah kebodohan?


وَلَقَدْ وَصَفَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ حَالَ الْهَوَى وَمَا يُقَارِنُهُ مِنْ مِحَنِ الدُّنْيَا فَقَالَ : الْهَوَى مَطِيَّةُ الْفِتْنَةِ ، وَالدُّنْيَا دَارُ الْمِحْنَةِ ، فَانْزِلْ عَنْ الْهَوَى تَسْلَمْ ، وَاعْرِضْ عَنْ الدُّنْيَا تَغْنَمْ ، وَلَا يَغُرَّنَّكَ هَوَاك بِطَيِّبِ الْمَلَاهِي وَلَا تَفْتِنُك دُنْيَاك بِحُسْنِ الْعَوَارِيّ .

فَمُدَّةُ اللَّهْوِ تَنْقَطِعُ وَعَارِيَّةُ الدَّهْرِ تُرْتَجَعُ ، وَيَبْقَى عَلَيْك مَا تَرْتَكِبُهُ مِنْ الْمَحَارِمِ ، وَتَكْتَسِبُهُ مِنْ الْمَآثِمِ .

Dan sesungguhnya sebagian orang cerdas telah menggambarkan keadaan hawa nafsu dan cobaan dunia yang menyertainya, dengan berkata: “Nafsu adalah tunggangan fitnah, dan dunia adalah tempat cobaan. Turunlah dari hawa nafsu agar selamat, dan berpalinglah dari dunia agar untung. Jangan sampai nafsumu menipu dengan kenikmatan yang menawan, dan jangan sampai duniamu memfitnah dengan kecantikan dan pesona yang menipu.

Sesungguhnya kesenangan dunia bersifat sementara dan cepat berlalu, dan kemewahan zaman akan kembali lenyap, tetapi yang tetap menimpamu adalah apa yang kamu lakukan dari hal-hal terlarang dan dosa-dosa yang kamu peroleh."


وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْجَعْفَرِيُّ : سَمِعَتْنِي امْرَأَةٌ بِالطَّوَافِ ، وَأَنَا أُنْشِدُ :

أَهْوَى هَوَى الدِّينِ وَاللَّذَّاتُ تُعْجِبُنِي # فَكَيْفَ لِي بِهَوَى اللَّذَّاتِ وَالدِّينِ


فَقَالَتْ : هُمَا ضَرَّتَانِ فَذَرْ أَيَّهُمَا شِئْت وَخُذْ الْأُخْرَى .

Dan berkata Ali bin Abdullah al-Ja‘fari: Seorang wanita mendengarkanku saat thawaf, ketika aku melantunkan:

Aku menyukai nafsu agama, dan kesenangan menarikku, bagaimana mungkin bagiku menyeimbangkan kesenangan dan agama?

Lalu dia berkata: 'Keduanya adalah bahaya, maka tinggalkan salah satunya yang kamu suka, dan ambillah yang lain.'


Baca juga: Perbedaan Antara Hawa Nafsu Dan Syahwat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

الا لا تنال العلم الا بستة

Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur

Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu