الْحُكْمُ
الإِجْمَالِيُّ:
Hukum
Secara Global:
٣ - اجْتِهَادَاتُ
أَحَدِ أَئِمَّةِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْمُعْتَبَرَةِ (الَّتِي نُقِلَتْ
نَقْلاً صَحِيحًا مُنْضَبِطًا تَمَّ بِهِ تَقْيِيدُ مُطْلَقِهَا، وَتَخْصِيصُ
عَامِّهَا، وَذِكْرُ شُرُوطِ فُرُوعِهَا) يُخَيَّرُ فِي الأَْخْذِ بِأَحَدِ تِلْكَ
الاِجْتِهَادَاتِ لِمَنْ لَيْسَتْ لَدَيْهِ أَهْلِيَّةُ الاِجْتِهَادِ، وَلَيْسَ
مِنْ الضَّرُورِيِّ الْتِزَامُ مَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ. عَلَى أَنَّ مَنْ كَانَتْ
لَدَيْهِ مَلَكَةُ التَّرْجِيحِ وَالتَّخْرِيجِ فَإِنَّهُ يَسْتَعِينُ
بِالاِجْتِهَادَاتِ الْفِقْهِيَّةِ كُلِّهَا بَعْدَ التَّثَبُّتِ مِنْ صِحَّةِ
نَقْلِهَا - وَلَوْ نُقِلَتْ مُجْمَلَةً - وَلَهُ الأَْخْذُ بِهَا عَمَلاً
وَإِفْتَاءً فِي ضَوْءِ قَوَاعِدِ الاِسْتِنْبَاطِ وَالتَّرْجِيحِ (١) .
3 – Ijtihad salah seorang imam dari mazhab-mazhab fikih
yang diakui—yang telah dinukil dengan penukilan yang benar dan terkontrol,
sehingga ketentuan yang mutlak telah dibatasi, ketentuan yang umum telah
dikhususkan, serta syarat-syarat bagi cabang-cabang hukumnya telah dijelaskan—boleh
dipilih dan diikuti salah satunya oleh orang yang tidak memiliki
kemampuan untuk berijtihad. Tidaklah wajib baginya untuk berpegang pada mazhab
tertentu.
Adapun orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan tarjih dan
takhrij, ia dapat memanfaatkan seluruh hasil ijtihad fikih tersebut
setelah memastikan kebenaran penisbatannya, meskipun hasil ijtihad itu dinukil
secara ringkas. Ia boleh menggunakannya dalam praktik dan fatwa dengan
berpedoman pada kaidah-kaidah istinbat dan tarjih.
وَتَلْفِيقُ عِبَادَةٍ
وَاحِدَةٍ أَوْ تَصَرُّفٍ وَاحِدٍ مِنْ اجْتِهَادَاتِ أَئِمَّةٍ مُتَعَدِّدِينَ،
فِي صِحَّتِهِ خِلاَفٌ (٢) . وَتَفْصِيل ذَلِكَ كُلِّهِ مَوْطِنُهُ الْمُلْحَقُ
الأُْصُولِيُّ، وَمُصْطَلَحَاتُ: اجْتِهَادٍ، إِفْتَاءٍ، قَضَاءٍ، تَقْلِيدٍ،
تَلْفِيقٍ.
Adapun talfiq, yaitu menggabungkan dalam satu ibadah atau
satu perbuatan hukum beberapa hasil ijtihad dari sejumlah imam, maka keabsahannya
masih diperselisihkan.
Pembahasan secara terperinci mengenai seluruh persoalan tersebut terdapat
dalam lampiran usul fikih, serta pada pembahasan
istilah-istilah: ijtihad, ifta, qadha, taqlid, dan talfiq.
٤ - وَفِي
الإِْمَامَةِ بِنَوْعَيْهَا: الإِْمَامَةُ الْعُظْمَى (الْخِلاَفَةُ) فِي قُطْرٍ
وَاحِدٍ، وَالصُّغْرَى (إِمَامَةُ الصَّلاَةِ) فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ وَمَكَانٍ
وَاحِدٍ، يَمْتَنِعُ تَعَدُّدُ الأَْئِمَّةِ فِي الْجُمْلَةِ، حَتَّى لاَ
تَتَفَرَّقَ كَلِمَةُ الْمُسْلِمِينَ. وَتَفْصِيل ذَلِكَ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي:
إِمَامَةِ الصَّلاَةِ، وَالإِْمَامَةِ الْكُبْرَى.
4 – Dalam dua jenis imamah, yaitu imamah
‘uzhma (kepemimpinan tertinggi/kekhalifahan) dalam satu wilayah, dan imamah
shugra (kepemimpinan salat) pada satu waktu dan satu tempat, pada
prinsipnya tidak diperbolehkan adanya lebih dari satu imam,
agar persatuan kaum Muslimin tidak terpecah.
Adapun pembahasan secara terperinci mengenai hal tersebut dapat dirujuk pada
pembahasan Imamah Salat dan Imamah Kubra.
٥ - وَفِي
أُصُول الْفِقْهِ وَأُصُول عِلْمِ الْحَدِيثِ يُقْبَل مِنْ الأَْئِمَّةِ مَا
أَرْسَلَهُ أَحَدُهُمْ مِنْ أَحَادِيثَ. وَالْمُرْسَل عِنْدَ الْمُحَدِّثِينَ مَا
قَال فِيهِ التَّابِعِيُّ: قَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ. (٣)
5 – Dalam ushul fikih dan ushul
ilmu hadis, diterima riwayat yang mursal dari para
imam, yaitu hadis-hadis yang diriwayatkan secara mursal oleh salah seorang dari
mereka.
Adapun mursal menurut para ahli hadis adalah hadis yang
seorang tabi'in berkata tentangnya: “Rasulullah ﷺ bersabda...” tanpa menyebutkan
perawi sahabat yang menjadi perantara antara dirinya dan Rasulullah ﷺ.
٦ - وَالأَْكْثَرُونَ عَلَى
قَبُول مَرَاسِيل الأَْئِمَّةِ مِنَ التَّابِعِينَ إِذَا كَانَ الرَّاوِي ثِقَةً.
وَلِهَذَا قَالُوا: " مَنْ أَسْنَدَ فَقَدْ حَمَّل، وَمَنْ أَرْسَل فَقَدْ
تَحَمَّل ". وَمَثَّل لَهُمْ صَاحِبُ مُسَلَّمِ الثُّبُوتِ بِالْحَسَنِ
الْبَصْرِيِّ وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَإِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ (١) .
6 – Mayoritas ulama berpendapat bahwa riwayat-riwayat
mursal para imam dari kalangan tabi'in dapat diterima apabila
perawinya adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).
Oleh karena itu, mereka mengatakan:
“Barang siapa meriwayatkan dengan sanad lengkap, berarti ia telah
menyerahkan tanggung jawab (atas sanad tersebut); dan barang siapa meriwayatkan
secara mursal, berarti ia sendiri yang menanggungnya.”
Penulis kitab Musallam ats-Tsubūt memberikan contoh dari
kalangan mereka, yaitu al-Hasan al-Bashri, Sa‘id bin al-Musayyab, dan
Ibrahim an-Nakha‘i.
Baca juga:
Berbagai Penggunaan Istilah “A’immah”
Kesimpulan Akhir : KarakterKhusus Ensiklopedia Fikih
Lafadz Ābā’ (آباء) dalam Fikih: Pengertian, Cakupan Ayah dan Kakek, serta
Perbedaan Ulama
الْحُكْمُ
الإِجْمَالِيُّ:
Hukum
Secara Global:
٣ - اجْتِهَادَاتُ
أَحَدِ أَئِمَّةِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْمُعْتَبَرَةِ (الَّتِي نُقِلَتْ
نَقْلاً صَحِيحًا مُنْضَبِطًا تَمَّ بِهِ تَقْيِيدُ مُطْلَقِهَا، وَتَخْصِيصُ
عَامِّهَا، وَذِكْرُ شُرُوطِ فُرُوعِهَا) يُخَيَّرُ فِي الأَْخْذِ بِأَحَدِ تِلْكَ
الاِجْتِهَادَاتِ لِمَنْ لَيْسَتْ لَدَيْهِ أَهْلِيَّةُ الاِجْتِهَادِ، وَلَيْسَ
مِنْ الضَّرُورِيِّ الْتِزَامُ مَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ. عَلَى أَنَّ مَنْ كَانَتْ
لَدَيْهِ مَلَكَةُ التَّرْجِيحِ وَالتَّخْرِيجِ فَإِنَّهُ يَسْتَعِينُ
بِالاِجْتِهَادَاتِ الْفِقْهِيَّةِ كُلِّهَا بَعْدَ التَّثَبُّتِ مِنْ صِحَّةِ
نَقْلِهَا - وَلَوْ نُقِلَتْ مُجْمَلَةً - وَلَهُ الأَْخْذُ بِهَا عَمَلاً
وَإِفْتَاءً فِي ضَوْءِ قَوَاعِدِ الاِسْتِنْبَاطِ وَالتَّرْجِيحِ (١) .
3 – Ijtihad salah seorang imam dari mazhab-mazhab fikih
yang diakui—yang telah dinukil dengan penukilan yang benar dan terkontrol,
sehingga ketentuan yang mutlak telah dibatasi, ketentuan yang umum telah
dikhususkan, serta syarat-syarat bagi cabang-cabang hukumnya telah dijelaskan—boleh
dipilih dan diikuti salah satunya oleh orang yang tidak memiliki
kemampuan untuk berijtihad. Tidaklah wajib baginya untuk berpegang pada mazhab
tertentu.
Adapun orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan tarjih dan
takhrij, ia dapat memanfaatkan seluruh hasil ijtihad fikih tersebut
setelah memastikan kebenaran penisbatannya, meskipun hasil ijtihad itu dinukil
secara ringkas. Ia boleh menggunakannya dalam praktik dan fatwa dengan
berpedoman pada kaidah-kaidah istinbat dan tarjih.
