Mengapa Kehendak Allah Tidak Bisa Disamakan dengan Kehendak Manusia? Analogi Kehendak Allah Dengan Kehendak Manusia

Terjemahan Tahāfut al-Falāsifah tentang bantahan Imam Al-Ghazali terhadap analogi kehendak Allah dengan kehendak manusia

Pendahuluan

Setelah para filsuf mengemukakan perumpamaan tentang orang yang haus dan dua gelas air yang sama, Imam Al-Ghazali mulai memberikan jawaban. Menurut beliau, kesalahan mendasar dalam argumen para filsuf adalah menyamakan kehendak Allah dengan kehendak manusia. Padahal, sebagaimana ilmu Allah berbeda dari ilmu makhluk, demikian pula kehendak Allah tidak dapat diukur dengan pengalaman manusia.

Dalam bagian ini, Al-Ghazali menegaskan bahwa nama "kehendak" hanyalah istilah yang digunakan syariat untuk menunjukkan suatu sifat Allah yang berfungsi menentukan salah satu dari berbagai kemungkinan. Yang terpenting bukanlah nama sifat tersebut, melainkan makna yang dikandungnya.

Sumber Rujukan

Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت الفلاسفة)

Bab: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang Keazalian Alam

Tema: Bantahan terhadap penyamaan kehendak Allah dengan kehendak manusia.

Penulis

Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)

Terjemahan Lengkap

Mengingkari Hal Itu pada Hak Allah

Jawaban terhadap keberatan tersebut dapat diberikan dari dua sisi.

Sisi Pertama

Kami bertanya kepada kalian:

Ketika kalian mengatakan bahwa hal seperti itu tidak mungkin terjadi, apakah kalian mengetahui kemustahilannya melalui pengetahuan yang bersifat dharuri (pasti dan langsung) atau melalui penalaran (nazar)?

Kalian tidak dapat mengklaim salah satu dari keduanya.

Adapun perumpamaan yang kalian buat dengan membandingkan kehendak Allah dengan kehendak kita sendiri hanyalah analogi yang keliru.

Analogi itu sama kelirunya dengan menyamakan ilmu Allah dengan ilmu manusia.

Padahal kalian sendiri telah menetapkan bahwa ilmu Allah berbeda dari ilmu kita dalam banyak hal yang telah dijelaskan sebelumnya.

Kalau demikian, mengapa kalian mengingkari bahwa kehendak Allah juga berbeda dari kehendak manusia?

Hal itu sama seperti seseorang berkata:

"Tidak mungkin ada suatu wujud yang tidak berada di luar alam, tidak pula di dalam alam, tidak bersambung dan tidak pula terpisah darinya, karena kita tidak dapat membayangkannya pada diri kita."

Maka dijawab:

"Itu hanyalah akibat khayalanmu.

Adapun dalil akal telah mengantarkan para ahli berpikir kepada keyakinan tentang hal tersebut."

Dengan demikian, maka apa alasan kalian menolak orang yang mengatakan:

"Dalil akal telah menunjukkan adanya suatu sifat pada Allah yang fungsinya adalah menentukan salah satu dari dua kemungkinan yang sama."

Kalaupun nama "kehendak" tidak sesuai menurut kalian, maka sebutlah dengan nama lain.

Tidak ada perselisihan yang hakiki hanya karena perbedaan nama.

Kami menggunakan istilah kehendak (iradah) karena syariat menamainya demikian.

Padahal dalam bahasa Arab, kata iradah digunakan untuk menentukan sesuatu yang mengandung tujuan atau kepentingan.

Sedangkan Allah tidak memiliki tujuan dalam arti membutuhkan sesuatu.

Yang menjadi pokok pembahasan adalah makna sifat tersebut, bukan sekadar nama yang diberikan kepadanya.

Artikel Pengembangan

Kritik terhadap Analogi Para Filsuf

Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa seluruh keberatan para filsuf dibangun di atas satu asumsi:

kehendak Allah harus bekerja seperti kehendak manusia.

Beliau menolak asumsi tersebut.

Menurutnya, pengalaman manusia tidak dapat dijadikan ukuran untuk memahami sifat-sifat Allah.

Analogi Ilmu Allah

Al-Ghazali mengingatkan bahwa para filsuf sendiri telah mengakui adanya perbedaan mendasar antara ilmu Allah dan ilmu makhluk.

Ilmu manusia diperoleh secara bertahap, dipengaruhi waktu, dan dapat berubah.

Sebaliknya, ilmu Allah bersifat azali, sempurna, dan tidak mengalami perubahan.

Jika perbedaan itu diterima dalam persoalan ilmu, mengapa tidak diterima pula dalam persoalan kehendak?

Inilah inkonsistensi yang disoroti Al-Ghazali.

Hakikat Nama dan Makna

Pembahasan menarik lainnya adalah mengenai istilah iradah.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa yang dipersoalkan bukanlah nama suatu sifat.

Apabila istilah "kehendak" dianggap kurang tepat menurut definisi bahasa manusia, sifat tersebut dapat saja disebut dengan nama lain.

Yang penting adalah maknanya, yaitu adanya sifat ilahi yang menentukan salah satu dari berbagai kemungkinan.

Dengan demikian, perdebatan tidak boleh berhenti pada istilah, tetapi harus diarahkan kepada hakikat maknanya.

Jangan Mengukur Allah dengan Pengalaman Manusia

Kesalahan yang sering terjadi dalam pembahasan akidah ialah menjadikan pengalaman manusia sebagai ukuran mutlak.

Padahal Allah bukan makhluk.

Sifat-sifat-Nya tidak tunduk kepada keterbatasan pengalaman manusia.

Karena itu, Al-Ghazali mengingatkan bahwa analogi yang sah dalam kehidupan sehari-hari belum tentu berlaku ketika membahas Dzat dan sifat Allah.

Relevansi dalam Ilmu Kalam

Argumen ini menjadi salah satu fondasi penting dalam teologi Ahlus Sunnah.

Para ulama ilmu kalam membedakan antara:

  • makna umum suatu sifat yang dapat dipahami manusia;
  • dan hakikat sifat Allah yang tidak sama dengan sifat makhluk.

Prinsip ini menjaga keseimbangan antara menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam syariat dan menghindari penyerupaan Allah dengan makhluk (tasybih).

Hikmah

  • Imam Al-Ghazali mengajarkan agar sifat-sifat Allah tidak diukur dengan pengalaman manusia.
  • Analogi yang benar dalam urusan makhluk belum tentu berlaku dalam pembahasan tentang Allah.
  • Yang terpenting dalam memahami akidah adalah makna yang benar, bukan sekadar istilah.
  • Konsistensi logika merupakan syarat penting dalam berdialog dan berdebat.
  • Ilmu kalam membantu menjelaskan persoalan akidah secara rasional tanpa mengurangi kemuliaan sifat-sifat Allah.
  • Memahami perbedaan antara sifat Allah dan sifat makhluk merupakan bagian penting dari tauhid.

Penutup

Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali menolak dasar argumen para filsuf yang menyamakan kehendak Allah dengan kehendak manusia. Beliau menegaskan bahwa sebagaimana ilmu Allah tidak dapat disamakan dengan ilmu makhluk, demikian pula kehendak-Nya memiliki hakikat yang berbeda dan tidak dapat diukur melalui pengalaman manusia. Selain itu, Al-Ghazali mengingatkan bahwa yang menjadi inti pembahasan bukanlah nama suatu sifat, melainkan makna yang dikandungnya. Dengan demikian, keberatan para filsuf kehilangan landasannya karena dibangun di atas analogi yang tidak tepat antara Sang Pencipta dan makhluk-Nya.

Teks Arab :

إنكار الأمر في حق الله ...

والاعتراض من وجهين: الأول أن قولكم: إن هذا لا يتصور، عرفتموه ضرورة أو نظرًا؟ ولا يمكن دعوى واحد منهما، وتمثيلكم بإرادتنا مقايسة فاسدة تضاهي المقايسة في العلم، وعلم الله يفارق علمنا في أمور قررناها، فلم تبعد المفارقة في الإرادة بل هو كقول القائل: ذات موجودة لا خارج العالم ولا داخله ولا متصلًا ولا منفصلًا لا يعقل لأنا لا نعقله في حقنا. قيل: هذا عمل توهمك، وأما دليل العقل فقد ساق العقلاء إلى التصديق بذلك، فبم تنكرون على من يقول: دليل العقل ساق إلى إثبات صفة لله تعالى من شأنها تمييز الشيء عن مثله؟ فإن لم يطابقها اسم الإرادة فلتسم باسم آخر، فلا مشاحة في الأسماء. وإنما أطلقناها نحن بإذن الشرع، وإلا فالإرادة موضوعة في اللغة لتعيين ما فيه غرض، ولا غرض في حق الله، وإنما المقصود المعنى دون اللفظ.

Baca juga:

Imam Al-Ghazali Menjawab Perumpamaan Orang Haus: ApakahDua Pilihan yang Sama Mustahil Dipilih?

Benarkah Memilih Salah Satu dari Dua Hal yang Sama ItuMustahil? Inilah Jawaban Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali Membantah Filsuf: Mengapa Orang Tetap Memilih Salah Satu dari Dua Kurma yang Sama?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Konsep Bada' dalam Kaisaniyah: Kisah Al-Mukhtar Ats-Tsaqafi Menurut Imam Al-Isfarayini

Pendahuluan Dalam lanjutan pembahasan mengenai kelompok Kaisaniyah , Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini menerangkan alasan mengapa sebag...