Berbagai Penggunaan Istilah “A’immah”

أ

A

أَئِمَّةٌ

A’immah

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - الأَْئِمَّةُ لُغَةً: مَنْ يُقْتَدَى بِهِمْ مِنْ رَئِيسٍ أَوْ غَيْرِهِ (١) . مُفْرَدُهُ: إِمَامٌ. وَلاَ يَبْعُدُ الْمَعْنَى الاِصْطِلاَحِيُّ عَنْ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ، بِإِطْلاَقِهِ الشَّامِل لِلْمُقْتَدَى بِهِمْ عُمُومًا فِي مَجَال الْخَيْرِ وَالشَّرِّ، طَوْعًا أَوْ كَرْهًا (٢)

1 – A’immah (para imam) secara bahasa: orang-orang yang dijadikan panutan atau diikuti, baik seorang pemimpin maupun selainnya. Bentuk tunggalnya adalah إِمَامٌ (imām). Makna istilahnya tidak jauh berbeda dari makna bahasanya, karena mencakup secara umum orang-orang yang diikuti dalam perkara kebaikan maupun keburukan, baik dengan sukarela maupun dengan terpaksa.

الإِطْلاَقَاتُ الْمُخْتَلِفَةُ لِهَذَا الْمُصْطَلَحِ

Berbagai Penggunaan Istilah Ini

٢ - يُطْلَقُ عَلَى الأَْنْبِيَاءِ عَلَيْهِمْ السَّلَامُ أَنَّهُمْ " أَئِمَّةٌ " مِنْ حَيْثُ يَجِبُ عَلَى الْخَلْقِ اتِّبَاعُهُمْ، قَال اللَّهُ تَعَالَى عَقِبَ ذِكْرِ بَعْضِ الأَْنْبِيَاءِ {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا} (٣) كَمَا يُطْلَقُ عَلَى الْخُلَفَاءِ " أَئِمَّةٌ " لأَِنَّهُمْ رُتِّبُوا فِي الْمَحَل الَّذِي يَجِبُ عَلَى النَّاسِ اتِّبَاعُهُمْ وَقَبُول قَوْلِهِمْ وَأَحْكَامِهِمْ. وَتُوصَفُ إِمَامَتُهُمْ بِالإِْمَامَةِ الْكُبْرَى، كَمَا يُطْلَقُ أَيْضًا عَلَى الَّذِينَ يُصَلُّونَ بِالنَّاسِ - وَتُقَيَّدُ هَذِهِ الإِْمَامَةُ بِأَنَّهَا الإِْمَامَةُ الصُّغْرَى - لأَِنَّ مَنْ دَخَل فِي صَلاَتِهِمْ لَزِمَهُ الاِئْتِمَامُ بِهِمْ، قَال عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: إِنَّمَا جُعِل الإِْمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا، وَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَى إِمَامِكُمْ (١) .

2 – Istilah “a’immah” (para imam) digunakan untuk menyebut para nabi , karena makhluk wajib mengikuti mereka. Allah Ta‘ala berfirman setelah menyebutkan sebagian nabi:

“Dan Kami menjadikan mereka imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.”

Istilah “a’immah” juga digunakan untuk menyebut para khalifah, karena mereka ditempatkan pada kedudukan yang mengharuskan manusia mengikuti mereka serta menerima perkataan dan keputusan hukum mereka. Kepemimpinan mereka disebut al-imāmah al-kubrā (kepemimpinan besar).

Istilah imām juga digunakan untuk orang yang mengimami salat berjamaah. Kepemimpinan ini dibatasi dengan istilah al-imāmah aṣ-ṣughrā (kepemimpinan kecil), karena orang yang mengikuti salat mereka wajib mengikuti gerakan imam tersebut.

Nabi bersabda:

“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Apabila ia rukuk, maka rukuklah; apabila ia sujud, maka sujudlah; dan janganlah kalian menyelisihi imam kalian.”

وَهُنَاكَ إِطْلاَقَاتٌ اصْطِلاَحِيَّةٌ أُخْرَى لِمُصْطَلَحِ " أَئِمَّةٍ " عِنْدَ الْعُلَمَاءِ تَخْتَلِفُ مِنْ عِلْمٍ لآِخَرَ، فَهُوَ يُطْلَقُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ عَلَى مُجْتَهِدِي الشَّرْعِ أَصْحَابِ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوعَةِ (٢) ، وَإِذَا قِيل: " الأَْئِمَّةُ الأَْرْبَعَةُ " انْصَرَفَ ذَلِكَ إِلَى أَبِي حَنِيفَةَ، وَمَالِكٍ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ. وَيُطْلَقُ عِنْدَ الأُْصُولِيِّينَ عَلَى مَنْ لَهُمْ سَبْقٌ فِي تَدْوِينِ الأُْصُول بِطَرَائِقِهِ الثَّلاَثِ: طَرِيقَةُ الْمُتَكَلِّمِينَ، كَالْجُوَيْنِيِّ وَالْغَزَالِيِّ. وَطَرِيقَةُ الْحَنَفِيَّةِ، كَالْكَرْخِيِّ وَالْبَزْدَوِيِّ، وَالطَّرِيقَةُ الْجَامِعَةُ بَيْنَهُمَا، كَابْنِ السَّاعَاتِيِّ وَالسُّبْكِيِّ، وَأَمْثَالِهِمْ.

Ada pula beberapa penggunaan istilah “a’immah” (para imam) secara terminologis di kalangan para ulama. Penggunaannya berbeda-beda sesuai dengan bidang ilmu masing-masing.

Di kalangan fuqaha, istilah ini digunakan untuk menyebut para mujtahid dalam syariat yang menjadi tokoh mazhab-mazhab yang diikuti. Jika dikatakan “al-a’immah al-arba‘ah” (empat imam), yang dimaksud adalah Abu Hanifah, Malik, al-Syafi‘i, dan Ahmad.

Sedangkan di kalangan ulama usul fikih, istilah ini digunakan untuk menyebut para tokoh yang memiliki perintisan dalam kodifikasi ilmu usul fikih melalui tiga metode:

  1. Metode al-Mutakallimīn, seperti al-Juwayni dan al-Ghazali.
  2. Metode Hanafiyah, seperti al-Karkhi dan al-Bazdawi.
  3. Metode yang menggabungkan kedua metode tersebut, seperti Ibn al-Sa‘ati dan al-Subki, serta tokoh-tokoh yang semisal dengan mereka.

وَيُطْلَقُ عِنْدَ الْمُفَسِّرِينَ عَلَى أَمْثَال مُجَاهِدٍ، وَالْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ، وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ. وَيُطْلَقُ فِي عِلْمِ الْقِرَاءَاتِ عَلَى الْقُرَّاءِ الْعَشَرَةِ الَّذِينَ تَوَاتَرَتْ قِرَاءَاتُهُمْ، وَهُمْ: نَافِعٌ، وَابْنُ كَثِيرٍ، وَأَبُو عَمْرٍو، وَابْنُ عَامِرٍ، وَعَاصِمٌ، وَحَمْزَةُ، وَالْكِسَائِيُّ، وَأَبُو جَعْفَرٍ، وَيَعْقُوبُ، وَخَلَفٌ (١) . وَيُطْلَقُ مُصْطَلَحُ " أَئِمَّةٍ " عِنْدَ الْمُحَدِّثِينَ عَلَى أَهْل الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيل كَعَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ وَيَحْيَى بْنِ مَعِينٍ وَأَمْثَالِهِمَا.

Di kalangan ahli tafsir, istilah “a’immah” (para imam) digunakan untuk menyebut tokoh-tokoh seperti Mujahid, al-Hasan al-Bashri, dan Sa‘id bin Jubair.

Dalam ilmu qira’at, istilah ini digunakan untuk menyebut sepuluh imam qira’at yang bacaannya telah diriwayatkan secara mutawatir, yaitu:

Nafi‘, Ibn Kathir, Abu ‘Amr, Ibn ‘Amir, ‘Ashim, Hamzah, al-Kisa’i, Abu Ja‘far, Ya‘qub, dan Khalaf.

Sedangkan dalam kalangan ahli hadis, istilah “a’immah” digunakan untuk menyebut para ulama yang ahli dalam jarḥ wa ta‘dīl, seperti ‘Ali bin al-Madini, Yahya bin Ma‘in, dan ulama-ulama yang semisal dengan keduanya.

وَإِذَا قِيل عِنْدَهُمْ: " الأَْئِمَّةُ السِّتَّةُ " انْصَرَفَ ذَلِكَ إِلَى الأَْئِمَّةِ: الْبُخَارِيِّ، وَمُسْلِمٍ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَالتِّرْمِذِيِّ، وَالنَّسَائِيِّ، وَابْنِ مَاجَهْ. وَعَدَّ بَعْضُهُمْ مَالِكًا بَدَلاً مِنْ ابْنِ مَاجَهْ، وَبَعْضُهُمْ أَبْدَلَهُ بِالدَّارِمِيِّ (٢) . وَيُطْلَقُ عِنْدَ الْمُتَكَلِّمِينَ عَلَى أَمْثَال الأَْشْعَرِيِّ وَالْمَاتُرِيدِيِّ مِمَّنْ لَهُمْ مَذَاهِبُ وَأَتْبَاعٌ فِي الْعَقِيدَةِ.

Apabila di kalangan mereka disebut “al-A’immah as-Sittah” (Enam Imam), maka yang dimaksud adalah para imam hadis:

al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.

Sebagian ulama memasukkan Malik sebagai pengganti Ibnu Majah, sedangkan sebagian lainnya menggantinya dengan ad-Darimi.

Adapun di kalangan ahli ilmu kalam, istilah “a’immah” (para imam) digunakan untuk menyebut tokoh-tokoh seperti al-Asy‘ari dan al-Maturidi, yaitu mereka yang memiliki mazhab dan para pengikut dalam bidang akidah.

Baca juga:

Kesimpulan Akhir : KarakterKhusus Ensiklopedia Fikih

Dalil-Dalil dan Penelusuran/Penyandaran Sumbernya

Imam dalam Islam: Hukum MengikutiIjtihad Madzhab, Imamah, Talfiq, dan Hadits Mursal

أ

A

أَئِمَّةٌ

A’immah

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - الأَْئِمَّةُ لُغَةً: مَنْ يُقْتَدَى بِهِمْ مِنْ رَئِيسٍ أَوْ غَيْرِهِ (١) . مُفْرَدُهُ: إِمَامٌ. وَلاَ يَبْعُدُ الْمَعْنَى الاِصْطِلاَحِيُّ عَنْ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ، بِإِطْلاَقِهِ الشَّامِل لِلْمُقْتَدَى بِهِمْ عُمُومًا فِي مَجَال الْخَيْرِ وَالشَّرِّ، طَوْعًا أَوْ كَرْهًا (٢)

1 – A’immah (para imam) secara bahasa: orang-orang yang dijadikan panutan atau diikuti, baik seorang pemimpin maupun selainnya. Bentuk tunggalnya adalah إِمَامٌ (imām). Makna istilahnya tidak jauh berbeda dari makna bahasanya, karena mencakup secara umum orang-orang yang diikuti dalam perkara kebaikan maupun keburukan, baik dengan sukarela maupun dengan terpaksa.

الإِطْلاَقَاتُ الْمُخْتَلِفَةُ لِهَذَا الْمُصْطَلَحِ

Berbagai Penggunaan Istilah Ini

٢ - يُطْلَقُ عَلَى الأَْنْبِيَاءِ عَلَيْهِمْ السَّلَامُ أَنَّهُمْ " أَئِمَّةٌ " مِنْ حَيْثُ يَجِبُ عَلَى الْخَلْقِ اتِّبَاعُهُمْ، قَال اللَّهُ تَعَالَى عَقِبَ ذِكْرِ بَعْضِ الأَْنْبِيَاءِ {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا} (٣) كَمَا يُطْلَقُ عَلَى الْخُلَفَاءِ " أَئِمَّةٌ " لأَِنَّهُمْ رُتِّبُوا فِي الْمَحَل الَّذِي يَجِبُ عَلَى النَّاسِ اتِّبَاعُهُمْ وَقَبُول قَوْلِهِمْ وَأَحْكَامِهِمْ. وَتُوصَفُ إِمَامَتُهُمْ بِالإِْمَامَةِ الْكُبْرَى، كَمَا يُطْلَقُ أَيْضًا عَلَى الَّذِينَ يُصَلُّونَ بِالنَّاسِ - وَتُقَيَّدُ هَذِهِ الإِْمَامَةُ بِأَنَّهَا الإِْمَامَةُ الصُّغْرَى - لأَِنَّ مَنْ دَخَل فِي صَلاَتِهِمْ لَزِمَهُ الاِئْتِمَامُ بِهِمْ، قَال عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: إِنَّمَا جُعِل الإِْمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا، وَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَى إِمَامِكُمْ (١) .

2 – Istilah “a’immah” (para imam) digunakan untuk menyebut para nabi , karena makhluk wajib mengikuti mereka. Allah Ta‘ala berfirman setelah menyebutkan sebagian nabi:

“Dan Kami menjadikan mereka imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.”

Istilah “a’immah” juga digunakan untuk menyebut para khalifah, karena mereka ditempatkan pada kedudukan yang mengharuskan manusia mengikuti mereka serta menerima perkataan dan keputusan hukum mereka. Kepemimpinan mereka disebut al-imāmah al-kubrā (kepemimpinan besar).

Istilah imām juga digunakan untuk orang yang mengimami salat berjamaah. Kepemimpinan ini dibatasi dengan istilah al-imāmah aṣ-ṣughrā (kepemimpinan kecil), karena orang yang mengikuti salat mereka wajib mengikuti gerakan imam tersebut.

Nabi bersabda:

“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Apabila ia rukuk, maka rukuklah; apabila ia sujud, maka sujudlah; dan janganlah kalian menyelisihi imam kalian.”

وَهُنَاكَ إِطْلاَقَاتٌ اصْطِلاَحِيَّةٌ أُخْرَى لِمُصْطَلَحِ " أَئِمَّةٍ " عِنْدَ الْعُلَمَاءِ تَخْتَلِفُ مِنْ عِلْمٍ لآِخَرَ، فَهُوَ يُطْلَقُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ عَلَى مُجْتَهِدِي الشَّرْعِ أَصْحَابِ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوعَةِ (٢) ، وَإِذَا قِيل: " الأَْئِمَّةُ الأَْرْبَعَةُ " انْصَرَفَ ذَلِكَ إِلَى أَبِي حَنِيفَةَ، وَمَالِكٍ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ. وَيُطْلَقُ عِنْدَ الأُْصُولِيِّينَ عَلَى مَنْ لَهُمْ سَبْقٌ فِي تَدْوِينِ الأُْصُول بِطَرَائِقِهِ الثَّلاَثِ: طَرِيقَةُ الْمُتَكَلِّمِينَ، كَالْجُوَيْنِيِّ وَالْغَزَالِيِّ. وَطَرِيقَةُ الْحَنَفِيَّةِ، كَالْكَرْخِيِّ وَالْبَزْدَوِيِّ، وَالطَّرِيقَةُ الْجَامِعَةُ بَيْنَهُمَا، كَابْنِ السَّاعَاتِيِّ وَالسُّبْكِيِّ، وَأَمْثَالِهِمْ.

Ada pula beberapa penggunaan istilah “a’immah” (para imam) secara terminologis di kalangan para ulama. Penggunaannya berbeda-beda sesuai dengan bidang ilmu masing-masing.

Di kalangan fuqaha, istilah ini digunakan untuk menyebut para mujtahid dalam syariat yang menjadi tokoh mazhab-mazhab yang diikuti. Jika dikatakan “al-a’immah al-arba‘ah” (empat imam), yang dimaksud adalah Abu Hanifah, Malik, al-Syafi‘i, dan Ahmad.

Sedangkan di kalangan ulama usul fikih, istilah ini digunakan untuk menyebut para tokoh yang memiliki perintisan dalam kodifikasi ilmu usul fikih melalui tiga metode:

  1. Metode al-Mutakallimīn, seperti al-Juwayni dan al-Ghazali.
  2. Metode Hanafiyah, seperti al-Karkhi dan al-Bazdawi.
  3. Metode yang menggabungkan kedua metode tersebut, seperti Ibn al-Sa‘ati dan al-Subki, serta tokoh-tokoh yang semisal dengan mereka.

