Akal Gharizi / Akal Bawaan
العقل الغريزى
Akal Gharizi / Akal Bawaan
وَأَمَّا مَا كَانَ مُبْتَدِئًا فِي النُّفُوسِ فَكَالْعِلْمِ بِأَنَّ الشَّيْءَ لَا يَخْلُو مِنْ وُجُودٍ أَوْ عَدَمٍ ، وَأَنَّ الْمَوْجُودَ لَا يَخْلُو مِنْ حُدُوثٍ أَوْ قِدَمٍ ، وَأَنَّ مِنْ الْمُحَالِ اجْتِمَاعَ الضِّدَّيْنِ ، وَأَنَّ الْوَاحِدَ أَقَلُّ مِنْ الِاثْنَيْنِ .
Adapun (pengetahuan) yang ada sejak awal dalam jiwa, maka seperti pengetahuan bahwa sesuatu tidak mungkin lepas dari dua keadaan: ada atau tidak ada;
dan bahwa sesuatu yang ada tidak lepas dari dua kemungkinan: baru (hadits) atau qadim;
dan bahwa mustahil dua hal yang berlawanan berkumpul;
dan bahwa satu itu lebih sedikit daripada dua.
وَهَذَا النَّوْعُ مِنْ الْعِلْمِ لَا يَجُوزُ أَنْ يَنْتَفِيَ عَنْ الْعَاقِلِ مَعَ سَلَامَةِ حَالِهِ ، وَكَمَالِ عَقْلِهِ ، فَإِذَا صَارَ عَالِمًا بِالْمُدْرَكَاتِ الضَّرُورِيَّةِ مِنْ هَذَيْنِ النَّوْعَيْنِ فَهُوَ كَامِلُ الْعَقْلِ .
Dan jenis pengetahuan ini tidak boleh (tidak mungkin) hilang dari orang yang berakal selama keadaannya selamat dan akalnya sempurna. Maka apabila ia telah mengetahui hal-hal yang bersifat daruri (pasti) dari kedua jenis tersebut, maka ia adalah orang yang sempurna akalnya.
وَسُمِّيَ بِذَلِكَ تَشْبِيهًا بِعَقْلِ النَّاقَةِ ؛ لِأَنَّ الْعَقْلَ يَمْنَعُ الْإِنْسَانَ مِنْ الْإِقْدَامِ عَلَى شَهَوَاتِهِ إذَا قَبُحَتْ ، كَمَا يَمْنَعُ الْعَقْلُ النَّاقَةَ مِنْ الشُّرُودِ إذَا نَفَرَتْ .
Dan dinamakan demikian (akal) sebagai bentuk penyerupaan dengan ‘tali pengikat unta’; karena akal itu mencegah manusia dari menuruti syahwatnya apabila hal itu buruk, sebagaimana tali pengikat unta mencegah unta dari lari liar ketika ia hendak kabur.
وَلِذَلِكَ قَالَ عَامِرُ بْنُ قَيْسٍ : إذَا عَقْلُك عَقَلَك عَمَّا لَا يَنْبَغِي فَأَنْتَ عَاقِلٌ .
Karena itu, ‘Āmir bin Qais berkata: “Apabila akalmu menahanmu dari sesuatu yang tidak patut, maka engkau adalah orang yang berakal.”
وَقَدْ جَاءَتْ السُّنَّةُ بِمَا يُؤَيِّدُ هَذَا الْقَوْلَ فِي الْعَقْلِ وَهُوَ مَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ { الْعَقْلُ نُورٌ فِي الْقَلْبِ يُفَرِّقُ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ } .
Dan telah datang dalam Sunnah sesuatu yang menguatkan perkataan ini tentang akal, yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Akal adalah cahaya di dalam hati yang membedakan antara yang benar dan yang batil.”
وَكُلُّ مَنْ نَفَى أَنْ يَكُونَ الْعَقْلُ جَوْهَرًا أَثْبَتَ مَحَلَّهُ فِي الْقَلْبِ ؛ لِأَنَّ الْقَلْبَ مَحَلُّ الْعُلُومِ كُلِّهَا .
Dan setiap orang yang menafikan bahwa akal itu merupakan suatu jawhar (substansi yang berdiri sendiri), maka ia menetapkan tempatnya di dalam hati; karena hati adalah tempat seluruh ilmu.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : { أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا } .
فَدَلَّتْ هَذِهِ الْآيَةُ عَلَى أَمْرَيْنِ : أَحَدِهِمَا : أَنَّ الْعَقْلَ عِلْمٌ ، وَالثَّانِي : أَنَّ مَحَلَّهُ الْقَلْبُ .
Allah Ta‘ala berfirman: “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengannya mereka memahami (berakal)?”
Ayat ini menunjukkan dua hal:
Pertama, bahwa akal adalah ilmu.
Kedua, bahwa tempatnya adalah hati.
وَفِي قَوْله تَعَالَى : { يَعْقِلُونَ بِهَا } ، تَأْوِيلَانِ : أَحَدُهُمَا : يَعْلَمُونَ بِهَا ، وَالثَّانِي يَعْتَبِرُونَ بِهَا .
Dan pada firman Allah Ta‘ala: ‘ya‘qilūna bihā’ (mereka berakal dengannya), terdapat dua penafsiran:
Pertama: maknanya ‘mereka mengetahui dengannya’.
Kedua: maknanya ‘mereka mengambil pelajaran dengannya’.”
فَهَذِهِ جُمْلَةُ الْقَوْلِ فِي الْعَقْلِ الْغَرِيزِيِّ .
Maka inilah keseluruhan pembahasan tentang akal gharizi (akal bawaan).
Baca juga: Perkembangan Akal Yang Diperoleh Melalui Pengalaman Dan Penjelasan
-ادب الدنيا والدين-
.png)
Komentar
Posting Komentar