مَلاَحِقُ
الْمَوْسُوعَةِ
Lampiran-Lampiran Ensiklopedia
أ - تَرَاجِمُ الأَْعْلاَمِ
a.
Biografi para tokoh terkemuka
٥٦ - مِنْ
الْبَدَهِيِّ أَنْ تُعْنَى الْمَوْسُوعَةُ بِذَلِكَ بَعْدَ أَنْ أَصْبَحَ
مُلْتَزَمًا فِي جَمِيعِ الْمُؤَلَّفَاتِ الْمُحَقَّقَةِ، وَلِذَا الْتُزِمَ
بِتَرْجَمَةِ الأَْعْلاَمِ الَّذِينَ يَرِدُ ذِكْرُهُمْ فِي بُحُوثِ
الْمَوْسُوعَةِ مِنْ فُقَهَاءَ دُونَ غَيْرِهِمْ بِصُورَةٍ مُوجَزَةٍ يَحْصُل
بِهَا التَّعْرِيفُ بِهِمْ وَتَمْيِيزُهُمْ، حَيْثُ تَتَّفِقُ أَحْيَانًا شُهْرَةُ
أَوْ نِسْبَةُ الْكَثِيرِينَ، مَعَ الإِْشَارَةِ لأَِشْهَرِ مُؤَلَّفَاتِهِمْ
وَمَنْزِلَتِهِمْ فِي الْفِقْهِ، لِيُرَاعَى ذَلِكَ فِيمَا يُنْقَل عَنْهُمْ مِنْ
تَرْجِيحٍ أَوْ تَخْرِيجٍ، وَتُخْتَمُ التَّرْجَمَةُ بِبَيَانِ بَعْضِ
الْمَرَاجِعِ الَّتِي كُتِبَتْ عَنْهُمْ.
56
– Sudah menjadi hal yang jelas bahwa ensiklopedia perlu memberikan
perhatian terhadap hal ini, setelah biografi para tokoh menjadi bagian yang
lazim dalam seluruh karya yang telah ditahqiq. Oleh karena itu, ensiklopedia
ini memuat biografi para tokoh yang disebutkan dalam pembahasan-pembahasannya,
khususnya dari kalangan fuqaha, bukan tokoh selain mereka,
secara ringkas dengan kadar yang cukup untuk memperkenalkan dan membedakan
mereka.
Hal ini diperlukan karena terkadang terdapat kesamaan nama atau nisbah di
antara banyak tokoh. Dalam biografi tersebut juga disebutkan karya-karya mereka
yang paling terkenal serta kedudukan mereka dalam bidang fikih, agar hal
tersebut dapat menjadi pertimbangan ketika menukil dari mereka suatu tarjih
atau takhrij.
Biografi tersebut diakhiri dengan penyebutan beberapa referensi
yang membahas tentang tokoh-tokoh tersebut.
وَهَذِهِ التَّرَاجِمُ
تُنْشَرُ كَمُلْحَقٍ مُفَرَّقٍ عَلَى أَجْزَاءِ الْمَوْسُوعَةِ، فَيُعَجَّل فِي
كُل جُزْءٍ مِنْهَا بِتَرْجَمَةِ مَنْ جَرَى ذِكْرُهُ لأَِوَّل مَرَّةٍ
(مُرَتَّبَةً تَرْتِيبًا أَلِفْبَائِيًّا فِيمَا بَيْنَهَا) . أَمَّا مَنْ
يَتَكَرَّرُ ذِكْرُهُ فِي جُزْءٍ تَالٍ وَقَدْ سَبَقَتْ تَرْجَمَتُهُ فَإِنَّهُ
يُورَدُ فِي تَرْتِيبِ التَّرَاجِمِ لِذَلِكَ الْجُزْءِ وَيُكْتَفَى بِالدَّلاَلَةِ
إِلَى الْمَوْطِنِ السَّابِقِ.
Biografi-biografi ini diterbitkan sebagai lampiran yang tersebar
pada setiap jilid ensiklopedia. Dalam setiap jilid, biografi tokoh
yang disebutkan untuk pertama kalinya akan segera dicantumkan, dengan urutan
alfabetis di antara biografi-biografi tersebut.
Adapun tokoh yang kembali disebutkan pada jilid berikutnya, sementara
biografinya telah dimuat sebelumnya, tetap dicantumkan dalam urutan biografi
pada jilid tersebut, tetapi cukup dengan menunjukkan rujukan kepada
tempat biografinya yang telah dimuat sebelumnya.
ب - أُصُول الْفِقْهِ
وَتَوَابِعُهُ:
b. Ushul fikih
dan hal-hal yang berkaitan dengannya
٥٧ - أُصُول
الْفِقْهِ هُوَ الْعِلْمُ الَّذِي قَال عَنْهُ الْمُخْتَصُّونَ: إِنَّهُ عِلْمٌ
مَحْصُورٌ فِي حِينِ أَنَّ الْفِقْهَ مُسْتَمِرٌّ مُتَزَايِدٌ، وَالْكِتَابَاتُ
فِي الأُْصُول كَثِيرَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ قَدِيمًا وَحَدِيثًا، حَتَّى وَصَفُوهُ
أَيْضًا بِأَنَّهُ الْعِلْمُ الَّذِي نَضِجَ وَاحْتَرَقَ. وَلَيْسَتِ الْحَاجَةُ
إِلَى تَجْدِيدِ عَرْضِهِ كَالْحَاجَةِ الْقَائِمَةِ بِالْفِقْهِ.
57
– Ushul fikih adalah ilmu yang oleh para ahli disebut sebagai ilmu
yang telah terbatas dan selesai, sedangkan fikih terus berkembang dan
bertambah. Tulisan-tulisan mengenai ushul fikih sangat banyak dan beragam, baik
karya klasik maupun modern, hingga para ulama juga menggambarkannya sebagai ilmu
yang telah matang dan bahkan terbakar.
Oleh karena itu, kebutuhan untuk memperbarui cara penyajian ushul fikih
tidaklah sebesar kebutuhan yang ada dalam bidang fikih.
لِلأُْصُول طَبِيعَتُهُ
الْخَاصَّةُ فِي اعْتِمَادِ فَهْمِهِ وَاسْتِثْمَارِهِ عَلَى انْضِمَامِ
مَعْلُومَاتِهِ وَتَرْتِيبِهَا الْمَنْطِقِيِّ فِي النَّشْأَةِ وَالاِسْتِنَادِ،
كَمَا أَنَّ لِلْخِلاَفِ فِيهِ مَنْحًى آخَرَ تَمْتَدُّ فِيهِ الْمُوَازَنَةُ
حَتَّى تَشْمَل كُل مَنْ عُنِيَ بِقَضَايَا الاِسْتِدْلاَل مِنْ أَصْحَابِ
الْفِرَقِ فَضْلاً عَنْ الْمَذَاهِبِ.
Ushul fikih memiliki karakteristik tersendiri dalam hal memahami dan
mengembangkan penerapannya, yang bergantung pada keterkaitan seluruh
pengetahuannya serta penyusunannya secara logis, baik dalam pembentukan maupun
landasan pengembangannya.
Demikian pula, perbedaan pendapat dalam ushul fikih
memiliki corak tersendiri, di mana perbandingannya dapat meluas hingga mencakup
semua pihak yang memberikan perhatian terhadap persoalan-persoalan argumentasi,
termasuk para penganut berbagai aliran pemikiran, di samping para pengikut
mazhab.
لِهَذِهِ الأَْسْبَابِ
أُفْرِدَ عَنْ الْمَوْسُوعَةِ بِمُلْحَقٍ، وَاكْتُفِيَ بِإِدْرَاجِ جَمِيعِ
الْمُصْطَلَحَاتِ الأُْصُولِيَّةِ مَرْتَبَةً فِي تَضَاعِيفِ الْمُصْطَلَحَاتِ
الْفِقْهِيَّةِ، لِلتَّعْرِيفِ وَالإِْشَارَةِ لِلْحُكْمِ وَإِحَالَةِ التَّفْصِيل
إِلَى ذَلِكَ الْمُلْحَقِ الَّذِي سَيَكُونُ لَهُ تَرْتِيبٌ مَوْضُوعِيٌّ
يَتَحَقَّقُ بِهِ لَمُّ أَجْزَاءِ مَبَاحِثِهِ تَسْهِيلاً لِلإِْفَادَةِ مِنْهُ
كَمَا سَبَقَتِ الإِْشَارَةُ، مَعَ احْتِوَاءِ الْمُلْحَقِ عَلَى فِهْرِسٍ
أَلِفْبَائِيٍّ لِلدَّلاَلَةِ عَلَى مَوَاطِنِ الْكَلاَمِ عَنْ مُصْطَلَحَاتِهِ
فِيهِ وَفِي الْمَوْسُوعَةِ.
Oleh sebab-sebab tersebut, pembahasan ushul fikih
dipisahkan dari ensiklopedia dan ditempatkan dalam sebuah lampiran
tersendiri. Adapun dalam ensiklopedia, cukup dicantumkan seluruh
istilah ushul fikih yang disusun di antara istilah-istilah fikih, dengan tujuan
memberikan definisi, menunjukkan hukumnya, serta merujuk rincian pembahasannya
kepada lampiran tersebut.
Lampiran itu nantinya akan disusun berdasarkan tema-tema pembahasan,
sehingga bagian-bagian pembahasannya yang tersebar dapat dihimpun secara utuh.
Dengan demikian, pemanfaatannya menjadi lebih mudah, sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya. Lampiran tersebut juga akan dilengkapi dengan indeks
alfabetis untuk menunjukkan tempat pembahasan istilah-istilah ushul
fikih, baik yang terdapat di dalam lampiran maupun di dalam ensiklopedia.
وَكَذَلِكَ الأَْمْرُ
بِالنِّسْبَةِ لِلْعُلُومِ الْمُتَأَرْجِحَةِ بَيْنَ الْفِقْهِ وَالأُْصُول
كَالْقَوَاعِدِ الْكُلِّيَّةِ، وَالأَْشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ، وَالْفُرُوقِ،
سَيَكُونُ مَوْطِنُهَا ذَلِكَ الْمُلْحَقَ وَبِتَرْتِيبٍ يُنَاسِبُهَا. وَهَذِهِ
الْجَوَانِبُ بِالرَّغْمِ مِنْ أَنَّهَا تُرَاثٌ فِقْهِيٌّ هِيَ أَقْرَبُ إِلَى أَنْ
تَكُونَ مِنْ الْوَسَائِل الْمُيَسِّرَةِ لِفَهْمِ الْفِقْهِ وَتَكْوِينِ
أَهْلِيَّةِ التَّخْرِيجِ وَالاِسْتِنْبَاطِ، وَيَتَأَخَّرُ اعْتِبَارُهَا عَنْ
الْفِقْهِ الْخَالِصِ الْمَقْصُودِ لِلْقَضَاءِ وَالإِْفْتَاءِ، وَلِهَذَا صَرَّحَ
بَعْضُهُمْ بِضَرُورَةِ التَّرَيُّثِ فِي الْفَتْوَى بِمَا فِي كُتُبِهَا قَبْل
تَبَيُّنِ انْسِجَامِهِ مَعَ مَا فِي الْكُتُبِ الْفِقْهِيَّةِ الأَْصِيلَةِ.
Demikian pula halnya dengan ilmu-ilmu yang berada di antara fikih dan ushul
fikih, seperti kaidah-kaidah kulliyah, asybah wa an-nazha’ir
(persamaan dan padanan), serta al-furuq (perbedaan-perbedaan
fikih). Tempat pembahasannya adalah dalam lampiran tersebut, dengan susunan
yang sesuai dengan karakter masing-masing.
Meskipun aspek-aspek tersebut merupakan bagian dari warisan fikih, kedudukannya
lebih dekat sebagai sarana yang memudahkan pemahaman fikih serta
membentuk kemampuan melakukan takhrij dan istinbath. Adapun
kedudukannya berada setelah fikih murni yang menjadi tujuan utama dalam peradilan
dan pemberian fatwa.
Oleh karena itu, sebagian ulama secara tegas menyatakan perlunya berhati-hati
dalam memberikan fatwa berdasarkan isi kitab-kitab tersebut, sebelum
dipastikan kesesuaiannya dengan apa yang terdapat dalam kitab-kitab fikih yang
menjadi sumber utama.
ج - الْمَسَائِل الْمُسْتَحْدَثَةُ:
c.
Masalah-masalah kontemporer yang baru muncul
٥٨ - وَهِيَ
الْوَقَائِعُ الَّتِي جَدَّتْ وَلَيْسَ لَهَا حُكْمٌ ظَاهِرٌ مُفَصَّلٌ فِي
الْمَرَاجِعِ الْفِقْهِيَّةِ الْقَدِيمَةِ الَّتِي دُوِّنَتْ خِلاَل الْقُرُونِ
الثَّلاَثَةَ عَشَرَ لِلْهِجْرَةِ. وَقَدْ اخْتِيرَ أَنْ تُكْتَبَ فِي مُلْحَقٍ
مُسْتَقِلٍّ عَنْ أَصْل الْمَوْسُوعَةِ، لِوُقُوعِ مُعْظَمِ مَرَاجِعِ هَذِهِ
الْمَسَائِل خَارِجَ الإِْطَارِ الزَّمَنِيِّ لِلْمَوْسُوعَةِ، وَهِيَ فِي
الْغَالِبِ ثَمَرَةُ اجْتِهَادٍ شَخْصِيٍّ جَدِيدٍ وَإِنْ كَانَ مُطَابِقًا
لأُِصُول الاِسْتِنْبَاطِ، كَمَا أَنَّهَا قَائِمَةٌ عَلَى الْمُنَاقَشَاتِ
وَالتَّرْجِيحِ وَالاِخْتِيَارِ، فَكَانَ لاَ بُدَّ مِنْ فَصْلِهَا عَنْ صَمِيمِ
الْمَوْسُوعَةِ لِتَتَمَيَّزَ عَنْ تُرَاثِ الْفِقْهِ الَّذِي تَضَمَّنَتْهُ
وَالَّذِي يُعْتَبَرُ أَسَاسًا لاِسْتِخْرَاجِ الْحُلُول لِلْمُشْكِلاَتِ
الْعَصْرِيَّةِ فِي ضَوْءِ مَبَادِئِهِ بِطَرِيقِ الْمُشَابَهَةِ وَالتَّخْرِيجِ
وَالاِسْتِنْبَاطِ الْجَدِيدِ.
58
– Yaitu berbagai peristiwa atau persoalan baru yang muncul dan tidak
memiliki hukum yang jelas serta terperinci dalam referensi-referensi fikih
klasik yang ditulis selama tiga belas abad Hijriah.
Dipilih untuk menempatkan pembahasan masalah-masalah tersebut dalam lampiran
tersendiri, terpisah dari bagian utama ensiklopedia, karena sebagian
besar referensi mengenai masalah-masalah tersebut berada di luar batas waktu
yang ditetapkan bagi ensiklopedia. Pada umumnya, masalah-masalah itu merupakan
hasil ijtihad pribadi yang baru, meskipun tetap sesuai dengan
kaidah-kaidah istinbath.
Selain itu, pembahasannya biasanya didasarkan pada diskusi, tarjih,
dan pemilihan pendapat. Oleh sebab itu, masalah-masalah tersebut harus
dipisahkan dari inti ensiklopedia agar dapat dibedakan dari warisan
fikih yang terkandung di dalamnya. Warisan fikih tersebut menjadi
landasan untuk menemukan solusi bagi berbagai persoalan kontemporer dengan
berpedoman pada prinsip-prinsipnya melalui analogi (tasybīh), takhrij,
dan istinbath baru.
وَيُطْلَقُ فِيهِ
لِلْكُتَّابِ الاِسْتِمْدَادُ مِنْ شَتَّى الْمَصَادِرِ الْقَدِيمَةِ
وَالْحَدِيثَةِ، وَمِنْ الدَّوْرِيَّاتِ (الْمَجَلاَّتِ بِأَنْوَاعِهَا)
وَالرَّسَائِل الْجَامِعِيَّةِ الْمُتَخَصِّصَةِ، وَمَا يَصْدُرُ عَنْ
الْمَجَامِعِ وَالْمُؤْتَمَرَاتِ الإِْسْلاَمِيَّةِ. فَضْلاً عَمَّا جَاءَ عَنْ
مَوْضُوعِهِ فِي كُتُبِ الْفَتَاوَى الْفِقْهِيَّةِ الْمُتَأَخِّرَةِ.
Dalam pembahasan ini, para penulis diperbolehkan mengambil bahan dari berbagai
sumber klasik maupun modern, dari berbagai terbitan berkala
(majalah dalam berbagai jenisnya), tesis dan disertasi perguruan tinggi
yang bersifat khusus, serta berbagai hasil yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga
dan konferensi-konferensi Islam. Selain itu, dapat pula dimanfaatkan
pembahasan mengenai persoalan tersebut yang terdapat dalam kitab-kitab
fatwa fikih yang ditulis pada masa-masa belakangan.
وَفِي هَذَا الْمَجَال
سَيَكُونُ لِلْمُخْتَصِّينَ فِي شَتَّى الْعُلُومِ دَوْرٌ أَسَاسِيٌّ لِتَقْدِيمِ
التَّصَوُّرِ الصَّحِيحِ لِلْوَقَائِعِ الْمَبْحُوثِ فِيهَا، سَوَاءٌ أَكَانَتْ
نَظَرِيَّةً (اقْتِصَادِيَّةً أَوِ اجْتِمَاعِيَّةً. .) أَمْ تَجْرِيبِيَّةً
(طِبِّيَّةً أَوْ عِلْمِيَّةً. .) لأَِنَّ لِذَلِكَ أَثَرَهُ فِي إِعْطَاءِ
الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ الصَّحِيحِ، فَالْحُكْمُ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ
تَصَوُّرِهِ، وَصِحَّةُ الْحُكْمِ تَتَوَقَّفُ عَلَى صِحَّةِ التَّصَوُّرِ،
فَكَثِيرٌ مِنْ الاِخْتِلاَفِ يَنْشَأُ مِنْ عَدَمِ تَحْدِيدِ التَّصَوُّرِ، أَوِ
الْخَطَأِ فِيهِ، أَوِ الاِسْتِنَادِ إِلَى أَعْرَافٍ تَغَيَّرَتْ أَوْ وَسَائِل
مَدَنِيَّةٍ تَطَوَّرَتْ. . . وَبِانْتِهَاءِ هَذَا الدَّوْرِ تَأْتِي مُهِمَّةُ
اسْتِنْبَاطِ الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ الَّتِي تُنَاطُ بِكُل مَنْ لَهُ أَهْلِيَّةٌ
مَعْرُوفَةٌ مُبَيَّنَةٌ فِي مَوَاطِنِهَا عِنْدَ الْكَلاَمِ عَنِ الاِجْتِهَادِ
وَالإِْفْتَاءِ.
Dalam bidang ini, para ahli dari berbagai disiplin ilmu memiliki peran yang
sangat mendasar dalam memberikan gambaran yang tepat mengenai fakta
atau persoalan yang sedang dibahas, baik yang bersifat teoretis
(seperti ekonomi atau sosial) maupun yang bersifat eksperimental (seperti
kedokteran atau ilmu pengetahuan). Hal itu karena gambaran yang tepat tersebut
berpengaruh terhadap penetapan hukum syariat yang benar.
Sebab, penetapan hukum terhadap suatu perkara merupakan cabang dari
pemahaman yang tepat terhadap perkara tersebut, dan ketepatan hukum
bergantung pada ketepatan dalam memahami hakikat perkara. Banyak perbedaan
pendapat muncul karena tidak adanya kejelasan dalam memahami suatu persoalan,
kesalahan dalam memahaminya, atau karena berpegang pada adat kebiasaan yang
telah berubah maupun sarana kehidupan sipil yang telah mengalami perkembangan.
Setelah peran tersebut selesai, barulah dilaksanakan tugas mengistinbath
hukum syariat, yang diserahkan kepada setiap orang yang memiliki kapasitas
keilmuan yang diakui dan telah dijelaskan kriterianya, sebagaimana
akan dibahas pada bagian yang membicarakan tentang ijtihad dan fatwa.
وَسَيَكُونُ هَذَا
الْمُلْحَقُ عُرْضَةً لِلتَّعْدِيل وَالتَّنْقِيحِ، عَلَى الْعَكْسِ مِنْ
التُّرَاثِ الْفِقْهِيِّ الْمَنْقُول وَالْمُسْتَنْبَطِ مِنْ الْكِتَابِ
وَالسُّنَّةِ مُبَاشَرَةً أَوْ فِي عُصُورِ الاِجْتِهَادِ حَسَبَ أُصُول الْفِقْهِ
الْمَوْثُوقِ بِهَا عَلَى مَدَى الْعُصُورِ، أَمَّا مَا يَتَضَمَّنُهُ الْمُلْحَقُ
فَإِنَّهُ يَحْتَاجُ إِلَى فَتْرَةٍ زَمَنِيَّةٍ يَخْضَعُ فِيهَا لِلنَّقْدِ
وَالتَّمْحِيصِ قَبْل ضَمِّهِ إِلَى صَمِيمِ الْمَوْسُوعَةِ.
Lampiran ini akan terbuka untuk perubahan dan penyempurnaan,
berbeda dengan warisan fikih yang dinukil dan yang diistinbath dari Al-Qur’an
dan Sunnah, baik secara langsung maupun pada masa-masa ijtihad, berdasarkan
kaidah-kaidah ushul fikih yang telah terpercaya sepanjang zaman.
Adapun materi yang terdapat dalam lampiran ini membutuhkan jangka
waktu tertentu untuk melalui proses kritik dan penelitian yang mendalam,
sebelum nantinya dapat dimasukkan ke dalam bagian utama ensiklopedia.
وَرُبَّمَا كَانَ مِنْ
الْوَسَائِل الضَّرُورِيَّةِ لإِِغْنَاءِ هَذَا الْجَانِبِ وَإِتْقَانِهِ عَقْدُ
مُؤْتَمَرَاتٍ لِلْفُقَهَاءِ الْمُعَاصِرِينَ لِلْوُقُوفِ عَلَى مَا لَهُمْ مِنْ
آرَاءٍ شَرْعِيَّةٍ فِي الْمُشْكِلاَتِ وَالْقَضَايَا الْعَصْرِيَّةِ، وَقَدْ
يَقْتَضِي إِنْجَازُ ذَلِكَ فِي الْوَقْتِ الْمُنَاسِبِ تَكْوِينَ مَجْمَعٍ
فِقْهِيٍّ ذِي دَوْرَاتٍ مُنْتَظِمَةٍ.
Mungkin salah satu sarana yang diperlukan untuk memperkaya bidang ini dan
menyempurnakannya adalah menyelenggarakan konferensi para fuqaha
kontemporer, guna mengetahui pendapat-pendapat syariat yang mereka
miliki mengenai berbagai persoalan dan problematika zaman modern.
Untuk merealisasikan hal tersebut dalam waktu yang tepat, mungkin diperlukan
pula pembentukan sebuah lembaga atau majelis fikih yang
menyelenggarakan sidang-sidang secara berkala dan teratur.
د - غَرِيبُ لُغَةِ الْفِقْهِ:
d. Kosakata asing
atau istilah-istilah sulit dalam bahasa fikih
٥٩ - فَضْلاً عَنْ أَثَرِ
ذَلِكَ فِي الإِْفَادَةِ مِنْ الْمَرَاجِعِ الْفِقْهِيَّةِ الْقَدِيمَةِ الَّتِي
اسْتُمِدَّتْ مِنْهَا مَعْلُومَاتُ الْمَوْسُوعَةِ، فَإِنَّهُ تُسْتَكْمَل فِي
هَذَا الْمُلْحَقِ مَعَانِي الأَْلْفَاظِ اللُّغَوِيَّةُ الَّتِي يَكْثُرُ
تَدَاوُل الْفُقَهَاءِ لَهَا، فَيُوَضَّحُ مُرَادُهُمْ مِنْهَا لاَ سِيَّمَا
حَيْثُ يَنْحَصِرُ اخْتِيَارُهُمْ فِي أَحَدِ مَعَانِي اللَّفْظِ، أَوْ يَكُونُ
مُشْتَرَكًا فَيَصْطَلِحُونَ عَلَى صَرْفِ لَفْظِهِ إِلَى أَحَدِ الْوُجُوهِ.
وَمَعْرِفَةُ هَذِهِ الْمَقَاصِدِ لاَ تُوَفَّى حَقَّهَا إِلاَّ بِتَنَاوُل لُغَةِ
الْفِقْهِ عُمُومًا بِصُورَةٍ جَامِعَةٍ لِمَا تَفَرَّقَ وَتَكَرَّرَ فِي
الْمُؤَلَّفَاتِ الَّتِي وُضِعَتْ لأَِهْل كُل مَذْهَبٍ لِتَحْقِيقِ هَذَا الْغَرَضِ،
فَكَانَتْ مَعَاجِمُ لُغَوِيَّةٌ مُتَخَصِّصَةٌ، كَالْمُغْرِبِ لِلْمُطَرِّزِيِّ
وَطِلْبَةِ الطَّلَبَةِ لِلنَّسَفِيِّ (لِلْحَنَفِيَّةِ) وَكَالزَّاهِرِ
لِلأَْزْهَرِيِّ وَالْمِصْبَاحِ لِلْفَيُّومِيِّ، وَغَيْرِهِمَا
(لِلشَّافِعِيَّةِ) وَكَالْمَطْلَعِ لِلْبَعْلِيِّ (لِلْحَنَابِلَةِ) وَتَنْبِيهُ
الطَّالِبِ لِفَهْمِ ابْنِ الْحَاجِبِ لِلأُْمَوِيِّ التُّونِسِيِّ
(لِلْمَالِكِيَّةِ) وَغَيْرِهَا، وَهِيَ مَطْبُوعَةٌ مُتَدَاوَلَةٌ إِلاَّ
الأَْخِيرَ.
59 – Selain manfaatnya dalam
memanfaatkan referensi-referensi fikih klasik yang menjadi sumber informasi
ensiklopedia, dalam lampiran ini juga akan dilengkapi penjelasan mengenai makna
berbagai kosakata bahasa yang banyak digunakan oleh para fuqaha. Dengan
demikian, maksud yang mereka kehendaki dari kata-kata tersebut dapat
dijelaskan, khususnya ketika mereka memilih salah satu dari beberapa makna
suatu kata, atau ketika suatu kata memiliki makna yang sama-sama dapat
digunakan, lalu mereka menetapkan penggunaan kata tersebut pada salah satu
maknanya.
Pemahaman terhadap maksud-maksud
tersebut tidak akan sempurna kecuali dengan membahas bahasa fikih secara
umum dalam bentuk yang menyeluruh, dengan menghimpun berbagai pembahasan
yang tersebar dan berulang dalam karya-karya yang disusun oleh para ulama dari
masing-masing mazhab untuk tujuan tersebut.
Karena itu, telah muncul berbagai kamus
bahasa khusus fikih, seperti:
- Al-Mughrib
karya al-Mutharrizī dan Ṭalabat al-Ṭalabah karya an-Nasafī —
keduanya untuk mazhab Hanafi.
- Az-Zāhir
karya al-Azharī dan Al-Miṣbāḥ karya al-Fayyūmī, serta karya-karya
lainnya — untuk mazhab Syafi‘i.
- Al-Maṭla‘
karya al-Ba‘li — untuk mazhab Hanbali.
- Tanbīh ath-Ṭālib li-Fahm Ibn al-Ḥājib karya al-Umawī at-Tūnisī — untuk mazhab Maliki.
- Dan karya-karya lainnya.
Karya-karya tersebut telah dicetak
dan beredar luas, kecuali karya yang disebutkan terakhir.
وَسَيَكُونُ فِي عِدَادِ مَا
يَتَضَمَّنُهُ الْمُلْحَقُ أَيْضًا الأَْلْفَاظُ الَّتِي يَسْتَعْمِلُهَا
الْفُقَهَاءُ كَتَعَابِيرَ اصْطِلاَحِيَّةٍ وَصِيَغٍ مُتَدَاوَلَةٍ، لَيْسَ
لِلأَْحْكَامِ الْفِقْهِيَّةِ نَفْسِهَا، بَل لِلدَّلاَلَةِ عَلَى مَرْتَبَةِ
الْحُكْمِ مِنْ حَيْثُ الاِعْتِبَارُ وَالرُّجْحَانُ، كَالْمُفْتَى بِهِ
وَالْمُخْتَارِ وَالصَّحِيحِ. . فَهَذَا وَأَمْثَالُهُ وَإِنْ كَانَ لَفْظُهُ
الظَّاهِرُ وَاضِحًا، فَإِنَّهُ بِمَا وُضِعَ لَهُ مِنْ دَلاَلاَتٍ خَاصَّةٍ
يُعْتَبَرُ مِنْ غَرِيبِ لُغَةِ الْفِقْهِ الْمُحْتَاجِ لِلْبَيَانِ.
Selain itu, di antara materi yang
akan dimuat dalam lampiran ini adalah kata-kata yang digunakan oleh
para fuqaha sebagai ungkapan istilah dan bentuk-bentuk redaksi yang lazim
digunakan, bukan untuk menunjukkan hukum fikih itu sendiri, melainkan
untuk menunjukkan tingkatan suatu hukum dari segi pertimbangan dan
kekuatan pendapatnya, seperti istilah al-muftā bihi (pendapat
yang dijadikan dasar fatwa), al-mukhtār (pendapat yang dipilih), dan aṣ-ṣaḥīḥ
(pendapat yang dinilai benar).
Istilah-istilah semacam ini, meskipun secara lahiriah makna katanya tampak
jelas, karena memiliki makna khusus yang ditetapkan dalam penggunaannya
oleh para fuqaha, maka ia termasuk bagian dari kosakata khusus
bahasa fikih yang membutuhkan penjelasan.
Baca juga :
Isi dan Cakupan EnsiklopediaFikih : Pokok Bahasan Ensiklopedia Fikih
Rencana Penulisan Ensiklopedia : Penyusunan
Ensiklopedia Berdasarkan Urutan Alfabetis
مَلاَحِقُ
الْمَوْسُوعَةِ
Lampiran-Lampiran Ensiklopedia
أ - تَرَاجِمُ الأَْعْلاَمِ
a.
