Hal-hal penting dalam ruqyah (pengobatan dengan bacaan syar’i) dan keanehan para peruqyah

أمور مهمة في الرقية

Hal-hal penting dalam Ruqyah (pengobatan dengan bacaan syar’i)


من الأمور الهامة التي يجب أن يراعيها المريض قبل الذهاب لشخص بقصد الرقية:

Di antara hal-hal penting yang harus diperhatikan oleh orang sakit sebelum pergi kepada seseorang untuk tujuan ruqyah adalah:


1)- التحري والتثبت والتأكد من منهج الراقي وسلامة عقيدته وتوجهه:

فانتفاء هذه المقومات لدى المعالج تورث إثما عظيما للمريض لعدم تثبته منها ومن كافة الجوانب المتعلقة بها، ولا بد أن يعلم أن فاقد الشيء لا يعطيه، وهنا تكمن أهمية سؤال العلماء وطلبة العلم الثقاة .

1) Meneliti, memastikan, dan mengecek manhaj (cara beragama), akidah (keyakinan), dan arah pemikiran sang peruqyah.

Karena jika syarat-syarat ini tidak ada pada orang yang mengobati, maka itu dapat menimbulkan dosa besar bagi pasien karena tidak memastikan hal tersebut dan aspek-aspek yang berkaitan dengannya.

Perlu diketahui bahwa orang yang tidak memiliki sesuatu tidak bisa memberikannya. Di sinilah pentingnya bertanya kepada ulama dan penuntut ilmu yang terpercaya.


2)- الحذر من الاستجابة للعامة فيما يختص بالعلاج أو المشورة: -

أو الذهاب معهم إلى أناس يزعمون أنهم يرقون وهم حقيقة من الجهلة أو الدجالين والسحرة والمشعوذين .

2) Berhati-hati dari mengikuti orang awam dalam urusan pengobatan atau meminta nasihat.

Atau pergi bersama mereka kepada orang-orang yang mengaku bisa meruqyah, padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang bodoh, dukun, tukang sihir, atau penipu.


3)- يجب الحرص على أصول العقيدة والعودة في كل المسائل التي قد تشكل على المصاب إلى العلماء وطلبة العلم: -

وربما ذهب الشخص إليهم فيقع فريسة لعبثهم واحتيالهم، وقد يزين الشيطان للمصاب الشفاء بعد ذهابه لهذا الجاهل أو الساحر أو الكاهن فيفقد دينه وماله وصحة بدنه، ولو صح بدنه لكانت خسارته في دينه فادحة لا تعادل ما كسبه، وبقاء المرض مع حفظ العقيدة والصبر وتحمل الابتلاء فيه أجر عظيم وثواب جزيل، إذا احتسب ذلك عند الله - سبحانه وتعالى - .

3) Wajib menjaga prinsip-prinsip akidah dan mengembalikan setiap persoalan yang membingungkan orang yang terkena musibah (penyakit) kepada para ulama dan penuntut ilmu.

Bisa jadi seseorang pergi kepada mereka (orang yang tidak benar), lalu ia menjadi korban permainan dan tipu daya mereka.

Terkadang setan menghiasi (membuat seolah-olah baik) bagi orang yang sakit itu kesembuhan setelah ia pergi kepada orang bodoh, tukang sihir, atau dukun.

Akhirnya ia kehilangan agamanya, hartanya, dan kesehatan tubuhnya.

Kalaupun tubuhnya sembuh, maka kerugiannya dalam agama sangat besar dan tidak sebanding dengan apa yang ia peroleh.

Dan tetapnya penyakit dengan tetap terjaganya akidah, disertai kesabaran serta keteguhan dalam menghadapi ujian, itu memiliki pahala yang besar dan ganjaran yang banyak, jika ia mengharap pahala tersebut di sisi Allah سبحانه وتعالى.


4)- وكل ذلك لا يقاس بعدد رواد فلان من الناس: -

بل الأساس في ذلك التثبت من المنهج والمسلك وصحة العقيدة لذلك الرجل، وهذه مسؤوليتنا جميعا، فإن كانت كل تلك المقومات صحيحة سوية لا يشوبها شك أو لبس ونحوه، إضافة إلى إقرار العلماء وطلبة العلم لذلك المعالج، عند ذلك يكون الأمر قد سلك المسلك الشرعي الذي لا بد أن يكون عليه، إضافة للمتابعة والتوجيه والإرشاد، أما ارتياد هؤلاء الجهلة بناء على قول فلان وفلانة وازدحام الناس عليه، فهذا من أعظم الجهل، ولا غرابة فسوف تتبدد الحيرة والدهشة، عند الحديث عن المخالفات الشرعية لدى بعض المعالجين، والتي سوف يتضح من خلال اقتراف بعضها تدمير العقائد وتشتيت الأفكار، مع أن الواجب الشرعي يملي مخافة الله وتقواه لكل من يتصدر ذلك الأمر، والذي نراه اليوم ونسمعه أن هذه الفئة استغلت ضعاف الإيمان وحاجتهم للعلاج فأصبحت تنفث سمومها بادعاء الرقية الشرعية، ولا يسعني في هذا المقام إلا أن أبين بأن البعض بتصرفاته وأفعاله، يقوم بعمل لا يقل خطورة عما يقوم به السحرة والمشعوذون، فإلى الله المشتكى، ولا حول ولا قوة إلا بالله .

4) Semua itu tidak diukur dari banyaknya orang yang mendatangi seseorang.

Akan tetapi, yang menjadi dasar adalah memastikan manhaj (metode/ajaran), jalan yang ditempuh, dan kebenaran akidah orang tersebut. Ini adalah tanggung jawab kita semua.

Jika semua kriteria itu benar dan lurus, tidak ada keraguan atau kesamaran padanya, serta ada pengakuan dari para ulama dan penuntut ilmu terhadap orang yang mengobati tersebut, maka saat itu urusannya telah menempuh jalan syar’i (yang sesuai syariat), disertai dengan pengawasan, arahan, dan bimbingan.

Adapun mendatangi orang-orang bodoh hanya karena si Fulan dan si Fulanah mengatakan demikian, atau karena banyaknya orang yang berdesakan mendatanginya, maka itu termasuk kebodohan besar.

Tidaklah mengherankan jika kebingungan dan keheranan akan hilang ketika dibicarakan pelanggaran-pelanggaran syariat yang dilakukan sebagian para pengobat. Dari sebagian pelanggaran itu akan tampak bagaimana akidah bisa dirusak dan pikiran dipecah-belah.

Padahal kewajiban syariat mengharuskan takut kepada Allah dan bertakwa bagi siapa pun yang tampil dalam urusan ini.

Yang kita lihat dan dengar hari ini adalah bahwa sebagian golongan ini memanfaatkan orang-orang yang lemah imannya dan kebutuhan mereka terhadap pengobatan, lalu mereka menyebarkan racun dengan mengatasnamakan ruqyah syar’iyyah.

Dalam kesempatan ini saya hanya bisa menjelaskan bahwa sebagian orang, melalui tindakan dan perbuatannya, melakukan sesuatu yang tidak kalah berbahaya dibandingkan dengan apa yang dilakukan para tukang sihir dan dukun.

Kepada Allah-lah kita mengadu, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.


وتحت هذا العنوان لا بد من الإشارة الإجمالية لبعض النقاط التي لا بد من الإهتمام بها لإلقاء نظرة عامة على المعالج وتقييمه وتحديد منهجه وطريقته، ويجب الحرص أن تكون هذه النظرة نظرة شمولية لا تقتصر على جوانب معينة دون الإهتمام بالجوانب الأخرى التي بمجملها تحدد طبيعة الشخص ومنهجه ومدى اتساق طريقته مع منهج أهل السنة والجماعة، وأوجز ذلك بالأمور التالية:

Di bawah judul ini perlu disebutkan secara umum beberapa poin penting yang harus diperhatikan untuk melihat gambaran menyeluruh tentang seorang pengobat (peruqyah), menilainya, serta menentukan manhaj (metode) dan caranya.

Harus diperhatikan bahwa penilaian ini bersifat menyeluruh, tidak hanya fokus pada satu sisi saja dan mengabaikan sisi lainnya, karena keseluruhan aspek itulah yang menentukan hakikat seseorang, manhajnya, dan sejauh mana metodenya sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Hal itu diringkas dalam poin-poin berikut:


1)- صحة العقيدة، فمن فسدت عقيدته فلن يقبل الله منه صرفاً ولا عدلاً ولقي الله وهو عليه غاضب، فلا يجوز الذهاب مطلقاً إلى من اتخذ مسلكاً وطريقاً غير طريق رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وصحابته والتابعين ومن سار على نهجهم من السلف الصالح رضوان الله - تعالى -عليهم أجمعين، خاصة بعض أصحاب الطرق الصوفية البدعية، فقد وصلت بدعهم إلى حد يفوق الوصف والتصور في مسائل الرقية والعلاج والاستشفاء .

1) Benarnya akidah.

Barang siapa rusak akidahnya, maka Allah tidak akan menerima darinya amalan wajib maupun sunnah, dan ia akan bertemu Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.

Maka tidak boleh sama sekali pergi kepada orang yang menempuh jalan selain jalan Rasulullah ﷺ, para sahabatnya, para tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti manhaj salafus shalih (generasi saleh terdahulu).

Terutama sebagian pengikut tarekat sufi yang bid’ah, karena sebagian bid’ah mereka dalam masalah ruqyah, pengobatan, dan penyembuhan telah sampai pada tingkat yang sulit digambarkan dan dijelaskan.

2)- إخلاص العمل، فلا بد أن تكون الغاية والهدف من الاشتغال في هذا العلم هو التقرب إلى الله - سبحانه وتعالى - ثم تفريج كربة المكروبين والوقوف معهم وتوجيههم الوجهة الشرعية في مواجهة هذه الأمراض على اختلاف أنواعها ومراتبها، لا كما يشاهد اليوم من ابتزاز فاضح لأموال المسلمين، واتخاذ طرق شيطانية في سبيل تحصيل ذلك، ومنها بيع ماء زمزم بقيمة قدرها ستون ريالاً سعودياً، حتى وصل الأمر بالبعض لنظرة يشوبها الكره والحقد على أمثال هؤلاء الذين لم يرعوا في مسلم إلا ولا ذمة .

2) Ikhlas dalam beramal.

Haruslah tujuan dan maksud dari menekuni ilmu ini (ruqyah/pengobatan syar’i) adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, kemudian untuk meringankan kesusahan orang-orang yang tertimpa musibah, berdiri bersama mereka, serta membimbing mereka sesuai tuntunan syariat dalam menghadapi berbagai macam penyakit dengan berbagai tingkatannya.

Bukan seperti yang terlihat sekarang, berupa pemerasan terang-terangan terhadap harta kaum Muslimin, serta menggunakan cara-cara setan untuk mendapatkan keuntungan tersebut.

Di antaranya menjual air zamzam dengan harga enam puluh riyal Saudi. Bahkan sampai pada keadaan sebagian orang memandang dengan kebencian dan kedengkian terhadap orang-orang seperti itu, yang tidak menjaga hak dan kehormatan seorang Muslim sedikit pun.


3)- العلم الشرعي، وبالقدر التي يحتاجه المعالج في حياته لمتابعة الطريق القويم الذي يؤصل في نفسيته تقوى الله - سبحانه - أولاً، ثم توقّي الابتداع في مسائل الرقية، فلا يأخذ من هذا العلم إلا ما أقرته الشريعة أو أيده علماء الأمة وأئمتها .

3) Ilmu syar’i (ilmu agama).

Yaitu kadar ilmu yang dibutuhkan oleh seorang pengobat (peruqyah) dalam kehidupannya untuk tetap berjalan di atas jalan yang lurus, yang menanamkan dalam dirinya ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu.

Kemudian agar ia dapat menghindari perbuatan bid’ah dalam masalah ruqyah.

Sehingga ia tidak mengambil dari ilmu ini (ruqyah) kecuali apa yang telah ditetapkan oleh syariat atau yang didukung oleh para ulama dan imam umat Islam.


4)- المظهر والسمت الإسلامي، فمن الأمور التي لا بد أن يهتم بها المرضى مظهر المعالج العام من حيث التزامه بالسنة في شكله ومظهره، والمعنيّ من هذا إطلاق اللحية وتقصير الثوب ونحو ذلك من أمور أخرى، مع الالتزام في التطبيق العملي قدر المستطاع لنصوص الكتاب والسنة، واقتفاء آثار الصحابة والتابعين وسلف هذه الأمة وأئمتها .

4) Penampilan dan sikap Islami.

Di antara hal yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang sakit adalah penampilan umum seorang pengobat (peruqyah), dari sisi komitmennya terhadap sunnah dalam bentuk dan tampilannya.

Yang dimaksud di sini adalah seperti memelihara jenggot, memendekkan pakaian (tidak melebihi mata kaki), dan hal-hal lain yang serupa.

Disertai dengan komitmen dalam penerapan praktis terhadap nash Al-Qur’an dan Sunnah semampu mungkin, serta mengikuti jejak para sahabat, tabi’in, salaf umat ini, dan para imamnya.


5)- المحافظة على الفرائض والنوافل، من حيث أداء الصلوات مع الجماعة والمحافظة عليها في وقتها ونحو ذلك من أمور العبادات الأخرى.

5) Menjaga kewajiban dan amalan sunnah.

Yaitu dengan melaksanakan salat berjamaah dan menjaganya pada waktunya, serta memperhatikan ibadah-ibadah lainnya yang bersifat wajib maupun sunnah.


6)- الورع والتقى، وهي من أهم الصفات التي لا بد من الاهتمام بها وتوفرها في المعالج لكي يستطيع تقديم صورة بيضاء ناصعة عن هذا الدين وأهله، ويجب على المعالِج تقوى الله - سبحانه وتعالى - في السر والعلن، والتورع قدر المستطاع في التعامل مع المرضى، ويجب أن تكون غايته وهدفه مرضاة الله - سبحانه وتعالى -، لا كما يفعل بعض المعالجين اليوم، فتقتصر النظرة إلى ما في جيوب المرضى من دينار ودرهم، ونسوا أو تناسوا ما عند الله - سبحانه وتعالى - من نعيم مقيم لا يفنى ولا يبلى، وفيه الخلود والسعادة الأبدية.

6) Wara’ dan takwa.

Keduanya termasuk sifat yang paling penting yang harus diperhatikan dan dimiliki oleh seorang pengobat (peruqyah), agar ia dapat menampilkan gambaran yang bersih dan mulia tentang agama ini dan para pemeluknya.

Seorang pengobat harus bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, serta bersikap wara’ (berhati-hati dari yang syubhat dan haram) semampunya dalam berinteraksi dengan para pasien.

Tujuan dan niatnya haruslah mencari keridaan Allah سبحانه وتعالى.

Bukan seperti sebagian pengobat pada masa kini, yang pandangannya hanya tertuju pada dinar dan dirham di kantong pasien, sementara mereka lupa atau melupakan apa yang ada di sisi Allah berupa kenikmatan abadi yang tidak akan habis dan rusak, yaitu kekekalan dan kebahagiaan selamanya.


7)- التواضع وخفض الجناح والبشاشة ورحابة الصدر، وحقيقة الأمر أن هذا الموضوع من الأمور المهمة التي لا بد من الاهتمام بها غاية الإهتمام لكلا الطرفين المعالِج والمعالَج، حيث أصبحنا نرى كثيراً ممن سلك طريق الرقية الشرعية وبدأ فيها بداية طيبة محمودة، أصبحت تراه بعد فترة من الزمن يمشي مشية المتكبرين ويتكلم بكلام المترفعين، وينظر إلى الناس من حوله نظرة احتقار وازدراء، وهذا والله هو الخسران المبين، ولا بد للمعالج من تقوى الله - سبحانه وتعالى - وإعادة الأمر كله له، فلولا حفظ الله - سبحانه وتعالى - له لتلقفته الشياطين منذ أمد بعيد، فليشكر الله، وليعامل الناس بما يحب أن يعامل، فعليه أن يكون متواضعاً ليناً، البشاشة تعلو محياه، وخفظ الجناح أساس مسعاه، فيصبر على المرضى ويتفاعل مع مشاعرهم وأحزانهم، ويظهر لهم حقيقتةً أنه يشاركهم فيما يحملون من مرض وابتلاء، وعندئذ سوف يكون التواصل بين المعالج والمريض، ومن ثم تتجسد المحبة والألفة وهذا من أكبر دواعي الشفاء بإذن الله - سبحانه وتعالى -.

7) Rendah hati, lemah lembut, ramah, dan lapang dada.

Sesungguhnya hal ini termasuk perkara penting yang harus sangat diperhatikan oleh kedua belah pihak, baik pengobat (peruqyah) maupun orang yang diobati.

Kita melihat banyak orang yang menempuh jalan ruqyah syar’iyyah dengan awal yang baik dan terpuji, namun setelah beberapa waktu justru berjalan dengan gaya orang-orang yang sombong, berbicara dengan nada tinggi dan merendahkan, serta memandang orang lain dengan hina dan meremehkan.

Demi Allah, itulah kerugian yang nyata.

Seorang pengobat harus bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى dan mengembalikan seluruh urusannya kepada-Nya. Kalau bukan karena penjagaan Allah, niscaya setan telah menjerumuskannya sejak lama. Maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah dan memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan.

Ia harus menjadi pribadi yang rendah hati, lembut, wajahnya dipenuhi keramahan, dan sikap tawaduk menjadi dasar langkahnya.

Ia harus sabar menghadapi pasien, memahami perasaan dan kesedihan mereka, serta menunjukkan bahwa ia benar-benar ikut merasakan penderitaan dan ujian yang mereka alami.

Dengan demikian akan terjalin komunikasi yang baik antara pengobat dan pasien, lalu tumbuhlah rasa cinta dan kedekatan. Dan itu termasuk sebab terbesar datangnya kesembuhan dengan izin Allah سبحانه وتعالى.


8)- المنطق والحديث، وأعني بذلك أن المعالج لا بد أن يكون له منهجاً واضحاً يعتمد أساساً على مرجعية الكتاب والسنة وأقوال علماء الأمة الأجلاء، وعليه أن يعود في المسائل المشكلة إلى العلماء وطلبة العلم للإسترشاد بآرائهم والتوجه بتوجيهاتهم، لا كما يفعل كثير من جهلة المعالجين فجعلوا قائدهم في التوجه والتصرف الأهواء والشهوات وأصبحوا وكأنما يمتلكون علماً لدنياً لم يحزه أحدٌ سواهم، بل أصبحوا وكأنما قد جمعوا العلم من أطرافه،

8) Logika dan cara berbicara.

Yang saya maksud adalah bahwa seorang pengobat (peruqyah) harus memiliki manhaj (metode) yang jelas, yang pada dasarnya bersandar kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta perkataan para ulama besar umat ini.

Ia harus mengembalikan persoalan-persoalan yang sulit kepada para ulama dan penuntut ilmu untuk meminta arahan dan bimbingan mereka.

Bukan seperti yang dilakukan banyak pengobat yang bodoh, yang menjadikan hawa nafsu dan keinginan sebagai pemimpin dalam bersikap dan bertindak.

Mereka seolah-olah merasa memiliki ilmu langsung (ilmu ladunni) yang tidak dimiliki orang lain, bahkan seakan-akan telah menguasai seluruh cabang ilmu dari berbagai sisinya.


9)- التعامل مع النساء، ومما يجب الاهتمام به من قبل المرضى تعامل المعالِج مع النساء،

9) Cara berinteraksi dengan wanita.

Di antara hal yang harus diperhatikan oleh para pasien adalah bagaimana seorang pengobat (peruqyah) berinteraksi dengan wanita.

وإليك قصة أحدهم نقلاً عمن راجع هذا المعالج:

جاءني رجل في العقد الثالث من عمره وقد رأيته حالق الرأس فسألته عن سبب ذلك، فأخبرني بأنه قد راجع معالجاً فأشار عليه بحلق رأسه والعودة إليه مرة ثانية، ففعل، وما أن عاد إلى هذا المعالج حتى أخذ يعمد لإجراء قياسات له في رأسه بواسطة (المغيض مطاط)، ويكون ذلك القياس عرضاً وطولاً فإن توافق القياس فالرجل سليم، وإن لم يتوافق هذا القياس فالرجل يعاني من أمر ما، وبعد انتهاء المعالج من أخذ قياسات جميع أنحاء الرأس، أشار هذا المعالج الحاذق الجاهل بمعاناة الرجل من تنسيم في الرأس؟؟؟!!! .

ليس هذا فحسب، إنما واجب المعالج أن يحرص كل الحرص على كل كلمة يقولها أو يتفوه بها وأن يضبطها بالشريعة أولاً، وأن تضبط بسلامة الناحية العضوية والنفسية ثانياً، بل يجب عليه أن يحرص على نمط العلاقات الإجتماعية بين الأسر، فلا يتكلم بما قد يؤدي إلى الفرقة أو قطيعة الرحم دون القرائن والأدلة القطعية، وكذلك مراعاة المصالح والمفاسد، وقد يعجب الكثير من هذا الكلام، ولكنه واقع كثير من المعالجين الذين أساؤوا السلوك والتصرف، وبناء على التصرفات الهوجاء لهذا الصنف من المعالجين ترى فلان قد طلق زوجته، وآخر قد قذف أهله بالسحر والعين، وثالث ترك بيته ورابع وخامس، وكل ذلك ما كان لولا تفشي الجهل في تلك الفئة التي لم تراعي إلا ولا ذمة في مسلم قط، ومن هنا فلا بد أن يحرص المعالج على قوله وعمله، فلربما تكلم بكلام أو فعل فعلاً كلفه الكثير في الدنيا والآخرة.

Berikut ini adalah kisah salah satu orang, dinukil dari seseorang yang pernah mendatangi seorang pengobat:

Seorang pria berusia sekitar tiga puluhan datang kepadaku. Aku melihat kepalanya dicukur habis, lalu aku bertanya tentang sebabnya.

Ia menjelaskan bahwa ia pernah mendatangi seorang pengobat, lalu pengobat tersebut menyarankan agar ia mencukur rambutnya dan kembali lagi untuk pemeriksaan kedua.

Ia pun melakukannya. Ketika kembali, pengobat itu mulai melakukan pengukuran pada kepalanya menggunakan alat (seperti pita ukur karet), mengukur panjang dan lebar kepala.

Jika ukuran tersebut “sesuai”, maka orang itu dianggap sehat. Jika tidak sesuai, maka dianggap menderita sesuatu.

Setelah selesai mengukur seluruh bagian kepala, pengobat yang “cerdik namun bodoh” itu menyatakan bahwa pria tersebut menderita “tensin/angin di kepala” (istilah yang tidak jelas secara medis maupun syar’i).

Bukan hanya itu. Seorang pengobat wajib berhati-hati dalam setiap kata yang diucapkannya, dan harus menimbangnya dengan syariat terlebih dahulu, serta memastikan dari sisi kesehatan fisik dan psikologis.

Ia juga harus memperhatikan dampak sosial dalam hubungan keluarga, tidak berbicara sembarangan yang bisa menyebabkan perpecahan atau putusnya hubungan keluarga tanpa bukti dan dalil yang jelas.

Ia juga harus mempertimbangkan manfaat dan mudarat dari ucapannya.

Sebagian orang mungkin heran dengan peringatan ini, namun inilah kenyataan dari banyak pengobat yang buruk perilaku dan tindakannya.

Akibat tindakan ceroboh mereka, ada yang menceraikan istrinya, ada yang menuduh keluarganya melakukan sihir atau ‘ain (mata jahat), ada yang meninggalkan rumahnya, dan lain-lain.

Semua itu terjadi karena tersebarnya kebodohan pada sebagian pengobat yang tidak menjaga hak dan kehormatan seorang Muslim.

Karena itu, pengobat harus berhati-hati dalam ucapan dan tindakannya. Bisa jadi satu ucapan atau perbuatannya membawa kerugian besar baginya di dunia dan akhirat.


وكل ما ذكر تحت هذا العنوان يعطي الإنطباع الحقيقي والرؤية الساطعة عن حقيقة المعالج وتوجهه وغاياته وأهدافه، ولا بد للمرضى من الاهتمام غاية الاهتمام بهذه الأمور وقياس كل ذلك على من تصدر الرقية والعلاج، وواجب المريض يحتم أحياناً تقديم النصح والإرشاد فيما يراه من تجاوزات في بعض الأمور المذكورة آنفاً، وأحياناً أخرى يكون واجباً شرعياً على المسلم رفع أمر بعض هؤلاء لولاة الأمر وأهل الحسبة للنظر في أمرهم وتحري ما يقومون به من أفعال تخالف الأسس والقواعد والأخلاقيات في الرقية والعلاج، وحقيقة الأمر أن هذا الأمر مسؤولية الجميع ابتداء من ولي الأمر وأهل الحسبة والعلماء وطلبة العلم والدعاة، فيجب تظافر الجهود في تقييم ما هو موجود على الساحة اليوم، فمن أراد أن يقدم لهذا الدين فنعما هو، ومن أراد العبث بالعقيدة والقيم والأخلاق فليس بلد التوحيد مجالاً لذلك كله، وهذا ما عهدناه من ولاة الأمر ومن خلفهم العلماء وطلبة العلم والدعاة في هذا البلد الطيب، يقفون صفاً واحداً للذود عن حمى العقيدة وصونها وحفظها من دجل الدجالين ودعوى المدعين، فأسأل الله - سبحانه وتعالى - أن يحفظ الجميع وأن يوفقهم في هذا العمل المبارك إنه على كل شيء قدير .

Semua yang telah disebutkan di bawah judul ini memberikan gambaran yang jelas dan nyata tentang hakikat seorang pengobat (peruqyah), arah pemikirannya, serta tujuan dan maksudnya.

Para pasien harus benar-benar memperhatikan hal-hal tersebut dan menjadikannya sebagai ukuran dalam menilai orang yang tampil dalam bidang ruqyah dan pengobatan.

Terkadang menjadi kewajiban pasien untuk memberikan nasihat dan arahan apabila melihat adanya pelanggaran dalam sebagian hal yang telah disebutkan sebelumnya.

Dan dalam kondisi tertentu, menjadi kewajiban syar’i bagi seorang Muslim untuk melaporkan sebagian orang tersebut kepada penguasa dan pihak berwenang (ahlul hisbah) agar diteliti urusan mereka dan diperiksa perbuatan-perbuatan yang menyelisihi dasar, kaidah, dan etika dalam ruqyah dan pengobatan.

Hakikatnya, tanggung jawab ini adalah tanggung jawab bersama, mulai dari penguasa, aparat pengawasan, para ulama, penuntut ilmu, dan para da’i.

Harus ada kerja sama dalam mengevaluasi praktik yang ada di lapangan saat ini.

Siapa yang ingin berkhidmat untuk agama ini, maka itu adalah kebaikan yang besar.

Namun siapa yang ingin merusak akidah, nilai-nilai, dan akhlak, maka negeri tauhid bukanlah tempat untuk hal tersebut.

Inilah yang telah kita kenal dari para penguasa dan di belakang mereka para ulama, penuntut ilmu, dan para da’i di negeri yang baik ini, mereka berdiri dalam satu barisan untuk menjaga dan membela akidah dari tipu daya para penipu dan klaim orang-orang yang mengaku-ngaku.

Maka saya memohon kepada Allah سبحانه وتعالى agar menjaga semuanya dan memberikan taufik dalam pekerjaan yang penuh berkah ini. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dari kitab: أمور مهمة في الرقية وعجائب الرقاة

Baca juga: keutamaan-akal-dan-celaan-terhadap hawa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

الا لا تنال العلم الا بستة

Kunci Sukses Menuntut Ilmu Fasal 5

Kunci Sukses Menuntut Ilmu Fasal 4