kekuatan Insting Pemuda

 

حدس الشباب

“Kekuatan Insting Pemuda”


وَأَمَّا الْوَجْهُ الثَّانِي فَقَدْ يَكُونُ بِفَرْطِ الذَّكَاءِ وَحُسْنِ الْفِطْنَةِ .

Adapun cara yang kedua, bisa terjadi karena kecerdasan yang tinggi dan ketajaman akal (firasat/bakat alami).


وَذَلِكَ جَوْدَةٌ الْحَدْسِ فِي زَمَانٍ غَيْرِ مُهْمِلٍ لِلْحَدْسِ ، فَإِذَا امْتَزَجَ بِالْعَقْلِ الْغَرِيزِيِّ صَارَتْ نَتِيجَتُهُمَا نُمُوَّ الْعَقْلِ الْمُكْتَسَبِ كَاَلَّذِي يَكُونُ فِي الْأَحْدَاثِ مِنْ وُفُورِ الْعَقْلِ وَجَوْدَةِ الرَّأْيِ ، حَتَّى قَالَ هَرِمُ بْنُ قُطْبَةَ حِينَ تَنَافَرَ إلَيْهِ عَامِرُ بْنُ الطُّفَيْلِ وَعَلْقَمَةُ بْنُ عُلَاثَةَ : عَلَيْكُمْ بِالْحَدِيثِ السِّنِّ ، الْحَدِيدِ الذِّهْنِ .

Itulah keunggulan intuisi (firasa¬t) pada masa ketika intuisi tidak diabaikan. Jika ia dipadukan dengan akal bawaan, hasil gabungannya menjadi perkembangan akal yang diperoleh, seperti yang terjadi pada orang-orang muda yang memiliki kelimpahan akal dan kualitas pertimbangan yang baik. Sampai-sampai Harim bin Quthbah berkata ketika Amir bin Thufail dan Alqamah bin Ulathah datang kepadanya: ‘Berpegang teguhlah pada perkataan yang matang, yang tajam akalnya.’


وَلَعَلَّ هَرِمًا أَرَادَ أَنْ يَدْفَعَهُمَا عَنْ نَفْسِهِ فَاعْتَذَرَ بِمَا قَالَ .

لَكِنْ لَمْ يُنْكِرَا قَوْلَهُ إذْعَانًا لِلْحَقِّ فَصَارَا إلَى أَبِي جَهْلٍ لِحَدَاثَةِ سِنِّهِ ، وَحِدَّةِ ذِهْنِهِ ، فَأَبَى أَنْ يَحْكُمَ بَيْنَهُمَا فَرَجَعَا إلَى هَرِمٍ فَحَكَمَ بَيْنَهُمَا .

Mungkin Harim ingin menyingkirkan mereka dari urusannya sendiri, sehingga ia meminta maaf dengan apa yang dikatakannya. Namun, mereka tidak menolak perkataannya karena mengakui kebenaran, lalu mereka pergi kepada Abu Jahal karena usianya masih muda dan akalnya tajam, tetapi ia menolak untuk memutuskan di antara mereka, sehingga mereka kembali kepada Harim, dan ia pun memutuskan perkara di antara mereka.

وَفِيهِ قَالَ لَبِيدٌ :

يَا هَرِمُ ابْنَ الْأَكْرَمِينَ مَنْصِبًا # إنَّك قَدْ أُوتِيتَ حُكْمًا مُعْجِبَا

Dalam hal itu, Labid berkata:

Wahai Harim, anak dari orang yang paling mulia, engkau telah diberi kemampuan mengambil keputusan yang mengagumkan


وَقَدْ قَالَتْ الْعَرَبُ عَلَيْكُمْ بِمُشَاوَرَةِ الشَّبَابِ فَإِنَّهُمْ يُنْتِجُونَ رَأْيًا لَمْ يَنَلْهُ طُولُ الْقِدَمِ ، وَلَا اسْتَوْلَتْ عَلَيْهِ رُطُوبَةُ الْهَرِمِ .

Orang Arab pernah berkata: Mintalah pendapat para pemuda, karena mereka bisa menghasilkan gagasan yang tidak dicapai oleh panjangnya umur, dan tidak terpengaruh oleh kelembaman usia tua.



وَقَدْ قَالَ الشَّاعِرُ :

Dan penyair berkata:

رَأَيْت الْعَقْلَ لَمْ يَكُنِ انْتِهَابَا # وَلَمْ يُقْسَمْ عَلَى عَدَدِ السِّنِينَا

Aku melihat akal itu tidak dibatasi, dan tidak dibagi sesuai jumlah tahun kita

وَلَوْ أَنَّ السِّنِينَ تَقَاسَمَتْهُ # حَوَى الْآبَاءُ أَنْصِبَةَ الْبَنِينَا

Seandainya tahun-tahun membaginya, para leluhur akan tetap menyimpan bagian-bagian bagi anak-anak mereka

(Kiasan bahwa kecerdasan bukan warisan otomatis dari usia atau keturunan, tapi berkembang melalui pengalaman dan pembelajaran sendiri).


وَحَكَى الْأَصْمَعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ : قُلْت لِغُلَامٍ حَدَثٍ مِنْ أَوْلَادِ الْعَرَبِ كَانَ يُحَادِثُنِي فَأَمْتَعَنِي بِفَصَاحَةٍ وَمَلَاحَةٍ : أَيَسُرُّكَ أَنْ يَكُونَ لَك مِائَةُ أَلْفِ دِرْهَمٍ ، وَأَنْتَ أَحْمَقُ ؟ قَالَ : لَا وَاَللَّهِ .

قَالَ : فَقُلْت : وَلِمَ ؟ قَالَ : أَخَافُ أَنْ يَجْنِيَ عَلَيَّ حُمْقِي جِنَايَةً تَذْهَبُ بِمَالِي وَيَبْقَى عَلَيَّ حُمْقِي .

Al-Ashma‘i رحمه الله bercerita, ia berkata: Aku berkata kepada seorang anak muda dari kalangan Arab yang berbincang denganku dan membuatku kagum dengan kefasihan dan kelucuannya: ‘Apakah kamu senang jika memiliki seratus ribu dirham tetapi kamu bodoh?’

Ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah.’

Aku bertanya: ‘Mengapa?’

Ia menjawab: ‘Aku khawatir kebodohanku akan mencelakakanku dengan suatu kesalahan yang menghabiskan hartaku, sementara kebodohanku tetap melekat padaku.’


فَانْظُرْ إلَى هَذَا الصَّبِيِّ كَيْفَ اسْتَخْرَجَ بِفَرْطِ ذَكَائِهِ ، وَاسْتَنْبَطَ بِجَوْدَةِ قَرِيحَتِهِ مَا لَعَلَّهُ يَدِقُّ عَلَى مَنْ هُوَ أَكْبَرُ مِنْهُ سِنًّا ، وَأَكْثَرُ تَجْرِبَةً .

Maka perhatikanlah anak ini, bagaimana ia mampu mengeluarkan (jawaban) karena kecerdasan yang luar biasa, dan menyimpulkan dengan kejernihan pikirannya sesuatu yang mungkin sulit dipahami oleh orang yang lebih tua darinya dan lebih banyak pengalamannya.


وَأَحْسَنُ مِنْ هَذَا الذَّكَاءِ وَالْفَطِنَةِ مَا حَكَى ابْنُ قُتَيْبَةَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرَّ بِصِبْيَانٍ يَلْعَبُونَ وَفِيهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ فَهَرَبُوا مِنْهُ إلَّا عَبْدَ اللَّهِ .

فَقَالَ لَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : مَا لَك ؟ لِمَ لَا تَهْرَبُ مَعَ أَصْحَابِك ؟ فَقَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لَمْ أَكُنْ عَلَى رِيبَةٍ فَأَخَافُك ، وَلَمْ يَكُنْ الطَّرِيقُ ضَيِّقًا فَأُوَسِّعُ لَك .

Lebih indah lagi daripada kecerdasan dan ketajaman ini, Ibn Qutaibah meriwayatkan bahwa ‘Umar bin al-Khattab رضي الله عنه melewati sekelompok anak-anak yang sedang bermain, di antaranya Abdullah bin Zubair. Semua anak itu lari darinya kecuali Abdullah bin Zubair.

‘Umar bertanya kepadanya: “Kenapa kamu tidak lari bersama teman-temanmu?”

Abdullah menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak sedang dalam rasa takut sehingga aku harus menghindar darimu, dan jalan ini tidak sempit sehingga aku harus memberi jalan untukmu.”


فَانْظُرْ مَا تَضَمَّنَهُ هَذَا الْجَوَابُ مِنْ الْفِطْنَةِ وَقُوَّةِ الْمِنَّةِ وَحُسْنِ الْبَدِيهَةِ .

كَيْفَ نَفَى عَنْهُ اللَّوْمَ ، وَأَثْبَتَ لَهُ الْحُجَّةَ فَلَيْسَ لِلذَّكَاءِ غَايَةٌ ، وَلَا لِجُودَةِ الْقَرِيحَةِ نِهَايَةٌ .

Perhatikanlah apa yang terkandung dalam jawaban ini dari ketajaman akal, kekuatan kebijaksanaan, dan kecerdasan spontan. Bagaimana ia menyingkirkan celaan darinya, dan menegaskan hujjah (argumennya). Sesungguhnya tidak ada batas bagi kecerdasan, dan tidak ada akhir bagi kualitas pikiran yang baik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Apakah Dalam Al-Qur’an Terdapat Kata-kata Yang Berasal Dari Luar Bahasa Arab?

باب هل ورد في القرآن كلمات خارجة عن لغات العرب أولا Apakah Dalam Al-Qur’an Terdapat Kata-Kata Yang Berasal Dari Luar Bahasa Arab? لا خلاف بي...