Ilmu Yang Berhubungan Dengan Agama

 

ما يتعلق بعلم الدين من العلوم

Ilmu Yang Berhubungan Dengan Agama


وَقَدْ يَتَعَلَّقُ بِالدِّينِ عُلُومٌ قَدْ بَيَّنَ الشَّافِعِيُّ فَضِيلَةَ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا فَقَالَ : مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظُمَتْ قِيمَتُهُ ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ مِقْدَارُهُ ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَزَلَ رَأْيُهُ ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عَمَلُهُ .

Dan terkadang ada ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama. Imam al-Shafi'i telah menjelaskan keutamaan masing-masing darinya, beliau berkata:

‘Barang siapa mempelajari Al-Qur’an, maka agunglah nilainya. Barang siapa mempelajari fiqh, maka mulialah kedudukannya. Barang siapa menulis (mempelajari dan membukukan) hadits, maka kuatlah hujjahnya. Barang siapa mempelajari ilmu hitung, maka kokohlah pendapatnya. barang siapa mempelajari bahasa Arab, maka haluslah tabiatnya. Dan barang siapa tidak menjaga dirinya, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya.’


وَلَعَمْرِي إنَّ صِيَانَةَ النَّفْسِ أَصْلُ الْفَضَائِلِ ؛ لِأَنَّ مَنْ أَهْمَلَ صِيَانَةَ نَفْسِهِ ثِقَةً بِمَا مَنَحَهُ الْعِلْمُ مِنْ فَضِيلَتِهِ ، وَتَوَكُّلًا عَلَى مَا يَلْزَمُ النَّاسَ مِنْ صِيَانَتِهِ ، سَلَوْهُ فَضِيلَةَ عِلْمِهِ وَوَسَمُوهُ بِقَبِيحِ تَبَذُّلِهِ ، فَلَمْ يَفِ مَا أَعْطَاهُ الْعِلْمُ بِمَا سَلَبَهُ التَّبَذُّلُ ؛ لِأَنَّ الْقَبِيحَ أَنَمُّ مِنْ الْجَمِيلِ وَالرَّذِيلَةُ أَشْهَرُ مِنْ الْفَضِيلَةِ ؛ لِأَنَّ النَّاسَ لِمَا فِي طَبَائِعِهِمْ مِنْ الْبِغْضَةِ وَالْحَسَدِ وَنِزَاعِ الْمُنَافَسَةِ تَنْصَرِفُ عُيُونُهُمْ عَنْ الْمَحَاسِنِ إلَى الْمَسَاوِئِ ، فَلَا يُنْصِفُونَ مُحْسِنًا وَلَا يُحَابُونَ مُسِيئًا لَا سِيَّمَا مَنْ كَانَ بِالْعِلْمِ مَوْسُومًا وَإِلَيْهِ مَنْسُوبًا ، فَإِنَّ زَلَّتَهُ لَا تُقَالُ وَهَفْوَتَهُ لَا تُعْذَرُ إمَّا لِقُبْحِ أَثَرِهَا وَاغْتِرَارِ كَثِيرٍ مِنْ النَّاسِ بِهَا .

Demi umurku, sesungguhnya menjaga diri adalah pokok segala keutamaan.

Karena siapa yang mengabaikan penjagaan dirinya dengan merasa cukup atas keutamaan yang diberikan ilmu kepadanya, dan bersandar pada kewajiban orang lain untuk menghormatinya, maka orang-orang akan mencabut keutamaan ilmunya darinya dan menandainya dengan buruknya sikap rendah dirinya.

Sehingga apa yang diberikan ilmu kepadanya tidak mampu menutupi apa yang dirampas oleh sikap tidak terjaganya itu.

Sebab keburukan lebih cepat tersebar daripada kebaikan, dan kehinaan lebih terkenal daripada keutamaan.

Karena manusia, disebabkan sifat alami berupa kebencian, hasad, dan persaingan, mata mereka lebih tertuju kepada keburukan daripada kepada kebaikan.

Mereka tidak berlaku adil kepada orang yang berbuat baik dan tidak pula memaklumi orang yang berbuat salah, terlebih lagi terhadap orang yang dikenal dan disandarkan kepada ilmu.

Karena kesalahannya tidak akan ditutup-tutupi dan kekhilafannya tidak akan dimaafkan, disebabkan buruknya dampaknya dan karena banyak orang yang tertipu olehnya.


وَقَدْ قِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ : إنَّ زَلَّةَ الْعَالِمِ كَالسَّفِينَةِ تَغْرَقُ وَيَغْرَقُ مَعَهَا خَلْقٌ كَثِيرٌ ،

Telah dikatakan dalam Mantsuril Hikam (ungkapan hikmah yang tersebar): ‘Sesungguhnya kesalahan seorang alim itu seperti kapal yang tenggelam, dan tenggelam bersamanya banyak manusia.’


وَقِيلَ لِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَنْ أَشَدُّ النَّاسِ فِتْنَةً ؟ قَالَ : زَلَّةُ الْعَالِمِ إذَا زَلَّ زَلَّ بِزَلَّتِهِ عَالَمٌ كَثِيرٌ .

فَهَذَا وَجْهٌ .

وَإِمَّا لِأَنَّ الْجُهَّالَ بِذَمِّهِ أَغْرَى ، وَعَلَى تَنَقُّصِهِ أَحْرَى ؛ لِيَسْلُبُوهُ فَضِيلَةَ التَّقَدُّمِ وَيَمْنَعُوهُ مُبَايِنَةَ التَّخْصِيصِ عِنَادًا لِمَا جَهِلُوهُ وَمَقْتًا لِمَا بَايَنُوهُ ؛ لِأَنَّ الْجَاهِلَ يَرَى الْعِلْمَ تَكَلُّفًا وَلَوْمًا ، كَمَا أَنَّ الْعَالِمَ يَرَى الْجَهْلَ تَخَلُّفًا وَذَمًّا .

Dan pernah dikatakan kepada Isa putra Maryam عليه السلام: ‘Siapakah manusia yang paling besar fitnahnya?’

Beliau menjawab: ‘Kesalahan seorang alim; apabila ia tergelincir, maka tergelincir pula banyak manusia karena tergelincirnya.’

Inilah salah satu sisi (penjelasan).

Atau karena orang-orang bodoh lebih terdorong untuk mencelanya dan lebih bersemangat untuk merendahkannya, agar mereka dapat mencabut darinya keutamaan kedudukan dan mencegahnya dari keistimewaan yang membedakannya, sebagai bentuk penentangan terhadap apa yang mereka tidak ketahui dan kebencian terhadap apa yang berbeda dari diri mereka.

Karena orang bodoh memandang ilmu sebagai sesuatu yang memberatkan dan layak dicela, sebagaimana orang alim memandang kebodohan sebagai kemunduran dan sesuatu yang tercela.


وَأَنْشَدْت عَنْ الرَّبِيعِ لِلشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :

وَمَنْزِلَةُ السَّفِيهِ مِنْ الْفَقِيهِ # كَمَنْزِلَةِ الْفَقِيهِ مِنْ السَّفِيهِ

فَهَذَا زَاهِدٌ فِي قُرْبِ هَذَا # وَهَذَا فِيهِ أَزْهَدُ مِنْهُ فِيهِ

إذَا غَلَبَ الشَّقَاءُ عَلَى سَفِيهٍ # تَقَطَّعَ فِي مُخَالَفَةِ الْفَقِيهِ

Dan aku melantunkan syair dari Ar-Rabi‘, dari (perkataan) Asy-Syafi‘i radhiyallahu ‘anhu:

Kedudukan orang bodoh di sisi orang faqih, adalah seperti kedudukan orang faqih di sisi orang bodoh.

Yang ini (orang bodoh) tidak tertarik untuk dekat dengan yang itu (faqih), dan yang itu (faqih) bahkan lebih tidak tertarik lagi terhadapnya.

Apabila kesengsaraan telah menguasai seorang bodoh, ia akan bersungguh-sungguh dalam menyelisihi orang faqih


وَقَالَ يَحْيَى بْنُ خَالِدٍ لِابْنِهِ : عَلَيْك بِكُلِّ نَوْعٍ مِنْ الْعِلْمِ فَخُذْ مِنْهُ ، فَإِنَّ الْمَرْءَ عَدُوُّ مَا جَهِلَ ، وَأَنَا أَكْرَهُ أَنْ تَكُونَ عَدُوَّ شَيْءٍ مِنْ الْعِلْمِ ، وَأَنْشَدَ :

تَفَنَّنْ وَخُذْ مِنْ كُلِّ عِلْمٍ فَإِنَّمَا # يَفُوقُ امْرُؤٌ فِي كُلِّ فَنٍّ لَهُ عِلْمُ

فَأَنْتَ عَدُوٌّ لِلَّذِي أَنْتَ جَاهِلٌ # بِهِ وَلِعِلْمٍ أَنْتَ تُتْقِنُهُ سِلْمُ

Dan Yahya ibn Khalid berkata kepada anaknya:

‘Hendaklah engkau mempelajari setiap jenis ilmu dan ambillah bagian darinya, karena seseorang itu adalah musuh bagi apa yang ia tidak ketahui. Dan aku tidak suka engkau menjadi musuh bagi sesuatu dari ilmu.’

Lalu ia bersyair:

Beragamilah (pelajarilah berbagai bidang) dan ambillah dari setiap ilmu, karena sesungguhnya seseorang menjadi unggul dalam setiap bidang bila ia memiliki ilmu 

Engkau adalah musuh bagi sesuatu yang engkau tidak ketahui, dan terhadap ilmu yang engkau kuasai, engkau menjadi damai dengannya


وَإِذَا صَانَ ذُو الْعِلْمِ نَفْسَهُ حَقَّ صِيَانَتِهَا ، وَلَازَمَ فِعْلَ مَا يَلْزَمُهَا أَمِنَ تَعْيِيرَ الْمَوَالِي وَتَنْقِيصَ الْمُعَادِي ، وَجَمَعَ إلَى فَضِيلَةِ الْعِلْمِ جَمِيلَ الصِّيَانَةِ وَعِزَّ النَّزَاهَةِ فَصَارَ بِالْمَنْزِلَةِ الَّتِي يَسْتَحِقُّهَا بِفَضَائِلِهِ .

Dan apabila seorang yang berilmu menjaga dirinya dengan sebenar-benarnya penjagaan, serta senantiasa melakukan apa yang memang wajib ia lakukan, maka ia akan aman dari celaan orang-orang yang mencintainya dan dari perendahan orang-orang yang memusuhinya.

Ia pun menghimpun di samping keutamaan ilmu, keindahan penjagaan diri dan kemuliaan kehormatan.

Maka jadilah ia berada pada kedudukan yang memang pantas ia peroleh karena keutamaan-keutamaannya.


وَرَوَى أَبُو الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ لِأَنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ } .

Diriwayatkan oleh Abu Darda bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Para ulama adalah pewaris para nabi. Karena para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu.”


وَرَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { لِلْأَنْبِيَاءِ عَلَى الْعُلَمَاءِ فَضْلُ دَرَجَتَيْنِ وَلِلْعُلَمَاءِ عَلَى الشُّهَدَاءِ فَضْلُ دَرَجَةٍ } .

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda: Para nabi memiliki keutamaan dua derajat di atas para ulama, dan para ulama memiliki keutamaan satu derajat di atas para syuhada.


وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : إنَّ مِنْ الشَّرِيعَةِ أَنْ تُجِلَّ أَهْلَ الشَّرِيعَةِ ، وَمِنْ الصَّنِيعَةِ أَنْ تَرُبَّ حُسْنَ الصَّنِيعَةِ .

Sebagian ahli bahasa yang fasih berkata: ‘Termasuk bagian dari syariat adalah memuliakan para ahli syariat, dan termasuk bagian dari kebaikan perbuatan adalah membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih baik.’


فَيَنْبَغِي لِمَنْ اسْتَدَلَّ بِفِطْرَتِهِ عَلَى اسْتِحْسَانِ الْفَضَائِلِ ، وَاسْتِقْبَاحِ الرَّذَائِلِ ، أَنْ يَنْفِيَ عَنْ نَفْسِهِ رَذَائِلَ الْجَهْلِ بِفَضَائِلِ الْعِلْمِ وَغَفْلَةَ الْإِهْمَالِ بِاسْتِيقَاظِ الْمُعَانَاةِ ، وَيَرْغَبَ فِي الْعِلْمِ رَغْبَةَ مُتَحَقِّقٍ لِفَضَائِلِهِ وَاثِقٍ بِمَنَافِعِهِ ، وَلَا يُلْهِيهِ عَنْ طَلَبِهِ كَثْرَةُ مَالٍ وَجَدَهُ وَلَا نُفُوذُ أَمْرٍ وَعُلُوُّ مَنْزِلَةٍ .

فَإِنَّ مَنْ نَفَذَ أَمْرُهُ فَهُوَ إلَى الْعِلْمِ أَحْوَجُ ، وَمَنْ عَلَتْ مَنْزِلَتُهُ فَهُوَ بِالْعِلْمِ أَحَقُّ .

Maka seyogianya bagi orang yang dengan fitrahnya mampu mengenali baiknya keutamaan dan buruknya kehinaan, agar ia membersihkan dirinya dari keburukan berupa kebodohan terhadap keutamaan ilmu, dan dari kelalaian serta sikap mengabaikan, dengan membangkitkan kesungguhan dan usaha.

Hendaklah ia mencintai ilmu seperti kecintaan orang yang benar-benar mengetahui keutamaannya dan yakin akan manfaatnya.

Dan janganlah ia dilalaikan dari menuntut ilmu oleh banyaknya harta yang ia miliki, atau oleh kekuasaan yang ia pegang dan tingginya kedudukan yang ia raih.

Karena sesungguhnya orang yang kekuasaannya berjalan (berpengaruh) justru lebih membutuhkan ilmu, dan orang yang tinggi kedudukannya lebih berhak untuk memiliki ilmu.


وَرَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { إنَّ الْحِكْمَةَ تَزِيدُ الشَّرِيفَ شَرَفًا ، وَتَرْفَعُ الْعَبْدَ الْمَمْلُوكَ حَتَّى تُجْلِسَهُ مَجَالِسَ الْمُلُوكِ } .

Diriwayatkan oleh Anas ibn Malik bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Sesungguhnya hikmah (kebijaksanaan) dapat menambah kemuliaan orang yang mulia, dan mengangkat seorang hamba sahaya hingga mendudukkannya di majelis-majelis para raja.”


وَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ : كُلُّ عِزٍّ لَا يُوَطِّدُهُ عِلْمٌ مَذَلَّةٌ ، وَكُلُّ عِلْمٍ لَا يُؤَيِّدُهُ عَقْلٌ مَضَلَّةٌ .

Sebagian ahli adab (orang bijak) berkata: “Setiap kemuliaan yang tidak diteguhkan oleh ilmu adalah kehinaan, dan setiap ilmu yang tidak didukung oleh akal adalah kesesatan.”


وَقَالَ بَعْضُ عُلَمَاءِ السَّلَفِ : إذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالنَّاسِ خَيْرًا جَعَلَ الْعِلْمَ فِي مُلُوكِهِمْ ، وَالْمُلْكَ فِي عُلَمَائِهِمْ .

Sebagian ulama salaf berkata: “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum, maka Dia menjadikan ilmu berada pada raja-raja mereka, dan menjadikan kekuasaan berada pada ulama mereka.”


وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : الْعِلْمُ عِصْمَةُ الْمُلُوكِ ؛ لِأَنَّهُ يَمْنَعُهُمْ مِنْ الظُّلْمِ ، وَيَرُدُّهُمْ إلَى الْحِلْمِ ، وَيَصُدُّهُمْ عَنْ الْأَذِيَّةِ ، وَيُعَطِّفُهُمْ عَلَى الرَّعِيَّةِ .

فَمِنْ حَقِّهِمْ أَنْ يَعْرِفُوا حَقَّهُ ، وَيَسْتَبْطِنُوا أَهْلَهُ .

Sebagian ahli bahasa yang fasih berkata: “Ilmu adalah penjaga (pelindung) para raja,

karena ia mencegah mereka dari kezaliman, mengembalikan mereka kepada kelembutan dan kesabaran, menahan mereka dari menyakiti, dan menumbuhkan rasa kasih kepada rakyatnya.

Maka sudah menjadi kewajiban mereka (para raja) untuk mengetahui hak ilmu, dan mendekatkan serta menjadikan para ahli ilmu sebagai orang-orang dalam (penasihat dekat) mereka.”


فَأَمَّا الْمَالُ فَظِلٌّ زَائِلٌ وَعَارِيَّةٌ مُسْتَرْجَعَةٌ وَلَيْسَ فِي كَثْرَتِهِ فَضِيلَةٌ ، وَلَوْ كَانَتْ فِيهِ فَضِيلَةٌ لَخَصَّ اللَّهُ بِهِ مَنْ اصْطَفَاهُ لِرِسَالَتِهِ ، وَاجْتَبَاهُ لِنُبُوَّتِهِ .

Adapun harta, maka ia hanyalah bayangan yang akan hilang dan titipan (pinjaman) yang suatu saat akan diambil kembali.

Tidak ada keutamaan pada banyaknya harta.

Seandainya pada harta itu terdapat keutamaan (hakiki), niscaya Allah akan mengkhususkannya bagi orang yang Dia pilih untuk risalah-Nya dan Dia pilih untuk kenabian-Nya.


وَقَدْ كَانَ أَكْثَرُ أَنْبِيَاءِ اللَّهِ تَعَالَى مَعَ مَا خَصَّهُمْ اللَّهُ بِهِ مِنْ كَرَامَتِهِ وَفَضَّلَهُمْ عَلَى سَائِرِ خَلْقِهِ ، فُقَرَاءَ لَا يَجِدُونَ بُلْغَةً وَلَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ حَتَّى صَارُوا فِي الْفَقْرِ مَثَلًا ،

Dan sungguh kebanyakan nabi Allah Ta‘ala — meskipun Allah mengkhususkan mereka dengan kemuliaan-Nya dan melebihkan mereka atas seluruh makhluk-Nya — adalah orang-orang fakir yang tidak memiliki kecukupan dan tidak mampu atas sesuatu, hingga mereka menjadi perumpamaan dalam kefakiran.


فَقَالَ الْبُحْتُرِيُّ :

فَقْرٌ كَفَقْرِ الْأَنْبِيَاءِ وَغُرْبَةٌ # وَصَبَابَةٌ لَيْسَ الْبَلَاءُ بِوَاحِدِ

وَلِعَدَمِ الْفَضِيلَةِ فِي الْمَالِ مَنَحَهُ اللَّهُ الْكَافِرَ وَحَرَمَهُ الْمُؤْمِنَ .

Maka Al-Buhturi berkata:

Kemiskinan seperti kemiskinan para nabi, dan keterasingan, serta kerinduan (penderitaan batin); ujian itu bukanlah satu macam saja.’

Dan karena tidak adanya keutamaan pada harta, Allah memberikannya kepada orang kafir dan menghalanginya dari orang mukmin.”


قَالَ الشَّاعِرُ :

كَمْ كَافِرٍ بِاَللَّهِ أَمْوَالُهُ # تَزْدَادُ أَضْعَافًا عَلَى كُفْرِهِ

وَمُؤْمِنٍ لَيْسَ لَهُ دِرْهَمٌ # يَزْدَادُ إيمَانًا عَلَى فَقْرِهِ

يَا لَائِمَ الدَّهْرِ وَأَفْعَالِهِ # مُشْتَغِلًا يَزْرِي عَلَى دَهْرِهِ

الدَّهْرُ مَأْمُورٌ لَهُ آمِرٌ # يَنْصَرِفُ الدَّهْرُ عَلَى أَمْرِهِ

Penyair berkata:

Betapa banyak orang kafir kepada Allah yang hartanya> terus bertambah berlipat-lipat meskipun dalam kekafirannya.

Dan betapa banyak orang beriman yang tidak memiliki satu dirham pun, namun imannya justru bertambah dalam kefakirannya.

Wahai orang yang mencela zaman dan perbuatannya, sibuk merendahkan zamannya sendiri,

Sesungguhnya zaman itu diperintah dan ada yang memerintahkannya; zaman berjalan sesuai dengan perintah-Nya


وَقَدْ بَيَّنَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَضْلَ مَا بَيْنَ الْعِلْمِ وَالْمَالِ فَقَالَ : الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنْ الْمَالِ .

الْعِلْمُ يَحْرُسُك ، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالِ . الْعِلْمُ حَاكِمٌ وَالْمَالُ مَحْكُومٌ عَلَيْهِ . مَاتَ خَزَّانُ الْأَمْوَالِ وَبَقِيَ خَزَّانُ الْعِلْمِ أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ ، وَأَشْخَاصُهُمْ فِي الْقُلُوبِ مَوْجُودَةٌ .


Dan sungguh Ali ibn Abi Talib رضي الله عنه telah menjelaskan perbedaan keutamaan antara ilmu dan harta, beliau berkata:

“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau, sedangkan engkau yang menjaga harta. Ilmu itu menjadi hakim (pengendali), sedangkan harta adalah sesuatu yang dikendalikan. Para penyimpan harta telah mati, sedangkan para penyimpan ilmu tetap hidup. Wujud jasmani mereka memang telah tiada, tetapi pribadi mereka tetap ada di dalam hati.”


وَسُئِلَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ : أَيُّمَا أَفْضَلُ الْمَالُ أَمْ الْعِلْمُ ؟ فَقَالَ : الْجَوَابُ عَنْ هَذَا أَيُّمَا أَفْضَلُ الْمَالُ أَمْ الْعَقْلُ .

Sebagian ulama pernah ditanya: “Manakah yang lebih utama, harta atau ilmu?”

Maka ia menjawab: “Jawaban atas pertanyaan ini adalah: manakah yang lebih utama, harta atau akal?”


وَقَالَ صَالِحُ بْنُ عَبْدِ الْقُدُّوسِ :

لَا خَيْرَ فِيمَنْ كَانَ خَيْرُ ثَنَائِهِ # فِي النَّاسِ قَوْلَهُمْ غَنِيٌّ وَاجِدُ

Dan berkata Ṣāliḥ ibn ‘Abd al-Quddūs: 

Tidak ada kebaikan pada orang yang ukuran baiknya terhadap manusia hanyalah ketika mereka berkata: Orang ini kaya dan memiliki harta


وَرُبَّمَا امْتَنَعَ الْإِنْسَانُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ لِكِبَرِ سِنِّهِ وَاسْتِحْيَائِهِ مِنْ تَقْصِيرِهِ فِي صِغَرِهِ أَنْ يَتَعَلَّمَ فِي كِبْرِهِ ، فَرَضِيَ بِالْجَهْلِ أَنْ يَكُونَ مَوْسُومًا بِهِ وَآثَرَهُ عَلَى الْعِلْمِ أَنْ يَصِيرَ مُبْتَدِئًا بِهِ .

Seringkali seseorang menahan diri dari menuntut ilmu karena merasa sudah tua,

dan malu terhadap kekurangan atau kelalaian yang ia miliki saat muda, sehingga ia enggan belajar pada masa tuanya.

Akibatnya, ia membiarkan kebodohan menjadi ciri dirinya, dan lebih memilih bodoh daripada memulai menuntut ilmu sebagai orang yang baru belajar.


وَهَذَا مِنْ خِدَعِ الْجَهْلِ وَغُرُورِ الْكَسَلِ ؛ لِأَنَّ الْعِلْمَ إذَا كَانَ فَضِيلَةً فَرَغْبَةُ ذَوِي الْأَسْنَانِ فِيهِ أَوْلَى . وَالِابْتِدَاءُ بِالْفَضِيلَةِ فَضِيلَةٌ . وَلَأَنْ يَكُونَ شَيْخًا مُتَعَلِّمًا أَوْلَى مِنْ أَنْ يَكُونَ شَيْخًا جَاهِلًا .

Ini merupakan salah satu bujukan kebodohan dan tipu daya kemalasan.

Karena ketika ilmu adalah keutamaan, maka keinginan dan semangat untuk belajar lebih utama bagi orang tua, dan memulai dengan keutamaan adalah sebuah keutamaan. Sebab lebih utama menjadi orang tua yang belajar daripada menjadi orang tua yang bodoh.


حُكِيَ أَنَّ بَعْضَ الْحُكَمَاءِ رَأَى شَيْخًا كَبِيرًا يُحِبُّ النَّظَرَ فِي الْعِلْمِ وَيَسْتَحِي فَقَالَ لَهُ : يَا هَذَا أَتَسْتَحِي أَنْ تَكُونَ فِي آخِرِ عُمُرِك أَفْضَلَ مِمَّا كُنْتَ فِي أَوَّلِهِ ،

Diriwayatkan bahwa seorang ahli hikmah melihat seorang tua yang mencintai ilmu tetapi malu (untuk belajar) lalu berkata kepadanya: “Wahai orang tua, apakah engkau malu menjadi lebih baik di akhir hidupmu daripada di awalnya?”


وَذُكِرَ أَنَّ إبْرَاهِيمَ بْنَ الْمَهْدِيِّ دَخَلَ عَلَى الْمَأْمُونِ وَعِنْدَهُ جَمَاعَةٌ يَتَكَلَّمُونَ فِي الْفِقْهِ فَقَالَ : يَا عَمِّ مَا عِنْدَك فِيمَا يَقُولُ هَؤُلَاءِ : فَقَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ شَغَلُونَا فِي الصِّغَرِ وَاشْتَغَلْنَا فِي الْكِبَرِ .

فَقَالَ : لِمَ لَا نَتَعَلَّمُهُ الْيَوْمَ ؟ قَالَ : أَوْ يَحْسُنُ بِمِثْلِي طَلَبُ الْعِلْمِ ؟ قَالَ : نَعَمْ . وَاَللَّهِ لَأَنْ تَمُوتَ طَالِبًا لِلْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَعِيشَ قَانِعًا بِالْجَهْلِ .

قَالَ : وَإِلَى مَتَى يَحْسُنُ بِي طَلَبُ الْعِلْمِ ؟ قَالَ : مَا حَسُنَتْ بِك الْحَيَاةُ ؛ وَلِأَنَّ الصَّغِيرَ أَعَذْرُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْجَهْلِ عُذْرٌ ؛ لِأَنَّهُ لَمْ تَطُلْ بِهِ مُدَّةُ التَّفْرِيطِ وَلَا اسْتَمَرَّتْ عَلَيْهِ أَيَّامُ الْإِهْمَالِ .

Diriwayatkan bahwa Ibrahim bin al-Mahdi pergi kehadapan al-Ma’mun, dan di sana terdapat sekelompok orang yang berbicara tentang fikih. Maka al-Ma’mun bertanya:

“Wahai pamanku, bagaimana pendapatmu tentang apa yang mereka bicarakan ini?”

Maka pamannya menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, mereka membuat kami sibuk saat muda, dan kami sendiri sibuk saat tua.”

al-Ma’mun berkata: “Mengapa kita tidak mempelajarinya hari ini?”

Pamannya bertanya: “Apakah pantas bagi orang sepertiku untuk menuntut ilmu?”

al-Ma’mun menjawab: “Ya. Demi Allah, lebih baik engkau mati dalam keadaan menuntut ilmu daripada hidup dengan merasa puas dalam kebodohan.”

Pamannya bertanya: “Sampai kapan pantas bagiku menuntut ilmu?”

al-Ma’mun menjawab: “Hidupmu tidak pernah sia-sia. Sebab yang muda lebih bisa dimaklumi jika bodoh, meskipun sebenarnya tidak ada alasan bagi ketidaktahuan; karena masa lalai dan hari-hari kelalaian tidak lama dialami oleh yang muda, dan tidak berlanjut seperti pada orang tua yang lalai.”


وَقَدْ قِيلَ فِي مَنْثُورِ الْحِكَمِ : جَهْلُ الصَّغِيرِ مَعْذُورٌ ، وَعِلْمُهُ مَحْقُورٌ ، فَأَمَّا الْكَبِيرُ فَالْجَهْلُ بِهِ أَقْبَحُ ، وَنَقْصُهُ عَلَيْهِ أَفْضَحُ ؛ لِأَنَّ عُلُوَّ السِّنِّ إذَا لَمْ يُكْسِبْهُ فَضْلًا وَلَمْ يُفِدْهُ عِلْمًا وَكَانَتْ أَيَّامُهُ فِي الْجَهْلِ مَاضِيَةً ، وَمِنْ الْفَضْلِ خَالِيَةً ، كَانَ الصَّغِيرُ أَفْضَلَ مِنْهُ ؛ لِأَنَّ الرَّجَاءَ لَهُ أَكْثَرُ ، وَالْأَمَلَ فِيهِ أَظْهَرُ ، وَحَسْبُك نَقْصًا فِي رَجُلٍ يَكُونُ الصَّغِيرُ الْمُسَاوِي لَهُ فِي الْجَهْلِ أَفْضَلَ مِنْهُ .

Kebodohan orang muda bisa dimaklumi, dan ilmunya belum banyak dihargai. Adapun orang tua, kebodohannya lebih buruk, dan kekurangannya lebih memalukan; karena usia yang tinggi seharusnya memberinya keutamaan dan manfaat ilmu, namun bila hari-harinya berlalu dalam kebodohan dan kosong dari keutamaan, maka orang muda lebih baik darinya. Sebab harapan bagi orang muda lebih besar, peluangnya lebih nyata, dan cukup dengan satu kekurangan pada orang tua, orang muda yang sama-sama tidak tahu bisa lebih baik darinya.


وَأَنْشَدْت لِبَعْضِ أَهْلِ الْأَدَبِ :

إذَا لَمْ يَكُنْ مَرُّ السِّنِينَ مُتَرْجِمًا # عَنْ الْفَضْلِ فِي الْإِنْسَانِ سَمَّيْته طِفْلَا

وَمَا تَنْفَعُ الْأَيَّامُ حِينَ يَعُدُّهَا # وَلَمْ يَسْتَفِدْ فِيهِنَّ عِلْمًا وَلَا فَضْلَا

أَرَى الدَّهْرَ مِنْ سُوءِ التَّصَرُّفِ مَائِلًا # إلَى كُلِّ ذِي جَهْلٍ كَأَنَّ بِهِ جَهْلَا

Aku melantunkan syair bagi sebagian ahli sastra:

Jika berlalunya tahun-tahun tidak menerjemahkan keutamaan dalam diri seseorang, maka aku menyebutnya anak kecil

Dan hari-hari itu tidak bermanfaat bila ia hanya menghitungnya tanpa memperoleh ilmu dan keutamaannya

Aku mengamati zaman, akibat buruknya tindakan yang condong kepada setiap orang bodoh seolah-seolah dunia mendukung kebodohan


وَرُبَّمَا امْتَنَعَ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ لِتَعَذُّرِ الْمَادَّةِ وَشَغَلَهُ اكْتِسَابُهَا عَنْ الْتِمَاسِ الْعِلْمِ .

وَهَذَا ، وَإِنْ كَانَ أَعْذَرَ مِنْ غَيْرِهِ مَعَ أَنَّهُ قَلَّ مَا يَكُونُ ذَلِكَ إلَّا عِنْدَ ذِي شَرَهٍ وَعَيْبٍ وَشَهْوَةٍ مُسْتَعْبِدَةٍ ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَصْرِفَ إلَى الْعِلْمِ حَظًّا مِنْ زَمَانِهِ . فَلَيْسَ كُلُّ الزَّمَانِ زَمَانَ اكْتِسَابٍ .

وَلَا بُدَّ لِلْمُكْتَسِبِ مِنْ أَوْقَاتِ اسْتِرَاحَةٍ ، وَأَيَّامِ عُطْلَةٍ .

وَمَنْ صَرَفَ كُلَّ نَفْسِهِ إلَى الْكَسْبِ حَتَّى لَمْ يَتْرُكْ لَهَا فَرَاغًا إلَى غَيْرِهِ ، فَهُوَ مِنْ عَبِيدِ الدُّنْيَا ، وَأُسَرَاءِ الْحِرْصِ .

Kadang-kadang seseorang tidak bisa menuntut ilmu karena terbatasnya materi atau biaya, sehingga kesibukan mencari nafkah membuatnya terhalang untuk mengejar ilmu. Hal ini, meskipun bisa dianggap lebih dimaklumi dibanding yang lain, tetap jarang terjadi, dan biasanya hanya terjadi pada orang yang serakah, bermasalah, atau terlalu tergila-gila pada keinginan dan nafsu. Oleh karena itu, sebaiknya seseorang meluangkan sebagian waktunya untuk ilmu, meskipun sibuk mencari nafkah. Sebab tidak semua waktu itu untuk mencari nafkah; ada saat-saat tertentu yang harus digunakan untuk hal lain, termasuk menuntut ilmu.

Siapa pun yang bekerja mencari nafkah harus memiliki waktu istirahat dan libur; manusia tidak bisa terus bekerja tanpa henti.

Barang siapa menyibukkan seluruh hidupnya hanya untuk mencari harta, hingga tidak menyisakan waktu untuk hal lain, maka dia termasuk budak dunia dan tahanan keserakahan.


وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { لِكُلِّ شَيْءٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إلَى الْعِلْمِ فَقَدْ نَجَا } .

Telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad ﷺ bahwa beliau bersabda: “Setiap hal dalam hidup memiliki periode atau waktunya sendiri. Barang siapa menggunakan waktunya untuk menuntut ilmu, maka ia selamat.”


وَرُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : { كُونُوا عُلَمَاءَ صَالِحِينَ ، فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا عُلَمَاءَ صَالِحِينَ فَجَالِسُوا الْعُلَمَاءَ وَاسْمَعُوا عِلْمًا يَدُلُّكُمْ عَلَى الْهُدَى ، وَيَرُدُّكُمْ عَنْ الرَّدَى } .

Telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad ﷺ bahwa beliau bersabda: “Jadilah orang yang berilmu dan saleh. Jika kalian tidak bisa menjadi orang yang berilmu dan saleh, maka duduklah bersama para ulama dan dengarkan ilmu yang akan menuntun kalian kepada petunjuk, serta menjauhkan kalian dari kebinasaan.”

وَقَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ : مَنْ أَحَبَّ الْعِلْمَ أَحَاطَتْ بِهِ فَضَائِلُهُ .

Sebagian ulama berkata: “Barang siapa yang mencintai ilmu, maka semua kebajikan akan menyertainya.”


وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : مَنْ صَاحَبَ الْعُلَمَاءِ وُقِّرَ ، وَمَنْ جَالَسَ السُّفَهَاءَ حُقِّرَ .

Sebagian orang bijak berkata: “Barang siapa bergaul dengan para ulama, ia akan mendapatkan kehormatan. Dan barang siapa duduk bersama orang bodoh, ia akan diremehkan.”


وَرُبَّمَا مَنَعَهُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ مَا يَظُنُّهُ مِنْ صُعُوبَتِهِ ، وَبُعْدِ غَايَتِهِ ، وَيَخْشَى مِنْ قِلَّةِ ذِهْنِهِ وَبُعْدِ فِطْنَتِهِ .

وَهَذَا الظَّنُّ اعْتِذَارُ ذَوِي النَّقْصِ وَخِيفَةُ أَهْلِ الْعَجْزِ ؛ لِأَنَّ الْأَخْبَارَ قَبْلَ الِاخْتِبَارِ جَهْلٌ ، وَالْخَشْيَةَ قَبْلَ الِابْتِلَاءِ عَجْزٌ .

Kadang-kadang seseorang terhalang untuk menuntut ilmu karena ia mengira ilmu itu terlalu sulit, terlalu tinggi tujuannya, atau karena ia merasa kurang cerdas dan kurang tajam akalnya.

Perkiraan seperti itu adalah alasan yang biasa bagi orang yang merasa terbatas, dan ketakutan bagi orang yang merasa lemah, karena mengetahui sesuatu tanpa mencobanya adalah kebodohan, dan takut sebelum mencoba adalah kelemahan.


وَقَدْ قَالَ الشَّاعِرُ :

لَا تَكُونَنَّ لِلْأُمُورِ هَيُوبًا # فَإِلَى خَيْبَةٍ يَصِيرُ الْهَيُوبُ

Seorang penyair berkata: “Janganlah kamu malas atau takut menghadapi urusan atau tanggung jawab, karena kemalasan dan ketakutan itu akan berakhir dengan kegagalan.”


وَقَالَ رَجُلٌ لِأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أُرِيدُ أَنْ أَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ ، وَأَخَافُ أَنْ أُضَيِّعَهُ .

فَقَالَ : كَفَى بِتَرْكِ الْعِلْمِ إضَاعَةٌ .

Seorang laki-laki berkata kepada Abu Hurairah (RA): “Saya ingin menuntut ilmu, tetapi saya takut akan menyia-nyiakannya.”

Abu Hurairah menjawab: “Cukup meninggalkan ilmu itu sendiri sudah merupakan penyia-nyiaan.”


وَلَيْسَ ، وَإِنْ تَفَاضَلَتْ الْأَذْهَانُ وَتَفَاوَتَتْ الْفَطِنُ ، يَنْبَغِي لِمَنْ قَلَّ مِنْهَا حَظُّهُ أَنْ يَيْأَسَ مِنْ نَيْلِ الْقَلِيلِ وَإِدْرَاكِ الْيَسِيرِ الَّذِي يَخْرُجُ بِهِ مِنْ حَدِّ الْجَهَالَةِ إلَى أَدْنَى مَرَاتِبِ التَّخْصِيصِ .

فَإِنَّ الْمَاءَ مَعَ لِينِهِ يُؤَثِّرُ فِي صَمِّ الصُّخُورِ فَكَيْفَ لَا يُؤَثِّرُ الْعِلْمُ الزَّكِيُّ فِي نَفْسِ رَاغِبٍ شَهِيٍّ ، وَطَالِبٍ خَلِيٍّ ، لَا سِيَّمَا وَطَالِبُ الْعِلْمِ مُعَانٌ .


Meskipun orang berbeda tingkat kecerdasan, orang yang kurang cerdas pun seharusnya tidak putus asa untuk mendapatkan sedikit ilmu, karena ilmu sedikit saja dapat mengeluarkannya dari kebodohan menuju tingkat pengetahuan dasar.

Sesungguhnya air yang lembut pun mampu menembus batu keras, apalagi ilmu yang murni dan tulus akan mempengaruhi jiwa orang yang bersungguh-sungguh.


قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { إنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَطْلُبُ } .

Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya para malaikat menundukkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang ia cari.”


Baca juga: Menjauhnya Orang-orang Bodoh Dari Ilmu Dan Ahli Ilmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

الا لا تنال العلم الا بستة

Kesungguhan, Kegigihan Dan Cita-Cita Luhur

Mengagungkan Ilmu Dan Ahli Ilmu