Penambahan / Peningkatan Akal Yang Diperoleh (Melalui Pembelajaran Dan Usaha)

 

زيادة العقل المكتسب

Penambahan / Peningkatan Akal Yang Diperoleh (Melalui Pembelajaran Dan Usaha)


وَاخْتَلَفَ النَّاسُ فِي الْعَقْلِ الْمُكْتَسَبِ إذَا تَنَاهَى وَزَادَ هَلْ يَكُونُ فَضِيلَةً أَمْ لَا فَقَالَ قَوْمٌ : لَا يَكُونُ فَضِيلَةً ؛ لِأَنَّ الْفَضَائِلَ هَيْئَاتٌ مُتَوَسِّطَةٌ بَيْنَ فَضِيلَتَيْنِ نَاقِصَتَيْنِ ، كَمَا أَنَّ الْخَيْرَ تَوَسُّطٌ بَيْنَ رَذِيلَتَيْنِ فَمَا جَاوَزَ التَّوَسُّطَ خَرَجَ عَنْ حَدِّ الْفَضِيلَةِ .

Para Ulama berbeda pendapat mengenai akal yang diperoleh (yang dibentuk melalui pembelajaran dan usaha), ketika ia berkembang atau bertambah. Apakah itu dapat menjadi kebajikan (fadilah) atau tidak?

Sebagian kaum berkata: ‘Tidak, itu bukanlah kebajikan, Karena kebajikan adalah bentuk-bentuk yang berada di tengah-tengah antara dua kekurangan seperti halnya kebaikan, bahwa kebaikan adalah jalan tengah antara dua keburukan. Maka barang siapa melampaui jalan tengah itu, ia keluar dari batas kebajikan.’


وَقَدْ قَالَتْ الْحُكَمَاءُ لِلْإِسْكَنْدَرِ : أَيُّهَا الْمَلِكُ عَلَيْك بِالِاعْتِدَالِ فِي كُلِّ الْأُمُورِ ، فَإِنَّ الزِّيَادَةَ عَيْبٌ وَالنُّقْصَانَ عَجْزٌ .

Orang-orang bijak berkata kepada Iskandar: ‘Wahai raja, hendaklah engkau bersikap seimbang dalam segala urusan, karena kelebihan adalah cacat, dan kekurangan adalah kelemahan’


هَذَا مَعَ مَا وَرَدَتْ بِهِ السُّنَّةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { خَيْرُ الْأُمُورِ أَوْسَاطُهَا } .

Ini sejalan dengan apa yang datang dalam Sunnah dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda: ‘Sebaik-baik urusan adalah yang berada di tengah-tengahnya (moderat).


وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : خَيْرُ الْأُمُورِ النَّمَطُ الْأَوْسَطُ ، إلَيْهِ يَرْجِعُ الْعَالِي ، وَمِنْهُ يَلْحَقُ التَّالِي .

Dan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata: ‘Sebaik-baik urusan adalah jalan tengah (pola yang moderat), kepadanya orang unggul kembali, dan dari situ orang yang menyusul mengikuti.’


وَقَالَ الشَّاعِرُ :

لَا تَذْهَبَنَّ فِي الْأُمُورِ فَرَطَا # لَا تَسْأَلَنَّ إنْ سَأَلْت شَطَطَا

وَكُنْ مِنْ النَّاسِ جَمِيعًا وَسَطَا

Penyair berkata:

Janganlah engkau berlebihan dalam urusan apapun, Jangan pula terlalu ekstrim jika engkau bertanya atau meminta. Jadilah engkau tengah-tengah di antara semua orang (moderat)


قَالُوا : لِأَنَّ زِيَادَةَ الْعَقْلِ تُفْضِي بِصَاحِبِهَا إلَى الدَّهَاءِ وَالْمَكْرِ وَذَلِكَ مَذْمُومٌ وَصَاحِبُهُ مَلُومٌ .

Mereka berkata: “Karena bertambahnya akal dapat menyebabkan pemiliknya cerdik (dahā’) dan licik (makr), dan hal itu tercela, serta pemiliknya termasuk orang yang tercela.”


وَقَدْ أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ أَنْ يَعْزِلَ زِيَادًا عَنْ وِلَايَتِهِ فَقَالَ زِيَادٌ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَعَنْ مُوجِدَةٍ أَوْ خِيَانَةٍ ؟ فَقَالَ : لَا عَنْ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا ، وَلَكِنْ خِفْت أَنْ أَحْمِلَ عَلَى النَّاسِ فَضْلَ عَقْلِك .

Dan Umar bin Khattab رضي الله عنه memerintahkan Abu Musa al-Asy’ari untuk mencopot Ziyad dari wilayahnya. Ziyad bertanya: ‘Wahai Amirul Mukminin, apakah karena kesalahan atau pengkhianatan?’

Umar menjawab: ‘Bukan karena salah satu dari keduanya, tetapi aku khawatir akan membebani rakyat dengan kelebihan akalmu.’


وَلِأَجْلِ هَذَا الْمَحْكِيِّ عَنْ عُمَرَ مَا قِيلَ قَدِيمًا : إفْرَاطُ الْعَقْلِ مُضِرٌّ بِالْجَسَدِ .

Dan karena hal yang diceritakan tentang Umar, telah dikatakan sejak dahulu: ‘Berlebihan dalam akal yang ekstrem merugikan tubuh’


وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : كَفَاك مِنْ عَقْلِك مَا دَلَّك عَلَى سَبِيلِ رُشْدِك .

Sebagian orang bijak berkata: ‘Cukuplah bagimu akalmu sejauh ia menuntunmu kepada jalan kebaikanmu.’


وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : قَلِيلٌ يَكْفِي خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ يُطْغِي .

Sebagian orang pandai berkata: ‘Sedikit yang cukup lebih baik daripada banyak yang menimbulkan kesewenang-wenangan.’


وَقَالَ آخَرُونَ ، وَهُوَ أَصَحُّ الْقَوْلَيْنِ : زِيَادَةُ الْعَقْلِ فَضِيلَةٌ ؛ لِأَنَّ الْمُكْتَسَبَ غَيْرُ مَحْدُودٍ ، وَإِنَّمَا تَكُونُ زِيَادَةُ الْفَضَائِلِ الْمَحْمُودَةِ نَقْصًا مَذْمُومًا ؛ لِأَنَّ مَا جَاوَزَ الْحَدَّ لَا يُسَمَّى فَضِيلَةً كَالشُّجَاعِ إذَا زَادَ عَلَى حَدِّ الشَّجَاعَةِ نُسِبَ إلَى التَّهَوُّرِ ، وَالسَّخِيُّ إذَا زَادَ عَلَى حَدِّ السَّخَاءِ نُسِبَ إلَى التَّبْذِيرِ .

Dan ada pendapat lain, yang lebih sahih di antara kedua pendapat, bahwa:

‘Bertambahnya akal adalah kebajikan (fadilah), karena yang diperoleh tidak terbatas.

Sedangkan bertambahnya kebajikan yang sudah ada hanya bisa menjadi kekurangan yang tercela, karena apa yang melampaui batas tidak disebut kebajikan lagi: seperti orang pemberani jika melebihi batas keberanian disebut nekat dan orang dermawan jika melebihi batas kemurahan disebut boros.’


وَلَيْسَ كَذَلِكَ حَالُ الْعَقْلِ الْمُكْتَسَبِ ؛ لِأَنَّ الزِّيَادَةَ فِيهِ زِيَادَةُ عِلْمٍ بِالْأُمُورِ وَحُسْنُ إصَابَةٍ بِالظُّنُونِ وَمَعْرِفَةُ مَا لَمْ يَكُنْ إلَى مَا يَكُونُ ، وَذَلِكَ فَضِيلَةٌ لَا نَقْصٌ .

Tidaklah demikian halnya dengan akal yang diperoleh; karena bertambahnya akal di dalamnya adalah bertambahnya ilmu tentang segala urusan, ketepatan dalam perkiraan, dan pengetahuan tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Dan hal itu adalah keutamaan bukan kekurangan.


وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { أَفْضَلُ النَّاسِ أَعْقَلُ النَّاسِ } .

Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling berakal.’


وَرُوِيَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { الْعَقْلُ حَيْثُ كَانَ مَأْلُوفٌ } .

Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Akal berada di mana ia biasa digunakan.’

(Artinya: Akal akan efektif di bidang atau konteks yang sudah terbiasa ditanganinya).


وَقَدْ قِيلَ فِي تَأْوِيلِ قَوْله تَعَالَى : { قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ } أَيْ بِحَسَبِ عَقْلِهِ .

Telah dikatakan dalam penafsiran ayat Allah Ta’ala:

‘Katakanlah: setiap orang beramal sesuai dengan bentuk dirinya’; yaitu sesuai dengan akalnya.’


وَقَالَ الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ كَانَتْ الْعَرَبُ تَقُولُ : مَنْ لَمْ يَكُنْ عَقْلُهُ أَغْلَبَ خِصَالِ الْخَيْرِ عَلَيْهِ ، كَانَ حَتْفُهُ فِي أَغْلَبِ خِصَالِ الْخَيْرِ عَلَيْهِ .

Dan Al-Qasim bin Muhammad berkata: Orang Arab dahulu berkata: ‘Barangsiapa akalnya tidak menguasai sebagian besar sifat-sifat baik padanya, maka kehancurannya terjadi melalui sebagian besar sifat-sifat baik padanya.’


وَقِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ : كُلُّ شَيْءٍ إذَا كَثُرَ رَخُصَ إلَّا الْعَقْلَ فَإِنَّهُ إذَا كَثُرَ غَلَا .

Telah dikatakan dalam Manthur al-Hikam: ‘Segala sesuatu, jika banyak, menjadi murah kecuali akal; karena jika akal bertambah, ia menjadi mahal (berharga).’


وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : إنَّ الْعَاقِلَ مَنْ عَقْلُهُ فِي إرْشَادٍ ، وَمَنْ رَأْيُهُ فِي إمْدَادٍ ، فَقَوْلُهُ سَدِيدٌ ، وَفِعْلُهُ حَمِيدٌ ، وَالْجَاهِلُ مَنْ جَهْلُهُ فِي إغْوَاءٍ ، وَمَنْ هَوَاهُ فِي إغْرَاءٍ ، فَقَوْلُهُ سَقِيمٌ ، وَفِعْلُهُ ذَمِيمٌ ،

Sebagian ahli bahasa berkata: “Orang berakal adalah orang yang akalnya untuk memberi petunjuk, dan pendapatnya untuk membantu dan menolong, maka ucapannya tepat dan benar, dan perbuatannya terpuji, sedangkan orang jahil adalah orang yang kebodohannya untuk menyesatkan, dan hawa nafsunya untuk menjerumuskan, maka ucapannya salah atau rusak, dan perbuatannya buruk .”



وَأَنْشَدَنِي ابْنُ لَنْكَكَ لِأَبِيهِ .

مَنْ لَمْ يَكُنْ أَكْثَرَ عَقْلَهُ # أَهْلَكَهُ أَكْثَرُ مَا فِيهِ

Dan Ibn Lankak melagukan kepadaku syair dari ayahnya:

Barangsiapa akalnya tidak menguasai sebagian besar dirinya, maka kebinasaan menimpa sebagian besar yang ada padanya


فَأَمَّا الدَّهَاءُ وَالْمَكْرُ فَهُوَ مَذْمُومٌ ؛ لِأَنَّ صَاحِبَهُ صَرَفَ فَضْلَ عَقْلِهِ إلَى الشَّرِّ وَلَوْ صَرَفَهُ إلَى الْخَيْرِ لَكَانَ مَحْمُودًا .

Adapun kecerdikan (dahā’) dan tipu daya (makr) itu tercela; karena pemiliknya menggunakan kelebihan akalnya untuk hal yang buruk. Seandainya ia menggunakannya untuk kebaikan, maka akalnya itu akan menjadi terpuji.


وَقَدْ ذَكَرَ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ فَقَالَ : كَانَ وَاَللَّهِ أَفْضَلَ مِنْ أَنْ يُخْدَعَ ، وَأَعْقَلَ مِنْ أَنْ يُخْدَعَ .

Telah disebutkan oleh Al-Mughirah bin Syu’bah tentang Umar bin Khattab: ‘Demi Allah, beliau lebih unggul daripada untuk bisa dikelabui, dan lebih berakal daripada untuk bisa ditipu.’


وَقَالَ عُمَرُ : لَسْتُ بِالْخِبِّ وَلَا يَخْدَعُنِي الْخِبُّ .

Dan Umar berkata: ‘Aku bukan orang licik, tetapi orang licik pun tidak bisa menipuku.’


وَاخْتَلَفَ النَّاسُ فِيمَنْ صَرَفَ فَضْلَ عَقْلِهِ إلَى الشَّرِّ كَزِيَادٍ ، وَأَشْبَاهِهِ مِنْ الدُّهَاةِ ، هَلْ يُسَمَّى الدَّاهِيَةُ مِنْهُمْ عَاقِلًا أَمْ لَا .

Orang-orang berbeda pendapat tentang mereka yang menggunakan kelebihan akal mereka untuk kejahatan, seperti Ziyad dan sejenisnya; Apakah orang licik di antara mereka tetap disebut orang berakal atau tidak?


فَقَالَ بَعْضُهُمْ : أُسَمِّيهِ عَاقِلًا ؛ لِوُجُودِ الْعَقْلِ مِنْهُ .

Sebagian dari mereka berkata: ‘Aku tetap menyebutnya berakal, karena akal itu memang ada padanya.’


وَقَالَ آخَرُونَ : لَا أُسَمِّيهِ عَاقِلًا حَتَّى يَكُونَ خَيِّرًا دَيِّنًا ؛ لِأَنَّ الْخَيْرَ وَالدِّينَ مِنْ مُوجِبَاتِ الْعَقْلِ .

Dan yang lain berkata: ‘Aku tidak menyebutnya berakal sampai ia menjadi baik dan beragama, karena kebaikan dan agama adalah syarat-syarat akal.’


فَأَمَّا الشِّرِّيرُ فَلَا أُسَمِّيهِ عَاقِلًا وَإِنَّمَا أُسَمِّيهِ صَاحِبَ رَوِيَّةٍ وَفِكْرٍ .

Adapun orang yang jahat, maka aku tidak menyebutnya orang yang berakal; tetapi aku hanya menyebutnya sebagai orang yang memiliki pertimbangan dan pemikiran.


وَقَدْ قِيلَ : الْعَاقِلُ مَنْ عَقَلَ عَنْ اللَّهِ أَمْرَهُ وَنَهْيَهُ حَتَّى قَالَ أَصْحَابُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِيمَنْ أَوْصَى بِثُلُثِ مَالِهِ لِأَعْقَلِ النَّاسِ أَنَّهُ يَكُونُ مَصْرُوفًا فِي الزُّهَّادِ ؛ لِأَنَّهُمْ انْقَادُوا لِلْعَقْلِ وَلَمْ يَغْتَرُّوا بِالْأَمَلِ .

Telah dikatakan: Orang yang berakal adalah orang yang memahami dari Allah perintah dan larangan-Nya. Sampai-sampai para sahabat (ulama pengikut) Imam al-Syafi'i رحمه الله berpendapat tentang seseorang yang berwasiat dengan sepertiga hartanya untuk ‘orang yang paling berakal’, bahwa harta itu diberikan kepada para zuhud (orang-orang yang hidup zuhud); karena mereka tunduk kepada akal dan tidak tertipu oleh angan-angan.


وَرَوَى لُقْمَانُ بْنُ أَبِي عَامِرٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { يَا عُوَيْمِرُ ازْدَدْ عَقْلًا تَزْدَدْ مِنْ رَبِّك قُرْبًا .

قُلْت : بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي ، وَمَنْ لِي بِالْعَقْلِ ؟ قَالَ : اجْتَنِبْ مَحَارِمَ اللَّهِ ، وَأَدِّ فَرَائِضَ اللَّهِ تَكُنْ عَاقِلًا ثُمَّ تَنَفَّلَ بِصَالِحَاتِ الْأَعْمَالِ تَزْدَدْ فِي الدُّنْيَا عَقْلًا وَتَزْدَدْ مِنْ رَبِّك قُرْبًا وَبِهِ عِزًّا } .

Diriwayatkan dari Abu ad-Darda’ bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai ‘Uwaimir (kunyah Abu ad-Darda’), bertambahlah akalmu, niscaya engkau akan bertambah dekat dengan Tuhanmu.”

Aku (Abu ad-Darda’) berkata: “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, bagaimana caranya aku memperoleh akal?”

Beliau bersabda: “Jauhilah hal-hal yang diharamkan Allah dan tunaikan kewajiban-kewajiban Allah, maka engkau menjadi orang yang berakal. Kemudian lakukanlah amalan-amalan sunnah yang baik, maka engkau akan bertambah akal di dunia dan bertambah dekat dengan Tuhanmu serta memperoleh kemuliaan dengan itu.”


وَأَنْشَدَنِي بَعْضُ أَهْلِ الْأَدَبِ هَذِهِ الْأَبْيَاتِ ، وَذَكَرَ أَنَّهَا لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :

Dan sebagian ahli sastra membacakan kepadaku bait-bait syair ini, dan ia menyebutkan bahwa syair tersebut milik (dinisbatkan kepada) Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه :


إنَّ الْمَكَارِمَ أَخْلَاقٌ مُطَهَّرَةٌ # فَالْعَقْلُ أَوَّلُهَا وَالدِّينُ ثَانِيهَا

Sesungguhnya kemuliaan itu adalah akhlak-akhlak yang suci; Akal adalah yang pertama, dan agama yang kedua darinya


وَالْعِلْمُ ثَالِثُهَا وَالْحِلْمُ رَابِعُهَا # وَالْجُودُ خَامِسُهَا وَالْعُرْفُ سَادِيهَا

Ilmu adalah yang ketiga, dan kelembutan yang keempat; Kedermawanan yang kelima, dan kebaikan yang keenam


وَالْبِرُّ سَابِعُهَا وَالصَّبْرُ ثَامِنُهَا # وَالشُّكْرُ تَاسِعُهَا وَاللِّينُ عَاشِيهَا

Kebajikan yang ketujuh, dan kesabaran yang kedelapan; Syukur yang kesembilan, dan kelembutan yang kesepuluh.


وَالنَّفْسُ تَعْلَمُ أَنِّي لَا أُصَدِّقُهَا # وَلَسْت أَرْشُدُ إلَّا حِينَ أَعْصِيهَا

Jiwaku tahu bahwa aku tidak mempercayainya, dan aku tidak menjadi lurus kecuali ketika aku menentangnya


وَالْعَيْنُ تَعْلَمُ فِي عَيْنَيْ مُحَدِّثِهَا # مَنْ كَانَ مِنْ حِزْبِهَا أَوْ مِنْ أَعَادِيهَا

Mata mengetahui dari mata orang yang berbicara dengannya, Siapa yang termasuk golongannya dan siapa musuhnya


عَيْنَاك قَدْ دَلَّتَا عَيْنَيَّ مِنْك عَلَى # أَشْيَاءَ لَوْلَاهُمَا مَا كُنْت تُبْدِيهَا

Kedua matamu telah menunjukkan kepada kedua mataku tentang dirim, hal-hal yang bila tanpa keduanya tidak akan engkau tampakkan


Baca juga: Tidak Bermanfaat Bagimu Akal Yang Diperoleh (Melalui Belajar, Pengalaman, Pendidikan) Tanpa Akal Bawaan



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur

Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu

الا لا تنال العلم الا بستة

KEUTAMAAN BULAN RAJAB YANG DI AGUNGKAN KITAB DURRATUN NASHIHIN MAJIS 11

KEUTAMAAN ILMU KITAB DURRATUN NASHIHIN MAJLIS 03