Permusuhan Orang-orang Bodoh Terhadap Orang-orang Berakal

 

معاداة الجهال لذوى العقول

Permusuhan Orang-orang Bodoh Terhadap Orang-orang Berakal


وَهَذِهِ الطَّائِفَةُ الَّتِي تَنْفِرُ مِنْ الْعِلْمِ هَذَا النُّفُورَ ، وَتُعَانِدُ أَهْلَهُ هَذَا الْعِنَادَ ، تَرَى الْعَقْلَ بِهَذِهِ الْمَثَابَةِ وَتَنْفِرُ مِنْ الْعُقَلَاءِ هَذَا النُّفُورَ ، وَتَعْتَقِدُ أَنَّ الْعَاقِلَ مُحَارَفٌ ، وَأَنَّ الْأَحْمَقَ مَحْظُوظٌ .

وَنَاهِيكَ بِضَلَالِ مَنْ هَذَا اعْتِقَادُهُ فِي الْعَقْلِ وَالْعِلْمِ هَلْ يَكُونُ لِخَيْرٍ أَهْلًا ، أَوْ لِفَضِيلَةٍ مَوْضِعًا.

Golongan ini adalah orang-orang yang menjauh dari ilmu dengan penolakan yang kuat, dan menentang para ahli ilmu dengan sikap permusuhan yang keras.

Golongan itu memandang akal dengan kedudukan seperti ini (yakni rendah atau buruk), dan menjauh dari orang-orang yang berakal dengan penolakan yang kuat.

Mereka bahkan meyakini bahwa orang yang berakal itu bernasib buruk, sedangkan orang yang bodoh justru dianggap beruntung.

Cukuplah sebagai bukti kesesatan seseorang yang memiliki keyakinan seperti ini tentang akal dan ilmu. Apakah mungkin orang seperti itu menjadi orang yang pantas untuk kebaikan, atau menjadi tempat bagi suatu keutamaan?


وَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : أَخْبَثُ النَّاسِ الْمُسَاوِي بَيْنَ الْمَحَاسِنِ وَالْمَسَاوِئِ ؛ وَعِلَّةُ هَذَا أَنَّهُمْ رُبَّمَا رَأَوْا عَاقِلًا غَيْرَ مَحْظُوظٍ ، وَعَالِمًا غَيْرَ مَرْزُوقٍ ، فَظَنُّوا أَنَّ الْعِلْمَ وَالْعَقْلَ هُمَا السَّبَبُ فِي قِلَّةِ حَظِّهِ وَرِزْقِهِ .

Sebagian ahli balaghah (orang yang pandai berbicara dan berhikmah) berkata: “Manusia yang paling buruk adalah orang yang menyamakan antara kebaikan dan keburukan.”

Sebabnya adalah karena mereka terkadang melihat orang yang berakal tetapi tidak beruntung, dan orang yang berilmu tetapi tidak memiliki banyak rezeki.

Lalu mereka menyangka bahwa akal dan ilmu itulah yang menjadi sebab sedikitnya keberuntungan dan rezekinya.


وَقَدْ انْصَرَفَتْ عُيُونُهُمْ عَنْ حِرْمَانِ أَكْثَرِ النَّوْكَى وَإِدْبَارِ أَكْثَرِ الْجُهَّالِ ؛ لِأَنَّ فِي الْعُقَلَاءِ وَالْعُلَمَاءِ قِلَّةً وَعَلَيْهِمْ مِنْ فَضْلِهِمْ سِمَةٌ .

وَلِذَلِكَ قِيلَ : الْعُلَمَاءُ غُرَبَاءُ لِكَثْرَةِ الْجُهَّالِ .

Pandangan mereka benar-benar berpaling dari kenyataan bahwa; kebanyakan orang dungu hidup dalam kekurangan, dan kebanyakan orang bodoh juga mengalami kemunduran atau kegagalan.

Karena orang-orang yang berakal dan para ulama itu jumlahnya sedikit, dan pada diri mereka terdapat tanda keutamaan dari kelebihan yang mereka miliki.

Karena itu dikatakan: “Para ulama itu seperti orang-orang asing, karena banyaknya orang-orang bodoh.”