وَيُطْلَقُ عِنْدَ الْمُفَسِّرِينَ عَلَى أَمْثَال مُجَاهِدٍ، وَالْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ، وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ. وَيُطْلَقُ فِي عِلْمِ الْقِرَاءَاتِ عَلَى الْقُرَّاءِ الْعَشَرَةِ الَّذِينَ تَوَاتَرَتْ قِرَاءَاتُهُمْ، وَهُمْ: نَافِعٌ، وَابْنُ كَثِيرٍ، وَأَبُو عَمْرٍو، وَابْنُ عَامِرٍ، وَعَاصِمٌ، وَحَمْزَةُ، وَالْكِسَائِيُّ، وَأَبُو جَعْفَرٍ، وَيَعْقُوبُ، وَخَلَفٌ (١) . وَيُطْلَقُ مُصْطَلَحُ " أَئِمَّةٍ " عِنْدَ الْمُحَدِّثِينَ عَلَى أَهْل الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيل كَعَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ وَيَحْيَى بْنِ مَعِينٍ وَأَمْثَالِهِمَا.

Di kalangan ahli tafsir, istilah “a’immah” (para imam) digunakan untuk menyebut tokoh-tokoh seperti Mujahid, al-Hasan al-Bashri, dan Sa‘id bin Jubair.

Dalam ilmu qira’at, istilah ini digunakan untuk menyebut sepuluh imam qira’at yang bacaannya telah diriwayatkan secara mutawatir, yaitu:

Nafi‘, Ibn Kathir, Abu ‘Amr, Ibn ‘Amir, ‘Ashim, Hamzah, al-Kisa’i, Abu Ja‘far, Ya‘qub, dan Khalaf.

Sedangkan dalam kalangan ahli hadis, istilah “a’immah” digunakan untuk menyebut para ulama yang ahli dalam jarḥ wa ta‘dīl, seperti ‘Ali bin al-Madini, Yahya bin Ma‘in, dan ulama-ulama yang semisal dengan keduanya.

وَإِذَا قِيل عِنْدَهُمْ: " الأَْئِمَّةُ السِّتَّةُ " انْصَرَفَ ذَلِكَ إِلَى الأَْئِمَّةِ: الْبُخَارِيِّ، وَمُسْلِمٍ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَالتِّرْمِذِيِّ، وَالنَّسَائِيِّ، وَابْنِ مَاجَهْ. وَعَدَّ بَعْضُهُمْ مَالِكًا بَدَلاً مِنْ ابْنِ مَاجَهْ، وَبَعْضُهُمْ أَبْدَلَهُ بِالدَّارِمِيِّ (٢) . وَيُطْلَقُ عِنْدَ الْمُتَكَلِّمِينَ عَلَى أَمْثَال الأَْشْعَرِيِّ وَالْمَاتُرِيدِيِّ مِمَّنْ لَهُمْ مَذَاهِبُ وَأَتْبَاعٌ فِي الْعَقِيدَةِ.

Apabila di kalangan mereka disebut “al-A’immah as-Sittah” (Enam Imam), maka yang dimaksud adalah para imam hadis:

al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.

Sebagian ulama memasukkan Malik sebagai pengganti Ibnu Majah, sedangkan sebagian lainnya menggantinya dengan ad-Darimi.

Adapun di kalangan ahli ilmu kalam, istilah “a’immah” (para imam) digunakan untuk menyebut tokoh-tokoh seperti al-Asy‘ari dan al-Maturidi, yaitu mereka yang memiliki mazhab dan para pengikut dalam bidang akidah.

Baca juga:

Kesimpulan Akhir : KarakterKhusus Ensiklopedia Fikih

Dalil-Dalil dan Penelusuran/Penyandaran Sumbernya

Imam dalam Islam: Hukum MengikutiIjtihad Madzhab, Imamah, Talfiq, dan Hadits Mursal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Imam dalam Islam: Hukum Mengikuti Ijtihad Madzhab, Imamah, Talfiq, dan Hadits Mursal

الْحُكْمُ الإِجْمَالِيُّ : Hukum Secara Global: ٣ - اجْتِهَادَاتُ أَحَدِ أَئِمَّةِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْمُعْتَبَرَةِ (الَّت...