Keutamaan Akal dan Celaan terhadap Hawa Nafsu

 

“Adab (etika) dalam urusan dunia dan agama”


الْبَابُ الْأَوَّلُ فَضْلُ الْعَقْلِ وَذَمُّ الْهَوَى اعْلَمْ أَنَّ لِكُلِّ فَضِيلَةٍ أُسًّا وَلِكُلِّ أَدَبٍ يَنْبُوعًا ، وَأُسُّ الْفَضَائِلِ وَيَنْبُوعُ الْآدَابِ هُوَ الْعَقْلُ الَّذِي جَعَلَهُ اللَّهُ تَعَالَى لِلدِّينِ أَصْلًا وَلِلدُّنْيَا عِمَادًا ، فَأَوْجَبَ الدِّينَ بِكَمَالِهِ وَجَعَلَ الدُّنْيَا مُدَبَّرَةً بِأَحْكَامِهِ ، وَأَلَّفَ بِهِ بَيْنَ خَلْقِهِ مَعَ اخْتِلَافِ هِمَمِهِمْ وَمَآرِبِهِمْ ، وَتَبَايُنِ أَغْرَاضِهِمْ وَمَقَاصِدِهِمْ ، وَجَعَلَ مَا تَعَبَّدَهُمْ بِهِ قِسْمَيْنِ : قِسْمًا وَجَبَ بِالْعَقْلِ فَوَكَّدَهُ الشَّرْعُ ، وَقِسْمًا جَازَ فِي الْعَقْلِ فَأَوْجَبَهُ الشَّرْعُ فَكَانَ الْعَقْلُ لَهُمَا عِمَادًا .

Bab Pertama: Keutamaan Akal dan Celaan terhadap Hawa Nafsu

Ketahuilah bahwa setiap keutamaan memiliki fondasi, dan setiap adab (akhlak mulia) memiliki sumber. Fondasi segala keutamaan dan sumber segala adab adalah akal, yang Allah Ta‘ala jadikan sebagai dasar bagi agama dan sebagai penopang bagi kehidupan dunia.

Dengan kesempurnaan akal, Allah mewajibkan (menegakkan) agama, dan dengan hukum-hukumnya dunia menjadi teratur. Dengan akal pula Allah mempersatukan makhluk-Nya meskipun berbeda cita-cita dan kebutuhan mereka, serta berlainan tujuan dan maksud mereka.

Dan Allah menjadikan apa yang Dia bebankan kepada mereka (syariat) menjadi dua bagian:

1. Bagian yang wajib menurut akal, lalu syariat menegaskannya.

2. Bagian yang boleh (mungkin) menurut akal, lalu syariat mewajibkannya.


Maka akal menjadi penopang bagi keduanya.


وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { مَا اكْتَسَبَ الْمَرْءُ مِثْلَ عَقْلٍ يَهْدِي صَاحِبَهُ إلَى هُدًى ، أَوْ يَرُدُّهُ عَنْ رَدًى } .

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seseorang memperoleh (karunia) yang lebih baik daripada akal yang membimbingnya kepada petunjuk atau mengembalikannya dari kesesatan (kebinasaan).”


وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { لِكُلِّ شَيْءٍ عُمِلَ دِعَامَةٌ وَدِعَامَةُ عَمَلِ الْمَرْءِ عَقْلُهُ فَبِقَدْرِ عَقْلِهِ تَكُونُ عِبَادَتُهُ لِرَبِّهِ أَمَا سَمِعْتُمْ قَوْلَ الْفُجَّارِ { لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ }

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: “Setiap sesuatu yang dikerjakan memiliki penopang, dan penopang amal seseorang adalah akalnya. Maka sesuai kadar akalnyalah kadar ibadahnya kepada Rabb-nya. Tidakkah kalian mendengar perkataan orang-orang durhaka:

‘Seandainya kami mendengar atau berakal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka Sa‘ir.”(Al-Qur'an, Surah Al-Mulk ayat 10).


وَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَصْلُ الرَّجُلِ عَقْلُهُ ، وَحَسَبُهُ دِينُهُ ، وَمُرُوءَتُهُ خُلُقُهُ .

Umar ibn al-Khattab رضي الله عنه berkata: “Pokok (nilai dasar) seseorang adalah akalnya, kemuliaan (kedudukannya) adalah agamanya, dan kehormatannya adalah akhlaknya.”


وَقَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ : مَا اسْتَوْدَعَ اللَّهُ أَحَدًا عَقْلًا إلَّا اسْتَنْقَذَهُ بِهِ يَوْمًا مَا

Al-Hasan al-Basri رحمه الله berkata: “Tidaklah Allah menitipkan kepada seseorang akal, kecuali suatu saat Allah akan menyelamatkannya dengan akal itu.”


وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : الْعَقْلُ أَفْضَلُ مَرْجُوٍّ ، وَالْجَهْلُ أَنْكَى عَدُوٍّ .

Sebagian ahli hikmah berkata: “Akal adalah sesuatu yang paling layak diharapkan, dan kebodohan adalah musuh yang paling membinasakan.”


وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ : صَدِيقُ كُلِّ امْرِئٍ عَقْلُهُ وَعَدُوُّهُ جَهْلُهُ .

Sebagian sastrawan berkata: “Sahabat setiap orang adalah akalnya, dan musuhnya adalah kebodohannya.”


وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : خَيْرُ الْمَوَاهِبِ الْعَقْلُ ، وَشَرُّ الْمَصَائِبِ الْجَهْلُ .

Sebagian ahli balaghah (retorika) berkata: “Sebaik-baik anugerah adalah akal, dan seburuk-buruk musibah adalah kebodohan.”


وَقَالَ بَعْضُ الشُّعَرَاءِ ، وَهُوَ إبْرَاهِيمُ بْنُ حَسَّانَ :

يَزِينُ الْفَتَى فِي النَّاسِ صِحَّةُ عَقْلِهِ # وَإِنْ كَانَ مَحْظُورًا عَلَيْهِ مَكَاسِبُهْ

Sebagian ahli syair yaitu Ibrahim bin Hassan berkata:

Yang menghiasi seorang pemuda di tengah manusia adalah sehatnya akalnya, meskipun jalan-jalan mencari hartanya terhalang.


يَشِينُ الْفَتَى فِي النَّاسِ قِلَّةُ عَقْلِهِ # وَإِنْ كَرُمَتْ أَعْرَاقُهُ وَمَنَاسِبُهْ

Yang memperburuk seorang pemuda di tengah manusia adalah sedikit (lemahnya) akalnya, meskipun mulia garis keturunan dan nasabnya.


يَعِيشُ الْفَتَى بِالْعَقْلِ فِي النَّاسِ إنَّهُ # عَلَى الْعَقْلِ يَجْرِي عِلْمُهُ وَتَجَارِبُهْ 

Seorang pemuda hidup (mulia) di tengah manusia dengan akalnya, karena di atas akal itulah berjalan ilmunya dan pengalamannya.


وَأَفْضَلُ قَسْمِ اللَّهِ لِلْمَرْءِ عَقْلُهُ # فَلَيْسَ مِنْ الْأَشْيَاءِ شَيْءٌ يُقَارِبُهْ

Sebaik-baik bagian (karunia) yang Allah berikan kepada seseorang adalah akalnya, tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengannya.


إذَا أَكْمَلَ الرَّحْمَنُ لِلْمَرْءِ عَقْلَهُ # فَقَدْ كَمُلَتْ أَخْلَاقُهُ وَمَآرِبُهْ

Jika Ar-Rahman telah menyempurnakan akal seseorang, maka sempurnalah akhlak dan tujuan-tujuannya.


وَاعْلَمْ أَنَّ بِالْعَقْلِ تُعْرَفُ حَقَائِقُ الْأُمُورِ وَيُفْصَلُ بَيْنَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ .

وَقَدْ يَنْقَسِمُ قِسْمَيْنِ : غَرِيزِيٍّ وَمُكْتَسَبٍ .

فَالْغَرِيزِيُّ هُوَ الْعَقْلُ الْحَقِيقِيُّ .

وَلَهُ حَدٌّ يَتَعَلَّقُ بِهِ التَّكْلِيفُ لَا يُجَاوِزُهُ إلَى زِيَادَةٍ وَلَا يَقْصُرُ عَنْهُ إلَى نُقْصَانٍ. وَبِهِ يَمْتَازُ الْإِنْسَانُ عَنْ سَائِرِ الْحَيَوَانِ ، فَإِذَا تَمَّ فِي الْإِنْسَانِ سُمِّيَ عَاقِلًا وَخَرَجَ بِهِ إلَى حَدِّ الْكَمَالِ كَمَا قَالَ صَالِحُ بْنُ عَبْدِ الْقُدُّوسِ :

إذَا تَمَّ عَقْلُ الْمَرْءِ تَمَّتْ أُمُورُهُ # وَتَمَّتْ أَمَانِيهِ وَتَمَّ بِنَاؤُهُ

Ketahuilah bahwa dengan akal dapat diketahui hakikat segala sesuatu dan dengan akal dapat dibedakan antara kebaikan dan keburukan sesuatu.


Akal itu terbagi menjadi dua:

1.    Akal bawaan (gharizi)

2.    Akal yang diperoleh (muktasab)


Adapun akal bawaan adalah akal yang hakiki.

Ia memiliki batas yang dengannya seseorang dibebani taklif (kewajiban syariat); tidak bertambah melampaui batas itu dan tidak pula berkurang darinya.

Dengan akal itu manusia dibedakan dari seluruh hewan.

Jika akal itu sempurna pada diri seseorang, ia disebut orang berakal, dan dengannya ia sampai pada derajat kesempurnaan.”

Sebagaimana dikatakan oleh Salih ibn Abd al-Quddus:

Apabila sempurna akal seseorang, sempurnalah urusannya, sempurnalah cita-citanya, dan kokohlah pendiriannya


وَرَوَى الضَّحَّاكُ فِي قَوْله تَعَالَى : { لِيُنْذَرَ مَنْ كَانَ حَيًّا } أَيْ مَنْ كَانَ عَاقِلًا .

Adh-Dhahhak meriwayatkan tentang firman Allah Ta‘ala: { لِيُنذِرَ مَن كَانَ حَيًّا }

(Agar dia memberi peringatan kepada orang yang hidup), (Al-Qur'an, Surah Yasin ayat 70).

yaitu: orang yang berakal.”

Untuk memahami lebih dalam, baca juga Definisi akal dan tempatnya: 


الكتاب: أدب الدنيا والدين

تأليف: الشيخ العلامة الحافظ الفقيه الأديب المتفقنن أبى الحسن على بن محمد بن حبيب الماوردى البصرى الشافعى رحمه الله تعالى

Komentar

Postingan populer dari blog ini

الا لا تنال العلم الا بستة

Kunci Sukses Menuntut Ilmu Fasal 5

Kunci Sukses Menuntut Ilmu Fasal 4