فَإِذَا ظَهَرَتْ سِمَةُ فَضْلِهِمْ وَصَادَفَ ذَلِكَ قِلَّةَ حَظِّ بَعْضِهِمْ تَنَوَّهُوا بِالتَّمْيِيزِ وَاشْتُهِرُوا بِالتَّعْيِينِ ، فَصَارُوا مَقْصُودِينَ بِإِشَارَةِ الْمُتَعَنِّتِينَ ، مَلْحُوظِينَ بِإِيمَاءِ الشَّامِتِينَ .

Maka apabila tampak tanda keutamaan mereka, dan kebetulan pada saat itu sebagian dari mereka memiliki sedikit keberuntungan (dalam urusan dunia), maka mereka menjadi terkenal karena perbedaan mereka, dan menjadi dikenal secara khusus, akibatnya mereka menjadi sasaran isyarat orang-orang yang suka mencari-cari kesalahan, dan menjadi bahan perhatian serta sindiran orang-orang yang merasa senang melihat kesusahan mereka.


وَالْجُهَّالُ وَالْحَمْقَى لَمَّا كَثُرُوا وَلَمْ يَتَخَصَّصُوا انْصَرَفَتْ عَنْهُمْ النُّفُوسُ فَلَمْ يَلْحَظْ الْمَحْرُومُ مِنْهُمْ بِطَرَفِ شَامِتٍ ، وَلَا قَصَدَ الْمَجْدُودُ مِنْهُمْ بِإِشَارَةِ عَائِبٍ .

Dan ketika orang-orang bodoh dan orang-orang dungu itu menjadi banyak dan tidak memiliki keistimewaan (tidak menonjol), maka perhatian manusia berpaling dari mereka. Sehingga orang yang celaka di antara mereka tidak diperhatikan dengan pandangan orang yang mengejek, dan orang yang beruntung di antara mereka pun tidak menjadi sasaran isyarat orang yang mencela.


فَلِذَلِكَ ظَنَّ الْجَاهِلُ الْمَرْزُوقُ أَنَّ الْفَقْرَ وَالضِّيقَ مُخْتَصٌّ بِالْعِلْمِ ، وَالْعَقْلَ دُونَ الْجَهْلِ وَالْحُمْقِ وَلَوْ فَتَّشَتْ أَحْوَالَ الْعُلَمَاءِ وَالْعُقَلَاءِ ، مَعَ قِلَّتِهِمْ ، لَوَجَدْت الْإِقْبَالَ فِي أَكْثَرِهِمْ .

Maka karena itu orang bodoh yang diberi kelapangan rezeki menyangka bahwa kemiskinan dan kesempitan hidup itu khusus menimpa orang yang berilmu dan berakal, bukan pada orang yang bodoh dan dungu.

Padahal jika ia meneliti keadaan para ulama dan orang-orang berakal—meskipun jumlah mereka sedikit—niscaya ia akan mendapati bahwa kebanyakan dari mereka justru memperoleh keberuntungan dan sambutan (kebaikan kehidupan).


وَلَوْ اخْتَبَرْت أُمُورَ الْجُهَّالِ وَالْحَمْقَى ، مَعَ كَثْرَتِهِمْ ، لَوَجَدَتْ الْحِرْمَانَ فِي أَكْثَرِهِمْ .

وَإِنَّمَا يَصِيرُ ذُو الْحَالِ الْوَاسِعَةِ مِنْهُمْ مَلْحُوظًا مُشْتَهِرًا ؛ لِأَنَّ حَظَّهُ عَجِيبٌ وَإِقْبَالَهُ مُسْتَغْرَبٌ .

كَمَا أَنَّ حِرْمَانَ الْعَاقِلِ الْعَالِمِ غَرِيبٌ وَإِقْلَالَهُ عَجِيبٌ .

Dan seandainya engkau meneliti keadaan orang-orang bodoh dan dungu, meskipun mereka banyak jumlahnya, niscaya engkau akan mendapati kebanyakan mereka berada dalam keadaan kekurangan dan tidak beruntung.

Adapun di antara mereka yang hidup dalam kelapangan dan keberuntungan, maka ia menjadi terlihat dan terkenal, karena keberuntungannya itu sesuatu yang aneh dan datangnya keberhasilan padanya terasa tidak biasa.

Sebagaimana anehnya bila seorang yang berakal dan berilmu mengalami kesusahan dan kekurangan; keadaan sedikit (rezekinya) pada orang seperti itu juga dianggap sesuatu yang mengherankan.


وَلَمْ تَزَلْ النَّاسُ عَلَى سَالِفِ الدُّهُورِ مِنْ ذَلِكَ مُتَعَجِّبِينَ وَبِهِ مُعْتَبِرِينَ حَتَّى قِيلَ لِبَزَرْجَمْهَرَ : مَا أَعْجَبُ الْأَشْيَاءِ ؟ فَقَالَ : نُجْحُ الْجَاهِلِ وَإِكْدَاءُ الْعَاقِلِ .

لَكِنَّ الرِّزْقَ بِالْحَظِّ وَالْجَدِّ ، لَا بِالْعِلْمِ وَالْعَقْلِ ، حِكْمَةً مِنْهُ تَعَالَى يَدُلُّ بِهَا عَلَى قُدْرَتِهِ وَإِجْرَاءِ الْأُمُورِ عَلَى مَشِيئَتِهِ .

Sejak dahulu kala manusia selalu merasa heran terhadap hal itu dan mengambil pelajaran darinya. Sampai pernah ditanyakan kepada Bazarjamhar:

‘Apakah hal yang paling mengherankan?’

Ia menjawab: “Yaitu keberhasilan orang bodoh dan kesempitan (kegagalan atau kemiskinan) orang yang berakal.’

Akan tetapi rezeki itu bergantung pada keberuntungan dan usaha, bukan semata-mata karena ilmu dan akal. Hal itu merupakan hikmah dari Allah Ta‘ala, yang dengannya Dia menunjukkan kekuasaan-Nya dan bahwa segala urusan berjalan menurut kehendak-Nya.


وَقَدْ قَالَتْ الْحُكَمَاءُ : لَوْ جَرَتْ الْأَقْسَامُ عَلَى قَدْرِ الْعُقُولِ لَمْ تَعِشْ الْبَهَائِمُ .

Para ahli hikmah berkata: “Seandainya pembagian rezeki itu berjalan sesuai dengan kadar akal (kecerdasan), niscaya orang-orang bodoh tidak akan hidup.”


فَنَظَمَهُ أَبُو تَمَّامٍ فَقَالَ :

يَنَالُ الْفَتَى مِنْ عَيْشِهِ وَهُوَ جَاهِلُ # وَيُكْدِي الْفَتَى مِنْ دَهْرِهِ وَهُوَ عَالِمُ

وَلَوْ كَانَتْ الْأَرْزَاقُ تَجْرِي عَلَى الْحِجَا # هَلَكْنَ إذَنْ مِنْ جَهْلِهِنَّ الْبَهَائِمُ

Kemudian Abu Tammam menyusunnya dalam bentuk syair, ia berkata:

Sering seorang pemuda mendapatkan kenikmatan hidup padahal ia bodoh, dan sering pula seorang pemuda mengalami kesempitan hidup padahal ia berilmu

Seandainya rezeki itu berjalan menurut kecerdasan akal, niscaya binatang-binatang akan binasa karena kebodohannya


وَقَالَ كَعْبُ بْنُ زُهَيْرِ بْنُ أَبِي سُلْمَى :

لَوْ كُنْت أَعْجَبُ مِنْ شَيْءِ لَأَعْجَبَنِي # سَعْيُ الْفَتَى وَهُوَ مَخْبُوءٌ لَهُ الْقَدَرُ

يَسْعَى الْفَتَى لِأُمُورٍ لَيْسَ يُدْرِكُهَا # وَالنَّفْسُ وَاحِدَةٌ وَالْهَمُّ مُنْتَشِرُ

Ka‘b bin Zuhair bin Abi Sulma berkata:

Jika aku harus merasa heran terhadap sesuatu, maka yang paling membuatku heran adalah: usaha manusia, padahal takdirnya sudah tersembunyi dan ditentukan baginya

Seseorang berusaha mengejar banyak hal yang sebenarnya tidak akan ia capai, padahal jiwanya satu, tetapi kegelisahan dan keinginannya tersebar ke mana-mana


Baca juga: Keberuntungan Diperoleh Dengan Ilmu Dan Akal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

الا لا تنال العلم الا بستة

Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur

Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu