Anjuran Untuk Menuntut Ilmu Dan Memurnikan Niat Di Dalamnya


 الترغيب فى طلب العلم واخلاص النيية فيه

Anjuran Untuk Menuntut Ilmu Dan Memurnikan Niat Di Dalamnya


فَيَنْبَغِي لِمَنْ زَهِدَ فِي الْعِلْمِ أَنْ يَكُونَ فِيهِ رَاغِبًا وَلِمَنْ رَغِبَ فِيهِ أَنْ يَكُونَ لَهُ طَالِبًا ، وَلِمَنْ طَلَبَهُ أَنْ يَكُونَ مِنْهُ مُسْتَكْثَرًا ، وَلِمَنْ اسْتَكْثَرَ مِنْهُ أَنْ يَكُونَ بِهِ عَامِلًا ، وَلَا يَطْلُبُ لِتَرْكِهِ احْتِجَاجًا وَلَا لِلتَّقْصِيرِ فِيهِ عُذْرًا .

Maka sebaiknya bagi orang yang merasa zuhud (tidak terlalu tertarik) terhadap ilmu, agar dia tetap memiliki keinginan di dalamnya; dan bagi orang yang memiliki keinginan terhadap ilmu, agar dia menjadi seorang pencari ilmu; dan bagi orang yang menuntut ilmu, hendaknya dia mengambilnya sebanyak-banyaknya; dan bagi orang yang telah mengambil banyak ilmu, hendaknya dia mengamalkannya; dan jangan menuntut ilmu hanya untuk dijadikan alasan meninggalkannya, dan jangan pula menuntut ilmu untuk dijadikan alasan bermalas-malasan dalam mengamalkannya


وَقَدْ قَالَ الشَّاعِرُ :

فَلَا تَعْذِرَانِي فِي الْإِسَاءَةِ إنَّهُ # شِرَارُ الرِّجَالِ مَنْ يُسِيءُ فَيُعْذَرُ

Dan sang penyair telah berkata:

Jangan memberi saya alasan atas perbuatan buruk, sesungguhnya termasuk orang terburuk adalah orang yang berbuat jahat lalu mencari pembenaran


وَلَا يُسَوِّفُ نَفْسَهُ بِالْمَوَاعِيدِ الْكَاذِبَةِ وَيُمَنِّيهَا بِانْقِطَاعِ الْأَشْغَالِ الْمُتَّصِلَةِ ، فَإِنَّ لِكُلِّ وَقْتٍ شُغْلًا وَلِكُلِّ زَمَانٍ عُذْرًا .

Dan janganlah seseorang menunda-nunda dirinya dengan janji-janji palsu, atau memberi harapan bahwa kesibukan akan berakhir, karena setiap waktu memiliki kesibukan, dan setiap masa memiliki alasan.


وَقَالَ الشَّاعِرُ :

نَرُوحُ وَنَغْدُو لِحَاجَاتِنَا # وَحَاجَةُ مَنْ عَاشَ لَا تَنْقَضِي

تَمُوتُ مَعَ الْمَرْءِ حَاجَاتُهُ # وَتَبْقَى لَهُ حَاجَةٌ مَا بَقِيَ

Dan sang penyair berkata:

Kita pergi dan kembali (sibuk) untuk memenuhi kebutuhan kita, dan kebutuhan orang yang hidup tidak pernah habis

Kebutuhan manusia mati bersamanya, tetapi selalu ada kebutuhan yang tetap ada selama dia hidup


وَيَقْصِدُ طَلَبَ الْعِلْمِ وَاثِقًا بِتَيْسِيرِ اللَّهِ قَاصِدًا وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى بِنِيَّةٍ خَالِصَةٍ وَعَزِيمَةٍ صَادِقَةٍ .

Dan dia meniatkan menuntut ilmu dengan keyakinan akan kemudahan dari Allah, mengharap ridha Allah Ta’ala, dengan niat yang tulus dan tekad yang jujur.


فَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ وَأَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ } .

Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: “Barang siapa menuntut ilmu bukan karena Allah dan menginginkan sesuatu selain ridha Allah dengannya, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka.”


وَرَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يُرْفَعَ ، وَرَفْعُهُ ذَهَابُ أَهْلِهِ .

فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي مَتَى يَحْتَاجُ إلَيْهِ أَوْ مَتَى يَحْتَاجُ إلَى مَا عِنْدَهُ } .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Pelajarilah ilmu sebelum diangkat (hilang), karena diangkatnya ilmu berarti hilangnya para pemiliknya. Sesungguhnya salah seorang dari kalian tidak tahu kapan dia akan membutuhkan ilmu itu atau kapan orang lain akan membutuhkan apa yang dia miliki.”


وَلْيَحْذَرْ أَنْ يَطْلُبَهُ لِمِرَاءٍ أَوْ رِيَاءٍ فَإِنَّ الْمُمَارِيَ بِهِ مَهْجُورٌ لَا يَنْتَفِعُ ، وَالْمُرَائِيَ بِهِ مَحْقُورٌ لَا يَرْتَفِعُ .

Dan hendaknya dia berhati-hati agar tidak menuntut ilmu untuk berdebat atau untuk riya (pamer), karena orang yang berdebat dengannya akan ditinggalkan dan tidak mendapat manfaat, dan orang yang riya dengan ilmu itu akan direndahkan dan tidak akan tinggi derajatnya.


وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ ، وَلَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُجَادِلُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَالنَّارُ مَثْوَاهُ } .

Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: “Jangan menuntut ilmu untuk berdebat dengan orang bodoh, dan jangan menuntut ilmu untuk beradu argumentasi dengan para ulama. Barang siapa melakukan itu di antara kalian, maka neraka adalah tempatnya.”


وَلَيْسَ الْمُمَارِي بِهِ هُوَ الْمُنَاظِرُ فِيهِ طَلَبًا لِلصَّوَابِ مِنْهُ ، وَلَكِنَّهُ الْقَاصِدُ لِدَفْعِ مَا يَرِدُ عَلَيْهِ مِنْ فَاسِدٍ أَوْ صَحِيحٍ .

Dan orang yang berdebat dengan ilmu bukanlah orang yang bertujuan untuk mencari kebenaran darinya, tetapi dia hanya bermaksud untuk menangkis hal-hal yang datang kepadanya, baik yang salah maupun yang benar.


وَفِيهِمْ جَاءَتْ السُّنَّةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { لَا يُجَادِلُ إلَّا مُنَافِقٌ أَوْ مُرْتَابٌ } .

Dan dalam hal ini datanglah sunnah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada yang berdebat kecuali seorang munafik atau orang yang ragu.”


وَقَالَ الْأَوْزَاعِيُّ : إذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ شَرًّا أَعْطَاهُمْ الْجَدَلَ ، وَمَنَعَهُمْ الْعَمَلَ .

Dan Al-Awza’i berkata: “Apabila Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum, Dia memberi mereka kemampuan untuk berdebat, tetapi Dia menahan mereka dari beramal.”


وَأَنْشَدَ الرِّيَاشِيُّ لِمُصْعَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ :

أُجَادِلُ كُلَّ مُعْتَرِضٍ ظَنِينِ # وَأَجْعَلُ دِينَهُ غَرَضًا لِدِينِي

وَأَتْرُكُ مَا عَمِلْتُ لِرَأْيِ غَيْرِي # وَلَيْسَ الرَّأْيُ كَالْعِلْمِ الْيَقِينِ

وَمَا أَنَا وَالْخُصُومَةُ وَهِيَ شَيْءٌ # يُصْرَفُ فِي الشِّمَالِ وَفِي الْيَمِينِ

فَأَمَّا مَا عَلِمْت فَقَدْ كَفَانِي # وَأَمَّا مَا جَهِلْت فَجَنِّبُونِي

Dan Al-Riyashi melantunkan syair untuk Mus’ab bin Abdullah:

Aku berdebat dengan setiap orang yang menentangku dengan dugaan semata, dan aku menjadikan agamanya sebagai tujuan untuk agamaku sendiri

Aku meninggalkan apa yang telah kulakukan demi pendapat orang lain, padahal pendapat bukanlah seperti ilmu yang pasti

Aku dan perselisihan itu hanyalah sesuatu yang bisa dialihkan ke kiri dan kanan

Adapun apa yang aku ketahui, itu sudah cukup bagiku, dan apa yang aku tidak ketahui, jauhkanlah dariku


وَقَدْ بَيَّنَ ذَلِكَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ : لَا يَمْنَعَنَّكَ حَذَرُ الْمِرَاءِ مِنْ حُسْنِ الْمُنَاظَرَةِ ، فَإِنَّ الْمُمَارِيَ هُوَ الَّذِي لَا يُرِيدُ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْهُ أَحَدٌ وَلَا يَرْجُو أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ أَحَدٍ .

Dan hal itu telah dijelaskan oleh sebagian ulama, beliau berkata kepada temannya: “Jangan sampai rasa takut terhadap perdebatan menghalangimu dari berargumentasi dengan baik, karena orang yang berdebat (secara tercela) adalah orang yang tidak ingin orang lain belajar darinya dan juga tidak berharap untuk belajar dari orang lain.”


Baca juga: Pendorong Seseorang Untuk Menuntut Ilmu Adalah Karena Harapan Atau Karena Rasa Takut

Komentar

Postingan Populer