Kemuliaan Dan Keutamaan Ilmu
الْبَابُ الثَّانِي
باب أَدَب الْعِلْمِ
شرف العلم وفضله
Kemuliaan Dan Keutamaan Ilmu
اعْلَمْ أَنَّ الْعِلْمَ أَشْرَفُ مَا رَغَّبَ فِيهِ الرَّاغِبُ ، وَأَفْضَلُ مَا طَلَبَ وَجَدَّ فِيهِ الطَّالِبُ ، وَأَنْفَعُ مَا كَسَبَهُ وَاقْتَنَاهُ الْكَاسِبُ ؛ لِأَنَّ شَرَفَهُ يُثْمِرُ عَلَى صَاحِبِهِ ، وَفَضْلَهُ يُنْمِي عَلَى طَالِبِهِ .
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : { قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَاَلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ } فَمَنَعَ الْمُسَاوَاةَ بَيْنَ الْعَالِمِ وَالْجَاهِلِ لِمَا قَدْ خُصَّ بِهِ الْعَالِمُ مِنْ فَضِيلَةِ الْعِلْمِ . وَقَالَ تَعَالَى : { وَمَا يَعْقِلُهَا إلَّا الْعَالِمُونَ } فَنَفَى أَنْ يَكُونَ غَيْرُ الْعَالِمِ يَعْقِلُ عَنْهُ أَمْرًا ، أَوْ يَفْهَمُ مِنْهُ زَجْرًا .
Ketahuilah bahwa ilmu adalah hal yang paling mulia yang dianjurkan bagi orang yang menginginkan kemuliaan, dan ilmu adalah yang terbaik yang dicari dan diusahakan oleh orang yang bersungguh-sungguh, dan ilmu adalah yang paling bermanfaat yang diperoleh dan dimiliki oleh orang yang bekerja untuk mendapatkannya. Karena kemuliaannya akan memberikan buah atau manfaat kepada pemiliknya, dan keutamaannya akan menumbuhkan (kebajikan) pada orang yang mempelajarinya.
Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: Apakah orang-orang yang mengetahui sama dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Dengan ayat ini, Allah menegaskan bahwa orang berilmu dan orang yang tidak berilmu tidak setara, karena orang berilmu memiliki keistimewaan dari ilmu yang dimilikinya.
Allah Ta’ala juga berfirman: “Dan tidak ada yang dapat memahaminya selain orang-orang yang berilmu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak berilmu tidak mampu memahami sesuatu hal, ataupun mengambil pelajaran atau teguran darinya.
وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { أُوحِيَ إلَى إبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنِّي عَلِيمٌ أُحِبُّ كُلَّ عَلِيمٍ } .
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Telah diwahyukan kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam: ‘Aku Maha Mengetahui, Aku mencintai setiap orang yang berilmu.’”
وَرَوَى أَبُو أُمَامَةَ قَالَ : { سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا عَالِمٌ وَالْآخَرُ عَابِدٌ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ رَجُلًا } .
Diriwayatkan dari Abu Umamah, dia berkata: “Rasulullah ﷺ ditanya tentang dua orang: seorang yang berilmu dan seorang yang ahli ibadah. Beliau ﷺ menjawab: ‘Keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaanku atas salah seorang dari kalian.’”
وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : النَّاسُ أَبْنَاءُ مَا يُحْسِنُونَ .
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata: “Manusia adalah anak dari apa yang mereka kuasai (apa yang mereka kuasai akan menjadi ciri dan identitas mereka).”
وَقَالَ مُصْعَبُ بْنُ الزُّبَيْرِ : تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنْ يَكُنْ لَك مَالٌ كَانَ لَك جَمَالًا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَك مَالٌ كَانَ لَك مَالًا .
Mus’ab bin Zubair berkata: “Pelajarilah ilmu, karena jika kamu memiliki harta, ilmu akan menambah keindahan (kemuliaan)mu, dan jika kamu tidak memiliki harta, ilmu itu sendiri akan menjadi hartamu.”
وَقَالَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَرْوَانَ لِبَنِيهِ : يَا بَنِيَّ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنْ كُنْتُمْ سَادَةً فُقْتُمْ ، وَإِنْ كُنْتُمْ وَسَطًا سُدْتُمْ ، وَإِنْ كُنْتُمْ سُوقَةً عِشْتُمْ .
Dan berkata ʻAbd al-Malik bin Marwān kepada anak-anaknya: “Wahai anak-anakku, pelajarilah ilmu. Jika kalian termasuk golongan pemimpin, kalian akan pandai memerintah; jika kalian termasuk golongan menengah, kalian akan bijaksana; dan jika kalian termasuk golongan rakyat biasa, kalian akan hidup dengan selamat dan terhormat.”
وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : الْعِلْمُ شَرَفٌ لَا قَدْرَ لَهُ ، وَالْأَدَبُ مَالٌ لَا خَوْفَ عَلَيْهِ .
Dan sebagian ahli hikmah berkata: “Ilmu adalah kehormatan yang tidak ada nilainya, dan adab (sopan santun/akhlak) adalah harta yang tidak akan hilang atau terancam.”
وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ : الْعِلْمُ أَفْضَلُ خَلَفٍ ، وَالْعَمَلُ بِهِ أَكْمَلُ شَرَفٍ .
Dan sebagian sastrawan berkata: “Ilmu adalah warisan terbaik, dan mengamalkannya adalah kehormatan yang paling sempurna.”
وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : تَعَلَّمْ الْعِلْمَ فَإِنَّهُ يُقَوِّمُك وَيُسَدِّدُك صَغِيرًا ، وَيُقَدِّمُك وَيُسَوِّدُك كَبِيرًا ، وَيُصْلِحُ زَيْفَك وَفَاسِدَك ، وَيُرْغِمُ عَدُوَّك وَحَاسِدَك ، وَيُقَوِّمُ عِوَجَك وَمَيْلَك ، وَيُصَحِّحُ هِمَّتَك ، وَأَمَلَك .
Dan sebagian orang bijak (dalam tutur kata) berkata: “Pelajarilah ilmu, karena ilmu akan membimbing dan menegakkanmu saat muda, mengangkat dan memuliakanmu saat dewasa, memperbaiki yang salah dan rusak dalam dirimu, menundukkan musuh dan iri hati orang lain, meluruskan kelengkungan dan kemiringanmu, serta memperbaiki semangat dan cita-citamu.”
وَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ : قِيمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُ .
Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nilai setiap orang adalah pada apa yang ia kuasai.”
فَأَخَذَهُ الْخَلِيلُ فَنَظَّمَهُ شعْرًا فَقَالَ :
لَا يَكُونُ الْعَلِيُّ مِثْلَ الدَّنِيِّ # لَا وَلَا ذُو الذَّكَاءِ مِثْلَ الْغَبِيِّ
قِيمَةُ الْمَرْءِ قَدْرُ مَا يُحْسِنُ الْمَرْ # ءُ قَضَاءٌ مِنْ الْإِمَامِ عَلِيِّ
Lalu al-Khalil mengambilnya dan menyusunnya menjadi syair:
Orang yang tinggi martabatnya tidak akan sama dengan yang rendah, demikian pula orang cerdas tidak akan sama dengan yang bodoh.
Nilai seorang manusia sebanding dengan apa yang dikuasainya, ini adalah keputusan dari Imam Ali
وَلَيْسَ يَجْهَلُ فَضْلَ الْعِلْمِ إلَّا أَهْلُ الْجَهْلِ ؛ لِأَنَّ فَضْلَ الْعِلْمِ إنَّمَا يُعْرَفُ بِالْعِلْمِ .
وَهَذَا أَبْلَغُ فِي فَضْلِهِ ؛ لِأَنَّ فَضْلَهُ لَا يُعْلَمُ إلَّا بِهِ .
Tidak ada yang mengingkari keutamaan ilmu kecuali orang-orang yang jahil, karena keutamaan ilmu hanya bisa dikenal melalui ilmu itu sendiri.