وَتَلْفِيقُ عِبَادَةٍ
وَاحِدَةٍ أَوْ تَصَرُّفٍ وَاحِدٍ مِنْ اجْتِهَادَاتِ أَئِمَّةٍ مُتَعَدِّدِينَ،
فِي صِحَّتِهِ خِلاَفٌ (٢) . وَتَفْصِيل ذَلِكَ كُلِّهِ مَوْطِنُهُ الْمُلْحَقُ
الأُْصُولِيُّ، وَمُصْطَلَحَاتُ: اجْتِهَادٍ، إِفْتَاءٍ، قَضَاءٍ، تَقْلِيدٍ،
تَلْفِيقٍ.
Adapun talfiq, yaitu menggabungkan dalam satu ibadah atau
satu perbuatan hukum beberapa hasil ijtihad dari sejumlah imam, maka keabsahannya
masih diperselisihkan.
Pembahasan secara terperinci mengenai seluruh persoalan tersebut terdapat
dalam lampiran usul fikih, serta pada pembahasan
istilah-istilah: ijtihad, ifta, qadha, taqlid, dan talfiq.
٤ - وَفِي
الإِْمَامَةِ بِنَوْعَيْهَا: الإِْمَامَةُ الْعُظْمَى (الْخِلاَفَةُ) فِي قُطْرٍ
وَاحِدٍ، وَالصُّغْرَى (إِمَامَةُ الصَّلاَةِ) فِي وَقْتٍ وَاحِدٍ وَمَكَانٍ
وَاحِدٍ، يَمْتَنِعُ تَعَدُّدُ الأَْئِمَّةِ فِي الْجُمْلَةِ، حَتَّى لاَ
تَتَفَرَّقَ كَلِمَةُ الْمُسْلِمِينَ. وَتَفْصِيل ذَلِكَ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي:
إِمَامَةِ الصَّلاَةِ، وَالإِْمَامَةِ الْكُبْرَى.
4 – Dalam dua jenis imamah, yaitu imamah
‘uzhma (kepemimpinan tertinggi/kekhalifahan) dalam satu wilayah, dan imamah
shugra (kepemimpinan salat) pada satu waktu dan satu tempat, pada
prinsipnya tidak diperbolehkan adanya lebih dari satu imam,
agar persatuan kaum Muslimin tidak terpecah.
Adapun pembahasan secara terperinci mengenai hal tersebut dapat dirujuk pada
pembahasan Imamah Salat dan Imamah Kubra.
٥ - وَفِي
أُصُول الْفِقْهِ وَأُصُول عِلْمِ الْحَدِيثِ يُقْبَل مِنْ الأَْئِمَّةِ مَا
أَرْسَلَهُ أَحَدُهُمْ مِنْ أَحَادِيثَ. وَالْمُرْسَل عِنْدَ الْمُحَدِّثِينَ مَا
قَال فِيهِ التَّابِعِيُّ: قَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ. (٣)
5 – Dalam ushul fikih dan ushul
ilmu hadis, diterima riwayat yang mursal dari para
imam, yaitu hadis-hadis yang diriwayatkan secara mursal oleh salah seorang dari
mereka.
Adapun mursal menurut para ahli hadis adalah hadis yang
seorang tabi'in berkata tentangnya: “Rasulullah ﷺ bersabda...” tanpa menyebutkan
perawi sahabat yang menjadi perantara antara dirinya dan Rasulullah ﷺ.
٦ - وَالأَْكْثَرُونَ عَلَى
قَبُول مَرَاسِيل الأَْئِمَّةِ مِنَ التَّابِعِينَ إِذَا كَانَ الرَّاوِي ثِقَةً.
وَلِهَذَا قَالُوا: " مَنْ أَسْنَدَ فَقَدْ حَمَّل، وَمَنْ أَرْسَل فَقَدْ
تَحَمَّل ". وَمَثَّل لَهُمْ صَاحِبُ مُسَلَّمِ الثُّبُوتِ بِالْحَسَنِ
الْبَصْرِيِّ وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَإِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ (١) .
6 – Mayoritas ulama berpendapat bahwa riwayat-riwayat
mursal para imam dari kalangan tabi'in dapat diterima apabila
perawinya adalah seorang yang tsiqah (terpercaya).
Oleh karena itu, mereka mengatakan:
“Barang siapa meriwayatkan dengan sanad lengkap, berarti ia telah
menyerahkan tanggung jawab (atas sanad tersebut); dan barang siapa meriwayatkan
secara mursal, berarti ia sendiri yang menanggungnya.”
Penulis kitab Musallam ats-Tsubūt memberikan contoh dari
kalangan mereka, yaitu al-Hasan al-Bashri, Sa‘id bin al-Musayyab, dan
Ibrahim an-Nakha‘i.
Baca juga:
Berbagai Penggunaan Istilah “A’immah”
Kesimpulan Akhir : KarakterKhusus Ensiklopedia Fikih
Lafadz Ābā’ (آباء) dalam Fikih: Pengertian, Cakupan Ayah dan Kakek, serta
Perbedaan Ulama

Tidak ada komentar:
Posting Komentar