Ilmu tidak memiliki batas akhir

 

لا نهاية للعلم

Ilmu tidak memiliki batas akhir


وَاعْلَمْ أَنَّ كُلَّ الْعُلُومِ شَرِيفَةٌ ، وَلِكُلِّ عِلْمٍ مِنْهَا فَضِيلَةٌ ، وَالْإِحَاطَةُ بِجَمِيعِهَا مُحَالٌ .

Ketahuilah bahwa semua ilmu itu mulia, setiap ilmu memiliki keutamaan atau kelebihan tersendiri, dan menguasai semua ilmu secara menyeluruh adalah mustahil.


قِيلَ لِبَعْضِ الْحُكَمَاءِ : مَنْ يَعْرِفُ كُلَّ الْعُلُومِ ؟ فَقَالَ : كُلُّ النَّاسِ .

Dikatakan kepada sebagian orang bijak: ‘Siapa yang mengetahui semua ilmu?’

Ia menjawab: ‘Semua orang (memiliki sebagian ilmu).’


وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ ظَنَّ أَنَّ لِلْعِلْمِ غَايَةً فَقَدْ بَخَسَهُ حَقَّهُ ، وَوَضَعَهُ فِي غَيْرِ مَنْزِلَتِهِ الَّتِي وَصَفَهُ اللَّهُ بِهَا حَيْثُ يَقُولُ : { وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ الْعِلْمِ إلَّا قَلِيلًا } .

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa mengira bahwa ilmu memiliki batas akhir atau titik sempurna, maka ia telah merendahkan hak ilmu itu, Dan ia menempatkan ilmu itu pada kedudukan yang bukan seharusnya, yaitu kedudukan yang telah Allah sebutkan ketika Dia berfirman: {Dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan sedikit}.” (QS. Al-Isra’/17:85)

وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ : لَوْ كُنَّا نَطْلُبُ الْعِلْمَ لِنَبْلُغَ غَايَتَهُ كُنَّا قَدْ بَدَأْنَا الْعِلْمَ بِالنَّقِيصَةِ ، وَلَكِنَّا نَطْلُبُهُ لِنَنْقُصَ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْ الْجَهْلِ وَنَزْدَادَ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْ الْعِلْمِ .

Dan sebagian ulama berkata: “Seandainya kami mencari ilmu untuk mencapai batas akhirnya, niscaya kami telah memulai ilmu itu dengan kekurangan. Tetapi kami mencarinya agar setiap hari berkurang kebodohan kami, dan setiap hari bertambah ilmu kami.”


وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ : الْمُتَعَمِّقُ فِي الْعِلْمِ كَالسَّابِحِ فِي الْبَحْرِ لَيْسَ يَرَى أَرْضًا ، وَلَا يَعْرِف طُولًا وَلَا عَرْضًا .

Sebagian ulama berkata: “Orang yang mendalami ilmu secara mendalam seperti orang yang berenang di lautan, ia tidak melihat daratan dan tidak mengetahui panjang maupun lebarnya.”


وَقِيلَ لِحَمَّادٍ الرَّاوِيَةِ : أَمَا تَشْبَعُ مِنْ هَذِهِ الْعُلُومِ ؟ فَقَالَ : اسْتَفْرَغْنَا فِيهَا الْمَجْهُودَ ، فَلَمْ نَبْلُغْ مِنْهَا الْمَحْدُودَ ، فَنَحْنُ كَمَا قَالَ الشَّاعِرُ :

إذَا قَطَعْنَا عِلْمًا بَدَا عِلْمُ

Dikatakan kepada Ḥammād sang perawi: “Tidakkah engkau merasa puas (kenyang) dari ilmu-ilmu ini?”

Ia menjawab: “Kami telah mencurahkan seluruh kemampuan kami di dalamnya, namun kami belum mencapai batasnya.”


وَأَنْشَدَ الرَّشِيدُ عَنْ الْمَهْدِيِّ بَيْتَيْنِ وَقَالَ أَظُنُّهُمَا لَهُ :

يَا نَفْسُ خُوضِي بِحَارَ الْعِلْمِ أَوْ غُوصِي # فَالنَّاسُ مَا بَيْنَ مَعْمُومٍ وَمَخْصُوصِ

لَا شَيْءَ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا نُحِيطُ بِهِ # إلَّا إحَاطَةَ مَنْقُوصٍ بِمَنْقُوصِ

Dan Ar-Rasyid melantunkan dua bait syair dari Al-Mahdi, dan ia berkata: ‘Aku kira dua bait itu adalah miliknya.’

Wahai diriku, arungilah lautan ilmu atau menyelamlah ke dalamnya, karena manusia itu ada yang umum (biasa) dan ada yang khusus (istimewa)

Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat kita kuasai sepenuhnya kecuali penguasaan yang kurang (terbatas) oleh (makhluk) yang kurang (terbatas dan tidak sempurna)


Baca juga: Ilmu Yang Paling Utama Adalah Ilmu Agama



Komentar

Postingan populer dari blog ini

الا لا تنال العلم الا بستة

Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur

Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu