Menjauhnya Orang-orang Bodoh Dari Ilmu Dan Ahli Ilmu
نفرة الجهال من العلم واهله
Menjauhnya Orang-orang Bodoh Dari Ilmu Dan Ahli Ilmu
وَرُبَّمَا مَنَعَ ذَا السَّفَاهَةِ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ أَنْ يُصَوِّرَ فِي نَفْسِهِ حِرْفَةَ أَهْلِهِ وَتَضَايُقَ الْأُمُورِ مَعَ الِاشْتِغَالِ بِهِ حَتَّى يَسِمَهُمْ بِالْإِدْبَارِ وَيَتَوَسَّمَهُمْ بِالْحِرْمَانِ ، فَإِنْ رَأَى مَحْبَرَةً تَطَيَّرَ مِنْهَا وَإِنْ رَأَى كِتَابًا أَعْرَضَ عَنْهُ ، وَإِنْ رَأَى مُتَحَلِّيًا بِالْعِلْمِ هَرَبَ مِنْهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَرَ عَالِمًا مُقْبِلًا وَجَاهِلًا مُدْبِرًا .
Seringkali orang yang bodoh terhalang dari menuntut ilmu karena ia membayangkan sendiri kesulitan dan kepayahan para ahli ilmu, serta merasa urusannya akan tersibukkan oleh ilmu, sehingga ia menilai mereka tertinggal dan menganggap mereka terhalang mendapatkan harta duniawi.
Jika ia melihat tinta (alat tulis), ia takut menggunakannya. Jika ia melihat buku, ia berpaling darinya. Jika ia melihat orang yang berhias dengan ilmu, ia lari darinya, seolah-olah ia tidak pernah melihat seorang alim yang bersungguh-sungguh atau seorang bodoh yang menjauh dari ilmu.
وَلَقَدْ رَأَيْت مِنْ هَذِهِ الطَّبَقَةِ جَمَاعَةً ذَوِي مَنَازِلِ ، وَأَحْوَالٍ كُنْت أُخْفِي عَنْهُمْ مَا يَصْحَبُنِي مِنْ مَحْبَرَةٍ وَكِتَابٍ لِئَلَّا أَكُونَ عِنْدَهُمْ مُسْتَثْقَلًا ، وَإِنْ كَانَ الْبُعْدُ عَنْهُمْ مُؤْنِسًا وَمُصْلِحًا ، وَالْقُرْبُ مِنْهُمْ مُوحِشًا وَمُفْسِدًا .
فَقَدْ قَالَ بَزَرْجَمْهَرَ : الْجَهْلُ فِي الْقَلْبِ كَالنَّزِّ فِي الْأَرْضِ ، يُفْسِدُ مَا حَوْلَهُ .
Sesungguhnya aku telah melihat dari golongan ini sekelompok orang yang memiliki kedudukan dan keadaan tertentu. Aku sengaja menyembunyikan dari mereka pena dan kitabku agar aku tidak menjadi beban atau terasa memberatkan di hadapan mereka. Meski menjauh dari mereka terasa menyenangkan dan memperbaiki diri, namun dekat dengan mereka justru terasa menakutkan dan merusak.
Bazarjamhar berkata: “Kebodohan di dalam hati itu seperti penyakit pada tanah; ia merusak apa yang ada di sekitarnya.”
لَكِنْ اتَّبَعْتُ فِيهِمْ الْحَدِيثَ الْمَرْوِيَّ عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { خَالِطُوا النَّاسَ بِأَخْلَاقِهِمْ وَخَالِفُوهُمْ فِي أَعْمَالِهِمْ } .
وَلِذَلِكَ قَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : رُبَّ جَهْلٍ وُقِيَتْ بِهِ عُلَمَاءُ ، وَسَفَهٍ حُمِيَتْ بِهِ حُلَمَاءُ .
Namun aku mengikuti (ajaran) hadis yang diriwayatkan dari Abu Al-Ash‘ath dari Abu ‘Utsman dari Thawban dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Bersosialisasilah dengan orang-orang menurut akhlak mereka, dan berbedailah mereka dalam perbuatan mereka.”
Oleh karena itu, sebagian orang bijak berkata: ‘Banyak kebodohan yang bisa melindungi para ulama, dan banyak kekonyolan yang bisa menahan para orang bijak.
وَهَذِهِ الطَّبَقَةُ مِمَّنْ لَا يُرْجَى لَهَا صَلَاحٌ ، وَلَا يُؤْمَلُ لَهَا فَلَاحٌ .
لِأَنَّ مَنْ اعْتَقَدَ أَنَّ الْعِلْمَ شَيْنٌ ، وَأَنَّ تَرْكَهُ زَيْنٌ ، وَأَنَّ لِلْجَهْلِ إقْبَالًا مُجْدِيًا ، وَلِلْعِلْمِ إدْبَارًا مُكْدِيًا ، كَانَ ضَلَالُهُ مُسْتَحْكِمًا وَرَشَادُهُ مُسْتَعْبَدَا ، وَكَانَ هُوَ الْخَامِسُ الْهَالِكُ الَّذِي قَالَ فِيهِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : { اُغْدُ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ الْخَامِسَ فَتَهْلِكَ } .
Golongan ini adalah mereka yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak diandalkan keberhasilannya, karena siapa pun yang meyakini bahwa:
• ilmu itu aib (jelek),
• meninggalkannya itu indah,
• kebodohan itu bermanfaat,
• dan ilmu itu merugikan,
maka kesesatannya sudah mengakar dan petunjuknya terkekang,
dan dialah ‘kelima yang merusak’ yang disebut oleh Ali bin Abi Thalib r.a.:
“Jadilah engkau salah satu dari: ilmuwan, pembelajar, pendengar, atau pecinta ilmu, dan janganlah engkau menjadi yang kelima, maka engkau akan binasa.”
وَقَدْ رَوَاهُ خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْنَدًا وَلَيْسَ لِمَنْ هَذِهِ حَالُهُ : فِي الْعَذْلِ نَفْعٌ وَلَا فِي الْإِصْلَاحِ مَطْمَعٌ .
Khalid Al-Hadzaa’ meriwayatkan hadits dari Abdurrahman bin Abi Bakr dari Nabi ﷺ secara musnad (terhubung sanadnya).
Namun bagi orang yang keadaannya seperti ini:
• Menegurnya tidak memberi manfaat,
• Memperbaikinya tidak ada harapan keberhasilan.”
وَقَدْ قِيلَ لِبَزَرْجَمْهَرَ : مَا لَكُمْ لَا تُعَاتِبُونَ الْجُهَّالَ ؟ فَقَالَ : إنَّا لَا نُكَلِّفُ الْعُمْيَ أَنْ يُبْصِرُوا ، وَلَا الصُّمَّ أَنْ يَسْمَعُوا .
Pernah dikatakan kepada Bazarjamhar: “Mengapa kalian tidak menegur atau mencela orang-orang bodoh?”
Maka ia menjawab: “Kami tidak mau membebani orang buta untuk melihat, dan tidak mau pula membebani orang tuli untuk mendengar.”
Baca juga: Permusuhan Orang-orang Bodoh Terhadap Orang-orang Berakal

Komentar
Posting Komentar