Ilmu Yang Paling Utama Adalah Ilmu Agama
Ilmu Yang Paling Utama Adalah Ilmu Agama
وَإِذَا لَمْ يَكُنْ إلَى مَعْرِفَةِ جَمِيعِ الْعُلُومِ سَبِيلٌ وَجَبَ صَرْفُ الِاهْتِمَامِ إلَى مَعْرِفَةِ أَهَمِّهَا وَالْعِنَايَةِ بِأَوْلَاهَا ، وَأَفْضَلِهَا .
Dan apabila tidak ada jalan untuk mengetahui seluruh ilmu, maka wajib mengarahkan perhatian kepada mengetahui yang paling penting darinya, serta memberikan perhatian kepada yang paling utama dan paling baik di antaranya.
وَأَوْلَى الْعُلُومِ ، وَأَفْضَلُهَا عِلْمُ الدِّينِ ؛ لِأَنَّ النَّاسَ بِمَعْرِفَتِهِ يَرْشُدُونَ ، وَبِجَهْلِهِ يَضِلُّونَ .
إذْ لَا يَصِحُّ أَدَاءُ عِبَادَةٍ جَهِلَ فَاعِلُهَا صِفَاتِ أَدَائِهَا ، وَلَمْ يَعْلَمْ شُرُوطَ إجْزَائِهَا .
وَلِذَلِكَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ { فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ } .
Ilmu yang paling utama dan paling baik adalah ilmu agama; karena dengan mengetahuinya manusia mendapat petunjuk, dan dengan kebodohannya mereka tersesat.
Sebab tidak sah pelaksanaan suatu ibadah apabila pelakunya tidak mengetahui tata cara pelaksanaannya dan tidak mengetahui syarat-syarat sahnya.
Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah.’
وَإِنَّمَا كَانَ كَذَلِكَ ؛ لِأَنَّ الْعِلْمَ يَبْعَثُ عَلَى فَضْلِ الْعِبَادَةِ وَالْعِبَادَةُ مَعَ خُلُوِّ فَاعِلِهَا مِنْ الْعِلْمِ بِهَا قَدْ لَا تَكُونُ عِبَادَةً ، فَلَزِمَ عِلْمُ الدِّينِ كُلَّ مُكَلَّفٍ .
وَكَذَلِكَ قَالَ النَّبِيُّ : صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ }
Hal itu demikian karena ilmu mendorong kepada keutamaan ibadah. dan ibadah, jika pelakunya kosong dari ilmu tentangnya, bisa jadi bukanlah ibadah (yang sah).
Maka menjadi wajib bagi setiap mukallaf (orang yang dibebani syariat) untuk mempelajari ilmu agama.
Demikian pula Nabi ﷺ bersabda: ‘Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap Muslim.’
وَفِيهِ تَأْوِيلَانِ : أَحَدُهُمَا : عِلْمُ مَا لَا يَسَعُ جَهْلُهُ مِنْ الْعِبَادَاتِ .
وَالثَّانِي : جُمْلَةُ الْعِلْمِ إذَا لَمْ يَقُمْ بِطَلَبِهِ مَنْ فِيهِ كِفَايَةٌ .
Dan dalam hal ini ada dua penafsiran:
Pertama: ilmu tentang perkara-perkara ibadah yang tidak boleh seseorang tidak mengetahuinya (tidak boleh jahil terhadapnya).
Kedua: keseluruhan ilmu, apabila belum ada orang yang mencukupi dalam menuntutnya.
وَإِذَا كَانَ عِلْمُ الدِّينِ قَدْ أَوْجَبَ اللَّهُ تَعَالَى فَرْضَ بَعْضِهِ عَلَى الْأَعْيَانِ ، وَفَرْضَ جَمِيعِهِ عَلَى الْكَافَّةِ كَانَ أَوْلَى مِمَّا لَمْ يَجِبْ فَرْضُهُ عَلَى الْأَعْيَانِ وَلَا عَلَى الْكَافَّةِ .
Dan apabila ilmu agama itu Allah Ta‘ala telah mewajibkan sebagian darinya atas setiap individu, dan mewajibkan keseluruhannya atas kaum Muslimin secara umum, maka itu lebih utama daripada ilmu yang tidak diwajibkan, baik atas individu maupun atas masyarakat secara keseluruhan.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : { فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إذَا رَجَعُوا إلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ }
وَرَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ { أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا هُوَ بِمَجْلِسَيْنِ ، أَحَدُهُمَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى ، وَالْآخَرُ يَتَفَقَّهُونَ .
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كِلَا الْمَجْلِسَيْنِ عَلَى خَيْرٍ ، وَأَحَدُهُمَا أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ صَاحِبِهِ .
أَمَّا هَؤُلَاءِ فَيَسْأَلُونَ اللَّهَ تَعَالَى وَيَذْكُرُونَهُ فَإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُمْ .
وَأَمَّا الْمَجْلِسُ الْآخَرُ فَيَتَعَلَّمُونَ الْفِقْهَ وَيُعَلِّمُونَ الْجَاهِلَ .
وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا وَجَلَسَ إلَى أَهْلِ الْفِقْهِ } .
Allah Ta’ala berfirman: “Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu agama, untuk memberi peringatan kepada kaumnya ketika mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.”
Dan Abdullah ibn Umar meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah ﷺ masuk ke masjid, lalu beliau melihat dua majelis: satu majelis berdzikir kepada Allah, dan satu lagi sedang belajar (mendalami agama).
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Kedua majelis itu berada dalam kebaikan, tetapi salah satunya lebih aku cintai daripada yang lain.’
Adapun mereka (majelis pertama), mereka berdoa kepada Allah dan berdzikir kepada-Nya; jika Allah menghendaki, Dia memberi mereka, dan jika Dia menghendaki, Dia menahan (tidak memberi).
Sedangkan majelis yang lain, mereka mempelajari fiqh dan mengajarkannya kepada orang yang belum tahu.
Dan sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pengajar.”
Lalu beliau duduk bersama ahli fiqh.
وَرَوَى مَرْوَانُ بْنُ جَنَاحٍ عَنْ يُونُسَ بْنِ مَيْسَرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { الْخَيْرُ عَادَةٌ وَالشَّرُّ لَجَاجَةٌ وَمَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ } .
Marwan bin Janah meriwayatkan dari Yunus bin Maisarah, dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Kebaikan itu adalah kebiasaan, dan keburukan itu adalah sikap keras kepala. Dan barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya pemahaman dalam agama.’
وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { خِيَارُ أُمَّتِي عُلَمَاؤُهَا وَخِيَارُ عُلَمَائِهَا فُقَهَاؤُهَا } .
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Sebaik-baik umatku adalah para ulamanya, dan sebaik-baik ulamanya adalah para fuqaha (ahli fiqh)-nya.’
وَرَوَى مُعَاذُ بْنُ رِفَاعَةَ ، عَنْ إبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْعُذْرِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { لِيَحْمِل هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ } .
Dan Mu‘adz bin Rifa‘ah meriwayatkan dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman Al-‘Udzri, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Ilmu ini akan dipikul (dibawa dan dijaga) pada setiap generasi oleh orang-orang yang adil di antara mereka. Mereka akan membersihkannya dari penyimpangan orang-orang yang berlebih-lebihan, dari klaim atau pemalsuan orang-orang yang batil, dan dari penafsiran orang-orang yang bodoh.’
وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { عَلَيَّ بِخُلَفَائِي .
قَالُوا : وَمَنْ خُلَفَاؤُك ؟ قَالَ : الَّذِينَ يُحْيُونَ سُنَّتِي وَيُعَلِّمُونَهَا عِبَادَ اللَّهِ } .
Dan diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Hendaklah kalian bersama para khalifahku.’
Para sahabat bertanya: ‘Siapakah para khalifahmu?’
Beliau menjawab: ‘Yaitu orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah.’
وَرَوَى حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { التَّفَقُّهُ فِي الدِّينِ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَلَا فَتَعَلَّمُوا وَعَلِّمُوا وَتَفَقَّهُوا وَلَا تَمُوتُوا جُهَّالًا } .
Dan Humaid meriwayatkan dari Anas bahwa Nabi ﷺ bersabda: ‘Mendalami agama adalah kewajiban atas setiap Muslim. Ketahuilah, maka belajarlah, ajarkanlah, dan pahamilah (agama dengan mendalam), dan janganlah kalian mati dalam keadaan bodoh.’
وَرَوَى سُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { مَا عُبِدَ اللَّهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ فِقْهٍ فِي الدِّينِ ، وَلَفَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ ، وَلِكُلِّ شَيْءٍ عِمَادٌ وَعِمَادُ الدِّينِ الْفِقْهُ } .
Dan Sulaiman bin Yasar meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: ‘Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih utama daripada pemahaman (fiqh) dalam agama. Satu orang faqih (yang memahami agama) lebih berat (lebih sulit dihadapi) bagi setan daripada seribu ahli ibadah. Dan setiap sesuatu memiliki tiang penyangga, dan tiang agama adalah fiqh.’
Baca juga: Agama Mengatur dan Menata Masyarakat

Komentar
Posting Komentar