Keberuntungan Diperoleh Dengan Ilmu Dan Akal
السعادة بالعلم والعقل
Keberuntungan Diperoleh Dengan Ilmu Dan Akal
عَلَى أَنَّ الْعِلْمَ وَالْعَقْلَ سَعَادَةٌ وَإِقْبَالٌ ، وَإِنْ قَلَّ مَعَهُمَا الْمَالُ ، وَضَاقَتْ مَعَهُمَا الْحَالُ .
Sesungguhnya ilmu dan akal itu merupakan kebahagiaan dan keberuntungan, meskipun harta bersama keduanya sedikit, dan keadaan hidup bersama keduanya sempit (sederhana).
وَالْجَهْلَ وَالْحُمْقَ حِرْمَانٌ وَإِدْبَارٌ وَإِنْ كَثُرَ مَعَهُمَا الْمَالُ ، وَاتَّسَعَتْ فِيهِمَا الْحَالُ ؛ لِأَنَّ السَّعَادَةَ لَيْسَتْ بِكَثْرَةِ الْمَالِ فَكَمْ مِنْ مُكْثِرٍ شَقِيٌّ وَمُقِلٍّ سَعِيدٌ .
Dan kebodohan serta kedunguan adalah kerugian dan kemunduran, meskipun harta bersama keduanya banyak dan keadaan hidupnya luas (serba cukup).
Karena kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya harta.
Betapa banyak orang yang hartanya melimpah tetapi hidupnya sengsara,
dan betapa banyak orang yang hartanya sedikit tetapi hidupnya bahagia.
وَكَيْفَ يَكُونُ الْجَاهِلُ الْغَنِيُّ سَعِيدًا وَالْجَهْلُ يَضَعُهُ .
أَمْ كَيْفَ يَكُونُ الْعَالِمُ الْفَقِيرُ شَقِيًّا وَالْعِلْمُ يَرْفَعُهُ ؟
وَقَدْ قِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ : كَمْ مِنْ ذَلِيلٍ أَعَزَّهُ عِلْمُهُ ، وَمِنْ عَزِيزٍ أَذَلَّهُ جَهْلُهُ .
Bagaimana mungkin orang bodoh yang kaya menjadi bahagia, padahal kebodohan merendahkannya?
Dan bagaimana mungkin orang berilmu yang miskin menjadi sengsara, padahal ilmu mengangkat derajatnya?
Telah dikatakan dalam kata-kata hikmah: “Betapa banyak orang yang hina lalu dimuliakan oleh ilmunya, dan betapa banyak orang yang mulia lalu dihinakan oleh kebodohannya.”
وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُعْتَزِّ : الْجَاهِلُ كَرَوْضَةٍ عَلَى مَزْبَلَةٍ .
Abdullah bin al-Mu‘ta zz berkata: “Orang bodoh itu seperti taman yang berada di atas tempat sampah.”
وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : كُلَّمَا حَسُنَتْ نِعْمَةُ الْجَاهِلِ ازْدَادَ قُبْحًا .
Sebagian ahli hikmah berkata: “Semakin baik dan banyak kenikmatan yang dimiliki orang bodoh, maka semakin bertambah buruk (jelek) keadaannya.”
وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ لِبَنِيهِ : يَا بَنِيَّ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنْ لَمْ تَنَالُوا بِهِ مِنْ الدُّنْيَا حَظًّا فَلَأَنْ يُذَمَّ الزَّمَانُ لَكُمْ أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ أَنْ يُذَمَّ الزَّمَانُ بِكُمْ .
Sebagian ulama berkata kepada anak-anaknya: “Wahai anak-anakku, pelajarilah ilmu. Karena jika kalian tidak mendapatkan bagian (keuntungan) dari dunia dengan ilmu itu, maka lebih aku sukai jika zaman yang dicela karena kalian, daripada zaman mencela karena kalian.”
وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ : مَنْ لَمْ يَفِدْ بِالْعِلْمِ مَالًا كَسَبَ بِهِ جَمَالًا
Sebagian ahli adab berkata: “Barang siapa tidak memperoleh harta dengan ilmu, maka ia memperoleh keindahan (kemuliaan) dengannya.”
وَأَنْشَدَ بَعْضُ أَهْلِ الْأَدَبِ لِابْنِ طَبَاطَبَا :
حَسُودٌ مَرِيضُ الْقَلْبِ يُخْفِي أَنِينَهُ # وَيَضْحَى كَئِيبَ الْبَالِ عِنْدِي حَزِينَهُ
يَلُومُ عَلَيَّ أَنْ رُحْت لِلْعِلْمِ طَالِبًا # أَجْمَعُ مِنْ عِنْدِ الرُّوَاةِ فَنُونَهُ
فَأَعْرِفُ أَبْكَارَ الْكَلَامِ وَعَوْنَهُ # وَأَحْفَظُ مِمَّا أَسْتَفِيدُ عُيُونَهُ
وَيَزْعُمُ أَنَّ الْعِلْمَ لَا يُكْسِبُ الْغِنَى # وَيُحْسِنُ بِالْجَهْلِ الذَّمِيمِ ظُنُونَهُ
فَيَا لَائِمِي دَعْنِي أُغَالِي بِقِيمَتِي # فَقِيمَةُ كُلِّ النَّاسِ مَا يُحْسِنُونَهُ
Sebagian ahli adab (sastrawan) membacakan / menukilkan sebuah syair karya Ibnu Ṭabāṭabā:
Ada seorang pendengki yang sakit hatinya, ia menyembunyikan rintihannya, dan setiap kali melihatku ia tampak murung dan sedih
Ia mencelaku karena aku pergi menuntut ilmu, mengumpulkan berbagai cabang ilmu dari para perawi dan ulama
Sehingga aku mengenal ucapan-ucapan yang indah dan baru, dan aku menghafal inti-inti ilmu yang paling berharga dari apa yang kupelajari
Namun ia mengira bahwa ilmu tidak akan mendatangkan kekayaan, dan ia justru berbaik sangka kepada kebodohan yang tercela
Maka wahai orang yang mencelaku, biarkan aku meninggikan nilai diriku, sebab nilai setiap manusia ditentukan oleh apa yang ia kuasai dengan baik
وَأَنَا أَسْتَعِيذُ بِاَللَّهِ مِنْ خِدَعِ الْجَهْلِ الْمُذِلَّةِ ، وَبَوَادِرِ الْحُمْقِ الْمُضِلَّةِ .
وَأَسْأَلُهُ السَّعَادَةَ بِعَقْلٍ رَادِعٍ يَسْتَقِيمُ بِهِ مَنْ زَلَّ ، وَعِلْمٍ نَافِعٍ يَسْتَهْدِي بِهِ مَنْ ضَلَّ .
Dan aku berlindung kepada Allah dari tipu daya kebodohan yang menghinakan, dan dari dorongan kedunguan yang menyesatkan.
Dan aku memohon kepada-Nya kebahagiaan dengan akal yang mampu menahan (dari kesalahan) sehingga orang yang tergelincir dapat kembali lurus dengannya, serta ilmu yang bermanfaat yang dengannya orang yang tersesat dapat memperoleh petunjuk.
فَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : إذَا اسْتَرْذَلَ اللَّهُ عَبْدًا حَظَرَ عَلَيْهِ الْعِلْمَ .
Telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Apabila Allah menganggap seorang hamba itu rendah, maka Dia menghalanginya dari ilmu.”
Baca juga: Anjuran Untuk Menuntut Ilmu Dan Memurnikan Niat Di Dalamnya


Komentar
Posting Komentar