سرعة الخاطر
Kecerdasan Dan Kecepatan Pikiran
وَلَيْسَ لِمَنْ مُنِحَ جَوْدَةُ الْقَرِيحَةِ وَسُرْعَةُ الْخَاطِرِ عَجْزٌ عَنْ جَوَابٍ وَإِنْ أُعْضِلَ ، كَمَا قِيلَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : كَيْفَ يُحَاسِبُ اللَّهُ الْعِبَادَ عَلَى كَثْرَةِ عَدَدِهِمْ ؟ قَالَ : كَمَا يَرْزُقُهُمْ عَلَى كَثْرَةِ عَدَدِهِمْ .
Orang yang dianugerahi kecerdasan dan kecepatan pikiran tidak akan gagal memberi jawaban, bahkan jika ia sempat kebingungan.
Seperti yang pernah ditanyakan kepada Ali (radhiyallahu ‘anhu): ‘Bagaimana Allah akan menuntut hamba-Nya atas banyaknya jumlah mereka?’
Ia menjawab: ‘Sebagaimana Dia memberi mereka rezeki sesuai banyaknya jumlah mereka.’
وَقِيلَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ : أَيْنَ تَذْهَبُ الْأَرْوَاحُ إذَا فَارَقَتْ الْأَجْسَادَ ؟ قَالَ : أَيْنَ تَذْهَبُ نَارُ الْمَصَابِيحِ عِنْدَ فَنَاءِ الْأَدْهَانِ ؟ وَهَذَانِ الْجَوَابَانِ جَوَابَا إسْكَاتٍ تَضَمَّنَا دَلِيلَيْ إذْعَانٍ وَحُجَّتَيْ قَهْرٍ .
Dikatakan kepada Abdullah bin Abbas: ‘Ke mana pergi ruh ketika meninggalkan tubuh?’
Ia menjawab: ‘Ke mana pergi api lampu ketika minyaknya habis?’
Jawaban ini merupakan jawaban yang menutup perdebatan, yang mengandung dua bukti: ketaatan dan kekuasaan.
وَمِنْ غَيْرِ هَذَا الْفَنِّ وَإِنْ كَانَ مُسْكِتًا مَا حُكِيَ عَنْ إبْلِيسَ - لَعَنَهُ اللَّهُ - أَنَّهُ حِينَ ظَهَرَ لِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ : أَلَسْت تَقُولُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَك إلَّا مَا كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْك ؟ قَالَ : نَعَمْ .
قَالَ : فَارْمِ نَفْسَك مِنْ ذُرْوَةِ هَذَا الْجَبَلِ فَإِنَّهُ إنْ يُقَدِّرْ لَك السَّلَامَةَ تَسْلَمْ .
فَقَالَ لَهُ : يَا مَلْعُونُ إنَّ لِلَّهِ أَنْ يَخْتَبِرَ عِبَادَهُ وَلَيْسَ لِلْعَبْدِ أَنْ يَخْتَبِرَ رَبَّهُ .
Di luar seni kata-kata ini, dan meskipun membuat terdiam, adalah apa yang diceritakan dari Iblis – semoga Allah mengutuknya – bahwa ketika ia muncul di hadapan ‘Isa bin Maryam a.s., ia berkata: ‘Bukankah engkau mengatakan bahwa tidak akan menimpa dirimu kecuali apa yang ditetapkan Allah atasmu?’
Ia menjawab: ‘Ya.’
Iblis berkata: ‘Lemparkan dirimu dari puncak gunung ini, maka jika Allah menakdirkan keselamatanmu, engkau akan selamat.’
Ia berkata kepada Iblis: ‘Wahai terkutuk, sesungguhnya Allah berhak menguji hamba-Nya, tetapi hamba tidak berhak menguji Tuhannya.’
وَمِثْلُ هَذَا الْجَوَابِ لَا يُسْتَغْرَبُ مِنْ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ تَعَالَى الَّذِينَ أَمَدَّهُمْ بِوَحْيِهِ ، وَأَيَّدَهُمْ بِنَصْرِهِ ، وَإِنَّمَا يُسْتَغْرَبُ مِمَّنْ يَلْجَأُ إلَى خَاطِرِهِ وَيُعَوِّلُ عَلَى بَدِيهَتِهِ .
Jawaban semacam ini tidaklah mengherankan dari para Nabi Allah yang telah diberikan wahyu dan didukung oleh pertolongan-Nya. Yang mengherankan adalah orang yang bergantung pada pikirannya sendiri dan hanya mengandalkan akal tajamnya (badihah).
وَرَوَى قُثَمُ بْنُ الْعَبَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قِيلَ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : كَمْ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ؟ قَالَ : دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ .
Diriwayatkan oleh Qutham bin Abbas (semoga Allah meridhai keduanya) berkata:
‘Dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib (radhiyallahu ‘anhu): ‘Berapa jarak antara langit dan bumi?’
Ia menjawab: ‘Sebuah doa yang dikabulkan.’
(Artinya: Jarak antara langit dan bumi bukan sekadar fisik, tetapi bisa diukur dengan kedekatan manusia kepada Allah melalui doa yang dikabulkan. Jawaban ini mencerminkan kecerdasan, intuisi, dan kedalaman spiritual Ali r.a).
قِيلَ : فَكَمْ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ ؟ قَالَ : مَسِيرَةُ يَوْمٍ لِلشَّمْسِ .
Dikatakan: ‘Berapa jarak antara timur dan barat?’
Ia menjawab: ‘Perjalanan satu hari bagi matahari.’
(Kebijaksanaan tidak selalu harus literal, tapi menggunakan analogi atau pengamatan alam untuk menjawab pertanyaan).
فَكَانَ هَذَا السُّؤَالُ مِنْ سَائِلِهِ إمَّا اخْتِبَارًا ، وَإِمَّا اسْتِبْصَارًا فَصَدَرَ عَنْهُ مِنْ الْجَوَابِ مَا أَسْكَتَ .
Maka pertanyaan dari orang yang bertanya itu bisa jadi untuk menguji atau untuk mencari pemahaman, tetapi jawaban yang keluar darinya membuat orang terdiam.
Baca juga: Kesempurnaan / Kematangan Akal

Tidak ada komentar:
Posting Komentar