Sifat / Ciri-ciri Orang Yang Berakal Dan Orang Yang Bodoh

 

صفة العاقل والأحمق

Sifat / Ciri-ciri Orang Yang Berakal Dan Orang Yang Bodoh


وَقَدْ وَصَفَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ الْعَاقِلَ بِمَا فِيهِ مِنْ الْفَضَائِلِ ، وَالْأَحْمَقَ بِمَا فِيهِ مِنْ الرَّذَائِلِ ، فَقَالَ : الْعَاقِلُ إذَا وَالَى بَذَلَ فِي الْمَوَدَّةِ نَصْرَهُ ، وَإِذَا عَادَى رَفَعَ عَنْ الظُّلْمِ قَدْرَهُ ، فَيُسْعِدُ مَوَالِيَهُ بِعَقْلِهِ ، وَيَعْتَصِمُ مُعَادِيهِ بِعَدْلِهِ .

إنْ أَحْسَنَ إلَى أَحَدٍ تَرَكَ الْمُطَالَبَةَ بِالشُّكْرِ ، وَإِنْ أَسَاءَ إلَيْهِ مُسِيءٌ سَبَّبَ لَهُ أَسْبَابَ الْعُذْرِ ، أَوْ مَنَحَهُ الصَّفْحَ وَالْعَفْوَ .

وَالْأَحْمَقُ ضَالٌّ مُضِلٌّ إنْ أُونِسَ تَكَبَّرَ ، وَإِنْ أُوحِشَ تَكْدَرَ ، وَإِنْ اُسْتُنْطِقَ تَخَلَّفَ ، وَإِنْ تُرِكَ تَكَلَّفَ .

مُجَالَسَتُهُ مِهْنَةٌ ، وَمُعَاتَبَتُهُ مِحْنَةٌ ، وَمُحَاوَرَتُهُ تَعَرٍّ ، وَمُوَالَاتُهُ تَضُرُّ ، وَمُقَارَبَتُهُ عَمَى ، وَمُقَارَنَتُهُ شَقَا .

Sebagian ahli sastra menggambarkan orang berakal dengan keutamaan-keutamaan yang ada padanya, dan orang bodoh dengan keburukan-keburukan yang ada padanya. Ia berkata: “Orang berakal, apabila ia menjalin persahabatan, ia mencurahkan pertolongan dalam kasih sayangnya. Dan apabila ia memusuhi, ia mengangkat dirinya dari perbuatan zalim (tidak melampaui batas). Ia membahagiakan orang yang mencintainya dengan akalnya, dan musuhnya pun merasa aman dari keadilannya. Jika ia berbuat baik kepada seseorang, ia tidak menuntut balasan terima kasih. Dan jika seseorang berbuat buruk kepadanya, ia mencarikan alasan baginya, atau ia memberinya maaf dan ampunan.

Dan orang yang bodoh itu sesat lagi menyesatkan. Jika dia diperlakukan ramah, ia menjadi sombong. Jika dijauhi, ia menjadi keruh (marah dan buruk sikapnya). Jika diajak berbicara, ia melenceng (tidak tepat jawabannya). Jika dibiarkan, ia bersikap dibuat-buat. Duduk bersamanya adalah kehinaan, menegurnya adalah cobaan, berdialog dengannya adalah membuka aib, bersahabat dengannya membawa mudarat, mendekatinya adalah kebutaan, dan menyertainya adalah kesengsaraan.”


وَكَانَتْ مُلُوكُ الْفُرْسِ إذَا غَضِبَتْ عَلَى عَاقِلٍ حَبَسَتْهُ مَعَ جَاهِلٍ .

وَالْأَحْمَقُ يُسِيءُ إلَى غَيْرِهِ وَيَظُنُّ أَنَّهُ قَدْ أَحْسَنَ إلَيْهِ فَيُطَالِبُهُ بِالشُّكْرِ ، وَيُحْسِنُ إلَيْهِ فَيَظُنُّ أَنَّهُ قَدْ أَسَاءَ فَيُطَالِبُهُ بِالْوَتَرِ .

Raja-raja Persia dahulu, apabila mereka marah kepada seorang yang berakal, mereka memenjarakannya bersama orang bodoh.

Dan orang bodoh itu berbuat buruk kepada orang lain, tetapi ia mengira bahwa ia telah berbuat baik kepadanya, lalu ia menuntut ucapan terima kasih darinya.

Dan ketika ia berbuat baik kepadanya, ia mengira bahwa ia telah disakiti, lalu ia menuntut balasan (dendam).


فَمَسَاوِئُ الْأَحْمَقِ لَا تَنْقَضِي وَعُيُوبُهُ لَا تَتَنَاهَى وَلَا يَقِفُ النَّظَرُ مِنْهَا إلَى غَايَةٍ إلَّا لَوَّحَتْ مَا وَرَاءَهَا مِمَّا هُوَ أَدْنَى مِنْهَا ، وَأَرْدَى ، وَأَمَرُّ ، وَأَدْهَى .

فَمَا أَكْثَرَ الْعِبْرَ لِمَنْ نَظَرَ ، وَأَنْفَعَهَا لِمَنْ اعْتَبَرَ .

Keburukan-keburukan orang bodoh itu tidak pernah habis, dan cacat-cacatnya tidak ada akhirnya.

Pandangan tidak akan sampai pada batasnya, kecuali setelah itu tampak di belakangnya sesuatu yang lebih rendah darinya, lebih buruk, lebih pahit, dan lebih dahsyat.

Maka betapa banyak pelajaran bagi orang yang mau melihat, dan betapa besar manfaatnya bagi orang yang mau mengambil pelajaran.


وَقَالَ الْأَحْنَفُ بْنُ قَيْسٍ : مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُحْفَظُ الْأَحْمَقُ إلَّا مِنْ نَفْسِهِ .

Al-Ahnaf ibn Qays berkata: “Dari segala sesuatu orang bodoh bisa dijaga, kecuali dari dirinya sendiri.”


وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : إنَّ الدُّنْيَا رُبَّمَا أَقْبَلَتْ عَلَى الْجَاهِلِ بِالِاتِّفَاقِ ، وَأَدْبَرَتْ عَنْ الْعَاقِلِ بِالِاسْتِحْقَاقِ .

Sebagian ahli sastra berkata: Sesungguhnya dunia terkadang datang (berpihak) kepada orang bodoh secara kebetulan, dan berpaling dari orang berakal karena (seakan-akan) memang pantas demikian.”

(Ungkapan “بالاستحقاق” di sini bernada sindiran halus: Seakan-akan dunia memang tidak layak untuk orang berakal, karena nilainya rendah dibandingkan akal dan kebijaksanaan).


فَإِنْ أَتَتْك مِنْهَا سُهْمَةٌ مَعَ جَهْلٍ ، أَوْ فَاتَتْك مِنْهَا بُغْيَةٌ مَعَ عَقْلٍ ، فَلَا يَحْمِلَنَّكَ ذَلِكَ عَلَى الرَّغْبَةِ فِي الْجَهْلِ ، وَالزُّهْدِ فِي الْعَقْلِ .

فَدَوْلَةُ الْجَاهِلِ مِنْ الْمُمْكِنَاتِ ، وَدَوْلَةُ الْعَاقِلِ مِنْ الْوَاجِبَاتِ .

وَلَيْسَ مَنْ أَمْكَنَهُ شَيْءٌ مِنْ ذَاتِهِ ، كَمَنْ اسْتَوْجَبَهُ بِآلَتِهِ ، وَأَدَوَاتِهِ .

وَبَعْدُ فَدَوْلَةُ الْجَاهِلِ كَالْغَرِيبِ الَّذِي يَحِنُّ إلَى النُّقْلَةِ ، وَدَوْلَةُ الْعَاقِلِ كَالنَّسِيبِ الَّذِي يَحِنُّ إلَى الْوَصْلَةِ .

Jika datang kepadamu bagian dari dunia bersama kebodohan, atau luput darimu suatu keinginan darinya bersama akal, maka janganlah hal itu membuatmu condong kepada kebodohan dan menjauh dari akal.

Sebab kejayaan orang bodoh termasuk perkara yang mungkin (bisa terjadi), sedangkan kejayaan orang berakal termasuk perkara yang semestinya (layak dan wajar).

Tidaklah sama antara orang yang memperoleh sesuatu karena kebetulan semata, dengan orang yang memperolehnya karena kelayakan, alat, dan kemampuannya.

Dan selanjutnya, kejayaan orang bodoh itu seperti orang asing yang rindu untuk pindah (tidak menetap), sedangkan kejayaan orang berakal seperti kerabat dekat yang rindu untuk tetap bersambung (menetap dan berkelanjutan).


فَلَا يَفْرَحُ الْمَرْءُ بِحَالَةٍ جَلِيلَةٍ نَالَهَا بِغَيْرِ عَقْلٍ ، وَمَنْزِلَةٍ رَفِيعَةٍ حَلَّهَا بِغَيْرِ فَضْلٍ .

فَإِنَّ الْجَهْلَ يُنْزِلُهُ مِنْهَا ، وَيُزِيلُهُ عَنْهَا ، وَيَحُطُّهُ إلَى رُتْبَتِهِ ، وَيَرُدُّهُ إلَى قِيمَتِهِ ، بَعْدَ أَنْ تَظْهَرَ عُيُوبُهُ ، وَتَكْثُرَ ذُنُوبُهُ ، وَيَصِيرَ مَادِحُهُ هَاجِيًا ، وَوَلِيُّهُ مُعَادِيًا .

Maka janganlah seseorang bergembira dengan keadaan mulia yang ia peroleh tanpa akal, dan kedudukan tinggi yang ia tempati tanpa keutamaan.

Karena sesungguhnya kebodohan akan menurunkannya darinya, menghilangkannya darinya, menjatuhkannya kembali ke tingkatnya semula, dan mengembalikannya kepada nilainya yang sebenarnya; setelah tampak cacat-cacatnya, banyak kesalahannya, dan orang yang dahulu memujinya berubah menjadi pencelanya, serta orang yang dahulu menjadi pendukungnya berubah menjadi musuhnya


وَاعْلَمْ أَنَّهُ بِحَسَبِ مَا يُنْشَرُ مِنْ فَضَائِلِ الْعَاقِلِ ، كَذَلِكَ يَظْهَرُ مِنْ رَذَائِلِ الْجَاهِلِ ، حَتَّى يَصِيرَ مَثَلًا فِي الْغَابِرِينَ ، وَحَدِيثًا فِي الْأَخِرِينَ ، مَعَ هَتْكِهِ فِي عَصْرِهِ ، وَقُبْحِ ذِكْرِهِ فِي دَهْرِهِ ، كَاَلَّذِي رَوَاهُ عَطَاءٌ عَنْ جَابِرٍ قَالَ : كَانَ فِي بَنِي إسْرَائِيلَ رَجُلٌ لَهُ حِمَارٌ .

فَقَالَ : يَا رَبِّ لَوْ كَانَ لَك حِمَارٌ لَعَلَفْته مَعَ حِمَارِي .

فَهَمَّ بِهِ نَبِيٌّ مِنْ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ ، فَأَوْحَى اللَّهُ إلَيْهِ : إنَّمَا أُثِيبُ كُلَّ إنْسَانٍ عَلَى قَدْرِ عَقْلِهِ .

Ketahuilah bahwa sebagaimana tersebarnya keutamaan orang berakal, demikian pula tampaknya keburukan orang bodoh; hingga ia menjadi perumpamaan bagi generasi terdahulu dan cerita bagi generasi kemudian, dengan terbukanya aibnya pada masanya dan buruknya namanya di zamannya.

Seperti yang diriwayatkan oleh ‘Atha’ dari Jabir, ia berkata: Dahulu di kalangan Bani Israil ada seorang laki-laki yang memiliki seekor keledai.

Ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, seandainya Engkau memiliki seekor keledai, niscaya akan aku beri makan bersama keledaiku.’

Maka seorang nabi dari nabi-nabi Allah hendak menghukumnya (karena ucapannya itu), lalu Allah mewahyukan kepadanya: ‘Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada setiap manusia sesuai dengan kadar akalnya.’


وَاسْتَعْمَلَ مُعَاوِيَةُ رَجُلًا مِنْ كَلْبٍ فَذُكِرَ الْمَجُوسُ يَوْمًا عِنْدَهُ فَقَالَ : لَعَنَ اللَّهُ الْمَجُوسَ يَنْكِحُونَ أُمَّهَاتِهِمْ ، وَاَللَّهِ لَوْ أُعْطِيتُ عَشْرَةَ آلَافِ دِرْهَمٍ مَا نَكَحْت أُمِّي .

Mu‘awiyah pernah mengangkat seorang laki-laki dari kabilah Kalb untuk suatu jabatan. Lalu suatu hari kaum Majusi disebut-sebut di hadapannya. Maka orang itu berkata:

‘Semoga Allah melaknat kaum Majusi; mereka menikahi ibu-ibu mereka! Demi Allah, seandainya aku diberi sepuluh ribu dirham pun, aku tidak akan menikahi ibuku.’


فَبَلَغَ ذَلِكَ مُعَاوِيَةَ فَقَالَ : - قَبَّحَهُ اللَّهُ - أَتَرَوْنَهُ لَوْ زَادُوهُ فَعَلَ ؟ وَعَزَلَهُ وَوَلَّى الرَّبِيعَ الْعَامِرِيَّ - وَكَانَ مِنْ النَّوْكَى - عَلَى سَائِرِ الْيَمَامَةِ فَأَقَادَ كَلْبًا بِكَلْبٍ فَقَالَ فِيهِ الشَّاعِرُ :

شَهِدْت بِأَنَّ اللَّهَ حَقًّا لِقَاؤُهُ # وَأَنَّ الرَّبِيعَ الْعَامِرِيَّ رَقِيعُ


أَقَادَ لَنَا كَلْبًا بِكَلْبٍ وَلَمْ يَدَعْ # دِمَاءَ كِلَابِ الْمُسْلِمِينَ تَضِيعُ

Maka berita itu sampai kepada Mu‘awiyah, lalu ia berkata - semoga Allah memburukkannya: “Menurut kalian, kalau mereka menambah (uangnya), apakah ia akan melakukannya?”

Lalu ia memecatnya dan mengangkat Rabi‘ al-‘Āmirī — yang termasuk orang-orang dungu — untuk memimpin seluruh wilayah Yamamah. Maka ia menetapkan qishash “anjing dengan anjing”.

Seorang penyair berkata tentangnya:

Aku bersaksi bahwa Allah benar-benar akan ditemui (di hari akhir), dan bahwa Rabi‘ al-‘Āmirī adalah orang yang tambal-sulam (lemah dan tidak layak).

Ia menetapkan qishash bagi kami: seekor anjing dibalas dengan seekor anjing, dan tidak membiarkan darah anjing-anjing kaum Muslimin sia-sia.

Catatan: “Mengqishash anjing dengan anjing”

Ini sindiran tajam kepada pejabat yang tidak memahami hukum dan prioritas.

Seakan-akan ia sibuk mengurusi hal remeh, sementara perkara besar diabaikan.


وَلَيْسَ لِمَعَارِّ الْجَهْلِ غَايَةٌ ، وَلَا لِمَضَارِّ الْحُمْقِ نِهَايَةٌ .

قَالَ الشَّاعِرُ :

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ يُسْتَطَبُّ بِهِ # إلَّا الْحَمَاقَةَ أَعْيَتْ مَنْ يُدَاوِيهَا

Dan tidak ada batas bagi celaan kebodohan, serta tidak ada akhir bagi mudarat kedunguan.

Seorang penyair berkata:

Setiap penyakit ada obat yang bisa digunakan untuk menyembuhkannya, kecuali kebodohan; ia telah melelahkan orang yang hendak mengobatinya.”


Baca juga: Akal Dan Hawa Nafsu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur

Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu

الا لا تنال العلم الا بستة

KEUTAMAAN BULAN RAJAB YANG DI AGUNGKAN KITAB DURRATUN NASHIHIN MAJIS 11

KEUTAMAAN ILMU KITAB DURRATUN NASHIHIN MAJLIS 03