Dan ini adalah bukti paling jelas mengenai keutamaannya, karena keutamaan ilmu tidak dapat diketahui kecuali melalui ilmu itu sendiri
فَلَمَّا عَدِمَ الْجُهَّالُ الْعِلْمَ الَّذِي بِهِ يَتَوَصَّلُونَ إلَى فَضْلِ الْعِلْمِ جَهِلُوا فَضْلَهُ ، وَاسْتَرْذَلُوا أَهْلَهُ ، وَتَوَهَّمُوا أَنَّ مَا تَمِيلُ إلَيْهِ نُفُوسُهُمْ مِنْ الْأَمْوَالِ الْمُقْتَنَاةِ ، وَالطُّرَفِ الْمُشْتَهَاةِ ، أَوْلَى أَنْ يَكُونَ إقْبَالُهُمْ عَلَيْهَا ، وَأَحْرَى أَنْ يَكُونَ اشْتِغَالُهُمْ بِهَا .
Manakala orang-orang jahil tidak memiliki ilmu yang menjadi jalan untuk memahami keutamaan ilmu, mereka pun menjadi tidak mengetahui keutamaan ilmu itu, meremehkan para ahli ilmu, dan mereka keliru mengira bahwa apa yang disukai hati mereka—yaitu harta yang terkumpul dan hiburan yang diinginkan—lebih pantas untuk diperhatikan dan lebih layak dijadikan kesibukan mereka.
وَقَدْ قَالَ ابْنُ الْمُعْتَزِّ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ : الْعَالِمُ يَعْرِفُ الْجَاهِلَ ؛ لِأَنَّهُ كَانَ جَاهِلًا ، وَالْجَاهِلُ لَا يَعْرِفُ الْعَالِمَ ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَالِمًا .
Dan telah berkata Ibnul Mu‘taz dalam Manthur al-Hikam: “Seorang yang berilmu mengenal orang yang jahil, karena ia sendiri pernah jahil; Sedangkan orang yang jahil tidak mengenal orang yang berilmu, karena ia tidak pernah menjadi orang yang berilmu.”
وَهَذَا صَحِيحٌ ، وَلِأَجْلِهِ انْصَرَفُوا عَنْ الْعِلْمِ ، وَأَهْلِهِ انْصِرَافَ الزَّاهِدِينَ ، وَانْحَرَفُوا عَنْهُ وَعَنْهُمْ انْحِرَافَ الْمُعَانِدِينَ ؛ لِأَنَّ مَنْ جَهِلَ شَيْئًا عَادَاهُ .
Dan ini benar; karena itulah, mereka menjauh dari ilmu, dan menjauh dari para ahli ilmu sebagaimana para zahid (ahli zuhud) juga menjauh dari dunia, serta mereka menyimpang dari ilmu dan para ahlinya sebagaimana orang-orang yang keras kepala menyimpang; karena barang siapa yang jahil terhadap sesuatu, ia cenderung memusuhinya.
وَأَنْشَدَنِي ابْنُ لَنْكَكَ لِأَبِي بَكْرِ بْنِ دُرَيْدٍ :
جَهِلْت فَعَادَيْت الْعُلُومَ وَأَهْلَهَا # كَذَاك يُعَادِي الْعِلْمَ مَنْ هُوَ جَاهِلُهْ
وَمَنْ كَانَ يَهْوَى أَنْ يُرَى مُتَصَدِّرًا # وَيَكْرَهُ لَا أَدْرِي أُصِيبَتْ مَقَاتِلُهْ
Ibnu Lankak melantunkan syair ini untuk Abu Bakr bin Duraid:
Aku jahil, maka aku memusuhi ilmu dan para ahlinya; demikianlah, orang yang jahil selalu memusuhi ilmu.
Dan barang siapa yang ingin terlihat menonjol (unggul), namun membenci (orang yang berilmu), aku tidak tahu apa yang akan menimpanya, karena kebencian seperti itu bisa membawa malapetaka bagi dirinya
وَقِيلَ لِبَزَرْجَمْهَرَ : الْعِلْمُ أَفْضَلُ أَمْ الْمَالُ ؟ فَقَالَ : بَلْ الْعِلْمُ .
قِيلَ : فَمَا بَالُنَا نَرَى الْعُلَمَاءَ عَلَى أَبْوَابِ الْأَغْنِيَاءِ وَلَا نَكَادُ نَرَى الْأَغْنِيَاءَ عَلَى أَبْوَابِ الْعُلَمَاءِ ؟ فَقَالَ : ذَلِكَ لِمَعْرِفَةِ الْعُلَمَاءِ بِمَنْفَعَةِ الْمَالِ وَجَهْلِ الْأَغْنِيَاءِ لِفَضْلِ الْعِلْمِ .
Dikatakan kepada Bazarjamhir: ‘Apakah yang lebih utama, ilmu atau harta?’
Ia menjawab: ‘Ilmu lebih utama.’
Lalu dikatakan: ‘Mengapa kita melihat para ulama berada di pintu-pintu orang kaya, tetapi jarang melihat orang kaya berada di pintu ulama?’
Ia menjawab: ‘Itu karena para ulama mengetahui manfaat harta, sedangkan orang kaya tidak mengetahui keutamaan ilmu.’
وَقِيلَ لِبَعْضِ الْحُكَمَاءِ : لِمَ لَا يَجْتَمِعُ الْعِلْمُ وَالْمَالُ ؟ فَقَالَ : لِعِزِّ الْكَمَالِ .
Dikatakan kepada sebagian orang bijak: “Mengapa ilmu dan harta tidak sering berkumpul?
Ia menjawab: Karena itu adalah untuk kemuliaan kesempurnaan."
فَأَنْشَدْت لِبَعْضِ أَهْلِ هَذَا الْعَصْرِ :
وَفِي الْجَهْلِ قَبْلَ الْمَوْتِ مَوْتٌ لِأَهْلِهِ # فَأَجْسَامُهُمْ قَبْلَ الْقُبُورِ قُبُورُ
وَإِنْ امْرَأً لَمْ يَحْيَ بِالْعِلْمِ مَيِّتٌ # فَلَيْسَ لَهُ حَتَّى النُّشُورِ نُشُورُ
Maka aku melantunkan hal ini kepada sebagian orang pada zaman ini:
Di dalam kebodohan, sebelum kematian, sudah ada kematian bagi pemiliknya, tubuh mereka sebelum dikubur seperti kuburan
Dan jika seseorang tidak hidup dengan ilmu, ia mati, dan tidak ada baginya kebangkitan sampai hari kebangkitan
وَوَقَفَ بَعْضُ الْمُتَعَلِّمِينَ بِبَابِ عَالِمٍ ثُمَّ نَادَى : تَصَدَّقُوا عَلَيْنَا بِمَا لَا يُتْعِبُ ضِرْسًا ، وَلَا يُسْقِمُ نَفْسًا .
فَأَخْرَجَ لَهُ طَعَامًا وَنَفَقَةً .
فَقَالَ : فَاقَتِي إلَى كَلَامِكُمْ ، أَشَدُّ مِنْ فَاقَتِي إلَى طَعَامِكُمْ ، إنِّي طَالِبُ هُدًى لَا سَائِلُ نَدًى .
فَأَذِنَ لَهُ الْعَالِمُ ، وَأَفَادَهُ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلَ عَنْهُ فَخَرَجَ جَذِلًا فَرِحًا ، وَهُوَ يَقُولُ : عِلْمٌ أَوْضَحَ لَبْسًا ، خَيْرٌ مِنْ مَالٍ أَغْنَى نَفْسًا .
Dan seorang pelajar berdiri di pintu seorang ulama, lalu berseru: “Bersedekahlah kepada kami dengan sesuatu yang tidak memberatkan gigi (makanan), dan tidak membuat tubuh sakit.”
Maka ulama itu mengeluarkan untuknya makanan dan nafkah.
Ia berkata: ‘Kekurangan saya terhadap perkataan kalian (ilmu) lebih berat daripada kekurangan saya terhadap makanan kalian. Sesungguhnya aku mencari petunjuk, bukan materi.’
Lalu ulama itu memberi izin kepadanya, dan memberinya manfaat dari semua yang diminta darnya.
Dan ia pun pergi dengan gembira dan senang, sambil berkata: ‘Ilmu lebih jelas dalam menutup kebodohan, lebih baik daripada harta yang mengisi kebutuhan tubuh.’
Baca juga: Ilmu tidak memiliki batas akhir

Komentar
Posting Komentar