Biografi para tokoh terkemuka
٥٦ - مِنْ
الْبَدَهِيِّ أَنْ تُعْنَى الْمَوْسُوعَةُ بِذَلِكَ بَعْدَ أَنْ أَصْبَحَ
مُلْتَزَمًا فِي جَمِيعِ الْمُؤَلَّفَاتِ الْمُحَقَّقَةِ، وَلِذَا الْتُزِمَ
بِتَرْجَمَةِ الأَْعْلاَمِ الَّذِينَ يَرِدُ ذِكْرُهُمْ فِي بُحُوثِ
الْمَوْسُوعَةِ مِنْ فُقَهَاءَ دُونَ غَيْرِهِمْ بِصُورَةٍ مُوجَزَةٍ يَحْصُل
بِهَا التَّعْرِيفُ بِهِمْ وَتَمْيِيزُهُمْ، حَيْثُ تَتَّفِقُ أَحْيَانًا شُهْرَةُ
أَوْ نِسْبَةُ الْكَثِيرِينَ، مَعَ الإِْشَارَةِ لأَِشْهَرِ مُؤَلَّفَاتِهِمْ
وَمَنْزِلَتِهِمْ فِي الْفِقْهِ، لِيُرَاعَى ذَلِكَ فِيمَا يُنْقَل عَنْهُمْ مِنْ
تَرْجِيحٍ أَوْ تَخْرِيجٍ، وَتُخْتَمُ التَّرْجَمَةُ بِبَيَانِ بَعْضِ
الْمَرَاجِعِ الَّتِي كُتِبَتْ عَنْهُمْ.
56
– Sudah menjadi hal yang jelas bahwa ensiklopedia perlu memberikan
perhatian terhadap hal ini, setelah biografi para tokoh menjadi bagian yang
lazim dalam seluruh karya yang telah ditahqiq. Oleh karena itu, ensiklopedia
ini memuat biografi para tokoh yang disebutkan dalam pembahasan-pembahasannya,
khususnya dari kalangan fuqaha, bukan tokoh selain mereka,
secara ringkas dengan kadar yang cukup untuk memperkenalkan dan membedakan
mereka.
Hal ini diperlukan karena terkadang terdapat kesamaan nama atau nisbah di
antara banyak tokoh. Dalam biografi tersebut juga disebutkan karya-karya mereka
yang paling terkenal serta kedudukan mereka dalam bidang fikih, agar hal
tersebut dapat menjadi pertimbangan ketika menukil dari mereka suatu tarjih
atau takhrij.
Biografi tersebut diakhiri dengan penyebutan beberapa referensi
yang membahas tentang tokoh-tokoh tersebut.
وَهَذِهِ التَّرَاجِمُ
تُنْشَرُ كَمُلْحَقٍ مُفَرَّقٍ عَلَى أَجْزَاءِ الْمَوْسُوعَةِ، فَيُعَجَّل فِي
كُل جُزْءٍ مِنْهَا بِتَرْجَمَةِ مَنْ جَرَى ذِكْرُهُ لأَِوَّل مَرَّةٍ
(مُرَتَّبَةً تَرْتِيبًا أَلِفْبَائِيًّا فِيمَا بَيْنَهَا) . أَمَّا مَنْ
يَتَكَرَّرُ ذِكْرُهُ فِي جُزْءٍ تَالٍ وَقَدْ سَبَقَتْ تَرْجَمَتُهُ فَإِنَّهُ
يُورَدُ فِي تَرْتِيبِ التَّرَاجِمِ لِذَلِكَ الْجُزْءِ وَيُكْتَفَى بِالدَّلاَلَةِ
إِلَى الْمَوْطِنِ السَّابِقِ.
Biografi-biografi ini diterbitkan sebagai lampiran yang tersebar
pada setiap jilid ensiklopedia. Dalam setiap jilid, biografi tokoh
yang disebutkan untuk pertama kalinya akan segera dicantumkan, dengan urutan
alfabetis di antara biografi-biografi tersebut.
Adapun tokoh yang kembali disebutkan pada jilid berikutnya, sementara
biografinya telah dimuat sebelumnya, tetap dicantumkan dalam urutan biografi
pada jilid tersebut, tetapi cukup dengan menunjukkan rujukan kepada
tempat biografinya yang telah dimuat sebelumnya.
ب - أُصُول الْفِقْهِ
وَتَوَابِعُهُ:
b. Ushul fikih
dan hal-hal yang berkaitan dengannya
٥٧ - أُصُول
الْفِقْهِ هُوَ الْعِلْمُ الَّذِي قَال عَنْهُ الْمُخْتَصُّونَ: إِنَّهُ عِلْمٌ
مَحْصُورٌ فِي حِينِ أَنَّ الْفِقْهَ مُسْتَمِرٌّ مُتَزَايِدٌ، وَالْكِتَابَاتُ
فِي الأُْصُول كَثِيرَةٌ وَمُتَنَوِّعَةٌ قَدِيمًا وَحَدِيثًا، حَتَّى وَصَفُوهُ
أَيْضًا بِأَنَّهُ الْعِلْمُ الَّذِي نَضِجَ وَاحْتَرَقَ. وَلَيْسَتِ الْحَاجَةُ
إِلَى تَجْدِيدِ عَرْضِهِ كَالْحَاجَةِ الْقَائِمَةِ بِالْفِقْهِ.
57
– Ushul fikih adalah ilmu yang oleh para ahli disebut sebagai ilmu
yang telah terbatas dan selesai, sedangkan fikih terus berkembang dan
bertambah. Tulisan-tulisan mengenai ushul fikih sangat banyak dan beragam, baik
karya klasik maupun modern, hingga para ulama juga menggambarkannya sebagai ilmu
yang telah matang dan bahkan terbakar.
Oleh karena itu, kebutuhan untuk memperbarui cara penyajian ushul fikih
tidaklah sebesar kebutuhan yang ada dalam bidang fikih.
لِلأُْصُول طَبِيعَتُهُ
الْخَاصَّةُ فِي اعْتِمَادِ فَهْمِهِ وَاسْتِثْمَارِهِ عَلَى انْضِمَامِ
مَعْلُومَاتِهِ وَتَرْتِيبِهَا الْمَنْطِقِيِّ فِي النَّشْأَةِ وَالاِسْتِنَادِ،
كَمَا أَنَّ لِلْخِلاَفِ فِيهِ مَنْحًى آخَرَ تَمْتَدُّ فِيهِ الْمُوَازَنَةُ
حَتَّى تَشْمَل كُل مَنْ عُنِيَ بِقَضَايَا الاِسْتِدْلاَل مِنْ أَصْحَابِ
الْفِرَقِ فَضْلاً عَنْ الْمَذَاهِبِ.
Ushul fikih memiliki karakteristik tersendiri dalam hal memahami dan
mengembangkan penerapannya, yang bergantung pada keterkaitan seluruh
pengetahuannya serta penyusunannya secara logis, baik dalam pembentukan maupun
landasan pengembangannya.
Demikian pula, perbedaan pendapat dalam ushul fikih
memiliki corak tersendiri, di mana perbandingannya dapat meluas hingga mencakup
semua pihak yang memberikan perhatian terhadap persoalan-persoalan argumentasi,
termasuk para penganut berbagai aliran pemikiran, di samping para pengikut
mazhab.
لِهَذِهِ الأَْسْبَابِ
أُفْرِدَ عَنْ الْمَوْسُوعَةِ بِمُلْحَقٍ، وَاكْتُفِيَ بِإِدْرَاجِ جَمِيعِ
الْمُصْطَلَحَاتِ الأُْصُولِيَّةِ مَرْتَبَةً فِي تَضَاعِيفِ الْمُصْطَلَحَاتِ
الْفِقْهِيَّةِ، لِلتَّعْرِيفِ وَالإِْشَارَةِ لِلْحُكْمِ وَإِحَالَةِ التَّفْصِيل
إِلَى ذَلِكَ الْمُلْحَقِ الَّذِي سَيَكُونُ لَهُ تَرْتِيبٌ مَوْضُوعِيٌّ
يَتَحَقَّقُ بِهِ لَمُّ أَجْزَاءِ مَبَاحِثِهِ تَسْهِيلاً لِلإِْفَادَةِ مِنْهُ
كَمَا سَبَقَتِ الإِْشَارَةُ، مَعَ احْتِوَاءِ الْمُلْحَقِ عَلَى فِهْرِسٍ
أَلِفْبَائِيٍّ لِلدَّلاَلَةِ عَلَى مَوَاطِنِ الْكَلاَمِ عَنْ مُصْطَلَحَاتِهِ
فِيهِ وَفِي الْمَوْسُوعَةِ.
Oleh sebab-sebab tersebut, pembahasan ushul fikih
dipisahkan dari ensiklopedia dan ditempatkan dalam sebuah lampiran
tersendiri. Adapun dalam ensiklopedia, cukup dicantumkan seluruh
istilah ushul fikih yang disusun di antara istilah-istilah fikih, dengan tujuan
memberikan definisi, menunjukkan hukumnya, serta merujuk rincian pembahasannya
kepada lampiran tersebut.
Lampiran itu nantinya akan disusun berdasarkan tema-tema pembahasan,
sehingga bagian-bagian pembahasannya yang tersebar dapat dihimpun secara utuh.
Dengan demikian, pemanfaatannya menjadi lebih mudah, sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya. Lampiran tersebut juga akan dilengkapi dengan indeks
alfabetis untuk menunjukkan tempat pembahasan istilah-istilah ushul
fikih, baik yang terdapat di dalam lampiran maupun di dalam ensiklopedia.
وَكَذَلِكَ الأَْمْرُ
بِالنِّسْبَةِ لِلْعُلُومِ الْمُتَأَرْجِحَةِ بَيْنَ الْفِقْهِ وَالأُْصُول
كَالْقَوَاعِدِ الْكُلِّيَّةِ، وَالأَْشْبَاهِ وَالنَّظَائِرِ، وَالْفُرُوقِ،
سَيَكُونُ مَوْطِنُهَا ذَلِكَ الْمُلْحَقَ وَبِتَرْتِيبٍ يُنَاسِبُهَا. وَهَذِهِ
الْجَوَانِبُ بِالرَّغْمِ مِنْ أَنَّهَا تُرَاثٌ فِقْهِيٌّ هِيَ أَقْرَبُ إِلَى أَنْ
تَكُونَ مِنْ الْوَسَائِل الْمُيَسِّرَةِ لِفَهْمِ الْفِقْهِ وَتَكْوِينِ
أَهْلِيَّةِ التَّخْرِيجِ وَالاِسْتِنْبَاطِ، وَيَتَأَخَّرُ اعْتِبَارُهَا عَنْ
الْفِقْهِ الْخَالِصِ الْمَقْصُودِ لِلْقَضَاءِ وَالإِْفْتَاءِ، وَلِهَذَا صَرَّحَ
بَعْضُهُمْ بِضَرُورَةِ التَّرَيُّثِ فِي الْفَتْوَى بِمَا فِي كُتُبِهَا قَبْل
تَبَيُّنِ انْسِجَامِهِ مَعَ مَا فِي الْكُتُبِ الْفِقْهِيَّةِ الأَْصِيلَةِ.
Demikian pula halnya dengan ilmu-ilmu yang berada di antara fikih dan ushul
fikih, seperti kaidah-kaidah kulliyah, asybah wa an-nazha’ir
(persamaan dan padanan), serta al-furuq (perbedaan-perbedaan
fikih). Tempat pembahasannya adalah dalam lampiran tersebut, dengan susunan
yang sesuai dengan karakter masing-masing.
Meskipun aspek-aspek tersebut merupakan bagian dari warisan fikih, kedudukannya
lebih dekat sebagai sarana yang memudahkan pemahaman fikih serta
membentuk kemampuan melakukan takhrij dan istinbath. Adapun
kedudukannya berada setelah fikih murni yang menjadi tujuan utama dalam peradilan
dan pemberian fatwa.
Oleh karena itu, sebagian ulama secara tegas menyatakan perlunya berhati-hati
dalam memberikan fatwa berdasarkan isi kitab-kitab tersebut, sebelum
dipastikan kesesuaiannya dengan apa yang terdapat dalam kitab-kitab fikih yang
menjadi sumber utama.
ج - الْمَسَائِل الْمُسْتَحْدَثَةُ:
c.
Masalah-masalah kontemporer yang baru muncul
٥٨ - وَهِيَ
الْوَقَائِعُ الَّتِي جَدَّتْ وَلَيْسَ لَهَا حُكْمٌ ظَاهِرٌ مُفَصَّلٌ فِي
الْمَرَاجِعِ الْفِقْهِيَّةِ الْقَدِيمَةِ الَّتِي دُوِّنَتْ خِلاَل الْقُرُونِ
الثَّلاَثَةَ عَشَرَ لِلْهِجْرَةِ. وَقَدْ اخْتِيرَ أَنْ تُكْتَبَ فِي مُلْحَقٍ
مُسْتَقِلٍّ عَنْ أَصْل الْمَوْسُوعَةِ، لِوُقُوعِ مُعْظَمِ مَرَاجِعِ هَذِهِ
الْمَسَائِل خَارِجَ الإِْطَارِ الزَّمَنِيِّ لِلْمَوْسُوعَةِ، وَهِيَ فِي
الْغَالِبِ ثَمَرَةُ اجْتِهَادٍ شَخْصِيٍّ جَدِيدٍ وَإِنْ كَانَ مُطَابِقًا
لأُِصُول الاِسْتِنْبَاطِ، كَمَا أَنَّهَا قَائِمَةٌ عَلَى الْمُنَاقَشَاتِ
وَالتَّرْجِيحِ وَالاِخْتِيَارِ، فَكَانَ لاَ بُدَّ مِنْ فَصْلِهَا عَنْ صَمِيمِ
الْمَوْسُوعَةِ لِتَتَمَيَّزَ عَنْ تُرَاثِ الْفِقْهِ الَّذِي تَضَمَّنَتْهُ
وَالَّذِي يُعْتَبَرُ أَسَاسًا لاِسْتِخْرَاجِ الْحُلُول لِلْمُشْكِلاَتِ
الْعَصْرِيَّةِ فِي ضَوْءِ مَبَادِئِهِ بِطَرِيقِ الْمُشَابَهَةِ وَالتَّخْرِيجِ
وَالاِسْتِنْبَاطِ الْجَدِيدِ.
58
– Yaitu berbagai peristiwa atau persoalan baru yang muncul dan tidak
memiliki hukum yang jelas serta terperinci dalam referensi-referensi fikih
klasik yang ditulis selama tiga belas abad Hijriah.
Dipilih untuk menempatkan pembahasan masalah-masalah tersebut dalam lampiran
tersendiri, terpisah dari bagian utama ensiklopedia, karena sebagian
besar referensi mengenai masalah-masalah tersebut berada di luar batas waktu
yang ditetapkan bagi ensiklopedia. Pada umumnya, masalah-masalah itu merupakan
hasil ijtihad pribadi yang baru, meskipun tetap sesuai dengan
kaidah-kaidah istinbath.
Selain itu, pembahasannya biasanya didasarkan pada diskusi, tarjih,
dan pemilihan pendapat. Oleh sebab itu, masalah-masalah tersebut harus
dipisahkan dari inti ensiklopedia agar dapat dibedakan dari warisan
fikih yang terkandung di dalamnya. Warisan fikih tersebut menjadi
landasan untuk menemukan solusi bagi berbagai persoalan kontemporer dengan
berpedoman pada prinsip-prinsipnya melalui analogi (tasybīh), takhrij,
dan istinbath baru.
وَيُطْلَقُ فِيهِ
لِلْكُتَّابِ الاِسْتِمْدَادُ مِنْ شَتَّى الْمَصَادِرِ الْقَدِيمَةِ
وَالْحَدِيثَةِ، وَمِنْ الدَّوْرِيَّاتِ (الْمَجَلاَّتِ بِأَنْوَاعِهَا)
وَالرَّسَائِل الْجَامِعِيَّةِ الْمُتَخَصِّصَةِ، وَمَا يَصْدُرُ عَنْ
الْمَجَامِعِ وَالْمُؤْتَمَرَاتِ الإِْسْلاَمِيَّةِ. فَضْلاً عَمَّا جَاءَ عَنْ
مَوْضُوعِهِ فِي كُتُبِ الْفَتَاوَى الْفِقْهِيَّةِ الْمُتَأَخِّرَةِ.
Dalam pembahasan ini, para penulis diperbolehkan mengambil bahan dari berbagai
sumber klasik maupun modern, dari berbagai terbitan berkala
(majalah dalam berbagai jenisnya), tesis dan disertasi perguruan tinggi
yang bersifat khusus, serta berbagai hasil yang diterbitkan oleh lembaga-lembaga
dan konferensi-konferensi Islam. Selain itu, dapat pula dimanfaatkan
pembahasan mengenai persoalan tersebut yang terdapat dalam kitab-kitab
fatwa fikih yang ditulis pada masa-masa belakangan.
وَفِي هَذَا الْمَجَال
سَيَكُونُ لِلْمُخْتَصِّينَ فِي شَتَّى الْعُلُومِ دَوْرٌ أَسَاسِيٌّ لِتَقْدِيمِ
التَّصَوُّرِ الصَّحِيحِ لِلْوَقَائِعِ الْمَبْحُوثِ فِيهَا، سَوَاءٌ أَكَانَتْ
نَظَرِيَّةً (اقْتِصَادِيَّةً أَوِ اجْتِمَاعِيَّةً. .) أَمْ تَجْرِيبِيَّةً
(طِبِّيَّةً أَوْ عِلْمِيَّةً. .) لأَِنَّ لِذَلِكَ أَثَرَهُ فِي إِعْطَاءِ
الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ الصَّحِيحِ، فَالْحُكْمُ عَلَى الشَّيْءِ فَرْعٌ عَنْ
تَصَوُّرِهِ، وَصِحَّةُ الْحُكْمِ تَتَوَقَّفُ عَلَى صِحَّةِ التَّصَوُّرِ،
فَكَثِيرٌ مِنْ الاِخْتِلاَفِ يَنْشَأُ مِنْ عَدَمِ تَحْدِيدِ التَّصَوُّرِ، أَوِ
الْخَطَأِ فِيهِ، أَوِ الاِسْتِنَادِ إِلَى أَعْرَافٍ تَغَيَّرَتْ أَوْ وَسَائِل
مَدَنِيَّةٍ تَطَوَّرَتْ. . . وَبِانْتِهَاءِ هَذَا الدَّوْرِ تَأْتِي مُهِمَّةُ
اسْتِنْبَاطِ الْحُكْمِ الشَّرْعِيِّ الَّتِي تُنَاطُ بِكُل مَنْ لَهُ أَهْلِيَّةٌ
مَعْرُوفَةٌ مُبَيَّنَةٌ فِي مَوَاطِنِهَا عِنْدَ الْكَلاَمِ عَنِ الاِجْتِهَادِ
وَالإِْفْتَاءِ.
Dalam bidang ini, para ahli dari berbagai disiplin ilmu memiliki peran yang
sangat mendasar dalam memberikan gambaran yang tepat mengenai fakta
atau persoalan yang sedang dibahas, baik yang bersifat teoretis
(seperti ekonomi atau sosial) maupun yang bersifat eksperimental (seperti
kedokteran atau ilmu pengetahuan). Hal itu karena gambaran yang tepat tersebut
berpengaruh terhadap penetapan hukum syariat yang benar.
Sebab, penetapan hukum terhadap suatu perkara merupakan cabang dari
pemahaman yang tepat terhadap perkara tersebut, dan ketepatan hukum
bergantung pada ketepatan dalam memahami hakikat perkara. Banyak perbedaan
pendapat muncul karena tidak adanya kejelasan dalam memahami suatu persoalan,
kesalahan dalam memahaminya, atau karena berpegang pada adat kebiasaan yang
telah berubah maupun sarana kehidupan sipil yang telah mengalami perkembangan.
Setelah peran tersebut selesai, barulah dilaksanakan tugas mengistinbath
hukum syariat, yang diserahkan kepada setiap orang yang memiliki kapasitas
keilmuan yang diakui dan telah dijelaskan kriterianya, sebagaimana
akan dibahas pada bagian yang membicarakan tentang ijtihad dan fatwa.
وَسَيَكُونُ هَذَا
الْمُلْحَقُ عُرْضَةً لِلتَّعْدِيل وَالتَّنْقِيحِ، عَلَى الْعَكْسِ مِنْ
التُّرَاثِ الْفِقْهِيِّ الْمَنْقُول وَالْمُسْتَنْبَطِ مِنْ الْكِتَابِ
وَالسُّنَّةِ مُبَاشَرَةً أَوْ فِي عُصُورِ الاِجْتِهَادِ حَسَبَ أُصُول الْفِقْهِ
الْمَوْثُوقِ بِهَا عَلَى مَدَى الْعُصُورِ، أَمَّا مَا يَتَضَمَّنُهُ الْمُلْحَقُ
فَإِنَّهُ يَحْتَاجُ إِلَى فَتْرَةٍ زَمَنِيَّةٍ يَخْضَعُ فِيهَا لِلنَّقْدِ
وَالتَّمْحِيصِ قَبْل ضَمِّهِ إِلَى صَمِيمِ الْمَوْسُوعَةِ.
Lampiran ini akan terbuka untuk perubahan dan penyempurnaan,
berbeda dengan warisan fikih yang dinukil dan yang diistinbath dari Al-Qur’an
dan Sunnah, baik secara langsung maupun pada masa-masa ijtihad, berdasarkan
kaidah-kaidah ushul fikih yang telah terpercaya sepanjang zaman.
Adapun materi yang terdapat dalam lampiran ini membutuhkan jangka
waktu tertentu untuk melalui proses kritik dan penelitian yang mendalam,
sebelum nantinya dapat dimasukkan ke dalam bagian utama ensiklopedia.
وَرُبَّمَا كَانَ مِنْ
الْوَسَائِل الضَّرُورِيَّةِ لإِِغْنَاءِ هَذَا الْجَانِبِ وَإِتْقَانِهِ عَقْدُ
مُؤْتَمَرَاتٍ لِلْفُقَهَاءِ الْمُعَاصِرِينَ لِلْوُقُوفِ عَلَى مَا لَهُمْ مِنْ
آرَاءٍ شَرْعِيَّةٍ فِي الْمُشْكِلاَتِ وَالْقَضَايَا الْعَصْرِيَّةِ، وَقَدْ
يَقْتَضِي إِنْجَازُ ذَلِكَ فِي الْوَقْتِ الْمُنَاسِبِ تَكْوِينَ مَجْمَعٍ
فِقْهِيٍّ ذِي دَوْرَاتٍ مُنْتَظِمَةٍ.
Mungkin salah satu sarana yang diperlukan untuk memperkaya bidang ini dan
menyempurnakannya adalah menyelenggarakan konferensi para fuqaha
kontemporer, guna mengetahui pendapat-pendapat syariat yang mereka
miliki mengenai berbagai persoalan dan problematika zaman modern.
Untuk merealisasikan hal tersebut dalam waktu yang tepat, mungkin diperlukan
pula pembentukan sebuah lembaga atau majelis fikih yang
menyelenggarakan sidang-sidang secara berkala dan teratur.
د - غَرِيبُ لُغَةِ الْفِقْهِ:
d. Kosakata asing
atau istilah-istilah sulit dalam bahasa fikih
٥٩ - فَضْلاً عَنْ أَثَرِ
ذَلِكَ فِي الإِْفَادَةِ مِنْ الْمَرَاجِعِ الْفِقْهِيَّةِ الْقَدِيمَةِ الَّتِي
اسْتُمِدَّتْ مِنْهَا مَعْلُومَاتُ الْمَوْسُوعَةِ، فَإِنَّهُ تُسْتَكْمَل فِي
هَذَا الْمُلْحَقِ مَعَانِي الأَْلْفَاظِ اللُّغَوِيَّةُ الَّتِي يَكْثُرُ
تَدَاوُل الْفُقَهَاءِ لَهَا، فَيُوَضَّحُ مُرَادُهُمْ مِنْهَا لاَ سِيَّمَا
حَيْثُ يَنْحَصِرُ اخْتِيَارُهُمْ فِي أَحَدِ مَعَانِي اللَّفْظِ، أَوْ يَكُونُ
مُشْتَرَكًا فَيَصْطَلِحُونَ عَلَى صَرْفِ لَفْظِهِ إِلَى أَحَدِ الْوُجُوهِ.
وَمَعْرِفَةُ هَذِهِ الْمَقَاصِدِ لاَ تُوَفَّى حَقَّهَا إِلاَّ بِتَنَاوُل لُغَةِ
الْفِقْهِ عُمُومًا بِصُورَةٍ جَامِعَةٍ لِمَا تَفَرَّقَ وَتَكَرَّرَ فِي
الْمُؤَلَّفَاتِ الَّتِي وُضِعَتْ لأَِهْل كُل مَذْهَبٍ لِتَحْقِيقِ هَذَا الْغَرَضِ،
فَكَانَتْ مَعَاجِمُ لُغَوِيَّةٌ مُتَخَصِّصَةٌ، كَالْمُغْرِبِ لِلْمُطَرِّزِيِّ
وَطِلْبَةِ الطَّلَبَةِ لِلنَّسَفِيِّ (لِلْحَنَفِيَّةِ) وَكَالزَّاهِرِ
لِلأَْزْهَرِيِّ وَالْمِصْبَاحِ لِلْفَيُّومِيِّ، وَغَيْرِهِمَا
(لِلشَّافِعِيَّةِ) وَكَالْمَطْلَعِ لِلْبَعْلِيِّ (لِلْحَنَابِلَةِ) وَتَنْبِيهُ
الطَّالِبِ لِفَهْمِ ابْنِ الْحَاجِبِ لِلأُْمَوِيِّ التُّونِسِيِّ
(لِلْمَالِكِيَّةِ) وَغَيْرِهَا، وَهِيَ مَطْبُوعَةٌ مُتَدَاوَلَةٌ إِلاَّ
الأَْخِيرَ.
59 – Selain manfaatnya dalam
memanfaatkan referensi-referensi fikih klasik yang menjadi sumber informasi
ensiklopedia, dalam lampiran ini juga akan dilengkapi penjelasan mengenai makna
berbagai kosakata bahasa yang banyak digunakan oleh para fuqaha. Dengan
demikian, maksud yang mereka kehendaki dari kata-kata tersebut dapat
dijelaskan, khususnya ketika mereka memilih salah satu dari beberapa makna
suatu kata, atau ketika suatu kata memiliki makna yang sama-sama dapat
digunakan, lalu mereka menetapkan penggunaan kata tersebut pada salah satu
maknanya.
Pemahaman terhadap maksud-maksud
tersebut tidak akan sempurna kecuali dengan membahas bahasa fikih secara
umum dalam bentuk yang menyeluruh, dengan menghimpun berbagai pembahasan
yang tersebar dan berulang dalam karya-karya yang disusun oleh para ulama dari
masing-masing mazhab untuk tujuan tersebut.
Karena itu, telah muncul berbagai kamus
bahasa khusus fikih, seperti:
- Al-Mughrib
karya al-Mutharrizī dan Ṭalabat al-Ṭalabah karya an-Nasafī —
keduanya untuk mazhab Hanafi.
- Az-Zāhir
karya al-Azharī dan Al-Miṣbāḥ karya al-Fayyūmī, serta karya-karya
lainnya — untuk mazhab Syafi‘i.
- Al-Maṭla‘
karya al-Ba‘li — untuk mazhab Hanbali.
- Tanbīh ath-Ṭālib li-Fahm Ibn al-Ḥājib karya al-Umawī at-Tūnisī — untuk mazhab Maliki.
- Dan karya-karya lainnya.
Karya-karya tersebut telah dicetak
dan beredar luas, kecuali karya yang disebutkan terakhir.
وَسَيَكُونُ فِي عِدَادِ مَا
يَتَضَمَّنُهُ الْمُلْحَقُ أَيْضًا الأَْلْفَاظُ الَّتِي يَسْتَعْمِلُهَا
الْفُقَهَاءُ كَتَعَابِيرَ اصْطِلاَحِيَّةٍ وَصِيَغٍ مُتَدَاوَلَةٍ، لَيْسَ
لِلأَْحْكَامِ الْفِقْهِيَّةِ نَفْسِهَا، بَل لِلدَّلاَلَةِ عَلَى مَرْتَبَةِ
الْحُكْمِ مِنْ حَيْثُ الاِعْتِبَارُ وَالرُّجْحَانُ، كَالْمُفْتَى بِهِ
وَالْمُخْتَارِ وَالصَّحِيحِ. . فَهَذَا وَأَمْثَالُهُ وَإِنْ كَانَ لَفْظُهُ
الظَّاهِرُ وَاضِحًا، فَإِنَّهُ بِمَا وُضِعَ لَهُ مِنْ دَلاَلاَتٍ خَاصَّةٍ
يُعْتَبَرُ مِنْ غَرِيبِ لُغَةِ الْفِقْهِ الْمُحْتَاجِ لِلْبَيَانِ.
Selain itu, di antara materi yang
akan dimuat dalam lampiran ini adalah kata-kata yang digunakan oleh
para fuqaha sebagai ungkapan istilah dan bentuk-bentuk redaksi yang lazim
digunakan, bukan untuk menunjukkan hukum fikih itu sendiri, melainkan
untuk menunjukkan tingkatan suatu hukum dari segi pertimbangan dan
kekuatan pendapatnya, seperti istilah al-muftā bihi (pendapat
yang dijadikan dasar fatwa), al-mukhtār (pendapat yang dipilih), dan aṣ-ṣaḥīḥ
(pendapat yang dinilai benar).
Istilah-istilah semacam ini, meskipun secara lahiriah makna katanya tampak
jelas, karena memiliki makna khusus yang ditetapkan dalam penggunaannya
oleh para fuqaha, maka ia termasuk bagian dari kosakata khusus
bahasa fikih yang membutuhkan penjelasan.
Baca juga :
Isi dan Cakupan EnsiklopediaFikih : Pokok Bahasan Ensiklopedia Fikih
Rencana Penulisan Ensiklopedia : Penyusunan
Ensiklopedia Berdasarkan Urutan Alfabetis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar