Bagaimana Awal Keadaan Raja Najasyi (Abyssinia/Ethiopia)

 

Bagaimana Awal Keadaan Raja Najasyi (Abyssinia/Ethiopia)


Telah menceritakan kepada kami Abu al-Hasan Ahmad bin al-Hasan bin Ayyub an-Naqqasy, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Salam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Wahb bin Jarir, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata: aku mendengar Muhammad bin Ishaq berkata: telah menceritakan kepadaku az-Zuhri bahwa ‘Urwah menceritakan kepadanya, ia berkata:

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata kepadaku:

“Apakah engkau tahu apa maksud ucapan Najasyi: "Allah tidak pernah mengambil dariku suap atas agamaku?"

Aku menjawab: “Tidak.”

Aisyah berkata:

“Dia (Najasyi) adalah putra raja kaumnya. Raja itu tidak memiliki anak selain dia. Sementara raja itu mempunyai seorang saudara yang memiliki dua belas orang anak laki-laki.

Maka orang-orang Habasyah berkata:

“Ini adalah keluarga kerajaan kalian. Raja kalian hanya memiliki satu anak, sedangkan kami khawatir jika ia meninggal maka orang-orang Habasyah akan berselisih setelahnya hingga negeri ini hancur. Bagaimana kalau kita membunuhnya lalu mengangkat saudara raja itu sebagai raja?”

Mereka pun sepakat atas rencana itu. Lalu mereka menyerangnya, membunuhnya, dan mengangkat saudaranya menjadi raja.

Najasyi adalah seorang yang memiliki pendapat yang matang, kecerdikan, dan pemahaman yang baik. Pamannya tidak pernah memutuskan suatu perkara tanpa melibatkannya.

Ketika orang-orang Habasyah melihat hal itu, mereka berkata:

“Demi Allah, anak muda ini akan menguasai urusan kalian. Jika hal itu terjadi, tidak akan tersisa seorang bangsawan pun dari kalian kecuali ia akan memenggal lehernya, karena ia telah mengetahui bahwa kalian adalah orang-orang yang berpihak kepada ayahnya yang telah kalian bunuh.”

Maka mereka berkata kepada pamannya:

“Sesungguhnya kami melihat kedudukan anak ini di sisimu dan ketaatannya kepadamu. Kami khawatir terhadap diri kami sendiri. Karena itu, pilihlah: engkau membunuhnya atau engkau mengusirnya dari negeri kami.”

Pamannya berkata:

“Celaka kalian! Baru kemarin kita membunuh ayahnya, apakah hari ini kita akan membunuhnya juga? Adapun untuk membunuhnya, aku tidak akan melakukannya. Tetapi aku akan mengeluarkannya dari negeri kalian.”

Lalu ia memerintahkan agar anak itu dibawa ke pasar. Maka ia pun didirikan di pasar (untuk dijual), lalu seorang pedagang membelinya dengan harga enam ratus dirham. Pedagang itu menyerahkan uang tersebut kepada mereka, kemudian pergi membawa anak itu bersamanya.

Ketika tiba waktu sore, datanglah awan dari awan-awan musim gugur yang bergolak (awan badai yang kuat).

Maka pamannya keluar untuk meminta hujan di bawah awan itu. Tiba-tiba petir menyambarnya, lalu ia pun meninggal.

Orang-orang Habasyah menjadi panik dan berpaling kepada anak-anaknya (anak-anak sang paman), tetapi ternyata tidak ada seorang pun di antara mereka yang layak (untuk menjadi raja).

Lalu orang-orang Habasyah berkata:

“Demi Allah, kalian sungguh mengetahui bahwa raja kalian yang sebenarnya adalah anak muda yang tadi pagi kalian jual itu. Jika kalian tidak segera mendapatkannya kembali, urusan kalian akan menjadi rusak.”

Maka mereka segera menyusulnya, mencarinya, lalu membawanya kembali. Mereka meletakkan mahkota di kepalanya, mendudukkannya di singgasana kerajaan, dan mereka berbaiat kepadanya (mengangkatnya sebagai raja).

Ketika mereka melakukan hal itu (mengangkat Najasyi menjadi raja), pedagang yang telah membelinya berkata kepada mereka:

“Kembalikan uangku kepadaku, atau serahkan kembali budakku kepadaku.”

Mereka menjawab:

“Demi Allah, kami tidak akan memberikan apa pun kepadamu. Engkau sudah tahu sekarang kedudukan temanmu itu (bahwa dia telah menjadi raja), maka urusanmu dengan dia sendiri.”

Pedagang itu berkata:

“Demi Allah, jika kalian tidak melakukannya, aku akan berbicara langsung kepadanya.”

Namun mereka tetap menolaknya.

Maka pedagang itu pun berjalan mendekat hingga duduk di hadapan Najasyi.

Pedagang itu berkata:

“Wahai raja, aku telah membeli seorang anak muda secara terang-terangan, bukan secara sembunyi-sembunyi, di salah satu pasar. Aku telah memberikan harga pembeliannya kepada mereka, dan mereka telah menyerahkan anak itu kepadaku.

Kemudian mereka menyerangku, lalu merampas kembali anakku dariku, dan menahan hartaku (uangku) dariku. Maka lihatlah dan putuskanlah apa yang engkau pandang benar.”

Lalu Najasyi menoleh kepada orang-orang di sekelilingnya dan berkata:

“Benar-benar kalian harus memberikan uangnya kembali kepadanya, atau menyerahkan anak itu ke tangannya agar ia pergi bersamanya.”

Mereka pun berkata:

“Kami akan memberikan uangnya kembali kepadanya.”

Maka itulah pertama kali diketahui tentang dirinya berupa kejujuran, keadilan, dan keteguhannya dalam menetapkan hukum.

Itulah yang dimaksud dengan ucapannya:

“Allah tidak mengambil suap dariku ketika Dia mengembalikan kerajaan kepadaku, sementara manusia tidak menaati aku dalam hal itu, maka bagaimana mungkin aku menaati mereka dalam urusan agama?”


Baca juga:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

الا لا تنال العلم الا بستة Bahasa Jawa dan Indonesia

Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur

Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu