الباعث على طلب العلم رغبة أو رهبة
Pendorong Seseorang Untuk Menuntut Ilmu Adalah Karena Harapan Atau Karena Rasa Takut
وَاعْلَمْ أَنَّ لِكُلِّ مَطْلُوبٍ بَاعِثًا .
وَالْبَاعِثُ عَلَى الْمَطْلُوبِ شَيْئَانِ : رَغْبَةٌ أَوْ رَهْبَةٌ ، فَلْيَكُنْ طَالِبُ الْعِلْمِ رَاغِبًا رَاهِبًا .
Ketahuilah bahwa setiap sesuatu yang dicari pasti memiliki pendorong. Dan pendorong untuk mencari sesuatu itu ada dua: keinginan (harapan) atau rasa takut. Maka hendaklah orang yang menuntut ilmu memiliki harapan sekaligus rasa takut.
أَمَّا الرَّغْبَةُ فَفِي ثَوَابِ اللَّهِ تَعَالَى لِطَالِبِي مَرْضَاتِهِ ، وَحَافِظِي مُفْتَرَضَاتِهِ .
وَأَمَّا الرَّهْبَةُ فَمِنْ عِقَابِ اللَّهِ تَعَالَى لِتَارِكِي أَوَامِرِهِ ، وَمُهْمَلِي زَوَاجِرِهِ .
Adapun harapan (raghbah) itu adalah terhadap pahala dari Allah Ta‘ala bagi orang-orang yang mencari keridaan-Nya dan menjaga kewajiban-kewajiban-Nya.
Sedangkan rasa takut (rahbah) adalah terhadap siksa Allah Ta‘ala bagi orang-orang yang meninggalkan perintah-perintah-Nya dan mengabaikan larangan-larangan-Nya.
فَإِذَا اجْتَمَعَتْ الرَّغْبَةُ وَالرَّهْبَةُ أَدَّيَا إلَى كُنْهِ الْعِلْمِ وَحَقِيقَةِ الزُّهْدِ ؛ لِأَنَّ الرَّغْبَةَ أَقْوَى الْبَاعِثَيْنِ عَلَى الْعِلْمِ ، وَالرَّهْبَةَ أَقْوَى السَّبَبَيْنِ فِي الزُّهْدِ .
Apabila harapan (raghbah) dan rasa takut (rahbah) berkumpul, maka keduanya akan mengantarkan kepada hakikat ilmu dan hakikat zuhud. Karena harapan adalah pendorong yang paling kuat untuk menuntut ilmu, sedangkan rasa takut adalah sebab yang paling kuat untuk bersikap zuhud.
وَقَدْ قَالَتْ الْحُكَمَاءُ : أَصْلُ الْعِلْمِ الرَّغْبَةُ وَثَمَرَتُهُ السَّعَادَةُ ، وَأَصْلُ الزُّهْدِ الرَّهْبَةُ وَثَمَرَتُهُ الْعِبَادَةُ فَإِذَا اقْتَرَنَ الزُّهْدُ وَالْعِلْمُ فَقَدْ تَمَّتْ السَّعَادَةُ وَعَمَّتْ الْفَضِيلَةُ ، وَإِنْ افْتَرَقَا فَيَا وَيْحَ مُفْتَرَقَيْنِ مَا أَضَرَّ افْتِرَاقَهُمَا ، وَأَقْبَحَ انْفِرَادَهُمَا .
Para ahli hikmah berkata: “Pokok (asal) dari ilmu adalah keinginan (hasrat kuat untuk mendapatkannya), dan buahnya adalah kebahagiaan.
Pokok dari zuhud adalah rasa takut (kepada Allah), dan buahnya adalah ibadah.
Apabila zuhud dan ilmu bersatu, maka sempurnalah kebahagiaan dan meratalah keutamaan.
Namun jika keduanya berpisah, maka sungguh celakalah dua hal yang terpisah itu; betapa berbahayanya perpisahan keduanya dan betapa buruknya ketika masing-masing berdiri sendiri.”
وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { مَنْ ازْدَادَ فِي الْعِلْمِ رُشْدًا ، فَلَمْ يَزْدَدْ فِي الدُّنْيَا زُهْدًا ، لَمْ يَزْدَدْ مِنْ اللَّهِ إلَّا بُعْدًا } .
Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barang siapa yang bertambah ilmunya dan petunjuknya, tetapi tidak bertambah sikap zuhudnya terhadap dunia, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh.”
وَقَالَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ : مَنْ لَمْ يُؤْتَ مِنْ الْعِلْمِ مَا يَقْمَعُهُ ، فَمَا أُوتِيَ مِنْهُ لَا يَنْفَعُهُ .
Malik bin Dinar berkata: “Barang siapa tidak diberi ilmu yang dapat mengekang (menundukkan) dirinya, maka ilmu yang telah diberikan kepadanya tidak akan bermanfaat baginya.”
وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : الْفَقِيهُ بِغَيْرِ وَرَعٍ كَالسِّرَاجِ يُضِيءُ الْبَيْتَ وَيُحْرِقُ نَفْسَهُ .
Sebagian para hukama (orang-orang bijak) berkata: “Seorang faqih (orang yang berilmu agama) tanpa sifat wara’ seperti lampu yang menerangi rumah tetapi membakar dirinya sendiri.”
Baca juga: Bertahap Dalam Menuntut Ilmu

Komentar
Posting Komentar