Perbedaan Antara Hawa Nafsu Dan Syahwat
الهوى والشهوة
Perbedaan Antara Hawa Nafsu Dan Syahwat
فَأَمَّا فَرْقُ مَا بَيْنَ الْهَوَى وَالشَّهْوَةِ مَعَ اجْتِمَاعِهِمَا فِي الْعِلَّةِ وَالْمَعْلُولِ ، وَاتِّفَاقِهِمَا فِي الدَّلَالَةِ وَالْمَدْلُولِ ، فَهُوَ أَنَّ الْهَوَى مُخْتَصٌّ بِالْآرَاءِ وَالِاعْتِقَادَاتِ ، وَالشَّهْوَةَ مُخْتَصَّةٌ بِنَيْلِ اللَّذَّةِ .
فَصَارَتْ الشَّهْوَةُ مِنْ نَتَائِجِ الْهَوَى وَهِيَ أَخَصُّ ، وَالْهَوَى أَصْلٌ هُوَ أَعَمُّ .
وَنَحْنُ نَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يَكْفِيَنَا دَوَاعِيَ الْهَوَى ، وَيَصْرِفَ عَنَّا سُبُلَ الرَّدَى ، وَيَجْعَلَ التَّوْفِيقَ لَنَا قَائِدًا ، وَالْعَقْلَ لَنَا مُرْشِدًا .
فَقَدْ رُوِيَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْحَى إلَى عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ : عِظْ نَفْسَك فَإِنْ اتَّعَظَتْ فَعِظْ النَّاسَ وَإِلَّا فَاسْتَحْيِ مِنِّي .
Adapun perbedaan antara hawa nafsu dan syahwat , meskipun keduanya memiliki kesamaan dalam sebab dan akibat, serta kesamaan dalam makna dan yang ditunjukkan, adalah sebagai berikut: Hawa nafsu khusus terkait dengan pendapat dan keyakinan, sedangkan syahwat khusus terkait dengan pencapaian kenikmatan. Maka syahwat menjadi salah satu akibat dari hawa nafsu dan bersifat lebih khusus, sedangkan hawa nafsu merupakan asal yang lebih luas.
Dan kami memohon kepada Allah Ta’ālā agar Dia cukupkan kami dari godaan hawa nafsu, menjauhkan kami dari jalan kehancuran, menjadikan taufik-Nya sebagai pemimpin kami, dan menjadikan akal sebagai pembimbing kami.
Telah diriwayatkan bahwa Allah Ta’ālā menurunkan wahyu kepada ‘Īsā ‘Alaihissalām: “Nasihatilah dirimu sendiri; jika dirimu mau diberi nasihat, maka nasihatilah manusia, dan jika tidak, maka malulah kepada-Ku.”
وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ كُنَاسَةَ :
مَا مَنْ رَوَى أَدَبًا فَلَمْ يَعْمَلْ بِهِ # وَيَكُفَّ عَنْ زَيْغِ الْهَوَى بِأَدِيبِ
حَتَّى يَكُونَ بِمَا تَعَلَّمَ عَامِلًا # مِنْ صَالِحٍ فَيَكُونَ غَيْرَ مَعِيبِ
وَلَقَلَّمَا تُغْنِي إصَابَةُ قَائِلٍ # أَفْعَالُهُ أَفْعَالُ غَيْرِ مُصِيبِ
Muhammad bin Kunāshah berkata:
Tidaklah seseorang mempelajari adab (etika/akhlak) kecuali ia mengamalkannya dan menahan diri dari penyimpangan hawa nafsu dengan bimbingan adab tersebut
Hingga ia benar-benar mengamalkan apa yang telah dipelajarinya dengan perbuatan yang baik, sehingga ia menjadi tidak tercela
Dan sungguh, ucapan seorang pembicara seringkali tidak memberi manfaat, karena perbuatannya bukan perbuatan yang tepat (tidak selaras dengan ucapannya)
وَقَالَ آخَرُ :
يَا أَيُّهَا الرَّجُلُ الْمُعَلِّمُ غَيْرَهُ # هَلَّا لِنَفْسِك كَانَ ذَا التَّعْلِيمُ
تَصِفُ الدَّوَاءَ لِذِي السِّقَامِ وَذِي الضَّنَى # كَيْمَا يَصِحَّ بِهِ وَأَنْتَ سَقِيمُ
ابْدَأْ بِنَفْسِك فَانْهَهَا عَنْ غَيِّهَا # فَإِذَا انْتَهَتْ عَنْهُ فَأَنْتَ حَكِيمُ
فَهُنَاكَ تُعْذَرُ إنْ وَعَظْتَ وَيُقْتَدَى # بِالْقَوْلِ مِنْك وَيُقْبَلُ التَّعْلِيمُ
لَا تَنْهَ عَنْ خُلُقٍ وَتَأْتِيَ مِثْلَهُ # عَارٌ عَلَيْك إذَا فَعَلْت عَظِيمُ
Dan yang lain berkata:
Hai orang yang mengajar orang lain, mengapa engkau tidak mulai mengajar dirimu sendiri terlebih dahulu?
Engkau menyarankan obat bagi orang yang sakit atau kekurangan, sedangkan dirimu sendiri sedang sakit
Mulailah dari dirimu sendiri dan cegahlah dirimu dari keburukan; apabila dirimu telah terbebas darinya, barulah engkau dikatakan bijak.
Pada saat itulah engkau dapat diberi maaf bila menasihati orang lain, ucapannmu akan menjadi contoh, dan pengajaranmu diterima
Jangan engkau melarang suatu akhlak, lalu engkau melakukan yang sebaliknya; itu aib besar bagimu jika dilakukan
حَكَى أَبُو فَرْوَةَ أَنَّ طَارِقًا صَاحِبَ شُرْطَةِ خَالِدٍ الْقَسْرِيِّ مَرَّ بِابْنِ شُبْرُمَةَ وَطَارِقٍ فِي مَوْكِبِهِ فَقَالَ ابْنُ شُبْرُمَةَ :
أَرَاهَا وَإِنْ كَانَتْ تَخُبُّ كَأَنَّهَا # سَحَابَةُ صَيْفٍ عَنْ قَرِيبٍ تَقَشَّعُ
اللَّهُمَّ لِي دِينِي وَلَهُمْ دُنْيَاهُمْ .
Abu Farwah meriwayatkan bahwa seorang penunggang kuda dari pasukan Khalid al-Qasri melewati Ibnu Shubrumah dan pasukannya, lalu Ibnu Shubrumah berkata:
Aku melihatnya, meski tampak gelap, seperti awan musim panas yang sebentar lagi akan sirna.
Ya Allah, berikanlah kepadaku agamaku, dan kepada mereka dunia mereka.
فَاسْتُعْمِلَ ابْنُ شُبْرُمَةَ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى الْقَضَاءِ، فَقَالَ لَهُ ابْنُهُ أَبُو بَكْرٍ : أَتَذْكُرُ قَوْلَك يَوْمَ كَذَا إذْ مَرَّ بِك طَارِقٌ فِي مَوْكِبِهِ؟
فَقَالَ : يَا بُنَيَّ إنَّهُمْ يَجِدُونَ مِثْلَ أَبِيك وَلَا يَجِدُ أَبُوك مِثْلَهُمْ .
إنَّ أَبَاك أَكَلَ مِنْ حَلَاوَتِهِمْ ، فَحَطَّ فِي أَهْوَائِهِمْ .
Setelah itu, Ibnu Shubrumah diangkat menjadi hakim. Lalu putranya, Abu Bakr, berkata kepadanya: “Apakah engkau ingat perkataanmu pada hari itu, ketika seorang penunggang kuda melewati pasukanmu?”
Ia menjawab: “Wahai anakku, mereka menemukan orang seperti ayahmu, tetapi ayahmu tidak menemukan orang seperti mereka. Sesungguhnya ayahmu telah memakan manisnya mereka, sehingga ia menurunkan dirinya dalam keinginan dan hawa mereka.”
(maksudnya:Seorang yang bijak bisa menikmati kenikmatan duniawi tanpa kehilangan integritas dan agamanya.Kewaspadaan, kesadaran diri, dan iman membuat seseorang tidak tergelincir dalam hawa nafsu meski berada di tengah godaan).
أَمَا تَرَى هَذَا الدَّيِّنَ الْفَاضِلَ كَيْفَ عُوجِلَ بِالتَّقْرِيعِ وَقُوبِلَ بِالتَّوْبِيخِ مِنْ أَخَصِّ ذَوِيهِ ، وَلَعَلَّهُ مِنْ أَبَرِّ بَنِيهِ .
فَكَيْفَ بِنَا وَنَحْنُ أَطْلَقُ مِنْهُ عَنَانًا ، وَأَقْلَقُ مِنْهُ جَنَانًا .
إذَا رَمَقَتْنَا أَعْيُنُ الْمُتَتَبِّعِينَ ، وَتَنَاوَلَتْنَا أَلْسُنُ الْمُتَعَتِّبِينَ .
هَلْ نَجِدُ غَيْرَ تَوْفِيقِ اللَّهِ تَعَالَى مَلَاذًا ، وَسِوَى عِصْمَتِهِ مَعَاذًا ؟
Tidakkah engkau melihat bagaimana seorang hamba yang taat dan mulia itu diberi teguran dan diingatkan oleh keluarganya sendiri, meskipun mereka termasuk anak-anaknya yang paling shaleh?
Maka bagaimana dengan kita, sedangkan kita membiarkan hawa nafsu bebas dan menggelisahkan hati kita?
Apabila mata orang yang menilai mengawasi kita, dan lidah-lidah yang menghakimi menjangkau kita,
Adakah tempat berlindung selain taufik Allah Ta’ālā, dan perlindungan selain dari penjagaan-Nya?
Baca juga: Kemuliaan Dan Keutamaan Ilmu

Komentar
Posting Komentar